UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
    13083 research outputs found

    Gerakan RW peduli stunting: masyarakat sehat, anak hebat

    Get PDF
    Abstrak Desa Lebak Wangi merupakan salah satu yang menjadi salah satu lokus percepatan penurunan stunting. Berdasarkan hasil wawancara awal dan observasi lapangan di RW.007, Desa Lebak Wangi, Kec. Sepatan Timur, Kab. Tangerang (lokasi mitra), ditemukan sejumlah permasalahan terkait stunting meliputi, minimnya pengetahuan kader maupun ibu balita terkait pencegahan stunting, kurangnya kesadaran & kehadiran ibu balita ke posyandu, sarana posyandu & akses informasi terkait stunting terbatas, minimnya pengelolaan data balita atau tidak tersedia alat bantu pencatatan dan pelaporan untuk penyimpanan data pihak internal khususnya di RW.007, Desa Lebak Wangi, Kec. Sepatan Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan kader mengenai pencegahan stunting melalui “Gerakan RW Peduli Stunting”. Adapun metode kegiatan ini diawali dengan sosialisasi penyamaan persepsi bersama ketua RW dan perwakilan kader RW 007, kemudian pembentukan tim RW “stunting corner”, pelatihan berupa edukasi literasi gizi serta pelatihan kader dalam deteksi dini stunting mencakup pengukuran antropometri, pencatatan dan pemantauan balita menggunakan form elektronik berupa kobotoolbox, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan dan evaluasi kegiatan. Adapun tim kader yang dilatih sebanyak 28 orang selaku tim RW Peduli Stunting di Desa Lebak Wangi. Hasil pelatihan kader menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan dan keterampilan kader dari 66,84% sebelum pelatihan menjadi 94,71% setelah pelatihan. Keberadaan Stunting Corner di balai warga serta form pemantauan digital menjadi pusat informasi yang mudah diakses masyarakat dan mendukung kader dalam menyampaikan pesan kesehatan secara lebih efektif. Kata kunci: gerakan RW; peduli stunting; stunting corner; Desa Lebak Wangi Abstract Lebak Wangi Village is one of the designated loci for accelerating stunting reduction. Based on preliminary interviews and field observations in RW.007, Lebak Wangi Village, Sepatan Timur District, Tangerang Regency (partner location), several issues related to stunting were identified, including limited knowledge among cadres and mothers of toddlers regarding stunting prevention, low awareness and attendance of mothers at the posyandu (integrated health post), limited posyandu facilities and access to information related to stunting, as well as inadequate management of toddler data or the absence of recording and reporting tools for internal data storage, particularly in RW.007, Lebak Wangi Village, Sepatan Timur District. This activity aims to improve the knowledge and skills of community health cadres in stunting prevention through the “RW Cares about Stunting Movement” (Gerakan RW Peduli Stunting). The methods include an initial socialization and perception alignment session with the RW leader and RW 007 cadre representatives, followed by the formation of the RW “Stunting Corner” team, and training sessions on nutrition literacy education and early stunting detection. The training covers anthropometric measurement, toddler recording and monitoring using an electronic form via KoboToolbox, and is followed by mentoring and activity evaluation. A total of 28 cadres were trained as members of the RW Cares about Stunting team in Lebak Wangi Village. The results of the cadre training showed an increase in the average knowledge and skills of cadres from 66.84% before training to 94.71% after training. The establishment of the Stunting Corner at the community hall, along with the use of a digital monitoring form, has created an easily accessible information center for residents and supported cadres in delivering health messages more effectively. Keywords: community harmony movement; caring for stunting; stunting corner; Lebak Wangi Villag

    Pencegahan stroke dengan intervensi edukasi dan screening resiko stroke pada lansia di Kampung Skow Sae Distrik Muara Tami Jayapura Papua

    Get PDF
    Abstrak Kemunduran fungsi organ pada lansia dapat meningkatkan faktor resiko terhadap beberapa masalah kesehatan salah satunya adalah stroke. Data Puskesmas Skow menunjukkan bahwa di Kampung Skow Sae terdapat 1 kasus stroke pada lansia, 25 kasus hipertensi, 10 kasus diabetes melitus, dan 20 kasus kolesterol tinggi pada kelompok usia lanjut. Selain itu, sekitar 38% lansia di Kampung Skow Sae tidak rutin menghadiri kegiatan Posyandu Lansia, sehingga pemantauan faktor risiko dan edukasi kesehatan tidak berlangsung optimal. Kader lansia juga melaporkan bahwa informasi mengenai stroke serta pemeriksaan risiko stroke belum pernah dilakukan di Posyandu Lansia. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang penyakit stroke dan melakukan screening resiko stroke pada lansia. Metode kegiatan mencakup 2 kegiatan yakni: (1) Pemberian edukasi berupa penyuluhan interaktif; dan (2) Melakukan screening risiko stroke dengan menggunakan The Stroke Risk Score Card (SRSC) yakni instrument hasil pengembangan model deteksi risiko stroke oleh National Stroke Association. Kegiatan dilaksanakanpada tanggayl 21 Maret 2025 dan melibatkan 28 lansia sebagai peserta. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan kuasioner untuk menilai perubahan pengetahuan dan The Stroke Risk Score Card (SRSC) untuk menilai tingkat risiko stroke pada peserta. Hasil kegaiatan menunjukan peningkatan pengetahuan lansia dengan hasil  mean pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi/penyuluhan  (23,93 dan 56,43) dengan peningkatan 136%.  Hasil screening 10,8% lansia dengan risiko tinggi stroke, 32,1% risiko sedang stroke dan 57,1% dengan risiko rendah stroke. Kegiatan ini dapat dilakukan berkelanjutan untuk menurunkan faktor risiko stroke, sehingga kejadian stroke bisa dicegah dan menurunkan disabilitas serta mortalitas akibat stroke. Implikasinya, diperlukan penguatan edukasi kesehatan, pemantauan rutin faktor risiko, serta rujukan dan tata laksana cepat bagi lansia berisiko tinggi melalui kolaborasi antara PKM, kader, dan keluarga. Kata kunci: pengabdian; lansia; resiko stroke; Stroke Risk Score Card (SRSC)   Abstract Declining organ function in older adults increases the risk of various health problems, one of which is stroke. Data from the Skow Community Health Center (Puskesmas Skow) show that in Skow Sae Village there is 1 case of stroke in an older adult, 25 cases of hypertension, 10 cases of diabetes mellitus, and 20 cases of hypercholesterolemia in the elderly population. In addition, about 38% of older adults in Skow Sae Village do not regularly attend the Posyandu Lansia (integrated health post for the elderly), resulting in suboptimal monitoring of risk factors and health education. Elderly cadres also reported that information regarding stroke and stroke risk assessment has never been provided at the Posyandu Lansia. This community service activity aimed to increase older adults’ knowledge about stroke and to conduct stroke risk screening among them. The methods consisted of two activities: (1) providing education through interactive health counseling, and (2) conducting stroke risk screening using the Stroke Risk Score Card (SRSC), an instrument developed by the National Stroke Association for stroke risk detection. The activity was carried out on March 21, 2025 and involved 28 older adults as participants. Evaluation was conducted using a questionnaire to assess changes in knowledge and the SRSC to determine the level of stroke risk among participants. The results showed an increase in knowledge, with mean scores before and after education/counseling of 23.93 and 56.43, respectively, representing a 136% improvement. Screening results showed that 10.8% of older adults had a high risk of stroke, 32.1% had a moderate risk, and 57.1% had a low risk of stroke. This activity can be continued sustainably to reduce stroke risk factors, thereby preventing stroke events and reducing disability and mortality due to stroke. The implications highlight the need to strengthen health education, routinely monitor risk factors, and ensure prompt referral and management for high-risk older adults through collaboration between the health center, community health cadres, and families. Keywords: devotion; elderly; stroke risk; Stroke Risk Score Card (SRSC)

    Peningkatan kesadaran skincare palsu, ilegal dan berbahaya pada remaja sekolah di SMA YP UNILA sebagai upaya menuju Regenera-CARE (Remaja Gen Z Pintar Skincare)

    Get PDF
    AbstrakRemaja merupakan kelompok yang rentan terhadap pengaruh promosi produk perawatan kulit yang belum tentu aman dan berizin. Kurangnya pengetahuan serta sikap kritis terhadap penggunaan skincare dapat menimbulkan risiko kesehatan kulit dan paparan bahan berbahaya. Program Regenera-CARE (Remaja Gen Z Pintar Skincare) dilaksanakan di SMA YP UNILA Bandar Lampung dengan tujuan meningkatkan sikap remaja mengenai pemilihan produk perawatan kulit yang aman. Kegiatan pengabdian ini melibatkan 39 peserta (18 laki-laki dan 21 perempuan) yang mengikuti edukasi kesehatan melalui metode ceramah interaktif dan diskusi. Instrumen pre-test dan post-test berupa kuesioner sikap terdiri dari 15 pernyataan skala Likert (1–4) dengan reverse scoring pada butir negatif digunakan untuk mengevaluasi peningkatan setelah edukasi. Hasil menunjukkan bahwa pada peserta laki-laki rata-rata skor sikap pre-test sebesar 3,34 ± 0,35 dan post-test 3,28 ± 0,35, sedangkan pada peserta perempuan meningkat dari 3,41 ± 0,39 menjadi 3,49 ± 0,24. Proporsi sikap kategori “Baik” meningkat dari 67% menjadi 78% pada laki-laki, dan dari 76% menjadi 81% pada perempuan. Uji statistik (paired t-test dan independent t-test) menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antar waktu maupun antar jenis kelamin (p>0,05). Meskipun demikian, terjadi perbaikan kecenderungan sikap positif terhadap penggunaan skincare aman setelah intervensi edukatif. Program Regenera-CARE terbukti efektif meningkatkan kesadaran dan sikap remaja terhadap pemilihan produk skincare yang aman, serta dapat diadaptasi sebagai model edukasi kesehatan berbasis sekolah untuk mendorong perilaku perawatan kulit yang sehat dan bertanggung jawab. Kata kunci: edukasi kesehatan; remaja; skincare; sikap; Regenera-CARE. AbstractAdolescents are a vulnerable group to the influence of skincare product promotions that are not always safe or officially registered. Limited knowledge and a lack of critical attitudes toward skincare use can pose risks to skin health and exposure to harmful ingredients. The Regenera-CARE (Generation Z Smart Skincare) program was implemented at YP UNILA Senior High School in Bandar Lampung to improve adolescents’ knowledge and attitudes toward the safe use of skincare products. This community program involved 39 participants (18 males and 21 females) who took part in health education delivered through interactive lectures and discussions. A pre-test and post-test questionnaire consisting of 15 Likert-scale statements (1–4) with reverse scoring on negative items was used to evaluate changes following the education session. The results showed that the mean attitude score for male participants was 3.34 ± 0.35 at pre-test and 3.28 ± 0.35 at post-test, while for female participants it increased from 3.41 ± 0.39 to 3.49 ± 0.24. The proportion of participants categorized as having a “Good” attitude increased from 67% to 78% among males and from 76% to 81% among females. Statistical analysis using paired t-test and independent t-test indicated no significant differences between time points or genders (p>0.05). Nevertheless, there was a positive trend in attitude improvement toward safe skincare use following the educational intervention. The Regenera-CARE program proved effective in enhancing adolescents’ awareness and attitudes toward safe skincare choices and could be adapted as a school-based health education model to promote responsible and healthy skincare behavior. Keywords: health education; adolescents; skincare; attitude; Regenera-CARE

    Upaya pencegahan stunting sejak dini dengan mengoptimalkan pengasuhan 1000 hari pertama kehidupan di TPMB Sitti Hasrah Ibrahim Kota Makassar

    Get PDF
    Abstrak Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Kondisi ini ditandai dengan tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya akibat kekurangan gizi kronis. Periode yang paling kritis, yaitu 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang stunting dan pemberian makanan bergizi di TPMB ST. Hasrah Ibrahim Kota Makassar. Pengabdian ini dilakukan dengan 5 tahapan yaitu tahap sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, evaluasi dan berkelanjutan program. Evaluasi kegiatan adalah dengan membagikan soal pre dan post tes pada ibu hamil, sebanyak 5 nomor. Hasil kegiatan ini adalah melakukan edukasi pada ibu hamil tentang stunting dan pemberian makanan bergizi dengan peserta 25 orang yang mengikuti edukasi dan pemberian makanan bergizi, sebelum dilakukan edukasi data menunjukkan bahwa pengetahuan stunting 42,9%, namun setelah edukasi mengalami peningkatan menjadi 88 %, sehingga peningkatannya sebesar 45,1% yang sudah mengetahui tentang stunting. Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan suatu program sesuai dengan tujuan yang di harapkan. Kata kunci: stunting; sejak dini; 1000 HPK. Abstract Stunting is a serious public health problem in Indonesia. This condition is characterized by a child's height being below the standard for their age due to chronic malnutrition. The most critical period, namely the First 1000 Days of Life (HPK), begins from pregnancy until the child is two years old. This activity aims to increase the knowledge of pregnant women about stunting and the provision of nutritious food at TPMB ST. Hasrah Ibrahim Makassar City. This service is carried out in 5 stages: socialization, training, technology implementation, evaluation and program sustainability. The evaluation of the activity is by distributing pre- and post-test questions to pregnant women, totaling 5 numbers. The result of this activity is educating pregnant women about stunting and the provision of nutritious food with 25 participants who participated in the education and provision of nutritious food, before the education data showed that knowledge of stunting was 42.9%, but after the education it increased to 88%, so that the increase was 45.1% who already knew about stunting. This increase reflects the success of a program in accordance with the expected goals.. Keywords: stunting; early; 1000 HPK

    Pelatihan perhitungan ilmu waris (faraidh) pada komunitas Yayasan Salam Insaniyah

    Get PDF
    Abstrak Ilmu waris (faraidh) islam merupakan ilmu yang sangat penting khususnya untuk umat muslim. Penerapan ilmu waris islam pada kehidupan sehari hari merupakan bentuk taat pada syariat islam. Namun kenyataannya, umat muslim Indonesia tidak banyak yang memahami terkait ilmu waris (faraidh) islam sehingga ada beberapa kasus yang menerapkan pembagian waris berdasar hukum waris lainnya seperti hukum adat ataupun hukum negara. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat muslim Indonesia terkait ilmu waris (faraidh). Kegiatan pengabdian dilaksanakan menjadi tiga sesi yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Pelaksanaan pengabdian dilaksankaan pada tanggal 2 November 2023 dengan jumlah peserta 38. Hasil dari pelaksanakan kegiatan pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai ilmu waris (faraidh) pada peserta (Komunitas Yayasan Salam Insaniyah). Kata kunci: waris; faraidh; hukum islam. Abstract The science of Islamic inheritance (faraidh) is a very important science, especially for Muslims. The application of Islamic inheritance knowledge in daily life is a form of obeying Islamic law. But in reality, not many Indonesian Muslims understand the science of inheritance (faraidh) of Islam so that there are several cases that apply inheritance distribution based on other inheritance laws such as customary law or state law. This service activity was carried out with the aim of increasing the understanding and awareness of the Indonesian Muslim community regarding the science of inheritance (faraidh). The service activity was carried out in three sessions, namely preparation, implementation and evaluation. The implementation of the service was carried out on 2 November 2023 with 38 participants. The results of the implementation of the service activities showed an increased understanding of the science of inheritance (faraidh) in the participants (Community of Yayasan Salam Insaniyah). Keywords: inheritance; faraidh; islamic law

    Pengenalan Budaya Sulawesi Selatan dalam Kegiatan Modul Nusantara Pada Program PMM (Pertukaran Mahasiswa Merdeka) Batch 4

    Get PDF
    AbstrakIndonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman ras, suku, agama, serta budaya. Generasi muda yang lebih menyukai budaya barat terlihat lebih gaul daripada budaya kita sendiri, merupakan salah satu permasalahan pengenalan budaya. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mengembangkan kurikulum dan keterampilan non-teknis. Kerja sama antar perguruan tinggi dapat mengurangi disparitas kualitas yang signifikan antar perguruan tinggi di Indonesia. Program MBKM merupakan kebijakan pemerintah bertujuan memiliki pengalaman belajar lintas kampus. Kampus Merdeka merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang memberikan kebijakan perguruan tinggi untuk memberikan kebebasan kepada Mahasiswa/i untuk mencari pengalaman belajar di luar program studinya. Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) merupakan sebuah program pertukaran mahasiswa/i belajar di perguruan tinggi lain untuk mendapatkan pengalaman belajar di perguruan tinggi terbaik di seluruh Indonesia. Modul Nusantara menjadi salah satu mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa/i yang mengikuti program PMM. Subjek atau sasaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat, yaitu mahasiswa/i PMM Angkatan 4 sebanyak 16.250 mahasiswa/i. Kegiatan Modul Nusantara terdiri dari kegiatan kebhinekaan, refleksi, inpirasi, dan kontribusi sosial. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji kegiatan Modul Nusantara, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa/i mengenai pengenalan budaya Sulawesi Selatan dalam Meningkatkan toleransi budaya. Metode pelaksanaan kegiatan Modul Nusantara melalui pendampingan oleh Dosen Modul Nusantara (DMN) dan Liaison Officer (LO). Adapun hasil kegiatan dicapai, sebagai berikut: kunjungan ke tempat obyek wisata sejarah dan peribadatan, pemutaran film khas Kota Makassar, kajian naskah kuno, menelusuri sejarah dan peninggalan Raja-Raja Gowa, kuliner nusantara, dan eksplorasi budaya dan kunjungan ke berbagai obyek wisata. Kata kunci: kegiatan; budaya; kebhinekaan; mahasiswa/i; dan modul nusantara. AbstractIndonesia is known as a country rich in racial, ethnic, religious, and cultural diversity. Cooperation between universities can reduce the significant disparity in quality between universities in Indonesia. The MBKM program is a government policy that provides universities with the freedom to study at universities. The Independent Student Exchange Program (PMM) is a student exchange program for students studying at other universities in Indonesia. The Nusantara Module is one of the compulsory courses for students participating in the PMM program. Nationally, the participants of the PMM Batch 4 Program were 16,250 students. The Nusantara Module activities consisted of diversity activities, reflection, inspiration, and social contribution. This study aims to examine the Nusantara Module Activities, which are expected to increase students' understanding of the Introduction to South Sulawesi Culture. Community Service uses qualitative descriptive research. The Nusantara Module activities were accompanied by the Nusantara Module Lecturer (DMN) and Liaison Officer (LO). The results of the implementation are as follows: visits to historical and religious tourist attractions, screening of films typical of Makassar City, study of ancient manuscripts, exploring the history and heritage of the Kings of Gowa, Indonesian culinary, and cultural exploration and visits to various tourist attractions. Keywords: activities; culture; diversity; students; and nusantara module

    Sosialisasi energi listrik alternatif dari limbah panas buangan menggunakan Teknologi Thermoelectric Generator (TEG)

    Get PDF
    Abstrak Permasalahan rendahnya pemanfaatan energi panas buangan pada kegiatan pertanian masih menjadi kendala bagi petani di Desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hal ini berdampak pada keterbatasan akses energi alternatif di tingkat rumah tangga. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan solusi melalui pelatihan dan penerapan teknologi Thermoelectric Generator (TEG) pada kelompok tani. Mitra sasaran adalah Kelompok Tani Lestari dengan jumlah peserta aktif sebanyak 25 orang. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pelatihan pembuatan dan penerapan TEG, praktik langsung, serta pendampingan berkelanjutan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test, post-test, dan wawancara untuk menilai peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta manfaat yang dirasakan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan. Nilai rata-rata pre-test 62,06 meningkat menjadi 79,84 pada rata-rata post-test. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 17,78 poin. Peserta menyatakan bahwa teknologi ini mudah diterapkan, membantu mengurangi pemborosan energi, serta memiliki potensi replikasi pada skala rumah tangga lain. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan efisiensi energi di sektor pertanian dan membuka peluang pengembangan teknologi sederhana berbasis sumber daya lokal. Kata kunci: pengabdian; energi alternatif; thermoelectric generator; efisiensi energi; kelompok tani. Abstract The problem of low utilization of waste heat energy in agricultural activities remains an obstacle for farmers in Patakbanteng Village, Kejajar District, Wonosobo Regency. This has an impact on limited access to alternative energy at the household level. This community service activity aims to provide solutions through training and application of Thermoelectric Generator (TEG) technology to farmer groups. The target partner is the Lestari Farmers Group with 25 active participants. The methods used include socialization, training in the manufacture and application of TEG, direct practice, and ongoing mentoring. Evaluation was carried out through pre-tests, post-tests, and interviews to assess the increase in knowledge, skills, and perceived benefits. The results showed an increase in participants' understanding after the training. The average pre-test score of 62.06 increased to 79.84 on the post-test, representing a 17.78 point increase. Participants stated that this technology is easy to apply, helps reduce energy waste, and has the potential for replication at other household scales. Thus, this activity has succeeded in making a real contribution to increasing energy efficiency in the agricultural sector and opening up opportunities for the development of simple technologies based on local resources. Keywords: devotion; alternative energy; thermoelectric generator; energy efficiency; farmer groups

    Eksistensi Tradisi Betangas Pra Pernikahan Masyarakat di Desa Lawang Agung Kecamatan Rupit Kabupaten Muratara

    Get PDF
    Tradisi betangas merupakan ritual mandi uap tradisional yang dijalankan oleh masyarakat Desa Lawang Agung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara, khususnya dalam rangkaian pra pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses pelaksanaan, makna simbolik, serta eksistensi sosial-spiritual tradisi betangas dalam konteks modernitas. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi partisipatif, data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh adat, calon pengantin, serta masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa betangas bukan hanya bentuk pembersihan fisik, tetapi juga ritual penyucian batin yang menandai kesiapan spiritual calon pengantin. Selain sebagai simbol transisi menuju kehidupan rumah tangga, tradisi ini memperkuat identitas budaya dan mempererat hubungan sosial dalam komunitas. Di tengah arus globalisasi, betangas tetap eksis sebagai bentuk resistensi budaya dan mekanisme transmisi nilai-nilai lokal. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi betangas sebagai warisan budaya yang hidup, dan merekomendasikan integrasinya dalam pendidikan budaya lokal melalui kebijakan pemerintah dan peran aktif tokoh adat.Betangas is a traditional steam-bathing ritual practiced by the community of Lawang Agung Village, Rupit District, North Musi Rawas Regency, particularly as part of pre-wedding ceremonies. This study aims to describe the implementation process, symbolic meaning, and the socio-spiritual existence of the betangas tradition within the context of modern society. Employing a descriptive qualitative approach with participatory ethnographic methods, data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation with cultural elders, prospective brides/grooms, and local residents. The findings reveal that betangas is not merely a physical cleansing practice, but a sacred ritual representing inner purification and spiritual readiness for marriage. Beyond marking a transition into married life, the ritual reinforces cultural identity and strengthens community cohesion. Amidst globalization, betangas endures as a symbol of cultural resistance and a vehicle for transmitting indigenous values. This study highlights the significance of preserving betangas as a living cultural heritage and recommends its integration into local cultural education through governmental policy and the active role of traditional leaders.

    Integration of magnus thermodynamic parameters and machine learning algorithms in rainfall prediction

    Get PDF
    Atmospheric physics is very useful in predicting rainfall, particularly for analyzing air saturation conditions as a prerequisite for condensation. This study aims to model rainfall prediction using thermodynamic parameters, namely relative humidity (RH) and dew point temperature difference (ΔT). These parameters were collected from BMKG Lampung meteorological data (2022–2024) and processed using the Magnus equation. ΔT is important as a sensitive indicator of air unsaturation. The data were statistically analyzed and modeled using a Gradient Boosting Classifier. The results obtained indicate a strong correlation between RH and ΔT and rainfall events (point-biserial correlation of 0.475). Furthermore, ΔT during rainfall is lower (average 2.87°C) and stable, indicating near-saturation conditions. During the evaluation stage, the model achieved 76% accuracy and 84% recall during rainfall. The model's good performance proves the effectiveness of physical parameters as predictive features. Finally, the model was implemented in a Flask-based web application for practical accessibility

    Development of a basic physics practical guide with PhET interactive simulation on the topic of kinematics and dynamics

    Get PDF
    Due to the lack of practical tools for supporting Basic Physics lecture activities, lecturers have turned to PhET Interactive Simulations. However, there is currently no guide to help lecturers and students conduct practical activities using these simulations. This research aimed to develop a guidebook for Basic Physics practicum activities utilizing PhET, evaluated by experts and small-scale users for feasibility. The research followed Borg and Gall’s R&D model, consisting of: (1) data collection, (2) planning, (3) product development, (4) product validation, (5) product revision, and (6) product trials. Data were gathered through observation, interviews, and questionnaires. Product validation was carried out by three experts—one each in material, media, and language. A small-scale product trial involved five randomly-selected students from the 2024/2025 Academic Year. Validation and trial data were analyzed by comparing scores to the maximum possible per question. The resulting product was a basic physics practicum guide using PhET for kinematics and dynamics. Expert validation indicated: (1) very worthy (3.88) by the material expert; (2) worthy (3.12) by the media expert; and (3) very worthy (3.80) by the language expert. The small-scale trial produced an average feasibility score of 3.33. Further research should include large-scale trials of the guide

    12,181

    full texts

    13,083

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇