e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Status kerentanan Ae. aegypti terhadap beberapa golongan insektisida di Provinsi Kalimantan Selatan

    No full text
    Penelitian resistensi Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan untuk fogging dilakukan berdasarkan tingginya kasus Demam Berdarah Dengue di Provinsi Kalimantan Selatan. Tujuan umum adalah memperoleh data resistensi  vektor DBD Ae. aegypti terhadap insektisida di Provinsi Kalimantan Selatan. Nyamuk yang digunakan adalah hasil survei jentik dari 3 kabupaten/kota daerah penelitian, kemudian dipelihara di laboratorium Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu menjadi dewasa F2. Kondisi perut nyamuk yang digunakan adalah kenyang gula. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar vektor demam berdarah dengue (DBD) Ae. aegypti di Provinsi Kalimantan Selatan telah resisten terhadap malathion 0,8%, lambdasihalotrin 0,03%, sipermetrin 0,05%, dan deltametrin 0,025%. Perlu segera melakukan rotasi insektisida yang digunakan untuk fogging terutama malathion 0,8% yang telah lama digunakan

    Penganggaran dan Penerimaan Dana Kapitasi Program JKN di Daerah Terpencil Kabupaten Kepulauan Mentawai

    No full text
    Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dilaksanakan atas hak setiap warga negara memperoleh layanan kesehatan, baik yang bertempat tinggal di perkotaan maupun di perdesaan termasuk di daerah terpencil perbatasan kepualauan. Pelaksana program JKN dilaksanakan oleh unit pelayanan kesehatan mulai dari pelayanan kesehatan di puskesmas sampai dengan pelayanan kesehatan rujukan di rumahsakit dengan pembayaran yangdilakukanolehBadan Pelaksana Jaminan Sosial Kesehatan(BPJS) kepada unit pelaksana pelayanan kesehatan dengan mekanisme transfer berdasarkan sistem dana kapitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan penganggaran dan penerimaan dana kapitasi tenaga kesehatan program jaminan kesehatan nasional di daerah terpencil Puskesmas Mapaddegat Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan mengunakan metode kualitatif. Pengumpulan informasi melalui observasi wawancara mendalam terhadap informan dan informan kunci dan Dokumentasi. Penelitian dilaksanakan bulan Januari s/d juni 2017. Hasil penelitian menggambarkan bahwa pelaksanaan penganggaran dan penerima dana kapitasi tenaga kesehatan pada tahun 2014-2015 belum berjalan sesuai ketentuan pembayaran, tahun 2016 masih ditemukan permasalahan pembayaran norma kapitasi oleh BPJS Kesehatan sudah normatif namun belum sesuai den- gan jumlah peserta yang terdaftar. Tahun 2017 penerimaan dana kapitasi sudah berjalan lebih baik dibuktikan dengan telah teradministrasi dan terdokumentasi semua bentuk pemanfaatan dan realisasi belanja pencairan dana kapitasi untuk seluruh petugas di puskesmas dan  jaringannya.Kata kunci:Tenaga kesehatan, penganggaran, penerimaan dana kapitasi dan program JK

    IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH TENTANG PENGENDALIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA SEMARANG

    No full text
    Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) yang cenderung meningkat serta berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) mendorong Pemerintah Kota Semarang untuk menerbitkan kebijakan berupa Peraturan Daerah nomor 5 tahun 2010 tentang Pengendalian DBD, yang bertujuan untuk mewujudkan penanggulangan DBD yang terkoordinasi, terintegrasi dengan kerjasama berbagai pihak, termasuk masyarakat. Metode evaluasi implementasi Perda dilakukan secara kualitatif dengan kerangka kerja policy analysis triangle yang meliputi konteks, konten, pelaku dan proses. Peraturan Daerah No. 5 tahun 2010 tentang pengendalian DBD Kota Semarang, merupakan kebijakan di bidang kesehatan dengan pelaku kebijakan adalah pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan. Konten Perda tersebut mencakup peran, hak dan kewajiban masing-masing pelaku kebijakan, pengendalian penyakit DBD yang meliputi pencegahan, penanggulangan dan KLB DBD serta sanksi untuk petugas maupun masyarakat. Implementasi Perda hingga tahun 2015 baru tercapai 22,6% dari 177 kelurahan. Angka bebas jentik cenderung menurun, akan tetapi Incidence Rate (IR) mengalami penurunan, meskipun Case Fatality Rate (CFR) terjadi fluktuatif. Mekanisme sanksi belum diterapkan dan kerjasama lintas sektor dan masyarakat masih belum optimal. Perlu dilakukan sosialisasi yang lebih intensif, baik kepada lintas sektor maupun masyarakat, yang dapat dilakukan dengan mendayagunakan petugas surveilans kesehatan (Gasurkes) sesuai dengan wilayah kerja masing-masing

    EFEK KOMBINASI PEGAGAN, DAUN SALAM, ALANG-ALANG, DAN BIJI PALA TERHADAP FUNGSI KARDIOVASKULER PASIEN HIPERTENSI ESENSIAL DI RUMAH RISET JAMU HORTUS MEDICUS TAWANGMANGU

    No full text
    Hipertensi merupakan penyakit yang berperan penting dalam terjadinya penyakit kardiovaskular. Pasien dengan penyakit kardiovaskuler sering menggunakan pengobatan herbal sebagai alternatif maupun komplementer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek formula kombinasi herba pegagan, daun salam, akar alang-alang, dan biji pala terhadap fungsi kardiovaskuler pasien hipertensi esensial. Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi eksperimental pre dan post test design untuk menilai pengaruh penggunaan jamu pada fungsi kardiovaskular subjek. Subjek penelitian ini berjumlah 60 orang, diberi formula jamu yang diminum 2 kali setiap hari selama 56 hari. Pengukuran terhadap tekanan darah, heart rate, RPP, PP, dan MAP dilakukan setiap minggu. Data diolah dan dianalisis  dengan menggunakan program SPSS. Hasil yang didapat menunjukkan penurunan tekanan sistolik dari 147,16 ± 6,46 mmHg menjadi 132,25 ± 11, 21 mmHg dengan nilai p = 0,001%, tekanan diastolik menurun dari 92,16 ± 2,49 mmHg menjadi 77,83 ± 8,98 mmHg dengan nilai p = 0,001%, tekanan arteri rata-rata, heart rate, RPP, dan PP juga mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan formula kombinasi herba pegagan, daun salam, akar alang-alang, dan biji pala dapat memperbaiki fungsi kardiovaskular dengan menurunkan tekanan sistolik, diastolik, tekanan arteri rata-rata, nilai PP dan RPP

    LELAKI SEKS LELAKI, HIV/AIDS DAN AKTIVITAS SEKSUALNYA DI SEMARANG

    No full text
    AbstractBackground: Mapping of sexual behavior of male sex with men in 2007 in 10 districts/cities in Central Java showed 52.1 percent had anal sex and only 19.3 percent used condoms consistently. MSM performs risky activities infected with HIV / AIDS such as heterosexual groups. HIV / AIDS cases in MSM groups continue to increase every year.Objective: This study was conducted to determine risk factors associated with HIV/AIDS incidence in groups of MSM.Method: The study design was case control, mixed method approach with indepth interview. The number of samples is 108 with 1: 1 ratio of each group of 54 respondents in Semarang City. Quantitative data were analyzed by kai square and qualitative data by data reduction, presentation, and conclusion / data verification.Results: Proven risk factors for HIV/AIDS were first sexual intercourse at a young age (≤16 years), high-risk sexual behavior, inconsistent use of condoms, and more than 1 sexual partner. The reason why MSM do unsafe sexual behavior is to seek sensation during sex, get temptation and pay.Conclusion: Young age is sexually linked, inconsistent with condom use and sexual intercourse is a factor associated with HIV/AIDS risk in MSM groups. Therefore, there needs to be integrated promotion and education to address issues ranging from sexual orientation to safe sexual behavior.Keyworsd: Risk factors, Men who have sex with men (MSM), HIV/AIDS, Sexual behaviour AbstrakLatar Belakang: Pemetaan perilaku seksual lelaki seks dengan lelaki tahun 2007 di 10 kabupaten/kota di Jawa Tengah menunjukkan 52,1 persen berhubungan seks anal dan hanya 19,3 persen menggunakan kondom secara konsisten. LSL melakukan aktifitas berisiko terinfeksi HIV/AIDS seperti kelompok heteroseksual. Kasus HIV/AIDS pada kelompok LSL terus meningkat tiap tahunTujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian HIV/AIDS pada kelompok LSL.Metode: Desain penelitian adalah kasus kontrol, pendekatan mixed method dengan indepth interview. Jumlah sampel sebanyak 108 dengan perbandingan 1:1 masing-masing kelompok 54 responden di Kota Semarang. Data kuantitatif dianalisis dengan kai kuadrat dan data kualitatif dengan melakukan reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan/verifikasi data.Hasil: Faktor risiko HIV/AIDS yang terbukti adalah pertama berhubungan seksual pada usia muda (≤ 16 tahun), perilaku hubungan seksual risiko tinggi, tidak konsisten menggunakan kondom, dan jumlah pasangan seksual lebih 1 orang. Alasan LSL melakukan perilaku seksual tidak aman ialah mencari sensasi saat berhubungan seksual, mendapatkan godaan dan bayaranKesimpulan: Usia muda berhubungan sesksal, tdak konsisten menggunakan kondom dan perilakun hubungan seksual merupakan faktor yang berhubungan dengan risiko HIV/AIDS pada kelompok LSL. Oleh sebab itu perlu ada promosi dan edukasi terpadu untuk mengatasi permasalahan mulai dari orientasi seksual hingga perilaku seksual yang aman.Kata kunci: Faktor risiko, Lelaki seks lelaki (LSL), HIV/AIDS, Perilaku seksua

    KARAKTERISTIK PERSONAL DAN KEPUASAN KERJA DENGAN KOMITMEN KEORGANISASIAN TENAGA KESEHATAN DI DAERAH TERTINGGAL PERBATASAN DAN KEPULAUAN INDONESIA

    No full text
    ABSTRACT This study examined the relationship between personal characteristics and job satisfaction with organizational commitment of team-based health worker in Underdeveloped, Border, and Islands Area (DTPK). This research used quantitative method. Subject of the research was 467 team-based specialist health worker in order to support Nusantara Sehat Program. Measurements of job satisfaction were conducted using Minnesotta Satisfaction Quesionnaire (MSQ), while measurement of organizational commitment using Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) developed by Allen Meyer. This study used Structural Equation Modeling (SEM) based on covariance to answer the research questions. The results showed that there was a positive relationship between personal characteristics consisting of age, length of work, and marital status with organizational commitment while education level showed negative relationship with organizational commitment. In addition, also found that job satisfaction had a positively related to organizational commitment. There is a need for age criteria for team-based health workers at DTPK (25-35 years) and providing family allowance to team-based health workers in married DTPK. Keywords: Personal characteristics, job satisfaction, organizational commitment   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara karakteristik personal dan kepuasan kerja dengan komitmen keorganisasian pada tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim di DTPK. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Sampel dari penelitian ini adalah 467 orang tenaga kesehatan penugasan khusus berbasis tim dalam rangka mendukung Program Nusantara Sehat. Pengukuran terhadap kepuasan kerja dilakukan dengan menggunakan Minnesotta Satisfaction Quesionnaire (MSQ), sedangkan pengukuran terhadap komitmen keorganisasian menggunakan Organizational Commitment Questionnaire (OCQ) yang dikembangkan oleh Allen Meyer. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) berbasis kovarian untuk menjawab rumusan masalah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara karakteristik personal yang terdiri dari umur, lama kerja, dan status pernikahan dengan komitmen keorganisasian sedangkan tingkat pendidikan menunjukkan hubungan yang negatif dengan komitmen keorganisasian. Selain itu juga, ditemukan bahwa kepuasan kerja berhubungan positif dengan komitmen keorganisasian. Perlu adanya kriteria umur untuk tenaga kesehatan berbasis tim di DTPK (25-35 tahun) serta memberikan tunjangan keluarga kepada tenaga kesehatan berbasis tim di DTPK yang sudah menikah. Kata kunci: Karakteristik personal, kepuasan kerja, komitmen keorganisasia

    USIA MENARCHE PADA ANAK PEREMPUAN BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI, KONSUMSI MAKANAN DAN AKTIVITAS FISIK

    No full text
    AbstractBackground: Menarche is the first menstrual periods that occurs during puberty of a girl. Nowadays, there is a tendency of puberty child age to become earlier.Objective: The study aims to determine the average age of menarche and age-related factors in children.Method: The study was conducted in all public elementary schools in Marpoyan Damai sub-district, Pekanbaru. The type of research used is analytical cross-sectional study. The samples were children who had menarche as many as 110 girls, with criteria menarche maximum three months ago. Independent variables studied are nutritional status, fat intake, frequency of junk food consumption, physical activity, maternal menarche age, and parents income. Data analysisis done by multiple linear regression.Results: This study found the mean age of menarche of children 11.9 years earlier than the mean age of maternal menarche is 12.9 years. The variables associated with menarche age are nutritional status (β=-0.2), fat intake (β=-0.02), frequency of junk food consumption (β=-0.3), and physical activity (β= -0.07).Conclusion: Menarche was associated with nutritional status, fat intake, frequency of junk food, and physical activity. It is recommended for community health center to do counseling to school about reproductive health and balanced diet. For the school, it is recommended to provide healthy canteen.Keywords: Physical activity, Fat intake, Junk food consumption, Age of menarche, Nutritional status AbstrakLatar Belakang: Menarche adalah menstruasi yang pertama terjadi pada masa pubertas seorang anak perempuan. Saat ini ada kecenderungan usia pubertas anak menjadi semakin dini.Tujuan: Analisis ini bertujuan untuk mengetahui rata-rata usia menarche dan faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menarche pada anak.Metode: Penelitian dilakukan di seluruh SD Negeri di Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Jenis penelitian yang digunakan adalah Analitic Cross Sectional Study. Subjek adalah anak yang sudah menarche sebanyak 110 orang, dengan kriteria menarche maksimal tiga bulan yang lalu. Variabel independen yang diteliti adalah status gizi, asupan lemak, frekuensi konsumsi junk food, usia menarche ibu, aktivitas fisik, dan penghasilan orang tua. Analisa data dilakukan dengan regresi linier berganda.Hasil: Penelitian ini menemukan rata-rata usia menarche anak 11,9 tahun, yang lebih dini dibandingkan rata-rata usia menarche ibu yaitu 12,9 tahun. Variabel yang berhubungan dengan usia menarche adalah status gizi (β=-0,2), asupan lemak (β=-0,02), frekuensi konsumsi junkfood (β=-0,3), dan aktivitas fisik (β=0,07).Kesimpulan: Menarche berhubungan status gizi, asupan lemak, frekuensi konsumsi junk food, dan aktivitas fisik. Disarankan kepada Puskesmas untuk melakukan penyuluhan ke sekolah tentang kesehatan reproduksi dan gizi seimbang. Bagi pihak sekolah dianjurkan untuk menyediakan kantin sehat.Kata kunci: Aktivitas fisik, Asupan lemak, Konsumsi junk food, Status gizi, Usia menarch

    Front Matter

    No full text

    Antihyperpigmentation Effect of The Combination of Turmeric (Curcuma domestica Val.) and Bitter Melon Leaves (Momordica Charantia L.) Ethanol Extracts on Guinea Pig Skin

    No full text
    Turmeric (T) and bitter melon (BM) leaves extract have been proven to treat skin hyperpigmentation in vitro study. This study aimed to investigate antihyperpigmentation combination of T and BM leaves extract on Guinea pig skin. This study used a post test only control group design. The maceration process conducted with ethanol 70%. Fifty-five of Guinea pig were exposed to UVB light 2 minutes/day for 2 weeks, and then divided into 11 groups. The negative control group was given dimethyl sulfoxide; the positive control group was given pharma cream that consisting of hydroquinone 4%, tretinoin 0,05%, and fluocinolone acetonide 0,01%. The 1-3 group were given 500, 750, and 1000 µg/mL of T extract; the 4-6 group were given 200, 400, and 600 µg/mL of BM extract; the 7-9 group were given combination of extract (500 µg/mL of T and 200 µg/mL of BM), (750 µg/mL of T and 400 µg/mL of BM), and (1,000 µg/mL of T and 600 µg/mL of BM). Each treatment was given 1 ml once a day for 2 weeks and then a tissue biopsy was done. Histopathological examination was conducted by staining with fontana-masson and nuclear fast red. The average percentage of melanin area differences in the entire group were analyzed with the Kruskal Wallis test followed by Mann-Whitney test with 95% of confidence level. The data shows that the 8 and 9 group have a better effect than the pharma cream. The 7 group has higher effect than the whole group of BM.Turmeric (T) and Bitter Melon leaves (BM) extract has been proven in decreasing melanin contents in in vitro study, but their single extracts effects were lower than the positive control. A study confirmed the combination of plants extracts had melanogenic effect better than the positive control and their single extracts. This study aimed to investigate the anti-hyperpigmentation effect of the combination of T and BM extract on guinea pig skin and compared with the positive control group. This study used a post-test control design. Twenty-five guinea pigs were divided into 5 groups. The negative control group was given by dimethyl sulfoxide; the positive control group was given by a pharma cream that consists of hydroquinone, tretinoin, and fluocinolone acetonide. The combination of extracts was given to experimental groups with doses 500 µg/mL of T and 200 µg/mL of BM; 750 µg/mL of T and 400 µg/mL of BM; 1.000 µg/mL of T and 600 µg/mL of BM, respectively. All groups exposed to UV-B light in 2 minutes/day for 2 weeks. Each experimental group was given 1 ml combination extract once a day for 2 weeks and in the last step, skin biopsies were done. The histopathological examination was conducted by staining with Fontana-Masson and Nuclear Fast Red. The average percentage of melanin area were compared in all group and analyzed with the Kruskal Wallis test followed by Mann-Whitney test with 95% of confidence level. The result showed group-2 and 3 had the better effect than pharma cream

    ANALISIS KETERLAMBATAN PENGAJUAN KLAIM KEPADA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL (BPJS) KESEHATAN PADA RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO, DKI JAKARTA

    No full text
    Rumkital Dr. Mintohardjo adalah rumah sakit tipe B milik TNI Angkatan Laut yang memberikan pelayanan kesehatan kepada personel TNI Angkatan Laut, keluarganya dan masyarakat. Berdasarkan Perjanjian Kerja Sama antara Rumkital Dr. Mintohardjo dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan bahwa pengajuan klaim pada tanggal 10 bulan berikutnya. BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. Klaim dilaksanakan 2 sampai 3 kali untuk 1 bulan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan klaim. Jenis penelitian adalah deskriptif, yang dilakukan pada tahun 2016 dengan data sekunder dari dokumen 430 kasus pengajuan klaim tahun 2015. Untuk mendukung analisis dilakukan wawancara kepada informan yang dipilih secara purposif. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan dari 430 kasus pengajuan klaim yang terlambat terbanyak 133 (30,9%) pada kasus soft tissue tumor, diikuti kecelakaan lalu lintas 101 (23,5%) dan impacted teeth 57 (13,3 %) atau termasuk kelompok kasus bedah dan gigi, yang dianggap sebagai kasus baru di Rumah Sakit. Keterlambatan pengajuan klaim tersebut karena belum ada kesepakatan atau persamaan persepsi antara BPJS Center Rumah Sakit, sehingga masih diperlukan dukungan surat berupa surat edaran dari BPJS Center terhadap kasus-kasus baru. Dokumen pengajuan klaim terhadap kasus-kasus baru di Rumah Sakit diperlukan persamaan persepsi yang dimulai dari verifikator BPJS Center, verifikator Rumah Sakit, dilanjutkan kepada BPJS Center dan Rumah Sakit untuk mendapatkan rekomendasi pengajuan klaim kasus baru. Saran: Diperlukan pedoman terhadap pengajuan klaim kasus baru, sehingga tidak mengganggu administrasi Rumah Sakit.ABSTRACTDr. Mintohardjo Navy Hospital is a type B hospital owned by the Navy that provides health services to Navy personnels, their families and communities. Based on the Cooperation Agreement between the Dr. Mintohardjo Navy Hospital and the Social Scheme Administering Bureau (BPJS) Health that claims submission is at the 10th of the following month. The BPJS of Health has to pay to Health Facilities not later than 15 (fifteen) days after receive of complete document claims. Claims are conducted 2 to 3 times for one month of service. This study aims to analyze factors that influence delay of claims. It was a descriptive study, carried out in 2016 with secondary data among of 430 documents of claims submitted in 2015. To support the analysis interviews were done to selected informants selected purposively. The collected data were analyzed descriptively. Results showed that among 430 cases of claims that were delay, among 133 (30.9%) on soft tissue tumor cases, followed by traffic accidents 101 (23.5%) and impacted teeth 57 (13.3%) or including surgical and dental cases, which are considered as new case in the Hospital. The delay in filing the claim because there is no agreement or the same of perception between the BPJS Center and the Hospital, so it still needs support letter in the form of circular from BPJS Center for the new cases. Documents claims for new cases in the hospital require perceptions from verificator of the BPJS Center, verificator of the Hospital, to get the BPJS Center and the Hospital recommendations for new claims submission. It suggests that there should be guideline for new cases claim submission, so that does not interfere the hospital administrative affair

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇