UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Adab dan Ilmu Budaya
Not a member yet
607 research outputs found
Sort by
The Existence of the Mosque as the Center of Islamic Civilization for the Community: A Case Study of The Baiturrahman Mosque in Ngawi
Abstract: This research analyzes the role of the Baiturrahman Mosque in Ngronggi, Ngawi, as the center of Muslim civilization. The study employs qualitative methods using a case study approach. Data collection techniques include interviews and documentation. Data analysis is conducted using the Miles and Huberman method. The results of the study reveal that the Baiturrahman Mosque serves as a starting point for the development of community civilization. This is evident in initiatives such as the establishment of schools and Religious Affairs Offices around the mosque, as well as efforts to foster young people by involving them as officers and committee members in PHBI (Islamic holiday celebration) events. In addition to these programs, the Baiturrahman Mosque also runs a da\u27wah institution called majelis taklim. This majelis taklim not only provides guidance, education, and direction but also represents a new hope for enhancing the community\u27s intelligence and enlightenment, particularly in religious and social aspects.Abstrak: Penelitian ini menganalisis peran Masjid Baiturrahman di Ngronggi, Ngawi, sebagai pusat peradaban umat Muslim. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan metode Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Baiturrahman berfungsi sebagai titik awal pengembangan peradaban masyarakat. Hal ini terlihat dari inisiatif seperti pendirian sekolah dan Kantor Urusan Agama di sekitar masjid, serta upaya membina generasi muda dengan melibatkan mereka sebagai petugas dan anggota panitia dalam acara PHBI (Perayaan Hari Besar Islam). Selain program-program tersebut, Masjid Baiturrahman juga mengelola lembaga dakwah yang disebut majelis taklim. Majelis taklim ini tidak hanya memberikan bimbingan, pendidikan, dan arahan, tetapi juga menjadi harapan baru untuk meningkatkan kecerdasan dan pencerahan masyarakat, terutama dalam aspek keagamaan dan sosial
Historiografi Islam Modern: Telaah Sirah Nabawiyah Karya Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi
Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi memberikan angin segar dalam historiografi Islam modern. Historiografi yang dilakukan oleh al-Buthi berbeda dengan yang dilakukan oleh al-Jabarti yang dianggap sebagai peletak dasar-dasar historiografi Islam modern. Meskipun tidak bisa dianggap sebagai sejarawan profesional, historiografi al-Buthi banyak digunakan oleh masyarakat kontemporer. Artikel ini memfokuskan pada menganalisis lebih lanjut mengenai karakteristik tema dan isi kandungan kitab Fiqhus Sirah, metode historiografi dalam kitab Fiqhus Sirah serta relevansi kitab Fiqhus Sirah dengan historiografi modern. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan mengumpulkan sumber-sumber rujukan terkait topik bahasan, kemudian dilakukan analisis konten dengan memproses teks secara sistematis dengan tujuan memahami dan mengungkap karakteristik dari karya yang dikaji. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Buthi menganggap bahwa kehidupan nabi itu merupakan kehidupan yang ideal, sehingga sirah nabi hendaknya digunakan untuk memahami Islam. Al-Buthi menulis kitab ini dengan metode tematik, yakni bagaimana tema itu dikaitkan dengan peristiwa sejarah dan memberikan pemaknaan terhadap tema tersebut atau disebut dengan ibrah. Sosok ideal Rasulullah juga tidak hanya untuk ibrah namun juga dikaitkan dengan aspek-aspek keagamaan lain, al-Buthi berusaha mengintegrasikan antara hukum Islam (fiqih), aqidah, dan sebagainya dengan sejarah kehidupan Rasulullah (sirah), ia menunjukkan bagaimana pengetahuan terkait pelajaran, prinsip, serta hukum-hukum bisa diambil dari peristiwa dalam sirah nabi
Tradisi Maritim: Upacara Sedekah Laut di Pesisir Desa Teluk, Banten, Tahun 2023
Abstract: This paper aims to explain the tradition of Sedekah Laut or Nadran practiced by the people of Teluk Village, Labuan Subdistrict, Pandeglang Regency, Banten. The maritime community\u27s belief in the ruler of the sea has been rooted from the past to the present. Tradition as a culture characterizes the locality of Indonesian society. In Java, more or less animist and dynamist cultures were influenced by Hindu-Buddhism, by the beliefs of the predecessors of Javanese society. People believe in invisible forces that can affect their lives. Coastal communities believe in the existence of sea rulers who have given them a catch of fish, so the tradition of sea alms develops as a form of gratitude for the catch given by the sea. This article uses a descriptive qualitative method with a historical approach. As a local history with oral tradition sources, primary sources were obtained through in-depth interviews with resource informants in Teluk Village, and previous research relevant to the research theme was used as secondary sources. The results show that the Sedekah Laut tradition is brought by the influence of the arrival of migrants from the coast of Java to Teluk Village. This Sedekah Laut tradition is carried out by the fishermen community and their descendants who come from Java. Normally, the implementation of Sedekah Laut is carried out annually, but due to various factors, the tradition is held annually.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tradisi sedekah laut atau Nadran yang dilakukan oleh masyarakat Desa Teluk Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Kepercayaan masyarakat maritim terhadap penguasa laut telah mengakar dari dahulu hingga saat ini. Tradisi sebagai suatu kebudayaan, menjadi ciri lokalitas masyarakat Indonesia. Di Jawa, sedikit banyaknya kebudayaan yang bermuatan animisme dan dinamisme yang dipengaruhi oleh Hindu-Budha, sesuai dengan kepercayaan pendahulu masyarakat Jawa. Sebagaimana masyarakat percaya meyakini terhadap kekuatan yang tak kasat mata, yang dapat mempengaruhi hidup mereka. Masyarakat pesisir mempercayai adanya penguasa laut yang telah memberikan mereka hasil tangkapan ikan, sehingga berkembang tradisi sedekah laut sebagai bentuk rasa syukur masyarakat pesisir atas hasil tangkapan yang diberikan oleh laut. Penulisan Artikel ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah. Sebagai kajian sejarah lokal dengan sumber tradisi lisan, sumber primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan narasumber di Desa Teluk, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan tema penelitian digunakan sebagai sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa tradisi sedekah laut merupakan tradisi yang dibawa atas pengaruh kedatangan para pendatang yang berasal dari pesisir pantai Jawa ke Desa Teluk. Tradisi sedekah laut ini dijalankan oleh masyarakat nelayan dan keturunannya yang berasal dari Jawa. Lazimnya pelaksanaan sedekah laut dilakukan setiap tahun, namun karena berbagai faktor seperti kesulitan ekonomi pada kalangan nelayan dan adanya pertentangan pendapat dari masyarakat eksternal membuat tradisi sedekah laut tidak dilaksanakan setiap tahun. Hingga saat ini tradisi sedekah laut masih tetap dilaksanakan, meskipun intensitasnya berkurang dan adanya perubahan dalam pelaksanaanya