Jurnal Universitas Tidar
Not a member yet
1097 research outputs found
Sort by
Program T-K Sebagai Upaya Preventif Penurunan Angka Diare di Desa Cibangkong-Banyumas
Desa Cibangkong merupakan salah satu desa di Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas. Salah satu penyakit tertinggi di desa tersebut adalah diare akut. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, namun sangat berkaitan erat dengan sanitasi lingkungan dan pola hidup bersih dan sehat yang diterapkan oleh masyarakat desa tersebut. Selain kondisi air yang belum layak, belum adanya regulasi pengelolaan sampah yang tetap dan merata menjadi salah satu indicator penyebab kasus diare menjadi kasus tertinggi dalam satu tahun terakhir. Kasus ini menjadi salah satu kasus penting yang tim Pengabdian Masyarakat Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Program yang dirancang adalah program terkait pengelolaan sampah yang disebut T-K (Trash Koalisi) yakni sub dari program KOALISI (Kelola Limbah dan Sanitasi). Program ini akan berfokus pada pengelolaan sampah organic dan non organic. Kelola sampah non organic menggunakan 7 titik tempat sampah yang tersebar di 7 RW serta satu tempat sampah utama yang kemudian akan dilakukan transaksi penjualan melalui media aplikasi antara warga dan juga pengepul sampah. Sementara itu, pengelolaan sampah organic dilakukan dengan penyebaran di 46 titik biopori di setiap RT yang terlebas di 7 RW. Program ini dilaksanakan dimulai dengan survei, pengenalan aplikasi, penerapan tempat sampah, dan evaluasi keberlanjutan yang melibatkan warg
Pengembangan Karakter Sadar Budaya di Purwomartani Dengan Penguatan Komunitas dan Inventarisasi Digital
Desa Purwomartani merupakan salah satu desa rintisan budaya yang berada di Kabupaten Sleman yang memiliki potensi seni budaya diantaranya, kesenian jathilan dan seni tari tradisional. Permasalahan yang dihadapi yaitu berkaitan yaitu perlunya pembinaan regenerasi kesenian jathilan terhadap anak-anak dan pengembangan potensi seni dengan pembentukan kelompok kesenian tari. Untuk mengembangkan kesenian yang ada di Purwomartani belum adanya inventarisasi potensi kesenian berbasis inovasi digital yang dilakukan secara menyeluruh. Metode yang digunakan dalam program penguatan kapasitas organisasi mahasiswa ini diantaranya dengan 1) koordinasi dengan perangkat Desa Purwomartani dan survey lokasi, 2) melakukan kolaborasi dengan stakeholder yang bersangkutan untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat Desa Purwomartani mengenai pentingnya melestarikan budaya dengan regenerasi kesenian kepada anak-anak dan pembentukan kelompok untuk pembinaan kesenian anak. Hasil dalam kegiatan ini yaitu peserta pelatihan yang didominasi anak-anak dengan rentang usia 7 tahun sampai dengan 16 tahun terlibat latihan rutin 1 minggu 2 kali sejak bulan Juni 2024. Peserta pelatihan memiliki keterampilan untuk menari tradisional, menari jathilan, dan menguasai website dalam pengelolaan kesenian yang ada di wilayah tersebut yang ditujukan untuk remaja di Desa Purwomartani. Pada pelatihan ini diharapkan memiliki generasi penerus seni tari, jathilan dan mampu mengembangkan website sebagai sarana inventarisasi kesenian digital
Integrasi Teknologi dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra untuk Meningkatkan Literasi Multikultural di SMPN 8 Muaro Jambi
The use of technology in language and literature teaching has opened up new opportunities for enhancing multicultural literacy. In the midst of globalization, understanding different cultures is crucial. Online learning platforms, interactive applications, and social media can be utilized to present literary works from different corners of the world along with their social contexts. Students can gain access through videos, podcasts, and online discussion forums, providing unique opportunities to experience cultural diversity firsthand. The integration of technology also enables collaboration between students from different backgrounds, allowing them to share experiences and perspectives that broaden their horizons. Teachers can create an inclusive and engaging learning environment using this technology, encouraging active participation in cross-cultural discussions. As a result, not only do students’ language skills improve but also their empathy and tolerance for differences are enhanced. Therefore, the right application of technology will be key to creating a generation that is sensitive to cultural diversity
Mapping the Field: A Bibliometric Literature Review of Language Attitudes in Sociolinguistic Studies: Pemetaan Bidang: Tinjauan Literatur Bibliometrik tentang Sikap Bahasa dalam Kajian Sosiolinguistik
This bibliometric study systematically maps the intellectual structure and evolution of language attitudes research within sociolinguistics using Scopus and Web of Science databases from 2005-2024, employing VOSviewer and Bibliometrix R-package for network analysis, citation mapping, and thematic clustering to reveal significant disciplinary transformation from early sociopsychological frameworks toward critical, intersectional perspectives emphasizing language ideologies, identity construction, and social justice. The analysis demonstrates explosive research growth after 2015, with translanguaging studies achieving exceptional academic impact, particularly Fang and Liu\u27s (2020) research on Chinese university contexts (151 citations, FWCI 15.00), while European institutions, led by Spanish universities, dominate heritage language education research and Asian contexts generate breakthrough empirical studies on multilingual identity construction. Keyword co-occurrence analysis identifies "language ideology," "multilingualism," and "identity" as increasingly central conceptual nodes, reflecting convergence across subfields and movement beyond purely attitudinal measurement toward socio-politically embedded understanding, with the Journal of Multilingual and Multicultural Development emerging as the premier contemporary outlet, experiencing dramatic growth to 8 publications in 2023. However, persistent gaps exist in indigenous languages, sign languages, and non-Western scholarly perspectives, indicating database bias toward English-centric scholarship, revealing distinct research ecosystems where European institutions develop theoretical frameworks while Asian institutions generate high-impact empirical studies. Future research requires addressing geographic imbalances, incorporating underrepresented linguistic contexts, and expanding methodological approaches to achieve more inclusive understanding of language attitudes in global sociolinguistic contexts, demonstrating the field\u27s evolution toward theoretically sophisticated, socio-politically aware scholarship
Analisis Nilai Pendidikan Karakter dalam novel 172 Days karya Nadzira Shafa Melalui Pendekatan Hermeneutika Paul Ricouer: Analysis of Character Education Values in the Novel \u27172 Days\u27 by Nadzira Shafa through Paul Ricoeur’s Hermeneutic Approach
This study aims to find the character education values in Nadzira Shafa\u27s novel "172 Hari" and understand how these values can impact readers using Paul Ricouer\u27s hermeneutic approach and descriptive design, the novel "172 Hari" was chosen as the subject of qualitative research. Reading and note-taking methods were used to collect information from the text. According to the results, there are fourteen character education values, which include religious, honest, responsible, tolerance, hard work, independent, disciplined, curiosity, brotherhood/communicative, democratic, creative, social care, love of peace, and respect for achievement. Religious values dominate and have a positive impact on readers, such as strengthening spiritual awareness, being an example in facing life\u27s trials, developing noble character, teaching sincerity in accepting destiny, and creating togetherness and brotherhood. It is hoped that this research can deepen the understanding of character values in the novel and contribute to the character formation of readers
Enhancing Students’ Motivation and Critical Thinking through Problem-Based Science Magazines in Ecology and Biodiversity Learning
Critical thinking and learning motivation are essential competencies for 21st-century students; however, these skills remain relatively low in science education due to teacher-centered instruction and the limited use of engaging media. To address this issue, innovative approaches that integrate effective learning models with appealing learning resources are required. This study investigates the effect of incorporating a Problem-Based Learning (PBL) science magazine on junior high school students’ learning motivation and critical thinking skills in ecology and biodiversity. A quantitative research design was applied using a pretest–posttest control group design, involving two groups of students including an experimental class that used a PBL-based science magazine and a control class that employed a discovery learning worksheet. The results of the independent sample t-test revealed statistically significant differences between the two groups. Furthermore, the N-Gain test demonstrated high effectiveness, with an N-Gain score of 0.71 for learning motivation and 0.70 for critical thinking skills. These findings suggest that the integration of PBL-based science magazines has a substantial positive impact on students’ learning motivation and critical thinking, highlighting the potential of combining innovative models and media to strengthen science learning outcomes
Impact of Remote Work Readiness and Digital Wellbeing on Work Engagement, Moderated by Generational Tech Gap
This study investigates the influence of digital wellbeing and remote work readiness on employee work engagement in micro, small, and medium enterprises (MSMEs) located in tourist destinations, while considering the moderating role of the generational tech gap. Drawing upon the Job Demands–Resources (JD-R) theory, the study surveyed 388 employees using stratified sampling and analyzed the data through Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings reveal that both digital wellbeing and remote work readiness significantly enhance work engagement. Additionally, the generational tech gap directly affects engagement but does not moderate the relationship between the independent variables and engagement. These results suggest that digital competencies and psychological health are critical across generations, although generational differences still independently matter. The study advances JD-R theory by incorporating digitally relevant constructs and offers practical implications for MSME managers to implement digital wellbeing programs and inclusive training policies. Limitations include its cross-sectional design and reliance on self-reported data. Future research should adopt longitudinal approaches and explore sectoral comparisons to deepen the understanding of digital engagement dynamics
A MULTIDIMENSIONAL ANALYSIS OF THE ECONOMIC, SOCIAL, AND ENVIRONMENTAL CONSEQUENCES OF THE DEVELOPMENT OF THE SEMARANG-DEMAK TOLL ROAD
The Semarang-Demak Toll Road was constructed as a strategic component of the Indonesian government\u27s initiatives to enhance regional connectivity and promote economic development in Central Java. Nevertheless, this endeavor not only generates intricate social and environmental consequences, but also generates economic advantages. The objective of this investigation is to identify and evaluate the social, economic, and environmental consequences of the toll road\u27s construction. The study will concentrate on social inequality, population migration, changes in settlement patterns, and environmental degradation, including erosion, inundation, and pollution. The multidimensional approach that simultaneously integrates social, economic, and environmental analysis in the context of large-scale infrastructure development is the unique feature of this study. This approach has not been comprehensively investigated in the case of the Semarang-Demak Toll Road. Quantitative and qualitative methodologies are implemented, which encompass surveys, in-depth interviews, field observations, and secondary data analysis. The research sample was purposively selected from the community, local economic actors, and policy makers along the toll corridor. The study\u27s findings suggest that while toll road construction can enhance economic development and accessibility, it also has negative repercussions, including decreased environmental quality, changes in spatial planning, and social inequality. Therefore, a mitigation strategy is required in the form of sustainable development, community involvement, and inclusive government policies to ensure that economic benefits are equitable and that social and environmental aspects are not sacrificed. This research is a significant contribution to the development of sustainable and equitable infrastructure development policies
Efektivitas Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam Permohonan Dispensasi Kawin di Pengadilan Agama Mungkid
Perkawinan merupakan suatu ikatan yang sah antara seorang laki-laki dan perempuan yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang harmonis dan sejahtera. Namun di Indoneisa, praktik perkawinan usia dini masih menjadi fenomena yang cukup tinggi, terutama di daerah-daerah tertentu. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah telah menetapkan Undang-Undang No 16 tahun 2019 Perubahan Atas Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Di dalam Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa batas usia perkawinan yang semula adalah 19 tahun bagi calon mempelai laki-laki dan 16 tahun bagi calon mempelai perempuan menjadi setara yaitu 19 tahun baik bagi calon mempelai laki-laki dan perempuan. Selanjutnya dalam pasal 7 ayat (2) disebutkan bahwa dalam hal penyimpangan terhadap ayat (1) pasal ini dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan atau Pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Perubahan batas usia perkawinan berdampak pada tingginya jumlah permohonan dispensasi kawin di pengadilan agama, termasuk di Pengadilan Agama Mungkid. Hakim di dalam memutuskan perkara permohonan dispensasi kawin harus secara bijaksana mempertimbangkan segala alasan yang diajukan beserta konsekuensi yang mungkin terjadi jika dispensasi diberikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Efektivitas Undang-Undang Nomor 16 tahun 2019 perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengajuan permohonan dispensasi kawin, serta pertimbangan hakim memberian dispensasi kawin di pengadilan agama mungkid. Metode Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan sosiologis yaitu fokus pada penerapan hukum dalam masyarakat dan dampaknya. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji keadaan sebenarnya yang terjadi di masyarakat yang bertujuan untuk mencari fakta-fakta yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengajuan permohonan dispensasi kawin di pengadilan agama mungkid adalah faktor ekonomi, pergaulan bebas, serta adanya kehamilan di luar perkawinan. Hakim di dalam memutuskan perkara permohonan dispensasi kawin harus mempertimbangkan berbagai hal seperti yang termuat di dalam PERMA RI No 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin serta “alasan mendesak” yang digunakan oleh pemohon dalam mengajukan permohonan dispensasi kawin
Uji Komparasi Simple Queue dan Queue Tree pada Manajemen Bandwidth Berbasis Mikrotik
Manajemen bandwidth merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas layanan, semakin tepat manajemen bandwidth yang diterapkan dapat meningkatkan kualitas layanan yang disediakan. Manajemen bandwidth yang tepat dapat memberikan dampak yang positif untuk berbagai pihak, baik dari jasa penyedia layanan internet hingga user yang menggunakan layanan internet. Kecepatan akses internet yang kurang stabil menjadi salah satu faktor menurunnya kualitas layanan. Manajemen bandwidth berbasis mikrotik dapat diimplementasikan pada tool queue, yang terdiri dari simple queue dan queue tree saat ini metode manajemen bandwidth yang diterapkan adalah simple queue dan metode yang akan diterapkan adalah metode Hierarchical Token Bucket (HTB) queue tree. Pengambilan data dilakukan saat aktivitas download, upload, dan streaming menggunakan wireshark sebagai network analyzer. Hasil kedua metode telah dibandingkan dengan standart parameter TIPHON untuk mengetahui manajemen bandwidth yang tepat diterapkan di jaringan terkait. Dari hasil penelitian secara keseluruhan, berdasarkan parameter QoS standart TIPHON, metode simple queue mendapatkan rata- throughput 87,5% dan metode queue tree 70,6%. Rata- rata delay simple queue 6,12ms dan queue tree dengan nilai 14,55ms. Rata-rata jitter simple queue sebesar 0,0276 ms dan queue tree sebesar 0,8461 ms. Rata-rata packet loss simple queue 2,33% dan queue tree dengan nilai 1,90%