Jurnal Pengembangan Kota
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP PERKEMBANGAN KOTA UNGARAN
Kota Ungaran merupakan zona urban fringe dari Kota Metropolitan Semarang. Perpindahan penduduk perkotaan menuju daerah pinggiran pada umumnya bertujuan mencari tempat tinggal dengan harga yang lebih murah. Setiap tahun terjadi pertambahan penduduk dan kawasan terbangun di Kota Ungaran. Terdapatnya Gerbang pintu Jalan Tol Semarang–Solo di Kota Ungaran merupakan faktor mendorong berkembangnya aktivitas baru yang mengakibatkan perubahan penggunaan lahan. Hal ini merupakan salah satu penyebab perkembangan fisik Kota Ungaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap perkembangan Kota Ungaran. Menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial dan memanfaatkan data penginderaan jauh. Hasil penelitian menunjukan Kota Ungaran dapat dibedakan menjadi 4 sub wilayah berdasarkan karakteristik perkembangannya. Berdasarkan indikator lahan permukiman dan perdagangan jasa, perkembangan kota terkonsentrasi di bagian tengah bertahap meluas ke arah selatan dan timur. Sementara berdasarkan indikator lahan industri, perkembangan Kota Ungaran meluas ke selatan
RETURN AS KAMPUNG: A DEVELOPMENT THINKING PERSPECTIVE OF KAMPUNG SUSUN AKUARIUM REDEVELOPMENT
The Development of Kampung Susun Akuarium has caused many changes. The kampung community had experienced a downturn because they lost their homes, livelihoods and social environment, but they chose to rise again. This research uses a development thinking framework in analyzing the way of views or values of the community, ideas of progress, agents involved, resources, and patterns of change that occur in the kampung community. This framework makes it possible to see community change in various aspects and provides an alternative perspective on development. The qualitative method was carried out with observations and interviews with the community and local leaders, coupled with a review of related literature. As a result, we found that the values as a unified Kampung community continue to be maintained amidst the change. Then, independence and increased capability become the criteria of progress for the community that is being strived for. This is done by actors or institutions that mainly come from the grassroots, namely Koperasi and non-governmental organizations, through community empowerment efforts in improving livelihoods. The local government itself tends to be constrained by internal political dynamics, resulting in a lack of sustainability of the Development program. Finally, the revival of kampung communities is pursued primarily by the communities themselves
ENHANCING URBAN MICRO-MOBILITY: ENVIRONMENTAL IMPACT OF INTEGRATED BIKE SHARING AT COMMUTER RAIL STATIONS IN YOGYAKARTA URBANIZED AREA
Climate change, particularly CO2 emissions from the transportation sector, poses a significant global challenge. Promoting micro-mobility services, especially bike sharing programs, is crucial in addressing this issue. This study examines the environmental benefits of integrating bike sharing programs with public transportation by estimating the potential CO2 emission reductions through the avoided motorized trips approach. Data were collected via a commuter line passenger survey in the Yogyakarta Urbanized Area, resulting in 157 valid responses. The estimation considered specific data inputs: trip distance, emission factor, energy factor of transportation mode, and the number of people traveling by mode. Two scenarios related to bike sharing demand and commuter line ridership were employed. The findings reveal that bike sharing demand ranges from 16.03% to 48.08%. In terms of CO2 emissions reduction, the study indicates that avoided motorized trips through bike sharing as an egress mode can potentially reduce cumulative CO2 emissions by up to 567,158.35 tons CO2e by 2030. This reduction corresponds to 0.487% and 160.113% of the national and provincial reduction targets, respectively. These findings provide insightful information to promote sustainable transportation provision
KAJIAN TIPOLOGI RUANG TERBUKA HIJAU KAMPUS UNDIP DI TEMBALANG BERDASARKAN INDEKS HIJAU BIRU INDONESIA (IHBI) SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN SUSTAINABLE CAMPUS
Institusi pendidikan tinggi berperan dalam meningkatkan aspek keberlanjutan, salah satunya adalah lingkungan. Universitas Diponegoro (UNDIP) sebagai salah satu perguruan tinggi di Kota Semarang telah menerapkan konsep Green and Sustainable dalam pengembangan kampusnya. UNDIP saat ini memiliki kepadatan bangunan mencapai 48% dari luas kawasan, sehingga penyediaan RTH sangat penting untuk menjamin peningkatan ekologis kawasan Undip. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis tipologi RTH di Kampus Undip Tembalang menggunakan tipologi RTH dengan pendekatan Indeks Hijau Biru Indonesia (IHBI) menurut Peraturan Menteri ATR/BPN nomor 14/2022, serta menggunakan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa luas RTH dengan pendekatan IHBI adalah 99,67 hektar atau mencapai 66,81% dari luas kawasan. Luasan RTH terbesar adalah hutan kampus yaitu sebesar 43,86 hektar atau 44% dari luas RTH. Selain itu RTH publik di kawasan kampus saat ini hanya 16,77 hektar atau 16% sehingga perlu adanya peningkatan RTH Publik di Kawasan Kampus
IMPLIKASI PENETAPAN PUSAT PERTUMBUHAN TERHADAP PERUBAHAN PEMANFAATAN RUANG (STUDI KASUS: KOTA BENGKULU)
Pemusatan kegiatan ekonomi yang disebabkan oleh adanya pengembangan pusat pertumbuhan wilayah merupakan suatu bentuk eksternalitas positif yang menyebabkan terjadinya pertumbuhan kota, namun dibalik itu semua hal ini juga menimbulkan eksternalitas negatif yang dapat dilihat dengan munculnya sektor informal akibat dari ketidaksempurnaan praktek pembangunan yang lahir dari tingginya tingkat urbanisasi dari luar daerah ke pusat pertumbuhan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis implikasi dari penetapan pusat pertumbuhan terhadap perubahan pemanfaatan ruang dengan studi kasus di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif menggunakan aplikasi Google Earth Engine (GEE) untuk mengidentifikasi perubahan tutupan lahan di Kota Bengkulu pada tahun 2013 dan 2023. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, luas tutupan lahan vegetasi berkurang sebesar 1.127,9 Ha (19,43%), sedangkan tutupan lahan untuk lahan terbangun, badan air, dan sawah mengalami peningkatan masing-masing sebesar 885 Ha (27,17%); 233,1 Ha (2,94%); 78,7 Ha (16,04%), serta lahan kosong berkurang sebesar 68,9 Ha (38,26%). Hal ini mengindikasikan bahwa terjadinya perubahan penggunaan lahan vegetasi akibat adanya perluasan pembangunan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa penetapan pusat pertumbuhan memiliki implikasi terhadap perubahan penggunaan lahan dan pemanfaatan ruang yang disebabkan oleh adanya interaksi dan dinamika antara aktivitas manusia dan lingkungan alam
EKSPLORASI INDIKATOR DAN PENGUKURAN INDEKS KOTA KOMPAK TERHADAP MANFAAT EKONOMI DI PROVINSI DKI JAKARTA
Sekitar 1,25 juta penduduk wilayah Bodetabek melakukan kegiatan utama di Provinsi DKI Jakarta. Hal tersebut menyebabkan provinsi DKI Jakarta memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga provinsi tersebut harus mampu mengelola pertumbuhan dan mempertahankan kekompakan. Dengan kepadatan penduduk, kondisi urbanisasi dan berbagai tantangan efisiensi lahan perkotaan menjadikan kelima Kota administrasi DKI Jakarta sebagai subjek yang menarik untuk penelitian indeks kekompakan kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji indeks kekompakan kota berdasarkan keluaran (outcome) ekonomi terhadap manfaat ekonomi perkotaan dalam mencegah perluasan kota. Metode perhitungan yang digunakan adalah Urban Compactness Index yang mengacu pada 3 variabel utama yaitu: (i) population density, (ii) land development density, dan (iii) road density. Kemudian menghitung indeks entropi di tiap wilayah administrasi dan membandingkannya dengan PDRB per kapita yang dihasilkan tiap wilayah administrasi. Didapatkan Jakarta Pusat memiliki nilai indeks entropi yang lebih rendah dibandingkan dengan Jakarta Utara, namun memiliki PDRB yang lebih tinggi
THE POTENTIAL OF LAND VALUE CAPTURE FOR A TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT INITIATIVE IN PEKALONGAN CITY CENTER
Investment is a trigger for increasing the economic potential of a region. Land value is an indicator that not only reflects it, but also shows its development prospects. Government applies variety instruments of land use to improve the attractiveness of an area, especially for commercial activities. This study aims to formulate the Land Value Capture model as an innovation for financing the infrastructure development as well as for generating public revenues. Pekalongan City Center, which is located around the railway station, is an economic magnet that contains several advantages for Transit Oriented Development application. This research examines the determinant variables through Multiple Linear Regression. The model shows the significance of each influencing factor to raise land value. The study finds LVC tools that possibly applied. Discussion regarding the lack of financial capacity on government side while developable land is predominated owned by public institution vis-à-vis the needs for involving private investors to optimize the economic potential for new development is interested to understand about the differences between theoretical and practical point of view
THE DYNAMICS OF LAND COVER CHANGE AND LEVEL OF SUSTAINABILITY DEVELOPMENT IN DEPOK CITY
The massive development of Depok City has had an impact on improving the economic level but has also caused a decline in environmental sustainability and quality. This research aims to determine trends in land cover change and predictions for the future as well as the level of sustainability of development in Depok City. Land cover change trends in Depok City were carried out using the overlay method in ArcGIS software using land cover data for 2000, 2009, and 2019. Land cover changes were predicted until 2039 using the Land Change Modeler (LCM) analysis method with a business-as-usual scenario (BAU). Meanwhile, sustainability status is analyzed using the Rapfish Multidimensional Scaling (MDS) method using data/attributes from economic, social, and environmental dimensions. The research results show that changes in land cover in Depok City from 2000 - 2019 were dominated by agriculture to residential areas. Some open land is expected to experience a significant decline by 2039, while residential areas will continue to increase. The results of the MDS Rapfish analysis show that sub-districts in Depok City have different sustainability statuses, both in economic, social, and environmental dimensions
TINJAUAN BIBLIOMETRIK: MANAJEMEN RISIKO BENCANA, BAHAYA, DAN KERENTANAN DALAM INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI
Peranan strategis infrastruktur transportasi mendorong berbagai penelitian untuk menemukan solusi agar infrastruktur transportasi menjadi lebih kuat, tangguh dan bertahan. Penelitian ini kemudian bertujuan untuk memetakan perkembangan topik riset, gap dan potensi penelitian kedepannya dalam manajemen risiko infrastruktur transportasi. Tinjauan bibliometrik digunakan sebagai kerangka analisis, dengan memanfaatkan basis data Scopus sebagai sumber. Analisis co-occurrence; co-citation; bibliographic coupling; co-authorship; serta analisis klaster dilakukan terhadap 4.231 artikel riset dengan pemetaan secara matematik dan grafis menggunakan software VOSviewer 1.6.19. Hasil analisis menunjukkan artikel riset bidang manajemen risiko infrastruktur transportasi mengalami perkembangan pesat selama delapan tahun terakhir, dengan lebih dari 200 artikel riset dipublikasikan setiap tahunnya. Berbagai artikel riset secara dominan membahas penilaian dan manajemen risiko serta pengelolaan infrastruktur transportasi. Sementara itu, lebih rendahnya pembahasan substansi klaster terakhir yang berkaitan dengan sisi keamanan bagi manusia menjadi gap topik penelitian ini. Peluang penelitian kedepan untuk menemukan solusi lebih efektif adalah mempertimbangkan keamanan manusia dalam pembangunan infrastruktur transportasi sebagai input penelitian.
PERFORMANCES OF CREATIVE HUBS IN INDONESIA: LESSONS FROM SEMARANG’S EXPERIENCE
This study evaluates the performance of Creative Hub Semarang (CHS) in fulfilling its dual objectives as a collaborative space for creative economy actors and a tourism destination. Utilizing a mixed-methods approach, the research combines quantitative surveys with visitors to capture perceptions and satisfaction and qualitative in-depth interviews with government and creative actors. Results reveal that CHS’s strategic location in Kota Lama presents an opportunity to bridge the creative economy with tourism. About its role as a creative hub, while CHS has provided essential infrastructure and networking opportunities, its operational model and fragmented management hinder its ability to foster active collaboration and innovation. Challenges include limited trust between government entities and creative actors, bureaucratic constraints, and restrictive regulations. To strengthen CHS’s role, a more integrated and collaborative management approach is needed, alongside clearer communication of its objectives