Pusat Jurnal UIN Ar-Raniry (Universitas Islam Negeri)
Not a member yet
8916 research outputs found
Sort by
Cultural and Linguistic Dimensions in the Formation of Qur’anic Orthography: A Study of Rasm Variation in Early Muṣḥafs
This article explores the cultural and linguistic factors involved in the formation of Qur’anic orthography through an examination of rasm variation as preserved in the early codification tradition of the muṣḥaf. The discussion centers on two recurrent cases, namely the writing of raḥmat and raḥmah and that of al aykah and laykah, which display differing orthographic forms across several widely used muṣḥaf editions. The analysis draws on data from the Madinah, Indo Pak, Al Azhar, and Indonesian muṣḥafs issued by Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an, and is informed by classical rasm sources such as al Muqniʿ by al Dānī and Kitāb al Maṣāḥif by Ibn Abī Dāwūd. A comparative reading of these materials shows that variations in spelling, including the use of tāʾ maftūḥah and tāʾ marbūṭah as well as the alternation between hamzah qaṭʿ and hamzah waṣl, follow consistent patterns rather than occurring arbitrarily. In the case of raḥmat, orthographic choice is closely tied to syntactic position and semantic function, particularly in iḍāfah constructions. Variants of al aykah and laykah likewise reflect early scribal practices shaped by regional pronunciation, oral transmission, and the absence of fully standardized writing norms during the formative period of Qur’anic codification. These findings indicate that Qur’anic orthographic variation should be understood within the framework of the ʿUthmānī rasm as a historically situated writing system that accommodated linguistic diversity while maintaining textual stability. Orthographic plurality, in this sense, does not undermine the integrity of the Qur’anic text but instead reveals the intellectual and cultural strategies through which the early Muslim community preserved both recitation and meaning
Strategi Pemasaran Bank Aceh Syariah dalam Meningkatkan Adopsi Pembiayaan KUR di Kalangan Pelaku Usaha Rumah Makan di Kuala Simpang
Penelitia ini bertujuan untuk mengetahui (1) konsep dan prosedur pembiayaan KUR di Bank Aceh Syariah pada pelaku usaha Rumah Makan, (2) untuk mengetahui penyebab rendahnya minat Pelaku Usaha Rumah Makan terhadap pembiayaan KUR (3) dan untuk mengetahui langkah dan strategi yang diterapkan Bank Aceh Syariah Kota Kualasimpang meningkatkan minat pembiayaan KUR UMKM. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Aceh Cabang Kuala Simpang dalam memasarkan pembiayaan KUR Syariah menjumpai langsung secara tatap muka, selanjutnya menjelaskan pada calon nasabah produk pembiayaan KUR. Langkah selanjutnya melakukan verifikasi dokumen, tanda tangan pembiayaan akad dilakukan oleh Administrasi Pembiayaan (ADP). Pencairan pembiayaan KUR maksimal 3 hari setelah akad. Penyebab rendahnya minat pelaku usaha Rumah Makan terhadap pembiayaan KUR karena takut dan ragu tidak mampu membayar angsuran perbulannya, pelaku usaha rumah makan juga beranggapan bahwa melakukan pinjaman di Bank Syariah tidak jauh berbeda dengan Bank Konvensional.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) konsep dan prosedur pembiayaan KUR di Bank Aceh Syariah pada pelaku usaha Rumah Makan, (2) untuk mengetahui penyebab rendahnya minat Pelaku Usaha Rumah Makan terhadap pembiayaan KUR (3) dan untuk mengetahui langkah dan strategi yang diterapkan Bank Aceh Syariah Kota Kualasimpang meningkatkan minat pembiayaan KUR UMKM. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Aceh Cabang Kuala Simpang dalam memasarkan pembiayaan KUR Syariah menjumpai langsung secara tatap muka, selanjutnya menjelaskan pada calon nasabah produk pembiayaan KUR. Langkah selanjutnya melakukan verifikasi dokumen, tanda tangan pembiayaan akad dilakukan oleh Administrasi Pembiayaan (ADP). Pencairan pembiayaan KUR maksimal 3 hari setelah akad. Penyebab rendahnya minat pelaku usaha Rumah Makan terhadap pembiayaan KUR karena takut dan ragu tidak mampu membayar angsuran perbulannya, pelaku usaha rumah makan juga beranggapan bahwa melakukan pinjaman di Bank Syariah tidak jauh berbeda dengan Bank Konvensional
Green Waqf Sebagai Instrumen Ketahanan Pangan Berkelanjutan dalam Mewujudkan Asta Cita Indonesia 2045
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Green Waqf sebagai instrument strategis dalam memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan dan mendukung Asta Cita Indonesia 2045. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis studi literatur dan analisis kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa lahan wakaf di Indonesia memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan produktif. Secara konseptual, Green Waqf berperan memperkuat tiga dimensi utama ketahanan pangan yakni ketersediaan, aksesibilitas, dan stabilitas, serta selaras dengan prinsip maqasid al-shariah yang menekankan kemaslahatan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Integrasi Green Waqf ke dalam kerangka Asta Cita 2045 menunjukkan sinergi antara nilai keagamaan, pembangunan ekonomi hijau, dan tata kelola pangan berkelanjutan. Keberhasilan implementasi konsep ini sangat bergantung pada model kelembagaan dan tata Kelola yang kuat melalui profesionalisasi nadzir, Inovasi pembiayaan dan teknologi hijau seperti waqf-linked sukuk, serta kolaborasi lintas sektor. Dengan tata kelola yang adaptif dan dukungan kebijakan yang konsisten, Green Waqf berpotensi menjadi arus utama pembiayaan hijau nasional yang memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan Indonesia 2045 yang mandiri, inklusif, dan berkeadilan sosial.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Green Waqf sebagai instrument strategis dalam memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan dan mendukung Asta Cita Indonesia 2045. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif berbasis studi literatur dan analisis kebijakan. Hasil kajian menunjukkan bahwa lahan wakaf di Indonesia memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan produktif. Secara konseptual, Green Waqf berperan memperkuat tiga dimensi utama ketahanan pangan yakni ketersediaan, aksesibilitas, dan stabilitas, serta selaras dengan prinsip maqasid al-shariah yang menekankan kemaslahatan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Integrasi Green Waqf ke dalam kerangka Asta Cita 2045 menunjukkan sinergi antara nilai keagamaan, pembangunan ekonomi hijau, dan tata kelola pangan berkelanjutan. Keberhasilan implementasi konsep ini sangat bergantung pada model kelembagaan dan tata Kelola yang kuat melalui profesionalisasi nadzir, Inovasi pembiayaan dan teknologi hijau seperti waqf-linked sukuk, serta kolaborasi lintas sektor. Dengan tata kelola yang adaptif dan dukungan kebijakan yang konsisten, Green Waqf berpotensi menjadi arus utama pembiayaan hijau nasional yang memperkuat ketahanan pangan dan mewujudkan Indonesia 2045 yang mandiri, inklusif, dan berkeadilan sosial
KAJIAN TAKSONOMI DAN MORFOLOGI Salacca zalacca DI KAWASAN OBJEK WISATA BRAYEUNG, LEUPUNG, ACEH BESAR
Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk Salacca zalacca (salak), yang penting sebagai komoditas hortikultura. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara ilmiah karakter taksonomi dan ciri mofologi vegetatif S. zalacca yang tumbuh dikawasan objek wisata Brayeung, Leupung, Aceh Besar. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan eksplorasi lapangan, dengan analisis data deskriptif kualitatif dan pendekatan komparatif. Hasil observasi menunjukkan bahwa S. zalacca di Brayeung teridentifikasi sebagai anggota famili aracaceae (Palmae) dengan klasifikasi taksonomi sesuai literatur. Tanaman S. zalacca yang diamati pada lokasi penelitian terlihat tumbuh membentuk rumpun yang rapat dengan banyak batang yang muncul dari satu titik pangkal. Batang sejati pada tumbuhan ini tidak terlihat karena tertutup oleh pelepah daun. Pada pelepah daun terlihat adanya duri yang berwarna kecokelatan yang tersusun rapat dan mengarah ke berbagai arah. Daun tersusun menyirip dengan anak daun berbentuk lanset dan memanjang. Permukaan daun terlihat berwarna hijau mengilap. Organ generatif seperti bunga dan buah tidak ditemukan pada saat pengamatan berlangsung sehingga hanya pada bagian vegetatif yang dapat dideskripsikan.
Kata kunci: Brayeung, Morfologi, Salacca zalacca, Taksonomi, Vegetati
The Impact of Delayed Marriage due to Education and Career on Female Lecturers in Banda Aceh: A Maʿālat al-Afʿāl Perspective
This study examines the phenomenon of delayed marriage among female lecturers in Banda Aceh, particularly in Syiah Kuala District, through the perspective of maʿālat al-afʿāl (consideration of consequences). The increasing national trend of unmarried youth, with Aceh ranking second highest, underscores the relevance of this issue. The postponement of marriage is predominantly influenced by higher education attainment and career development, although psychological and structural factors also play a role. Data collected through in-depth interviews and analyzed qualitatively to identify the underlying factors of marriage delay. The findings indicate that postponing marriage for educational and career purposes generates significant positive impacts, including greater emotional, psychological, and mental maturity, financial independence, and enhanced preparedness for motherhood. Although negative effects such as psychological and social pressure, as well as potential reproductive health risks related to prolonged stress, were identified, these impacts can be mitigated through adequate support systems. Consequently, the resulting maṣlaḥah (benefit) appears to be more dominant than the potential harm. From the perspective of maʿālat al-afʿāl, delayed marriage may be viewed as an action that produces greater long-term benefits, aligning with the objectives of Islamic law (maqāṣid al-sharīʿah) in promoting maturity, well-being, and the overall welfare of individuals and families
Etos Kerja Berbasis Agama dan Budaya Pada Komunitas Pedagang Pidie
This study aims to examine how Islamic teachings and local Pidie cultural traditions shape the work ethic of merchants and to clarify the mechanisms that connect religious motivation with culturally embedded practices. A phenomenological approach was used through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The informants consisted of merchants of various scales who have longstanding experience in the trading sector. The findings show that the work ethic of Pidie merchants emerges from the integration of Islamic values that encourage honesty, discipline, and responsibility with cultural values that emphasize hard work, independence, social honor, and the tradition of migration. These two sets of values interact as a unified mechanism that strengthens diligence, integrity, and economic resilience. The study concludes that the work ethic of Pidie merchants is grounded not only in religious teachings but also in cultural values that are lived and transmitted within the community. The integration of these values generates a resilient and productive pattern of work that is closely linked to social honor and moral responsibility. The findings affirm that the work ethic of Muslim communities should be understood as the result of a continuous interaction between religious belief and cultural experience within daily economic life.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana nilai Islam dan budaya lokal Pidie membentuk pola etos kerja pedagang serta menjelaskan mekanisme yang menghubungkan motivasi religius dengan praktik budaya yang terinternalisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologis dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Informan terdiri dari pedagang berskala besar, menengah, dan kecil yang telah lama berpengalaman dalam dunia perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja pedagang Pidie muncul dari perpaduan nilai Islam yang mendorong kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab dengan nilai budaya yang menekankan kerja keras, kemandirian, kehormatan sosial, dan tradisi merantau. Keduanya membentuk satu mekanisme yang bekerja bersamaan dalam membangun ketekunan, integritas, dan daya saing ekonomi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa etos kerja pedagang Pidie tidak hanya berakar pada ajaran agama tetapi juga pada nilai budaya yang hidup dan diwariskan dalam komunitas. Integrasi keduanya menciptakan pola kerja yang tangguh, produktif, dan berorientasi pada kehormatan sosial serta tanggung jawab moral. Temuan ini menegaskan bahwa etos kerja masyarakat Muslim perlu dipahami sebagai hasil dari interaksi berkelanjutan antara keyakinan religius dan pengalaman budaya dalam kehidupan ekonomi sehari-hari
KELIMPAHAN JENIS COELEMBOLA DI KAWASAN GEOTERMAL KOTA SABANG
Collembola merupakan dekomposer yang berperan dalam menguraikan materi organik dari sarasah atau berperan dalam daur materi. Collembola hidup dengan memangsa bahan organik, bakteri, jamur, protozoa, dan nematoda. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis Coellembola yang terdapat di Kawasan Geotermal Kota Sabang. Penelitian ini di laksanakan pada bulan Mei 2025 di Jaboi, Kota Sabang. Rancangan penelitian menggunakan metode Jelajah dengan Teknik observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pada lokasi 2 Coellembola dari Famili Isotomidae (Subisotoma sp.) yang ditemukan pada jebakan ternaung dan terdedah, dan terdapat pada lokasi 5 Coellembola dalam dua jenis yaitu, Entomobrya nivalis dan Seminthurus viridis. Penelitian ini memberikan wawasan mengenai kelimpahan jenis Coellembola di Kawasan Geotermal Kota Sabang. Temuan ini menekankan pentingnya konservasi tumbuhan tiang sebagai bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati di daerah tersebut.
Kata kunci: Kelimpahan, Collembol
Konseling Komunitas Sebagai Sarana Penguatan Dukungan Sosial Bagi Siswa di SMA Istiqamah Bandung
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran konseling komunitas dalam memperkuat dukungan sosial bagi siswa di SMA Istiqamah Bandung. Dengan meningkatnya tantangan yang dihadapi siswa, seperti tekanan akademik dan masalah interpersonal, dukungan sosial yang kuat menjadi sangat penting. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melibatkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap siswa, guru, dan konselor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program konseling komunitas secara signifikan meningkatkan dukungan sosial di antara siswa, yang berdampak positif pada kesejahteraan emosional dan prestasi akademik mereka. Sebanyak 85% siswa melaporkan peningkatan hubungan sosial dengan teman sebaya dan guru setelah mengikuti program ini. Selain itu, terdapat penurunan tingkat kecemasan dan stres di kalangan siswa yang terlibat dalam konseling, serta peningkatan rata-rata nilai akademik sebesar 20%. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi konseling komunitas dalam sistem pendidikan untuk mendukung perkembangan positif siswa. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan lebih lanjut dari program konseling komunitas di sekolah sebagai strategi untuk meningkatkan dukungan sosial dan kesejahteraan siswa.Kata kunci : konseling komunitas, dukungan sosial, kognitif sosial
Strategies to Strengthen Islamic Character through Islamic Education Learning Based on Artificial Intelligence
The development of digital technology, especially in the field of artificial intelligence (AI), has created new opportunities to improve the quality of Islamic Religious Education (PAI) learning. One important opportunity in the use of AI for PAI learning is strengthening students’ Islamic character. This study aims to formulate AI-based PAI learning strategies to instill Islamic values such as honesty (ṣidq), faith (īmān), responsibility (amānah), and social attention (khidmah). The method used in this study is qualitative through a literature review approach based on various academic sources that discuss the use of AI in education and the formation of Islamic character. The data were analyzed descriptively to identify the forms, strategies, and implications of AI integration in PAI learning activities. The results of the literature review indicate that AI can support the development of learning media and learning services in PAI, including AI-assisted presentations and visual materials as well as AI-supported learning interactions. The use of AI-based media enables teachers to deliver Islamic moral and spiritual values through presentations, infographics, visual narratives, and reflective videos that are more engaging and easier for students to understand. In addition, AI has the potential to facilitate learning that is more adaptive and can be adjusted to students’ needs and characteristics. In conclusion, integrating AI in PAI learning, particularly to support the development of learning media and adaptive learning experiences, has the potential to strengthen students’ Islamic character. At the same time, implementation still requires adequate infrastructure and stakeholder readiness so that AI functions as a supportive tool and does not replace moral guidance in Islamic education
An Analysis of the Justice of Faraid Law in Relation to the Concept of Qiwamah in the Sustainability of the Muslim Family Institution
The contemporary movements of Liberalism and Feminism are increasingly challenging the Islamic law of faraid. They claim that there is gender discrimination in the distribution of inheritance, particularly in Surah al-Nisa, verse 11, which allocates a portion for men that is twice that of women. These movements are further strengthened by Sustainable Development Goal 5, which advocates for gender equality. Therefore, this study aims to critically analyze whether gender discrimination exists in the faraid law by examining the concept of household leadership (qiwamah) in sustaining the Muslim family institution. Through a qualitative approach, this study employs content analysis of classical and contemporary fiqh books, academic journal articles, contemporary fatwas, and authoritative online sources. The findings of this study show that when the concept of qiwamah is understood in a holistic context, the faraid law is just and capable of fostering the sustainability of the Muslim family institution. Hence, this study proposes a multi-dimensional approach in understanding and implementing the concept of qiwamah in the contemporary context, such as comprehensive education on rights and responsibilities in Islam, and dialogue between Islamic scholars and women’s rights activists to achieve better mutual understanding