e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
Not a member yet
    4975 research outputs found

    Penetapan Kadar Nikotin dan Karakteristik Ekstrak Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L.)

    No full text
    Nikotin merupakan senyawa utama yang terdapat dalam tembakau, dimana nikotin termasuk salah satu zat berbahaya yang ada dalam rokok. Nikotin diabsorpsi dengan cepat dari paru-paru ke dalam darah. Bahaya dari nikotin yang terberat antara lain dapat merangsang pembentukan kanker. Selain itu nikotin mempunyai aktifitas yang menguntungkan yaitu sebagai antimikroba. Adanya himbauan dari Kementerian Pertanian dalam buku Pestisida Nabati, diharapkan pada suatu saat nanti Indonesia mampu berswasembada pestisida (Pesticides Self Sufficiency) sehingga tidak bergantung lagi kepada negara-negara besar penghasil pestisida kimia sintetis. Penelitian dilakukan dengan pengujian pendahuluan secara eksperimen laboratorium yang dilakukan tahun 2016 untuk menentukan kadar nikotin secara GC MS dan karakteristik ekstrak yang nantinya sebagai acuan untuk menentukan mutu ekstrak daun tembakau. Karakteristik ekstrak yang diuji adalah kadar air, berat jenis, cemaran mikroba yaitu angka kapang khamir (AKK), angka lempeng total (ALT) dan most probable number (MPN) Coliform. Hasil pengujian ekstrak daun tembakau diperoleh kadar nikotin: 3,14%, kadar air: 42,41%, berat jenis (BJ): 1,19 g/ml,AKK: 9,0x101,ALT: 8,0x101 dan MPN Coliform: < 2. Ekstrak daun tembakau yang diuji memenuhi persyaratan  cemaran mikroba terhadap AKK,ALT, dan MPN ColiformKata kunci: nikotin, karakteristik,  ekstrak, daun tembaka

    UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DI DAERAH ENDEMIS KOTA BANDUNG (STUDI KASUS PADA KELOMPOK KASUS DAN KONTROL )

    No full text
    Upaya pengendalian vektor  memerlukan peran serta aktif masyarakat yang berkesinambungan sehingga harus didukung dengan pengetahuan yang baik tentang DBD. Tujuan penelitian untuk melihat perbedaan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pengendalian vektor DBD pada rumah tangga kelompok kasus dan kontrol (non kasus) di Kota Bandung. Jenis penelitian studi kasus-kontrol yang sesuai dengan perbandingan 1: 2 dengan jumlah sampel kasus DBD 261 dan kontrol sebanyak 522 rumah tangga. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas dengan kasus DBD tinggi, yaitu Dago, Sekejati, Kopo, dan Cipamokolan. Usia responden mengelompok pada rentang 40 – 60 tahun, sedangkan pendidikan terakhir responden adalah tamat SMP dan SMA. Hasil analisa data menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan antara rumah tangga  kasus dan kontrol (p-value 0,015) dan tidak ada beda pada variabel sikap (p-value 0,520). Riwayat pengendalian vektor terdapat perbedaan antara dua kelompok pada upaya PSN aktif (p-value 0,005) dan penggunaan kelambu (0,008). Secara keseluruhan berdasarkan hasil uji Odds Ratio menunjukkan bahwa variabel pengetahuan  (OR 1,410) dan PSN (OR 1,719) memiliki hubungan dengan upaya pengendalian vektor. Sehingga masih perlu ditingkatkan  promosi kesehatan mengenai upaya pengendalian vektor di lingkungan keluarga, pemahaman mengenai penyakit DBD, serta mengoptimalkan program satu rumah satu jumantik.   Kata kunci: pengetahuan, sikap, pengendalian vektor, Kasus-Kontrol, Kota Bandun

    Pengendalian Vektor Malaria di Daerah Endemis Kabupaten Purworejo, Indonesia

    No full text
    Purworejo merupakan daerah endemis malaria dengan peningkatan kasus tertinggi terjadi pada tahun 2015 sebesar 1411 kasus. Pengendalian yang tepat dapat dilakukan apabila diketahui bionomik vektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies, perilaku, resistensi dan pengendalian vektor. Metode yang dilakukan adalah koleksi nyamuk, koleksi jentik, survei habitat nyamuk, resistensi nyamuk, dan evaluasi efektivitas pengendalian vektor. Penelitian dilakukan di Desa Sendangsari, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, An. barbirostris menghisap darah di dalam, di luar rumah, dan kandang. Anopheles balabacensis menghisap darah di dalam rumah dan kandang, An. maculatus, An. aconitus, An. kochi, An. Indifinitus, dan An. vagus ditemukan menghisap darah di kandang. Hasil uji resistensi An. maculatus terhadap insektisida permetrin 0,75% adalah resisten. Pengendalian vektor yang dilakukan adalah Indoor Residual Spraying (IRS) dan penggunaan kelambu berinsektisida. Tempat perkembangbiakan positif jentik adalah kobakan di sekitar ladang dan kolam tidak terpakai. Berdasarkan bioassay efektivitas aplikasi IRS terhadap An. maculatus menunjukkan setelah satu bulan aplikasi sudah tidak efektif. Uji efektivitas pemakaian kelambu selama tiga bulan masih efektif membunuh An. maculatus.   Kata kunci: malaria, IRS, kelambu   ABSTRACT Purworejo is the endemic area of ​​malaria with the highest case increase occurring in 2015 amounted to 1411 cases. Appropriate control can be performed effectively based on vector bionomics. The aims of study were to determine species, behavior, resistance, and control methods of malaria vectors. Methods were larva andmosquitoes collection, breeding place of mosquitoes surveys, resistance of mosquito and evaluation of the effectiveness of vector control. The research was conducted in Sendangsari Village, Bener District, Purworejo Regency The result of the research showed that An. barbirostris sucked blood indoor, outdoor, and cage. An. balabacensis sucked blood indoor and cage. An. maculatus, An. aconitus, An. kochi, An. Indifinitus, and An. fagus were found to suck blood in the cage. An. maculatus showed resistance to insecticide permetrin 0,75% Indoor Residual spraying (IRS) and the use of insecticide treated bed nets were the vector control perfomed in the area of study. The breeding place of mosquito were in hole around unused fields and pond. Based on bioassay test, the effectiveness of IRS application for one months were not effectively kill An. maculatus while the use of mosquito nets for three months were still effectively kill An. maculatus. Keywords: malaria, IRS, bedne

    Artemia salina SEBAGAI BAHAN UTAMA MEDIA HALOFILIK DALAM PEMBUATAN GARAM NaCl KEMURNIAN TINGGI UNTUK INDUSTRI GARAM BERIODIUM

    No full text
    To produce a stable high iodized salt, raw materials with minimum 94.5% NaCl content is needed. The substances causing loss of iodine in iodized salt are Ca and Mg. These substances are formed simultaneously with the formation of NaCl crystals in the salt fields due to the salt coprecipitation. UNICEF 2006 stated that approximately 75% of raw material salt used for iodized salt industry in 11 salt-producing regencies in Indonesia has NaCl content less than 94.5% means the ca and mg content are still quite high. Center for industrial Pollution Technology in 2011 stated that Luria Bertani halophilic microbial media was able to prevent coprecipitation, showed with NaCl purity in salt fields reached 98%. However, Luria Bertani media is expensive (Rp.7200,-/L brine 25OBe) and difficult to manipulate Consequently, it is necessary to find a cheaper and available substitute. This study aimed to develop the use of Artemia salina medium as subtitute for Luria Bertani media. This is a two stages experiment study. the first to develop media composition of Artemia salina. The second step the process of crystallization using the best substitute from the first step. The best composition of Artemia salina was 3.375 g, 1.5 g urea, with 4.5 g for each 1500 mL mixture sugar (1350 mL brine 25OBe +150 mL seed halophilic) The second showed that the product meets the requirements for iodized salt with NaCl content of 98%. Artemia salina based media is feasible to be used as a growth media for halophilic in the salt fields at a price of Rp.86, - / L brine 25OBe

    PENGGUNAAN GARAM BERIODIUM RUMAH TANGGA DI DESA NGABEAN KECAMATAN SECANG

    No full text
    Program garam beriodium banyak mengalami hambatan mulai dari tingkat produsen garam sampai tingkat masyarakat. Situasi saat ini menunjukkan banyaknya beredar garam dan non iodium di pasaran. Data juga menunjukkan bahwa masih banyak rumah tangga yang tidak mengkonsumsi garam beriodium kualitas baik. Di samping itu sifat iodium dalam garam yang mudah rusak jika tidak ditangani dengan baik akan menghambat keberhasilan pelaksanaan penanggulangan GAKI. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang pengetahuan dan perilaku ibu rumah tangga terhadap pemilihan, penyimpanan dan penggunaan garam beriodium di rumah tangga serta faktor– faktor penunjang dan penghambat. Penelitian akan dilakukan di Desa Ngabean, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Penelitian melibatkan 28 informan yang terdiri dari ibu rumah tangga 24 orang, kepala desa 2 orang, tokoh masyarakat 1orang, bidan desa 1 orang dan penjual garam beryodium 1 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan Focus Group Discussion (FGD), observasi, dan wawancara. Informan mengenali dan mengetahui jenis garam yang beriodium. Informan memilih garam karena ada label beriodium, warnanya putih dan bersih. Masyarakat telah menyimpan garam di toples tertutup, untuk menghindari kerusakan akibat basah oleh air, dan ditempatkan jauh dari kompor. Pada umumnya informan tidak tahu cara menambahkan garam beriodium yang baik kaitannya dengan kehilangan iodium selama pemasakan. Penggunaan garam beriodium untuk memasak didasarkan kebiasaan dan pengalaman. Seseorang cenderung membeli kebutuhannya di tempat penjualan yang dekat rumah. Harga bukan merupakan faktor yang mempengaruhi informan untuk membeli garam. Ketersediaan garam beriodium yang memenuhi standar (30-80 ppm) di setiap warung akan menjamin ketersediaan garam beriodium di rumah tangga

    BACKMATTER

    No full text

    PAJANAN POLUTAN DALAM / LUAR RUMAH DAN KEJADIAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS PADA RESPONDEN STUDI KOHOR PTM DI KOTA BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT

    No full text
    ABSTRACT Continuous exposure to indoor and outdoor air pollutants can be a risk of chronic obstructive pulmonary disease (COPD). This article is the result of an analysis of non-communicable disease (NCD) cohort study aimed at finding out the relationship between occupation and duration of indoor and outdoor pollution exposure to COPD events. The data source came from the NCD’s baseline cohort conducted by National Institute of Health Research and Development in 5 urban villages in Bogor Tengah sub-district, Bogor City with the total sample of 1739 people. The study design is cross sectional. The dependent variable of this study is the incidence of COPD (based on measurement results with spirometry), and the independent variables are job type, duration of indoor and outdoor exposure. Data were analyzed using chi square test. The result of the analysis showed that there was a significant correlation between the type of work to the incidence of COPD (p <0.05) (OR = 0.642; 95% CI: 0.47-0.878). Although duration of indoor and outdoor exposure did not correlate significantly, but after re-analyzed by stratification of occupation type, there was a significant correlation between the duration of outdoor pollutant exposure with COPD of respondent group with high-risk job (p = 0,052, OR = 4,558, 95% CI: 1,146-18,128). Need to anticipate the potential risk of COPD on cohort respondents. Keywords: Exposure, air pollutants,occupation, indoor/outdoor pollution, COPD   ABSTRAK Pajanan dari bahan pencemar udara di dalam maupun di luar ruang (indoor/outdoor) secara terus menerus dapat menjadi risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Artikel ini merupakan hasil analisis studi kohor penyakit tidak menular (PTM) yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan dan lama pajanan pencemaran indoor dan outdoor terhadap kejadian PPOK. Sumber data berasal dari baseline kohor PTM yang dilakukan oleh Badan Litbang Kementerian Kesehatan di 5 kelurahan di kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor dengan jumlah sampel sebanyak 1739 orang. Disain penelitian adalah potong lintang. Variabel dependen studi ini adalah kejadian PPOK (berdasarkan hasil pengukuran dengan spirometri), dan variabel independen adalah jenis pekerjaan, lama pajanan indoor dan outdoor. Data dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil analisis menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara jenis pekerjaan terhadap kejadian PPOK (p<0,05) (OR=0,642; CI 95% : 0,47-0,878). Meskipun lama pajanan indoor dan outdoor tidak berhubungan secara signifikan, namun setelah dianalisis ulang dengan stratifikasi jenis pekerjaan, terdapat hubungan yang signifikan antara lama pajanan polutan outdoor dengan PPOK kelompok responden dengan pekerjaan berisiko tinggi (p=0,052, OR=4,558, CI 95%: 1,146-18,128). Perlu tindakan antisipasi potensi risiko PPOK pada responden kohor. Kata kunci: Pajanan, bahan pencemar udara,jenis pekerjaan, pencemaran dalam rumah/ luar rumah, PPO

    Front Metter

    No full text

    No full text
    ABSTRACTThe prevalence of undernutrition in Indonesia is still high compared to its neighbouring countries. The causes are quantity and quality of dietary intakes that can be assesed by dietary recall and desirable dietary pattern (DDP) respectively. The objective was to measure DDP and its association with nutritional status of 0,5-12-year-old Indonesian children. Data was obtained from SEANUTS Indonesia's research covering 3.600 children in 48 districts. Trained nutritionists collected food intakes and dietary pattern by 1x24 hour dietary recall. Nutrient intakes and DDP were calculated by food composition tables and 9 food groups respectively. DDP score were categorized into lowest (score <55), low (55-70), medium (71-84), and high (>85). Weight, length/height were measured by digital weight scale and length measuring board/microtoise. World Health Organization (WHO) child standard was used to calculate W/A, H/A, W/H Z-scores. Analysis was done to measure DDP and its association with nutritional status. The result showed that DDP child 0,5-1,9 years was 48,7 point, DDP child 2,0-5,9 years was 54,7 point, DD child 6,0-12,9 years was 48,8 point. The overall DDP was 49,9 point, far below the maximum value 100 point. DDP was higher among older age, urban areas, higher father education, and higher socioeconomic status. The risk of stunted was higher in low DDP (OR = 1,24; 95% CI 1,15-1,732) and underweight (OR = 1,27; 95% CI 1,16-1,38) but no risk for wasted. The conclusion DDP of Indonesian children was still low and it was associated significantly with stunting and underweight. ABSTRAK Prevalensi kekurangan gizi di Indonesia masih tinggi dibandingkan negara tetangga, penyebab adalah kuantitas dan kualitas asupan makanan, yang dapat dinilai dari konsumsinya dalam bentuk kualitas dan keragamannya. Penelitian bertujuan mengukur skor pola pangan harapan (PPH) dan hubungannya dengan status gizi anak usia 0,5-1,6 tahun, 2,0-5,9 tahun, dan 6,0-12,9 tahun di Indonesia. Data diperoleh dari penelitian SEANUTS Indonesia yang mencakup 3.600 anak di 48 kabupaten. Data asupan makanan dikumpulkan dengan cara recall 1x24 jam oleh ahli gizi yang terlatih. Asupan zat gizi dihitung menurut tabel komposisi bahan makanan dan skor PPH berdasarkan sembilan kelompok bahan makanan. Skor PPH dikategorikan sangat rendah (< 55), rendah (55-70), cukup (71-84), dan tinggi (>85). Berat badan diukur dengan timbangan digital dan panjang atau tinggi badan diukur dengan papan panjang badan atau microtoise. Status gizi anak dinilai berdasarkan Z-score indeks BB/U, TB/U BB/TB standar WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor PPH konsumsi anak umur 0,5-1,9 tahun adalah 48,7, umur 2,0-5,9 tahun 54,7, dan umur 6,0-12,9 tahun 48,8. Secara keseluruhan skor PPH anak umur 0,5-12,9 tahun hanya 49,9 masih jauh di bawah skor ideal (100). Skor PPH cenderung lebih tinggi pada anak yang tinggal di perkotaan, tingkat pendidikan ibu lebih tinggi, dan status sosial ekonomi lebih tinggi. Anak dengan skor PPH rendah mempunyai risiko mengalami stunting dengan OR = 1,24; 95% CI 1,15-1,32 dan mengalami underweight dengan OR = 1,27; 95% CI 1,16-1,38, tetapi tidak menunjukkan berisiko wasting. Dimpulankan bahwa skor PPH anak Indonesia masih rendah dan berhubungan nyata dengan risiko stunting dan underweight

    PROSPEK SENYAWA FLAVONOID KULIT BATANG CEMPEDAK (Artocarpus champeden Spreng) SEBAGAI INHIBITOR DETOXIFIKASI HEME PARASIT MALARIA The detoxification inhibitory activity of heme malaria parasite by flavonoid in Cempedak bark (Artocarpus champeden Spreng)

    No full text
     ABSTRACTThe reaserch on the prospect of cempedak (Artocarpus champeden Spreng) bark as heme malaria parasite detoxificationinhibitor has been conducted. The flavonoid content was isolated from the methanolic extract of thecempedak bark and had been determine the anti-malaria propertise by in-vitro technique. The methode used wasBHIA (β- hematin Inhibitor Assay) and ultra observation of malaria parasite structure. The results showed thatisolates ME2 (IC50 = 0.35μg/ml) and morakhalkon compound A (IC50 = 0:28 mg /ml or 0.83μM) were isolatedfrom the methanol extract of the Cempedak bark is potential as an antimalarial. Compounds A and isolates morakhalkonME2 has a mechanism of action as an inhibitor of heme detoxification process of the malaria parasite.Therefore flavonoid from Cempedak bark is prospective developed as a new antimalarial drug. ABSTRAKPenelitian tentang prospek kulit batang cempedak (Artocarpus champeden Spreng) sebagai inhibitor detoxifikasiheme parasit malaria telah dilakukan. Senyawa flavonoid diisolasi dari ekstrak metanol kulit batang cempedakdan diuji potensi antimalarianya serta hambatan detoxifikasi heme secara in vitro. Pengujian hambatandetoxifikasi heme dilakukan dengan metode BHIA (β-hematin Inhibitor Assay) dan pengamatan ultra strukturparasit malaria. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat ME2 (IC50=0.35μg/ml) dan senyawa morakhalkonA (IC50= 0.28 μg/ml atau 0.83μM) yang diisolasi dari ekstrak metanol kulit batang cempedak berpotensi sebagaiantimalaria. Senyawa morakhalkon A dan isolat ME2 memiliki mekanisme aksi sebagai inhibitor prosesdetoksifikasi heme parasit malaria. Oleh karena itu senyawa flavonoid dari kulit batang cempedak prospektifdikembangkan sebagai obat antimalaria baru.Kata kunci: Artocarpus champeden Spreng, antimalaria, inhibitor detoxifikasi heme

    439

    full texts

    4,975

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    e-Journal Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan / National Institute of Health Research and Development
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇