UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
13083 research outputs found
Sort by
PELESTARIAN BUDAYA LOKAL MELALUI PELATIHAN TARI LEGO-LEGO BAGI SISWA SD ISLAM COKROAMINOTO 01 KALABAHI
ABSTRAK Pelestarian budaya lokal merupakan tanggung jawab kolektif yang harus dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui lembaga pendidikan. Di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Tari Lego-Lego merupakan warisan budaya tradisional yang kaya makna filosofis dan sosial, terutama nilai kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong sebagai identitas kolektif masyarakat. Namun, pengaruh teknologi, globalisasi, dan budaya populer modern membuat generasi muda kurang mengenal dan menghargai budaya daerahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pelatihan Tari Lego-Lego bagi siswa SD Islam Cokroaminoto 01 Kalabahi serta menganalisis pengaruh kegiatan tersebut terhadap pemahaman, kepedulian, dan kecintaan siswa terhadap budaya lokal. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi kegiatan. Peserta penelitian berjumlah 15 siswa. Pelatihan meliputi pengenalan gerak dasar, praktik bersama, dan evaluasi pertunjukan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan Tari Lego-Lego efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap budaya lokal dan menjadi media pendidikan karakter yang menyenangkan. Siswa mampu bekerja sama, menunjukkan solidaritas, dan mengekspresikan identitas budaya melalui pertunjukan. Dengan demikian, pelatihan ini menjadi strategi tepat untuk melestarikan budaya lokal melalui pendidikan formal sejak usia dini.Kata kunci: Budaya Lokal; Tari Lego-Lego; Pendidikan Karakter; Sekolah Dasar; Pelestarian Budaya. ABSTRACTPreserving local culture is a collective responsibility that must be carried out sustainably, including through educational institutions. In Alor Regency, East Nusa Tenggara, the Lego-Lego Dance is a traditional cultural heritage rich in philosophical and social meaning, particularly the values of togetherness, solidarity, and mutual cooperation, which serve as a collective identity for the community. However, the influence of technology, globalization, and modern popular culture has resulted in younger generations becoming less familiar with and appreciative of their local culture. This study aims to describe the implementation of Lego-Lego Dance training for students at Cokroaminoto 01 Kalabahi Islamic Elementary School and to analyze the impact of this activity on their understanding, awareness, and love of local culture. The method used was descriptive qualitative, with data collected through observation, interviews, and documentation of activities. Fifteen students participated in the study. The training included an introduction to basic movements, group practice, and evaluation of group performances. The results showed that the Lego-Lego Dance training effectively increased students' understanding of local culture and served as a fun character education medium. Students were able to work together, demonstrate solidarity, and express their cultural identity through the performance. Thus, this training is an appropriate strategy for preserving local culture through formal education from an early age.Keywords: Local Culture; Lego-Lego Dance; Character Education; Elementary School; Cultural Preservation
TAMAN DASA WISMA (TOGA): EDUKASI PELESTARIAN TANAMAN OBAT MENDUKUNG SDGS 3 NAGARI TANJUNG KABUPATEN SIJUNJUNG
ABSTRAKTaman Dasa Wisma Tanaman Obat Keluarga (TOGA) merupakan salah satu bentuk usaha masyarakat dalam mendukung konservasi tanaman obat tradisional di tingkat nagari. Permasalahan yang dihadapi adalah mulai berkurangnya pengetahuan dan minat masyarakat terhadap pemanfaatan tanaman obat keluarga. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi Taman Dasa Wisma (TOGA) dalam usaha pelestarian tanaman obat di Jorong Koto Tuo, Nagari Tanjung, Kabupaten Sijunjung. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara dengan anggota dasa wisma dan perangkat nagari, serta dokumentasi kegiatan. Mitra kegiatan adalah kelompok Dasa Wisma di Jorong Koto Tuo yang terdiri atas 30 anggota aktif dan melibatkan partisipasi masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Dasa Wisma TOGA berperan penting dalam melestarikan tanaman obat lokal, menjadi sarana pendidikan lingkungan dan kesehatan keluarga, meningkatkan keterampilan anggota dasa wisma, serta memperkuat nilai-nilai kearifan lokal dalam praktik pengobatan tradisional. Keberadaan taman ini turut mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian tanaman obat sebagai bagian dari pembangunan yang berorientasi pada lingkungan dan kesehatan keluarga.Kata kunci: Taman TOGA; Dasa Wisma; Tanaman Obat; Pelestarian; Nagari Tanjung; Kearifan Lokal. ABSTRACTThe Family Medicinal Plant Garden (TOGA) is one of the community's efforts to support the conservation of traditional medicinal plants at the village level. The problem faced is the decline in community knowledge and interest in the use of family medicinal plants. This study aims to explain the function of the Dasa Wisma Garden (TOGA) in the preservation of medicinal plants in Jorong Koto Tuo, Nagari Tanjung, Sijunjung Regency. The method used was qualitative descriptive through field observations, interviews with members of the dasa wisma and village officials, and documentation of activities. The activity partners were the Dasa Wisma group in Jorong Koto Tuo, which consisted of 30 active members and involved the participation of the surrounding community. The results of the study show that the TOGA Dasa Wisma Garden plays an important role in preserving local medicinal plants, serving as a means of environmental and family health education, improving the skills of Dasa Wisma members, and strengthening local wisdom values in traditional medicine practices. The existence of this garden also encourages community awareness of the importance of preserving medicinal plants as part of development that is oriented towards the environment and family health.Keywords: TOGA Garden; Dasa Wisma; Medicinal Plants; Conservation; Tanjung Village; Local Wisdom
MEWUJUDKAN GENERASI CERDAS MELALUI SOSIALISASI PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI DI SMPN 2 KERUAK
ABSTRAK Pernikahan dini merupakan salah satu masalah sosial yang masih terjadi di Indonesia, terutama di daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan rendah. Praktik ini berdampak negatif pada kesehatan reproduksi, psikologis, sosial, serta kelanjutan pendidikan remaja. Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini dilaksanakan di SMPN 2 Keruak, Kabupaten Lombok Timur, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai bahaya pernikahan dini. Sebanyak 50 siswa kelas VIII dan IX mengikuti sosialisasi yang disampaikan oleh dosen sebagai narasumber, sementara mahasiswa berperan sebagai fasilitator. Materi sosialisasi mencakup dampak negatif pernikahan dini, peraturan negara mengenai batas usia perkawinan, dan kerumitan kehidupan pernikahan usia muda. Evaluasi dilakukan melalui wawancara terhadap tiga siswa sebagai sampel. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa memahami pernikahan dini sebagai perkawinan di bawah umur, mengenali dampak kesehatan seperti kehamilan berisiko tinggi dan potensi stunting, serta menyebutkan konsekuensi ekonomi, sosial, dan psikologis. Siswa juga menegaskan pentingnya melanjutkan pendidikan sebagai proteksi masa depan dan menyoroti peran teman sebaya dalam saling mendukung agar tidak menikah dini. Refleksi ini memperlihatkan bahwa sosialisasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap preventif dan motivasi untuk menunda pernikahan. Oleh karena itu, program serupa direkomendasikan untuk terus dilaksanakan dalam rangka mendukung terwujudnya generasi muda yang cerdas, sehat, dan berdaya saing. Kata kunci: Generasi Cerdas; Edukasi; Pencegahan Perkawinan Dini ABSTRACTEarly marriage remains a persistent social issue in Indonesia, particularly in rural areas with limited educational attainment. This practice negatively affects adolescents’ reproductive health, psychological well-being, social stability, and educational continuity. This Community Service Program (KKN) was conducted at SMPN 2 Keruak, East Lombok Regency, with the aim of increasing students’ awareness of the dangers of early marriage. A total of 50 students from grades VIII and IX participated in the socialization session, which was delivered by a lecturer as the main speaker, while KKN students acted as facilitators. The material focused on the negative impacts of early marriage, national regulations on the minimum legal age, and the challenges of household life at an early age. Evaluation was carried out through interviews with three selected students. The results revealed that students understood early marriage as underage marriage, identified health risks such as high-risk pregnancies and the potential for stunting, and recognized its economic, social, and psychological consequences. They also emphasized the importance of continuing education as future protection and acknowledged the role of peers in providing mutual support to avoid early marriage. These findings demonstrate that the program not only improved students’ knowledge but also shaped preventive attitudes and motivated them to postpone marriage. Thus, similar initiatives are recommended to be sustained in order to foster a smart, healthy, and empowered young generation. Keywords: Smart Generation; Education; Prevention of Early Marriag
MEMBANGUN KARAKTER DAN KECAKAPAN BERBAHASA MELALUI LITERASI PAGI BERBASIS PIDATO
ABSTRAK Tujuan kegiatan literasi pagi berbasis pidato pada siswa tingkat MA adalah untuk meningkatkan kecakapan berbahasa sekaligus membangun karakter siswa melalui pembiasaan berbicara di depan umum. Kegiatan literasi pagi berbasis pidato ini dilakukan di MA NW Keruak yang berada di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara umum, waktu kegiatan dilakukan secara rutin setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai dengan melibatkan seluruh siswa secara bergiliran. Kegiatan literasi pagi berbasis pidato diikuti oleh siswa-siswi dari setiap kelas dengan pendampingan guru sebagai fasilitator. Kegiatan ini didasarkan atas kondisi siswa yang cenderung masih memiliki kepercayaan diri rendah serta keterampilan berbicara yang belum optimal. Guru-guru juga mengalami hambatan dalam menggerakkan siswa untuk aktif dalam kegiatan literasi, khususnya berbicara di depan umum. Padahal, siswa memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong siswa agar terbiasa menyampaikan gagasan secara runtut, percaya diri, dan bertanggung jawab. Hasil evaluasi dari kegiatan ini berupa peningkatan keberanian siswa dalam berbicara, keterampilan menyusun naskah pidato, serta terbentuknya budaya literasi yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Kata kunci: Karakter; Kecakapan Bahasa; Literasi Pagi; Pidato. ABSTRACTWrite The purpose of the morning literacy activity based on speeches for high school students is to improve language skills and build character through public speaking practice. This morning literacy activity based on speeches is carried out at MA NW Keruak, located in East Lombok Regency, West Nusa Tenggara Province. In general, the activity is carried out routinely every morning before classes begin, involving all students in turns. The morning literacy activity based on speeches is attended by students from each class with the assistance of teachers as facilitators. This activity is based on the condition of students who tend to have low self-confidence and suboptimal speaking skills. Teachers also experience obstacles in motivating students to be active in literacy activities, especially speaking in public. In fact, students have enormous potential for development. This activity is expected to encourage students to get used to expressing their ideas coherently, confidently, and responsibly. The evaluation results of this activity show an increase in students' courage in speaking, their speech writing skills, and the formation of a sustainable literacy culture in the school environment. Keywords: Character; Language Profiency; Morning Literacy; Speech
TRANSFORMASI PEMBELAJARAN LITERASI DAN NUMERASI MELALUI AKTIVITAS FISIK EDUKATIF SISWA SEKOLAH DASAR DI DESA NADUNG BANGKA SELATAN
ABSTRAK Rendahnya kemampuan literasi dan numerasi pada siswa sekolah dasar, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan fasilitas pembelajaran, menjadi tantangan penting dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dasar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa melalui pendekatan aktivitas fisik edukatif yang disesuaikan dengan karakteristik belajar kinestetik anak. Metode pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif dan deskriptif kualitatif, yang meliputi tahapan analisis kebutuhan siswa dan lingkungan belajar, perancangan aktivitas fisik edukatif berbasis literasi dan numerasi, implementasi kegiatan pembelajaran, serta evaluasi hasil kegiatan melalui observasi, dokumentasi, dan penilaian perkembangan kemampuan siswa. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Desa Nadung, Kecamatan Payung, Kabupaten Bangka Selatan, dengan melibatkan 15 siswa kelas rendah sekolah dasar. Aktivitas pembelajaran dirancang dalam bentuk permainan edukatif, antara lain Lompat Huruf, Gerak Angka, dan Estafet Cerita, yang mengintegrasikan unsur gerak, bahasa, dan matematika secara terpadu. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada keterlibatan siswa dalam pembelajaran, kemampuan fonetik, pengenalan huruf, pemahaman angka, serta kemampuan mengidentifikasi pola bilangan. Selain itu, pendekatan aktivitas fisik edukatif terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar, konsentrasi, kerja sama, serta perkembangan sosial-emosional siswa selama proses pembelajaran. Secara keseluruhan, model pembelajaran berbasis aktivitas fisik edukatif ini mudah diterapkan, relevan dengan kebutuhan siswa sekolah dasar di daerah pedesaan, serta memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan literasi dan numerasi. Temuan ini mendukung implementasi kebijakan Merdeka Belajar yang menekankan pembelajaran aktif, menyenangkan, dan berpusat pada peserta didik. Kata kunci: Literasi, Numerasi, Aktivitas Fisik Edukatif, Sekolah Dasar ABSTRACTThe low levels of literacy and numeracy skills among elementary school students, particularly in rural areas with limited learning facilities, present a significant challenge in efforts to improve the quality of basic education. This community service program aims to enhance students’ literacy and numeracy abilities through educational physical activity approaches tailored to the kinesthetic learning characteristics of children. The program was implemented in Nadung Village, Payung District, South Bangka, involving 15 lower-grade students. The implementation stages included needs analysis, the design of educational physical activities, the execution of games such as Letter Jump, Number Move, and Story Relay, as well as the evaluation of students’ skill development. The results indicate a significant improvement in student engagement, phonetic skills, letter recognition, number comprehension, and the ability to identify number patterns. In addition, this approach effectively enhanced students’ motivation, concentration, collaboration, and socio-emotional development throughout the learning process. Overall, the educational physical activity model proved to be easy to implement, relevant to the needs of elementary school students, and contributed positively to improving literacy and numeracy outcomes. These findings also support the implementation of the Merdeka Belajar (Freedom to Learn) policy, which emphasizes active, enjoyable, and student-centered learning. Keywords: Literacy, Numeracy, Educational Physical Activities, Elementary School
PEMBERDAYAAN KELOMPOK UBK PAULUS DALAM PRODUKSI DAN PEMASARAN CAMILAN SEHAT BERBASIS MINYAK KENARI
ABSTRAK Kenari adalah salah satu potensi sumber daya lokal di Kabupaten Alor. Potensi besar ini dapat dimanfaatkan oleh mitra melalui pengolahannya menjadi minyak, yang kemudian dapat digunakan dalam produk bergizi. Industri rumah tangga sebagai penghasil Camilan sehat dan bergizi, menghadapi tantangan produksi terkait pengunaan kemasan yang sebagian besar terdiri dari kantong plastik, di samping upaya pemasaran yang masih terbatas cakupannya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi mitra melalui pelatihan produksi Camilan berbasis minyak kenari dan teknik pengemasan produk, serta pelatihan pembuatan dan penggunaan situs web dalam pemasaran produk. Mitra dalam kegiatan ini adalah kelompok ibu-ibu UBK Paulus Desa Lendola, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur berjumlah 15 orang. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan dan demonstrasi/praktik langsung pembuatan produk Camilan berbasis minyak kenari serta pelatihan desain dan teknik pengemasan modern. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pra-tes dan pasca-tes melalui tanya jawab serta pengamatan untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebesar 69% dan peningkatan keterampilan produksi serta pengemasan sebesar 37,7%. Kegiatan ini berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi ibu-ibu untuk mengembangkan usaha rumah tangga berbasis potensi lokal. Kata kunci: Pemberdayaan; Produksi; Camilan; Pemasaran; Minyak Kenari ABSTRACTWalnuts are a potential local resource in Alor Regency. This significant potential can be utilized by partners by processing them into oil, which can then be used in nutritious products. Home industries, as producers of healthy and nutritious snacks, face production challenges related to the use of packaging, which mostly consists of plastic bags, in addition to limited marketing efforts. This community service activity aims to improve the skills and economic independence of partners through training in walnut oil-based snack production and product packaging techniques, as well as training in creating and using a website for product marketing. The partners in this activity are a group of 15 women from the UBK Paulus Group in Lendola Village, Teluk Mutiara District, Alor Regency, East Nusa Tenggara Province. The implementation method includes counseling and demonstrations/hands-on practice in making walnut oil-based snack products, as well as training in modern packaging design and techniques. Evaluation was carried out using pre- and post-test instruments through questions and answers, and observations to assess improvements in participants' knowledge and skills. The results of the activity showed an average increase in knowledge scores of 69% and an increase in production and packaging skills of 37.7%. This activity succeeded in increasing participants' self-confidence and motivation to develop home businesses based on local potential. Keywords: Empowerment; Production; Snacks; Marketing; Walnut Oi
EKONOMI KREATIF UNTUK MENINGKATKAN NILAI EKONOMIS DARI REUSE PLASTIK KEMASAN DAN UPCYCLING LIMBAH KAYU BERBASIS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA TANEA KABUPATEN KONAWE SELATAN
ABSTRAK Permasalahan pengelolaan limbah plastik, limbah kayu, dan limbah pertanian di Desa Tanea masih menjadi isu lingkungan dan sosial ekonomi, karena belum dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan baku produk kreatif. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai ekonomi melalui pendekatan ekonomi kreatif. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi, workshop, dan praktikum pembuatan pot plastik daur ulang, bunga hias dari kulit jagung, dan tanaman hias dekoratif dari limbah kayu. Mitra kegiatan adalah masyarakat Desa Tanea yang terdiri dari 15 peserta, meliputi ibu rumah tangga, pemuda, dan pelaku UMKM. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan rata-rata sebesar 30–45% dan peningkatan keterampilan teknis peserta hingga 85% berdasarkan keberhasilan menghasilkan minimal satu produk kreatif. Produk yang dihasilkan memiliki potensi nilai ekonomis dengan estimasi harga jual Rp10.000–Rp40.000 per unit. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan ekonomi kreatif berbasis limbah dapat meningkatkan keterampilan, dan peluang usaha masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan masyarakat.ABSTRACTThe issue of managing plastic waste, wood waste, and agricultural waste in Tanea Village remains a significant environmental and socio-economic challenge, as these materials have not been optimally utilized as raw materials for creative products. This community service program aims to improve the community’s knowledge and skills in transforming waste into economically valuable products through a creative economy approach. The activities were carried out through socialization, workshops, and hands-on practice in producing recycled plastic pots, decorative corn-husk flowers, and ornamental plants made from wood waste. The program involved 15 participants from Tanea Village, consisting of housewives, youths, and local micro-business actors. The results show an increase in participants’ knowledge by an average of 30–45% and an improvement in technical skills up to 85%, indicated by their ability to produce at least one creative product. The products generated have economic potential with estimated market prices ranging from IDR10.000 to IDR40.000 per unit. These findings demonstrate that waste-based creative economy training can enhance community skills, expand entrepreneurial opportunities, and increase environmental awareness among the residents
PENGUATAN LITERASI DAN KREATIVITAS DIGITAL SISWA GEN Z MELALUI PELATIHAN PRODUKSI KONTEN DI SMAN 4 SINGARAJA
ABSTRAK Perkembangan media sosial menuntut generasi Z untuk memiliki literasi dan kreativitas digital yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat literasi dan kreativitas digital siswa SMAN 4 Singaraja melalui pelatihan produksi konten digital. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan partisipatif-edukatif, melibatkan 25 siswa anggota ekstrakurikuler sinematografi dan fotografi “Lensa Foursma”. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi hasil karya siswa, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan siswa dalam merancang ide, memproduksi, dan mengevaluasi konten digital yang komunikatif, kreatif, dan etis. Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai narasi, estetika visual, dan kolaborasi tim dalam proses produksi, sehingga pelatihan ini menjadi model efektif untuk mengembangkan literasi dan kreativitas digital generasi Z di lingkungan sekolah. Kata kunci: kreativitas digital; literasi digital; produksi konten; siswa Gen Z; SMAN 4 Singaraja ABSTRACTThe development of social media requires Generation Z to possess strong digital literacy and creativity. This study aims to strengthen the digital literacy and creativity of students at SMAN 4 Singaraja through digital content production training. The method used was qualitative descriptive with a participatory-educative approach, involving 25 students from the school’s cinematography and photography extracurricular club, “Lensa Foursma.” Data were collected through observation, interviews, and documentation of students’ works, and analyzed descriptively. The results indicate an improvement in students’ abilities to design ideas, produce, and evaluate digital content that is communicative, creative, and ethical. In addition, participants gained an understanding of narrative, visual aesthetics, and team collaboration in content production. Therefore, this training serves as an effective model to develop digital literacy and creativity among Generation Z students in the school context. Keywords: content production; digital creativity; digital literacy; Gen Z students; SMAN 4 Singaraja
PROGRAM BELAJAR KREATIF SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN LITERASI SISWA DI SDN 3 SEKOTONG TENGAHPROGRAM BELAJAR KREATIF SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN LITERASI SISWA DI SDN 3 SEKOTONG TENGAH
Rendahnya tingkat literasi siswa sekolah dasar masih menjadi isu serius dalam dunia pendidikan. Kondisi ini ditemukan di SDN 3 Sekotong Tengah. Siswa menghadapi keterbatasan akses bacaan dan rendahnya motivasi membaca dan untuk menjawab tantangan tersebut, dilaksanakan Program Belajar Kreatif melalui pengabdian masyarakat oleh mahasiswa PLP II Terintegrasi KKN-Dik. Program ini mencakup kegiatan Rabu Baca Teras, Menulis Kreatif, Pembiasaan Membaca di awal pembelajaran, Sabtu Kreatif, dan Pojok Baca. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan interaktif dengan melibatkan siswa kelas III–VI serta guru sebagai pendamping. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada minat baca, kemampuan menulis, keberanian berbicara, serta kreativitas siswa. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat budaya literasi sekolah dengan menyediakan akses bacaan yang lebih variatif dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Program Belajar Kreatif terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa dan membangun kepercayaan diri, sehingga layak dijadikan model pengembangan literasi di sekolah-sekolah dasar terutama di wilayah pedesaan.Kata Kunci: Literasi, Program Belajar Kreatif, Sekolah Dasa
Pelatihan Penyusunan Proposal Penelitian Bagi Mahasiswa Semester Akhir
Kemampuan menyusun proposal penelitian merupakan kompetensi akademik penting bagi mahasiswa semester akhir sebagai tahap awal penyelesaian tugas akhir. Namun, mahasiswa sering mengalami kendala dalam menyusun proposal penelitian secara sistematis, terutama pada perumusan masalah dan penentuan metodologi penelitian. Kegiatan PkM ini bertujuan untuk memberikan penguatan pemahaman awal mahasiswa semester akhir FKIP UMMAT dalam menyusun proposal penelitian sesuai dengan kaidah ilmiah. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pelatihan yang mencakup penyampaian materi, diskusi terarah, praktik penyusunan proposal, dan pendampingan, dengan pendekatan kualitatif melalui observasi dan telaah draf proposal penelitian mahasiswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan pada struktur penulisan proposal ke arah yang lebih teratur serta keselarasan yang lebih baik antara rumusan masalah, tujuan penelitian, dan metodologi. Respons dan partisipasi aktif mahasiswa selama pelatihan menunjukkan bahwa kegiatan ini relevan dengan kebutuhan akademik mahasiswa semester akhir dan berpotensi mendukung kelancaran proses penyusunan proposal penelitian