UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
13083 research outputs found
Sort by
Mendorong inovasi produk dan digitalisasi UMKM melalui challenge based learning
Abstrak UMKM memegang peranan penting dalam perekonomian nasional. Namun pada era Society 5.0 seperti saat ini, UMKM harus menghadapi tantangan dalam pemanfaatan teknologi digital dan inovasi produk. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelaku UMKM melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan. Metode yang digunakan adalah Challenge Based Learning (CBL), di mana metode ini mendorong pelaku UMKM dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi, merancang solusi, dan mengimplementasikan solusi tersebut di bisnis mereka. Kegiatan pengabdian masyarakat ini meliputi pelatihan inovasi produk dan pelatihan strategi digital marketing. Kegiatan ini dilaksanakan pada pelaku UMKM kerajinan rumah tangga. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa melalui pendekatan Challenge Based Learning (CBL) yang diterapkan dapat membantu pelaku UMKM dalam menemukan solusi terbaik untuk usahanya, salah satunya melalui pemanfaatan platform media sosial. Kegiatan ini juga berhasil meningkatkan kemampuan pelaku UMKM baik secara strategis maupun teknis. Melalui pelaksanaan kegiatan ini, tidak hanya berimbas pada peningkatan kemampuan individu saja, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat daya saing UMKM di pasar digital yang makin kompetitif. Kata kunci: UMKM; pemasaran digital; inovasi produk; media sosial; challenge based learning Abstract MSMEs play an important role in the national economy. However, in the current era of Society 5.0, MSMEs must face challenges in utilizing digital technology and product innovation. This community service activity aims to improve the capabilities of MSME actors through training and mentoring activities. The method used is Challenge Based Learning (CBL), where this method encourages MSME actors to identify problems faced, design solutions, and implement these solutions in their businesses. This community service activity includes product innovation training and digital marketing strategy training. This activity was carried out on MSME household craft actors. The results of this activity show that through the Challenge Based Learning (CBL) approach that is applied, it can help MSME actors find the best solutions for their businesses, one of which is through the use of social media platforms. This activity also succeeded in improving the capabilities of MSME actors both strategically and technically. Through the implementation of this activity, it not only has an impact on improving individual capabilities, but also contributes to strengthening the competitiveness of MSMEs in the increasingly competitive digital market. Keywords: SMEs; digital marketing; product innovation; social media; challenge based learnin
Pendampingan pengelolaan keuangan digital bagi usaha pertanian desa dan UMKM di Desa Kemang Kabupaten Muara Enim
Abstrak Kegiatan pendampingan dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas literasi dan manajemen keuangan digital pada pelaku usaha pertanian dan UMKM di Desa Kemang, Kabupaten Muara Enim. Masalah utama yang dihadapi oleh para pelaku usaha adalah kurangnya pemahaman mengenai pencatatan keuangan yang rapi dan penggunaan teknologi digital dalam proses manajemen usaha. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan edukatif berupa penyampaian materi, pelatihan aplikasi keuangan digital, serta pendampingan praktik dan diskusi interaktif. Sebanyak 15 peserta yang terdiri dari anggota Karang Taruna dan pelaku UMKM terlibat aktif selama kegiatan berlangsung. Evaluasi menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta mengenai dasar-dasar akuntansi, pengelolaan keuangan usaha, serta kemampuan menggunakan aplikasi pencatatan keuangan digital. Kegiatan ini menunjukkan bahwa transformasi digital dalam pengelolaan keuangan sangat relevan dan aplikatif di tingkat desa. Intervensi berbasis teknologi ini diharapkan menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di komunitas serupa. Kata Kunci: UMKM; keuangan digital; aplikasi keuangan; literasi keuangan. Abstract This community service activity was carried out to improve digital literacy and financial management capacity among agricultural business actors and micro, small and medium enterprises (MSMEs) in Kemang Village, Muara Enim Regency. The main problem faced by the participants was the lack of understanding regarding proper financial recording and the use of digital tools in business management. The program was implemented through an educational approach involving material presentation, digital financial application training, practical mentoring, and interactive discussions. A total of 15 participants, consisting of youth organization members and MSME representatives, actively participated in the activities. Evaluation results indicate a significant improvement in participants' knowledge of basic accounting, business financial management, and their ability to operate digital bookkeeping applications independently. This activity demonstrates that digital transformation in financial management is highly relevant and applicable at the village level. The technology-based intervention used here has the potential to serve as a replicable model for empowering similar communities. Keywords: MSMEs; digital finance; financial application; financial literacy
Pencatatan biaya operasional : studi perbandingan metode manual dan accurate pada Unit Kapal PT jembatan Nusantara
Abstrak Dalam dunia usaha yang semakin kompetitif, efisiensi dan akurasi dalam pencatatan keuangan menjadi aspek yang sangat krusial, khususnya dalam industri transportasi laut. PT. Jembatan Nusantara melakukan pencatatan biaya operasional kapal masih dilakukan secara manual pada beberapa unit. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan metode survey awal prosedur pelaksanaan magang, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan penrapan aplikasi, dan evaluasi hasi. Berdasarkan hasil pengabdian yang dilakukan di PT. Jembatan Nusantara, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara pencatatan biaya operasional kapal secara manual dan Accurate. Metode manual kelemahannya yaitu kecepatan pencatatan, kesalahan input, membutuhkan waktu yang lama dalam penyusunan laporan, serta menyulitkan proses audit dan monitoring data. Sementara Accurate memberikan keunggulan lebih efisiensi pencatatan, akurasi data, dan kecepatan penyusunan laporan. Accurate memungkinkan integrasi data secara otomatis dan real-time, sehingga sangat mendukung pengambilan keputusan manajerial yang cepat dan tepat. Namun demikian, efektivitas penggunaan accurate ini masih tergantung pada pemahaman pengguna dan kesiapan infrastruktur perusahaan. Kata kunci: Pencatatan manual; accurate; biaya operasional. Abstract In an increasingly competitive business world, efficiency and accuracy in financial recording are very crucial aspects, especially in the maritime transportation industry. PT. Jembatan Nusantara records ship operational costs and is still done manually on several units. This service activity is carried out using the initial survey method of internship implementation procedures, namely observation, interviews, documentation and application implementation, and evaluation of results. Based on the results of service carried out at PT. Jembatan Nusantara, it can be concluded that there is a significant difference between manual and accurate recording of ship operational costs. The weaknesses of the manual method are the speed of recording, input errors, requiring a long time to prepare reports, and making the audit and data monitoring process difficult. Meanwhile, Accurate provides the advantage of greater recording efficiency, data accuracy and speed of report preparation. Accurate allows data integration automatically and in real-time, thus greatly supporting fast and precise managerial decision making. However, the effectiveness of this accurate use still depends on user understanding and the readiness of the company's infrastructure. Keywords: manual recording; accurate; operating ecpense
Sosialisasi kedudukan anak perempuan dalam sistem pewarisan adat Suku Karo di Permata GBKP Kota Kupang
Abstrak Hukum Indonesia dalam keberagaman adatnya mengakui kebiasaan-kebiasaan adat dalam penentuan mengenai kewarisan atas siapa yang berhak mewarisi, besaran hak waris dan ketetapan lain yang berlaku dalam berbagai sistem pewarisan adat. Kondisi ini menyebabkan perbedaan dalam pelaksanaan pewarisan atau dalam penyelesaian masalah pewarisan di berbagai wilayah di Indonesia. Kenyataan yang terjadi pada masyarakat Suku Karo masih terjadi perbedaan penafsiran dalam memutuskan siapa yang berhak menguasai harta peninggalan orang tua, dimana yang terjadi bahwasanya anak laki-laki yang berhak menjadi ahli waris. Tujuan dari kegiatan PKM ini adalah Pendampingan dan penguatan komitmen dalam mempelajari adat dan budaya Suku Karo, Memberi pengetahuan dan pendampingan terkait adat dan budaya mengenai sistem pewarisan Suku Karo, Pendampingan dalam memahami realitas sosial yang berkembang dan relevansinya dengan Sistem Pewarisan Suku Karo. Kegiatan pengabdian ini menggunakan metode partisipatif berbentuk ceramah, diskusi bagi Kelompok Pemuda Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Kupang. Bentuk kegiatan berupa sosialisasi ditujukan kepada bagi Kelompok Pemuda Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Kupang. Hasil kegiatan pengabdian meningkatkan pengetahuan peserta pengabdian tentang pembagian harta warisan yang dilakukan pada masyarakat Suku Karo. Meskipun masyarakat Karo secara tradisional menganut sistem patriarki yang menempatkan anak laki-laki sebagai penerus utama, terdapat pergeseran nilai sosial yang mendukung hak waris perempuan. Kata kunci: kedudukan anak perempuan; sistem pewarisan adat; suku karo Abstract Indonesian law acknowledges tradition in inheritance matters, encompassing the determination of heirs, the scope of inherited rights, and other restrictions pertinent to various customary inheritance systems. This circumstance results in disparities in the execution or resolution of inheritance matters throughout different regions of Indonesia. The Karo community has divergent interpretations about the entitlement to inherit parental property, whereas male offspring are designated as heirs. The goal of this PKM activity is to help people learn about and become more committed to studying the Karo Tribe's customs and culture, to teach people about and support their inheritance system, and to make it easier to understand how changing social conditions affect the Karo Tribe's inheritance system. This PKM program employs a participative approach through lectures and discussions for the Youth Group of the Batak Karo Protestant Church (GBKP) in Kupang. The activity's format, centered on socializing, targets the Youth Group of the Batak Karo Protestant Church (GBKP) in Kupang. The outcomes of the community service initiatives enhanced the participants' understanding of inheritance distribution within the Karo ethnic group. The Karo society historically follows a patriarchal system designating male children as principal heirs; nonetheless, there is a notable shift in social attitudes advocating for women's inheritance rights. Keywords: the position of daughters; traditional inheritance system; karo trib
Lingkungan binaan design taman penitipan anak pengembangan rumah cerdas timiomi daycare
Abstrak Pengabdian masyarakat ini membahas perancangan dan pengembangan lingkungan binaan pada Taman Penitipan Anak (TPA) berbasis konsep rumah cerdas dengan studi kasus Timiomi Daycare. Fokus utama terletak pada penciptaan ruang yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak usia dini melalui integrasi teknologi serta pendekatan desain yang ramah anak. Tujuan pengabdian masyarakat ini beradaptasi dengan studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan pengelola daycare serta orang tua. Hasil pengabdian masyarakat dari studi ini menunjukkan bahwa pengembangan lingkungan fisik yang didukung teknologi pintar seperti sistem monitoring keamanan, pencahayaan otomatis, dan kontrol suhu ruangan dapat meningkatkan kualitas pelayanan serta memberikan rasa aman bagi anak dan orang tua. Fasilitas dilengkapi mainan edukatif, puzzle, balok, buku cerita, dan area bermain lunak (soft play), area taman dengan permainan fisik seperti perosotan, jungkat-jungkit, dan ayunan yang aman, berujuan untuk menstimulasi motorik kasar dan halus, serta melatih interaksi sosial. Selain itu, penataan ruang yang fleksibel, pemilihan material non-toksik, serta integrasi area bermain edukatif turut menunjang perkembangan motorik dan kognitif anak. Hasil ppengabdian masyarakat ini merekomendasikan model pengembangan lingkungan TPA yang adaptif terhadap kebutuhan anak, berkelanjutan, dan mendukung sistem pengasuhan modern berbasis rumah cerdas. Kata kunci: lingkungan binaan; taman penitipan anak; rumah cerdas; desain rumah anak; timiomi daycare Abstract This community service discusses the design and development of a built environment in a Child Care Center (TPA) based on the concept of a smart home with a case study of Timiomi Daycare. The main focus is on creating a safe, comfortable space that supports the growth and development of early childhood through the integration of technology and a child-friendly design approach. The purpose of this community service is adapted from literature studies, field observations, and interviews with daycare managers and parents. The results of community service from this study indicate that the development of a physical environment supported by smart technology such as a security monitoring system, automatic lighting, and room temperature control can improve the quality of service and provide a sense of security for children and parents. The facilities are equipped with educational toys, puzzles, blocks, story books, and soft play areas, garden areas with safe physical games such as slides, seesaws, and swings, aimed at stimulating gross and fine motor skills, and training social interaction. In addition, flexible spatial planning, selection of non-toxic materials, and integration of educational play areas also support children's motor and cognitive development. The results of this community service recommend a model for developing a TPA environment that is adaptive to children's needs, sustainable, and supports a modern care system based on smart homes.Keywords: built environment; childcare; smart home; child-friendly design; timiomi daycare
Sosialisasi manajemen pemeliharaan ternak untuk mencegah penyakit dan peningkatan ketahanan pangan di Desa Rappang Barat Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar
AbstrakDesa Rappang Barat, yang terletak di Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, merupakan wilayah dengan potensi peternakan yang cukup besar, terutama dalam pemeliharaan ternak sapi dan kambing. Berdasarkan hasil identifikasi bersama pihak desa, diketahui bahwa sebagian besar peternak masih memiliki pemahaman terbatas terkait manajemen kesehatan ternak, yang berisiko meningkatkan penyebaran penyakit, menurunkan produktivitas, serta berdampak negatif terhadap ketahanan pangan masyarakat. Untuk mengatasi permasalahan ini, pada 18 Januari 2025 telah dilaksanakan kegiatan sosialisasi di Aula Kantor Desa Rappang Barat yang diikuti oleh peternak setempat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai jenis-jenis penyakit ternak dan upaya pencegahannya, dengan metode ceramah interaktif yang dilanjutkan sesi tanya jawab, sehingga peserta tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga dapat menyampaikan permasalahan yang mereka hadapi secara langsung. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan wawasan dan pemahaman peternak terhadap manajemen kesehatan ternak sebagai bagian dari upaya peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti sosialisasi. Selain itu, peserta memberikan respon positif terhadap kegiatan ini, dan menganggap materi yang disampaikan sangat relevan dan aplikatif dalam praktik pemeliharaan ternak sehari-hari. Berdasarkan hasil tersebut, kegiatan sosialisasi ini dinilai efektif dan berhasil mencapai tujuannya, serta direkomendasikan untuk direplikasi di desa-desa lain dengan karakteristik serupa. Kata kunci: kesehatan ternak; pangan; penyakit ternak; rappang barat; sosialisai Abstract Rappang Barat Village, located in Mapilli Subdistrict, Polewali Mandar Regency, is an area with significant potential in livestock farming, particularly in the rearing of cattle and goats. However, identification conducted jointly with village officials revealed that most livestock farmers still have limited understanding of animal health management. A limited understanding of livestock management can elevate the risk of disease outbreaks, ultimately diminishing productivity and undermining community food security. To address this issue, a socialization activity was conducted to provide information on common livestock diseases and preventive measures. The event was held on January 18, 2025, at the Village Hall of Rappang Barat and involved local farmers as participants. The method used included an interactive lecture followed by a discussion session, allowing participants not only to receive information passively but also to raise the problems they face directly. The primary goal of this activity was to enhance the farmers’ knowledge and understanding of livestock health management as part of efforts to improve productivity and support food security. Evaluation findings revealed a notable enhancement in participants' comprehension after participating in the session. Moreover, participants responded positively to the activity, considering the material to be relevant and applicable in their daily livestock practices. Based on these outcomes, the socialization program was deemed effective in achieving its objectives and is recommended to be replicated in other villages with similar characteristics. Keywords: animal health; food security; livestock diseases; rappang barat; socializatio
Penguatan branding digital UMKM Pekka (Studi Kasus LPP-Pekka Yayasan Masjid Agung Palembang)
AbstrakPengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan digital branding para pelaku usaha UMKM, khususnya perempuan kepala keluarga (Pekka) di lingkungan Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga Yayasan Masjid Agung Palembang, yang menghadapi tantangan berat dalam memasarkan produk di era digital. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan keterampilan digital branding guna memperkuat daya saing usaha UMKM yang dijalankan oleh perempuan kepala keluarga. Metode pengabdian yang digunakan adalah Training of Trainer (ToT), yang mencakup identifikasi kebutuhan pelatihan, pelaksanaan pelatihan interaktif, praktik langsung pembuatan konten digital, serta evaluasi pascapelatihan. Hasil menunjukkan bahwa pelatihan ini memberikan manfaat [SB1] terhadap peningkatan keterampilan digital peserta, di mana peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya digital branding dan kesiapan untuk menerapkannya dalam pengembangan usaha mereka. Saran untuk pengabdian mmasyarakat selanjutnya adalah pentingnya menyediakan akses teknologi yang lebih luas, mengembangkan materi pelatihan yang lebih terfokus pada kebutuhan spesifik UMKM digital, serta melibatkan pendampingan berkelanjutan agar peserta dapat terus mengembangkan keterampilan digital secara optimal. Kata kunci: keterampilan digital; digital branding; UMKM AbstractThis community service is motivated by the low digital branding skills of MSME business actors, especially female heads of households (Pekka) in the Women's Head of Household Development and Empowerment Institute of the Palembang Grand Mosque Foundation, who face tough challenges in marketing products in the digital era. The purpose of this community service is to improve digital branding skills in order to strengthen the competitiveness of MSME businesses run by female heads of households. The community service method used is Training of Trainers (ToT), which includes identifying training needs, implementing interactive training, direct practice of creating digital content, and post-training evaluation. The results show that this training has a positive impact on improving the digital skills of participants, where participants show a better understanding of the importance of digital branding and readiness to apply it in developing their businesses. Suggestions for further community service are the importance of providing wider access to technology, developing training materials that are more focused on the specific needs of digital MSMEs, and involving ongoing mentoring so that participants can continue to develop digital skills optimally. Keywords: digital skills; digital branding; UMKM
Pemberdayaan petugas rekam medis terkait perancangan UI/UX SIMKLINIK bagian kodefikasi klinis
Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus untuk memberdayakan petugas rekam medis terkait perancangan UI/UX SIMKLINIK bagian kodefikasi klinis. SIMKLINIK merupakan sistem informasi manajemen klinik yang digunakan untuk manajemen data pasien. Adapun tujuan dari dilakukannya kegiatan pengabdian ini yaitu meningkatkan pengetahuan peserta dalam perancangan UI/UX. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di salah satu klinik yang berlokasi di Kepanjen Kabupaten Malang. Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari dengan peserta yaitu petugas rekam medis yang berjumlah tiga orang. Metode pemberdayaan dilakukan dengan metode ceramah dan demonstrasi. Kegiatan ini diawali dengan penyuluhan yang berkaitan dengan konsep desain dan desain UI/UX SIMKLINIK bagian kodefikasi klinis, kemudian dilanjutkan praktik perancangan UI/UX SIMKLINIK bagian kodefikasi klinis. Sebelum dan setelah pelaksanaan kegiatan, dilakukan tes pada peserta yang digunakan sebagai salah satu alat untuk evaluasi dalam kegiatan ini. Adapun rata-rata nilai pretest sebelum kegiatan dilaksanakan yaitu 40.00 dan nilai postest setelah dilaksanakan kegiatan yaitu 80.00, sehingga peningkatan persentasenya adalah 100%. Peningkatan pengetahuan peserta dalam kegiatan ini dapat membantu petugas dalam memahami desain yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pengguna supaya pekerjaan berjalan cepat dan tepat. Kata kunci: perancangan; SIMKLINIK; UI/UX. Abstract This community service activity focuses on empowering medical record officers related to UI/UX design for SIMKLINIK clinical codification. SIMKLINIK is a clinical management information system used for patient data management. The purpose of this community service activity is to increase participants' knowledge in designing UI/UX. This community service activity was carried out at a clinic located in Kepanjen, Malang Regency. This activity was carried out for three days with three medical record officers as participants. The empowerment method was carried out using lectures and coercion methods. This activity began with counseling related to the design concept and UI/UX design for SIMKLINIK clinical codification, then continued with UI/UX design practice for SIMKLINIK clinical codification. Before and after the implementation of the activity, tests were conducted on participants which were used as one of the tools for evaluation in this activity. The average pretest score before the activity was carried out was 40.00 and the posttest score after the activity was carried out was 83.00, so the percentage increase was 107%. Increasing the knowledge of participants in this activity can help officers understand designs that suit the needs and desires of users so that work runs quickly and accurately. Keywords: design; SIMKLINIK; UI/UX
Pelatihan kader kesehatan tentang pemberian nutrisi pada lansia penderita diabetes melitus di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang
Abstrak Lansia memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dibandingkan dengan usia muda. Pemberian nutrisi yang tepat sangat penting dilakukan pada lansia diabetes dan dapat membantu menjaga kadar glukosa darah direntang normal serta mencegah komplikasi lebih serius. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melaksanakan pelatihan kader kesehatah tentang pemberian nutrisi pada lansia penderita diabetes melitus di Puskesmas Tajinan Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah demonstrasi. Kegiatan pengabdian dilakukan direntang waktu antara September 2024-Februari 2025, dalam tiga kali pertemuan dan diikuti 14 peserta, yaitu kader kesehatan yang berasal dari desa Gunungronggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Evaluasi keberhasilan dilakukan melalui pre dan post tes menggunakan kuisioner untuk mengukur pemahaman kader, sedangkan penilaian ketrampilan demontrasi menggunakan lembar observasi. Hasil pelatihan menunjukkan pengetahuan kader kesehatan tentang pemberian nutrisi lansia penderita diabetes melitus didapatkan nilai rata-rata pre tes 86 % (12 orang) pengetahuan Cukup meningkat menjadi 93 % (13 orang) pengetahuan Baik pada post test, sedangkan demonstrasikan pemberian nutrisi menunjukkan hasil Baik yaitu 93 % (13 orang) dapat mendemonstrasikan pemberian nutrisi pada lansia diabates melitus. Kesimpulan: Pelatihan ini membuktikan adanya peningkatan yang signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan mengenai pemberian nutrisi pada lansia penderita diabetes melitus. Setelah pelatihan, sebagian besar kader mampu memahami dan mendemonstrasikan pemberian nutrisi dengan baik. Hal ini menegaskan bahwa kader kesehatan memiliki peran strategis dalam edukasi nutrisi kepada lansia guna membantu menjaga kadar glukosa darah tetap dalam rentang normal. Kata kunci: diabetes melitus; kader; nutrisi lansia. AbstractThe elderly have different nutritional needs compared to young age. Providing the right nutrition is very important for the elderly with diabetes and can help keep blood glucose levels in the normal range and prevent more serious complications. This community service aims to carry out health cadre training on providing nutrition to the elderly with diabetes mellitus at the Tajinan Health Center, Malang Regency. The method used in this training was demonstration. The service activities were carried out in the period between September 2024 and February 2025, in three meetings and attended by 14 participants, namely health cadres from Gunungronggo village, Tajinan District, Malang Regency.. Success evaluation was carried out through pre and post tests using questionnaires to measure cadre understanding, while demonstration skills assessment used observation sheets. The results of the training showed that the knowledge of health cadres about the provision of nutrition to the elderly with diabetes mellitus was obtained with an average pre-test score of 86% (12 people) knowledge of Sufficient increased to 93% (13 people) of Good knowledge in the post-test, while the demonstration of nutrition showed good results, namely 93% (13 people) could demonstrate the provision of nutrition to the elderly with diabates melitus. Conclusion: This training confirmed a significant improvement in the knowledge and skills of health cadres regarding nutritional care for elderly patients with diabetes mellitus. After the training, most cadres were able to understand and properly demonstrate the provision of nutrition. This affirms the strategic role of health cadres in educating the elderly to maintain blood glucose levels within the normal range. Keywords: cadre; diabetes mellitus; nutrition of the elderly
Pelatihan pembuatan probiotik RABAL Bagi pembudidaya ikan lele di Desa Blaru, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri
AbstrakProbiotik RABAL merupakan jenis probiotik yang dikembangkan dengan memanfaatkan ragi dan bakteri asam laktat yang mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan, menjaga kualitas air, serta memperkuat sistem imun ikan. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan dan keterampilan praktis dalam memproduksi dan memanfaatkan probiotik RABAL bagi pembudidaya ikan lele di Desa Blaru. Kegiatan ini dilaksanakan dengan beberapa tahap kegiatan yakni (1) Identifikasi dan pemilihan mitra, (2) Sosialisasi dan koordinasi awal, (3) Pelaksanaan pelatihan, (4) Penghibahan alat dan bahan, serta (5) Evaluasi dan monitoring. Kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan pemahaman pembudidaya ikan lele di Desa Blaru, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri secara signifikan dalam hal pembuatan probiotik RABAL sebesar 50,92%. Peserta menunjukkan antusiasme tinggi, terlihat dari partisipasi aktif dalam diskusi dan praktik. Kegiatan ini efektif dalam mentransfer pengetahuan sekaligus mendorong penerapan teknologi probiotik secara mandiri oleh pembudidaya ikan lele. Kata kunci: probiotik RABAL; pembudidaya ikan lele; Desa Blaru. AbstractRABAL probiotics are a type of probiotic developed using yeast and lactic acid bacteria that can improve feed utilization efficiency, maintain water quality, and strengthen the immune system of fish. The aim of this community service activity is to improve knowledge and practical skills in producing and utilizing RABAL probiotics for catfish farmers in Blaru Village.. The activity was carried out in several stages: (1) Identification and selection of partners, (2) Initial socialization and coordination, (3) Implementation of training, and (4) Evaluation and monitoring. This community service activity successfully improved the understanding of catfish farmers in Blaru Village, Badas Sub-district, Kediri District, significantly in terms of RABAL probiotic production by 50.92%. Participants demonstrated high enthusiasm, evident from their active participation in discussions and practical sessions. The activity was effective in transferring knowledge while encouraging catfish farmers to independently apply probiotic technology. Keywords: RABAL probiotics; catfish farmers; Blaru Village