Pusat Jurnal UIN Ar-Raniry (Universitas Islam Negeri)
Not a member yet
8916 research outputs found
Sort by
IMLEMENTASI PENETRATION TESTING PADA APLIKASI WEB SISTEM EVALUASI DATA BIDANG TIK POLDA ACEH MENGGUNAKAN METODE OWASP DAN NIST SP 800-115
AbstrakKeamanan sistem informasi merupakan aspek yang perlu diperhatikan. Keamanan informasi terdiri dari 3 aspek yaitu Kerahasiaan, Integritas, Ketersediaan maka dari itu untuk menjaga keamanan informasi tersebut perlu dilakukannya evaluasi dari suatu sistem informasi berupa pengujian penetrasi. Pengujian penetrasi ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan sitem informasi. Barkaitan dengan hal tersebut bidang teknologi Informasi dan Komunikasi Polda Aceh telah merancang sebuah sistem informasi berupa Aplikasi berbasis Web yaitu Aplikasi Web Sistem Evaluasi Data. Namun keamanan dari Aplikasi Wseb tersebut perlu diuji untuk mengevaluasi sitem keamananya, maka dari itu perlu dilakukan pengujian penetrasi pada Aplikasi Web tersebut. Pengujian penetrasi pada Aplikasi Web Sistem Evaluasi Data Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Polda Aceh ini dengan menggunakan metode Open Web Aplications Scurity Project (OWASP) dan metode National Institut Standart Technology Securely Provision 800-115 (NIST SP 800-115). Didalam proses kedua metode ini menggunakan teknik yang sama dalam Information Gathring yaitu teknik Black Box dan terdapat tahapan lainnya yaitu Vulnerabelity Scanning serta Fase Attack khusus untuk metode National Institut Standart Technology Securely Provision 800-115 (NIST SP 800-115). Dari hasil pengujian penetrasi tersebut berhasil ditemukannya beberapa kerentanan pada aplikasi web tersebut dan dijadikan pelaporan untuk meningkatkan sistem keamanan pada sistem informasi tersebut
Reframing Nusyuz in Islamic Family Law: A Maqasid-Based Reading of Ibn Asyur on Quran 4:34 and 4:128
This article examines the Quranic concept of nusyuz through Ibn Asyur’s al Tahrir wa al Tanwir and develops a maqasid oriented account for addressing marital conflict in contemporary Muslim families. The study adopts a qualitative library based method that closely reads Q 4.34 and Q 4.128 and triangulates classical fiqh writings thematic exegesis and recent scholarship on family law. The analysis shows that nusyuz is a relational breach that may be committed by either spouse and that Ibn Asyur proposes a gradual and ethically constrained sequence that begins with counsel then proceeds to separation of beds and only allows corrective action that must remain symbolic and non violent while prioritizing mediation whenever harm is likely. Reading the two verses together yields a symmetrical framework that protects dignity prevents harm and restores rights by aligning procedural steps with the objectives of justice compassion and public welfare. The article concludes that this maqasid based synthesis offers a text faithful and context sensitive basis for counseling adjudication and policy in Islamic family law and it recommends empirical evaluation in courts counseling services and community mediation to assess feasibility safeguards and effectiveness
Politics and Ideology in Qur’anic Translation: A Comparative Analysis Between the Indonesian Ministry of Religious Affairs Translation and the Hilali-Khan Translation
This study explores the ideological and cultural influences on the interpretation of Qur'anic verses through a comparative analysis of the Ministry of Religious Affairs (Kemenag) translation from Indonesia and the translation by Muhammad Taqi al-Din al-Hilali and Muhammad Muhsin Khan from Saudi Arabia. Focusing on theological, political, and gender themes, this study examines key verses addressing concepts such as tauhid (the oneness of God), awliyā’ (relations between Muslims and non-Muslims), and gender roles. The Kemenag translation reflects Indonesia's pluralistic and inclusive policies, promoting interfaith harmony, mutual respect, and gender equality. On the other hand, the Hilali-Khan translation adheres to a literal framework influenced by Wahhabi ideology, emphasizing theological exclusivity and traditional gender hierarchies. These differences highlight the impact of socio-political contexts on Qur'anic translation strategies and their implications for societal perceptions and theological discourse. Through a comparative textual and discourse analysis approach, this study demonstrates that inclusive and context-aware translations contribute to promoting justice, tolerance, and social cohesion. The findings underscore the need to balance theological fidelity with socio-political responsiveness to serve diverse Muslim societies
PENGELOLAAN KOMPONEN-KOMPONEN DARAH DI UTD PALANG MERAH INDONESIA (PMI) KOTA BANDA ACEH
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari berbagai komponen-komponen darah yang tersedia di UTD Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui beberapa ketidaknormalan yang terjadi pada plasma darah sehingga harus dimusnahkan atau tidak bisa ditransfusikan kepada pasien. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasi yang dilakukan dengan cara mengamati serta meninjau secara langsung ke lokasi penelitian untuk mengumpulkan data, data yang didapatkan kemudian dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, komponen darah yang paling banyak dikelola di UTD Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh adalah komponen PRC sebanyak 3.906 kantong, LP sebanyak 3.897 kantong dan TC sebanyak 1.361 kantong. Hal ini dikarenakan permintaan PRC dan TC lebih banyak dari pada yang lainnya. Sedangkan LP adalah komponen yang harus dimusnahkan karena beberapa ketidaknormalan sehingga tidak bisa ditransfusikan kepada pasien. Salah satu cabang Palang Merah Indonesia (PMI) terdapat di Kota Banda Aceh yang menyediakan beberapa komponen darah seperti: Whole Blood (WB), Packed Red Cell (PRC), Trombocyte Concentrate (TC), Fresh Plasma (FP), Fresh Frozen Plasma (FFP), Washed Erytrocyte (WE), Anti Haemophylic Factor (AHF), Liquid Plasma (LP), dan Tromboferesis
PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT DI PERKARANGAN RUMAH OLEH SUKU ADAT KLUET (Kajian Etnobotani)
Kajian etnobotani sangat penting dilakukan agar tidak hilang kearifan local dengan masuknya arus modernisasi Salah satu kajian etnobotani adalah penggunaan tumbuhan sebagai pengobatan. Suku Kluet merupakan salah satu sukudi Aceh Selatan, yang mendiami pesisir. Dengan keanekaragaman etnis yang ada salah satunya masyarakat Kecamatan Kluet Timur masih menggunakan obat tradisional, maka pemanfaatan sebagai obat juga semakin beranekaragam Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik survey lapangan. Tumbuhan obat yang dapat mencegah dan menyembuhkan penyakit. Jenis tumbuhan obat yang dikonsumsi berjumlah 8 jenis tumbuhan obat. Cirik Babi Adenostemma Lavenia digunakan sebagai obat batuk. Sembung Blumea balsamifera digunakan sebagai obat. Kunyit Curcuma Sp. Digunakan sebagai obat tasapo. Kelapa Cocus nucifera digunakan sebagai obat cacar. Sirsak Anonna muricata L. Digunakan untuk mengobati malaria. Tahi Ayam Chrysanthemum indicum digunakan sebagai obat sakitperut. Sirih Hijau Piper betle Linn. digunakan untuk obat katarak. Mengkudu Morindacitrifolia Buahnya digunakan sebagaiobat batu ginjal
POTENSI TANAMAN PEKARANGAN RUMAH BATTRA (Pengobat Tradisional) DESA PAYA DUA ACEH BARAT SEBAGAI OBAT PENAWAR RACUN FILUM ARTHROPODA
Tumbuhan mempunyai berbagai khasiat obat salah satunya adalah sebagai penawar racun gigitan atau sengatan hewan dari filum Arthropoda seperti kalajengking, lipan, tungau, kutu busuk, nyamuk, lebah, tawon dan lain-lain. Masyarakat Desa Paya Dua Kabupaten Aceh Barat masih memanfaatkan tanaman pekarangan untuk menanggulangi masalah tersebut. Tradisi penggunaan obat tradisional untuk penawar racun di Desa Paya Dua diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies tanaman, bagian tanaman yang digunakan dan cara pengolahan tanaman obat penawar racun terhadap serangan filum Arthropoda di pekarangan rumah battra Desa Paya Dua Aceh Barat. Penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman obat penawar racun di pekarangan rumah battra Desa Paya Dua terdapat 5 spesies, bagian tanaman yang digunakan untuk mengobati dampak gigitan/sengatan, alergi atau peradangan akibat serangan filum Arthropoda yaitu bagian getah dan biji tanaman. Cara pengolahan tanaman obat penawar racun filum Arthropoda yaitu dengan cara ditetes, digosok dan dioleskan secara langsung. Tanaman pekarangan rumah battra di Desa Paya Dua Kabupaten Aceh Barat mempunyai potensi sebagai obat penawar racun filum Arthropoda
UJI KUALITAS AIR SUNGAI DI LHOK KUALA KECAMATAN TANGSE KABUPATEN PIDIE SEBAGAI REFERENSI MATA KULIAH EKOLOGI DAN PROBLEMATIKA LINGKUNGAN
Kualitas air adalah karakteristik mutu yang diperlukan untuk pemanfaatan tertentu dari berbagai sumber air. Kriteria mutu air merupakan suatu dasar baku mutu mengenai syarat kualitas air yang dapat dimanfaatkan. Baku mutu air adalah suatu peraturan yang disiapkan oleh suatu negara atau suatu daerah yang bersangkutan. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna). Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kondisi air tetap dalam kondisi alamiahnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Purposive Sampling yaitu, pengambilan sampel secara acak di badan air. Berdasarkan hasil observasi awal titik sampling pengambilan sampel air sungai pada penelitian ini sebanyak 4 sampel yaitu 4 jerigen berukuran 1 liter yang terdapat pada 4 titik lokasi penelitian yaitu: sungai Pulo Drien yang berada di hulu, sungai, Gampong Simbe terletak di tengah yang berdekatanKata kunci: Uji Kualitas Air, Mutu Air
PENDEKATAN E-STEM PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI DI ERA METAVERSE
Setiap peserta didik dan pendidik memiliki latar belakang yang berbeda, terutama pada pengalaman dan akses mereka terhadap alam dan teknologi. Sebagai pendidik, guru harus mampu menjembatani perbedaan ini untuk membentuk peserta didik yang memiliki kedua kemampuan literasi lingkungan dan literasi teknologi. Literasi lingkungan pada seseorang ditunjukkan oleh kemampuan individu tersebut dalam memahami konsep ekologi, keadaan sosial dan isu-isu tentang lingkungan, serta mempunyai kemampuan berfikir kritis untuk memecahkan masalah lingkungan baik secara individu atau kelompok. Proses terbentuknya literasi lingkungan dipengaruhi oleh berbagai tipe pengetahuan lingkungan, sistem, dan kemampuan berfikir kritis. Environmental-STEM (E-STEM) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan literasi lingkungan dan berfikir kritis. Pelaksanaan pembelajaran E-STEM dapat dilakukan melalui penerapan model PjBL, PBL, pembelajaran inkuiri, pembelajaran Place-based, dan pembelajaran berbasis pengalaman (experiental learning). Melalui teknologi sebagai alat bantu, solusi kritis terhadap permasalahan lingkungan akan semakin bai
Teungku Inong and Digital Da'wah in Aceh: Balancing Social Media, Career, and Family through an Islamic Communication Perspective
The rise of social media has created new opportunities for female preachers in Aceh, known as Teungku Inong (female clerics), to disseminate religious teachings in broader, more inclusive, and interactive ways. This development marks a significant shift in women's roles within digital da'wah (Islamic preaching), while simultaneously presenting new challenges particularly in balancing their public responsibilities as religious leaders with their private roles within the family. This study examines the impact of social media engagement on the family life of Teungku Inong, focusing on the dynamics of their dual roles and the strategies employed to navigate the demands of both professional and domestic spheres. Utilizing a qualitative case study approach, the research centers on female clerics in North Aceh and draws on theories of social roles and Islamic communication. Data were collected through in-depth interviews and content analysis of their social media presence. The findings reveal that the ability of Teungku Inong to manage dual responsibilities is strongly supported by both emotional and technical assistance from family members, particularly husbands and siblings. Key strategies include disciplined time management, open family communication, and the adaptive use of digital tools to facilitate da'wah activities without compromising domestic obligations. Sociologically, this study highlights the essential role of family support and digital literacy in enabling female preachers to thrive in the digital era. From the perspective of Islamic communication, the emergence of female clerics utilizing social media as a medium for da'wah represents a progressive development in both the professionalization of da'wah and the evolving roles of women in Islamic discourse. These findings contribute to a deeper understanding of women's participation in digital religious spaces and the negotiation of work–family balance in socio-religious context
The Locus Standi of Heirs in Claiming Matrimonial Property (Jointly Acquired Property) After Death Among Muslims in Malaysia
The right to claim matrimonial property (jointly acquired property) is an exclusive entitlement of the husband or wife that could be pursued in the event of a divorce, polygamy, death or conversion to another religion. In cases where such claims arise following a death of either spouse, the Syariah Court has allowed heirs to continue the claim for matrimonial property on behalf of the deceased, provided that the deceased had initiated such a claim while the deceased was still alive. However, complications arise when heirs attempt to file such claims even though the deceased never pursued any claim during the deceased’s lifetime. This article explores the legal standing, or locus standi, of heirs who adduce claims on matrimonial property after the death of a relative, based on Syariah Court decisions in Malaysia. This qualitative study employed document analysis, presented descriptively through the case study methodology, involving Syariah Court proceedings. Findings indicate that, in principle, heirs, other than the husband or wife who is still living, do not automatically possess the legal standing to claim matrimonial property on behalf of the deceased, as they do in matters of inheritance under Islamic estate law, unless the deceased had explicitly delegated such authority to them. Nonetheless, it is essential to first determine why eligible parties had failed to file the claim during their lifetime. Given the absence of clear textual evidence from Islamic sources, either permitting or prohibiting such claims by heirs, and the lack of specific provisions addressing this issue in state-enacted Islamic family law, judges have exercised their discretion in varying ways when deciding these cases