e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Tinjauan Farmakogenomik Rifampisin Dalam Pengobatan Tuberkulosis Paru
Abstract Pharmacogenomics is the study of genetic influences of individual variations in drug response. The influence of genetic in drug response has been showed about 20%–95% of variations in drug pharmacokinetics and effects. Activity of rifampicin as bactericidal against Mycobacterium tuberculosis (M.tb.) have been demonstrated plasma concentration-dependent. ‘Concentration-dependent ’ means that increasing doses followed by increasing rifampicin plasma concentration above the M.tb’s minimum inhibition concentration (MIC) induces more rapid bactericidal effect against the M.tb. indicated by sputum conversion. On standard tuberculosis therapy, among patients have been showed wide intersubject variation of rifampicin plasma concentration. The variation was related to genetic difference among patients. Rifampicin is a substrate of organic anion transporting polypeptide 1B1 (OATP1B1) which is expressed on the sinusoidal membrane of human hepatocytes. OATP1B1 is coded by for the solute carrier organic anion 1B1 (SLCO1B1) gene. A large number of sequence variants have been found in the SLCO1B1 gene. SLCO1B1 rs4149032 and c.463 C>A was present in most patients pulmonary tuberculosis and was associated with substantially reducing rifampicin plasma concentration.The allele frequency of the SLCO1B1 c.463 C>A polymorphism in Indonesian subject was showed C 30% A 70%. Individual genetic variation may cause variation in individual rifampicin response among individual pulmonary tuberculosis patient. It will impact variation in clinical outcome, in this case is sputum conversion. Key words: Pharmacogenomic, Rifampicin, Tuberculosis Abstrak Farmakogenomik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh genetik terhadap variasi antar individu pada respon obat. Pengaruh genetik tiap individu terhadap respon obat ditunjukkan dengan adanya variasi berkisar 20--95% pada peruraian obat dalam tubuh dan efeknya. Efektivitas rifampisin sebagai bakterisida terhadap Mycobacterium tuberculosis (M.tb.) sangat bergantung pada konsentrasi rifampisin dalam plasma. Peningkatan dosis akan diikuti dengan peningkatan konsentrasi rifampisin dalam plasma di atas konsentrasi hambat minimal (MIC) M.tb dapat menginduksi lebih cepat efek bakterisida terhadap M.tb dan diindikasikan dengan outcome klinis (konversi dahak). Pada standar terapi tuberkulosis, konsentrasi rifampisin dalam plasma antar pasien TB menunjukkan variasi yang lebar. Variasi antar pasien ini erat kaitannya dengan perbedaan genetik dari masing-masing pasien tersebut. Rifampisin merupakan substrat dari protein polipeptida transporter organik anion (OATP1B1) yang diekspresikan pada membran sinusoidal hepatosit. Gen solute carrier organic anion 1B1 (SLCO1B1) merupakan gen penyandi OATP1B1 dan diketahui terdapat variasi urutan gen. SLCO1B1 rs4149032 dan c.463 C>A dijumpai pada sebagian besar pasien tuberkulosis paru dan berhubungan dengan penurunan kadar rifampisin dalam plasma. Pada subyek Indonesia menunjukkan adanya polimorfisme gen SLCO1B1 SNP c.463C>A dengan frekuensi C 30% dan A 70%. Variasi genetik antar individu ini diduga dapat menyebabkan variasi respon rifampisin antar individu pasien tuberkulosis paru yang berdampak adanya variasi outcome klinis, dalam hal ini konversi dahak. Kata kunci: Farmakogenomik, Rifampisin, Tuberkulosi
Analisis Struktur Protein Selubung Virus Dengue Serotipe 3 Pada Genotipe Yang Sama Dengan Clade Berbeda
Abstract Dengue viruses (DENV) consist of 4 serotypes and each of serotype is divided in several genotypes based on the envelope gene. To find the different in protein structure of DENV-3 circulated in Surabaya, we conduct analysis of two sequences of DENV-3 genotype 1 in different clade. Information of nucleotide and amino acid were searched from the GeneBank, homology were analysed using BLAST in NCBI. The different of amino acid of 2 sequences and protein structure were analysed using software Bioedit vs 7.2.5 and PyMol respectively. We found six amino acid residu that are different in these sequences. Three of amino acids of the different sequences have significant different similarities. These amino acid residu are 140, 340 and 362. Based on physic-chemistry properties, these amino acids are more hydrophobic in sequence of clade 2. 3D prediction of protein structure show that residu 140, 340, 362 and 386 have different surface protein. Physic-chemistry properties and charge of amino acid causing different 3D structure of DENV-3 envelope protein. Key words: Dengue virus, Envelope Gene,Pprotein Structure Abstrak Virus dengue (DENV) terdiri dari 4 serotipe. Masing-masing serotipe masih dibagi lagi menjadi beberapa genotipe berdasarkan gen selubung virus, karena variasi genetik terbanyak ada pada gen ini. Analisis ini membandingkan dua runutan nukleotida dan asam amino DENV-3 dengan genotipe sama namun pada clade yang berbeda, yang bersirkulasi di Surabaya. Informasi sekuen gen maupun protein diperoleh melalui situs GenBank (NCBI), analisis homologi menggunakan situs yang sama. Perbedaan residu asam amino diidentifikasi menggunakan software Bioedit vs 7.2.5, sifat variasi asam amino diprediksi menggunakan program pada situs ExPASy. Kemiripan asam amino dinilai dengan menggunakan scoring Blosum dan prediksi struktur permukaan protein selubung ditentukan menggunakan perangkat lunak PyMOL. Perbedaan susunan asam amino kedua sekuen yang dianalisis terdapat pada 6 residu dengan posisi sekuen pada clade 1 dan 2 berturut-turut sebagai berikut, S140I, V141I, E340G, P362L, K386R, dan I412L. Tiga dari residu ini memiliki perbedaan yang cukup bermakna, yaitu pada 140, 340 dan 362. Sekuen pada clade 2 ketiga residu ini lebih bersifat non polar dan hirofobik dibandingkan pada sekuen clade 1. Sementara prediksi 3D memperlihatkan adanya perbedaan struktur permukaan pada residu140, 340, 362 dan 386. Perbedaan sifat maupun muatan asam amino memberikan perbedaan struktur 3D protein selubung DENV-3. Kata sandi: DENV-3, Protein Selubung, Struktur Protein
SPECIES DIVERSITY OF MOSQUITO IN ENDEMIC AREA OF LYMPHATIC FILARIASIS IN BANYUASIN AND MALARIA OKU SELATAN DISTRICT
Penyakit menular khususnya penyakit tular nyamuk (mosquito-borne disease) di Indonesia masih menjadi beban kesehatan masyarakat seperti malaria dan filariasis. Propinsi Sumatera Selatan memiliki daerah endemis penyakit tular vektor seperti Kabupaten Banyuasin (endemis filariasis) dan Kabupaten OKU Selatan (endemis malaria). Penelitian ini bertujuan mengetahui keanekaragaman nyamuk di daerah endemis filariasis dan malaria. Sampel nyamuk menggunakan metode umpan orang dan menggunakan perangkap lampu (light trap) selama 12 jam penangkapan (18.00 – 06.00 WIB). Lokasi penangkapan nyamuk dilakukan di tiga rumah penduduk yang masing-masing dilakukan oleh 2 orang penangkap. Hasil penangkapan nyamuk dengan metode umpan orang di Desa Karang Anyar (endemis filariasis) diperoleh tiga genus yaitu Mansonia (empat spesies), Culex (delapan spesies) dan Aedes (dua spesies) sedangkan genus yang tertangkap dengan perangkap lampu terdiri dari genus Mansonia (dua spesies) dan Culex (satu spesies). Di wilayah ini spesies yang dominan tertangkap adalah Mansonia dives/bonneae (37,4%). Hasil penangkapan nyamuk metode umpan orang di Desa Kota Padang (endemis malaria) diperoleh empat genus yaitu Anopheles (dua spesies), Armigeres (satu spesies), Aedes (satu spesies) dan Culex. Hasil penangkapan dengan perangkap lampu diperoleh genus Anopheles dan Culex.
Kata kunci: nyamuk, filariasis, malaria, Banyuasin, OKU Selata
Studi Kasus; “Koreksi terhadap Pengukuran Polutan di Udara Unit Perajin Logam dan Dampaknya terhadap Kesehatan”
AbstractUnderstanding on the reaction of various air pollutants until today continues to grow, even it is hard to find information about the results of the reaction of various air pollutants standard. The aim of the research was to analyze and to correct of the the various air pollutants as well as to determine the health impact of blacksmith in 2014. The samples consisted of 38 blacksmith from 38 working units in Hulu Sungai Selatan of South Kalimantan. Analytical approach of the examination of air pollutants, blood samples and pulmonary functions of selected workers was applied in this study. The results showed a decrease in lung function and abnormalization workers immune response, as a result of exposure to various air pollutants. It is very difficult to determine and predict the causality of air pollution and health impact since there must be various factors contributing to the the health impact. because it is caused by pollutants singly or may be caused from the various reactions of these pollutants, for that, the correction need on the measurement and analysis of air pollutants that made so far, including its impact on the human body. The benefit of this research as a form of correction to use the Threshold Limit Value (TLV) and measurement of air pollutants, including the impact of the target organ in the human body.Keywords : Measurements correction, pollutants, lung function, immune response.AbstrakPemahaman reaksi berbagai polutan di udara sampai saat ini terus berkembang, bahkan hampir tidak ditemukan informasi tentang standar hasil reaksi berbagai polutan di udara. Tujuan penelitian untuk menganalisis dan koreksi pengukuran berbagai polutan di udara serta dampaknya terhadap kesehatan perajin logam. Studi kasus dilakukan pada 38 perajin logam serta 38 unit kerjanya di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan tahun 2013 dengan pendekatan observational analitik beserta pengambilan contoh polutan di udara dan pengambilan sampel darah serta pemeriksaan faal paru pekerja. Hasil penelitian menunjukkan penurunan fungsi paru dan abnormalisasi respon imun pekerja, akibat terpajan berbagai polutan di udara,sehingga sangat sulit ditentukan dan diprediksi karena disebabkan oleh polutan tunggal atau mungkin disebabkan dari hasil berbagai reaksi polutan tersebut, untuk itulah perlu dilakukan koreksi mengenai pengukuran dan analisis polutan di udara yang dilakukan selama ini, termasuk dampaknya di dalam tubuh manusia. Manfaat penelitian ini sebagai bentuk koreksi terhadap penggunaan Nilai Ambang Batas (NAB) dan alat ukur polutan di udara termasuk dampak target organ dalam tubuh manusia.Kata kunci : Koreksi pengukuran, polutan, faal paru, respon imun
KO-INFEKSI SCHISTOSOMA JAPONICUM DAN SOIL TRANSMITTED HELMINTH DI DAERAH ENDEMIS SCHISTOSOMIASIS KECAMATAN LORE UTARA DAN LORE TIMUR, KAB. POSO, SULAWESI TENGAH
Schistosomiasis due to Schistosoma japonicum are still endemic in Indonesia, especially in Lindu, Sigi Regency, Napu and Bada Plateu, Poso Regency, Central Sulawesi. The proportion of co-infection soil transmitted helminths and schistosomiasis information in the endemic areas is still limited. The aim of this study was to determine the proportion of co-infection between schistosomiasis and soil transmitted helminth. The information was obtained from the stool survey conducted by Schistosomiasis Control Programme, Provincial Health Office Central Sulawesi, from January to June 2013 in North Lore and East Lore District, Poso Regency. Stool samples were examined with Kato Katz technique. The result shows in North Lore, Schistosoma japonicum infection was 1.62 %. Co-infection of Schistosoma japonicum and Ascaris was 0.25 %, S. japonicum and Hook worm 0.18%, and also S. japonicum and Trichuris trichiura 0.06%. In East Lore, the prevalence of Schistosoma japonicum was 3.00 %. Co-infection of S. japonicum and Ascaris 0.82 %, S. japonicum and Hookworm 0.37%, S. japonicum and Trichuris trichiura 0.22%. The proportion of soil transmitted helminths and Schistosoma japonicum was high in the location
BEHAVIOR AND ENVIRONMENTAL RISK FACTOR ON CHIKUNGUNYA OUTBREAKS AT SALATIGA CITY IN 2012 = FAKTOR RISIKO PERILAKU DAN LINGKUNGAN RUMAH PADA KEJADIAN LUAR BIASA CHIKUNGUNYA DI KOTA SALATIGA TAHUN 2012
EnglishABSTRACTOn February 9, 2012 date specified chikungunya outbreak in Salatiga. This study aimed to examine behavioral and environmental risk factors associated with the disease, vector, modes of transmission, treatment seeking, as well as ways to prevent chikungunya on people in the hamlet Sinoman and Rekesan during the chikungunya outbreak in 2012 . This type of research is used case-control study. This study was conducted in January through April of 2012. Interview and observations conducted on 134 respondents. There is no relationship between the incidence of chikungunya respondent behavior and the behavior of the respondent is not proven as a risk factor chikungunya. But events, there is a relationship between the incidence of chikungunya lighting and home lighting proved to be a risk factor for chikungunya incidence and its risk by 2.8 times. In addition to lighting, there is a relationship between the incidence of chikungunya home humidity, although not statistically proven as a risk factor for chikungunya. There was a significant association between the presence of mosquitoes on the clothes hanging in the incidence of chikungunya, in harmony with it has been shown that the presence of mosquitoes at the clothes hanging heightens the risk by 4.19 times causing events are expected to cultivate back chikungunya. People must have eradication of mosquito breeding activity, do not hang clothes secondhand, using a wire gauze on the vent, and the use of anti-mosquito drugs to avoid contact with the mosquitoborne chikungunya .IndonesiaKejadian luar biasa (KLB) penyakit chikungunya di Kota Salatiga pada tanggal 9 Februari 2012 Penelitian ini bertujuan menguji faktor risiko perilaku dan lingkungan rumah, yang berkaitan dengan penyakit, vektor, cara penularan, pencarian pengobatan, serta cara pencegahan chikungunya di Dusun Sinoman dan Rekesan ketika KLB Chikungunya tahun 2012. Rancangan penelitian adalah case control. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-April tahun 2012. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi terhadap 134 responden. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara perilaku responden dengan kejadian chikungunya (p>0,05), serta perilaku responden tidak terbukti sebagai faktor risiko kejadian chikungunya (p> 0,05). Namun, ada hubungan antara pencahayaan dengan kejadian chikungunya, serta pencahayaan rumah terbukti sebagai faktor risiko kejadian chikungunya dengan tingkat risiko sebesar 2,8 kali. Ada hubungan antara kelembaban rumah dengan kejadian chikungunya (p <0,05), namun kelembaban tidak terbukti secara statistik sebagai faktor risiko chikungunya. Ada hubungan yang bermakna antara keberadaan nyamuk pada baju tergantung dengan kejadian chikungunya dan terbukti bahwa keberadaan nyamuk pada baju tergantung mempertinggi risiko sebesar 4,19 kali menyebabkan kejadian chikungunya. Masyarakat diharapkan membudaya kan kegiatan PSN, membuka jendela agar sinar matahari masuk dan tidak menggantung baju bekas pakai, menggunakan kawat kasa pada lubang angin, dan menggunakan obat anti nyamuk pencegah kontak dengan nyamuk vektor
ANALISIS FAKTOR KEBERHASILAN PRAKTIK PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI TEMPAT KERJA PADA BURUH INDUSTRI TEKSTIL DI JAKARTA
AbstractExclusive breastfeeding is related to several potential factors, such as mother working status. Mothers who are worker, particularly in industrial sector are more likely not to exclusively breastfeed their child. Non-availability of breastfeeding facility in the workplace, types of work, working condition and implementation of reproductive rights were a number of factors that increase the risk of breastfeeding disorders among labor workers.This study aim ed to explore factors towards successful practices of exclusive breastfeeding in the workplace among textile industry workers in Jakarta, related to availability of breastfeeding right and facility. A qualitative study was conducted towards 27 informants working at a textile industry in Jakarta and having a baby older than 6 months to 12 months. Data was collected by Focus Group Discussion (FGD). Triangulation of data was obtained by in-depth interview to several resources such as midwife at the clinic company and the company supervisor. Only a few informants who successful exclusively breastfeed their children (n=2), while others failed. Knowledge of how to store breast milk and breastfeed in the workplace, availability of breastfeeding facility, as well as support from company supervisor are a number of predisposing, enabling, and reinforcing factors to the successful practice of exclusive breastfeeding. Role of health attendant and supervisor at the workplace through counseling, entitlements to breastfeeding and provision of adequate breastfeeding facilities are very important in order to support exclusive breastfeeding among labor workers.Keywords : Exclusive Breastfeeding, Workers, Textile IndustryAbstrakPemberian ASI eksklusif berhubungan dengan beberapa faktor, salah satunya status pekerjaan ibu. Ibu yang sehari-harinya bekerja, terutama sebagai pekerja buruh pabrik cenderung untuk tidak memberikan ASI kepada bayinya secara eksklusif. Kurangnya ketersediaan fasilitas ASI di tempat kerja, jenis pekerjaan dan kondisi lingkungan kerja yang tidak mendukung, serta rendahnya implementasi hak kesehatan reproduksi merupakan sejumlah faktor yang dapat memicu terjadinya gangguan menyusui pada pekerja buruh perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali faktor keberhasilan dan kegagalan praktik pemberian ASI eksklusif pada pekerja buruh industri tekstil di Jakarta yang terkait dengan ketersedian hak dan sarana menyusui di tempat kerja. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif pada 27 informan ibu yang bekerja di beberapa pabrik industri tekstil di Jakarta dan memiliki bayi berusia lebih dari 6 bulan sampai 12 bulan. Data dikumpulkan melalui Focus Group Discussion(FGD). Triangulasi data diperoleh melalui hasil wawancara mendalam terhadap beberapa sumber, mencakup bidan di klinik perusahaan dan atasan kerja. Hanya sedikit sekali informan yang berhasil memberikan ASI eksklusif (n=2), selebihnya gagal. Pengetahuan tentang cara menyimpan ASI dan tata laksana pemberian ASI di tempat kerja, ketersediaan fasilitas dan sarana ASI, serta dukungan atasan kerja dan tenaga kesehatan merupakan sejumlah faktor predisposing, enabling, dan reinforcingyang berperan terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif di tempat kerja pada buruh industri tekstil di Jakarta. Peran tenaga kesehatan dan pengawas/atasan di tempat kerja melalui sosialisasi, pemberian hak menyusui dan penyediaan fasilitas menyusui yang memadai menjadi hal yang sangat penting dalam upaya mendukung pemberian ASI eksklusif pada pekerja buruh.Kata kunci : ASI Eksklusif, Buruh, Industri Teksti
KERENTANAN LARVA AEDES AEGYPTI TERHADAP TEMEFOS DI TIGA KELURAHAN ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE KOTA SUKABUMI
AbstractResistance of Aedes aegypti larvae against temephos influeneed the efforts of Dengue Fever vector control . The purpose of this study was to determine the status of susceptibility of Ae. aegypti larvae against temephos in three Dengue Fever endemic areas in Sukabumi. Design laboratory experiment with random design. approach group. Sample of Ae. aegypti larvae instar 3 and 4 had been taken from Subdistrict Baros, Sriwedari, Nangeleng. Susceptibility test, in performed according to WorldHealth Organization (WHO). Result of this study, according to WHO recommended concentration 0.02 ppm showed thatlarvae in Subdistrict Baros, Sriwedari, and Nangeleng still susteptible against temephos with Ae. aegypti larvae mortality of 100%. Effective concentration 50% (LC50)dan 99% (LC99) in subdistrict Baros were 0.00169 and 0,01711; Sriwedari were 0.00125 and 0.00313: Nanggeleng were 0.00214 and 0.00762 (ppm).respectinely Higher resistance ratio occur to Subdistrict Baros with level resistance of RR99 7.34. In Conclution, temephos still effective to beused as larvicide for vector control in those three endemic of Dengue Fever in Sukabumi.Keywords : Susceptibility, Aedes aegypty, Temephos, SukabumiAbstrakResistensi larva Aedes aegypti terhadap temefos dapat mempengaruhi upaya pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue. Tujuan penelitian adalah menentukan status kerentanan larva Ae. aegypti terhadap temefos di tiga Kelurahan endemis Demam Berdarah Dengue Kota Sukabumi. Jenis penelitian adalah eksperimental laboratorium dengan pendekatan rancangan acak kelompok. Sampel adalah larva Ae. aegypti instar 3 dan 4 dari Kelurahan Baros, Sriwedari, dan Nangeleng. Uji kerentanan dilakukan berdasarkan metode Bioassay WHO. Hasil penelitian berdasarkan katagori konsentrasi yang dianjurkan WHO sebesar 0,02 ppm menunjukkan bahwa Kelurahan Baros, Sriwedari, dan Nangeleng masih rentan terhadap temefos dengan kematian larva Ae. aegypti 100%. Konsentrasi efektif 50% (LC50) dan 99% (LC99) berturut-turut untuk Kelurahan Baros adalah 0,00169 dan 0,01711; Sriwedari adalah 0,00125 dan 0,00313; Nanggeleng adalah 0,00214 dan 0,00762 (dalam ppm). Rasio resistensi tertinggi adalah Kelurahan Baros dengan tingkat resistensi RR99 7,34. Kesimpulan penelitian adalah temefos masih layak digunakan sebagai larvasida dalam pengendalian vektor di tiga Kelurahan endemis Demam Berdarah Dengue Kota Sukabumi.Kata kunci : Kerentanan, Aedes aegypti, Temefos, Sukabum
Potensi Kurkumin dan Pentagamavunon-0 sebagai Anti Viral Dengue - 2
AbstractMore than 40% of the world's population who live in tropical and subtropical regions at risk for dengue infection. Specific and effective antiviral therapies to treat dengue infection has not been found yet. Many researches proved that curcumin has preventive activity againts viruses, such as vasicular stomatis (VSV), HSV 1 and 2, parainfluenza-3, reovirus-1, feline corona virus, feline herpes virus. Curcumin also known to perform the inhibition of ubiquitin - proteasome system that decreasethe production of Japanese encephalitis in neuroblastoma cells. Pentagamavunon-0 (PGV-0) is expected to have better activity than curcumin. This study aims to determine the cytotoxic effect andthe potential of curcumin and PGV-0 as antiviral Dengue-2 on vero cells. Including experimental study. Cytotoxic test performed to obtain a safe concentration of curcumin and PGV-0 on vero cells followed by antiviral test using immunocytochemistry SBPC (Streptavidin Biotin Peroxidase Complex). The results showed that the safe concentrations for curcumin is 6.25 ppm and PGV-0 is 1.5625 ppm based on cytotoxic test to vero cell. The positive rate from Immunocytochemistry test showed that no significant difference between curcumin and PGV-0 treatment. However, when compared with the positive control results are significantly different. We concluded both curcumin and PGV-0 can reduce the positive rate caused Dengue-2 infection at one day incubation.Keywords : Dengue-2, curcumin, pentagamavunon-0 (PGV-0), ImmunocytochemistryAbstrakLebih dari 40 % populasi dunia yang tinggal di daerah tropis dan subtropis mempunyai risiko untuk terjangkit infeksi Dengue. Terapi yang spesifik dan efektif untuk mengobati infeksi Dengue belum ditemukan. Kurkumin terbukti memiliki aktivitas preventif terhadap beberapa virus, antara lain:vasicular stomatis (VSV), HSV 1 dan 2, parainfluenza-3, reovirus-1, feline corona virus, feline herpes virus. Kurkumin juga diketahui mampu melakukan penghambatan sistem ubiquitin-proteasome yang menyebabkan penurunan produksi Japanese ensefalitis dari sel neuroblastoma yang sebelumnya terinfeksi. Pentagamavunon-0 (PGV-0) diperkirakan memiliki aktivitas lebih baik daripada kurkumin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sitotoksik dan mengetahui potensi antiviral Dengue-2 dari kurkumin dan PGV-0 pada sel vero. termasuk penelitian eksperimental. Uji sitotoksik dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi yang aman dari kurkumin dan PGV-0 terhadap sel vero dilanjutkan dengan uji antiviral melalui imunositokimia SBPC (Streptavidin Biotin Peroxidase Complex). Hasil uji sitotoksik menunjukkan konsentrasi yang aman terhadap sel vero adalah 6,25 ppm untuk kurkumin dan 1,5625 ppm untuk PGV-0. Perhitungan positive rate dari uji imunositokimia pada sel vero yang diinfeksi Dengue-2 inkubasi 1 hari dan diberi kurkumin dan PGV-0 adalah tidak berbeda nyata, namun jika dibandingkan dengan kontrol positifnya hasilnya berbeda nyata. Disimpulkan baik kurkumin maupun PGV-0 mampu menurunkan positive rate akibat infeksi Dengue-2 inkubasi satu hari.Kata kunci : Dengue-2, kurkumin, pentagamavunon-0 (PGV-0), imunositokimi