Jurnal Pengembangan Kota
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
TRANSFORMASI KAMPUNG PENDRIKAN KIDUL PADA KAWASAN PENDIDIKAN
Kampung Pendrikan Kidul merupakan salah satu kampung lama di pusat kota. Sejak berdirinya Universitas Dian Nuswantoro di Kampung Pendrikan Kidul terjadi perkembangan, baik secara fisik maupun non fisik. Keberadaan universitas yang dengan sendirinya mengundang migrasi dari luar daerah, secara tidak langsung juga menyebabkan gentrifikasi. Hal ini menimbulkan terjadinya perubahan yang membawa peneliti pada pertanyaan penelitian “Bagaimana transformasi sosial, ekonomi, dan fisik suatu kampung lama di pusat kota akibat gentrifikasi pada kawasan pendidikan?”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bersifat deduktif. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif komparatif dan skala likert. Transformasi sosial terjadi sebesar 14% yang termasuk dalam minor transformation dan cenderung berubah ke arah negatif. Transformasi ekonomi terjadi sebesar 33% yang termasuk dalam minor transformation dan cenderung berubah ke arah positif. Sama halnya pada fisik lingkungan, terjadi minor transformation sebesar 15% yang cenderung berubah ke arah negatif. Sedangkan pada fisik spasial terjadi minor transformation sebesar 6% yang perubahannya cenderung ke arah positi
ANALISIS PERKEMBANGAN KECAMATAN COLOMADU DAN KECAMATAN GROGOL SEBAGAI PKLP DAN WPU SURAKARTA BERDASARKAN FAKTOR INTERNAL
Perkembangan Kota di Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar mengalami berbagai persoalan, karena tidak semua kota dapat memenuhi pelayanannya. Persoalan tersebut menyebabkan aktivitas kota melewati batas administrasinya. Ketidakmampuan dalam menyediakan kebutuhan dalam menyediakan ruang aktivitas mendorong terjadinya perluasan kota yang menyebabkan kawasan peri-urban mengalami perubahan dalam segala aspek baik secara fisik maupun non fisik. Perluasan kawasan perkotaan tentunya mengalami perubahan yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk analisis perbandingan perkembangan kedua kecamatan yang memiliki peran sebagai WPU Kota Surakarta dan berstatus PKLp pada Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo. Analisis perbandingan dilakukan dengan melihat karakteristik perkembangan dan kategori perkembangan Kecamatan Colomadu dan Kecamatan Grogol dalam kurun waktu 2000 - 2017 dan 2010 -2017 yang selanjutnya dilakukan perbandingan pada kedua Kecamatan. Metode yang digunakan dalam penelitian metode kuantitatif dengan teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif dan analis skoring. Analisis Deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik perkembangan Kecamatan Colomadu dan Kecamatan Grogol, sedangkan analisis skoring digunakan untuk melakukan pengkategorian terhadap perkembangan rata-rata tahunan. Pengkategorian perkembangan didasarkan faktor internal kecamatan yaitu diantaranya perkembangan kepadatan penduduk, jenis pekerjaan penduduk non pertanian, fasilitas sosial dan ekonomi, kondisi ekonomi, dan perkembangan lahan terbangun. Hasil penelitian yang diperoleh adalah Kecamatan Colomadu dan Kecamatan Grogol memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda, ditinjau berdasarkan perkembangan lahan Kecamatan Colomadu lebih diarahkan sebagai kawasan permukiman, sedangkan Kecamatan Grogol sebagai kawasan industri, perdagangan dan jasa. Berdasarkan hasil perhitungan perkembangan rata-rata tahunan Kecamatan Colomadu dan Kecamatan Grogol sepanjang tahun 2000 – 2010 tergolong dalam perkembangan lambat, namun sepanjang tahun 2010 -2017 Kecamatan Grogol tergolong dalam perkembangan cepat dan Kecamatan Colomadu tetap dikategorikan dalam perkembangan lambat
LEGALITAS DAN PRAKTEK PERENCANAAN TATA RUANG INDUSTRI SHIPYARD PADA SEMPADAN PANTAI DI SAGULUNG, BATAM
Legalitas lahan mencakup kesesuaian lahan dengan rencana tata ruang, terdapatnya IMB dan regulasi yang sah. Penelitian ini bertujuan mengetahui legalitas industri galangan kapal pada sempadan pantai dan bagaimana praktek perencanaan pembangunan tata ruang yang sebenarnya terjadi di Sagulung. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kajian dokumen. Wawancara dilakukan dengan teknik Purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa legalitas industri dapat berubah sesuai dengan rezim politis dan pelaksanaan rencana tata ruang pada kenyataannya tidak sederhana. Praktek perencanaan tata ruang di Batam sangat dipengaruhi oleh rezim politis yang terjadi pada masa itu. Pada periode 1991-2007 (Orde Baru) tidak ada pihak yang mengkoordinasi terkait tumpang tindih aturan tata ruang. Tindakan koordinasi dilakukan ketika rezim Demokrasi (2008-sekarang) Hal ini ditunjukkan dengan tindakan paduserasi oleh Tim Paduserasi yang bekerjasama dengan stakeholder tingkat daerah hingga pusat
PEMAKNAAN PENGHUNI TERHADAP KAMPUNG BUSTAMAN DI KOTA SEMARANG
Kampung Bustaman merupakan salah satu kampung lama yang berada di pusat Kota Semarang. Keberadaan Kampung Bustaman tidak terlepas dari ancaman akibat dari perkembangan kota. Penting bagi masyarakat Kampung Bustaman untuk memaknai tempat tinggalnya. Pemaknaan masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya dikenal dengan istilah sense of place. Penelitian ini bertujuan untuk menemukenali sense of place masyarakat Kampung Bustaman di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data kuesioner, observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sense of place masyarakat Kampung Bustaman memiliki karakter dan identitas tersendiri yang memberikan ciri khas lingkungan (place identity). Masyarakat juga memiliki keterikatan (place attachment) terhadap Kampung Bustaman karena adanya ikatan secara personal seperti ikatan biografi terhadap Kampung Bustaman dimana masyarakat menganggap Kampung Bustaman bukan sekedar tempat tinggal saja namun juga sebagai tempat yang memiliki arti baginya. Selain itu ketergantungan masyarakat (place dependence) yang tinggi terhadap Kampung Bustaman sebagai tempat yang mampu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari
PENGEMBANGAN WISATA PANTAI MUTUN TERHADAP DAMPAK FISIK, SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT DESA SUKAJAYA LEMPASING, KABUPATEN PESAWARAN, LAMPUNG
Pariwisata merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak ekonomi dan pembangunan bagi masyarakat pesisir. Pantai Mutun merupakan salah satu obyek wisata bahari di Provinsi Lampung yang cukup terkenal dan ramai dikunjungi wisatawan. Desa Sukajaya merupakan desa dengan pemukiman masyarakat yang berjarak tidak jauh dengan kegiatan pariwisata di Pantai Mutun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pengembangan objek wisata Pantai Mutun ditinjau dari sektor perundang-undangan dan pengaruhnya terhadap kehidupan fisik, sosial dan ekonomi masyarakat Desa Sukajaya. Hasil penelitian menunjukkan dampak fisik, sosial, budaya, dan ekonomi yang terjadi akibat perkembangan pariwisata Pantai Mutun yaitu perubahan infrastrukur jalan, peralihan profesi masyarakat, hilangnya rasa percaya masyarakat Desa Sukajaya terhadap pemerintah dan pengelola, hilangnya rasa gotong royong antar masyarakat, peningkatan kesadaran pendidikan keluarga dan bertambahnya peluang kerja masyarakat. Pendapatan rata-rata masyarakat Desa Sukajaya per bulan yaitu Rp 815.000,00 dan peluang kerja masyarakat Desa Sukajaya yaitu sebesar 85%
TRANSFORMASI SOSIO-SPASIAL KAWASAN PECINAN KOTA SEMARANG
Kawasan Pecinan adalah kawasan cagar budaya yang sejak awal terbentuknya di abad ke 18 hingga saat ini didominasi oleh kegiatan perdagangan dan jasa. Di sisi lain, terjadi penurunan jumlah penduduk yang cukup signifikan selama 7 tahun terakhir. Singkatnya, transformasi demografi dan ekonomi mengakibatkan perubahan pola pemanfaatan ruang fungsional dan dikhawatirkan dapat mempengaruhi nilai budaya kawasan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis transformasi sosio-spasial Kawasan Pecinan Kota Semarang yang direncanakan sebagai salah satu lokasi wisata budaya. Metode kualitatif digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi sehingga dapat memahami isu-isu perkembangan kawasan Pecinan. Hasil penelitian diperoleh bahwa tingkat migrasi masyarakat relatif tinggi yang disebabkan oleh peningkatan aktivitas berdagang. Peningkatan aktvitas ini mempengaruhi kondisi fisik kawasan seperti pemanfaatan lahan dan fungsi bangunan. Namun demikian, perubahan fasade bangunan tidak banyak berubah, sehingga pola permukiman eksisting dapat dikatakan mengalami transformasi minor. Faktor kepercayaan dan memegang teguh prinsip adat juga melatarbelakangi masyarakat tetap mempertahankan desain bangunannya. Oleh karena itu, citra kawasan Pecinan sebagai kawasan cagar budaya tetap terjag
FRAMEWORK FOR MEASURING URBAN ENERGY SECURITY : CITIZEN PERSPECTIVE
The ever increasing urban energy consumption has always been an important issue of urban energy security. Citizen plays critical role in shaping the energy consumption. Therefore, citizen perspective can give significant impact to urban energy security evaluation. This research aims to provide a systematic framework to measure urban energy security taking into account the perspective of citizen and showcase its implementation in a case of Bandung city. The proposed framework is a straight five stages process as follow; (1) establishing the urban context, (2) defining energy security relevant to the context, (3), determining dimensions of energy security , (4) determining indicators and and metrics, and (5) the final stage is calculating energy security. The implementation case shows Bandung’s energy security is at Middle Low status. It also verify that the framework is operationally viable and it can capture the significance of citizen perspective
THE MODE CHOICES AND COMMUTING STRESS: EMPIRICAL EVIDENCE FROM JAKARTA AND DENPASAR
Jabodetabek and Sarbagita have the highest worker commuter population in Indonesia. However, Jabodetabek has various and larger coverage of public transport than Sarbagita. This study also analyzes the relationship between the usage of specific transport modes and commuting stress. Multiple logistic regression models have been estimated using data of both Jabodetabek Commuter Survey and Sarbagita Commuter Survey. Using logistic regressions, the results show that mode choices, gender, and travel time have a significant effect on commuting stress. The analysis also indicates that both in high impedance and low impedance metropolitans, car commuting is perceived to be more stressful than non-car commuting. In a condition of restricted mode choices, commuters who use cars have a greater probability of commuting stress. Furthermore, the findings of this study imply limitation of car usage and as an evaluation of the policy of opening toll roads as a solution to urban congestion
TRIP RATE DAN POLA PERGERAKAN PADA TRANSMART SETIABUDI SEMARANG SEBAGAI SALAH SATU PUSAT PERBELANJAAN BERKONSEP MULTI-AKTIVITAS
Maraknya pembangunan pusat perbelanjaan mendorong perusahaan untuk terus melakukan inovasi, salah satunya adalah konsep 4 in 1 pada Transmart Setiabudi Semarang. Pembangunan ini akan berpengaruh terhadap peningkatan jumlah tarikan perjalanan. Tujuan penelitian ini mengetahui trip rate sebagai model tarikan perjalanan dan pola pergerakan. Metode yang digunakan untuk membentuk model tarikan perjalanan dalam penelitian ini adalah trip rate dan analisis pola pergerakan. Metode ini menggunakan data kedatangan pengunjung dibagi dengan luas aktivitas guna lahan, sedangkan pola pergerakan diperoleh dari data sebaran tempat asal pengunjung. Hasil dari penelitian ini adalah trip rate dan pola perjalanan. Trip rate total yaitu jumlah pengunjung dibagi luas area Transmart didapat 0,057 orang/m2. Trip rate tiap aktivitas terdiri dari trip rate area aktivitas belanja yaitu 0,035 orang/m2, trip rate area aktivitas bersantap 0,152 orang/m2, trip rate area aktivitas bermain 0,072 orang/m2, trip rate area aktivitas menonton 0,298 orang/m2. Pola pergerakan pengunjung Transmart berasal dari dalam dan luar Kota Semarang dan terdiri dari tujuan perjalanan satu aktivitas dan multi-aktivitas. Pusat perbelanjaan dengan konsep 4 in 1 memiliki trip rate yang rendah karena karakteristik perjalanan pengunjung dengan multi-aktivitas yang dilakukannya
AN INDICATOR CONCEPT FOR MEASURING THE QUALITY OF LIFE IN KAMPUNG KOTA COMMUNITIES IN THE “SMART CITY”
Kampung Kota is the beginning of the city development with all important aspects and has a special regional characteristic. The sustainability of Kampung Kota is affected by physical development around it. The concept of Semarang city development is in line with the concept of smart cities that trending now. One aspect that a city considers being a Smart City is the quality of life. The study of QoL (Quality of Life) has been increasing and has greatly developed in recent years, especially in large cities throughout the country. But it is not yet reviewed for the indicator concept that used as a measure of the quality of life in Kampung Kota communities. In fact, the problems related to the quality of life of the community is so complex. The research aims to study the indicator to measure the quality of life of the community. The method used in this study is quantitative deductive. The study consists of several stages: (1) content validity study, (2) face validity, (3) test reliability and validity; (4) analysis and conclusions. The results show 5 indicators that can be used as a measure of the quality of life of the people of Kampung Kota in Semarang. The indicators of the physic environmental aspects are safety, comfort, and the roles of the Neighborhood Association (RT/ RW). The indicators of the socio-economic and health aspects are income, environmental health, and availability of public spaces.