1,720,994 research outputs found

    Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah.

    No full text
    Kegiatan magang telah dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2017 di Unit Perkebunan Bedakah PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah. Kegiatan magang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis budidaya teh secara langsung terutama tentang pengelolaan pemangkasan. Pengelolaan pemangkasan di Unit Perkebunan Bedakah sudah cukup baik dan mendekati standar yang telah ditetapkan. Pengamatan selama magang dilakukan dengan mengikuti kegiatan teknis secara langsung (penyulaman, pemeliharaan, pemetikan, pemangkasan, administrasi dan manajerial), serta mengumpulkan data sekunder dari arsip dan laporan perusahaan. Hasil magang menunjukan bahwa tinggi tanaman yang dipangkas < 120 cm dan diameter bidang petik sudah melebar yakni 104,91 cm dengan persentase pucuk burung sebesar 72,49%. Tinggi pangkasan yaitu 47,17 cm telah mendekati standar yang ditetapkan Unit Perkebunan Bedakah yaitu 50 cm. Gilir pangkas yang ditetapkan Unit Perkebunan Bedakah adalah 4-5 tahun. Produktivitas tanaman teh maksimum pada tahun pangkas 3 dan menurun pada tahun pangkas 4. Rata-rata bobot basah serasah pangkasan teh yaitu 2,76 kg per pohon. Serasah pangkasan menghasilkan bahan organik yang dapat digunakan sebagai penambah unsur hara di dalam tanah

    Studi pengamatan umur kacang hias (Arachis pintoi) sebagai biomulsa dalam budidaya cabai merah keriting (Capsicum anuum)

    Full text link
    Cabai merupakan salah satu sayuran favorit masyarakat Indonesia. Keunggulan cabai terletak pada rasa pedasnya yang menggugah selera makan. Selain itu cabai digunakan sebagai obat yang berhubungan dengan penyakit pernafasan juga bahan industri. Selain berbagai manfaat tersebut, cabai juga memiliki banyak jenis atau varietas dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tahun 2011 produktivitas cabai di Indonesia mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya dari 5.60 ton per hektar menjadi 6.19 ton per hektar (BPS, 2013). Teknik budidaya tanaman cabai yang intensif seringkali dilakukan untuk menunjang peningkatan produksi cabai agar dapat mendapatkan hasil yang maksimal. Budidaya tanaman cabai yang termasuk kedalam tanaman sayuran memerlukan pengolahan tanah secara intensif, yang akan mempengaruhi keberadaan unsur hara dalam tanah. Penggunaan mulsa merupakan salah satu upaya meningkatkan produksi pertanian. Jenis mulsa yang umum digunakan untuk budidaya tanaman adalah jenis mulsa plastik perak. Tetapi saat ini sudah ada beberapa alternatif mulsa yang digunakan salah satunya adalah Arachis pintoi. Biomulsa Arachis pintoi diharapkan dapat membantu memperbaiki lingkungan mikro dan menekan pertumbuhan gulma. Umur tanam yang sesuai diduga dapat memberikan penutupan yang baik sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cabai merah keriting, dan mampu menekan gulma sehingga produktivitas maksimal. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan I’Fast Club samping Green TV Kampus IPB, Bogor, Kec. Dramaga, Kab. Bogor. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal, yaitu dengan empat perlakuan waktu tanam A. pintoi dan dua pembanding: M0 monokultur tanaman cabai tanpa mulsa; M1 monukultur tanaman cabai dengan MPHP; M2 8 minggu A. pintoi sebelum cabai ditanam; M3 6 minggu A. pintoi sebelum cabai ditanam; M4 4 minggu A. pintoi sebelum cabai ditanam; M5 2 minggu A. pintoi sebelum cabai ditanam. Pengamatan dilakukan terhadap fase generatif dan vegetatif tanaman cabai. Parameter fase generatif yang diamati meliputi jumlah bunga dan jumlah buah. Sementara itu parameter fase vegetatif yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah ruas, jumlah daun, dan jumlah cabang. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan M3 dengan umur A. pintoi 3 minggu sebelum penanaman cabai memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan cabai. Perlakuan M3 memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah buah, jumlah cabang, dan tinggi tanaman cabai dibandingkan perlakuan lainnya. Penggunaan A. pintoi sebagai biomulsa memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah ruas) dan hasil produksi cabai merah keriting dibandingkan kontrol dan penggunaan mulsa plastik hitam perak

    Manajemen Pengendalian Gulma Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Bangun Koling Estate, PT Windu Nabatindo Abadi, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

    No full text
    Pengendalian gulma untuk areal kebun dengan luasan ribuan hektar memiliki kesulitan yang cukup tinggi di dalam pengelolaannya terhadap kebutuhan alat, bahan, dan tenaga kerja. Kegiatan magang bertujuan untuk mempelajari aspek teknis dan manajerial budidaya kelapa sawit dalam praktek kerja nyata di lapang khususnya dalam aspek pengendalian gulma. Kegiatan magang dilaksanakan dari bulan Februari hingga Juni 2016. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa gulma dominan di BKLE adalah Mucuna bracteata, Ageratum conyzoides, Centotheca lappaceae, dan Brachiaria mutica. Manajemen pengendalian gulma telah dilakukan dengan baik, namun dalam beberapa hal masih belum memenuhi kriteria standar operasional perusahaan seperti dosis racun ha-1 aplikasi yang tinggi yaitu 402, 36 cc ha-1, kondisi peralatan yang kurang sesuai standar, pusingan semprot yang tinggi, prestasi tenaga kerja piringan manual dan semprot chemist yang rendah, kesadaran penggunaan APD yang rendah, dan mutu semprot yang masih dibawah standar perusahaan. Biaya ha-1 pengendalian gulma manual lebih tinggi daripada biaya ha-1 pengendalian gulma chemist

    Manajemen Pengendalian Gulma Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Kebun Sei Batang Ulak PT Ciliandra Perkasa, First Resources, Riau.

    No full text
    Budidaya kelapa sawit di Indonesia menjadi sektor penting untuk pendapatan negara, peningkatan luas tanam, jumlah produksi dan ekspor meningkat dari tahun ke tahun. Produksi kelapa sawit dipengaruhi oleh faktor fisiologi dan faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang mempengaruhi diantaranya iklim topologi tanah, gulma dll. Gulma menjadi faktor pembatas pada penurunan hasil produksi tandan sawit. Manajemen pengendalian gulma berperan penting dalam upaya peningkatan produksi dan mutu buah. Kegiatan magang di kebun Sei Batang Ulak, PT Ciliandra Perkasa bertujuan memperoleh pengalaman kerja dalam pengelolaan perkebunan sawit, menambah wawasan pengetahuan manajerial kebun, keterampilan budidaya, teknik panen, dan pengolahan kelapa sawit. Pelaksanaan magang fokus pada peningkatan pemahaman dan keterampilan tentang kelapa sawit terutama manajemen pengendalian gulma, mempelajari permasalahan dengan upaya pengendaliannya dan menganalisis keberhasilan pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit. Hasil pengamatan identifikasi gulma menunjukkan terdapat 35 spesies gulma yang terdiri 23 jenis gulma daun lebar, 8 jenis gulma rumput, 3 jenis pakis, dan satu jenis teki. Spesies gulma yang paling dominan di gawangan hidup dan piringan adalah golongan daun lebar (Asystasia intrusa) dan rumput (Cyrtococcum patens dan Cyrtococcum oxyphillum). Manajemen pengendalian gulma kebun Sei Batang Ulak mengacu pada proses dari Fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Manajemen pengendalian gulma sudah baik namun perlu peningkatan pengawasan pada pekerja untuk mencapai ketepatan jenis, ketepatan waktu, ketepatan cara, ketepatan dosis, ketepatan sasaran, dan ketepatan konsentrasi

    Pengendalian Gulma Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Adolina, PT Perkebunan Nusantara IV, Sumatera Utara.

    No full text
    Kegiatan magang di Kebun Adolina, PT Perkebunan Nusantara IV, Sumatera Utara bertujuan meningkatkan kemampuan teknis dan manajerial budidaya kelapa sawit. Tujuan khusus kegiatan magang yaitu mempelajari pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit. Magang dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2019 hingga 20 Mei 2019. Data dan informasi diperoleh melalui pengamatan langsung dan tidak langsung. Gulma yang mendominansi blok tanaman belum menghasilkan (TBM) (blok 17M) adalah gulma rumput dengan nisbah jumlah dominansi (NJD) 66.58%. Gulma dominan pada blok tanaman menghasilkan (TM) adalah gulma berdaun lebar dengan nilai NJD TM muda (blok 10EF) 79.31%, TM remaja (blok 06M) 71.08%, dan TM tua (blok 98A) 55.6%. Rata-rata nilai koefisien komunitas (KK) dari semua blok yang dibandingkan adalah 34.16% dan nilai koefisien ketidaksamaan dari semua blok pengamatan adalah 66%. Gulma di Afdeling II Kebun Adolina tergolong heterogen. Biaya dan tenaga kerja per hektar yang digunakan pada pengendalian gulma secara kimiawi lebih rendah dibandingkan dengan pengendalian gulma secara manual. Herbisida yang digunakan untuk pengendalian gulma di Kebun Adolina berbahan aktif isopropil amina glyphosate dan metil metsolfuron. Prestasi kerja penyemprot di Afdeling II Kebun Adolina sesuai dengan standar perusahaan yaitu 3.04 ha HK-1. Persentase tingkat penggunaan ala pelindung diri (APD) di Afdeling II yaitu 76.67%

    Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit di Sungai Bahaur Estate, Bumitama Gunajaya Agro Group Plantation, Kalimantan Tengah

    No full text
    The Increasing of world vegetable oil is required, and it needs an effort to increase the quantity and quality of oil crop production. Elaeis guineensis Jacq. is one of the palmae plant which produce the biggest volume of vegetable oil in the world. The optimal palm oil growth will produce a lot of fresh fruit bunch by high quality oil. The good cultivation will effect the high quality of fruit bunch output, and one of the important cultivation is fertilizing. The purphose of internship program is to study about management of plantation at Bumitama Gunajaya Agro Group Plantation in all cultivate consists maintanance and harvesting which conducted during 4 months. The methode of internship program consists technic and management aspects. The specific aspect is about fertilizing management which is known as 4 right fertilizing concept (4T) that consist: type, dosage, time, methode and place. The results show that the time concept has not applied well and still needs effort to improve the quality of human performance and better facilities for efectivity and eficiency of fertilization

    Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Teh (Cammellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah

    No full text
    Magang ini dilakukan di Unit Perkebunan Bedakah, PT Tambi, Wonosobo, Jawa Tengah dari bulan Februari hingga Juni 2013. Pelaksanaan magang terdiri dari beberapa pekerjaan diantaranya sebagai pekerja lapangan selama satu bulan, sebagai asisten mandor selama satu bulan, sebagai asisten kepala blok selama empat minggu dan asisten kepala bagian kebun selama dua minggu. Tujuan umum adalah untuk memperluas pengetahuan mahasiswa magang tentang aspek teknis dan manajerial perkebunan teh, mengasah keterampilan dan pengalaman kerja. Kegiatan pemangkasan memperhatikan produksi pucuk. Apabila produksi pucuk dianggap stabil pada musim kemarau maka pelaksanaan pemangkasan dapat dilakukan 100 % di semester I. Pada gilir pangkas tahun 2013 semua blok melaksanakan pemangkasan dalam dua semester. Realisasi luas areal yang dipangkas dalam satu tahun tidak selalu sama dengan rencana yang telah ditetapkan sebesar 25 %. Berdasarkan data yang diperoleh dalam kurun waktu lima tahun realisasi pangkasan hanya 17.83 % dari luas areal tanaman menghasilkan. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhi waktu pelaksanaan pemangkasan diantaranya kondisi kebun, iklim, dan tenaga kerja

    Pengaruh Pengolahan Tanah dan Pengendalian Gulma terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas Kedelai pada Budidaya Januh Air di Lahan Pasang Surut.

    No full text
    Kedelai merupakan salah satu komoditas pertanian yang sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. Namun produksi kedelai nasional hanya mampu memenuhi 60 % kebutuhan nasional. Rendahnya produktivitas dan menurunnya luas panen merupakan salah satu faktor yang membuat kebutuhan kedelai tidak bisa dipenuhi. Penggunaan lahan suboptimal merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan. Lahan pasang surut merupakan lahan suboptimal yang cocok untuk budidaya kedelai. Kendala pada lahan pasang surut dapat diatasi dengan teknik budidaya jenuh air. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga September 2015 di Desa Muliasari, Banyuasin, Sumatra Selatan. Penelitian ini menggunakan lahan pasang surut tipe B. Rancangan percobaan yang digunakan adalah split-plot dua faktor. Perlakuan pengolahan tanah meliputi bedengan 2 m tanpa olah tanah (L1), lebar bedeng 2 m dengan olah tanah (L2), lebar bedeng 4 m tanpa olah tanah (L3), dan lebar bedeng 4 m dengan olah tanah (L4). Perlakuan pengendalian gulma meliputi tanpa pengendalian (C0), pengendalian manual (C1), pengendalian gulma dengan herbisida sistemik berbahan aktif Glyfosat 3 minggu sebelum tanam + herbisida kontak berbahan aktif paraquat 1 minggu sebelum tanam (C2). Hasil penelitan ini menunjukkan bahwa perlakuan lebar bedeng 2 m dan 4 m dengan olah tanah (L2 dan L4) menunjukkan pertumbuhan kedelai yang lebih baik. Produktivitas tertinggi terdapat pada perlakuan lebar bedeng 4 m dengan olah tanah yakni sebesar 3,23 ton ha-1. Perlakuan pengendalian manual menunjukkan hasil pertumbuhan kedelai yang paling baik dibandingkan perlakuan lainnya, yakni sebesar 3,22 ton ha-1. Namun produktivitas pada perlakuan pengendalian manual tidak berbeda nyata dengan perlakuan pengendalian dengan herbisida sistemik berbahan aktif glyfosat 3 minggu sebelum tanam + herbisida kontak berbahan aktif paraquat 1 minggu sebelum tanam

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
    corecore