UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
13083 research outputs found
Sort by
LITERASI CILIK: PENDAMPINGAN BACA TULIS ANAK DESA MARGODADI
ABSTRAK Literasi dasar, khususnya membaca dan menulis, merupakan fondasi penting bagi perkembangan akademik dan sosial anak. Namun, anak-anak di Desa Margodadi masih menghadapi kendala, seperti rendahnya penguasaan huruf, kesulitan membaca kalimat sederhana, serta keterbatasan dalam menulis dengan ejaan yang benar. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan literasi dasar anak melalui strategi pembelajaran kreatif dan menyenangkan. Kegiatan dilaksanakan dalam empat tahapan. Pertama, persiapan, yang meliputi koordinasi dengan pihak desa dan orang tua siswa, identifikasi kebutuhan, serta penyusunan perangkat pembelajaran. Kedua, implementasi, dilakukan selama dua belas kali pertemuan dengan pendekatan belajar sambil bermain melalui media kartu huruf, permainan kata, dan komik edukatif. Ketiga, monitoring dan evaluasi, dilakukan secara berkala untuk menilai perkembangan keterampilan membaca dan menulis siswa melalui observasi, tes sederhana, serta analisis hasil belajar. Keempat, pelaporan, yaitu penyusunan hasil kegiatan dan rekomendasi tindak lanjut. Peserta program terdiri atas sebelas siswa (1 siswa TK, 7 siswa kelas II, dan 3 siswa kelas III). Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan: anak TK yang semula belum mengenal huruf mampu mengenali hampir seluruh alfabet dan mulai mengeja; sebagian besar siswa kelas II sudah lancar membaca kalimat sederhana dan mulai menulis dengan ejaan benar; sementara siswa kelas III semakin terampil menulis kalimat dengan struktur yang lebih baik. Nilai membaca berada pada rentang 76–95 dengan rata-rata 85,1, sedangkan nilai menulis pada rentang 72–90 dengan rata-rata 82,5. Sebanyak 82% siswa berada pada kategori baik hingga sangat baik. Dengan demikian, program PKM literasi ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan membaca dan menulis dasar anak sekaligus menumbuhkan motivasi serta rasa percaya diri. Kata kunci: Literasi Anak; Membaca; Menulis; Pendampingan ABSTRACTBasic literacy, particularly reading and writing, is a crucial foundation for children’s academic and social development. However, children in Margodadi Village still face several challenges, such as limited mastery of letters, difficulties in reading simple sentences, and constraints in writing with correct spelling. This Community Service Program (PKM) aims to improve children’s basic literacy skills through creative and enjoyable learning strategies. The activities were carried out in four stages. First, preparation, which included coordination with the village authorities and parents, needs identification, and the development of learning tools. Second, implementation, conducted over twelve meetings using a learning-by-playing approach through letter cards, word games, and educational comics. Third, monitoring and evaluation, conducted regularly to assess students’ reading and writing progress through observation, simple tests, and analysis of learning outcomes. Fourth, reporting, which involved compiling the results of the program and providing recommendations for follow-up actions. The program participants consisted of eleven students (1 kindergarten student, 7 second graders, and 3 third graders). The results showed significant improvement: the kindergarten student who previously did not recognize letters was able to identify almost the entire alphabet and began spelling; most second graders became fluent in reading simple sentences and started writing with correct spelling; while third graders showed greater ability in writing sentences with better structure. Reading scores ranged from 76 to 95 with an average of 85.1, while writing scores ranged from 72 to 90 with an average of 82.5. A total of 82% of students fell into the good to very good categories. Thus, this PKM literacy program proved effective in improving children’s basic reading and writing skills while also fostering motivation and self-confidence. Keywords: Children's Literacy; Reading; Writing; Assistanc
PELATIHAN BRANDING PERTANIAN ORGANIK PADA KELOMPOK KUB MAJU BERSAMA NAGARI KAMANG TANGAH ANAM SUKU
ABSTRAK Pertanian organik memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah produk dan kesejahteraan petani, namun keterbatasan pengetahuan terkait branding, pengemasan, dan manajemen usaha masih menjadi kendala. Mitra kegiatan adalah Kelompok Usaha Bersama (KUB) Maju Bersama Nagari Kamang Tangah Anam Suku yang beranggotakan 20 orang. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas keterampilan kelompok dalam merancang identitas produk, mengembangkan strategi branding, dan memanfaatkan teknologi digital untuk promosi. Kegiatan dilaksanakan pada Juli–Agustus 2025 melalui ceramah, diskusi, workshop, praktikum pengemasan, dan simulasi desain produk. Evaluasi dilakukan dengan observasi terhadap lima indikator utama, yaitu pemahaman branding, keterlibatan pembuatan kemasan, kemampuan penggunaan logo dan label, motivasi mengemas produk dengan baik, serta kemampuan menjelaskan keunggulan produk. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman tentang pentingnya branding peserta sebesar 75% dan keterampilan teknis sebesar 68% dalam desain kemasan serta produksi pupuk organik padat, pupuk cair, ecoenzym, ZPT Trichoderma, POC Jakaba, dan PSB. Kegiatan ini berkontribusi terhadap penguatan soft skill dan hard skill anggota kelompok serta keberlanjutan usaha pertanian organik di tingkat desa. Kata kunci: pertanian organik; branding produk; pengemasan; manajemen usaha ABSTRACTOrganic farming has significant potential to increase product value and improve farmers’ welfare; however, limited knowledge of branding, packaging, and business management remains a major constraint. The partner of this program was the Kelompok Usaha Bersama (KUB) Maju Bersama of Nagari Kamang Tangah Anam Suku, consisting of 20 members. The aim of this activity was to enhance the group’s skill capacity in designing product identity, developing branding strategies, and utilizing digital technology for promotion. The program was conducted in July–August 2025 through lectures, discussions, workshops, packaging practices, and product design simulations. Evaluation was carried out through observation based on five key indicators: understanding of branding, involvement in packaging, ability to use logos and labels, motivation to package products properly, and ability to explain product advantages. The results indicated a 75% increase in participants’ understanding of branding and a 68% improvement in technical skills in packaging design and the production of solid organic fertilizer, liquid fertilizer, eco-enzyme, Trichoderma-based PGR, Jakaba liquid organic fertilizer, and photosynthetic bacteria. This program contributed to strengthening members’ soft and hard skills as well as the sustainability of organic farming enterprises at the village level. Keywords: organic farming; product branding; packaging; business managemen
Implementasi Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Anti-Bullying di Lingkungan Perguruan Tinggi
Bullying di lingkungan perguruan tinggi merupakan persoalan serius yang memerlukan pendekatan berbasis nilai keagamaan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan membentuk karakter anti-bullying mahasiswa melalui implementasi Pendidikan Agama Islam. Metode pelaksanaan meliputi seminar, pelatihan karakter Islami, mentoring, dan konseling. Mitra kegiatan adalah mahasiswa PGMI Fakultas Agama Islam sebanyak 55 orang. Evaluasi dilakukan melalui observasi, angket, dan diskusi reflektif. Hasil menunjukkan bahwa 78% peserta mengalami peningkatan kesadaran, empati, dan sikap anti-bullying. Program ini membuktikan bahwa pendekatan Islami efektif dalam membentuk karakter mahasiswa yang berakhlak dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bullying in higher education is a serious issue that requires an approach based on religious values. This community service activity aims to build anti-bullying character among students through the implementation of Islamic Religious Education. The methods used include seminars, Islamic character training, mentoring, and counseling. The partners in this activity are 55 PGMI students from the Faculty of Islamic Studies. Evaluation was conducted through observation, questionnaires, and reflective discussions. The results showed that 78% of participants experienced an increase in awareness, empathy, and anti-bullying attitudes. This program demonstrates that an Islamic approach is effective in shaping students' character to be morally upright and uphold humanistic values
Sosialisasi Mitigasi Bencana Banjir di SDN 2 Bagik Papan Pringgabaya, Lombok Timur
Flood disasters are one of the most serious threats in Indonesia, requiring early preparedness, including among children. A flood disaster mitigation awareness activity was conducted at SDN 2 Bagik Papan Pringgabaya, East Lombok, on November 23, 2024, to enhance students' understanding of floods' causes, impacts, and mitigation strategies. The methods included a pretest, delivery of interactive materials, discussion sessions, and a posttest. The evaluation results showed an average score increase of 20%, from 60.60% in the pretest to 86.90% in the posttest. This improvement indicates that participatory-based educational approaches effectively increase students' knowledge. Furthermore, the interactive methods encouraged active student engagement in learning, which may strengthen their preparedness for flood-related risks. These findings highlight the importance of disaster education from an early age within the school environment as a means to build a disaster-aware culture. The students' enthusiasm and the appreciation expressed by the school community demonstrate that this activity effectively improved students’ disaster preparedness. Similar programs are recommended to be continued and expanded to reach a broader community audience in disaster mitigation education.Key word: disaster mitigation; flood; disaster education; elementary schoolAbstrakBencana banjir merupakan salah satu ancaman serius di Indonesia yang memerlukan kesiapsiagaan sejak dini, termasuk pada anak-anak. Kegiatan sosialisasi mitigasi bencana banjir ini dilaksanakan di SDN 2 Bagik Papan Pringgabaya, Lombok Timur, pada 23 November 2024, dengan tujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai penyebab, dampak, dan langkah mitigasi bencana banjir. Metode kegiatan meliputi pretest, penyampaian materi interaktif, diskusi, serta posttest. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan skor rata-rata sebesar 20%, dari 60,60% pada pretest menjadi 86,90% pada posttest. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi berbasis partisipatif efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Selain itu, metode interaktif yang digunakan mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar, yang dapat memperkuat kesiapsiagaan mereka terhadap risiko banjir. Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi kebencanaan sejak dini di lingkungan sekolah sebagai upaya membangun budaya sadar bencana. Antusiasme siswa dan apresiasi dari pihak sekolah menunjukkan bahwa kegiatan ini efektif meningkatkan kesiapsiagaan siswa terhadap bencana banjir. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperluas jangkauan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat luas.Kata kunci: mitigasi bencana; banjir; edukasi kebencanaan; sekolah dasar Sejarah artikel: Dikirim: 29, April 2025; Revisi: 07, Juli 2025; Diterima: 10, Juli 2025, Dipublikaasikan: 11, Juli 2025 Kutip/Cite artikel ini: BibTeX|EndNote | RIS | MLA/APA/Chicago/Harvard/Vancouver 1. PendahuluanIndonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi di dunia, di antaranya gempa bumi, letusan gunung berapi, tanah longsor, tsunami, dan banjir (Silalahi, 2025). Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi, dengan lebih dari 10.000 kejadian tercatat sepanjang periode 1815 hingga 2019 (Aksa et al., 2021). Tingginya frekuensi kejadian banjir di Indonesia disebabkan oleh kombinasi faktor geografis, perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan dan kurangnya pengelolaan sampah (Asrul et al., 2025).Banjir tidak hanya mengakibatkan kerugian fisik dan material, tetapi juga menimbulkan dampak psikososial bagi masyarakat terdampak. Anak-anak termasuk dalam kelompok paling rentan terhadap risiko bencana (Wirdatul et al., 2025). Kerentanan ini berkaitan dengan keterbatasan kapasitas kognitif dan emosional anak dalam memahami risiko dan bertindak secara efektif dalam situasi darurat (Lestari et al., 2023). Oleh karena itu, penting untuk membangun budaya sadar bencana melalui edukasi kesiapsiagaan sejak usia dini.Mitigasi bencana, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, didefinisikan sebagai upaya sistematis untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik, penguatan kapasitas masyarakat, maupun penyadaran public (Rida, 2022). Pendekatan mitigasi berbasis pendidikan sangat penting untuk menginternalisasi nilai-nilai keselamatan kepada anak-anak di lingkungan sekolah. Berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pendidikan tentang pengurangan risiko bencana menjadi bagian dari hak anak atas perlindungan dan pengembangan diri (Anisah & Sumarni, 2019).Pendidikan mitigasi bencana pada anak sekolah memiliki beberapa manfaat strategis, antara lain meningkatkan kesiapsiagaan individu, mempercepat penyebaran informasi ke lingkungan keluarga, dan membangun komunitas yang lebih resilien terhadap bencana (Anisah & Sumarni, 2019). Selain itu, pendekatan pembelajaran interaktif dan berbasis partisipasi, seperti simulasi evakuasi dan diskusi kelompok, terbukti lebih efektif dibandingkan metode ceramah konvensional dalam meningkatkan pemahaman anak tentang risiko bencana (Mahliza et al., 2025).Dalam konteks mitigasi banjir, pemahaman siswa tentang penyebab banjir seperti curah hujan ekstrem, buruknya sistem drainase, dan kerusakan daerah resapan air perlu ditingkatkan. Selain itu, siswa juga perlu dibekali dengan strategi praktis menghadapi banjir, seperti mengenali rute evakuasi, menyiapkan tas siaga, dan memahami pentingnya tidak membuang sampah sembarangan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, dilakukan kegiatan sosialisasi mitigasi bencana banjir di SDN 2 Bagik Papan Pringgabaya, Lombok Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi tentang penyebab, dampak, serta langkah-langkah mitigasi bencana banjir kepada siswa sekolah dasar, dengan pendekatan partisipatif dan interaktif. Diharapkan melalui kegiatan ini, siswa dapat menjadi agen perubahan dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan keluarga dan masyarakat.2. MetodeKegiatan dilaksanakan pada 23 November 2024 di SDN 2 Bagik Papan Pringgabaya, Lombok Timur.Adapun tahapan metode kegiatan sebagai berikut: Pra-Kegiatan: Survei lokasi, koordinasi dengan sekolah, penyusunan materi sosialisasi, persiapan leaflet, spanduk, serta penyusunan soal pretest dan posttest. Pelaksanaan: Kegiatan diawali dengan pretest untuk mengukur pengetahuan awal siswa, dilanjutkan dengan penyampaian materi interaktif mengenai penyebab banjir, langkah pencegahan, dan strategi evakuasi. Sesi diakhiri dengan diskusi dan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa. Pasca-Kegiatan: Evaluasi hasil pretest dan posttest serta pengumpulan umpan balik dari siswa dan pihak sekolah. Siswa kelas 4 hingga 6 dipilih sebagai sasaran kegiatan karena dinilai memiliki kemampuan memahami materi dengan baik.3. Hasil dan PembahasanKegiatan sosialisasi mitigasi bencana banjir dilaksanakan pada tanggal 23 November 2024 di SDN 2 Bagik Papan Pringgabaya, Lombok Timur, dengan melibatkan siswa kelas 4 hingga 6 sebagai peserta. Kegiatan dimulai pukul 08.00 WITA, diawali dengan pretest untuk mengukur tingkat pengetahuan awal siswa terkait mitigasi banjir.Materi edukasi disampaikan secara interaktif melalui media visual seperti leaflet, spanduk, serta simulasi sederhana. Materi mencakup definisi banjir, faktor penyebab, dampak yang ditimbulkan, langkah pencegahan, dan prosedur evakuasi saat bencana terjadi. Dalam sesi penyampaian materi, siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan secara aktif. Beberapa siswa menunjukkan pemahaman yang baik melalui jawaban yang tepat terhadap pertanyaan yang diajukan.Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai pretest siswa adalah 60,60%, sedangkan rata-rata nilai posttest meningkat menjadi 86,90%. Terjadi peningkatan skor rata-rata sebesar 20,3%, yang mencerminkan keberhasilan sosialisasi dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai mitigasi bencana banjir.Peningkatan skor dari pretest ke posttest menunjukkan efektivitas pendekatan edukasi yang digunakan. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk sikap positif terhadap kesiapsiagaan bencana. Hal ini sejalan dengan penelitian Rosida dan Adi (2017) yang menyatakan bahwa pendidikan kesiapsiagaan bencana kepada anak-anak dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menghadapi risiko secara lebih terstruktur dan tenang (Faizin et al., 2025; Rosyida & Adi, 2017). Gambar 1. Foto-foto kegiatan sosialisasi mitigasi bencana banjirMenurut Susiati (2025), metode pembelajaran yang melibatkan partisipasi aktif siswa lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman tentang risiko bencana dibandingkan metode ceramah satu arah (Susiati et al., 2025).Dukungan dari pihak sekolah juga menjadi faktor penting dalam kesuksesan kegiatan. Pihak sekolah memberikan fasilitas ruangan, memobilisasi siswa, serta turut memberikan apresiasi terhadap upaya edukasi mitigasi bencana ini. Kerjasama dengan pihak sekolah mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif.Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga mendorong siswa untuk menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Anak-anak yang memahami pentingnya mitigasi banjir diharapkan dapat menularkan pengetahuan tersebut kepada orang tua dan komunitas sekitar, sehingga memperluas jangkauan dampak positif kegiatan ini. Namun demikian, untuk ke depan perlu dikembangkan pendekatan yang lebih praktis, seperti simulasi evakuasi skala kecil, pembuatan tas siaga bencana, atau demonstrasi langsung mengenai tindakan darurat saat banjir, guna memperkuat keterampilan siswa dalam menghadapi situasi nyata.Hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa sebesar 20,3%. Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran interaktif, termasuk penyampaian visual, diskusi, dan pemberian reward, berhasil meningkatkan pemahaman siswa. Peningkatan tersebut juga mencerminkan pentingnya penyajian materi yang disesuaikan dengan kemampuan kognitif anak usia sekolah dasar. Metode edukasi yang digunakan dalam kegiatan ini telah terbukti meningkatkan atensi dan retensi informasi, terutama ketika siswa dilibatkan secara aktif.Selain itu, keterlibatan guru dan pihak sekolah dalam kegiatan ini memperkuat efektivitas program, karena siswa merasa didukung oleh lingkungan belajar mereka. Temuan ini selaras dengan pendekatan pendidikan berbasis komunitas, di mana partisipasi berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan edukasi kebencanaan. Studi oleh UNDRR (2015) juga menegaskan bahwa keterlibatan komunitas sekolah dapat memperkuat resiliensi terhadap bencana. Oleh karena itu, keberhasilan program ini dapat dijadikan model untuk pelaksanaan kegiatan serupa di sekolah lain, khususnya di daerah rawan bencana.4. Simpulan dan SaranKegiatan sosialisasi mitigasi bencana banjir di SDN 2 Bagik Papan Pringgabaya berhasil meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi bencana banjir. Peningkatan skor posttest sebesar 20% mencerminkan efektivitas metode edukasi interaktif yang digunakan. Perlu dilakukan sosialisasi lanjutan dan perluasan sasaran kegiatan ke lebih banyak sekolah di daerah rawan banjir. Pengembangan metode edukasi dengan pendekatan simulasi langsung juga direkomendasikan agar siswa memiliki pengalaman praktis menghadapi situasi darurat
Pelatihan Pembuatan Minyak Angin Aromaterapi Pada Ibu-Ibu PKK Desa Sindon Kabupaten Boyolali
Aromatherapy oil is an oil that has properties that improve mental and physical health. Aromatherapy oil is derived from essential oils extracted from plants. Products containing aromatherapy can improve health, such as body relaxation, refreshing the mind, improving mood, and helping cure diseases physiologically. Women's Empowerment and Family Welfare Association in Sindon, Boyolali. The training on making aromatherapy oil aims to improve knowledge and skills about making aromatherapy oil. This activity is also expected to be a new business opportunity that has the potential to be developed and contribute to improving public health. The target partners in the Community Service activities are the women of Sindon, Boyolali. The outputs are in the form of aromatherapy wind oil products, knowledge about the use of products and their marketing opportunities, and in the form of service journals. This service activity is carried out in several stages: preparation and implementation. The preparation stage includes the procurement of tools and materials and trials of making aromatherapy for training. Implementation includes counseling activities, training, and mentoring in making aromatherapy oil. Finally, ongoing mentoring for making aromatherapy oil. Key word: aromatherapy oil; Training; Women's empowerment; family welfare associationAbstrakMinyak angin aromaterapi adalah minyak yang mempunyai khasiat meningkatkan kesehatan psikis dan fisik. Minyak angin aromaterapi menggunakan bahan baku utama yang berasal dari minyak essential yang diekstrak dari tumbuhan. Produk yang mengandung aromaterapi dapat berfungsi untuk meningkatkan kesehatan seperti untuk relaksasi tubuh, menyegarkan pikiran, meperbaiki mood¸ dan mampu membantu penyembuhan penyakit secara fisiologis. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu PKK (pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga) desa Sindon, Boyolali. Pelatihan pembuatan minyak angin aromaterapi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam rangka pemberdayaan anggota PKK dalam membuat minyak angin aromaterapi. Kegiatan ini juga diharapakan mampu menjadi peluang usaha baru yang cukup potensial untuk dikembangkan, serta memberikan sumbangsih dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Mitra target pada kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat adalah ibu-ibu PKK desa Sindon, Boyolali. Luaran berupa produk minyak angin aromaterapi, pengetahuan tentang guna produk dan peluang pemasarannya, serta berupa jurnal pengabdian. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini dilakukan dalam beberapa tahapan yakni tahap persiapan dan pelaksanaan. Tahap persiapan yang meliputi pengadaan alat dan bahan, serta trial percobaan pembuatan aromaterapi yang akan digunakan dalam pelatihan. Pelaksanaan meliputi kegiatan penyuluhan, pelatihan dan pendampingan pembuatan minyak angin aromaterapi. Terakhir pendampingan secara berkelanjutan terhadap pembuatan minyak angin aromaterapi.Kata kunci: minyak angin; aromaterapi; pelatihan; ibu PKK 1. PendahuluanMencapai masyarakat yang sejahtera di berbagai sektor adalah tujuan utama dalam pembangunan sosial. Tujuan tersebut harus diwujudkan melalui berbagai upaya dan dengan mendorong partisipasi aktif dari semua elemen masyarakat. Namun, pencapaian ini bukanlah hal yang mudah, terutama di masyarakat yang masih menghadapi tantangan, seperti ketimpangan peran antar warganya. Salah satu faktor yang diduga menyebabkan hal ini adalah masih terbatasnya peran wanita, terutama ibu rumah tangga, yang merupakan bagian penting dalam suatu kelompok masyarakat (Parmadi & Widodo, 2021).Pemberdayaan perempuan dalam sektor ekonomi merupakan salah satu indikator peningkatan kesejahteraan. Ketika perempuan mendapatkan pendidikan, memiliki hak atas kepemilikan, serta bebas untuk bekerja di luar rumah dan memiliki pendapatan sendiri, hal ini menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan dalam rumah tangga. Selain itu, perempuan juga berperan penting dalam upaya mengatasi kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat dan kelompok. Contohnya, perempuan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya dengan menjalankan usaha produktif di rumah (Makrufi & Aliza, 2018). Pemberdayaan ibu-ibu PKK sebagai bagian dari masyarakat dan kelompok tenaga kerja produktif sangatlah penting. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemandirian dalam berusaha, sekaligus memperluas kesempatan kerja guna menambah pendapatan keluarga, sehingga dapat mewujudkan keluarga yang sejahtera dan bahagia. Dalam upaya untuk membina dan mengembangkan potensi keluarga serta daerah, hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan alternatif (VH & Susilowati, 2016). PKK adalah salah satu organisasi perempuan yang ada di Desa Sindon, Kecamatan Ngamplak, Kabupaten Boyolali. Latar belakang pendidikan para ibu PKK ini bervariasi, mulai dari lulusan SLTA hingga perguruan tinggi, dan sebagian besar berperan sebagai ibu rumah tangga (Devianti, 2011). Meskipun mereka menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan, kebutuhan sehari-hari terus meningkat, memaksa adanya pengeluaran yang lebih besar. Namun, diyakini bahwa para ibu ini memiliki banyak potensi dan kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan keterampilan dan motivasi kepada kelompok ini, terutama ibu-ibu rumah tangga, untuk menciptakan produk rumahan seperti minyak angin aromaterapi (Kamil et al., 2023). Produk-produk ini tidak hanya dapat dijual dengan harga yang lebih terjangkau, tetapi juga dapat menjadi peluang usaha yang potensial, membantu meningkatkan pendapatan keluarga serta mendorong kemandirian ekonomi di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Pembinaan ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu PKK dalam berbagai aspek kehidupan keluarga. Pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan peran mereka, membantu memenuhi kebutuhan keluarga, Selain itu, keterampilan ini bisa menjadi modal untuk membuka usaha yang pada akhirnya akan membantu meningkatkan pendapatan keluarga.2. Metode2. 1 Mitra PKM (Kelompok Ibu Rumah Tangga)Mitra PKM adalah kelompok Ibu Ibu Rumah Tangga yang tergabung dalam kelompok PKK di Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, berperan sebagai peserta penyuluhan dan pelatihan, yang nantinya diharapkan akan menjadi kelompok pengusaha berskala rumah tangga. Mitra tersebut adalah berjumlah 30 orang. Pada pelaksanaan PKM ini diharapkan menjadi kelompok produsen minyak angin aromaterapi. Pelatihan dan penyuluhan dilaksanakan di Balai Desa Sindon, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali pada pukul 16.00 WIB2. 2 Permasalahan MitraPermasalahan yang dihadapi Mitra adalah jenis kegiatan dan aktivitas warga yang cukup tinggi serta banyak bekerja di tempat umum, sehingga membutuhkan minyak angin aromaterapi yang digunakan di sela-sela aktivitas maupun di saat beristirahat.2. 3 Pemecahan Permasalahan MitraPemecahan permasalahan mitra menggunakan metode pendekatan dengan melakukan penyuluhan dan pelatihan. Target Mitra adalah kelompok Ibu Ibu Rumah Tangga yang tergabung dalam kelompok PKK di Dusun Sindon, Ngemplak berperan sebagai peserta penyuluhan dan pelatihan, yang nantinya diharapkan menjadi kelompok produsen minyak angin aromaterapi. Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut:Peserta PPM diberikan pengetahuan tentang manfaat minyak angin aromaterapi untuk kesehatan.Peserta akan diberikan informasi mengenai alat dan bahan untuk pembuatan minyak angin aromaterapi.Peserta diberikan pelatihan tentang bagaimana cara membuat sediaan minyak angin aromaterapi.Peserta diberikan informasi mengenai jenis kemasan yang sesuai untuk minyak angin aromaterapi beserta contoh desain stiker kemasannya agar lebih menarik3. Hasil dan PembahasanKegiatan pengabdian diawali dengan komunikasi dengan pihak kecamatan Ngemplak dan Kepala Desa Sindon sebagai mitra pengabdian. Sebelum kegiatan pengabdian dilaksanakan di masyarakat Desa Sindon terlebih dahulu dilakukan orientasi untuk mendapatkan formula yang optimal dalam pembuatan sediaan minyak angin aromaterapi sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan baik fisik maupun psikologi. Sediaan yang akan dibuat berupa minyak angin aroma terapi dalam bentuk roll on dengan berbagai jenis aroma yang berasal dari minyak esensial yang berbeda-beda. Aroma minyak esensial yang digunakan meliputi aroma citrus, lavender dan peppermint.Tahapan dalam demo pembuatan minyak angin aromaterapi. Disiapkan bahan baku dan bahan tambahan serta alat-alat yang diperlukan untuk pembuatan Alat yang digunakan adalah beaker glass, batang pengaduk, waterbath, pot salep, cawan penguap. Bahan yang digunakan adalah metil salisilat (2,5 gram), camphor (12,5 gram), menthol (15 gram), VCO, oleum menthae (2 ml), Oleum citrus (2 ml) dan VCO. Tahapan pembuatan minyak angin aromaterapi dengan cara Menthol dan camphor digerus dalam mortar, kemudian menambahkan VCO, oleum menthae, dan oleum citrus kemudian aduk hingga homogen. Selanjutnya menambahkan metilsalisilat dan diaduk hingga homogen dan masukkan dalam wadah (Terlihat pada Gambar 1).Gambar 1. (a) Penjelasan pembuatan dan manfaat minyak angin aromaterapi dan (b) Proses pembuatan minyak angin aromaterapi.Kegiatan pelatihan pembuatan minyak aroma terapi untuk ibu – ibu rumah tangga di desa Sindon Kecamatan Ngemplak dilakukan dengan metode ceramah dan demo langsung terkait cara pembuatan, pemberian informasi terkait fungsi masing-masing komponen bahan dan cara pembuatanya. Pemberian materi menjelaskan tentang pengetahuan tentang minyak aroma terapi, praktek proses pembuatan miyak aroma terapi serta inovasi sebagai peluang wirausaha. Peralatan yang digunakan adalah brosur yang berisi tentang minyak aroma terapi. Dari kegiatan, ibu – ibu dangat antusias mendengarkan dan dilihat dari pertanyaan yang diajukan. Pada kegiatan demonstrasi, tim melakukan peragaan kepada peserta kegiatan pengabdian pada masyarakat tentang proses pembuatan minyak angin aromaterapi. Dalam demonstrasi ini peserta juga berperan aktif melakukan kegiatan. Hasil pembutana aroma terapi terlihat pada Gambar 2.Gambar 2. Hasil pembuatan minyak angin aromaterapi yang telah dilakukan oleh ibu-ibu PKK Desa Sindon Kabupaten Boyolali.Penyimpanan obat yang tidak sesuai dapat menimbulkan kerugian seperti tidak dapat mempertahankan mutu dari sediaan obat (Khairani et al., 2021). Penyimpanan merupakan proses penting dalam penggunaan obat oleh masyarakat. Pengelolaan dan penyimpanan obat tidak hanya dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan namun juga setelah dikonsumsi oleh pasien atau masyarakat. Penyimpanan obat perlu dilakukan di tempat yang aman dan terhindar dari gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat dengan memperhatikan tanggal kadaluarsa obat (Afqary et al., 2018).Aromaterapi adalah bentuk pengobatan alternatif yang menggunakan minyak esensial hasil ekstraksi dari tanaman (Hakim et al., 2019). Minyak esensial ini memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, seperti membantu meredakan stres, memberikan relaksasi, mengatur emosi, mengatasi insomnia, dan kecemasan, serta meningkatkan kekebalan tubuh, sistem pernapasan, dan sirkulasi darah. Aromaterapi dapat memberikan rasa tenang dan nyaman bagi penggunanya (Irmawati, 2024).Menghirup minyak esensial lebih efektif jika menggunakan uap dari minyak yang dicampur dengan air panas atau melalui kain yang sudah direndam minyak esensial (Ahmad et al., 2024). Uap minyak ini dihirup langsung melalui hidung dan mulut. Keunggulan penggunaan aromaterapi melalui inhalasi adalah metode ini tidak memengaruhi saluran pencernaan, terutama jika sasaran utamanya adalah saluran pernapasan atau paru-paru. Selain itu, Saat melakukan pijat aromaterapi, penting untuk memilih minyak esensial yang tepat (Puspita, 2023). Teknik pijatan dan jenis aromaterapi yang dipilih akan sangat memengaruhi hasil terapi yang diperoleh (Tuti & Widyawati, 2018).Metil salisilat merupakan senyawa alami yang dihasilkan dari tumbuhan dan diisolasi dari Ilex chinensis Sims. Zat ini berperan sebagai komponen aktif untuk meredakan nyeri. Selain umum digunakan sebagai analgesik, beberapa penelitian juga mengindikasikan bahwa metil salisilat dapat membantu meningkatkan penyerapan transdermal bahan aktif lainnya (Wang et al., 2021). Penelitian yang dilakukan (Wang et al., 2021) sebelumnya telah mengungkapkan bahwa zat-zat seperti borneol, kamper, mentol, dan beberapa minyak esensial, secara signifikan dapat meningkatkan penyerapan obat melalui kulit, serupa dengan agen peningkat penetrasi yang digunakan dalam sistem pengiriman transdermal modern.4. Simpulan dan SaranDari hasil kegiatan pengabdian nyuluhan pembuatan minyak angin aromaterapi dapat disimpulkan bahwa kegiatan berjalan dengan lancar dan peserta berperan aktif dalam pelatihan tersebut. Melalui pelatihan pembuatan minyak angin aromaterapi pada ibu-ibu PKK diharapkan mampu meningkatkan pendapatan keluarga.5. Ucapan Terima Kasih Kami ucapkan terimakasih kepada Prodi S1 Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi di Kota Surakarta dan Fakultas Farmasi, Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri di Sidoarjo, Jawa Timur yang telah berperan dalam terselenggaranya kegiatan pengabdian ini.
Membangun Kesadaran Etika dan Moral Melalui Sosialisasi Anty Bullying di SDN Serewa Lombok Tengah
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah bentuk pengabdian siswa kepada masyarakat, yang memberikan kesempatan untuk menangani masalah sosial, termasuk bullying di Sekolah Dasar (SDN Serewa). Bullying merupakan masalah serius yang berdampak negatif bagi korban, pelaku, dan saksi, menghambat perkembangan psikologis, sosial, dan akademis anak-anak. Program sosialisasi anti-bullying di Desa serewe bertujuan untuk mengedukasi anak-anak SDN serewa tentang definisi, bentuk, dan dampak bullying, serta pentingnya menghargai orang lain agar tidak ada lagi kata menyakiti dan mencaci maki atas perilaku teman dalam lingkungan sekolah atau lingkungan masyrakat. Melalui ceramah, permainan interaktif, dan simulasi serta melihat video tentang Bullying, yang disesuaikan dengan usia anak-anak, serta keterlibatan guru dan orang tua, program ini diharapkan menciptakan perubahan positif dalam kesadaran dan etika moral perilaku siswa SDN serewa. Hasilnya diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bebas dari intimidasi, serta menjadi model untuk program serupa di sekolah-sekolah dasar lainnya jadilah temanku dan stop bullying
Meneguhkan Kepribadian Muhammadiyah: Identitas, Konsistensi, dan Adaptasi Gerakan Islam Progresif
Abstract: This study analyzes the strategy of strengthening Muhammadiyah's identity as a progressive Islamic movement amidst internal and external challenges, including fragmentation of cadre understanding, digital disruption, and competition of religious narratives. Using a qualitative approach based on literature review, data was collected from scientific literature in the last ten years that is relevant to the theme of Muhammadiyah's personality, consistency, and adaptation. The results of the analysis show that Muhammadiyah's personality is built on pure monotheism, the spirit of tajdid, and contextual Manhaj Tarjih. Although Muhammadiyah shows strong ideological consistency through AUM and Ortom, an adaptation strategy is still needed to be relevant to the millennial generation and global dynamics. This study recommends strengthening digital da'wah, interdisciplinary research, and cultural diplomacy as part of a progressive Islamic strategy. These findings provide theoretical and practical contributions to the development of modern Islamic organizations that are able to maintain their identity while innovating.Abstrak: Penelitian ini menganalisis strategi peneguhan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam progresif di tengah tantangan internal dan eksternal, termasuk fragmentasi pemahaman kader, disrupsi digital, dan kompetisi narasi keagamaan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan, data dikumpulkan dari literatur ilmiah dalam sepuluh tahun terakhir yang relevan dengan tema kepribadian, konsistensi, dan adaptasi Muhammadiyah. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kepribadian Muhammadiyah dibangun di atas tauhid murni, semangat tajdid, dan Manhaj Tarjih yang kontekstual. Meskipun Muhammadiyah menunjukkan konsistensi ideologis yang kuat melalui AUM dan Ortom, tetap dibutuhkan adaptasi strategis agar relevan dengan generasi milenial dan dinamika global. Penelitian ini merekomendasikan penguatan dakwah digital, riset interdisipliner, dan diplomasi kultural sebagai bagian dari strategi Islam berkemajuan. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi pengembangan organisasi Islam modern yang mampu menjaga identitas sambil berinovasi.
IMPLEMENTASI PROGRAM QUR’ANIC VILLAGE DALAM MEMBENTUK KARAKTER ISLAMI SISWA DI MADRASAH AL-HASANAH DESA SINDANGLAYA
ABSTRAKMadrasah Al-Hasanah menghadapi tantangan dalam pembinaan karakter Islami siswa, khususnya dalam literasi Qur’ani dan integrasi nilai agama dalam kegiatan belajar sehari-hari. Pengabdian masyarakat ini bertujuan mengimplementasikan Program Qur’anic Village untuk meningkatkan literasi Qur’ani, menumbuhkan karakter Islami, dan mengoptimalkan peran madrasah sebagai pusat pembinaan nilai Qur’ani. Program dilaksanakan selama satu bulan melalui tahapan koordinasi, perencanaan, implementasi, hingga monitoring dan evaluasi, dengan melibatkan mitra kegiatan yaitu Belmawa (Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan), PKM Ormawa, Madrasah Al-Hasanah, tokoh masyarakat, serta Universitas Muhammadiyah Bandung. Subjek program adalah siswa madrasah berusia 7–10 tahun sebanyak 24 orang, didampingi 6 guru dan tokoh masyarakat setempat. Evaluasi dilakukan melalui observasi, lembar penilaian keterampilan Qur’ani, serta dokumentasi kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan dalam karakter Islami siswa. Sebagian besar siswa menunjukkan konsistensi dalam membaca Al-Qur’an, perilaku sopan santun, serta kepedulian sosial. Respons guru, siswa, dan masyarakat terhadap program sangat positif, sementara elemen Qur’anic Village mulai diintegrasikan dalam kegiatan rutin madrasah. Program ini terbukti memberikan dampak jangka panjang dan berkelanjutan dalam pembentukan karakter Islami, serta meningkatkan kapasitas guru dan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan. Kata kunci: Qur’anic Village; karakter Islami; literasi Qur’ani; pembinaan siswa; pendidikan keagamaan. ABSTRACTMadrasah Al-Hasanah faces challenges in fostering Islamic character among students, particularly in Qur’anic literacy and integrating religious values into daily learning activities. This community service program aims to implement the Qur’anic Village to enhance Qur’anic literacy, develop Islamic character, and optimize the role of the madrasah as a center for Qur’anic education. The program was carried out for one month through stages of coordination, planning, implementation, and monitoring-evaluation, involving key partners such as Belmawa (Directorate of Learning and Student Affairs), PKM Ormawa, Madrasah Al-Hasanah, community leaders, and Universitas Muhammadiyah Bandung. The participants included 24 students aged 7–10 years, accompanied by six teachers and local facilitators. Evaluation was conducted using observation, Qur’anic skill assessment sheets, and activity documentation. The results showed significant improvement in students’ Islamic character. Most students consistently read the Qur’an, demonstrated polite behavior, and social responsibility. Teachers, students, and the community responded positively, and elements of the Qur’anic Village have been integrated into routine madrasah activities. The program has proven to provide long-term sustainable impacts on character building while enhancing teacher capacity and community involvement in education. Keywords: Qur’anic Village; Islamic character; Qur’anic literacy; student development; religious education
PENGELOLAAN TPQ AL–MUJAHIDIN MAYELAHA (TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN) BERBASIS KURIKULUM DINIYAH DI DESA WOLWAL TENGAH
ABSTRAKHasil observasi dan wawancara yang kami lakukan diperoleh informasi bahwa guru TPQ kurikulum yang digunakan serta metode yang di gunakan masih sangat konvensional.Bimbingan yang berjalan saat ini adalah belajar membaca Al-Quran melalui metode iqro’ dan hapalan surat-surat pendek. Adapun Tujuan PKM Ini adalah untuk:1)memperbaiki tata kelola bimbingan baca Al-Qur’an; khususnya pada Kurikulum yang berbasis diniyah(2) membina kader-kader untuk menjadi sukarelawan dalam bimbingan baca tulis Al-Qur’an; (3) menambah menu bimbingan dengan beberapa kegiatan yang menunjang, seperti: tahfizh/murojaah, kitabah, tahsin, dan bacaan sholat/fiqih; serta (6) menata administrasi yang lebih komprehensif.Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode ceramah,diskusi dan pelatihan serta sosialisasi..Adapun hasil yang di temukan adalah Melihat berbagai kendala yang dihadapi maka kami memberi masukan agar kurikulum diniyah coba di terapkan oleh pengelola dengan memberi pemahaman terkait dengan kurikulum ini dan dampaknya bagi peserta didik dan guru- guru sudah mulai memahami kurikulum diniyah.dari berbagai tahan kegiatan yang kami lakukan pengelola, guru antusias mengikuti kegiatan ini dan ada yang sudah mulai mempraktekkannya dengan memberi pelajaran tambahan berupada dasar -dasar Pendidikan islam.Kata Kunci : Pengelolaan; TPQ; Kurikulum Diniyah; Desa Wolwal Tengah ABSTRACTThe results of our observations and interviews revealed that the curriculum and methods used by TPQ teachers are still very conventional. The current guidance focuses on learning to read the Quran through the Iqro' method and memorizing short surahs.The objectives of this PKM are: 1) improving the governance of Quran reading guidance, particularly in the diniyah-based curriculum; 2) developing cadres to become volunteers in Quran reading and writing guidance; 3) expanding the guidance menu with several supporting activities, such as: tahfizh/murojaah, kitabah, tahsin, and prayer reading/fiqh; and 6) organizing a more comprehensive administration.The methods used in the research were lectures, discussions, training, and socialization.The results found were: Seeing the various obstacles faced, we provide input for administrators to try implementing the diniyah curriculum by providing an understanding related to this curriculum and its impact on students and teachers who have begun to understand the diniyah curriculum. From the various stages of activities we have carried out, administrators and teachers are enthusiastic about participating in this activity and some have started to practice it by providing additional lessons in the form of the basics of Islamic Education. Keywords : Management; TPQ Al – Mujahidin Mayelaha; Diniyah Curriculum; Central Wolwal Villag
EMBUATAN TEPUNG MOCAF GUNA PENINGKATAN PENDAPATAN DI SMA MUHAMMADIYAH BOARDING SCHOOL KOTANEGARA
ABSTRAK Kabupaten Lampung Utara memiliki produksi singkong yang melimpah, mencapai 1.165.966 ton pada tahun 2022, namun potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal melalui pengolahan pascapanen. Hal ini mengakibatkan nilai tambah komoditas unggulan tersebut belum maksimal. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah singkong dengan mengolahnya menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan siswa dan guru SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Kotanegara. Pelaksanaan kegiatan menggunakan tiga metode utama, yaitu Forum Diskusi Kelompok (FGD) antara tim pengabdian dan dewan guru, pelatihan praktik pembuatan mocaf secara langsung, dan pendampingan berkelanjutan dalam proses pemasaran produk. Mitra sasaran dalam kegiatan ini adalah SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Kotanegara. Peserta yang terlibat meliputi para guru dan siswa dari sekolah tersebut. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan guru dan siswa Dari hasil evaluasi didapatkan bahwa adanya perubahan pada 6 aspek pengetahuan dengan aspek pengetahuan tertinggi yang diperoleh pemahaman proses teknis, pemahaman prinsip fermentasi dan pemahaman aspek kewirausahaan. Terbentuknya unit usaha sekolah berbasis mocaf menjadi output nyata, diiringi peningkatan keterampilan kewirausahaan siswa melalui praktik langsung. Program ini juga mendorong pemanfaatan produktif lahan sekolah yang ditanami singkong. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah kemandirian ekonomi sekolah, penguatan pendidikan kewirausahaan, dan pemberdayaan sumber daya lokal.Kata kunci: Tepung Mocaf; Kewirausahaan; Nilai tambah; SMA Muhammadiyah Kotanegara; Singkong. ABSTRACTNorth Lampung Regency has an abundant cassava production, reaching 1,165,966 tons in 2022. However, this potential has not been optimally utilized through post-harvest processing, resulting in less than maximum added value for this leading commodity.This community service program aimed to increase the added value of cassava by processing it into Modified Cassava Flour (Mocaf) and to foster an entrepreneurial spirit among students and teachers of Muhammadiyah Boarding School (MBS) Kotanegara High School. The program was implemented using three main methods: a Focus Group Discussion (FGD) between the service team and the teachers, hands-on training in Mocaf production, and continuous mentoring in the product marketing process. The target partners for this activity were the teachers and students of MBS Kotanegara High School. The program successfully enhanced the knowledge of both teachers and students. Evaluation results indicated significant improvement across six aspects of knowledge, with the highest gains observed in understanding the technical process, the principles of fermentation, and entrepreneurial aspects. A tangible outcome was the establishment of a school-based Mocaf business unit, accompanied by an increase in students' entrepreneurial skills through direct practice. The program also encouraged the productive use of school land planted with cassava. The expected long-term impacts include school economic self-sufficiency, strengthened entrepreneurship education, and the empowerment of local resources.Keywords: Modified Cassava Flour (Mocaf); Entrepreneurship; Value-added products; Muhammadiyah Boarding School; Cassava