Jurnal Pengembangan Kota
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
PERAN LOCAL CHAMPION DALAM PENGEMBANGAN COMMUNITY BASED TOURISM DI DESA WISATA CANDIREJO, MAGELANG
Desa Wisata Candirejo merupakan salah satu desa wisata yang menerapkan konsep pariwisata berbasis masyarakat. Keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan stakeholder menjadi sangat penting. Pihak yang secara aktif dalam pengembangan desa wisata disebut local leader/local champion sehingga muncul pertanyaan “bagaimana peran local champion dalam pengembangan desa wisata Candirejo?” Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam (depth interview) kepada narasumber. Metode snowballing dianggap sebagai metode yang sesuai, karena sampel yang digunakan adalah masyarakat/pihak yang benar-benar dinilai memiliki pengetahuan lebih terhadap objek yang diteliti. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan ada 2 yaitu: 1) pengumpulan data primer, dengan melakukan observasi dan wawancara; 2) pengumpulan data sekunder, yaitu dengan melakukan kajian literatur, telaah dokumen. Hasil penelitian yang diperoleh peran Local Champion pada pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Desa Wisata Candrejo yaitu sebagai motivator, mobilisator, mediator, dan fasilitator. Peran Local Champion pada desa wisata yang menerapkan community of development tampak pada pengembangan sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam dan budaya menjadi salah modal utama dalam pengembangan desa wisata. Masyarakat dituntut menciptakan usaha baru guna meningkatkan perekonomian. Dengan adanya kegaitan wisata, perekonomian masyarakat meningkat, interaksi sosial semakin erat, serta lingkungan semakin terjaga, sekaligus melestarikan budaya.
KAJIAN HARGA SEWA BANGUNAN KOMERSIAL DI KORIDOR JALAN RAYA KALIMALANG, JAKARTA
Koridor Jalan Raya Kalimalang merupakan kawasan yang berkembang pesat dan memiliki harga lahan yang tinggi karena adanya aktivitas komersial. Hal ini menjadikan pemilik lahan lebih memilih untuk menyewakan bangunan yang berada di atas lahan miliknya karena dianggap lebih menguntungkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis harga sewa bangunan di koridor Jalan Raya Kalimalang, Jakarta beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya terkait aktivitas komersial. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kuantitatif. Temuan studi yang diperoleh adalah perkembangan aktivitas komersial di koridor Jalan Raya Kalimalang dipengaruhi oleh faktor lokasi, aksesibilitas, infrastruktur, dan kesesuaian kawasan. Harga sewa bangunan di koridor Jalan Raya Kalimalang mulai dari Rp20.000.000 - Rp100.000.000/ tahun. Aktivitas komersial di koridor Jalan Raya Kalimalang semakin berkembang. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya permintaan, tetapi tidak diimbangi dengan ketersediaan bangunan yakni hanya 9,04%. Terdapat sembilan faktor yang mempengaruhi harga sewa bangunan di koridor Jalan Raya Kalimalang, yaitu faktor ketersediaan bangunan, tata letak bangunan, lokasi, asal konsumen, kesesuaian koridor, luas bangunan, usia bangunan, kondisi bangunan, dan faktor jangka waktu sewa
RELEVANSI ASPEK KEMISKINAN DAN FISIK LINGKUNGAN KUMUH PADA PENENTUAN LOKASI PENERIMA PROGRAM KOTAKU (Studi Kasus Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan)
Kemiskinan menyebabkan seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, serta keterbatasan terhadap akses pendidikan, kesehatan, air bersih, sanitasi yang baik serta perumahan yang layak huni. Hal tersebut yang merupakan penyebab munculnya permukiman kumuh. Kabupaten Pamekasan sebagai salah satu Kabupaten yang mendapatkan program KOTAKU dengan 7 (tujuh) Kelurahan/Desa yang menjadi prioritas penanganan untuk mewujudkan perbaikan kualitas hidup masyarakat miskin melalui penataan permukiman yang baik dan sehat. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji apakah ada relevansi antara kemiskinan dan permukiman kumuh pada lokasi penerima program KOTAKU di Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kombinasi dimana metode penelitian kualitatif menggunakan deskriptif kualitatif dan metode penelitian kuantitatif menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG) dengan metode overlay. Hasil penelitian diharapkan dapat menggambarkan sebaran kawasan kumuh yang nantinya dapat membantu pemerintah dan stakeholder terkait dalam mengambil keputusan guna merencanakan penataan kawasan perumahan dan permukiman kumuh
PENGARUH FASADE BANGUNAN TERHADAP KARAKTER VISUAL KAWASAN (Studi Kasus: Pecinan Semarang, Malaysia Dan Singapura)
An area, in this case a road corridor is expected to have its own distinctive character that has the image. One of the region that still famous with its distinctive character is the Chinatown area. However, the current physical development changes in Chinatown area, particularly on its building function may change the façade of the buildings. Hence, this article aims to explore the charateristic of façade in chinatown area with the case of Chinatown areas in Indonesia (Semarang city), Malaysia and Singapore. The exploration of these areas not previously been examined and contributes on the development of historic Chinatown area, particularly in Semarang. This study used a qualitative method with dependent indicator is a visual character, while the independent indicator is component of façade. This research found that the areas that still have strong visual character and still preserve the architectural character of the Chinese is Singapore Chinatown area, followed by Malaysia, and Semarang
MEMADUKAN STRATEGI, MEWUJUDKAN KETAHANAN: SEBUAH PEMBELAJARAN DARI PENGEMBANGAN STRATEGI KETAHANAN KOTA DI SEMARANG
‘Integrasi’ adalah suatu jargon yang sering digunakan oleh hampir semua disiplin, dari bidang rekayasa hingga ekonomi, dan dari ilmu fisika hingga ilmu sosial. Tantangan untuk mengembangkan strategi yang terpadu telah menjadi pesan utama di berbagai literatur mengenai studi-studi pembangunan kota. Sementara di negera yang telah maju konsep integrasi telah dimanifestasikan dalam berbagi aspek pembangunan kota, banyak aktor dan pengambil kebijakan di negara-negara berkembang masih berjuang untuk mewujudkan integrasi. Artikel ini menyoroti upaya yang baru saja dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang dalam meningkatkan ketahanan kota melalui perumusan dokumen strategi ketahanan kota. Artikel memperkenalkan suatu kerangka analisis dalam mendorong integrasi strategi. Artikel ini dikembangkan dari penelitian yang menerapkan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan posisi penulis utama sebagai coordinator lintas tema atau cross-focus areas pada penyusunan strategi ketahanan kota dalam inisiatif 100 Resilient City. Artikel ini diharapkan membantu praktisi perkotaan dalam melakukan pendekatan langkah-demi-langkah menuju integrasi strategi-strategi perkotaan, khususnya di bidang ketahanan kota
PENGEMBANGAN KAWASAN VIHARA BUDDHAGAYA WATUGONG SEBAGAI OBJEK WISATA DI KOTA SEMARANG
Pariwisata di Indonesia merupakan sektor unggulan keempat yang menyumbangkan devisa negara paling besar setelah Minyak & Gas Bumi, Batu Bara dan Minyak Kelapa Sawit pada tahun 2013. Sektor ini terus dikembangkan sampai saat ini, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Kota Semarang melalui program atau event wisata, seperti program “Ayo Wisata ke Semarang.” Namun masih sedikit upaya pemerintah dalam pengembangan objek wisata yang telah ada. Vihara Buddhagaya Watugong memiliki berbagai atraksi wisata yang dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung, seperti arsitektur dan identitas bangunan. Namun, selama ini pengelolaan objek wisata ini belum dilakukan secara optimal, sehingga belum dapat berkembang secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan berdasarkan aspek penawaran objek wisata dan permintaan wisatawan. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif untuk analisis penawaran objek wisata, A Priori Segmentation untuk menganalisis permintaan wisatawan dan analisis SWOT untuk penentuan strategi pengembangan kawasan Vihara Buddhagaya Watugong. Hasil dari penelitian ini adalah adanya ketidaksesuaian antara aspek penawaran dan permintaan wisatawan, seperti kurang beragamnya atraksi wisata, minimnya sarana wisata seperti pusat cenderamata dan warung apa? serta minimnya ketersediaan informasi dan promosi wisata. Perlu adanya peningkatan capaian informasi bagi wisatawan, dapat berupa penyediaan buku saku informasi, leaflet atau penggunaan web blog dan media online lainnya sehingga capaian informasi kepada wisatawan dapat meningkat dan; serta membuat suatu paket wisata berupa rute-rute perjalanan wisata yang dapat dipilih oleh wisatawan yang berkunjung ke Kota Semarang sesuai dengan jenis wisata yang ingin dilakukan. Rekomendasi yang diberikan adalah perlu adanya kolaborasi antara pemerintah dan pengelola objek wisata kawasan Vihara Buddhagaya Watugong
IDENTIFIKASI KELESTARIAN KAWASAN KOTA LAMA MELALUI PROTEKSI BANGUNAN CAGAR BUDAYA OLEH PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Surabaya old town district was the historical evidence of the Dutch Government in Colonial era, The center of the Dutch Administration located in Old Town, meanwhile Old Town District was the whiteness of Dutch defeat. Many buildings built by the Dutch in Colonial era are still conserved. Surabaya has strategy and policy through Tourism and Culture Department to conserve these buildings to be a landmark and legacy of city, this study addresses to evaluate the policy associated with the protection of heritage buildings, to examine the policy and to sum up the findings associated to conservation theory. This research uses the character appraisal, quantitative and qualitative. The result found are several buildings have been protected by the policy, however, there is a segment made so many facade changes and several well ornamented buildings. The conclusion obtained that the cultural heritage building policy can be nicely applied, especially to the historical value buildings. The Government gives a tolerance to renovate the buildings having less strong historical value
PERWUJUDAN KELURAHAN RAMAH LINGKUNGAN (STUDI KASUS: KELURAHAN KRAPYAK, KOTA SEMARANG)
Kota Semarang memperoleh penghargaan sebagai Kota Hijau pada tahun 2012 oleh karena itu BLH Kota Semarang mengembangkan Kelurahan Ramah Lingkungan di Kota Semarang sebagai bentuk perwujudan mengatasi permasalahan lingkungan dan mendukung adanya Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Kelurahan Krapyak yang dijadikan sebagai wilayah studi dalam penelitian ini karena memiliki karakteristik perkotaan dengan berbagai macam permasalahan perkotaan namun masyarakatnya dapat mewujudkan Kelurahan Ramah Lingkungan. Oleh karena itu perlu diteliti sebenarnya “Bagaimana perwujudan Kelurahan Ramah Lingkungan yang dilakukan masyarakat Kelurahan Krapyak?”. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif dan menggunakan metode analisis statistik deskriptif dengan analisis faktor yang memiliki jumlah responden sebanyak 84 Kepala Keluarga. Penelitian betujuan agar perwujudan Kelurahan Ramah Lingkungan dapat dijadikan dasar oleh kelurahan di Kota Semarang yang belum menerapkan Ramah Lingkungan. Hasil dari penelitian ini adalah masyarakat yang 86% memanfaatkan pekarangan rumah sebagai RTH dengan jenis tanaman. Jaringan air bersih cukup baik, namun upaya berkelanjutan pengelolaan air bersih masih kurang, hanya RW 6 yang memiliki lubang biopori dan rain water harvesting. Pengelolaan sampah termasuk cukup (64%), sudah mulai ada penerapan 3R. Sebesar 94% masyarakat menggunakan septictank individu sehingga tidak efisien. Adanya Kelompok Wanita Tani (KWT) yang terbentuk karena adanya kesadaran masyarakat yang peduli akan lingkungan dengan 72% masyarakat menganggap peran KWT baik. Hasil dari analisis faktor dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang mempengaruhi perwujudan Kelurahan Ramah Lingkungan yaitu perwujudan penyediaan RTH, perwujudan pengelolaan sampah dan perwujudan peran serta masyarakat. Perwujudan yang paling mempengaruhi mewujudkan Kelurahan Ramah Lingkungan yaitu perwujudan penyediaan RTH (0,775) yang membuat lingkungan permukiman menjadi hijau, asri dan indah serta secara tidak langsung memberikan kontribusi kepada ketersediaan RTH di Kota Semarang. Kelurahan Krapyak berhasil mewujudkan Kelurahan Ramah Lingkungan dengan kategori baik, yaitu sudah berhasil menerapkan 5 (penyediaan RTH, pengelolaan sampah, pengelolaan sanitasi, pengelolaan air bersih dan peran serta masyarakat) dari 8 atribut Kota Hijau dan mendukung P2KH.