e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Karakteristik Pekerjaan pada Kasus Human Immunodeficiency Virus-1 dan Subtipenya di Tujuh Provinsi di Indonesia pada tahun 2011

    No full text
    Abstract HIV-1 sociodemographic factors and distribution are different among regions. Some jobs are at risk for contracting the disease. The purpose of the analysis is to look at the characteristics of the occupation in the case of HIV-1 in several provinces in Indonesia. Data were analyzed based on a survey of HIV-1 virus genotypes in 7 provinces in Indonesia in 2011. Respondents were selected purposively from cases of HIV / AIDS who visited the clinic Voluntary Care and Treatment (VCT) in seven provinces (North Sumatra, West Sumatra, Kepulauan Riau, South Sulawesi, North Sulawesi, Maluku and Papua). Data and specimen were collected by conducting laboratory examination and also interviews wearing a structured questionnaire. The highest proportion of cases of HIV-1 is the housewife/jobless (50.8%), and the highest is found in Papua province (92,9%). Private sector (13,3%) the highest is in North Sumatra (35,7%), Businessmen (16,9%) the highest is in Riau Island (32,9%), the Labor (11.4%) the highest is in North Sulawesi, Civil worker (3.9%) is the highest in North Sulawesi and Maluku(10%), and sexual workers (3.7%) is the highest in Riau Islands (11,4%). Meanwhile proportion of HIV-1 subtype CRF01-AE cases higher in the male,, in age group 15-30 years, in bachelor education level and in private sector. The housewife and jobless included in this group is a very vulnerable to contracting HIV-1, and it should receive attention in improving knowledge about the disease, gender equality in disease control. Key words: HIV-1, Occupations, Indonesia Abstrak Faktor sosiodemografi HIV-1 dan distribusinya  berbeda antar daerah. Beberapa pekerjaan mempunyai risiko untuk tertular penyakit ini. Tujuan analisis ialah untuk melihat karakteristik pekerjaan pada kasus HIV-1 dan subtipenya pada beberapa provinsi di Indonesia. Data yang dianalisis berasal dari survei genotipe virus HIV-1 di 7 Provinsi di Indonesia tahun 2011. Responden dipilih secara purposif dari kasus HIV/AIDS yang mengunjungi klinik Perawatan Sukarela dan Pengobatan (VCT) di tujuh provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara,Maluku, dan Papua). Data dan spesimen dikumpulkan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium serta wawancara memakai kuesioner terstruktur. Proporsi terbanyak kasus HIV-1 adalah kelompok ibu rumah tangga/tidak mempunyai pekerjaan (50,8%), dan jika dilihat per propinsi ditemukan tertinggi di Papua (92,9%).  Wiraswasta (13,3%) tertinggi Sumatera Utara (35,7%), swasta (16,9%) tertinggi di Kepulauan Riau (32,9%),  buruh (11,4%)  tertinggi di Sulawesi Utara (18,6%), pegawai negri sipil (3,9%) tertinggi di Sulawesi Utara dan Maluku (10%), dan wanita penjaja seks (3,7%) tertinggi di Kepulauan Riau (11,4%). Sementara proporsi kasus HIV-1 subtipe CRF01-AE lebih banyak pada kelompok laki-laki, umur 15-30 tahun, berpendidikan akademi dan pekerjaan wiraswasta. Kelompok ibu rumah tangga dan tidak bekerja termasuk kedalam kelompok ini merupakan kelompok yang sangat rentan tertular penyakit HIV-1, perlu mendapat perhatian peningkatan pengetahuan tentang penyakit dan kesetaraan gender dalam pengendalian penyakit. Kata kunci: HIV-1, Pekerjaan, Indonesi

    PATHOGENIC LEPTOSPIRA CONTAMINATION IN HOUSEHOLD WATER IN SETTLEMENT AREA OF DEMAK REGENCY

    No full text
    Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis penting di dunia termasuk Indonesia. Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui kontak dengan air yang terkontaminasi bakteri Leptospira patogen. Tujuan penelitian ini untuk mendeteksi Leptospira patogen pada air konsumsi di pemukiman Kabupaten Demak. Penelitian observasional ini dilaksanakan pada bulan Juli 2014. Sebanyak 15 sampel air konsumsi dikumpulkan dari area pemukiman di sekitar kasus leptospirosis terbaru di Kabupaten Demak. Sampel diperiksa menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi kontaminasi Leptospira patogenik dengan gen target LipL32. Lima sampel (46,7%) menunjukkan kontaminasi positif dari spesies patogenik dari Leptospira berdasarkan PCR. Leptospira patogenik dapat dideteksi dalam lingkungan Demak dan ini berpotensi menyebabkan terjadinya penularan leptospirosis. Kata kunci: Leptospira, air konsumsi, Dema

    Pengetahuan Tokoh Masyarakat dan Kader Kesehatan Tentang Program Eliminasi Filariasis Limfatik di Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi

    No full text
    Abstract. Lymphatic filariasis (LF) is a disease caused by filarial worms that until recently was remains a health problem in Indonesia. Jambi province is one of endemic areas for Lymphatic filariasis that some of its regency already implemented mass drug administration (MDA) program. One of regency which has already implemented mass drug administration is Batanghari Regency with 66 chronic cases. Mass drug administration has been started in Batanghari Regency since 2009 and the implementation unit is subdistrict of Pemayung. MDA coverage in the first year is 74,2 percent. The purpose of this research was to determine knowledge of cadres involved in MDA and community leader related to elimination program of Lymphatic filariasis in Pemayung Subdistrict of Batanghari Regency. The results show cadres have good knowledge in regard to the symptoms, impact of disease and prevention aspects. Cadres also support the program of mass drug administration. Knowledge of community leaders show poor on LF disease symptom, but they have good knowledge about the impact of the disease. They also agree and support the implementation of mass drug administration. Cadres and community leaders have experience that the community fear to drink medicines due to side effects of drugs. Conclusion of the research was cadres and community leader has good knowledge regard to the Lymphatic filariasis elimination program.Keywords: community figures, cadre, knowledge, lymphatic filariasis, Pemayung SubdistrictAbstrak. Filariasis limfatik atau penyakit kaki gajah merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria yang sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah endemis filariasis yang sudah menjalani pemberian obat pencegahan massal (POPM). Salah satu kabupaten yang telah melaksanakan POPM adalah Kabupaten Batanghari dengan 66 orang penderita kasus kronis. Pemberian obat massal pencegahan filariasis di Kabupaten Batanghari mulai dilaksanakan pada tahun 2009 dengan Unit Implementasi (UI) tingkat kecamatan tepatnya di Kecamatan Pemayung. Cakupan POPM filariasis pada tahun pertama di kecamatan ini sebesar 74,2%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan masyarakat yang meliputi tokoh masyarakat dan kader kesehatan terhadap eliminasi filariasis di Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari. Penelitian dilakukan selama tujuh bulan pada tahun 2011. Desain penelitian ini adalah rancangan potong lintang dengan pendekatan kualitatif, cara pengumpulan data dengan diskusi kelompok terarah. Informan penelitian terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok kader kesehatan yang terlibat dalam POPM filariasis dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan kader sudah mempunyai pengetahuan yang cukup baik mengenai gejala-gejala filariasis, akibat yang ditimbulkan dan aspek pencegahannya. Kader juga mendukung kegiatan POPM filariasis. Pengetahuan tokoh masyarakat mengenai gejala filariasis kurang baik, namun pengetahuan mengenai akibat dari filariasis cukup baik. Mereka juga setuju dengan dilaksanakannya kegiatan POPM filariasis. Kader dan tokoh masyarakat mempunyai pengalaman bahwa masyarakat takut meminum obat dikarenakan efek samping yang ditimbulkan. Kesimpulan penelitian ini bahwa kader dan tokoh masyarakat mempunyai pengetahuan yang baik mengenai eliminasi filariasis.Kata Kunci: tokoh masyarakat, kader, pengetahuan, filariasis limfatik, Kecamatan Pemayun

    Efikasi Ekstrak Daun dan Bunga Kecombrang (Etlingera elatior) terhadap Larva Aedes aegypti

    No full text
    Abstract. Three widely known dengue vector control programs in Indonesia are chemical, biological, and environmental modification control where chemical control with organophosphate insecticide (malathion and temephos) is the most common. The long term use of chemical insecticide will result in the vector beingtolerant and eventually resistant to insecticide. One of the alternative solutions is to use biological larvacide from the plant. The objective of this study was to determine the lethal concentration of the extract of Kecombrang (Etlingera elatior) leaves and flowers against Aedes aegypti larvae. This was an experimentalstudy where the sample size was determined by using the Federer formula. The study used six different concentrations and four repetitions. Two controls group, Bacillus thuringiensis and water used as positive and negative control. The results showed that the LC50 and LC90 of Kecombrang leave extract were 1.20% and 2.05% respectively whereas for Kecombrang flowers extract were 0,05% and 0.09% respectively. Extract of Kecombrang leaves and flowers is effective to kill Ae. aegypti larvae where the flowers extract is more effective than the leaves extract in killing Ae. aegypti larvae.Keywords: dengue, Ae. aegypti, larvae, Etlingera elatiorAbstrak. Pengendalian vektor penular demam berdarah dengue (DBD) yang selama ini dikenal yaitu pengendalian secara kimia, biologi dan modifikasi lingkungan. Pengendalian vektor DBD di Indonesia masih banyak dilakukan dengan menggunakan insektisida dari golongan organofosfat (malation dan temefos). Penggunaan insektisida kimia dalam jangka waktu lama akan memberi efek menekan dan menyeleksi serangga vektor sasaran untuk menjadi toleran sampai resisten. Salah satu solusi alternatif yaitu menggunakan larvasida yang berasal dari tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daya bunuh ekstrak daun dan bunga kecombrang (Etlingera elatior) terhadap larva nyamuk Ae. aegypti. Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimental murni, besar sampel ditentukan berdasarkan rumus federer sehingga diperoleh 6 konsentrasi perlakuan dan 4 pengulangan. Terdapat 2 kelompok kontrolyaitu kontrol positif dan kontrol negatif dimana kontrol positif menggunakan Bacillus thuringiensis dan kontrol negatif menggunakan air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada uji akhir untuk ekstrak daun kecombrang diperoleh nilai LC50 sebesar 1,204% dan LC90 sebesar 2,053%, sedangkan untuk ekstrak bunga kecombrang LC50 sebesar 0,053% dan LC90 sebesar 0,095%. Ekstrak daun dan bunga kecombrangefektif dalam membunuh larva Ae.aegypti. Daya bunuh ekstrak bunga kecombrang lebih efektif dibandingkan ekstrak daun kecombrang.Kata Kunci: demam berdarah dengue, Ae. aegypti, larva, Etlingera elatio

    Determinan Kejadian Malaria di Wilayah Sulawesi

    No full text
    Abstract. Indonesia is one of the countries in the world with high risk of malaria. Out of 496 districts in Indonesia, 396 districts is a malaria endemic area. 45% of the populations live in malaria endemic areas, such as the region of Sulawesi. This study aimed to determine the determinant for incidence of malaria in Sulawesi. Riskesdas data that have been implemented by the Agency for Health Research and Development in 2013 used in further analysis. The variables analyzed are characteristics, housing conditions, and the environment associated with the incidence of malaria. Data were analyzed by logistic regression. The results showed that there was a significant relationship between malaria by gender, education, occupation, home status, number of household members, window of the bedroom, the cleanliness of the dining room, ventilation of the living room, the type of floor in the house, house walls, ceilings, lighting source and taking preventive medication. The variables that most influence on the incidence of malaria in the region of Sulawesi is a type of home lighting. Integrated planning activities with relevant sectors, education about healthy homes and the restoration of housing through increased participation of the people needs to be done. Keywords: malaria, risk factors, sulawesi Abstrak.Salah satu negara yang paling berisiko terhadap malaria adalah Indonesia. Diketahui dari 496 kabupaten di Indonesia 396 kabupaten merupakan daerah endemis malaria atau 45% penduduknya tinggal didaerah endemis malaria, salah satunya adalah  wilayah Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian malaria di wilayah Sulawesi. Data Riskesdas yang telah dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan pada tahun 2013 digunakan dalam analisis lanjut. Variabel yang dianalisis yaitu karakteristik, kondisi pemukiman, dan lingkungan kaitannya dengan kejadian malaria. Data dianalisis dengan logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara  malaria dengan jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status rumah, jumlah anggota rumah tangga, jendela ruang tidur, kebersihan ruang makan, ventilasi ruang keluarga, jenis lantai rumah, dinding rumah, plafon, sumber penerangan dan minum obat pencegahan. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian malaria di wilayah sulawesi yaitu jenis penerangan rumah. Kegiatan perencanaan terpadu dengan sektorterkait, penyuluhan tentang rumah sehat dan pemugaran perumahan yang kurang layak melalui peningkatanpartisipasi dari masyarakat sendiri perlu dilakukan. Kata Kunci: malaria, faktor risiko, sulawes

    Survei cepat terhadap tikus dan keong perantara Schistosomiasis di daerah endemis, Dataran Tinggi Bada Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah

    No full text
    Schistosomiasis merupakan penyakit terabaikan (neglected disease) yang ditemukan endemis di Sulawesi Tengah, yaitu di Dataran Tinggi Lindu, Napu dan Bada. Dataran tinggi Bada merupakan daerah endemis schistosomiasis yang baru ditemukan pada tahun 2008. Survei cepat ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai infection rate schistosomiasis pada keong Oncomelania hupensis lindoensis dan tikus, serta identifikasi tikus sebagai mamalia hospes definitif selain manusia di Bada. Survei dilakukan pada bulan Januari 2015. Pemeriksaan serkaria keong dilakukan dengan metode crushing. Tikus yangdiperoleh diidentifikasi kemudian dibedah untuk memperoleh cacing chistosoma japonicum dan penentuan infection rate pada tikus. Ditemukan tiga keong positif serkaria S.japonicum (infection rate 15%) dari 20 keong yang diperiksa. Diperoleh tiga ekor tikus positif cacing S.japonicum dari 20 perangkap yang dipasang (infection rate 100%). Jenis tikus yang diperoleh adalah Rattus norvegicus, R.argentiventer dan Paruromys dominator. Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat infeksi schistosomiasis pada binatang cukup tinggi, sehingga menyebabkan siklus silvatik terus berlangsung

    Streptomycetes Penghasil Antibiotik yang Berasosiasi dengan rhizosfer beberapa Spesies Mangrove

    No full text
    Kasus resistensi antibiotik semakin meningkat sehingga eksplorasi sumber-sumber baru antibiotik.Penelitian mengenai Streptomycetes penghasil antibiotik yang berasosiasi dengan rhizosfer beberapaspesies mangrove telah dilakukan. Pengambilan sampel dilakukan di hutan mangrove Karimun Jawadan Teluk Awur Jepara. Selanjutnya dilakukan isolasi, karakterisasi dan identifikasi isolat yangtermasuk dalam anggota genus Streptomyces. Isolasi selektif Streptomycetes dilakukan dengan mediaStarch Casein Agar (SCA) dan Raffinosa Histidin Agar (RHA). Koloni Streptomycetes yang tumbuhdiidentifikasi berdasarkan pengenalan karakteristik koloni dan diklasifikasikan dengan metode colorgrouping menggunakan media oatmeal agar. Purifikasi koloni dilakukan dengan Yeast Papton Agardan Beanett Agar. Potensi Streptomycetes dalam menghasilkan antibiotik ditentukan denganmelakukan uji penghambatan dengan bakteri uji Eschericia coli ATCC 35218 dan Staphyilococcusaureus ATCC 25923. Jenis antibiotik diidentifikasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)).Keanekaragaman isolat yang mampu menghasilkan antibiotik ditentukan dengan pengamatanornamentasi permukaan rantai spora dengan Scaning Electron Microscope (SEM) dan pengamatanmorfologi rantai spora dengan metode inclined cover slip. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 123isolat Streptomycetes terkelompok menjadi 3 grup yaitu Group A sebanyak 100, grup B sebanyak 21dan grup C sebanyak 2 isolat. Hasil screening isolat uji penghambatan dengan bakteri uji didapatkan16 isolat yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri uji. Pengamatan rantai sporaterhadap isolat yang berpotensi menghasilkan antibiotik menunjukkan ada 3 tipe morfologi rantaispora yaitu flexus, folded dan curly dan 3 ornamentasi permukaan yaitu spiny, velvety dan flat. Seleksistrain penghasil antibiotik menunjukkan terdapat 12 strain yang berpotensi menghasilkan antibiotik.Kelompok antibiotik yang dihasilkan diduga jenis Erytromycin, Tetracyclin, Rimfampicyn, Polymyxindan Chloramphenicol. Dapat disimpulkan bahwa Streptomycetes yang berpotensi menghasilkanantibiotik dapat diisolasi dari rhizosfer dan non rhizosfer tanaman mangrove.Kata kunci : Streptomycetes, antibiotik, mangrov

    Pengaruh Suplementasi Ganda Iodium dan Zat Besi (Fe) terhadap Kadar Tsh, Ft4, T3 dan Ferritin Anak Sekolah Dasar

    No full text
    PENGARUH SUPLEMENTASI GANDA IODIUM DAN ZAT BESI (Fe) TERHADAP KADAR TSH, fT4, T3 DAN FERRITIN ANAK SEKOLAH DASAR   Effect of Iodine and Iron (Fe) Dual Supplementation on The Levels of TSH, fT4, T3 and Ferritin in Primary School Children ABSTRACT Background. Intercorrelations between iodine and iron (Fe) on the function of the thyroid gland and the status of iron (Fe) affects the effectiveness of Iodine deficiency disorders (IDD) prevention and anemia programs. Communities group prone to nutritional problems are school age children who are in growth period. Objective. This study aims to compare the effect of iodine iron (I+Fe) double supplementation with single supplementation of iodine (I) and single supplementation of iron (Fe) on the function of the thyroid gland and the status of iron (Fe). Method. The study was a randomized double-blind controlled trial. Provision of interventions done by randomization with block permutations dividing study subjects into four groups: Iodine+iron (I+Fe) dual supplement group, iodine (I) only supplement group, iron (Fe) only suplement group and placebo group. Subjects were primary school children aged 9-12 years. Interventions conducted for 13 weeks and thyroid function measured by serum levels of TSH, fT4 and T3, while the iron status based on ferritin levels. Results. Supplementation of Iodine and Iron can increase ferritin and T3 levels, while supplementation of I+FeI, I or Fe can increase levels of fT4 although it is not statistically significant. Ancova showed there is a mechanism of mutual influence between ferritin, fT4 and T3. Conclusion. There is no differences between dual supplementation of iodine and iron with single supplementation of iodine or iron in alteration of ferritin, TSH, fT4, and T3 serum. Keywords: iodine, iron, supplementation.   ABSTRAK Latar belakang. Interkorelasi antara iodium dan zat besi (Fe) terhadap fungsi kelenjar tiroid dan status zat besi (Fe) mempengaruhi efektifitas program penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dan anemia. Kelompok masyarakat yang rawan terhadap kedua masalah gizi tersebut adalah anak usia sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan. Tujuan. Analisis ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh suplementasi ganda iodium zat besi (Fe) dengan suplementasi tunggal iodium dan suplementasi tunggal zat besi (Fe) terhadap fungsi kelenjar tiroid dan status zat besi (Fe). Metode. Desain penelitian adalah randomized double blind contolled trial. Pemberian intervensi dilakukan dengan cara randomisasi dengan blok permutasi yang membagi partisipan penelitian ke dalam 4 kelompok yaitu kelompok suplementasi ganda iodium+zat besi (I+Fe), kelompok suplementasi tunggal iodium (I), kelompok suplementasi tunggal zat besi (Fe) dan kelompok placebo. Partisipan penelitian adalah anak sekolah dasar umur 9 – 12 tahun. Intervensi dilakukan selama 13 minggu dan fungsi tiroid diukur berdasarkan kadar TSH, fT4 dan T3 serum, sedangkan status besi berdasarkan kadar feritin serum. Hasil. Pemberian suplementasi Iodium dan Fe (I+Fe) dapat meningkatkan kadar feritin dan T3. Pemberian suplementasi Fe+I, I atau Fe dapat meningkatkan kadar fT4 walaupun secara statistik tidak bermakna. Uji ancova menunjukkan adamekanisme saling mempengaruhi antara feritin, fT4 dan T3. Kesimpulan. Tidak ada perbedaan nyata antara suplementasi ganda iodium zat besi (Fe) dengan suplementasi tunggal iodium atau zat besi (Fe) terhadap perubahan ferritin, TSH, fT4, dan T3 serum. Kata kunci: iodium, zat besi, suplementasi

    Hubungan Defisiensi Selenium dengan Thyroid Stimulating Hormone (TSH), Triiodothyronin (T3), dan Free Thyroxine (Ft4) pada Anak Sekolah Dasar di Daerah Endemik GAKI

    No full text
    HUBUNGAN DEFISIENSI SELENIUM DENGAN THYROID STIMULATING HORMONE (TSH), TRIIODOTHYRONIN (T3), DAN FREE THYROXINE (fT4) PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH ENDEMIK GAKI   Selenium Deficiencies Association with Thyroid Stimulating Hormone (TSH), Triiodothyronin (T3) and Free Thyroxine (fT4) Levels in Endemic IDD Areas Primary School Children ABSTRACT Background. Iodine and selenium are essential micronutrients in the formation of thyroid hormones. Selenium plays a role in the conversion of T4 to T3, that its deficiency can affect thyroid hormone metabolism and exacerbate iodine deficiency.This study aimed to determine the relationship between selenium status and thyroid hormone status of primary school children in the endemic iodine deficiency areas. Methods. This is a cross sectional design study conducted in Candiroto, Temanggung district. The subjects were 70 students of the fourth, fifth and sixth grade of three elementary schools which were randomly selected.The selenium concentration in the serum were determined using atomic absorption spectrophotometry while the TSH, fT4 and T3 were measured using enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) method. The data were analysed using spearman correlation and linear regression. Result. It was found that selenium status on all subjects were below standard, with a median of 21.2 (13.7 to 30.1) ug/L.Thyroid status were in the normal range, with the fT4 median and TSH mean of 8.5 (4.5 to 15.3) mg/L and 3.6 (± 2.0) mIU/L respectively. T3 levels were in the category below normal on 92.9 percent subjects with median of 0.7 (0.4 to 1.9) nmol/L. Almost 90 percent of the subjects consumed substandard iodized salt (> 30 ppm). There is significant correlation between selenium levels with TSH levels (r = 0.384; p = 0.001), however there are no significant correlation between selenium with fT4 and T3. Increased in TSH levels can predict increase in selenium levels after considering other variables (R2= 0,133). Conclusion. In this study, selenium deficiency is positively associated with TSH, but not significantly associated with fT4 and T3. Keywords: free T4, IDD, selenium, schoolchildren, T3.   ABSTRAK Latar Belakang. Iodium dan selenium merupakan mikronutrien yang penting dalam pembentukan hormon tiroid. Selenium berperan dalam konversi T4 ke T3, sehingga defisiensi selenium dapat mempengaruhi metabolisme hormon tiroid dan memperberat GAKI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status selenium dan status hormon tiroid anak sekolah dasar di daerah endemik GAKI. Metode. Desain penelitian menggunakan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian di Kecamatan Candiroto salah satu daerah endemik berat GAKI di Kabupaten Temanggung. Sebanyak 70 sampel serum darah diambil dari siswa kelas 4, 5, dan 6 pada 3 sekolah dasar yang dipilih secara acak. Kadar Selenium diukur dengan menggunakan metode atomic absorption spectrophotometry sedangkan kadar TSH, fT4, dan T3 diukur dengan menggunakan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Analisis data menggunakan uji korelasi spearman dan regresi linier. Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruhsubyek (100%) memiliki status selenium di bawah normal, dengan median 21.2 (13.7 – 30.1) μg/L. Status tiroid dalam kisaran normal, dengan median fT4 dan rerata TSH 8.5 (4.5-15.3) μg/L dan 3.6 (+ 2.0) mIU/L berturut turut, sedangkan 92.9 percent kadar T3 subyek dalam kategori di bawah normal, dengan median 0.7 (0.4-1.9) nmol/L. Sebagian besar subyek (90 %) mengkonsumsi garam yang tidak memenuhi syarat (< 30 ppm). Terdapat korelasi positif yang bermakna secara statistik antara kadar selenium dengan kadar TSH (r = 0.384; p = 0.001). Tidak terdapat korelasi antara kadar selenium dengan kadar fT4 dan T3. Analisis regresi linier selenium dengan TSH setelah memperhitungkan variabel luar menghasilkan hubungan yang signifikan antara selenium dengan TSH (R2 = 0.133). Kesimpulan. Pada penelitian ini defisiensi selenium berhubungan positif dengan TSH, tetapi tidak berhubungan signifikan dengan fT4 dan T3. Kata kunci: fT4, GAKI, selenium, anak sekolah dasar, T3

    Uji Daya Bunuh Ekstrak Daun Nerium oleander L. T erhadap Larva Nyamuk Aedes aegyptidan Culex quinquefasciatus

    No full text
    The use of   synthetic  larvacide can be harmful to  enviroment. It  also can lead  to  larvacide resistance. One of the alternatives to reduce the negative impact of synthetic larvacide is organic  larvacide  from  plant,  such  as  Nerium  oleander  L.  The  aim  of  study  was  to determine  the  efficacy  of  N.oleander    leaves  extract  against  Aedes  aegypti  and  Culex quinquefasciatus  larvae  which was measured by LC50 and LC90 .  The third instar  larvae  of Ae. aegypti and Cx. quinquefasciatus were used for the study which were divided into 10 groups.  In  addition,  there  were  one  positive  control  group  with Bacillus  thuringiensis  and one negative control with water.  The results showed that the LC50 and LC90 for  Ae. aegypti were  and 2,67% respectively whereas the LC50 and LC90 for Cx. quinquefasciatus were 0,14%  and  0,71%  respectively .  Moreover,  there  was  a  mean  difference  in  the  death  of larvae  between    Ae.  aegypti  and  Cx.  quinquefasciatus  (p-value=0.006).  Extract  of   N.  oleander  leaves  were  more  effective  against  Cx.  quinquefasciatus  larvae  than  Ae.  aegypti  larvae. Penggunaan  larvasida  sintesis  sangat  merugikan  masyarakat  seperti  pencemaran lingkungan  dan  menyebabkan  resistensi.  Alternatif  untuk  mengurangi  dampak  negatif tersebut  adalah  dengan  menggunakan  larvasida  nabati  yang  berasal  dari  tanaman yaitu Nerium oleander L.Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan besarnya daya bunuh ekstrak  daun Nerium oleander yang  ditunjukkan dengan LC50 dan LC90. Larva nyamuk  yang  digunakan  adalah  larva  nyamuk  Aedes  aegypti  dan  Culex  quinquefasciatus yang  telah  mencapai  instar  III  yang  dibagi  menjadi  10  kelompok  perlakuan  dengan kontrol  positif  (Bacillus  thuringiensis)  dan  kontrol  negatif  (Air).  Hasil  penelitian menunjukkan bahwa  LC50 dan  LC90 untuk   Ae.  aegypti   masing-masing adalah  0,68%  dan 2,67%,  sedangkan  LC50 dan  LC90 untuk  Cx.  quinquefasciatus  masing-masing  adalah 0,14%  dan  0,71%,  dan  terdapat perbedaan  kematian  yang  bermakna  antara Ae. aegypti  dan Cx. quinquefasciatus  (p-value=0.006 ). Ekstrak daun N.  oleander  lebih efektif  terhadap  larva  nyamuk  Cx.  quinquefasciatus  dari  pada  Ae.  aegypti. 

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇