e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Analisis Pengaruh Faktor Lingkungan dan Motivasi terhadap Kepuasan Kerja di Pelayanan Kesehatan RSUD Banjarbaru

    No full text
    Abstract Healthcare providers have the function of organizing medical services, development of administration and financial implemented by medical record and service unit. Therefore, hospital should give a positive direction to achieve organization goals and employees’ job satisfaction. The expectation is influenced by the work environment and motivation. This study aimed to analyze the influence of physical work environment (temperature and humidity), non-physical work environment (relationship among employees, relationship between employees and leaders) and motivation for job satisfaction in the medical record and service unit at Banjarbaru Hospital in 2015. The research design was crosssectional through observational approach. The sample was 32 people. The research applied devices for measuring temperature and humidity, and questionnaires for motivation and job satisfaction assessment. The results revealed that humidity and temperature factors influence job satisfaction significantly. The influence of non-physical work environment on satisfaction was at p-value of 0.017, and the influence of motivation on job satisfaction was at p-value of 0.035. The study concluded that temperature, humidity, motivation and non-physical work environment were the factors of job satisfaction. Key words : Environment factors, job satisfaction, motivationAbstrakPelayanan kesehatan mempunyai fungsi menyelenggarakan pelayanan medis, pengembangan administrasi dan keuangan yang dilaksanakan unit kesehatan, terutama di rumah sakit, tetapi juga harus memperhatikan kepuasan kerja pegawai. Harapan tersebut dipengaruhi oleh lingkungan kerja dan motivasi. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor lingkungan kerja fisik (suhu dan kelembaban), lingkungan kerja non fisik (hubungan sesama karyawan, hubungan karyawan-atasan) dan motivasi terhadap kepuasan kerja. Tempat penelitian di ruang rekam medik dan bidang pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daerah Banjarbaru. Metode yang digunakan observasional analitik dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 32 orang dan instrumen penelitian menggunakan alat ukur suhu dan kelembaban (termometer hygrometer) dan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor suhu dan kelembaban berhubungan dengan kepuasan kerja. Ada pengaruh lingkungan kerja non fisik dengan kepuasan kerja (p-value=0,017), dan ada pengaruh motivasi dengan kepuasan kerja (p-value=0,035). Kesimpulan penelitian membuktikan bahwa faktor suhu dan kelembaban, motivasi, hubungan sesama karyawan dan atasan menjadi faktor penyebab kepuasan kerja.Kata kunci : faktor lingkungan kerja, kepuasan kerja, motivatio

    Hubungan antara Jarak Rumah dengan Sumber Pencemaran di Luar Rumah (Outdoors) terhadap Kejadian Asma

    No full text
    AbstrakTelah dilakukan analisis lanjut data Riskesdas tahun 2007 dengan tujuan untuk mengetahui prevalensidan hubungan antara jarak rumah dengan sumber pencemaran di luar rumah terhadap asma. Analisisdilakukan tahun 2014 di Jakarta selama 3 bulan. Analisis statistik meliputi univariat dan bivariatmenggunakan uji chi square, dengan nilai kekuatan hubungan dari nilai ORcrude (Odds Ratio). Dependenvariabel asma dan independen variabel jarak rumah dengan sumber pencemaran di luar rumah (kejalan raya/rel KA, ke TPS/TPA, ke industri/pabrik, dan lokasi kota/desa). Hasil menunjukkan bahwaprevalensi asma di Indonesia berdasarkan diagnosis petugas kesehatan atau gejala klinis yangdirasakan sebesar 2,51%. Faktor risiko lingkungan yang paling berisiko adalah jarak rumah ke industri/pabrik lebih dari 50 meter berisiko untuk menderita asma sebesar 30,2 kali, dengan tingkat kemaknaan(p) 0,005. Sedang lokasi rumah berada di perdesaan dengan mendapatkan penanggulangan sebesarnilai OR (95% CI) 0,03 dan tingkat kemaknaan (p) 0,003. Berdasarkan temuan, disarankan kepadaKementerian Kesehatan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa jarak rumah ke sumberpencemaran berisiko menyebabkan asma. Perlunya penyuluhan tentang bahaya dari kedekatan rumahdengan sumber pencemaran kaitan dengan penyakit. Perlu penelitian lebih lanjut menggunakan variabellingkungan hasil pengukuran sehingga dapat lebih baik.Kata Kunci: lingkungan, sumber pencemaran, luar rumah, asma AbstractFurther analysis of data Riskesdas 2007 has been conducted, with the aim to determine the prevalenceand the relationship between home distance to outdoors pollution sources to occurance of asthma.The analysis was conducted in 2014 in Jakarta for 3 months. Statistical analysis include univariate andbivariate using chi square test, with the value of the strength of the relationship of the value ORcrude (OddsRatio). The dependent variables is asthma and independent variables distance between home and asource of outdoors pollution. The results showed that the prevalence of asthma in Indonesia based onthe diagnosis of health or clinical symptoms felt by 2.51%. The risk factors most influential environmentis home to a range of industrial / factory of more than 50 meters at risk of developing asthma by 30.2times, with a significance level (p) 0.005. Average house is in a rural location with a gain reduction in theamount of OR (95% CI) of 0.03 and a significance level (p) 0.003. Based on the findings, it is suggestedto the Ministry of Health to disseminate to the public that the distance from the house to the source ofthe pollution risk of causing asthma. The need for education about the dangers of the proximity of thehouse to the sources of pollution linked to the disease. Further studies using environment variables sothat the measurement results can be better.Keywords: environment, sources of pollution, outdoors, asthm

    The effects of benzil amino purin (BAP) and gibberellin with in vitro seedling growth of pulesari (Alyxia reinwardtii Bl)

    No full text
    Latar belakang: Status kelangkaan pulesari (Alyxia reinwardtii Bl.) termasuk rawan (vulnerable) karena tingginya permintaan dan mahalnya harga menyebabkan eksploitasi pulesari di hutan meningkat sedangkan upaya konservasi dan budidayanya belum ada. Selama ini perbanyakan pulesari hanya mengandalkan biji di alam. Benih pulesari persentase perkecambahannya tergolong sangat rendah, waktu lama dan sulit diperbanyak secara vegetatif. Memperhatikan sulitnya mendapatkan bibit pulesari secara konvensional maka perlu dilakukan dengan cara kultur jaringan. Metode: Penelitian dilakukan di laboratorium kultur jaringan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu selama tiga bulan. Bibit A. reinwardtii Bl. diperoleh dari Pringgondani Forest, Tawangmangu. Biji kupas dan dikeringkan selama lima hari, dicuci menggunakan aquadest steril, direndam pada 0,5% Agrept 5 menit kemudian pada 2,125% natrium hipochorida 5 menit dan dibilas menggunakan aquades steril. Media Murashige dan Skoog (MS) disiapkan sesuai komposisi. Penelitian ini rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama konsentrasi zat pengatur tumbuh BAP pada konsentrasi 3, 4 dan 5 mg/l dan faktor kedua konsentrasi giberelin dari 1, 2 dan 3 mg/l. Media MS yang dimodifikasi dengan penambahan BAP konsentrasi 3, 4, dan 5 mg/l dan giberelin konsentrasi 1, 2, dan 3 mg/l sehingga diperoleh 9 kombinasi perlakuan. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan zat pengatur tumbuh BAP  mg/l dan giberelin 2 mg/l pada media MS terbentuk tunas dan akar. Tunas terbentuk pada 30 hari setelah tanam dengan tinggi 2 cm dan akar muncul pada 45 hari setelah tanam dalam satu kali percobaan. Kesimpulan: Pulesari (Alyxia reinwardtii Bl.) dapat diperbanyak melalui kultur jaringan menggunakan biji sebagai eksplan. Kaca kunci : pulesari, Alyxia reinwardtii Bl, BAP dan giberelin Abstract Background: Alyxia reinwardtii Bl. in natural habitat becomes rare and reaches vulnerable status. The high price and high market demand made the over harvested beyond regeneration capacity of the plant while the conservation efforts are terribly limited. Presentage of seed germination is not only very low but also time consuming, therefore we conducting preliminary study on in vitro propagation using  seed  Alyxia reinwardtii Bl. Methods: The research was conducted in laboratory tissue culture of Medicinal Plant and Traditional Medicine Research and Development Center Tawangmangu for three months. Seeds of A. reinwardtii Bl. obtained from Pringgondani Forest, Tawangmangu Central Java.  Seeds were peeled and air dryed for five days, washed using steril aquadest, soaked on 0.5% Agrept (5 minutes) then on 2.125% sodium hypochloride (5 minutes) and rinsed using sterile distilled water. This study uses a Murashige and Skoog (MS) with a completely randomized design (CRD) factorial design.. The first factor is   BAP at a concentration of 3, 4, 5 mg.L-1 and the second factor is giberelin concentration of 1, 2, 3 mg.L-1. MS media  with addition of BAP the concentration of 3, 4, 5 mg.L-1 and gibberellin the concentration of 1, 2, 3 mg.L-1 obtained 9 treatment combination. Results: The results showed the combination treatment of growth regulators BAP (4 mg.L-1) and giberelin (2 mg.L-1) is formed shoots and roots. The shoots were formed  30 days after planting with a height of 2 cm and the roots appear at 45 days after planting. Conclusion: Pulasari (Alyxia reinwardtii Bl.) can be propagated through tissue culture using seeds as explants.Keywords: pulesari, Alyxia reinwardtii BI, BAP and giberelin

    Uji Daya Bunuh Ekstrak Daun Nerium oleander L. Terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus

    No full text
    The use of  synthetic  larvacide can be harmful to  enviroment. It  also can lead  to  larvacide resistance. One of the alternatives to reduce the negative impact of synthetic larvacide is organic  larvacide  from  plant,  such  as  Nerium  oleander  L.  The  aim  of  study  was  to determine  the  efficacy  of  N.oleander leaves  extract  against  Aedes  aegypti  and Culex quinquefasciatus  larvae  which was measured by LC50 and LC90.  The third instar  larvae  of Ae. aegypti and Cx. quinquefasciatus were used for the study which were divided into 10 groups.  In  addition,  there  were  one  positive  control  group  with Bacillus  thuringiensis  and one negative control with water.  The results showed that the LC50 and LC90 for  Ae. aegypti were 0.68% and 2.67% respectively whereas the LC50 and LC90  for  Cx. quinquefasciatus were 0.14%  and  0.71%  respectively.  Moreover,  there  was  a  mean  difference  in  the  death  of larvae  between    Ae.  aegypti  and  Cx.  quinquefasciatus  (p-value=0.006).  Extract  of   N.  oleander  leaves  were  more  effective  against  Cx.  quinquefasciatus  larvae  than  Ae.  aegypti  larvae. Penggunaan  larvasida  sintesis  sangat  merugikan  masyarakat  seperti  pencemaran lingkungan  dan  menyebabkan  resistensi.  Alternatif  untuk  mengurangi  dampak  negatif tersebut  adalah  dengan  menggunakan  larvasida  nabati  yang  berasal  dari  tanaman yaitu Nerium oleander L.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan besarnya daya bunuh ekstrak  daun Nerium oleander  yang  ditunjukkan dengan LC50 dan LC90 .  Larva nyamuk  yang  digunakan  adalah  larva  nyamuk  Aedes  aegypti  dan  Culex  quinquefasciatusyang  telah  mencapai  instar  III  yang  dibagi  menjadi  10  kelompok  perlakuan  dengan kontrol  positif  (Bacillus  thuringiensis)  dan  kontrol  negatif  (Air).  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa  LC50   dan  LC90   untuk   Ae.  aegypti   masing-masing adalah  0,68%  dan 2,67%,  sedangkan  LC   dan  LC   untuk  Cx.  quinquefasciatus  masing-masing  adalah 50 900,14%  dan  0,71%,  dan  terdapat    perbedaan  kematian  yang  bermakna  antara Ae. aegypti  dan Cx. quinquefasciatus  (p-value=0.006 ). Ekstrak daun N.  oleander  lebih efektif  terhadap  larva  nyamuk  Cx.  quinquefasciatus  dari  pada  Ae.  aegypti

    Back Matter

    No full text

    Daya Bunuh Kelambu Berinsektisida Long Lasting Insecticidal Nets (LLINS) terhadap Nyamuk Anopheles maculatus

    No full text
    Abstract. Malaria is one of the infectious diseases that become a public health problem that can be a major cause of death in developing countries, especially in infants, toddlers, and pregnant women. Nowadays, malaria caseis still commonly found in Ogan Komering Ulu (OKU) South Sumatera Province. One of the efforts in malaria prevention and control that Health Office of OKU District has been carrying out was the distribution of Long Lasting Insecticidal Nets (LLINS). This study aimed to obtain the percentage of mosquito mortality in order to assesslethal potency of LLINs that have been distributed by the Health Office of OKU District and was still used by the community. This study was an observational research with cross sectional design. The percentage of mosquito mortality rate was obtained through bioassay test on LLINs that randomly selected from the community in Bumi Kawa village in Lengkiti of OKU District. The mosquitoes that used for the test were Anopheles maculatus that were bred and reared in the laboratory. Long Lasting Insecticidal Nets (LLINs) were grouped based on the duration of use (2-3 years and above 3 years) and the frequency of washing(unwashed, once, twice, and thrice). The results showed that all nets had mosquitos’ knockdown less than 95% and the mortality less than 80% of mosquitoes. These numbers showed that all the tested nets are no longer effective in killing mosquitoes. Keywords: mosquito nets, insecticides, LLINs, bioassay, An. maculatus Abstrak. Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dan dapat menjadi penyebab utama kematian di negara berkembang terutama pada bayi, anak balita, dan ibu hamil. Sampai saat ini, kasus malaria masih banyak ditemukan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Provinsi Sumatera Selatan. Salah satu upaya dalam pencegahan dan pengendalian malaria, Dinas Kesehatan Kabupaten OKU telah melaksanakan pendistribusian/pembagian kelambu berinsektisida pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh persentase angka kematian nyamuk guna menentukan daya bunuh kelambu berinsektisida. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Persentase angka kematian nyamuk diperoleh melalui uji Bioassay pada kelambu berinsektisida yang digunakan masyarakat di Desa Bumi Kawa Kecamatan Lengkiti Kabupaten OKU. Tempat pengambilan sampel dipilih secara acak dan nyamuk yang digunakan pada saat uji adalah Anopheles maculatus yang dibiakkan dan dipelihara di laboratorium. Kelambu berinsektisida dikelompokkan berdasarkan lama pemakaian (2-3 tahun dan lebih dari 3 tahun) dan frekuensi pencucian (belum  dicuci, 1 kali, 2 kali, dan 3 kali).Hasilpengujian menunjukkan bahwa semua kelambu yang diuji memiliki angka knockdown nyamuk kurang dari 95% dan angka kematian nyamuk kurang dari 80%. Angka ini menunjukkan bahwa semua kelambu berinsektisida yang diuji sudah tidak efektif lagi dalam membunuh nyamuk. Kata Kunci: kelambu, insektisida, LLINs, bioassay, An. maculatu

    Penggunaan Insektisida Rumah Tangga dalam Pengendalian Populasi Aedes aegypti di Daerah Endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta Timur

    No full text
    Abstract. High incidence of dengue fever in East Jakarta makes the government and the community to do a variety of control measures. The use of household insecticides became the most widely used by the people in efforts to control the population of Aedes spp. The purpose of this study was to determine the description of the use of household insecticides in dengue endemic area in East Jakarta. Data were collected during May 2015 with research sites in the region Puskesmas Matraman, Jatinegara and Duren Sawit. In each of the health center, the area was taken with the highest endemicity last three years. Interviews and observations conducted in 100 houses selected randomly in each area (total 300 houses). Interviews about the household use of insecticides to adult respondents surveyed who lived that house. Interview data were analyzed descriptively to describe the use of insecticides, the type of formulation, the active ingredient types, frequency and time of use. Based on the interview as much as 227 (75.67%) of respondents said using household insecticides over the last three years, while 73 (24.33%) of respondents claimed not to use it. Most people choose to use the type of lotion and aerosol formulations.  The active ingredients, which are predominant circulating, are DEET, praletrin, d-aletrin and the d-fenotrin. The frequency of household insecticide use by communities in the study area ranged from <1-14 per week, as well as the use of the majority of the time is used at night. Keywords: household insecticides, East Jakarta, endemic dengue Abstrak. Tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Jakarta Timur mendorong pemerintah dan masyarakat melakukan berbagai upaya pengendalian.  Penggunaan insektisida rumah tangga menjadi cara yang paling banyak digunakan masyarakat dalam upaya  pengendalian populasi Aedes spp. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran penggunaan insektisida rumah tangga di daerah endemis DBD di Jakarta Timur. Penelitian dengan desain cross sectional ini dilakukan di wilayah Kotamadya Jakarta Timur yaitu di wilayah Puskesmas Matraman, Puskesmas Jatinegara dan Puskesmas Duren Sawit. Pada masing-masing Puskesmas diambil satu RW dengan endemisitas tertinggi tiga tahun terakhir. Pengambilan data berupa wawancara dan pengamatan yang dilakukan selama bulan Mei 2015 pada 100 rumah yang dipilih secara acak pada masing-masing RW.  Wawancara tentang penggunaan insektisida rumah tangga dilakukan terhadap kepala rumah tangga atau yang mewakili yang mendiami rumah yang disurvei. Data hasil wawancara dianalisa secara deskriptif untuk menggambarkan penggunaan insektisida, jenis formulasi, jenis bahan aktif, frekuensi dan waktu penggunaan.  Berdasarkan hasil wawancara sebanyak 227 (75,67%) responden menyatakan menggunakan insektisida rumah tangga selama tiga tahun terakhir sedangkan 73 (24,33%) responden mengaku tidak menggunakannya. Sebagian besar masyarakat memilih menggunakan jenis formulasi lotion dan aerosol dengan bahan aktif yang paling dominan digunakan adalah DEET, Praletrin, D-aletrin dan D-fenotrin.  Frekuensi penggunaan insektisida rumah tangga oleh masyarakat di wilayah penelitian berkisar antara <1-14 kali  per minggu, serta waktu penggunaan mayoritas dipakai pada malam hari. Kata Kunci: insektisida rumah tangga, Jakarta Timur, endemis DBD

    Keanekaragaman spesies nyamuk dan indikator Entomologi di beberapa desa Pulau Sumba tahun 2014

    No full text
    Penyakit arbovirus (demam berdarah, chikungunya, demam kuning, encephalitis), serta penyakit-penyakit nematoda (filariasis), riketsia, dan protozoa (malaria) ditularkan oleh nyamuk. Jenis nyamuk sebagai vektor adalah Aedes spp, Culex spp, Mansonia spp, Anopheles spp. Spesies dari setiap genus nyamuk yang berperan terhadap kesehatan, hidup dengan jumlah yang fluktuatif. Metode survei adalah spot survei. Penangkapan nyamuk dengan metode resting pada kandang hewan dan light trap selama 5 bulan. Jumlah spesies nyamuk yang ditemukan sebanyak 18 spesies dari 4 genus yaitu Anopheles spp, Culex spp, Armigeres spp dan Aedes spp. Spesies yang ditemukan paling dominan adalah vagus dengan angka dominasi spesies pada metode resting kandang sebesar 0,22 dan ligt trap sebesar 1,9. Kepadatan dan keragaman spesies nyamuk berfluktuasi setiap bulan dan lokasi kegiatan. Nyamuk tidak ditemukan di 2 desa pada bulanAgustus tahun 2014. Kandang ternak merupakan tempat mencari darah bagi semua spesies nyamuk sehingga ternak (kerbau) dapat dijadikan alternatif dalam upaya pengendalian penyakit tular nyamuk

    Aktivitas menggigit Mansonia uniformis (Diptera: Culicidae) di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi

    No full text
    Filariasis merupakan satu di antara penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi termasuk daerah endemik filariasis, karena angka Mf rate mencapai 1.5% pada tahun 2011. Ma. uniformis berperan sebagai vektor filariasis di Jambi. Dalam pengendalian vektor harus mempertimbangkan perilaku vektor sehingga kegiatan pengendalian vektor bisa efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas menggigit nyamuk Ma. uniformiskarena aspek entomologi sangat penting dalam mengendalikan penyakit tular vektor, termasuk filariasis. Pengamatan nyamuk dilakukan pada nyamuk dewasa di waktu malam dengan metode human landing collection. Jumlah nyamuk Ma. uniformis yang tertangkap sebanyak 131 ekor. Aktivitas menggigit nyamuk Ma .uniformis lebih banyak di luar rumah (54,2%) dibandingkan dengan di dalam rumah S(45,8%). Perilaku istirahat nyamuk Ma.uniformis juga lebih banyak di luar rumah (60,9%) dibandingkan dengan di dalam rumah (39,1%). Puncak kepadatan nyamuk Ma.uniformis tertangkap di dalam rumah terjadi padajam 02.00-03.00 WIB, dan di luar rumah terjadi pada jam 21.00-22.00 WIB

    Back Matter Jurnal Kespro Vol. 6 No. 1 Tahun 2015

    No full text

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇