UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
13083 research outputs found
Sort by
Pemberdayaan kader kesehatan dalam meningkatkan kemampuan melakukan assessment dukungan keluarga pada lansia dengan penyakit kronis
Abstrak Desa Gunungronggo merupakan salah satu desa binaan Program Studi Sarjana Keperawatan yang berada di kecamatan Tajinan Kabupaten Malang. Jumlah lansia yang menderita penyakit kronis di Desa Gunungronggo cukup banyak yaitu 135 lansia. Berdasarkan buku kunjungan posyandu, belum semua lansia yang menderita penyakit kronis datang kontrol secara rutin salah satu alasannya karena tidak ada keluarga yang mengantar. Keluarga menyampaikan alasan tidak mengantar karena sibuk bekerja dan lansia sudah tidak ada keluhan sehingga keluarga menganggap tidak perlu lagi untuk memeriksakan diri atau kontrol. Salah satu peran keluarga dalam perawatan lansia yang sakit adalah memberikan motivasi, dukungan dan memfasilitasi kebutuhan kesehatan bagi lansia. Pada kegiatan ini tim pengabdian masyarakat melakukan pemberdayaan kader kesehatan dengan memberikan edukasi dan pelatihan bagi kader kesehatan dalam melakukan assesment dukungan keluarga pada lansia dengan penyakit kronis. Hasil pengukuran pre dan post test didapatkan bahwa pada tahap pre test rata-rata pengetahuan kader kesehatan adalah 62,73 sedangkan pada tahap post test didapatkan rata-rata pengetahuan meningkat menjadi 77,27 setelah diberikan materi dan pelatihan. Hasil evaluasi untuk ketrampilan kader kesehatan mampu melakukan dengan baik 100% semua tindakan sesuai prosedur. Peserta memberikan respon dan sangat antusias terhadap materi. Oleh karena itu perlu ditingkatkan kegiatan edukasi dan pelatihan kepada kader kesehatan, maka rekomendasi rencana tindak lanjut yang diajukan oleh tim adalah kegiatan serupa dilaksanakan secara kontinu sehingga adanya peningkatan kemandirian masyarakat dalam melakukan assesment dukungan keluarga pada lansia dengan penyakit kronis sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup lansia khususnya yang menderita penyakit kronis. Kata kunci: pemberdayaan kader; assessment; dukungan keluarga lansia; penyakit kronis. Abstract Gunungronggo Village is one of the villages supported by the Bachelor of Nursing Study Program in Tajinan sub-district, Malang Regency. Number of elderly people suffering from chronic diseases In Gunungronggo Village there are quite a lot, namely 135 elderly people. Based on the posyandu visit book, not all elderly people who suffer from chronic diseases come for routine check-ups, one of the reasons is because there is no family to accompany them. The family stated that the reason for not taking them was because they were busy working and the elderly had no complaints, so the family thought there was no need for further examination or control. One of the roles of the family in caring for sick elderly people is to provide motivation, support and facilitate the health needs of the elderly. In this activity, the community service team empowered health cadres by providing education and training for health cadres in conducting family support assessments for elderly people with chronic diseases. The results of the pre and post test measurements showed that at the pre test stage the average knowledge of health cadres was 62.73, while at the post test stage it was found that the average knowledge increased, namely 77.27 after being given material and training. The evaluation results for the skills of health cadres are able to carry out 100% of all actions according to procedures. Participants responded and were very enthusiastic about the material. Therefore,it is necessary to increase education and training activities for health cadres, so the recommendation for the follow-up plan proposed by the team is that similar activities be carried out continuously so that there is increased community independence in carrying out assessments of family support for elderly people with chronic diseases so that it can improve the quality of life of elderly people, especially those suffering from chronic diseases. Keywords: cadre empowerment; assessment; support for elderly families; chronic diseases
Pemberdayaan masyarakat desa wisata pantai Ria Bomo melalui revitalisasi ekosistem dan branding digital
Abstrak Desa Bomo memiliki potensi wisata pantai yang besar, khususnya di kawasan Pantai Ria Bomo. Namun, pengelolaannya masih menghadapi berbagai tantangan seperti penurunan kualitas lingkungan akibat sampah dan kerusakan vegetasi pantai serta kurangnya promosi dan branding digital untuk menjangkau wisatawan lebih luas. Kondisi ini berdampak pada minimnya kunjungan wisata dan rendahnya kontribusi ekonomi dari sektor pariwisata bagi masyarakat lokal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat dalam mengelola potensi wisata pantai secara berkelanjutan. Permasalahan utama yang dihadapi mitra meliputi kerusakan ekosistem pesisir serta kurangnya promosi wisata secara digital. Metode pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif antara tim pengabdi, mitra selaku pengurus pokdarwis, masyarakat lokal, dan perangkat desa. Pendekatan ini melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Melalui kegiatan ini, dilakukan penanaman pohon di kawasan pantai, sosialisasi pelestarian lingkungan dengan melibatkan warga lokal, serta pembuatan dan pelatihan website destinasi. Hasil kegiatan ini diharapkan dengan penanaman pohon memperkuat ekosistem pesisir, penyadaran lingkungan menumbuhkan rasa kepemilikan masyarakat terhadap pantai, dan website menjadi sarana promosi jangka panjang. Dampak keberlanjutan tercermin dari peningkatan kesadaran, perbaikan ekosistem, serta meningkatnya kunjungan wisatawan. Kata kunci: branding digital; pantai Ria Bomo; promosi wisata; revitalisasi ekosistem. Abstract Bomo Village has significant potential for beach tourism, particularly in the Ria Bomo Beach area. However, its management still faces several challenges such as declining environmental quality due to waste and coastal vegetation damage, as well as a lack of promotion and digital branding to reach a wider range of tourists. These conditions have resulted in low tourist visits and minimal economic contributions from the tourism sector to the local community. The community service activity aims to enhance the capacity and self-reliance of the community in sustainably managing coastal tourism potential. The main problems faced by the partners include coastal ecosystem degradation and the lack of digital tourism promotion. The implementation method of this program was carried out through a participatory and collaborative approach involving the service team, partners as Pokdarwis managers, local communities, and village officials. This approach engaged the community from the planning and implementation stages to the evaluation stage. The activities included tree planting along the coastal area, environmental conservation awareness programs involving local residents, as well as the development and training of a destination website. The outcomes expected from these activities are that tree planting will strengthen the coastal ecosystem, environmental awareness will foster a sense of ownership among the community toward the beach, and the website will serve as a long-term promotional tool. The sustainability impact is reflected in increased awareness, improved ecosystems, and the growth of tourist visits. Keywords: digital branding; Ria Bomo beach; tourism promotion; ecosystem revitalization
Transformasi kelompok tani perempuan menuju kemandirian ekonomi melalui pemasaran hasil tani
AbstrakPemasaran hasil pertanian merupakan tantangan utama bagi kelompok tani skala kecil, terutama yang dikelola oleh perempuan di wilayah perkotaan dengan sumber daya terbatas. Kelompok tani perempuan "Iye Ape Satu Hati" di Kelurahan Lasiana, Kota Kupang, menghadapi permasalahan rendahnya keterampilan pemasaran, minimnya akses pasar, serta dominasi pola konsumtif dalam pengelolaan hasil tani. Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan kelompok tani melalui peningkatan kapasitas pemasaran berbasis pelatihan dan pendampingan. Metode pelaksanaan mencakup identifikasi kebutuhan peserta, pelatihan pemasaran sederhana (harga jual, pengemasan, dan promosi digital), praktik langsung, serta pendampingan intensif selama tiga bulan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pemasaran, transformasi pola usaha dari konsumtif menjadi produktif, pemanfaatan media sosial untuk promosi, serta peningkatan pendapatan rumah tangga. Dengan demikian, program ini berkontribusi pada penguatan kemandirian ekonomi perempuan dan pembangunan ekonomi lokal berbasis komunitas. Kata kunci: pemberdayaan perempuan; kelompok tani; pemasaran hasil pertanian; pendampingan; ekonomi local. AbstractMarketing agricultural products is a major challenge for small-scale farmer groups, especially those managed by women in urban areas with limited resources. The women's farmer group "Iye Ape Satu Hati" in Lasiana Village, Kupang City, faces problems such as low marketing skills, limited market access, and a predominantly consumptive pattern in managing farm products. This Community Partnership Program (PKM) aims to empower the group by strengthening their marketing capacity through training and mentoring. The implementation methods included needs assessment, training on basic marketing (pricing, packaging, and digital promotion), hands-on practice, and three months of intensive mentoring. The results show increased marketing knowledge and skills, transformation from consumptive to productive practices, the use of social media for promotion, and higher household income. Thus, this program contributes to strengthening women's economic independence and supporting community-based local economic development. Keywords: women empowerment; farmer groups; agricultural marketing; mentoring; local economy
Optimalisasi pemasaran program live-in di kampung ekowisata Ciwaluh, Kabupaten Bogor
AbstrakSemakin berkembangnya pariwisata di Kampung Ekowisata Ciwaluh, beberapa sekolah dan universitas dari wilayah Jabodetabek tertarik untuk mengadakan program live-in karena kehidupan desa dan budaya lokal yang masih autentik dan sulit ditemukan di tempat lain. Namun, Pokdarwis Ciwaluh belum memiliki standarisasi untuk program live-in, baik dari segi biaya maupun fasilitas yang disediakan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk pengembangan program live-in yang sistematis di Kampung Ekowisata Ciwaluh. Kegiatan ini akan berfokus pada aspek produksi, aspek sosial kemasyarakatan, dan aspek pemasaran terhadap program live-in. Mitra sasaran adalah Pokdarwis Ciwaluh yang terdiri dari 18 pengurus. Metode pelaksanaan kegiatan ini dilakukan melalui lima tahap, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan evaluasi, dan pengamatan keberlanjutan program. Berdasarkan hasil kegiatan, Pokdarwis Ciwaluh telah berhasil menyusun satu proposal live-in terstandarisasi, tiga proposal live-in yang bersifat custom, kemampuan berkomunikasi secara verbal dan non-verbal, serta kemampuan pemasaran digital yang diimplementasikan dalam situs web dan sosial media. Selama periode sebelum dan sesudah kegiatan dilakukan, terjadi peningkatan pengunjung sebesar 35% pada hari kerja dan mencapai 60–70% pada akhir pekan. Kata kunci: live-in; kampung ciwaluh; pemasaran digital. AbstractThe growing tourism in Ciwaluh Ecotourism Village has attracted interest from several schools and universities in the Greater Jakarta area in holding live-in programs due to the authentic village life and local culture, which are difficult to find elsewhere. However, Pokdarwis Ciwaluh does not yet have a standardized approach to live-in programs, either in terms of costs or facilities. This community service activity aims to develop a systematic live-in program in Ciwaluh Ecotourism Village. This activity will focus on production, social aspects, and marketing aspects of the live-in program. The target partner is Pokdarwis Ciwaluh, which consists of 15 organizers. The implementation method for this activity is carried out through five stages: socialization, training, technology application, evaluation assistance, and monitoring the program's sustainability. Based on the results of the activity, Pokdarwis Ciwaluh has successfully developed one standardized live-in proposal, three custom live-in proposals, verbal and non-verbal communication skills, and digital marketing skills implemented on its website and social media. During the period before and after the activity was carried out, there was an increase in visitors of 35% on weekdays and reached 60-70% on weekends. Keywords: ciwaluh ecotourism village; digital marketing; live-in
Makna Matra Wacana Ritual Toho Dore Ompu Rangga
Abstrak: Ritual toho dore merupakan salah satu tradisi yang yang menghubungkan antara manusia dengan hal gaib. Tulisan ini membahas tentang makna mantra dalam wacana ritual toho dore ompu rangga pada masyarakat Lambu. Hal yang menjadikan masyarakat Lambu percaya, sebuah penyakit dapat disembuhkan dengan cara melakukan ritual toho dore dengan cara membacakan mantra-mantra yang sesuai dengan kebutuhan pasien, cara ini dilakukan selain dari sarana pengobatan dokter. Tujuan tulisan ini menjelaskan makna mantra dalam wacana ritual toho dore ompu rangga pada masyarakat Lambu Kabupaten Bima. Metode yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, transkip dan terjemah. Sedangkan teori yang digunakan teori wacana, teori fungsi, dan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada masyarakat Lambu ada 6 mantra yang digunakan yaitu mantra toho dore supu ringu (gangguan jiwa), toho dore diperuntukan untuk ibu yang kehilangan anak dalam rahimnya, mantra toho dore parafu, mantra toho dore pengobatan gangguan jin dan setan, mantra pengasihan untuk mendekatkan jodoh, mantra keselamatan dan keberkahan usaha. Makna mantra ritual toho dore ompu rangga ada empat makna yaitu makna keselamatan, makna kekuatan, makna spiritual dan makna kasih sayang. Abstract: The Toho Dore ritual is a tradition that connects humans with the supernatural. This article discusses the meaning of mantras in the discourse of the Toho Dore Ompu Rangga ritual in the Lambu community. The thing that makes the Lambu community believe is that a disease can be cured by performing the toho dore ritual by reciting mantras that suit the patient's needs, this method is carried out apart from medical treatment. The purpose of this article is to explain the meaning of the mantra in the Toho Dore Ompu Rangga ritual discourse in the Lambu community of Bima Regency. The method used is a qualitative descriptive method. Data was obtained through observation, interview, transcription and translation techniques. While the theories used are discourse theory, function theory, and hermeneutics. The results of the study showed that in the Lambu community there are 6 mantras used, namely the toho dore supu ringu mantra (mental disorders), toho dore is intended for mothers who have lost their children in their wombs, the toho dore parafu mantra, the toho dore mantra for treating disturbances from jinns and demons, the love mantra to bring one's soul mate closer, the mantra for safety and blessings of business. The meaning of the Toho Dore Ompu Rangga ritual mantra has four meanings, namely the meaning of safety, the meaning of strength, the spiritual meaning and the meaning of compassion.
Proses Nyelabar dalam Tradisi Merariq: Analisis Etnografi Komunikasi pada Masyarakat Sasak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses Nyelabar dalam tradisi Merariq masyarakat Sasak melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan fokus pada analisis etnografi komunikasi. Literatur yang digunakan berasal dari basis data terindeks Scopus, DOAJ, dan Google Scholar dengan rentang waktu publikasi antara tahun 2015 hingga 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses Nyelabar merupakan praktik komunikasi budaya yang kompleks, yang melibatkan komunikasi verbal dan nonverbal sebagai sarana membangun kesepahaman, menjaga keharmonisan, dan memperkuat identitas kultural antar keluarga calon mempelai. Tokoh-tokoh budaya seperti mediator, keluarga, serta tokoh adat dan agama memainkan peran penting dalam menjaga keutuhan nilai-nilai lokal selama proses berlangsung. Namun demikian, muncul tantangan signifikan akibat perubahan sosial dan perbedaan pola komunikasi antar generasi, khususnya generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital. Kondisi ini mengindikasikan terjadinya pergeseran dalam pemaknaan dan representasi komunikasi tradisional, yang berpotensi menyebabkan distorsi makna serta penurunan apresiasi terhadap nilai-nilai adat. Temuan ini mengungkap kesenjangan dalam studi-studi sebelumnya, yaitu minimnya kajian mendalam terkait dinamika komunikasi antar generasi dalam konteks Nyelabar. Oleh karena itu, kajian ini merekomendasikan pengembangan riset lanjutan dengan topik "Transformasi Norma Komunikasi Tradisional dalam Proses Nyelabar: Studi Etnografi Komunikasi Antar Generasi di Masyarakat Sasak" guna merumuskan strategi pelestarian komunikasi tradisional yang adaptif terhadap perubahan zaman
Strategi Dalam Meningkatkan Minat Baca Melalui Kegiatan Lingkungan Terbuka Bagi Siswa Sekolah Dasar
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun strategi dalam meningkatkan minat baca melalui kegiatan literasi di lingkungan terbuka bagi siswa sekolah dasar, dengan SDN 05 Pengadangan sebagai tempat penelitian. Metode yang diterapkan adalah penelitian tindakan kelas yang mengintegrasikan metode kualitatif dan kuantitatif. Data diperoleh melalui metode pengamatan, wawancara, serta evaluasi keterampilan membaca sebelum dan setelah pelaksanaan program literasi, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa semangat dan kemampuan membaca siswa meningkat secara signifikan saat berpartisipasi dalam program literasi di luar ruangan dibandingkan dengan di dalam kelas. Kondisi pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna dibangun melalui program literasi di luar ruangan, sehingga mendorong semangat siswa untuk membaca. Strategi yang diterapkan mencakup pemilihan bahan bacaan yang berkaitan dengan lingkungan setempat, penerapan metode pengajaran yang interaktif, serta memberikan peluang bagi siswa untuk berinovasi. Penelitian ini mengusulkan bahwa program literasi di lingkungan alam dapat menjadi pilihan yang efektif untuk membangun budaya membaca yang berkelanjutan di tingkat sekolah dasar. Dengan demikian, program literasi yang kreatif ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan minat baca siswa secara signifikan dan mendukung pembelajaran yang lebih menyeluruh. Dampak dari penelitian ini sangat penting bagi para guru dan pengelola sekolah dalam menyusun program literasi yang lebih menarik dan efisien
Penerapan Strategi Guru dalam Menanamkan Nilai Kejujuran pada Peserta Didik Sekolah Dasar
Abstract: This study aims to describe the strategy of Catholic Religious Education (PAK) teachers in shaping the honest character of students at Penikenek Elementary School. This research is important to do because the value of honesty is the main foundation in the formation of the character of students with integrity, but in practice it is often ignored in everyday life at school. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through interviews, observations, and documentation. the data analysis technique used in this research is the Miles and Huberman model, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that honest character is instilled through value learning, habituation, exemplary, and educational sanctions. Teachers act as role models and moral facilitators who instill the value of honesty consistently according to the teachings of the Catholic faith. Despite challenges such as cheating behavior and minor dishonesty, a reflective and humanist approach helps students develop moral awareness. This study recommends strengthening school and parent cooperation, continuous teacher training, and integration of honesty values in all learning processes to form a school culture with character.Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan strategi guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) dalam membentuk karakter jujur peserta didik di SDN Penikenek. Penelitian ini penting dilakukan karena nilai kejujuran merupakan fondasi utama dalam pembentukan karakter peserta didik yang berintegritas, namun dalam praktiknya sering kali diabaikan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles dan Huberman, yaitu redukasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter jujur ditanamkan melalui pembelajaran nilai, pembiasaan, keteladanan, dan pemberian sanksi edukatif. Guru berperan sebagai teladan dan fasilitator moral yang menanamkan nilai kejujuran secara konsisten sesuai ajaran iman Katolik. Meskipun ditemukan tantangan seperti perilaku mencontek dan ketidakjujuran kecil, pendekatan yang reflektif dan humanis membantu siswa mengembangkan kesadaran moral. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kerja sama sekolah dan orang tua, pelatihan guru secara berkelanjutan, serta integrasi nilai kejujuran dalam seluruh proses pembelajaran untuk membentuk budaya sekolah yang berkarakter
Augmented Reality and Learning Motivation in Achieving 21st Century Skills: The Mediating Role of Immersive Learning Experiences
In response to the increasing demands for 21st-century competencies, this study adopts an explanatory quantitative research design to investigate the mediating role of Immersive Learning Experiences (ILE) in the relationship between Augmented Reality (AR) and Learning Motivation (LM) toward the acquisition of 21st-Century Skills (CS). Using a quantitative explanatory design with Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), this study analyzes data from Generation Z students (aged 17–25) enrolled at the Ministry of Transportation's maritime campus in Sumatra to evaluate this relationship. The results show that AR has a significant positive effect on ILE (β = 0.603; t = 3.878; p < 0.001), while its direct effect on 21st-Century Skills (CS) is negative and insignificant (β = -0.225; t = 1.461; p = 0.144). ILE, in turn, significantly influenced CS (β = 0.599; t = 4.928; p < 0.001) and significantly mediated the effect of AR on CS (β = 0.361; t = 2.924; p = 0.003). Meanwhile, Learning Motivation (LM) did not show a significant direct or indirect effect on CS through ILE. This finding highlights that ILE plays a significant mediating role in linking AR to 21st-century skills, while LM did not show a comparable influence. This suggests that intrinsic factors such as motivation are crucial, with technology-enhanced learning environments playing a more dominant role in developing 21st-century skills. The limited mediation effect of ILE in the LM–CS pathway may stem from the inherently cognitive–affective nature of motivation, which may require different pedagogical support. Future research is recommended to incorporate moderator variables such as digital literacy and adopt a longitudinal design to assess the sustained impact of immersive learning on skill development
Internal Quality Assurance System in Indonesian Basic Education: A Systematic Literature Review
Improving the quality of basic education has become a strategic issue in the global and national development agenda. This study specifically investigates the implementation processes, thematic focus areas, and outcomes of the Internal Quality Assurance System (IQAS) in Indonesian basic education. Employing a qualitative Systematic Literature Review (SLR) methodology, the study synthesizes 45 papers from 2015 to 2025. These articles were were selected using purposive sampling from Google Scholar, DOAJ, SINTA, and Scopus, based on predefined inclusion criteria (articles focused on IQAS in Indonesian basic education) and exclusion criteria (non-empirical papers, non-basic education levels, or unrelated quality systems). Data were collected through document analysis and examined using thematic analysis. The results are: (1) quality certification and accreditation mechanisms, (2) stakeholder participation and school leadership, (3) capacity building and professional development, and (4) integration of digital technologies in quality assurance. Most of the reviewed studies employed qualitative case study approaches. The implementation of IQAS has contributed to strengthening a culture of continuous improvement, enhancing student learning outcomes, and improving equity in access to quality education. These findings imply the need for stronger support for school leadership, greater collaboration in quality management practices, and systematic digital integration into quality assurance processes. The study contributes to the growing literature on education quality assurance and offers practical insights for school administrators and policymakers. Future research should examine implementation challenges in under-resourced or remote areas and evaluate the long-term effectiveness of digital tools in IQAS practices