e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Kadar Debu Partikulat (PM2,5) dalam Rumah dan Kejadian ISPA pada Balita di Kelurahan Kayuringin Jaya, Kota Bekasi Tahun 2014

    No full text
    AbstrakInfeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah penyebab utama kematian balita di Indonesia danberkaitan erat dengan polusi udara. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran kadar debupartikulat (PM2,5) dan hubungannya dengan ISPA pada balita. Survei menggunakan kuesioner terstrukturdilakukan terhadap 106 balita di Kelurahan Kayuringin Bekasi pada bulan Maret hingga Oktober 2014.Data yang dikumpulkan berupa gejala ISPA, pengukuran antropometri, riwayat imunisasi balita, kondisirumah, dan hasil pengamatan terhadap kondisi jalan terdekat. Pengukuran kadar PM2,5 dilakukan diruang keluarga, kamar tidur balita menggunakan alat Haz-Dust EPAM 5000 selama 12 jam. Desainpenelitian adalah potong lintang dan dianalisis secara deskriptif maupun analitik. Hasil yang diperolehsebanyak 69,9% balita dengan gejala ISPA tinggal di rumah berventilasi kurang dan 74,2% balita tinggaldi rumah dengan dapur menyatu dengan ruangan lain. Kadar rata-rata PM2,5 dalam rumah 70 μg/m3.Ada perbedaan bermakna antara kadar rerata PM2,5 dalam rumah di wilayah yang ramai lalu lintasdengan wilayah yang tidak ramai (p=0,02). Kesimpulan yang didapat kadar rerata PM2,5 udara dalamrumah mencapai dua kali lipat dari baku mutu.Kata Kunci : PM2,5, infeksi saluran pernafasan akut, balitaAbstractAcute Respiratory Infection (ARI) is the leading cause of death for children under five years old inIndonesia and have been associated with air pollution. The objective of the study was to identify indoorfine particles (PM2,5) concentration and its relationship with ARI among children under five years. Aquestionnaire-based survey of 106 children was conducted in Kayuringin village, Bekasi city from Marchto October 2014. Data collected were ARI related symptoms, anthropometry, immunization, housing andtraffic density. Assessment of 12-hour PM2,5 level was done using Haz-Dust EPAM 5000 in living roomor children’s room. This research was a cross-sectional study using univariate and bivariate analysis.Most of children had ARI related symptoms during 3 months before study. Most of children with ARI(69,9%) lived in poor ventilated houses. More over, the houses had family room that fully integrated withthe kitchen (74,2%). The indoor average level of PM2,5 was 70 μg/m3 among 46 households. Statistically,there was a significant difference in PM2,5 average level indoor between houses in high and low trafficdensity area (p=0,02). The indoor average level of PM2,5 was two times higher than EPA’s standard level(35 μg/m3).Keywords: PM2,5, ARI, children under five years ol

    Epidemiologi Kasus Difteri di Kabupaten Lebak Provinsi Banten Tahun 2014

    No full text
    AbstrakInfeksi difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae dan hampir terdapat di seluruhdunia dalam bentuk wabah. Penyakit ini terutama menyerang anak umur 1-12 tahun, mudah menulardan menyebar melalui kontak langsung. Upaya pencegahan penyakit difteri dilakukan dengan caramelakukan program imunisasi. Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan cakupan imunisasi dasarlengkap untuk Provinsi Banten adalah 59,2%. Cakupan imunisasi yang rendah ini akan berdampakpada keadaan wabah, salah satunya difteri, seperti yang terjadi di Kampung Kumpay, Desa Maraya,Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak Provinsi Banten, dilaporkan adanya laporan kematian karenapenyakit difteri sejak April 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran epidemiologi danpenyebaran penyakit difteri yang menimbulkan wabah. Ada 23 sampel swab tenggorok yang dilakukanpemeriksaan laboratorium berupa kultur, mikroskopis dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Datapenyelidikan epidemiologi dilakukan dengan wawancara terhadap tersangka dan kontak serta orangtuanya. Hasil dari 23 sampel swab tenggorok menunjukkan satu kontak positif C.diphtheriae gravistoksigenik, sementara hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan ada 4 kasus dengan diagnosisklinis difteri, dua diantaranya meninggal. Data cakupan imunisasi di daerah tersebut memenuhi target,sementara tingkat pendidikan orang tua rendah yakni ayah 60,3% dan ibu 90%, sebanyak 48% anaktidak diimunisasi serta kepadatan hunian rumah yang tinggi yakni 58,7%. Kesimpulan menunjukkanadanya penyebaran penyakit difteri di Kampung Kumpay, Desa Maraya, Kecamatan Sajira, KabupatenLebak, Provinsi Banten.Kata Kunci: Corynebacterium diphtheriae, epidemiologi, imunisasi AbstractDiphtheria infections caused by the Corynebacterium diphtheriae and could be outbreak in all countries.Particulary, this disease attacks the children aged 1-12 years old, contagious and spreads through directcontact. The preventing of diphtheria has been done by immunization programs. Based on national healthresearch (Riskesdas) in 2013 Banten province showed the coverage of complete basic immunizationwas 59.2%. The coverage of low immunizations would cause an outbreak, one of them is a diphtheria,such as happened in Kumpay-Maraya village, sub-district Sajira, Lebak regency of Banten provincereported the deaths of children due to diphtheria since April 2014. This study aims to know and overviewof epidemiology and spread of diphtheria disease that caused an aoutbreak. There were 23 samples ofthroat swab tested in laboratory such as culture, microscopic and Polymerase Chain Reaction (PCR).Epidemiological data was conducted by interviewing of suspects, contacts and their parents. The resultsfrom the 23 samples showed a positive contact of C.diphtheriae type toxigenic gravis, while the resultsof epidemiological investigations showed there were 4 cases with a clinical diagnosis of diphtheria, twoof them died. The immunization coverage of this region meet the target, meanwhile the educational levelof parents respondents are relatively low which 60,3% for father and 90% for mother. There were 48%children were not immunized and 58,7% respondents living in high density of residents. The conclusionwas that there were spreading in Kumpay-Maraya village, Sajira sub-districts, Lebak regency of Bantenprovince.Keywords: Corynebacterium diphtheriae, epidemiology, immunizatio

    Hubungan Antara Intoleransi Glukosa dan Diabetes Melitus dengan Riwayat Tuberkulosis Paru Dewasa di Indonesia (Analisis Lanjut Riskesdas 2013)

    No full text
    AbstrakTuberkulosis (TB) paru dan diabetes melitus (DM) masih merupakan beban kesehatan di negaraberkembang dan miskin. Sejak abad ke-20, para klinisi telah mengamati adanya hubungan antaraDM dan TB, namun kekuatan hubungan antara DM dan TB di negara-negara berpenghasilan rendahmasih belum jelas. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi hubungan antara DM dan toleransi glukosa terganggu dengan riwayat tuberkulosis paru dewasa di Indonesia. Desain penelitian potong lintang dengan menggunakan data sekunder dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, Badan Litbangkes RI. Responden yang terdiagnosis DM tidak ada hubungannya dengan riwayat TB, namun jika terdiagnosis intoleransi glukosa berpeluang mengalami TB paru sebesar 42% atau odds 1,4 kali dibandingkan responden yang glukosa darahnya normal (p < 0,05; OR 1,36; 95 % CI 1,06-1,61). Sebagai upaya pencegahan meningkatnya prevalensi TB paru, perlu dilakukan uji saring TB pada orang dengan DM atau intoleransi glukosa, terutama yang tinggal di daerah yang memiliki prevalensi TB tinggi.Kata Kunci: tuberkulosis, diabetes melitus , intoleransi glukosaAbstractPulmonary tuberculosis (TB) and diabetes mellitus (DM) are still health burden diseases in the developing and poor countries. Since the 20th century, clinicians have observed an association between DM and TB, but the strength of the relationship between DM and TB in low-income countries are still unclear.The aim of this research is to identify the relationship between DM and impaired glucose tolerance with a history pulmonary tuberculosis grown in Indonesia. Design of the study was a cross sectional using secondary data from Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), National Institute of Health Research and Development 2013. The results showed that respondents were diagnosed with diabetes has nothing to do with the history of TB. However, if diagnosed glucose intolerance likely to undergo pulmonary tuberculosis by 42% or 1.4 times compares to the odds that respondents with normal blood glucose (OR 1,36; 95% CI 1,06-1,61 p<0,05). As an effort to prevent the increasing prevalence of pulmonary tuberculosis, need to be screened for TB in people with diabetes mellitus or glucose intolerance, particularly those living in areas of high TB prevalence.Keywords: tuberculosis, diabetes mellitus, glucose intoleranc

    Kontaminasi Telur Cacing Soil-transmitted Helmints (STH) pada Sayuran Kemangi Pedagang Ikan Bakar di Kota Palu Sulawesi Tengah

    No full text
    AbstrakInfeksi cacing usus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasukIndonesia. Masyarakat perdesaan atau daerah perkotaan yang sangat padat dan kumuh merupakansasaran yang mudah terkena infeksi cacing. Soil-transmitted Helminths (STH) adalah cacing golongan nematoda yang memerlukan tanah untuk perkembangan bentuk infektifnya. Di Indonesia, golongan cacing yang penting dan menyebabkan masalah kesehatan masyarakat adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang yaitu: Necator americanus, dan Ancylostoma duodenale. Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan keadaan sosial-ekonomi, kebersihan diri dan lingkungan. Di Kota Palu ditemukan tersebar luas pedagang ikan bakar yang menyajikan jenis sayuran mentah seperti kemangi sebagai lalapan bersama-sama dengan makanan yang kemungkinan terkontaminasi oleh cacing. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Penentuan sampel disesuaikan dengan jumlah pedagang ikan bakar yang tersebar di kota Palu, pengumpulan dan pemeriksaan sampel kemangi dengan metode pengendapan NaOH. Sebanyak 93 sampel daun kemangi yang tersebar di wilayah Palu Selatan, Palu Barat, Palu Timur, dan Palu Utara. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi telur cacing Soil-transmitted Helmints pada sebanyak 37 sampel (39,8%). Kontaminasi kemangi yang disajikan di atas meja sebanyak 22 sampel (44%), sedangkan kemangi yang masih stok adalah 15 sampel (34,8%). Kesimpulan dari penelitian ini bahwa daun kemangi yang disajikan sebagai lalapan oleh pedagang ikan bakar di Kota Palu, baik yang telah disajikan di atas meja maupun kemangi yang jadi stok terkontaminasi oleh telur cacing Soiltransmitted Helmints.Kata Kunci: pedagang ikan bakar, kemangi, Soil-transmitted Helmints, kontaminasiAbstractIntestinal worm infection is still a public health problem in developing countries, including Indonesia.People in rural or slump area are often easy to be infected. Soil-transmitted Helminths (STH) is anematode which need soil as the media for the development of infective form. In Indonesia STHsthat are important in public health are Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Necator americanusand Anchylostoma duodenale. Intestinal worm infection is closely related to socio-economy, personalhygiene, and environment. This was an observational study with cross-sectional design. The study was started by determining the number of grilled fish seller in Palu municipality. Collection and exmination of basil sample were done by using NaOH sedimentation method. 93 samples were collected from South Palu, West Palu, East Palu, and North Palu. The results showed that 37 samples were positive of STH (39.8%). The contamination of STH, eggs on basil collected from the table was 44% (22 samples positive) in addition, 15 samples (34.8%) from the basil stock were also found positive for STH.Keywords: grilled fish seller, basil, Soil-transmitted Helminths, contamination

    Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Orang Tua tentang Kesehatan Gigi dan Mulut pada Anak Usia Taman Kanak-kanak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Banten Tahun 2014

    No full text
    AbstrakPengetahuan dan pendidikan yang diberikan orang tua dan guru sangat membantu pembentukanperilaku anak. Perilaku orang tua (ibu) terhadap pemeliharaan kesehatan gigi anak sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anaknya. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku orang tua tentang kesehatan gigi dan mulut anak usia TK. Penelitian dilakukan secara potong lintang pada 564 orang anak Taman Kanak-kanak A di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Banten. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu dari responden mengetahui jenis makanan yang dapat memperkuat dan merusak gigi anak. Pengetahuan terendah tentang makanan berserat bisa memperkuat gigi terdapat di Kabupaten Sleman Provinsi DIY (71%). Pengetahuan Ibu tentang masalah gigi berlubang dan pengaruhnya terhadap selera makan dan tumbuh kembang anak, terendah terdapat di Kabupaten Serang, Provinsi Banten (51%). Sikap tentang perlunya memeriksa kesehatan gigi ke dokter gigi pada anak usia TK, sebagian besar ibu responden menyatakan perlunya memeriksakan kesehatan gigi bila sakit gigi dan perlu check-up rutin dua kali setahun. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap ibu terhadap kesehatan/perawatan gigi dan mulut anak cukup baik akan tetapi perilakunya yang belum sesuai dengan pengetahuan dan sikapnya, ini terlihat pada hanya 50% anak yang sakit gigi dibawa berobat ke pelayanan gigi dan mulut.Kata Kunci: pengetahuan, sikap, perilaku, kesehatan gigi, anak usia TKAbstractThe knowledge and education given by parents and teachers helps the formation of a child’s behavior.The behavior of the parents (mothers) to health care of children’s teeth are very influential on attitudesand behavior of their children. The aim of the study to determine the knowledge, attitudes, and behaviors of parents about oral health of kindergarden age children. A cross-sectional study was conducted on 564 children of a kindergarten in the Province of Special Region of Yogyakarta (Province of DIY) and the Province of Banten. The results showed that most mothers of respondents know the type of food that can amplify and damage the child’s teeth. Lowest knowledge about fiber foods which can strengthen teeth is in Sleman District of Yogyakarta, Province of DIY (71%). Mothers knowledge about the problem of tooth decay and its influence on appetite and development of the child is 51% in the district of Serang, Banten Province. Attitudes about the need to check the health of the tooth to the dentist at kindergarden age children, most mothers expressed the need for dental health check if toothache and need regular check-up twice a year. Conclusion of this study shows that the knowledge and attitudes of mothers towards medical/dental care and the child’s mouth quite well but their behavior is not in accordance with the knowledge and attitudes, is seen in only 50% of children who toothache brought treatment to dental services.Keywords: knowledge, attitudes, behaviors, dental health, kindergarden age childre

    POLA PEMERIKSAAN KEHAMILAN PADA WILAYAH KERJA PUSKESMAS PONED KABUPATEN KARAWANG

    No full text
    ABSTRACTKarawang district had maternal death cases increasing from 2010 to 2011 with total of 47 maternal deathsand 51 maternal deaths respectively. Bleeding, pre-eclampsia, infection, abortion and others are the maternal causes of death. Maternal mortality remains a strategic health care issue in Karawang districtbecause inaccurate data and information related with maternal health and also lack of antenatal care pattern in community health' centers. This study aimed to identify the antenatal care pattern in five communityhealth centers (CHC) with basic emergency obstetric neonatal services in Karawang district. This study used cross sectional design by using quantitative and qualitative approach. Fifty mother informants and sixmidwives in CHC and Karawang District Hospital were involved from April to October 2011. This studyfinds that the pattern of antenatal care visits increased for fourth trimester but first trimester was low, whilegeographical conditions as well as technical competence of midwives were lacking behind. Technicaltraining and counseling for the family became a priority recommendation from this study.The antenatalcare pattern in five community health centers with basic emergency obstetric neonatal services increasedfor fourth trimester with majority of delivery assisted by midwives.Keywords: Antenatal care, Basic Obstetric Neonatal Service, Karawang ABSTRAK Kabupaten Karawang masih memiliki jumlah kasus kematian ibu yang semakin meningkat dari tahun 2010hingga 2011. Kasus kematian ibu pada tahun 2010 sebanyak 47 orang dan pada tahun 2011 meningkathingga 51 orang. Kasus kematian ibu disebabkan oleh pendarahan, preeklamsia, infeksi, abortus dan lainlain.Kematian ibu tetap menjadi isu kesehatan strategis di Kabupaten Karawang dikarenakan belumakuratnyadata dan informasi sehubungan dengan kesehatan ibu dan belum adanya data mengenai polapemeriksaankehamilan di Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemeriksaankehamilandi 5 wilayah Puskesmas PONED di Kabupaten Karawang. Disain penelitian menggunakancrosssectionalmenggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang dilaksanakan dari Bulan April sampaidengan Bulan Oktober 2011. Total informan ibu sebanyak 50 orang dengan 6 bidan di Puskesmas danRSUD Karawang. Hasil penelitian menunjukkan pola pemeriksaan kehamilan berupa kunjungan K4 yang meningkat tetapi KI yang rendah, kondisi geografis serta kompetensi teknis bidan yang kurang maksimal.Pelatihan teknis dan penyuluhan bagi keluarga menjadi rekomendasi prioritas dalam penelitian ini. Polapemeriksaan kehamilart di 5 Puskesmas PONED meningkat pada K4 dan pola pertolongan persalinan di 5Puskesmas PONED sebagian besar ditolong oleh bidan.Kata kunci: Pemeriksaan kehamilan, PONED, Karawan

    Artemisinin-napthoquine versus dihydroartemisinin-piperaquine in adult subjects with Plasmodium vivax infection

    No full text
    AbstrakLatar belakang: Penelitian ini untuk membandingkan efikasi dan keamanan Artemisinin-Napthoquine(AN) dengan dosis tunggal dan obat pilihan ACT lain, dengan Dihydroartemisinin-Piperaquine (DHP)pada pengobatan P.vivax.Metode: Penelitian ini adalah studi randomisasi terbuka dengan subyek direkrut mulai tahun 2007 – 2008dari RS St Gabriel, Maumere dan RS Polisi, RS Angkatan Darat dan RS Angkatan Laut di Jayapura.Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian utama yang sudah dipublikasi sebelumnya. Efikasidinyatakan dengan ketiadaan klinis dan parasit malaria sampai dengan hari ke 42, disebut AdequateClinical and Parasitological Response (ACPR). Keamanan dinyatakan sebagai kejadian sampingan yangditemukan pada setiap kunjungan ulang yang tidak dilaporkan sebelumnya pada hari rekrutmen (h0).Hasil: Total 158 subyek dianalisis. Sejumlah 80 subyek direkrut pada kelompok AN dan 78 dengan DHP.Median Parasite Clearance Estimator (PCE) yaitu 2,32 (kisaran: 1,42 – 7,78; IQR: 1,99 – 2,82) jam padaAN dan 2,05 (kisaran: 1,30 – 8,30; IQR: 1,82 – 2,46) jam pada DHP. Parasite clearance sudah terjadi dalam64 jam. Adequate clinical parasitological response (ACPR) at day 42 was 100% (95% CI: 95,2-100) padaAN, dan 100% (95% CI: 94,9-100) pada DHP. Kejadian Sampingan ditemukan ringan dan dapat ditoleransi.Kesimpulan: Kedua obat memiliki efikasi dan keamanan yang sebanding untuk pengobatan malaria vivaksdewasa. Walaupun pembersihan parasit AN lebih lama dibandingkan DHP, 100% pembersihan terjadipada kedua kelompok pengobatan dalam 64 jam. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:92-8)Kata kunci: malaria, Artemisinin, napthoquine ,dihydroartemisinin, vivax AbstractBackground: This study was to compare the efficacy and safety between Artemisinin-Napthoquine (AN)as a single dose as well as an alternative drug, and Dihydroartemisinin-Piperaquine (DHP) as a three-daystandard regimen on P. vivax infection.Methods: This was an open randomized study performed during the period of April 2007- March 2008 inthree Armed Forces Hospitals in Jayapura, Papua Province, and one private hospital in Maumere, East NusaTenggara Province. This study was a part from previously published study for any malaria infection. Efficacywas the absence of clinical and parasitological malaria until day 42, performed as Adequate Clinical andParasitological Response (ACPR). Safety was performed based on adverse event in any day of follow upwhich never reported at day recruitment (d0).Results: This study analyses 158 P. vivax cases. A total 80 subjects were treated with AN and 78 with DHP.The median Parasite Clearance Estimator (PCE) was 2.32 (range: 1.42 – 7.78; Interquartile Range (IQR): 1.99– 2.82) hours in AN and 2.05 (range: 1.30 – 8.30; IQR: 1.82 – 2.46) hours in DHP group. The parasite clearancewas complete by 64 hours. The ACPR was 100% (95% Confidance Interval (CI): 95.2-100) in the AN, and100% (95% CI: 94.9-100) in the DHP group. Both drugs have similar mild and tolerated adverse events.Conclusions: Both drugs have similar efficacy and safety for the treatment of P. vivax in adults. AlthoughAN has took longer PCE compared to DHP, 100% clearance was achieved in both groups in 64 hours.(Health Science Journal of Indonesia 2015;6:92-8)Key word: malaria, Artemisinin, napthoquine ,dihydroartemisinin, viva

    Indeks Sosial dan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Maternal

    No full text
    Cakupan pemeriksaan kehamilan secara teratur di pelayanan kesehatan di Indonesia masih rendah. Hal ini terkait dengan wilayah tempat tinggal dan pendidikan ibu. Selain itu, masyarakat dari sosial ekonomi rendah seringkali tidak mengakses pelayanan maternal. Penelitian ini mencoba mendapatkan gambaran pemanfaatan pelayanan maternal ditinjau dari indeks social. Analisis menggunakan data Riskesdas 2013 yang disusun menjadi indeks social kemudian dilihat gambaran pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal menurut indeks social. Analisis menunjukkan persentase ibu dengan pendidikan tinggi (64,9%), bekerja (44,6%) dan tinggal di perkotaan (54,8%) yang memanfaatkan pelayanan kesehatan maternal secara kontinyu. Hasil analisis memperlihatkan bahwa pendidikan dan tempat tinggal mempengaruhi kontinuitas pemanfaatan pelayanan kesehatan maternal yang dikaitkan dengan indeks social. Dukungan pemerintah melalui pemberian penyuluhan kesehatan maternal baik lewat media massa maupun elektronik

    Electricity and risk of public health center had measles vaccine damage in Indonesia

    No full text
    AbstrakLatar belakang: Puskesmas yang memiliki vaksin campak rusak dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko.Oleh karena itu perlu diidentifikasi beberapa faktor risiko dominan yang mempengaruhinya.Metode: Analisis menggunakan sebagian data Riset Fasilitas Kesehatan (Rifaskes) tahun 2011. Rifaskestersebut dilakukan di seluruh Puskesmas di 33 provinsi di Indonesia. Selanjutnya, pada analisis ini hanyamenggunakan data Puskesmas di provinsi yang memiliki cakupan imunisasi campak di atas angka prevalensinasional (81,6%), dan Puskesmas yang memiliki angka prevalensi campak di atas angka prevalensi nasional(1,18%). Analisis data statistik dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik untuk menentukanbeberapa faktor risiko dominan yang mempengaruhi Puskesmas yang memiliki vaksin campak rusak.Hasil: Sebanyak 7 (Riau, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, SulawesiSelatan, Gorontalo) sebanyak 1259 Puskesmas memenuhi kriteria inklusi. Puskesmas yang berlokasi diperdesaan dibandingkan dengan perkotaan berisiko 3,4 kali lipat yang merupakan Puskesmas yang memilikivaksin campak rusak [rasio odds suaian (ORa) = 3,37; 95% interval kepercayaan (CI) = 1,34-8,26]. Selanjutnya,Puskesmas dengan ketersediaan listrik PLN kurang dari 24 jam dibandingkan dengan tersedia selama 24jam mempunyai risiko 2,1 kali lipat merupakan Puskesmas yang memiliki vaksin campak rusak (ORa =2,10; 95% CI = 1,02-4,33).Kesimpulan: Puskesmas yang mempunyai kerusakan vaksin campak yang rusak lebih banyak terjadi di Puskesmasdi perdesaan dan yang tidak tersedia listrik PLN maupun ketersediaan listrik sehari-hari kurang dari 24 jammerupakan Puskesmas yang memiliki vaksin campak rusak. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:116-20)Kata kunci: vaksin campak rusak, Puskesmas AbstractBackground: The Public Health Center (PHC) had broken measles vaccine was influenced by a numberof risk factors. Therefore, it was necessary to identify some dominant risk factors that related to PHC hadmeasles damage vaccines.Methods: The analysis used a part of the data of Research Health Facilities (Rifaskes) in 2011. The Rifaskeswas conducted in all health centers in all (33) provinces in Indonesia. Furthermore, this analysis uses dataonly health center in the province who have measles immunization coverage the national prevalence rate(81.6%) or more, and health centers that have measles prevalence rate above the national prevalence rate(1.18%) or more. Statistical data analysis performed using logistic regression analysis to determine someof the risk factors related to the health center had has measles vaccine damaged.Results: A number of 7 provinces (Riau, Jakarta, West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara, CentralSulawesi, South Sulawesi, Gorontalo) with 1259 PHC met the inclusion criteria. Health centers locatedin rural areas compared with urban areas had 3.4-fold risk of a PHC that had measles damage vaccines[adjusted odds ratio (ORa) = 3.37; 95% confidence interval (CI) = 1.34 - 8.26]. Furthermore, the healthcenter with the availability of the electricity for less than 24 hours compared with available 24 hours had2.1-fold risk of PHC that had measles damage vaccines (ORa = 2.10; 95% CI = 1.02 - 4.33).Conclusion: Public health center in rural areas, or did not have not have commercial electric power, ordid not have the availability of day-to-day electricity less than 24 hours had more risk of a PHC that hadmeasles damage vaccines. (Health Science Journal of Indonesia 2015;6:116-20)Keywords: measles, public health center, vaccin

    Morbiditas dan Multi Morbiditas Pada Kelompok Lanjut Usia di Indonesia

    No full text
    AbstractThe increasing elderly population in Indonesia has been predicted long ago.It causes a public health problem particularly the high rate of morbidity and multi-morbidity. The results of Basic Health Research (Riskesdas) 2007 and 2013, showed six common non-communicable diseases among the elderly such as diabetes mellitus, hypertension, coronary heart disease, stroke, rheumatoid arthritis, mental and emotional disorders. In addition, four infectious diseases predominantly among the elderly, they were acute respiratory infections, pneumonia, tuberculosis, and diarrhea. Both the high morbidity infectious and non-infectious diseases also indicated a multi-morbidity among the elderly. The Riskesdas 2007 results showed only 13% of healthy elderlywere healthy, 34.8% of them suffered from one disease, and 52.2% had two or more diseases (multiple morbidity). Multiple morbidity resulted elderly people in more suffering condition, decreased their life qualityand increased their mortality, and in a broader scope lead to their social and economic burden. Principal efforts overcoming the problem of multi-morbidity is to change policy of elderly health care particularly in theequity and continuity of elderly program in primary health care centers.Keyword: Multi Morbidity, Ageing, GeriatriAbstrakMeningkatnya populasi lansia di Indonesia sudah diprediksi sejak jauh hari. Adanya peningkatan jumlah populasi lansia menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yaitu tingginya angka morbiditas dan multi morbiditas. Dari hasil Riskesdas 2007 dan 2013, diketahui ada 6 penyakit tidak menular yaitu diabetes mellitus, hipertensi, jantung koroner, strok, penyakit sendi, dan gangguan mental emosional yang umum terjadi padalansia. Selain ke 6 penyakit tersebut di atas, diketahui juga ada 4 penyakit menular yaitu ISPA, pneumonia,tuberkulosis, dan diare. Tingginya angka morbiditas penyakit menular dan tidak menular juga mengindikasikan adanya multi morbiditas pada lansia. Dari hasil Riskesdas 2007 hanya 13% lansia yang sehat, 34,8% menderitasatu jenis penyakit, dan 52,2% menderita dua jenis penyakit atau lebih (multi morbiditas). Multi morbiditas mengakibatkan lansia semakin menderita, kualitas hidup menurun dan tingkat mortalitas pun meningkat, dalam lingkup yang lebih luas menimbulkan beban sosial dan ekonomi. Upaya pokok penanggulangan masalah multi morbiditas adalah dengan adanya perubahan kebijakan terhadap pelayanan kesehatan lansia yang dilakukan secara merata dan berkesinambungan di sentra pelayanan kesehatan dasar.Kata Kunci: Multi Moribiditas, Lanjut Usia, Geriatr

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇