e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
4975 research outputs found
Sort by
Pengukuran Komponen Zat Besi pada Laki-Laki Pendonor Darah Rutin di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2013
Iron deficiency is one of the most common nutritional disorder in the world and this can happen in the routine male blood donors. In people who donate blood on a regular basis are feared to iron deficiency without anemia. Thus a major concern of the donor screening for iron deficiency aiming for blood donors is to stay healthy and continue to donate blood. This study used a cross-sectional design in the male blood donors from Gunung Kidul who donate blood first, fifth and tenth times. Each donation made up of 25 people who were taken blood samples for serum iron (SI), total iron binding capacity (TIBC), transferrin saturation and serum ferritin examination. Results obtained in the first donation, the mean ferritin level was 91.78; the fifth donation increased ferritin levels in the amount of 111.49 and decreased again in the tenth donation donor group 65.28. Results of Kruskal Wallis test showed no significant difference between the mean ferritin levels in the first donation, the fifth and the tenth time (p=0.044). There is a decrease in body iron stores (serum ferritin) in the tenth donation while no changes for SI, TIBC and transferrin saturation. The more often one donate blood can cause first stage of iron deficiency which call as iron depletion. Therefore need to be considered dietary or nutritional status and also supplements provided after donor.Keywords : blood donor, iron status, Gunung KidulAbstrakDefisiensi besi adalah salah satu gangguan gizi yang paling umum dan bisa terjadi pada para pendonor darah laki-laki yang rutin. Pada pendonor darah yang sering mendonorkan darah, pada suatu waktu dikhawatirkan dapat terjadi defisiensi besi tanpa anemia. Tujuan dari penelitian adalah untuk mendapatkan hubungan kekerapan donasi dengan penurunan cadangan besi tubuh (feritin serum) dan saturasi besi. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada para pendonor darah laki-laki di Gunung Kidul yang menyumbangkan darahnya pertama, kelima dan kesepuluh kali. Jumlah donor dari kelompok donasi sebanyak 25 orang yang diambil sampel darahnya untuk dilakukan pemeriksaan serum iron (SI), total iron binding capacity (TIBC), saturasi transferin dan feritin serum. Didapatkan hasil pada kelompok pendonor pertama kali, rerata kadar feritin adalah 91,78; pada kelompok pendonor yang menyumbangkan darahnya kelima kali terjadi peningkatan kadar feritin yaitu sebesar 111,49 dan menurun lagi pada kelompok pendonor donasi yang menyumbangkan darahnya kesepuluh kali yakni 65,28. Hasil uji kruskal wallis menunjukkan ada perbedaan rerata yang bermakna antara kadar feritin dari donasi pertama, kelima dan kesepuluh kali (nilai p=0,044). Kadar SI, TIBC dan saturasi transferin tidak mengalami perubahan sedangkan cadangan besi tubuh (feritin serum) pada donasi kesepuluh mengalami penurunan. Semakin sering seseorang menyumbangkan darah dapat terjadi defisiensi besi tahap pertama yang disebut juga iron depletion.Kata kunci : donor darah, status zat besi, Gunung Kidu
Pelaksanaan Program Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Kabupaten Karawang
Abstract One of the Ministry of Health efforts to support the decrease of maternal and child deaths rates is optimizing the handling of Obstetrics and Neonatal Emergency /complications at the level of basic services through the Basic Emergency Obstetric Neonatal Care (BEONC). A study was done in Karawang in 2014 to obtain input dan output from the implementation of the BEONC program and it’s financing from secondary data and policy. There has been an increase of budget of the construction of health centers which were capable of being BEONC since 2011, but it was not sufficient for the completeness of infrastructure and trained personnel .The increasing number of health centers capable of being BEONC was accompanied by increased number of handling of pregnant women and postpartum mothers at health centers. However, there were some authorities that have not been executed as to comply with the BEONC guidelines.. Financing of health centers capable of being BEONC should be allocated to meet the needs of health centers’ infrastructures and skilled personnel, so that they can run the appropriate implementation of BEONC Guidelines. Keywords: BEONC, financing, health centerAbstrakSalah satu upaya Kementerian Kesehatan dalam mendukung percepatan penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Neonatal adalah melakukan optimalisasi penanganan Obstetri dan Neonatal emergensi/komplikasi di tingkat pelayanan dasar melalui Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Kajian ini dilakukan di Kabupaten Karawang pada tahun 2014 untuk memperoleh masukan dan luaran pelaksanaan program PONED dan pembiayaannya. Penelusuran dokumen dan observasi dilakukan di puskesmas PONED. Hasil kajian menunjukkan peningkatan biaya pembangunan puskesmas mampu PONED sejak tahun 2011 sampai 2013, namun tidak diimbangi dengan kelengkapan sarana prasarana dan tenaga terlatih. Peningkatan jumlah Puskesmas mampu PONED juga diiringi dengan meningkatnya penanganan ibu hamil dan ibu nifas di Puskesmas mampu PONED, namun masih ada beberapa kewenangan Puskesmas PONED yang belum dijalankan sesuai Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas Mampu PONED. Pembiayaan puskesmas mampu PONED seharusnya dialokasikan untuk memenuhi prasarana puskesmas mampu PONED dan kompetensi petugas PONED sehingga dapat menjalankan kewenangan sesuai Pedoman Penyelenggaraan Puskesmas Mampu PONED.Kata kunci :PONED, pembiayaan, puskesma
FAUNA ANOPHELES SP DI KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA
ABSTRACTMalaria is one infectious disease caused by plasmodium, which is transmitted from person to personthrough the bite of female Anopheles mosquitoes. Southwest Sumba including malaria-endemic areas withstrata High Case Incidence (HCI) with Annual Parasite Incidence (API) in 2009 at 24,89 °/00. Effort tocontrol malaria transmission has been done with the treatment of patients regardless of the aspect vector sothat the current has not shown significant results. Therefore entomology survey conducted to obtainpreliminary information about the fauna in the area of species Anopheles. The collection of landing datacollection method using bait people inside and outside the home and larval surveys in all potential breedingplaces. Fauna of the arrest and pre mature adult mosquitoes totaling nine species comprising An.barbirostris, An. maculatus, An. aconitus, An. annullaris, An. tesselatus, An. vagus. An. indefinitus, An.kochi and An. subpictus.Keywords: Fauna, Anopheles, potential breeding places, bite people inside and outside ABSTRAKMalaria adalah salah satu penyakit infeksiyang disebabkan oleh Plasmodium dan ditularkan antar manusia lewat gigitan nyamuk Anopheles betina.Sumba Barat Daya termasuk daerah endemikmalaria strata High Case Insidence (HCI) dengan nilai Annual Parasite Incidence (API) sebesar 24,89° / pada tahun2009. Usaha untuk mengontrol penularanmalaria dengan pengobatan terhadap penderita telah dilakukan. Namun, aspek vektornya belum mendapatkan perhatian, sehingga usaha mengontrol penularanmalaria tidak mendapatkan hasilyang signifikan. Oleh karena itu, diperlukansurvey entomologi untuk mendapatkandata awal tentangfauna Anopheles. Penangkapan nyamuk dewasa dilakukan dengan metode landing collection di dalam dandi luar rumah. Pengambilanlarva pra dewasa(larva) dilakukanpada semua perairanyang beradapada daerah penangkapan dengan pencidukan, dipelihara, dan setelah dewasa diidentifikasi.Fauna Anopheles yang dijumpaidi KabupatenSumba Barat Daya adalah An. barbirostris,An. maculatus, An. aconitus,An. anullaris,An. tesselatus,An. vagus,An. indefinitus dan An. KochiKata kunci: Fauna, Anopheles, tempat perkembangbiakan potensia
DAMPAK INTERVENSI GIZI PADA IBU HAMIL TERHADAP PERTUMBUHAN LINIER BATITA
Stunting (tubuh pendek) merupakan hambatan pertumbuhan yang diakibatkan oleh kekurangan asupan zat gizi dalam jangka panjang dan masalah kesehatan lainnya. Hasil riset kesehatan dasar menunjukkan prevalensi stunting di Indonesia sebesar 36,8 persen pada tahun 2007 dan 35,5 persen pada tahun 2010. Review ini mencakup studi dengan metode randomized controlled trial (RCT) untuk menilai dampak intervensi pada ibu hamil terhadap pertumbuhan panjang badan lahir sampai anak di bawah tiga tahun (batita) untuk mencegah terjadinya stunting. Pencarian elektronik melalui data base cohrane, medline, pubmed dan google search dan bibliografi dari artikel yang ditelusur. Pencarian dengan memasukkan kata pregnant, intervention, dan randomized (RCT). Ada 12 artikel yang memenuhi kriteria dari 500 artikel yang ditemukan. Artikel tersebut terdiri dari 4 jenis intervensi yaitu 2 intervensi zat gizi tunggal, 2 intervensi kombinasi zat gizi, 7 intervensi multi mikronutrien dan 1 intervensi edukasi gizi. Metode penilaian kualitas artikel menggunakan jadad score yang meliputi ada tidaknya penjelasan randomisasi, random alokasi, double blind, drop out, besar sampel. Pemberian zat gizi tunggal atau multi mikronutrien pada masa kehamilan tidak menunjukkan perbedaan terhadap pertumbuhan panjang badan bayi sampai usia batita. Namun suplementasi gizi sejak awal kehamilan memberi dampak lebih baik terhadap peningkatan panjang badan batita
Penentuan Status Kerentanan Nyamuk Anopheles barbirostris terhadap Insektisida Bendiocarb, Etofenprox, dan Lambdacyhalothrin di Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah
AbstrakAnopheles barbirostris merupakan salah satu nyamuk vektor malaria di Sulawesi Tengah. Pengendalian nyamuk tersebut salah satunya dilakukan dengan cara penyemprotan dengan bahan aktif Bendiocarb, Etofenprox, dan Lambdacyhalothrin. Pemantauan status kerentanan nyamuk terhadap insektisida yang umum digunakan di beberapa daerah di Sulawesi Tengah khususnya Kabupaten Tojo Una-una belum pernah dilakukan sehingga status kerentanannya belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui status kerentanan nyamuk vektor malaria terhadap penggunaan insektisida Bendiocarb, Etofenprox dan Lambdacyhalothrin di Kabupaten Tojo Una-una. Nyamuk yang digunakan adalah hasil kolonisasi F1 di lapangan yang kemudian diuji melalui metode standar WHO susceptibility test menggunakan kertas berinsektisida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyamuk Anopheles barbirostris di Tojo Una-una telah resisten terhadap insektisida Lambdacyhalothrin (0,05%) dan Etofenprox (0,5%), namun masih terpengaruh oleh Bendiocarb (0,1%). Sebagai solusi, perlu dilakukan penggantian insektisida yang telah resisten atau peningkatan dosis insektisida.Kata Kunci: Anopheles barbirostris, insektisida, kerentanan, Kabupaten Tojo Una-unaAbstractBarbirostris is one of the Anopheles mosquito vectors of malaria in Central Sulawesi. One of the malaria vector control is carried out by spraying with the active ingredient of Bendiocarb, Etofenprox and Lambdacyhalothrin. Monitoring the status of mosquito susceptibility to insecticide commonly used in some areas of Central Sulawesi in particular Tojo Una-una has never been done so that the status is unknown.The objective of this study was to determine the status of the malaria vector mosquito susceptibility toinsecticide Bendiocarb, Etofenprox and Lambdacyhalothrinin Tojo Una-una, Central Sulawesi. Mosquito used is the result of colonization F1 on the field which is then tested through standard WHO susceptibility test method using insecticide-treatedpaper. The results showed that mosquito Anopheles barbirostris in Tojo Una-una resistant to insecticide Lambdacyhalothrin and Etofenprox (0.05%) and (0.5%), but is still affected by Bendiocarb (0,1%). As a solution, it is necessary to replace resistant insecticides or increase the doses of insecticides.Keywords: Anopheles barbirostris, pesticides, susceptibility, Tojo Una-una Regenc
INFEKSI CACING Hymenolepis nana DAN Hymenolepis diminuta PADA TIKUS DAN CECURUT DI AREA PEMUKIMAN KABUPATEN BANYUMAS
The occurrence of zoonotic helminths in rats and shrews constitute serious public health risks as these animals commonly cohabit with humans, and are natural reservoirs of some helminth infections of public health importance. This study aimed to determine the prevalence of Hymenolepis diminuta and H. nana in rats and shrew and analyze the different presence of zoonotic helminth’s eggs based on species, sex and sexual maturity of rats and shrew in Banyumas District. Using cross-sectional design, this observational study was conducted on 5-14 May 2014. The trapped rats and shrews were screened for the two zoonotic helminths from the caecum of rats and shrews by the simple floatation technique. Collected data were analyzed descriptively. Results showed that out of 55 rats and shrew in Beji village 20.00 % were infected with H. diminuta and 9.09 % with H. nana, whereas out of 49 rats and shrew in Kedung Pring village 18.37 % were infected with H. nana and no H. dimunta infection were found. Infection of H. diminuta and H. nana in rats was considered to be of immense public health significance in human population who easily get infected as these animals commonly cohabit with humans
EKTOPARASIT TUNGAU TROMBIKULID DAN INANGNYA SERTA PELUANG PENULARAN SCRUB TYPHUS DI BEBERAPA DAERAH PULAU JAWA
Trombikulid mite studies was conducted in Java. The parasitic mite plays an important role in the transmission of the disease scrub typhus. The aim of this was to know the species of trombiculid mite and their host, as well as distribution in Java. The study was conducted in Banten, West Java, Central Java and East Java, in the year 1970 to 2011. Study Design is a descriptive study. Methods of study were conduct the rats, bats and birds survey, as well as the use of black plate to catch the mites that live freely. Trombikulid mites in some areas in Java includes 4 Tribus consists of 16 genera. The genus Tribus Whartoniini much as 1 consists of 3 spcies. Tribus Trombiculini as 6 genus includes 17 species. Tribus Schoengastini as much as 8 genus includes 15 species and Tribus Gahrliepiini 1 genus includes 12 species. In addition it is expected of the 45 species, 12 species are suspected new species. Host of trombikulid mite is Chiroptera, Aves, insectivores, rodents and Carnivora. Trombikulid mites that have vegetated habitat specific and limited distribution, then the probability of scrub typhus which is transmitted through a mite trombikulid in Java is not a problem for public health.
Optimasi Penambahan Colcemid pada Karyotyping Kultur Mecenchymal Stem Cells (MSC) Mencit
AbstractControl of the genetic stability of stem cells prior to the conduct of therapy is essential to prevent effects such as stem cell transformation. Karyotyping is a conventional technique to conduct an analysis of the number and structure of chromosomes. The analysis can only be performed on metaphase stage that needs to be optimized to get the cell at that stage because the length of the cell cycle are different in the each cell types. This study aims to obtain an optimal time to get MSC at metaphase stage. The study was conducted at the stem cell laboratory of Center for Biomedical and Basic Technology of Health. The event begins with isolation using flushing technique at the femur and tibia of mice. Furthermore, the culture in vitro and induction colcemid 0,25μg/ml for 8,16 and 24 hours to get the MSC at metaphase stage. KCl solution with a concentration of 0.075 M and 0,045 M used as a solvent hipotonis. Results showed that 16 hours of induction colcemid 0,25μg/ml in 0.075 M KCl solution usage percentage of MSC who are at metaphase stage and do the highest analysis (p<0.05). In this study 16 hours induction colcemid 0,25μg/ml is the optimal time to obtain metaphase stage of the MSC from bone marrow of mice.Keywords: mecenchymal stem cell, karyotyping, colcemidAbstrakKontrol terhadap stabilitas genetik pada sel punca sebelum pelaksanan terapi merupakan hal yang penting untuk mencegah efek seperti transformasi sel punca yang dapat terjadi. Secara konvensional dapat dilakukan karyotyping untuk melakukan analisis terhadap jumlah dan struktur kromosom. Analisis hanya dapat dilakukan pada tahap metafase sehingga perlu dilakukan optimasi untuk mendapatkan sel pada tahap tersebut mengingat panjang siklus sel setiap jenis sel berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh waktu yang optimal untuk mendapatkan MSC pada tahap metafase. Penelitian dilakukan di Laboratorium stem cell Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes. Kegiatan diawali dengan isolasi menggunakan teknik flushing pada tulang femur dan tibia mencit. Selanjutnya dilakukan kultur secara in vitro dan induksi colcemid 0,25μg/ ml selama 8,16 dan 24 jam untuk mendapatkan MSC pada tahap metafase. Larutan KCl dengan konsentrasi 0,075 M dan 0,045M digunakan sebagai larutan hipotonis. Hasil menunjukkan bahwa 16 jam induksi colcemid 0,25μg/ml pada penggunaan larutan KCl 0,075 M memiliki persentase MSC yang berada pada tahap metafase dan dapat dilakukan analisis tertinggi (p<0,05). Pada penelitian ini 16 jam induksi colcemid 0,25μg/ml merupakan waktu yang optimal untuk memperoleh tahap metafase pada MSC dari tulang sumsum mencit.Kata kunci : mecenchymal stem cell , karyotyping, colcemi
Pemeriksaan Karies Gigi pada Beberapa Kelompok Usia oleh Petugas dengan Latar Belakang Berbeda di Provinsi Kalimantan Barat
AbstractThe main indicators of dental caries measurement according to the WHO is DMF - T . This study aimed to compare the results of the DMF - T between the dentist and not a dentist . The study design was the mean difference test. The study was conducted in the province of West Kalimantan , and conducted in March to October 2010. The subject of the study of 90 people , each consisting of 30 men and women aged 18 year , 35-44 year and aged 60 year and older . DMF - T the age of 18 year were examined dentist is 4.11 , while the dentist was checked instead of 2.51. At the age of 35-44 year were examined by a dentist is 9.82 , while that examined not the dentist is 7.79 . For ages 60 year and older , who examined the dentist was 24.13 being the result of the examination was not a dentist 23.80 . Conclusion : The results of measurements not lower dentists ( significant difference ) of the measurement dentist at the age of respondents aged adults and the elderly. It is advisable to do a better perception and a more detailed inter- examiner , to obtain a better examination results and more acurate.Keywords: caries , DMF- T , teens, adults, elderlyAbstrakIndikator utama pengukuran karies gigi menurut WHO adalah DMF-T. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil pemeriksaan DMF-T antara dokter gigi dan bukan dokter gigi. Desain penelitian adalah uji beda Mean. Penelitian dilakukan di Propinsi Kalimantan Barat, dan dilaksanakan pada bulan Maret hingga Oktober 2010. Subjek penelitian berjumlah 90 orang, terdiri dari masingmasing 30 orang laki-laki dan perempuan usia 18 tahun, 35-44 tahun dan 60 tahun keatas. DMF-T usia 18 tahun yang diperiksa dokter gigi adalah 4,11, sedang yang diperiksa bukan dokter gigi adalah 2,51. Pada usia 35-44 tahun yang diperiksa oleh dokter gigi memiliki tingkat keparahan cukup yaitu 9,82 , sedangkan yang diperiksa bukan dokter gigi yaitu 7,79. Untuk usia lansia yang diperiksa dokter gigi yaitu 24,13 demikian juga hasil pemeriksaan bukan dokter gigi 23,80. Kesimpulan: Hasil pengukuran bukan dokter gigi lebih rendah (berbeda bermakna) dari pada pengukuran dokter gigi pada responden usia dewasa maupun usia lansia. Semakin tinggi usia responden, semakin tinggi pula tingkat keparahan karies nya ( nilai DMF-T nya meningkat). Disarankan untuk melakukan penyamaan persepsi yang lebih baik dan lebih rinci antar pemeriksa, sehingga didapatkan hasil pemeriksaan yang lebih baik dan lebih akurat.Kata kunci: karies, DMF-T, usia remaja, usia dewasa dan usia lansi
Karakteristik Molekuler Segmen L Virus Seoul (SEOV) dari Rattus Norvegicus Asal Semarang, Jawa Tengah
Seoul virus (SEOV) is one of four hantaviruses causing haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). The virus was a negative single-strand RNA genome that consists of three segments, S, M, and L. The aim of study was to characterize L segment Seoul virus of R. norvegicus from Semarang and it can be used as biological material such as vaccine development or diagnostic material. The sample of study was RNA Seoul virus isolate of R. norvegicus lung tissue from Semarang. Amplification L segment was used by nested PCR. Data analysis used GenBank database and phylogenetic tree was constructed using Mega 6 software. The result showed the homology of isolate from Semarang and GenBank nucleotide level ranged from 93.1 to 97.1% and amino acid level ranged from 98,1 to 100%. Analysis of phylogenetic showed Seoul virus from Semarang closer to Seoul virus from France and Jakarta. The conclution of this research was the character of L segment Seoul virus from Semarang has more in common with the Seoul virus from French and JakartaKeywords : Seoul virus, L segment, SemarangAbstrakVirus Seoul adalah satu satu dari empat spesies Hantavirus penyebab Haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Virus Seoul merupakan virus RNA negatif rantai tunggal, terdiri dari tiga segmen gen yaitu S, M, dan L. Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi segmen L virus Seoul dari R. norvegicus asal Semarang. Diharapkan isolat virus yang telah terkarakterisasi dapat dijadikan sebagai bahan biologik, baik untuk pengembangan vaksin maupun untuk bahan diagnostik. Sampel penelitian yang digunakan adalah RNA virus Seoul yang diisolasi dari jaringan paru R. norvegicus asal Semarang. Amplifikasi segmen L virus Seoul dilakukan dengan nested-PCR. Analisis menggunakan data pembanding dari GenBank. Pohon filogenetik disusun menggunakan program Mega 6. Hasil penelitian menunjukkan homologi antara virus Seoul asal Semarang dengan sekuen asal GenBank ditingkat nukleotida berkisar antara 93.1 – 97.1% dan ditingkat asam amino 98,1 – 100%. Homologi tertinggi ditingkat nukleotida (97,1%) dengan sekuen virus Seoul asal Perancis. Hasil analisis filogenetik menunjukkan Virus Seoul asal Semarang lebih dekat dengan virus Seoul asal Perancis dan Jakarta. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa karakter segmen L virus Seoul asal Semarang mempunyai lebih banyak kesamaan dengan virus Seoul asal Perancis dan Jakarta.Kata kunci : Virus Seoul, Segmen L, Semaran