e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    USE OF UNSAFE COOKING FUELS AND BOILING PRACTICE AMONG INDONESIAN HOUSEHOLDS: EMPIRICAL EVIDENCE FROM THE 2012 DEMOGRAPHIC AND HEALTH SURVEY

    No full text
    Improved drinking-water sources need not be microbiologically safe. Hence, households usually boil their water prior to drinking. However, this practice can potentially harm health when households rely on unsafe cooking fuels. In Indonesia, little is known about the association of use of unsafe fuels with boiling practice. Hence, an analysis was carried out to elicit information regarding boiling practice using unsafe fuels. Such information would be useful in determining appropriate household water treatments. Data from the 2012 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) were analysed to examine the relationship between the use of unsafe cooking fuel and choosing boiling as household water treatment. Bivariate and multivariate probit regression models (PRM) were fitted and compared using average marginal effects (AME) and its respective 95 per cent confidence interval (95% CI) as measures of association. The results suggest that using kerosene as cooking fuel is positively significantly associated with higher probability of practicing boiling (p = 0.006; AME: 0.019; 95% CI: 0.0056, 0.0333). This is also true for use of solid fuel (p< 0.001; AME: 0.3115; 95% CI: 0.3026, 0.3203). These association holds, albeit attenuated (Kerosene, p< 0.001; AME: 0.02706; 95% CI: 0.0186, 0.0355; Solid fuel, p< 0.001; AME: 0.0373; 95% CI: 0.02839, 0.0463), after the control variables are included. The authors suggest that stakeholders should promote the use of other household water treatment technologies to reduce the boiling practice using unsafe cooking fuels as to minimize the risk of smoke related infections. Moreover, universal access and equity to safe drinking water and sanitation facility in Indonesia should be realised to reduce demand of boiling water using unsafe cooking fuels

    HUBUNGAN FAKTOR IKLIM DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KABUPATEN GUNUNG KIDUL TAHUN 2010

    No full text
    ABSTRACTDengue Haemorrhagic Fever is still a health problem in the world, including in Indonesia. Ecology ofmosquito-borne dengue fever, especially on the influence of climate on development is essential to predictthe development and success of vector control. A descriptive epidemiological study types and usedquantitative methods and research design was a series of periodic (time-series). The overall researchactivities carried out in September 2010 to April 2011. Secondary data collected were temperature,humidity and rainfall. The results showed that there is a relationship between rainfall and dengue cases (r =0.580) and humidity with the dengue cases (r = 0.412). There was no relationship between the temperatureof the dengue cases in Gunungkidul in 2010 and there was no significant association between rainfall factorwith endemicity status. Based on the results of this study recommended the need for monitoring of climate,especially rainfall patterns that occur in Gunungkidul so predictable increase in dengue cases and furthercontrol measures that can be done on time.Keywords: Climate, dengue haemorrhagic fever, gunungkidul ABSTRAKDBD masih menjadi masalah kesehatandi dunia, termasukdi Indonesia. Pengetahuan ekologi tentang nyamuk penular DBD, khususnya tentang pengaruh iklim terhadap perkembangannya merupakanhal penting untuk memprediksi perkembangan vektor dan keberhasilan pengendalian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian epidemiologi deskriptif dan metodeyang digunakan adalah metode kuantitatif dengan rancangan penelitian adalah rangkaian berkala (time-series). Keseluruhan kegiatan penelitian dilaksanakan BulanSeptember 2010 sampai denganApril 2011. Data sekunderyang dikumpulkan adalah suhu, kelembaban dan curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara curah hujan dengan kasus DBD(r =0,580) serta kelembaban dengan kasus DBD(r =0,412). Tidak ada hubungan bermakna antara suhu dengan kasus DBDdi Kabupaten Gunungkidul tahun2010 dan tidak ada hubungan secara bermakna antara faktor curah hujan denganstatus endemisitas. Berdasarkan hasil penelitian ini direkomendasikan perlunya dilakukan pemantauan pola iklim terutama curah hujanyang terjadidi Kabupaten Gunungkidul sehingga dapat diprediksi peningkatan kasus DBD dan selanjutnya dapat dilakukan upaya pengendalianyang tepat waktu.Kata kunci: Iklim, demam berdarahdengue, Gunung kidu

    Faktor Risiko Dominan Penderita Stroke di Indonesia

    No full text
    Stroke tends to increase and becomes the first leading cause of death as well as disability in Indonesia that impact in socioeconomy. Stroke is preventable through early detection and control of risk factors. This study aimed to assess the dominant risk factors of stroke in Indonesia. Analysis was done using secondary data of a cross sectional study called Indonesian Basic Health Research (Riskesdas) 2013. Data were analyzed using SPSS 17 software by complex samples. A total of 722,329 subjects aged 15 years and over were included. Stroke prevalence was 1.21%, no difference by sex but increased along with the age. People aged 55 years and over were at higher risk of stroke with adjusted OR of 5.8 (5.32; 6.32, p 0.0001) compared to aged 15-44 years old. The other risk factors were coronary heart disease, diabetes mellitus, hypertension, heart failure. Those were 3.13, 2.96, 2.87, and 2.74 times respectively compared to people without related conditions. Stroke occurred since younger age. The dominant risk factors of stroke in Indonesia were older age, coronary heart disease, diabetes mellitus, hypertension, and heart failure. Healthy behavior and early detection of risk factors should be encouraged to prevent stroke.Keywords : stroke, risk factor, Basic Health Research (Riskesdas)AbstrakStroke semakin meningkat dan merupakan penyebab kematian serta kecacatan tertinggi di Indonesia yang berdampak secara sosioekonomi. Penyakit stroke dapat dicegah dengan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh faktor risiko dominan penderita stroke di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Survei Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2013. Analisis data menggunakan SPSS 17 dengan complex sample. Dari 722,329 responden usia ≥ 15 tahun, didapat prevalensi penderita stroke sebesar 1,21%, proporsi tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan. Risiko stroke meningkat seiring meningkatnya usia. Responden berusia ≥ 55 tahun setelah memperhitungkan faktor-faktor lain berisiko 5,8 kali (5,32 ; 6,32, p 0,0001) dibanding usia 15-44 tahun, selanjutnya penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, gagal jantung masing-masing sebesar 3,13 kali, 2,96 kali, 2,87 kali dan 2,74 kali dibandingkan responden tanpa penyakit-penyakit tersebut. Stroke sudah mulai muncul pada usia muda. Faktor risiko dominan stroke dalam penelitian ini adalah umur yang semakin meningkat, jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan gagal jantung. Deteksi dini faktor risiko dan promosi hidup sehat sejak usia dini perlu digalakkan agar memperkecil kejadian faktor risiko dan stroke.Kata kunci : stroke, faktor risiko, Riskesdas 201

    PENINGKATAN INDEKS STANDAR PENCEMARAN UDARA (ISPU) DAN KEJADIAN GANGGUAN SALURAN PERNAPASAN DI KOTA PEKANBARU

    No full text
    ABSTRACT In 2015, the forest fires are quite severe in Riau Province. This causes the reduction of air quality, which in turn can cause breathing problems. This article aims to determine the relationship of the increase in air pollution index (API) and the cases of respiratory problems in Pekanbaru City in 2015. The study design was cross-sectional. Samples are all people with respiratory problems (Upper Respiratory Tract Infections/URI, asthma, and pneumonia) who visited Puskesmas or health post in Pekanbaru, amounted to 12,939 people. Data collected were daily data of API and Pekanbaru residents visit to Puskesmas and health posts with complaints of respiratory problems. Spearman rho correlation test was used to analyze the data with SPSS software. API from July to October 2015 range was quite wide from 34.7 up to 778.0. Average API in September and October 2015 were more than in the period of July and August 2015. The Spearman rho correlation analysis showed that the API value have significant correlation (p=0.000) with respiratory problems. Correlation between API with URI, asthma, and pneumonia is highest on the lag time 0, respectively 0.779; 0.237; and 0.436. It can be concluded that the increased API will increase URI on the same day. Keywords: Forest fires, API, URI, asthma, pneumonia   ABSTRAK Pada tahun 2015 terjadi kebakaran hutan yang cukup parah di Provinsi Riau. Hal ini mengakibatkan menurunnya kualitas udara yang pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan kesehatan terutama yang terkait dengan pernapasan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui hubungan peningkatan indeks standar pencemaran udara (ISPU) dengan kejadian gangguan pernapasan di Kota Pekanbaru tahun 2015. Desain penelitian adalah potong lintang. Sampel adalah semua penderita gangguan pernapasan (Infeksi Saluran Pernapasan Atas /ISPA, asma, dan pneumoni) yang berkunjung ke Puskesmas atau posko kesehatan di Kota Pekanbaru, berjumlah 12.939 orang. Data yang dikumpulkan adalah data harian ISPU dan kunjungan penduduk Kota Pekanbaru ke Puskesmas dan pos kesehatan dengan keluhan ISPA, asma dan pneumonia. Digunakan uji korelasi Spearman rho untuk analisis data dengan piranti lunak SPSS. Didapatkan hasil bahwa ISPU pada bulan Juli sampai Oktober 2015 berada pada rentang yang cukup lebar yaitu sebesar 34,7 sampai dengan 778,0. Rerata ISPU pada bulan September dan Oktober 2015 lebih tinggi dibandingkan dengan periode Juli dan Agustus 2015. Analisis korelasi Spearman rho menunjukkan bahwa nilai ISPU berhubungan secara signifikan (p = 0,000) dengan gangguan pernapasan. Korelasi antara ISPU dengan ISPA, asma, dan pneumoni paling tinggi terjadi pada lag time 0, yaitu masing-masing 0,779; 0,237; dan 0,436. Dapat disimpulkan bahwa meningkatnya ISPU akan meningkatkan ISPA pada hari yang sama. Kata kunci: Kebakaran hutan, ISPU, ISPA, asma, pneumon

    Peran Standar Operasional Prosedur Penanganan Spesimen untuk Implementasi Keselamatan Biologik (Biosafety) di Laboratorium Klinik Mandiri

    No full text
    Standard Operating Procedure (SOP) is a reference laboratory guideline in daily laboratory activity and must meet criteria one Good Laboratory Practice (GLP) as well as the laws and regulation. SOPs is also related to risk assessment of biological safety (biosafety), mainly related to preventive measures (safety precaution) in the laboratory. This paper aims to identify the ownership/presence or absence of SOP and evaluation of the SOP owned in the private clinical laboratory (PCL) in Indonesia associated with the implementation of the safety of biologics (biosafety), which in this paper is associated with the incidence and complications when taking blood.The study design followed the Research Health Facility (Rifaskes) 2011 which was a cross sectional. The methodology by approaching directly each PCL which fits the inclusion criteria, and conduct interviews using structured questionnaire, observation and recording of secondary data is required. In total, 15 SOP variables were analyzed according to Rifaskes question in 2011. Total 782 PCL were recruited in 2011 Rifaskes, only 695 of PCL were analyzed for ownership/presence of absence SOP and 504 PCLs for evaluation of SOP. The analysis showed that only 49.3% PCL have SOP and 51.8% of them are evaluating the SOP. The PCLs have and evaluate the SOP ≥ 75% more common in Java and Sumatera. The punctured needle accident, spilled chemicals and infected materials infectious were recorded frequently in the group ownership/presence or absence of SOP and evaluation of SOP < 75%. Complications hematoma, unconscious, and bleeding more reported by the group ownership/presence or absence of SOP and evaluation of SOP ≥ 75%. The analysis of multivariate show ownership/presence or absence SOP and evaluation of SOP ≥ 75% protection from complications related to bleeding in the laboratory. The conclusion of the study is the ownership SOP and evaluation SOP on PCL in Indonesia < 75%, so it needs to be improved to be able to apply the principles of biological safety at large.   Abstrak Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan acuan laboratorium dalam berkegiatan dan harus memenuhi kriteria Good Laboratory Practice (GLP) serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. SOP berkaitan dengan penilaian risiko keselamatan biologik (biosafety), terutama terkait tindakan pencegahan (safety precaution) di laboratorium. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kepemilikan/ada tidaknya SOP dan evaluasi terhadap SOP yang dimiliki di Laboratorium Klinik Mandiri (LKM) di Indonesia dikaitkan dengan implementasi keselamatan biologik (biosafety), yang dalam tulisan ini dihubungkan dengan kejadian dan komplikasi saat pengambilan darah. Desain penelitian mengikuti Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) 2011 yaitu potong lintang. Metodologi dengan cara mendatangi secara langsung setiap LKM sesuai kriteria inklusi, melakukan wawancara menggunakan kuisioner terstruktur, observasi dan pencatatan data sekunder yang diperlukan. Variabel SOP yang dianalisis berjumlah 15 buah sesuai pertanyaan pada Rifaskes 2011. Total 782 LKM direkrut pada Rifaskes 2011. Sejumlah 695 LKM dianalisis untuk kepemilikan/ada tidaknya SOP dan 504 LKM untuk evaluasi SOP. Hasil menunjukkan hanya 49,3% LKM memiliki SOP dan 51,8%-nya yang melakukan evaluasi SOP. LKM yang memiliki dan mengevaluasi ≥ 75% SOP lebih banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Kejadian tertusuk benda tajam, terkena limbah infeksius, dan tertumpah limbah lebih sering terjadi pada kelompok kepemilikan/ada tidaknya SOP dan evaluasi SOP < 75%. Komplikasi hematoma, pingsan dan perdarahan lebih banyak dilaporkan oleh kelompok kepemilikan/ada tidaknya SOP dan evaluasi SOP ≥ 75%. Analisis multivariat menunjukkan kepemilikan/ada tidaknya SOP dan evaluasi SOP ≥ 75% berhubungan dengan perlindungan dari komplikasi perdarahan di laboratorium. Kesimpulan dari studi ini bahwa < 75% LKM di Indonesia yang memiliki SOP dan evaluasi SOP, sehingga perlu ditingkatkan untuk dapat menerapkan prinsip keselamatan biologik secara luas

    Pengaruh Akses ke Fasilitas Kesehatan terhadap Kelengkapan Imunisasi Baduta (Analisis Riskesdas 2013)

    No full text
    AbstrakAkses terhadap fasilitas kesehatan dengan situasi dan kondisi geografis merupakan tantanganyang cukup besar didalam pemberian pelayanan immunisasi secara merata di seluruh Indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh akses fasilitas kesehatan dengan statusimunisasi dasar lengkap pada baduta berusia 12-23 bulan di Indonesia pada tahun 2013. Penelitianini menggunakan rancangan cross sectional dan analisis statistik dilakukan dengan menggunakanregresi logistik berganda. Berdasarkan hasil analisis multivariat menunjukkan adanya hubungan yangbermakna (P value=0,001) antara waktu tempuh ke fasilitas kesehatan UKBM (OR=1,23); waktu tempuh(P value=0,000) ke fasilitas kesehatan non UKBM (OR=1,80) dengan kelengkapan imunisasi anakbawah dua tahun (baduta) setelah dikontrol oleh variabel umur ibu pendidikan ibu, pekerjaan ibu, statussosial ekonomi keluarga, dan wilayah tempat tinggal. Diperlukan upaya dan peran serta pemerintah danmasyarakat untuk meningkatkan aksesibilitas penduduk terhadap fasilitas kesehatan terutama fasilitasupaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) untuk meningkatkan cakupan kelengkapan imunisasidasar di seluruh Indonesia.Kata Kunci: imunisasi dasar lengkap, baduta, UKBM, non UKBM, Indonesia AbstractAccess to health facilities with geographic circumstances are considerable challenges in the provisionof immunization services throughout Indonesia. The purpose of this study is to determine the effectof access to health facilities to complete basic immunization status at children age 12-23 months inIndonesia in 2013. This study used a cross-sectional design and statistical analysis is done by usingmultiple logistic regression. Based on the results of multivariate analysis showed a significant association(P value=0.001) between the travel time to health facilities UKBM (Community Based Health Efforts)with Odds Ratio/OR = 1.23; and travel time (P value = 0.000) to non UKBM health facilities (OR = 1.80)with the completeness of immunizing children under two years (baduta) after controlled by maternalage, maternal education, maternal occupation, family socio economic status and place of residence.Required effort and the role of the government and the community to improve the accessibility of thepopulation to health facilities, especially facilities-based public health efforts (UKBM) to improve thecompleteness of basic immunization coverage in Indonesia.Keywords : complete basic immunization, infant, UKBM, non UKBM, Indonesi

    Behavior risk factors and lipid profiles of diabetes mellitus with hypertension among adult population in Indonesia

    No full text
    Latar belakang: Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang disertai dengan Hipertensi dapat meningkatkan risiko terjadinya disabilitas dan kematian premature. Data besaran masalah DM yang disertai Hipertensi masih terbatas pada data dari fasilitas kesehatan sementara data berbasis populasi merupakan informasi penting untuk memberikan gambaran besaran masalah secara nasional di masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran besaran masalah DM dengan disertai Hipertensi serta hubungannya dengan faktor risiko PTM lainnya berdasarkan data RISKESDAS 2013 yang mencakup 34 Provinsi di Indonesia. Metode: Studi Ini merupakan analisis data sekunder dari RISKESDAS 2013. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan darah. Jumlah sampel yang dianalisis adalah 35, 931 individu usia 18 tahun ke atas. Pemilihan sampel dengan cara “four stages stratified sampling method”. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi DM dengan disertai Hipertensi adalah sebesar 3,0%, dengan prevalensi tertinggi sebesar 14% pada laki-laki dan 8% pada perempuan. DM dan hipertensi mempunyai hubungan yang bermakna dengan indeks merokok (OR:2,94) pada laki-laki, dengan obesitas (OR: 2,35 pada laki-laki dan 2,19 pada perempuan), dan dengan kolesterol darah (OR: 1,86 pada laki-laki dan 3,45 pada perempuan). Kesimpulan: Beberapa faktor risiko seperti indeks masa tubuh, profil lemak, konsumsi buah dan sayuran serta merokok dapat dijadikan indikator untuk pencegahan penyakit komplikasi DM dan hipertensi, risiko disabilitas dan kematian prematur. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):97-106) Kata Kunci: diabetes mellitus, hipertensi, faktor risiko perilaku Abstract Background: Diabetes mellitus (DM) with hypertension increases risk of disability and premature death. Data on DM with hypertension is limited to hospital based data, while population-based data is important to provide problem magnitude in the population setting. This study aimed to describe issues magnitude of diabetes mellitus with hypertension and relationship with other NCD risk factors in Indonesia based on national population based survey. Method: This is a data analysis from a cross sectional national health survey (RISKESDAS) in 2013 that covered 34 provinces in Indonesia. Data was collected using structured questionnaire and measurement. Sample was 35,931 people aged 18+ years. Sampling method used four stages stratified sampling method. Results: This study showed prevalence of diabetes mellitus with hypertension was 3.0%, the highest prevalence was 14% for male and 8% in female. Diabetes mellitus with hypertension had significant relationship to smoking index in male (OR:2.94), obesity in male (OR: 2.35) and female (OR: 2.19) and blood cholesterol (OR: 3.45 in female and OR:1.86 in male). Conclusion: Health risk monitoring on body mass index, lipid profile, fruits and vegetables consumption, and smoking, will be crucial as a secondary prevention among DM and Hypertension case towards further complication, and risk of disability and premature death. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):97-106) Keywords : diabetes mellitus, hypertension, behaviour risk factors

    Perilaku Pengendalian Tikus di Daerah Berisiko Penularan Leptospirosis

    No full text
    Abstrak Tikus merupakan binatang yang mempunyai daya adaptasi dan daya kembang biak yang tinggi sehingga bisa hidup di semua tempat.  Dampak tikus bagi manusia antara lain tikus sebagai hama pertanian dan menularkan penyakit seperti pes dan leptospirosis.  Berbagai pengendalian tikus telah dilakukan baik secara tradisional yang telah ada sejak nenek moyang maupun cara-cara modern.  Tulisan ini mengeksplorasi perilaku masyarakat dalam usaha pengendalian serta faktor-faktor yang mempengaruhi dilakukannya cara-cara tersebut.  Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif desain deskriptif.  Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah pada 5 informan dan 2 kelompok Diskusi Kelompok Terarah (DKT).  Lokasi penelitian di sebuah desa di Nanggulan, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa cara dalam pengendalian tikus yaitu gropyokan, burung hantu, lem, racun tikus, pengemposan, menggunakan pewangi pakaian, dengan makanan umpan, kucing, dan dengan slametan.  Ada pengendalian tikus dengan mengusirnya saja atau tidak membunuhnya, dan ada pengendalian dengan membunuhnya.  Terdapat mitos dan kepercayaan terhadap tikus.  Kesimpulan penelitian bahwa perilaku dalam pengendalian tikus dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan dan kepercayaan.   kata kunci :  perilaku; pengendalian tikus; mitos dan kepercayaa

    Smoking as a risk factor of periodontal disease

    No full text
    Latar Belakang: Merokok merupakan penyebab dari penyakit pada manusia dimana sesungguhnya penyakit ini dapat dicegah. Nikotin dalam rokok dapat merusak sistem respon imun dan menyebabkan penyempitan pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di dalam jaringan sekitar gigi. Adanya penyempitan pembuluh darah, dapat membentuk suatu lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri penyebab penyakit periodontal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara merokok dengan penyakit periodontal. Metode: Disain penelitian adalah potong lintang (Cross Sectional), data diambil dari data sekunder Riskesdas tahun 2013. Sampel adalah anggota rumah tangga yang berusia ≥ 15 tahun dengan jumlah 722.329 orang. Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan penyakit pada jaringan periodontal, dengan nilai p= 0,000 (p<0,05), ini berarti ada hubungan yang bermakna dimana OR= 4,4343 (95%, CI: 4.1559-4.7312), artinya responden yang merokok kemungkinan 4,4 kali memiliki jaringan periodontal tidak sehat dibandingkan yang tidak merokok. Kesimpulan: Dalam studi ini dilaporkan bahwa merokok merupakan faktor risiko terjadinya penyakit periodontal, dimana dengan merokok kemungkinan empat kali lebih akan memdapatkan penyakit periodontal dibandingkan dengan tidak merokok. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):107-112) Kata kunci: Merokok, penyakit periodontal, faktor risiko Abstract Background. Smoking is a cause of disease in humans is indeed a disease which can be prevented. Nicotine in cigarettes can damage the immune response system and causes constriction of blood vessels, including the blood vessels in the tissues surrounding the tooth. Narrowing of blood vessels, can form a favorable environment for the growth of bacteria that cause periodontal disease. The aim of research to determine whether there is a relationship between smoking and periodontal disease.Methods: the study design is a cross sectional, data retrieved from the secondary data Riskesdas 2013. Samples are household members aged ≥ 15 years with the number of 722 329 people.Results: There was a significant association between smoking and periodontal disease, with a value of p = 0.000 (p <0.05), this means that there is a significant relationship where OR = 4.434 (95%, CI: 4.156-4.731), the meaning that respondents who were 4.43 times to have periodontal diseases  (unhealthy periodontal tissues) as compared to not-smoking.Conclusion: In this studi reported the smoking is a risk factor for the periodontal disease, where smoking were four times more likely to have periodontal diseases  as compared to not-smoking. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):107-112) Keywords: Smoking, periodontal disease, risk factors

    Back Matter Jurnal Kesehatan Reproduksi Vol. 6 No. 2 Tahun 2015

    No full text

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇