UMMAT Scientific Journals (Universitas Muhammadiyah Mataram)
Not a member yet
13083 research outputs found
Sort by
PEMBERIAN SOSIALISASI MENGENAI PSYCHOLOGICAL FIRST AIDS PADA PALANG MERAH REMAJA
Abstrak: Palang Merah Remaja merupakan salah satu relawan pada satuan pendidikan dari Palang Merah Indonesia yang bertugas untuk melaksanakan kegiatan bidang sosial, memberikan pertolongan pertama, dan lainnya. Namun, belum terdapat pelatihan Psychological First Aids pada tugas yang diberikan. Program pengabdian masyarakat ini berisikan sosialisasi mengenai PFA dengan tujuan menambah wawasan dan pengetahuan anggota PMR agar dapat membantu penyintas untuk merasa aman, terhubung, dan mengurangi reaksi negatif ketika menghadapi situasi krisis. Metode pelaksanaan mencakup pre-test, pemberian materi sosialisasi oleh Psikolog, dan post-test. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Cisadane, Kota Tangerang yang dihadiri oleh 104 anggota PMR pada tingkat Madya dan Wira dengan rentang usia 13 - 18 tahun. Setiap unit diwakili oleh 2 anggota PMR. Hasil analisa yang telah dilakukan menyatakan bahwa terjadi peningkatan skor sebanyak 18% pada pengetahuan Psychological First Aids dengan nilai rata-rata pre-test yang sebelumnya 54,90 menjadi 65,10 pada post-test. Data tersebut menunjukkan bahwa pemberian sosialisasi Psychological First Aids terbukti efektif meningkatkan pengetahuan anggota PMR.Abstract: Palang Merah Remaja is one of the volunteer units within educational institutions under Palang Merah Indonesia, tasked with carrying out activities in the social field, providing first aid, and others. However, there is no Psychological First Aids training on the tasks assigned. This community service program consists of a socialization about PFA aimed at increasing the insight and knowledge of PMR members so that they can help survivors feel safe, connected, and reduce negative reactions when facing crisis situations. The implementation method includes a pre-test, socialization by a psychologist, and a post-test. This activity was held at the Cisadane Building, Tangerang City, attended by 104 PMR members at the Madya and Wira levels, aged between 13 -18 years. Each unit was represented by 2 PMR members. The analysis results show an 18% increase in knowledge about PFA, with the average pre-test score rising from 54.90 to 65.10 in the post-test. These data indicate that the provision of PFA socialization is proven effective in increasing the knowledge of PMR members
PEMANFAATAN BIJI GUARANA SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN MINUMAN DAN MAKANAN UNTUK SEHAT KAYA MANFAAT
Abstrak: Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat mendorong kebutuhan terhadap bahan alami yang aman dan kaya manfaat. Biji guarana (Paullinia cupana) merupakan salah satu sumber kafein alami yang memiliki keunggulan dibandingkan kopi, yaitu pelepasan kafein yang lebih lambat dan efek stimulan yang lebih stabil. Selain itu, guarana juga mengandung senyawa bioaktif seperti tanin, saponin, dan antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan pelaku usaha mikro home industri dalam mengolah biji guarana menjadi produk minuman dan makanan sehat bernilai jual tinggi. Metode pelaksanaan meliputi studi literatur, Sosialisasi, pelatihan dan Evaluasi kegiatan. Kegiatan pengabdian ini melibatkan 5 mitra pelaku usaha mikro home industri di Kecamatan Ujung Padang, kabupaten Simalungun. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi langsung terhadap praktik peserta, serta wawancara. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan mitra, yaitu peningkatan soft skill sebesar 74% dan hard skill sebesar 87%. Produk guarana mendapat respon positif dari konsumen, terutama saat dikombinasikan dengan bahan lokal seperti jahe dan madu. Pemanfaatan biji guarana tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga mendukung kesehatan dan kemandirian pangan lokal.Abstract: Increasing public awareness of the importance of a healthy lifestyle drives the need for safe and beneficial natural ingredients. Guarana seeds (Paullinia cupana) are one source of natural caffeine that has advantages over coffee, namely slower caffeine release and a more stable stimulant effect. In addition, guarana also contains bioactive compounds such as tannins, saponins, and antioxidants that are beneficial for health. This community service activity aims to empower micro home industry entrepreneurs in processing guarana seeds into healthy beverage and food products with high selling value. The implementation method includes literature studies, socialization, training and activity evaluation. This community service activity involved 5 micro home industry business partners in Ujung Padang District, Simalungun Regency. The evaluation was carried out through pre-tests and post-tests, direct observation of participant practices, and interviews. The results of the activity showed an increase in partner capabilities, namely an increase in soft skills by 74% and hard skills by 87%. Guarana products received a positive response from consumers, especially when combined with local ingredients such as ginger and honey. The use of guarana seeds not only increases community income, but also supports local health and food independence
PENINGKATAN PENGETAHUAN GENERASI MUDA TENTANG IMUNISASI PRA NIKAH (TETANUS TOXOID) MELALUI PROMOSI KESEHATAN
Abstrak: Banyaknya orang yang kurang menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan jarang mempertimbangkannya sebelum menikah. Tujuan promosi kesehatan ini untuk memberikan informasi mengenai imunisasi pra nikah (tetanus toxoid) dalam upaya meningkatkan pengetahuan generasi muda tentang pentingnya imunisasi untuk kesehatan sebelum menikah dan membangun kesadaran di kalangan generasi muda tentang pencegahan penyakit melalui imunisasi sejak dini. Penyuluhan ini dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi angka terjadinya hal yang tidak diinginkan. Metode kegiatan dalam bentuk sosialisasi dengan pemaparan materi dan diskusi tanya jawab. Sasaran kepada generasi muda yang belum menikah dengan jumlah yang hadir sekitar 30 orang. Untuk mengetahui pemahaman peserta dilakukan evaluasi dalam bentuk kuisioner dengan jumlah pertanyaan 20 soal serta tanya jawab terkait materi yang disampaikan. Hasil penyuluhan dibuktika menggunakan exel bahwa peserta dapat meningkatkan pengetahuan terkait imunisasi pra nikah (Tetanus Toxoid) dengan presentase rata-rata sebelum materi 57% dan setelah materi 93%.Abstract: Many people are less aware of the importance of maintaining health and rarely consider it before getting married. The purpose of this Health promotion is to provide information about premarital immunization (tetanus toxoid) in an effort to increase the knowledge of the younger generation about the importance of immunization for health before marriage and build awareness among the younger generation about disease prevention through early immunization. This counseling is considered to be one way to reduce the number of unwanted events. The activity method is in the form of socialization with material presentation and Q&A discussions. The target is the young generation who are not yet married with the number of attendees being around 30 people. To determine the understanding of the participants, an evaluation was carried out in the form of a questionnaire and Q&A related to the material presented. The results of the counseling were proven using Excel that participants could increase their knowledge related to premarital immunization (Tetanus Toxoid) with an average percentage before the material of 57% and after the material of 93%
OPTIMALISASI GULMA SEKITAR TANAMAN AREN SEBAGAI PESTISIDA NABATI RAMAH LINGKUNGAN UNTUK PERTANIAN BERKELANJUTAN
Abstrak: Gulma sering dianggap sebagai tanaman pengganggu yang menurunkan produktivitas, namun gulma mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, dan lainnya yang berpotensi dijadikan pestisida dan pupuk organik. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah memberikan edukasi kepada petani di Desa Tanjung Dayang Utara, Sumatera Selatan, mengenai pemanfaatan gulma sebagai bahan dasar pestisida dan pupuk nabati yang ramah lingkungan serta berbiaya rendah. Metode pelaksanaan meliputi tahapan sosialisasi, penyuluhan, demonstrasi, pendampingan, dan evaluasi. Sebanyak 50 petani dan tokoh masyarakat mengikuti pelatihan pembuatan pestisida gulma dengan dua metode: sederhana dan ekstraksi. Evaluasi dilakukan secara berjenjang melalui diskusi pra-penyuluhan, uji praktek saat penyuluhan, dan pengamatan pertumbuhan tanaman. Hasil menunjukkan adanya peningkatan softskill peserta dalam pengolahan gulma hingga 75%, serta penurunan biaya pembelian pestisida dan pupuk sintetis hingga 40%. Kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran petani terhadap praktek pertanian berkelanjutan dan penggunaan sumber daya lokal. Diharapkan ilmu yang diperoleh dapat ditransfer ke petani lain sehingga berdampak lebih luas dalam mendorong kemandirian dan efisiensi usaha tani.Abstract: Weeds are often seen as nuisance plants that reduce crop productivity. However, they contain bioactive compounds such as alkaloids, flavonoids, terpenoids, and saponins, which can be utilized as natural pesticides and organic fertilizers. This community service activity aimed to educate Tanjung Dayang Utara Village, South Sumatra farmers on using weeds as eco-friendly and low-cost agricultural inputs. The program involved socialization, counseling, presentations, mentoring, and evaluation. Fifty farmers and community leaders took part in training on pesticide production using simple and extraction methods. Evaluation was conducted through pre-counselling discussions, practical sessions, and plant growth observation. The activity improved participants' skills in weed processing by up to 75% and reduced the cost of synthetic pesticide and fertilizer use by up to 40%. It also increased awareness of sustainable farming practices and encouraged the use of local natural resources. The knowledge gained is expected to be shared with other farmers, fostering a broader impact through improved self-reliance and farming efficiency
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERKOMUNIKASI DALAM BAHASA INGGRIS UNTUK GURU SMK
Abstrak: Berbicara dalam Bahasa Inggris dibutuhkan di era globalisasi, sehingga pelatihan berbicara dalam Bahasa Inggris menjadi kebutuhan yang penting bagi guru di era sekarang. Pihak sekolah dan tim pengabdi melakukan pelatihan yang intensif dan menarik dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas berkomunikasi dalam Bahasa Inggris dengan metode roleplay, demonstrasi dan penggunaan media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran yang tepat sangat penting dalam meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Inggris para guru SMK baik di area hardskill dan juga softskill , sehingga mereka dapat memberikan pengajaran yang lebih efektif dan efisien kepada siswa dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia kerja yang semakin global. Pelatihan yang dilaksanakan selama enam kali di SMK di Kota Malang ini diikuti oleh 24 guru. Untuk postes, mereka melakukan pidato dalam Bahasa Inggris. Sehingga pelatihan ini menghasilkan tujuhbelas guru atau 70.8% yang bisa berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, dan ada tujuh guru (29.2%) yang masih belum memenuhi nilai minimal yaitu 70. Keterlibatan secara aktif dari para guru dan tanggapan positif dari para guru dalam berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, serta dukungan dari pihak sekolah, bisa memicu motivasi mereka untuk belajar dan berbicara. Sehingga disarankan untuk kegiatan berikutnya bisa memberikan materi yang beragam, serta bisa dilaksanakan secara rutin.Abstract: Speaking English is needed in the era of globalization; therefore, training in speaking English is an important need for teachers. The school and the community service team conducted an intensive and interesting training to determine the effectiveness of communicating in English with roleplay methods, demonstrations, and the use of learning media. The use of appropriate learning media is very important in improving the English speaking skills of SMK teachers, both in the area of hard skills and soft skills, so that they can provide more effective and efficient teaching to students and prepare them to face the increasingly globalized world of work. The training was conducted six times at SMK in Malang City and was attended by 24 teachers. For the posttest, they did a speech in English. The training resulted in seventeen teachers, or 70.8%, who could communicate in English, and seven teachers (29.2%) still did not meet the minimum score of 70. The active involvement of the teachers and the positive responses from the teachers in communicating in English, as well as the support from the school, could trigger their motivation to learn and speak. Thus, it is suggested that the next activity can provide various materials and be carried out regularly
MENGENALKAN KEAJAIBAN NTT MELALUI MUSEUM: STRATEGI KREATIF UNTUK MENGGUGAH MINAT GENERASI MUDA
Abstrak: Museum sebagai penjaga warisan budaya mengalami penurunan minat dari generasi muda, padahal memiliki potensi sebagai ruang edukatif yang menyenangkan. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong partisipasi generasi muda dalam mengenalkan keajaiban NTT melalui strategi kreatif berbasis media sosial dan melatih softskill penggunaan media sosial. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan oleh dua narasumber dan workshop oleh satu narasumber, dengan fokus pada peran museum serta pelatihan pembuatan konten promosi. Kegiatan dilaksanakan di Aula UPTD Museum Daerah Provinsi NTT dan melibatkan 84 peserta (69 siswa dan 15 guru dari 15 SMA/SMK). Evaluasi dilakukan melalui angket (sebanyak 5 soal) untuk mengukur kepuasan dan minat siswa menjadi digital ambassador. Hasil menunjukkan 97% peserta merasa puas dan 100% siswa aktif membuat dan mengunggah konten promosi museum ke media sosial. Namun, lima sekolah masih memerlukan pelatihan tambahan. Kegiatan ini disarankan untuk dilakukan secara berkala dan konten siswa dipublikasikan melalui kanal resmi museum untuk meningkatkan literasi budaya generasi muda.Abstract: Museums as guardians of cultural heritage have experienced a decline in interest from the younger generation, even though they have the potential to be fun educational spaces. This activity aims to encourage the participation of the younger generation in introducing the wonders of NTT through creative strategies based on social media and training soft skills in using social media. The methods used include counseling by two speakers and a workshop by one speaker, focusing on the role of museums and training in creating promotional content. The activity was carried out in the Hall of the NTT Provincial Museum UPTD and involved 84 participants (69 students and 15 teachers from 15 high schools/vocational schools). The evaluation was carried out through a questionnaire (5 questions) to measure student satisfaction and interest in becoming digital ambassadors. The results showed that 97% of participants were satisfied and 100% of students actively created and uploaded museum promotional content to social media. However, five schools still need additional training. This activity is recommended to be carried out periodically and student content published through the museum's official channels to improve cultural literacy for the younger generation
PELATIHAN PEMBUATAN KAPAL SPEED BOAT BERSAMA MAHASISWA ASING DAN KELOMPOK NELAYAN KENJERAN SURABAYA SEBAGAI UPAYA MITIGASI KECELAKAAN KAPAL
Abstrak: Kawasan Tambak Wedi, Kenjeran, Surabaya merupakan komunitas pesisir dengan jumlah nelayan yang cukup besar dan berada di area strategis namun rawan kecelakaan laut, kawasan tersebut termasuk dalam sekitar Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). Minimnya kapal tanggap darurat menjadi latar belakang kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan solusi mitigasi kecelakaan laut melalui pelatihan kepada peserta baik secara softskill yakni berupa pembekalan materi terkait kriteria dalam proses desain kapal, material penyusun serta aspek kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) untuk peningkatan dari segi hardskill yakni tentang proses produksi pembuatan kapal speed boat berbahan Fiberglass Reinforced Plastic (FRP) sesuai rules/standart yang berlaku. Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dengan melibatkan 10 orang mahasiswa asing peserta Summer Camp serta 6 orang kelompok nelayan lokal Kenjeran Surabaya dengan total peserta sebanyak 16 orang. Metode pelaksanaan meliputi pengenalan desain kapal dan perancangan kapal (spiral design) material penyusun dan proses produksi, hingga pembuatan kapal secara langsung dengan menggunakan metode hand lay-up yang dilakukan selama 5 hari. Produk akhir berupa kapal speed boat sepanjang 5,05 meter ini diserahkan kepada nelayan Kenjeran sebagai sarana kesiapsiagaan maritim. Kegiatan ini juga berperan sebagai ajang kolaborasi internasional dan promosi keunggulan PPNS dalam bidang perkapalan. Pelatihan ini memberikan peningkatan pemahaman dan kompetensi teknis kepada peserta Summer Camp serta kelompok nelayan lokal dengan peningkatan nilai siginifikan terlihat dari semua indiator baik pemahaman materi dengan peningkatan rata-rata sebesar 56,6% serta peningkatan kompetensi keterampilan peserta yakni sebesar 60,8% dalam proses pembangunan kapal FRP sesuai standard yang sebelumnya hanya sebagai pengguna dan bekal untuk berwirausaha dalam bidang pembuatan kapal FRP.Abstract: The Tambak Wedi area in Kenjeran, Surabaya, is a coastal community with a significant number of fishermen and is located in a strategic yet high-risk zone for maritime accidents, as it lies near the Western Surabaya Shipping Lane (APBS). The lack of available emergency response vessels highlights the urgent need for effective disaster mitigation measures. This community engagement project aimed to address this issue through training that combined soft skills, such as understanding ship design criteria, appropriate construction materials, and Occupational Health and Safety (OHS), with hard skills on the practical production process of fiberglass speed boats according to applicable standards and rules. The activities were conducted at the Shipbuilding Institute of Polytechnic Surabaya (PPNS) and involved international students participating in the 2024 Summer Camp program along with local fishermen from Kenjeran, Surabaya. A total of 16 participants joined, consisting of 10 international students and 6 local fishermen. The training activities included an introduction to ship design using the spiral design method, sessions on FRP materials and production techniques, and hands-on boat building practice using the hand lay-up method carried out over five days. The final product, a 5.05-meter-long speed boat made from Fiberglass Reinforced Plastic (FRP), was officially handed over to the Kenjeran fisherman group as a maritime preparedness asset. This project not only addressed local safety concerns but also promoted international collaboration and showcased PPNS’s expertise in shipbuilding and maritime education. The training resulted in significant improvements, with an average 56.6% increase in participants’ understanding of materials and a 60.8% increase in practical skills for building FRP boats, preparing them for safer operations and future entrepreneurship
INTEGRASI RUMAH PANGGUNG DENGAN TEKNOLOGI ENERGI TERBARUKAN SEBAGAI SOLUSI PENYIMPANAN HASIL PANEN UNTUK SWASEMBADA PANGAN
Abstrak: Program pengabdian ini merespons permasalahan kelompok tani Bulurinring, yang terdiri dari 11 anggota, terkait kurangnya fasilitas penyimpanan hasil panen yang efisien dan ramah lingkungan. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas kelompok tani melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan dalam pengembangan rumah panggung tradisional Suku Makassar yang terintegrasi dengan teknologi energi terbarukan sebagai solusi penyimpanan hasil panen yang berkelanjutan. Rumah panggung ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat istirahat petani di kebun, tetapi juga sebagai gudang hasil panen yang dilengkapi teknologi modern. Desain rumah mengadopsi nilai-nilai lokal dan kearifan budaya setempat, diperkuat dengan teknologi Internet of Things (IoT) dan algoritma kecerdasan buatan berbasis Convolutional Neural Network (CNN) untuk memantau kondisi panen secara real-time. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, dan perencanaan keberlanjutan. Evaluasi dilakukan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner pre-post. Hasil menunjukkan peningkatan softskill 70%, hardskill 60%, serta peningkatan nilai ekonomis sebesar 40%. Program ini meningkatkan kemandirian petani dan berpotensi untuk direplikasi di wilayah lain.Abstract: This community service program responds to the problems of the Bulurinring farmer group, which consists of 11 members, related to the lack of efficient and environmentally friendly harvest storage facilities. The purpose of this activity is to increase the capacity of farmer groups through socialization, training, and mentoring in the development of traditional Makassar tribe stilt houses integrated with renewable energy technology as a solution for sustainable harvest storage. This stilt house not only functions as a resting place for farmers in the garden, but also as a harvest warehouse equipped with modern technology. The design of the house adopts local values and local cultural wisdom, strengthened by Internet of Things (IoT) technology and artificial intelligence algorithms based on Convolutional Neural Network (CNN) to monitor harvest conditions in real-time. The activity methods include socialization, training, technology application, mentoring, evaluation, and sustainability planning. Evaluation is carried out through observation, interviews, and pre-post questionnaires. The results show a 70% increase in soft skills, 60% in hard skills, and a 40% increase in economic value. This program increases farmer independence and has the potential to be replicated in other areas
PENINGKATAN KOMPETENSI DIGITAL BRANDING SEBAGAI OPTIMALISASI DAKWAH BAGI ANGKATAN MUDA MUHAMMADIYAH
Abstrak: Sosial media merupakan media strategis yang digunakan untuk keperluan dakwah digital, oleh karenanya perlu dikelola dengan baik dan profesional, serta perlu dilakukan optimalisasi digital branding. Saat ini Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) di Kabupaten Brebes telah memanfaatkan sosial media dalam melakukan digitalisasi dakwah, akan tetapi konten dakwah masih cukup sederhana, dan pengelolaannyapun belum begitu optimal, oleh karenanya dibutuhkan peningkatan kompetensi digital branding. Tujuan peningkatan kompetensi digital branding adalah untuk menciptakan citra merek yang kuat, konsisten, dan mudah dikenali oleh audiens di dunia online. Metode yang digunakan dalam meningkatkan kompetensi digital branding adalah dengan pemaparan materi yang dilakukan dengan metode presentasi dan diskusi, serta dengan pelatihan atau praktikum penggunaan aplikasi canva bagi peserta sebanyak 60 orang peserta AMM Kabupaten Brebes. Berdasarkan hasil kegiatan peningkatan kompetensi tersebut yang diukur dari pre-test dan post test, maka didapatkan bahwa pemahaman dan kompetensi peserta secara umum meningkat sebanyak 40%.Abstract: Social media are a strategic medium used for digital da'wah purposes. Therefore, it needs to be managed properly and professionally, and digital branding optimization is necessary. Currently, the Muhammadiyah Youth Movement (AMM) in Brebes Regency has utilized social media in digitalizing da'wah. However, the da'wah content is still quite simple, and its management is not yet optimal. Therefore, digital branding competency improvement is needed. The goal of improving digital branding competency is to create a strong, consistent, and easily recognizable brand image for the audience in the online world. The method used to improve digital branding competency is by presenting material through presentation and discussion methods, as well as training or practical work on using the Canva application for 60 participants of the AMM Brebes Regency. Based on the results of these competency improvement activities, measured by pre-tests and post-tests, it was found that the participants' understanding and competency in general increased by 40%
EDUKASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN HAND SANITIZER BERBASIS SEKOLAH SEBAGAI UPAYA PROMOSI PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI KALANGAN REMAJA
Abstrak: Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung PHBS adalah mencuci tangan menggunakan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer. Selain sebagai langkah pencegahan penyakit menular, pembuatan hand sanitizer juga dapat menjadi sarana edukatif dan praktis bagi siswa. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya kebersihan tangan serta melatih keterampilan siswa dalam membuat hand sanitizer secara mandiri dengan bahan yang mudah diperoleh. Pelatihan ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Malang dan diikuti oleh 16 siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR). Hasil pretest dan posttest kegiatan menunjukkan bahwa siswa antusias mengikuti pelatihan, mampu memahami materi yang diberikan (dengan peningkatan pemahaman sebesar 42.5%), serta berhasil membuat hand sanitizer yang sesuai dengan standar keamanan dan efektivitas. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran kesehatan sekaligus menjadi bekal keterampilan bagi siswa dalam menghadapi situasi kesehatan masyarakat di masa kini dan mendatang.Abstract: Promoting clean and healthy living behaviors (PHBS) remains essential in daily life, especially within the school environment. One effective measure to support this behavior is hand hygiene, which can be achieved through handwashing with water or the use of hand sanitizer. In addition to serving as a preventive health measure, hand sanitizer production can also be a practical and educational activity for students. This community service program aimed to provide health education and hands-on training in the formulation of hand sanitizer using easily accessible ingredients. The training was conducted at Senior High School in Kota Malang and attended by 16 students who are members of the Red Cross Youth (Palang Merah Remaja/PMR) extracurricular group. The results of the pretest and posttest of the showed that students were enthusiastic about participating in the training, could understand the material provided (with a 42.5% increase in understanding), and successfully produced hand sanitizer that met basic safety and effectiveness standards. This initiative is expected to enhance student’s health awareness while equipping them with practical skill relevant for current and future public health challenges