UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
13083 research outputs found
Sort by
EDUKASI AKTIVITAS FISIK DALAM RANGKA OPTIMALISASI KUALITAS HIDUP LANJUT USIA
Abstrak: Lansia akan mengalami proses dimana menurunnya kemampuan jaringan meregenerasi, mempertahankan kestabilan struktur tubuh, dan fungsi tubuh dalam menghadapi cedera ataupun infeksi. Lansia yang melakukan aktivitas fisik secara tidak aktif dapat menjadi faktor risiko penurunan kesehatan secara bermakna. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat aktivitas fisik lansia. Pengetahuan yang baik dapat mendorong lansia untuk melakukan aktivitas fisik dengan baik juga. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang aktivitas fisik sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup menjadi lebih baik. Mitra pengabdian Masyarakat sebanyak 26 orang lansia di Panti Sosial Tresna Werda Sentani Kabupaten Jayapura dengan metode yang digunakan yaitu metode ceramah dan diskusi dengan media edukasi melalui Powerpoint yang berisi materi informatif dan ilustratif serta dilanjutkan dengan senam lansia. Hasil evaluasi kegiatan dilakukan dengan membandingkan pretest dan posttest. Terdapat peningkatan pengetahuan setelah dilakukan edukasi aktivitas fisik lansia. Sebelum dilakukan edukasi aktivitas fisik lansia, terdapat sebagian besar partisipan (57,67%) yang memiliki pengetahuan cukup dan setelah dilakukan edukasi didapatkan bahwa pengetahuan partisipan sebagian besar telah meningkat menjadi pengetahuan yang baik (84,62%).Abstract: Elderly individuals experience a decline in the ability of tissue to regenerate, maintain the stability of body structures, and body function in the face of injury or infection. Inactive elderly individuals can be a significant risk factor for health decline. Knowledge is one factor that influences the level of physical activity in the elderly. Good knowledge can encourage elderly individuals to engage in physical activity well. The purpose of this activity is to increase the elderly's knowledge about physical activity so that they can improve their quality of life. The community service partners were 26 elderly people at the Sentani Tresna Werda Social Home in Jayapura Regency. The method used was lecture and discussion with educational media through PowerPoint containing informative and illustrative materials and continued with elderly exercise. The results of the activity evaluation were carried out by comparing the pretest and posttest. There was an increase in knowledge after the elderly physical activity education. Before the elderly physical activity education, the majority of participants (57.67%) had sufficient knowledge, and after the education, it was found that the knowledge of most participants had increased to good knowledge (84.62%)
REGENERASI PESISIR: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PENGELOLA MANGROVE TRANSFORMASI EKOLOGI DAN EKONOMI MELALUI EDUWISATA MANGROVE
Abstrak: Kawasan pesisir Tapak Tugu, mengalami degradasi ekosistem mangrove sebesar 45% akibat abrasi pantai (3,2 meter/tahun), penurunan permukaan tanah (8-10 cm/tahun), dan intensitas rob 12-15 kali per bulan. Tujuan pengabdian ini adalah mentransformasi kondisi ekologi dan ekonomi masyarakat melalui eduwisata mangrove berkelanjutan dengan menekankan pada aspek pemberdayaan masyarakat agar mampu berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sumber daya alam secara mandiri dan berkelanjutan. Metode pelaksanaan meliputi: (1) sosialisasi program kepada Pokdarwis Bina Tapak Lestari dan stakeholder; (2) pelatihan produksi olahan mangrove dan manajemen eduwisata; (3) implementasi eduwisata penanaman mangrove partisipatif; (4) kampanye edukasi melalui program kunjungan rombongan wisatawan; dan (5) monitoring dan evaluasi berkelanjutan dilakukan untuk menilai efektivitas program melalui observasi wawancara, serta analisis data capaian kegiatan. Sehingga keberhasilan program dapat diukur secara objektif dari aspek pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan lingkungan. Mitra sasaran adalah kelompok Pokdarwis yang berjumlah 35 orang. Hasil yang dicapai adalah praktik pembuatan dodol mangrove oleh 12 anggota kelompok perempuan dengan omzet Rp 2.250.000 per bulan, terlaksananya program eduwisata penanaman mangrove dengan partisipasi 24 rombongan wisatawan (480 orang), kampanye edu wisata melalui kegiatan menanam dan kunjungan tambak yang melibatkan akademisi, serta peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat sebesar 78%. Program ini berhasil mentransformasi kawasan mangrove menjadi destinasi eduwisata berkelanjutan dengan peningkatan pendapatan masyarakat sebesar 65%.Abstract: The Tapak Tugu coastal area has experienced a 45% degradation of its mangrove ecosystem due to coastal abrasion (3.2 meters/year), land subsidence (8-10 cm/year), and tidal flooding 12-15 times per month. The objective of this community service program is to transform the ecological and economic conditions of the community through sustainable mangrove ecotourism, emphasizing community empowerment so that they can actively participate in the independent and sustainable management of natural resources. The implementation methods include: (1) socialization of the program to Pokdarwis Bina Tapak Lestari and stakeholders; (2) training in mangrove processing and ecotourism management; (3) implementation of participatory mangrove planting ecotourism; (4) educational campaigns through tourist group visit programs; and (5) continuous monitoring and evaluation to assess program effectiveness through observation interviews and analysis of activity achievement data. Thus, the success of the program can be measured objectively in terms of community empowerment and environmental management. The target partners are the Pokdarwis group, consisting of 35 people. The results achieved were the production of mangrove dodol by 12 members of a women's group with a turnover of Rp 2,250,000 per month, the implementation of an educational mangrove planting program with the participation of 24 tourist groups (480 people), an educational campaign through planting activities and visits to fish ponds involving academics, and a 78% increase in community environmental awareness. This program has successfully transformed the mangrove area into a sustainable edutourism destination with a 65% increase in community income
PENGUATAN PROGRAM UKS TERPADU SEBAGAI STRATEGI PENINGKATAN KESEHATAN DAN LITERASI KEUANGAN PESERTA DIDIK
Abstrak: Program UKS berperan penting dalam mendukung pendidikan melalui peningkatan kesehatan warga sekolah lewat layanan kesehatan dasar, edukasi PHBS, penerapan CTPS, menjaga kebersihan, dan pembiasaan pola makan sehat. Selain itu, UKS menjadi wadah kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, orang tua, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan sehat. Hasil kunjungan ke sekolah mitra menunjukkan masih adanya kendala seperti kurangnya pengetahuan siswa, keterbatasan fasilitas CTPS, dan rendahnya literasi keuangan. Untuk itu, dilakukan sosialisasi dan pendampingan Program UKS Terpadu guna memperbaiki fasilitas serta mengoptimalkan penerapan PHBS di sekolah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman tentang PHBS, keterampilan CTPS, dan literasi keuangan peserta didik. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, edukasi, pelatihan literasi keuangan, penataan fasilitas UKS, serta praktik langsung CTPS. Evaluasi dilakukan terhadap 40 peserta didik melalui pre-test dan post-test dengan 15 pertanyaan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan mitra secara signifikan, dari 46,25% menjadi 96,75% pada aspek UKS Terpadu, dan dari 52,25% menjadi 88,25% pada aspek literasi keuangan. Dengan capaian di atas 85%, dapat disimpulkan bahwa intervensi ini efektif dalam meningkatkan penerapan PHBS, keterampilan CTPS, dan kemampuan pengelolaan keuangan sederhana. Penataan ruang UKS juga telah terlaksana meskipun belum sepenuhnya memenuhi standar yang ditetapkan.Abstract: The UKS program plays a vital role in supporting education by improving the health of school residents through basic health services, PHBS education, CTPS implementation, maintaining cleanliness, and promoting healthy eating habits. Furthermore, the UKS serves as a collaborative platform between schools, health workers, parents, and the community to create a safe and healthy learning environment. Visits to partner schools revealed persistent challenges, including a lack of student knowledge, limited CTPS facilities, and low financial literacy. Therefore, the Integrated UKS Program socialization and mentoring were conducted to improve facilities and optimize PHBS implementation in schools. This activity aimed to increase students' understanding of PHBS, CTPS skills, and financial literacy. Implementation methods included socialization, education, financial literacy training, UKS facility arrangement, and direct CTPS practice. Evaluations were conducted on 40 students through pre- and post-tests with 15 questions. The evaluation results showed a significant increase in partner knowledge, from 46.25% to 96.75% in the Integrated UKS aspect, and from 52.25% to 88.25% in the financial literacy aspect. With a performance above 85%, it can be concluded that this intervention was effective in improving the implementation of PHBS, CTPS (Handwashing Handwashing) skills, and simple financial management skills. The UKS (School Health Unit) layout has also been implemented, although it does not yet fully meet established standards
STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN EKONOMI HIJAU DI PERTANIAN LAMONGAN
Abstrak: Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk menjawab tantangan Desa Sungelebak, Lamongan, yang masih bergantung pada energi fosil, pupuk kimia, dan pemasaran konvensional. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan hardskill dan softskill masyarakat dalam penerapan teknologi energi terbarukan, pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik, dan pemasaran digital produk pertanian. Metode pelaksanaan mencakup sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan intensif, dan evaluasi partisipatif yang melibatkan 50 anggota kelompok tani. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan teknis masyarakat sebesar 85%, pemanfaatan limbah ternak mencapai 100%, pengurangan penggunaan pupuk kimia hingga 50%, serta penghematan biaya energi rata-rata Rp400.000/bulan/petani. Di bidang pemasaran, kemampuan digital meningkat signifikan dengan terbentuknya lima akun e-commerce aktif dan kenaikan omzet hingga 30%. Kegiatan ini berhasil mengintegrasikan aspek teknologi, lingkungan, dan ekonomi hijau, sekaligus memperkuat kemandirian masyarakat menuju pertanian berkelanjutan.Abstract: This community service program addressed the challenges in Sungelebak Village, Lamongan, which still depends on fossil energy, chemical fertilizers, and conventional marketing systems. The main objective was to improve the community’s hard and soft skills in applying renewable energy technologies, converting livestock waste into organic fertilizer, and utilizing digital marketing for agricultural products. The methods included socialization, technical training, intensive mentoring, and participatory evaluation involving 50 farmer group members. The results showed an 85% improvement in technical skills, 100% utilization of livestock waste, a 50% reduction in chemical fertilizer use, and average energy cost savings of IDR 400,000 per farmer per month. In marketing, digital literacy improved markedly with five active e-commerce accounts and a 30% increase in sales turnover. This program successfully integrated technological, environmental, and economic dimensions of green economy while strengthening community independence toward sustainable agriculture
PENGENALAN PETA SEJAK DINI UNTUK MENINGKATKAN LITERASI LINGKUNGAN
Abstrak: Penelitian pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi lingkungan anak usia dini melalui pengenalan peta sebagai media pembelajaran di PAUD/TK Kasih Bunda Desa Telagawaru. Kegiatan dilaksanakan dengan melibatkan dosen, mahasiswa, guru, serta masyarakat setempat. Metode yang digunakan meliputi kegiatan menggambar dan mewarnai peta, penayangan video tentang bencana alam, serta pelatihan mitigasi bencana sederhana. Peserta didik berusia 4–6 tahun dipisahkan dalam kelompok sesuai tahap perkembangan, sehingga materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar mereka. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pengenalan peta mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, meningkatkan pemahaman anak tentang bentuk wilayah Indonesia, serta menanamkan kesadaran dasar tentang pentingnya menjaga lingkungan dan memahami risiko bencana. Selain itu, guru dan orang tua memperoleh pengalaman baru dalam menerapkan pembelajaran berbasis lingkungan. Program ini berhasil membangun sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung literasi lingkungan sejak dini. Dengan demikian, pengenalan peta dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran yang efektif untuk memperkuat pendidikan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana di tingkat PAUD/TK. Kegiatan ini diharapkan dapat direplikasi di lembaga pendidikan serupa dengan penyesuaian konteks lokal.Abstract: This community service program aimed to enhance environmental literacy among early childhood students through the introduction of maps as learning media at PAUD/TK Kasih Bunda in Telagawaru Village. The activities involved lecturers, university students, teachers, and local communities. The methods included drawing and coloring maps, showing educational videos about natural disasters, and providing basic disaster mitigation training. Children aged 4–6 years were grouped according to their developmental stages, allowing the materials to be tailored to their learning needs. The results indicate that introducing maps fostered curiosity, improved children’s understanding of Indonesia’s geographical forms, and instilled basic awareness of environmental care and disaster risks. Moreover, teachers and parents gained new experiences in implementing environmental-based learning. The program successfully built synergy among schools, families, and communities in supporting environmental literacy from an early age. Therefore, introducing maps can serve as an effective learning strategy to strengthen environmental education and disaster preparedness at the early childhood education level. This initiative is expected to be replicated in similar institutions with appropriate local adaptations
PELATIHAN PENGOLAHAN PANGAN BERBASIS JAGUNG UNTUK MENGATASI STUNTING DAN KEMISKINAN EKSTREM DI DESA WATU MORI, NUSA TENGGARA TIMUR
Abstrak: Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia, terutama di wilayah dengan kemiskinan ekstrem seperti di Kabupaten Manggarai Timur. Rendahnya pemanfaatan potensi pangan lokal, khususnya jagung, berkontribusi terhadap tingginya angka stunting dan kemiskinan ekstrem. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkanpengetahuan dan keterampilan ibu-ibu PKK serta kader desa yang berjumlah 30 orang, dalam mengolah jagung menjadi pangan bergizi dan bernilai ekonomi sebagai strategi penanggulangan stunting dan kemiskinan. Metode yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) melalui tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasilnya, terjadi peningkatan pengetahuan peserta dari rata-rata pre-test 60 menjadi 85 pada post-test, serta peningkatan keterampilan teknis dalam mengolah produk seperti tepung, tempe, puding, es, bubur ayam, dodol, mie dan beras jagung. Kegiatan ini juga mendorong munculnya potensi wirausaha lokal dan mendapat dukungan pemerintah desa. Intervensi ini terbukti efektif, kontekstual, dan berkelanjutan, serta layak direplikasi di daerah lain dengan karakteristik serupa dalam upaya percepatan penurunan stunting dan kemiskinan.Abstract: Stunting remains a major public health issue in Indonesia, especially in poverty-stricken areas like East Manggarai Regency. Limited use of local food resources, particularly corn, contributes to both stunting and poverty. This community service program aimed to improve the knowledge and skills of 30 members of the Family Welfare Movement (PKK) and village cadres in processing corn into nutritious and marketable food products as a strategy to reduce stunting and poverty. Using the Participatory Rural Appraisal (PRA) approach covering preparation, implementation, and evaluation stages the program significantly increased participants’ knowledge, with scores rising from 60 (pre-test) to 85 (post-test). Skills improved in producing various corn-based products, including flour, tempeh, pudding, desserts, porridge, dodol, noodles, and corn rice. The activity also stimulated local entrepreneurship and gained strong support from the village government. Overall, the intervention proved effective, contextually relevant, and sustainable, and is recommended for replication in similar regions
WORKSHOP PENYUSUNAN RPP DENGAN PENDEKATAN DEEP LEARNING PADA GURU SMK
Abstrak: Workshop penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan pendekatan Deep Learning dilaksanakan sebagai bentuk pemberdayaan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam meningkatkan kompetensi pedagogik. Permasalahan yang dihadapi adalah masih banyak guru kesulitan menyusun RPP yang selaras dengan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam merumuskan tujuan berbasis higher order thinking skills (HOTS) dan merancang asesmen autentik. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk (1) memberikan pemahaman konseptual tentang pendekatan Deep Learning, (2) melatih guru menyusun RPP berbasis Deep Learning, (3) meningkatkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran inovatif, dan (4) memperkuat kualitas pembelajaran SMK agar relevan dengan tuntutan dunia kerja. Metode kegiatan dilaksanakan melalui workshop, praktik penyusunan RPP, diskusi interaktif, dan evaluasi menggunakan pre-test, post-test, serta angket. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan: 92% guru lebih memahami konsep Deep Learning, 77% lebih percaya diri menyusun RPP, 85% mampu merumuskan tujuan dengan kata kerja operasional tingkat tinggi, serta 77% mampu merancang asesmen autentik. Temuan ini menunjukkan bahwa workshop berimplikasi positif terhadap peningkatan kapasitas guru, sejalan dengan kebijakan Merdeka Belajar dan tuntutan pembelajaran abad 21. Program serupa perlu dilaksanakan secara berkelanjutan dengan pendampingan lebih intensif agar kualitas pembelajaran vokasi semakin optimal.Abstract: A workshop on preparing Lesson Implementation Plans (RPP) using the Deep Learning approach was held as a form of empowerment for Vocational High School (SMK) teachers in improving their pedagogical competence. The problem faced was that many teachers still had difficulty preparing lesson plans that were aligned with the Independent Curriculum, especially in formulating objectives based on higher order thinking skills (HOTS) and designing authentic assessments. This community service activity aimed to (1) provide a conceptual understanding of the Deep Learning approach, (2) train teachers in preparing lesson plans based on Deep Learning, (3) improve teachers' abilities in designing innovative learning, and (4) strengthen the quality of vocational high school learning so that it was relevant to the demands of the world of work. The activity method was implemented through workshops, lesson plan preparation practices, interactive discussions, and evaluation using pre-tests, post-tests, and questionnaires. The results of the activity showed significant improvements: 92% of teachers had a better understanding of the Deep Learning concept, 77% were more confident in preparing lesson plans, 85% were able to formulate objectives with high-level operational verbs, and 77% were able to design authentic assessments. These findings indicate that the workshop had positive implications for improving teacher capacity, in line with the Merdeka Belajar policy and the demands of 21st-century learning. Similar programs need to be implemented sustainably with more intensive mentoring to optimize the quality of vocational learning
TEKNOLOGI BUDIDAYA PAKAN ALAMI DAN EDUKASI ANALISIS KEUNTUNGAN USAHA BUDIDAYA IKAN
Abstrak: Kegiatan pengabdian masyarakat di, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, dilaksanakan untuk menjawab tantangan tingginya biaya pakan ikan (> 60% biaya produksi). Budidaya ikan nila dan gurame oleh Pokdakan “Mina Buana” kesulitan mempertahankan usaha akibat ketergantungan pada pakan pabrikan. Solusi yang Pokdakan pilih adalah implementasi teknologi tepat guna (TTG) budidaya Azolla pinnata sebagai pakan alternatif serta edukasi analisis finansial sederhana. Untuk itu, kegiatan ini bertujuan untuk (1) Meningkatkan kemampuan pembudidaya ikan dalam menerapkan teknologi budidaya Azolla pinnata sebagai pakan alternatif, (2) Memperkuat keterampilan analisis finansial sederhana untuk menghitung efisiensi usaha budidaya, dan (3) Menumbuhkan kemandirian dan keberlanjutan usaha perikanan desa melalui penerapan teknologi tepat guna. Pokdakan "Mina Buana" sebagai mitra kegiatan berjumlah 10 orang. Metode yang diterapkan meliputi survei kondisi mitra, pelatihan budidaya azolla, praktik penerapan langsung, edukasi finansial, serta evaluasi berbasis pre-test, post-test, dan analisis biaya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa substitusi 30% pakan pabrikan dengan pakan alami menurunkan biaya produksi dari Rp1.862.000 menjadi Rp1.502.900 tanpa mengurangi produktivitas ikan, sehingga keuntungan usaha meningkat dari kerugian Rp137.000 menjadi laba Rp222.100. Temuan ini membuktikan bahwa penggunaan pakan alternatif berbasis azolla mampu meningkatkan efisiensi finansial, mendorong kemandirian pembudidaya, serta membuka peluang keberlanjutan usaha perikanan desa. Kegiatan juga menghasilkan luaran berupa peningkatan keterampilan teknis, analisis finansial sederhana, serta distribusi sarana kolam dan bibit azolla bagi peserta.Abstract: Community service activities in Wates Subdistrict, Kediri Regency, were carried out to address the challenge of high fish feed costs (> 60% of production costs). Tilapia and gurame fish farming by the “Mina Buana” Pokdakan (Fish Farmers Group) had difficulty maintaining their business due to their dependence on factory-made feed. The solution chosen by the group was the implementation of appropriate technology (TTG) for cultivating Azolla pinnata as an alternative feed, as well as education on simple financial analysis. Therefore, this activity aims to (1) improve fish farmers' ability to apply Azolla pinnata cultivation technology as an alternative feed, (2) strengthen simple financial analysis skills to calculate the efficiency of cultivation businesses, and (3) foster independence and sustainability of village fisheries through the application of appropriate technology. There were 10 members of the “Mina Buana” Pokdakan (fisheries group) who participated in the activity. The methods applied included a survey of the partners' conditions, azolla cultivation training, direct application practice, financial education, and evaluation based on pre-tests, post-tests, and cost analysis. The results of the activity show that substituting 30% of manufactured feed with natural feed reduces production costs from IDR 1,862,000 to IDR 1,502,900 without reducing fish productivity, thereby increasing business profits from a loss of IDR 137,000 to a profit of IDR 222,100. These findings prove that the use of azolla-based alternative feed can improve financial efficiency, encourage farmer independence, and open up opportunities for sustainable village fisheries. The activity also resulted in improved technical skills, simple financial analysis, and the distribution of ponds and azolla seedlings to participants
EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING PADA WANITA USIA SUBUR DI DESA SUKARATU MELALUI MEDIA LEAFLET
Abstrak: SDG 2 (Zero Hunger) menegaskan bahwa malnutrisi, termasuk stunting pada anak di bawah 5 tahun, merupakan salah satu permasalahan utama yang ditujukan pada target 2.2. Menurut laporan UN SDG 2025, prevalensi stunting di bawah 5 tahun menurun dari 26,4% pada tahun 2012 menjadi 23,2% pada 2024, namun hal ini tidak akan cukup mencapai target 2025 dan 2030 global. Area rural (pedesaan) menjadi konteks kritis untuk penanganan stunting karena faktor ketidakamanan pangan dan kemiskinan yang berlapis. Demikian halnya perbaikan gizi pada ibu hamil merupakan bagian strategi global untuk mencegah stunting. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan wanita usia subur (WUS) mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini, dimulai sejak kehamilan untuk menghindari terjadinya stunting pada anak khususnya periode usia balita. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan secara langsung dengan media leaflet, pembagian leaflet edukasi, serta evaluasi berupa pre-test dan post-test. Kegiatan dilaksanakan selama satu hari dan diikuti oleh 25 peserta wanita usia subur. Materi penyuluhan difokuskan pada pentingnya gizi seimbang, perawatan kehamilan, dan dampak jangka panjang dari stunting. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan peserta, di mana persentase kategori pengetahuan "baik" meningkat dari 12% menjadi 64% setelah kegiatan. Hal ini membuktikan bahwa media leaflet dan penyuluhan efektif sebagai alat bantu edukasi yang sederhana, terjangkau, dan mudah dipahami dalam mendukung upaya pencegahan stunting sejak masa kehamilan.Abstract: SDG 2 (Zero Hunger) emphasizes that malnutrition, including stunting in children under 5 years of age, is one of the main issues addressed in target 2.2. According to the UN SDG 2025 report, the prevalence of stunting in children under 5 years of age decreased from 26.4% in 2012 to 23.2% in 2024, however this will not be sufficient to achieve the 2025 and 2030 global targets. Rural areas are a critical context for addressing stunting due to factors such as food insecurity and layered poverty. Similarly, improving nutrition for pregnant women is part of the global strategy to prevent stunting. This initiative aims to enhance the knowledge of reproductive-age women (RAW) about the importance of preventing stunting from an early stage, starting during pregnancy to avoid stunting in children, particularly during the toddler age period. The methods used include direct counseling using leaflets, distribution of educational leaflets, and evaluation through pre-tests and post-tests. The activity was conducted over one day and attended by 25 reproductive-age women. The counseling materials focused on the importance of balanced nutrition, pregnancy care, and the long-term impacts of stunting. Evaluation results showed a significant increase in participants' knowledge, with the percentage of the “good” knowledge category rising from 12% to 64% after the activity. This demonstrates that leaflets and counseling are effective as simple, affordable, and easy-to-understand educational tools in supporting efforts to prevent stunting from the prenatal stage
MANAJEMEN KEUANGAN BERBASIS SYARIAH PADA BADAN USAHA MILIK NASYIATUL AISYIYAH JAWA TIMUR GUNA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN EKONOMI ORGANISASI PEREMPUAN
Abstrak: Pentingnya penguatan kapasitas manajemen keuangan berbasis syariah bagi organisasi perempuan menjadi alasan utama pelaksanaan kegiatan ini, khususnya dalam rangka mendorong kemandirian ekonomi BUANA (Badan Usaha Milik Nasyiatul Aisyiyah) Jawa Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan softskill dan hardskill mitra dalam mengelola keuangan dan usaha secara profesional dan sesuai prinsip syariah. Metode yang digunakan meliputi pelatihan manajemen bisnis dan keuangan syariah, serta pendampingan manajemen keuangan syariah kepada mitra. Kegiatan ini melibatkan 50 orang anggota BUANA PWNA Jatim sebagai mitra utama. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen keuangan sebelum dan sesudah kegiatan, dengan instrumen berupa 20 butir pertanyaan yang mengukur tingkat pemahaman serta tiga indikator keberhasilan utama: peningkatan literasi keuangan syariah, kemampuan penyusunan laporan keuangan sesuai prinsip syariah, dan kemandirian dalam pengoperasian sistem informasi manajemen keuangan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan mitra dalam mengelola keuangan berbasis syariah secara tersistem sebesar 90%, yang mencerminkan efektivitas pendekatan pelatihan dan implementasi digital dalam memperkuat tata kelola organisasi perempuan berbasis nilai-nilai Islam.Abstract: The importance of strengthening sharia-based financial management capacity for women's organizations is the main reason for the implementation of this activity, particularly in order to encourage the economic independence of BUANA (Badan Usaha Milik Nasyiatul Aisyiyah) East Java. This activity aims to enhance the soft skills and hard skills of partners in managing finances and businesses professionally and in accordance with sharia principles. The methods used include training in business management and sharia finance, as well as providing sharia financial management assistance to partners. This activity involved 50 members of BUANA PWNA East Java as the main partners. The evaluation was carried out through observation, interviews, and analysis of financial documents before and after the activities, using an instrument consisting of 20 questions to measure the level of understanding and three main success indicators: improvement of sharia financial literacy, the ability to prepare financial reports according to sharia principles, and independence in operating the financial management information system. The evaluation results show a 90% improvement in partners' ability to systematically manage sharia-based finance, reflecting the effectiveness of the training approach and digital implementation in strengthening the governance of women’s organizations based on Islamic values