e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan dan Kelengkapan Pelayanan Antenatal Care di Kelurahan Kebon Kalapa, Kota Bogor Tahun 2014
Abstract Maternal and infant mortality rate in Indonesia is higher than that of other ASEAN countries. This study aimed to analyze factors related to the utilization of antenatal care and described the completeness of antenatal care service on pregnant women in Kebon Kalapa, Bogor City. A total of 122 ever pregnant women were used for the analysis. This study was used cross sectional design. The analysis showed that 88.5% of mothers with the recommended frequency of antenatal care visits (K4), but only 4% of women who received complete antenatal care components (10T). Blood pressure examination (100%), positioning and presentation of the infant (100%) as well as the fetal heart rate examination (100%) were the highest percentage of antenatal service components. Furthermore, counseling was the lowest percentage among all the components of antenatal care (23%). Bivariate analysis showed that the age of mothers and number of pregnancies were associated with antenatal care visits. Mothers aged >35 years had 0.3-fold lower odds to utilize antenatal care service compared to mothers aged ≤35 years. Mothers had pregnancies history 3-8 times had 0.3-fold lower odds to utilize antenatal care service compared to mothers who had pregnancies history 1-2 times. Key words : antenatal care, component of ANC, utilizationAbstrakAngka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Sejak tahun 2009 Kementerian Kesehatan memberlakukan standar komponen 10T dalam pelayanan kunjungan antenatal sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Studi ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pemanfaatan kunjungan antenatal oleh ibu hamil di Kelurahan Kebon Kalapa, Kota Bogor. Besar sampel yang dianalisis dalam penelitian ini adalah 122 ibu yang pernah melahirkan di Kelurahan Kebon Kalapa. Penelitian ini menggunakan metode potong lintang (cross sectional). Metode analisis yang digunakan adalah tabulasi silang dan chi-square dengan tingkat kemaknaan 5% dan tingkat kepercayaan 95%. Hasil analisis menunjukkan bahwa 88.5% ibu melakukan kunjungan antenatal K4, namun hanya 4% ibu yang memperoleh komponen antenatal care secara lengkap (10T). Pemeriksaan tekanan darah, penentuan posisi dan presentasi serta denyut jantung janin merupakan komponen pemeriksaan tertinggi, sedangkan konseling merupakan komponen dengan persentase paling kecil. Analisis bivariat menunjukkan bahwa umur ibu dan jumlah riwayat kehamilan berhubungan dengan kunjungan antenatal. Ibu yang berumur >35 tahun memiliki kemungkinan 0.3 kali lebih rendah untuk memanfaatkan pelayanan antenatal dibandingkan ibu yang berumur ≤35 tahun. Ibu yang memiliki riwayat kehamilan 3-8 kali memiliki kemungkinan 0.3 kali lebih rendah untuk memanfaatkan pelayanan antenatal dibandingkan ibu yang memiliki riwayat kehamilan 1-2 kali.Kata kunci : kunjungan antenatal, pemanfaatan, komponen AN
Angka Kematian dan Faktor Risiko Stroke Sebagai Penyebab Dasar Kematian di Kabupaten Padang Pariaman Provinsi Sumatera Barat
Abstract Mortality data are one of important indicators for the publich health The aim of this study is to know about the death rate, characteristics and risk factors of stroke as underlying cause of death in Padang Pariaman district. The mortality data in 2010 was analyzed using SPSS 16. The results showed that the entire death data was amount of 2642 and crude death rate was 6.71. Proportion of stroke in the district was 19.3% and stroke mortality rate was 1.29 per 1000 population in the year 2010, The risk factors of stroke as underlying cause of death after adjusted with education, employment and place of death were age and gender. The age of 40 – 64 years had the risk with OR of 6.45 (95% CI 2.77 – 14.28, p < 0.0001) and age of > 65 years had the risk of 10.29 (95% CI 4.47 – 23.69, p < 0.0001) compared to 20 – 39 year old. Women had greater risk than that of men with OR of 1.43 (95% CI 1.16 – 1.76, p < 0.001). The mortality rate of stroke as an underlying cause of death is high, so it is necessary to prevent the disease by appropriate intervention program. Keywords: age, cause of death, , gender, stroke,AbstrakData kematian merupakan salah satu indikator kesehatan masyarakat yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kematian, karakteristik dan faktor risiko dari stroke sebagai penyebab dasar kematian di Kabupaten Padang Pariaman. Karakteristik meliputi usia, jenis kelamin, tempat meninggal, pendidikan dan pekerjaan. Dilakukan analisis data kematian 2010 menggunakan SPSS 16,0. Jumlah seluruh data kematian selama satu tahun adalah 2642, diperoleh angka kematian kasar sebesar 6,71. Proporsi kematian akibat stroke sebesar 19,3% dan angka kematian stroke didapat sebesar 1,29 per 1000 penduduk per tahun 2010. Faktor risiko sebagai penyebab dasar kematian stroke setelah disesuaikan dengan pendidikan, pekerjaan dan tempat meninggal adalah umur dan jenis kelamin. Umur 40 – 64 tahun berisiko OR 6,45 (95% CI 2,77 – 14,28, p < 0,0001) dan usia > 65 tahun OR 10,29 (95% CI 4,47 – 23,69, p < 0,0001) dibanding usia 20 – 39 tahun. Perempuan berisiko OR 1,43 ( 95% CI 1,16 – 1,76, p < 0,001) dibanding laki –laki. Angka kematian stroke sebagai penyebab dasar kematian cukup tinggi sehingga perlu strategi intervensi pencegahan stroke yang tepat di masyarakat.Kata kunci: stroke, penyebab kematian, umur, jenis kelami
Efikasi Bacillus sphaericus Strain 2362 terhadap Larva Anopheles aconitus di Laboratorium
Risk of resistance will not be increased when using a bacterial organism continuously. The aim of study was determined the ability of the bacteria Bacillus sphaericus strain 2362 to eliminate of An. aconitus in the laboratory. The research was used experiment method with completely randomized design. Bacillus sphaericus Larvae was tested as 1000 was bred in the laboratory with different variation doses. The result was shown Bacillus sphaericus larvae strain An.aconitus 2362 that is effective to elimination at the water surface in application dose of 5 ml/m2 and 10 ml/m2 as indicated on Griselest product. The product mentioned that to elimination 50% and 85% of the population of a dose of 5 ml / m2 takes over 12 and LT95 with range of time between 24-48 hours, while a dose of 10ml / m2 is required LT 50 at the time between 6-12 hours, LD9 takes 12-24 hours. For applications under the water surface was shown larval mortality as much as 81-85% needed low dose of 2.5 ml / m2 for 12 hours of exposure and LT95 with a time of 11-20 hours, whereas high doses of 6:25 ml / m2 for 12 hours showed larval mortality as much as 86%. It can be concluded that Bacillus sphaericus an effective to eliminate the larvae An. aconitus in above and below the water surface with small doses.Keywords: efficacy, Bacillus sphaericus larvacides, and Anopheles aconitusAbstrakPemanfaatan organisme bakteri secara terus menerus tidak meningkatkan risiko resistensi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan daya bunuh Bacillus sphaericus strain 2362 terhadap An.aconitus di laboratorium. Penelitian ini merupakan penelitian ekperimen dengan rancangan acak lengkap. Jumlah larva Bacillus sphaericus yang diujikan sebanyak 1000 larva An.aconitus yang dikembangbiakan di laboratorium dengan variasi dosis berbeda. Hasil penelitian menunjukan Bacillus sphaericusstrain 2362 efektif mematikan larva An.aconitus di permukaan air pada dosis 5 ml/m2 maupun dosis 10 ml/ m2 seperti dosis aplikasi yang tertera pada produk Griselesf. Produk tersebut menyebutkan bahwa untuk mematikan 50 % dan 85% populasi dari dosis 5 ml/m2 memerlukan waktu selama 12 dan LT95 dengan waktu antara 24 – 48 jam, sedangkan untuk dosis 10ml/m2 diperlukan LT 50 pada waktu antara 6-12 Jam, LD9 diperlukan 12 – 24 jam. Untuk aplikasi di bawah permukaan air menunjukkan kematian larva sebanyak 81 - 85% diperlukan dosis rendah sebesar 2.5 ml/m2 selama 12 jam paparan dan LT95 dengan waktu antara 11 – 20 jam, sedangkan dosis tinggi sebesar 6.25 ml/ m2 selama 12 jam menunjukkan kematian larva sebanyak 86%. Dapat disimpulkan bahwa Bacillus sphaericus efektif untuk membunuh larva An. Aconitus di atas maupun di bawah permukaan air dengan dosis yang kecil. KataKunci: effikasi, Bacillus sphaericus larvacides, dan Anopheles aconitu
Probabilitas Waktu Seorang Ibu Menyusui Pertama Kali Bayinya dan Faktor yang Mempengaruhi
AbstractBreast milk is the first and important food for babies, but there are still 6.7% of infants in Indonesia were never breast-fed since it's birth. There are linkages with the first breastfeeding and exclusive breastfeeding sustainability of breastfeeding until the age of 2 years. This analysis explore first time mothers breastfeeds and factors that influence it. The analysis used was the analysis of survival, the event is the first time a mother breastfeeds her child before being given food. Sensors are breast-fed infants up to 24 hours, and time is the first breastfeeding. To determine the factors that influence breastfeeding was first used cox regression. Median time breastfeeding 1.85 first hour after birth. there are still 52.2% of mothers breastfeed the first time in over 1.82 hours hours after birth. Six factors significantly influence breastfeeding delays the first. The six factors are: the mother suffered complications during pregnancy, maternal employment status, birth weight status of children, age pregnancy when the baby was born, how parturition and duration of babies treated after birth. Six factors that influence, five factors related to childbirth, infants born condition, and is associated with health workers and health facilities. Optimizing the function of health workers, as well as an increase in the netting deliveries in health facilities.Keywords : Probability, Breastfeeding, First timeAbstrakAir Susu Ibu (ASI) merupakan makanan pertama dan utama bagi bayi, namun masih ada 6,7% bayi di Indonesia yang tidak pernah mendapatkan ASI sejak lahir. Ada keterkaitan pemberian ASI pertama dengan pemberian ASI ekslusif dan keberlangsungan pemberian ASI hingga usia 2 tahun. Analisis ini menggali waktu pertama kali ibu memberikan ASI dan faktor yang mempengaruhinya. Analisis yang digunakan adalah analisis survival, dengan event adalah waktu pertama kali ibu menyusui anaknya sebelum diberikan makanan. Sensor adalah bayi yang diberi ASI diatas 24 jam, dan waktu adalah pemberian ASI pertama kali. Untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap pemberian ASI pertama kali digunakan regresi cox. Median waktu pemberian ASI pertama kali 1,85 jam setelah bayi lahir. Ada 52,5% ibu memberikan ASI pertama kali dibawah 1,85 jam. Ada enam faktor berpengaruh signifikan terhadap keterlambatan pemberian ASI pertama. Enam faktor tersebut adalah: komplikasi yang dialami ibu pada saat kehamilan, status pekerjaan ibu, status berat badan lahir anak, umur kandungan pada saat bayi dilahirkan, cara partus dan lamanya bayi dirawat setelah dilahirkan. Dari enam faktor yang berpengaruh, lima faktor terkait proses persalinan, kondisi bayi yang dilahirkan, dan berhubungan dengan tenaga kesehatan serta fasilitas kesehatan. Perlu ada optimalisasi fungsi tenaga kesehatan, serta peningkatan penjaringan persalinan di fasilitas kesehatan.Kata kunci : Probabilitas, Menyusui, Pertama kal
Faktor Risiko Dominan Penyakit Jantung Koroner di Indonesia
Abstract Coronary heart disease is still a major cause of mortality and morbidity with great socio-economic impact like stroke. Coronary heart disease is preventable by early detection and risk factors control. This study aimed to identify dominant risk factors of coronary heart disease in Indonesia using National Basic Health Survey 2013 data. Data were analysed using SPSS 16 with complex sample. A total of 722.329 respondent age ≥15 years old, consisting of 347.823 male and 374.506 female were analyzed. Prevalence of coronary heart disease was 1.5 % (95% CI 1.4–1.5). Several factors were identified as risk factors of coronary heart disease such as hypertension, mental disorder, diabetes mellitus, stroke, age ≥ 40 years old, smoking, female, low level of education, central obesity, and low level of social economic status with adjusted odds ratio range from 1.30 to 10.09. The dominant risk factors were hypertension, mental disorder, and diabetes mellitus. Promotion of healthy lifestyle and early detection since early age need to be enhanced to minimize the risk factors as well as coronary heart disease. Key words : coronary heart disease, risk factor, basic health survey 2013. AbstrakPenyakit Jantung Koroner (PJK) masih merupakan penyebab kematian dan kesakitan utama yang berdampak secara sosioekonomi seperti juga stroke. Penyakit ini dapat dicegah dengan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan faktor risiko dominan penderita jantung koroner di Indonesia dengan menggunakan data sekunder dari Survei Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2013. Analisis data menggunakan SPSS 16 dengan complex sample. Dari 722.329 responden usia ≥ 15 tahun didapat prevalensi penyakit jantung koroner sebesar 1,5 % (95 % CI 1,4–1,5). Hipertensi, gangguan mental emosional, diabetes melitus, stroke, usia ≥ 40 tahun, kebiasaan merokok, jenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan rendah, obesitas sentral, dan status sosial ekonomi rendah merupakan faktor risiko PJK dengan rasio odd berkisar dari 1,30 hingga 10,09. Faktor risiko dominan penyakit jantung koroner adalah hipertensi, gangguan mental emosional, dan diabetes melitus. Upaya promotif dan deteksi dini faktor risiko sejak usia dini perlu ditingkatkan untuk memperkecil kejadian faktor risiko maupun penyakit jantung koroner.Kata kunci : penyakit jantung koroner, faktor risiko, Riskesdas 2013
Genotypes of dengue virus circulate in dengue sentinel surveillance in Indonesia
Latar Belakang: Demam berdarah dengue disebabkan oleh infeksi virus dengue (DENV) yang terdiri atas serotipe 1 sampai dengan serotipe 4. Masing-masing serotipe dibedakan lagi menjadi beberapa genotipe. Studi ini dilakukan untuk mendeteksi genotipe DENV yang bersirkulasi di lokasi surveilans sentinel dengue. Metode: Untuk menentukan genotipe dilakukan analisis genetik menggunakan perangkat bioinformatik. Urutan nukleotida yang lengkap dari gen selubung DENV diperoleh melalui amplifikasi genetik menggunakan primer overlapping untuk masing-masing serotipe. Pohon filogenetik dibuat menggunakan perangkat lunak MEGA 6.0, metode Neighbor Joining dengan 1000 replikasi dan parameter Kimura-2. Sekuen nukleotida dari GenBank yang telah diketahui genotype DENV digunakan sebagai referen. Hasil: Jumlah sampel dengan gen selubung DENV yang dapat diamplifikasi adalah 64 dari 204 kasus yang terkonfirmasi. Empat belas sekuen dari DENV-1, 22 sekuen DENV-2, dan 28 sekuens DENV-3. Dari studi ini belum didapatkan sekuen untuk DENV-4. DENV-1 dan DENV-2 masing-masing masuk dalam kelompok genotipe I dan Cosmopolitan, sementara DENV-3 masuk dalam kelompok genotipe I. Kesimpulan: Genotipe DENV di lokasi surveilans sentinel dengue sama dengan genotype yang sebelumnya dilaporkan bersirkulasi di Indonesia. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):69-74) Kata kunci: surveilans sentinel dengue, virus dengue, genotype Abstract Background: Dengue hemorrhagic fever was caused by dengue virus (DENV). This virus has four serotypes, DENV-1 to DENV-4, in which each serotype consists of various genotypes. This study present the distribution of DENV genotype circulate in dengue sentinel surveillance sites. Methods: We performed molecular analyses using bioinformatics tools to identify genotype of DENV. Sequencing targeting envelope gene was carried out on DENV-positive samples. Full-length sequence of envelope gene was obtained using overlapping primers for DENV 1, 2, 3 and 4. Phylogenetic tree was generated by Neighbor Joining using MEGA 6.0 with 1000 bootstrap replications and Kimura 2-parameter model. Known genotype of DENV sequences from Indonesia and other countries obtained from GenBank were included in the analyses as references. Results: A total of 64 complete coding sequences of envelope gene from DENV-1, DENV-2 and DENV-3 were successfully sequenced from 204 confirmed DENV cases. There are fourteen sequences of DENV-1, 22 sequences of DENV-2 and 28 sequences of DENV-3. Unfortunately, there was no complete coding sequence of envelope gene obtained for DENV-4. DENV-1 and DENV-2 were grouped into genotype I and cosmopolitan genotype, respectively. The DENV-3 was grouped into genotype I. These viruses were belongs to various genotypes that have been circulating previously in Indonesia. Conclusion: This finding suggests that the distribution of DENV genotype in sentinel sites remained stable. (Health Science Journal of Indonesia 2016;7(2):69-74) Key words: dengue sentinel surveillance, dengue virus, genotype
Clinical trial of osteoarthritis jamu formula compare to piroxicam
Latar belakang: Indonesia memiliki beberapa ramuan tradisional yang telah digunakan untuk mengurangi nyeri pada osteoarthritis (OA). Namun belum ada bukti yang kuat mengenai khasiat dan keamanan dari ramuan tradisional. Penelitian ini memberikan bukti mengenai khasiat dan keamanan dari satu ramuan tradisional. Metode: Penelitian ini menggunakan metode randomized clinical trial (RCT) dengan 123 subyek (pasien) selama 28 hari intervensi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret – Desember 2014 oleh 30 dokter Saintifikasi Jamu di 20 provinsi. Formula jamu dibandingkan dengan piroksikam sebagai kontrol positif. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi khasiat formula jamu dan piroxicam adalah visual analogue score (VAS), pilot geriatric arthritis project (PGAP) functional status assessment (FSA), dan Short Form (SF)-36. Untuk mengevaluasi keamanan digunakan nilai serum glutamic-oxaloacetic transaminase (SGOT), serum glutamic pyruvic transaminase level (SGPT), blood urea nitrogen (BUN), dan kreatinin. Hasil: Sebanyak 123 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok yaitu 63 subyek pada kelompok formula jamu dan 60 subyek pada kelompok piroksikam. Pemberian jamu dapat menurunkan VAS secara bermakna (p<0,05) jika dibandingkan dengan hari ke-0. Nilai FSA kelompok jamu turun secara bermakna (p=0,000) jika dibandingkan dengan nilai di awal intervensi. Formula jamu dapat memperbaiki nilai SF-36 bila dibandingkan dengan hari ke-0. Nilai ketiga parameter antara jamu formula dan piroksikam, jika dibandingkan tidak berbeda bermakna (p>0,05). Kelompok formula jamu menunjukkan nilai SGOT, SGPT, BUN, dan kreatinin dalam ambang normal. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa ramuan jamu secara klinis, khasiatnya sebanding dengan piroxicam dan aman setelah intervensi selama 28 hari. Kata kunci: khasiat, keamanan, RCT, ramuan Abstract Background: Indonesian herbs have several formulas which have been used traditionally to reduce pain of osteoarthritis (OA). However, there is a lack of evidence of its efficacy and safety. The objectives of study were to investigate the efficacy and safety of a traditional formula for OA. Methods: Design of the study was a randomized clinical trial (RCT) involved 123 patients (subjects) for 28 days intervention. This study was conducted between March - December 2014 with 30 physicians were participated at 20 regencies in Indonesia. The variables measured were VAS score, PGAP functional status assessment (FSA), and Short Form (SF-36) to assess jamu efficacy in comparison to piroxicam. To evaluate the safety of jamu formula using values of SGOT, SGPT, BUN, and creatinine. Result: The jamu formula administration effects can reduce VAS significantly (p<0.05) if it was compared to baseline. FSA score of jamu formula group was decreased significantly (p=0.000) when compared to the start of intervention. Short Form (SF)-36 of jamu formula group were significantly improved when compared with baseline value. The result of the three parameters between jamu group and piroxicam group should not significantly different. There was no difference in those parameters between both groups (p>0.05). In biological parameters, SGPT, SGOT, BUN, and creatinine level, showed normal range in both groups. Conclusion: This study showed that the efficacy and safety of jamu formula was clinically comparable to piroxicam after 28 days of treatment. Keywords: efficacy, safety, RCT, jamu formula
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU (PSP) IBU HAMIL TERHADAP PENULARAN MALARIA DI WILAYAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
Kabupaten Sumba Barat Daya merupakan daerah endemis malaria dengan Annual Parasite Incidence (API) pada tahun 2008 sebesar 30,37%, tahun 2009 sebesar 24,89% dan pada tahun 2010 sebesar 31,41% Jumlah ibu hamil di kabupaten ini pada tahun 2010 sebanyak 154 orang dengan penderita malaria sebanyak 28 orang (18,18%) dan pada tahun 2011 sebanyak 506 ibu hamil dengan penderita malaria 102 orang(20,15%). Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Tujuannya untuk mendapatkan gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku ibu hamil terhadapkejadian malaria. Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 125 ibu hamil berada di daerah insiden tinggi malaria di kabupaten Sumba Barat Daya. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik stratified purposive sampling. Hasil menunjukan pengetahuan ibu hamil tentang malaria adalah berkategori sedang (skor penilaian 69,2%), sikap ibu hamil terhadap penularan malaria berkategori sedang (skor penilaian 66,9%), dan perilaku ibu hamil terhadap pencegahan berkategori rendah (skor penilaian 34,1%). Kesimpulan dari analisis ini adalah belum semua ibu hamil memahami dan menunjukan sikap positif terhadap penularan malaria, berperilaku kurang baik dalam pencegahan malaria dan kurang menyadari pentingnya tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk.
PENGEMBANGAN METODE ELISA UNTUK MENDIAGNOSIS PENDERITA SCHISTOSOMIASIS DI NAPU SULAWESI TENGAH TAHUN 2012
Deteksi dini schistosomiasis dengan metode ELISA di Indonesia belum dilakukan, sehingga perlu dilakukan pengembangan diagnosis schistosomiasis. Penelitian ini bertujuan mendapatkan konformasi model yang optimal dengan konsentrasi antigen dan antibodi dalam mendeteksi antigen ekskretori sekretori pada penderita schistosomiasis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dilakukan selama 9 bulan dari April – Desember 2012. Optimasi uji ELISA dilakukan untuk menentukan konsentrasi antigen ekskretori sekretori (AgES) dan imunoglobulin G (IgG) dengan menggunakan tiga kombinasi konsentrasi pada antigen ES yaitu 10 µg/ml (1/100), 2 µg/ml (1/500), dan 1µg/ml(1/1000), dan IgG sebagai antibodi deteksi dengan konsentrasi 2 µg/ml (1/500) dan 1 µg/ml (1/1000). Hasil pengujian pada kombinasi konsentrasi AgES 10 µg/ml dengan IgG 2 µg/ml, didapatkan kelipatan nilai absorbansi terbaik atau optical density (OD) sebesar 1,15-1,4 kali lipat dari nilai absorbansi sampel negatif. Setelah dilakukan optimasi dengan coating AgES, maka dilakukan optimasi IgG dengan serum positif penderita schistosomiasis pengenceran 20x. Hasil absorbansi serum positif dari coating IgG 2 mg/ml yaitu 0.97–1.5 kali lipat dari OD sampel blank dan coating IgG konsentrasi 1mg/ml diperoleh nilai absorbansi serum positif 1,1 – 2 kali lipat dari nilai absorbansi sampel negatif/blank. Disimpulkan bahwa konformasi terbaik dapat mendeteksi penderita schistosomiasis yaitu pada konsentrasi coating IgG 1mg/ml (1/1000)