50 research outputs found
tejo waskito's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
tejo waskito's Quick Files
The Quick Files feature was discontinued and it’s files were migrated into this Project on March 11, 2022. The file URL’s will still resolve properly, and the Quick Files logs are available in the Project’s Recent Activity
PERGESERAN PARADIGMA KEISLAMAN NAHDLATUL ULAMA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENGEMBANGAN INSTITUSI PENDIDIKAN NAHDLATUL ULAMA
Tejo Waskito (1420411059) : Pergeseran Paradigma Keislaman Nahdlatul Ulama
dan Implikasinya terhadap Pengembangan Institusi Pendidikan Nahdlatul Ulama.
Kemunculan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di puncak pimpinan sekaligus figur
lokomotif gerakan kultural NU merupakan titik awal dalam kilas balik sejarah
NU. Kemunculan tokoh tersebut menandai terjadinya revolusi paradigmatik yang
secara historis terjadi pada tahun 1984 ketika Muktamar NU di Situbondo, yakni
mengembalikan posisi NU “kembali ke khittah 1926” setelah sebelumnya menjadi
partai politik. Kembalinya NU ke khittah tidak hanya menempatkan NU dalam
posisi semula. Tetapi, secara bersamaan khittah telah melahirkan paradigma baru
dalam keislaman NU. Ini dibuktikan dengan kian menjamurnya wacana sosialintelektual
(syu’un ijtima’iyyah) dikalangan generasi muda NU sebagai respon
terhadap pergolakan itu, sehingga, pada gilirannya melahirkan sejumlah tuntutan
pembaharuan. Baik pembaharuan di bidang pemikiran, arah gerakan, maupun
pembaharuan di bidang institusi pendidikan. Karenanya, mencari kelindan antara
pergeseran paradigma keislaman NU dengan pengembangan sejumlah institusi
pendidikan NU menjadi kausalitas logis untuk melakukan penelitian.
Secara mekanis, penelitian ini merupakan library research, menggunakan
analisis data kualitatif dengan penyajian bersifat deskriptif-anaitik. Pendekatan
yang digunakan adalah „historis-hermeneutis‟ dan „filosofis-rasionalistis‟. Selain
mengkaji organisasi, penelitian ini juga melacak akar epistemologi pemikiran
tokoh Abdurrahman Wahid dengan memposisikannya sebagai lokomotif gerakan
kultural pemikiran keislaman NU. Untuk menghubungkan antara dimensi
pemikiran, organisasi dan praktik pengembangan institusi pendidikan, peneliti
memodifikasi rumusan pendekatan “generatif” Pierre Bourdieu mengenai praktik
sosial dengan persamaan: “(Habitus X Modal) + Arena = Praktik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama, pergeseran paradigma keislaman
NU dilatar belakangi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal diakibatkan
oleh terjadinya revolusi paradigmatik tahun 1984 di Situbondo yang ditandai oleh
kembalinya NU “ke Khittah 1926”. Faktor eksternal meliputi: 1) Terjadi mobilitas
sosial-intelektual di kalangan anak muda NU sehingga mengurangi isolasi warga
NU; 2) Adanya tokoh sentral sebagai lokomotif gerakan kultur-sosial-intelektual
di tubuh NU; 3) Proyek pengembangan pesantren melalui P3M yang melibatkan
sejumlah tokoh NU; 4) Berdirinya IAIN hampir disetiap propinsi yang kemudian
membuka peluang bagi santri untuk mendapatkan pendidikan tinggi sehingga
mengurangi isolasi kaum santri. Kedua, bentuk pergeseran paradigma keislaman
NU meliputi: pergeseran teologi NU, dari Aswaja sebagai doktrin menjadi manhaj
al-fikr, pergeseran tradisi fikih dari qauly ke manhajy serta pergeseran politik NU
dari politik struktural ke politik kultural. Ketiga: pergeseran paradigma keislaman
NU ini kemudian berimplikasi pada kelahiran institusi baru pendidikan NU, seperti
institusi pesantren (Tren-Sains), Perguruan Tinggi (UNU) dan institusi pendidikan
pemikiran NU (eLSAD, LKiS, Lakpesdam NU)
GENEALOGI REVOLUSI PARADIGMA PEMIKIRAN KEISLAMAN NAHDLATUL ULAMA
This article tries to track genealogy of the Islamic revolutionary paradigm of thought in NU and its various possibilities have arisen. Based on the library studies using the analytical discourse approach, the result revealed that the genealogy of the Islamic paradigm of NU was born due to the internal and external dialectics bridged by multi-epistemology. Based on the 'political reconciliation' event which is called 'returning to khittah 1926' in Situbondo in 1984, NU experienced a shift orientation, not only in the political sphere but also paradigmatically. Hereby, there was social-intellectual mobility marked by the proliferation of social and intellectual discourse among NU’s young generation. The dominance of this activity leading to revolutionary movement in the field of NU’s Islamic paradigm: Aswaja's theology which was originally understood as a doctrine became a thinking methodology (manhaj alfikr); expansion of the legal institution's methodology, from qauly to manhajy; and shifting political struggle, from structural political arena to cultural politics. This discourse became massive among Nu’s young generation caused by the support of Abdurrahman Wahid, the ideal figure known as a locomotive of the NU cultural movement
Konsep Tujuan Pendidikan Islam
Berbicara tentang tujuan pendidikan, tentunya tidak terlepas dari hakikat pendidikan
itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada makalah sebelumnya, secara filosofis,
pendidikan islam diartikan sebagai pendidikan yang berparadigma kesemestaan yaitu
terciptanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman secara integratif dalam rangka
humanisasi dan liberalisasi manusia agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai
khalifah di bumi sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah dan sesama manusia. Oleh
sebab itu, pendidikan sebagai wahana dalam proses perubahan tingkah laku individu tentunya
harus mempunyai tujuan, dimana tujuan merupakan suatu arah yang ingin dicapai
Institusionalisasi pemikiran pendidikan Mohammad Natsir ke dalam lembaga Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia
This research aims to investigate the institutionalization process of Mohammad Natsir's educational thoughts in Islamic higher education institutions in Indonesia. Qualitative research method was used in this study with document analysis technique as the main data source. The data obtained were then analyzed using content analysis. The results of the study show that Mohammad Natsir's educational thoughts were institutionalized through various efforts, one of which was the establishment of the Islamic College as a higher education institution that adopted Mohammad Natsir's vision and ideas, especially in the development of curriculum and the provision of education that integrates Islamic and Western education models. This institutionalization was also carried out through the development of a curriculum that emphasizes the provision of academic education in a balanced practice. In conclusion, Mohammad Natsir's educational thoughts were successfully institutionalized through the establishment of the Islamic College which later evolved into the Indonesian Islamic University, and provided important contributions to the development of modern and quality Islamic education in Indonesia.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi proses institusionalisasi pemikiran pendidikan Mohammad Natsir dalam lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik analisis dokumen sebagai sumber data utama. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Pendidikan Mohammad Natsir diinstitusionalisasikan melalui berbagai upaya, salah satunya adalah dengan pendirian Sekolah Tinggi Islam sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengadopsi visi dan gagasan Mohammad Natsir, utamanya dalam pengembangan kurikulum dan penyelenggaraan pendidikan yang mengintegrasikan model pendidikan Islam dan Pendidikan Barat. Institusionalisasi tersebut juga dilakukan melalui pengembangan kurikulum yang menekankan pada penyelenggaraan pendidikan akademik dalam praktik yang seimbang. Kesimpulannya, pemikiran pendidikan Mohammad Natsir berhasil diinstitusionalisasikan melalui pendirian Sekolah Tinggi Islam yang kemudian berevolusi menjadi Universitas Islam Indonesia, dan memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pendidikan Islam modern dan berkualitas di Indonesia.This research aims to investigate the institutionalization process of Mohammad Natsir's educational thoughts in Islamic higher education institutions in Indonesia. Qualitative research method was used in this study with document analysis technique as the main data source. The data obtained were then analyzed using content analysis. The results of the study show that Mohammad Natsir's educational thoughts were institutionalized through various efforts, one of which was the establishment of the Islamic College as a higher education institution that adopted Mohammad Natsir's vision and ideas, especially in the development of curriculum and the provision of education that integrates Islamic and Western education models. This institutionalization was also carried out through the development of a curriculum that emphasizes the provision of academic education in a balanced practice. In conclusion, Mohammad Natsir's educational thoughts were successfully institutionalized through the establishment of the Islamic College which later evolved into the Indonesian Islamic University, and provided important contributions to the development of modern and quality Islamic education in Indonesia.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi proses institusionalisasi pemikiran pendidikan Mohammad Natsir dalam lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik analisis dokumen sebagai sumber data utama. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Pendidikan Mohammad Natsir diinstitusionalisasikan melalui berbagai upaya, salah satunya adalah dengan pendirian Sekolah Tinggi Islam sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mengadopsi visi dan gagasan Mohammad Natsir, utamanya dalam pengembangan kurikulum dan penyelenggaraan pendidikan yang mengintegrasikan model pendidikan Islam dan Pendidikan Barat. Institusionalisasi tersebut juga dilakukan melalui pengembangan kurikulum yang menekankan pada penyelenggaraan pendidikan akademik dalam praktik yang seimbang. Kesimpulannya, pemikiran pendidikan Mohammad Natsir berhasil diinstitusionalisasikan melalui pendirian Sekolah Tinggi Islam yang kemudian berevolusi menjadi Universitas Islam Indonesia, dan memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pendidikan Islam modern dan berkualitas di Indonesia
Pendidikan Multikultural Perspektif Al-Quran
Islam sejatinya telah mengajarkan pemeluknya untuk menghargai perbedaan. Pada dasarnya, keragaman (etnis, budaya, agama dan lain-lain) manusia merupakan sunnatullah. Jauh sebelum pemikir orientalis mengenalkan pendidikan multikultural, Islam telah mengenal secara gamblang seperti dijelaskan dalam kitab sucinya (al-Qur’an). Pendidikan Multikultural bukanlah upaya untuk mencari sinkretisme baru, melainkan mencari titik temu diantara perbedaan-perbedaan latar belakang itu, dan menjadikan perbedaan menjadi sebuah rahmat bagi persatuan dan kesatuan umat, sehingga tercipta suatu simfoni Islam dalam bingkai nasionalisme dan pluralisme
Pendidikan Multikultural Perspektif Al-Quran
Islam sejatinya telah mengajarkan pemeluknya untuk menghargai perbedaan. Pada dasarnya, keragaman (etnis, budaya, agama dan lain-lain) manusia merupakan sunnatullah. Jauh sebelum pemikir orientalis mengenalkan pendidikan multikultural, Islam telah mengenal secara gamblang seperti dijelaskan dalam kitab sucinya (al-Qur’an). Pendidikan Multikultural bukanlah upaya untuk mencari sinkretisme baru, melainkan mencari titik temu diantara perbedaan-perbedaan latar belakang itu, dan menjadikan perbedaan menjadi sebuah rahmat bagi persatuan dan kesatuan umat, sehingga tercipta suatu simfoni Islam dalam bingkai nasionalisme dan pluralisme
Konsep Tujuan Pendidikan Islam
Berbicara tentang tujuan pendidikan, tentunya tidak terlepas dari hakikat pendidikan
itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada makalah sebelumnya, secara filosofis,
pendidikan islam diartikan sebagai pendidikan yang berparadigma kesemestaan yaitu
terciptanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman secara integratif dalam rangka
humanisasi dan liberalisasi manusia agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai
khalifah di bumi sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah dan sesama manusia. Oleh
sebab itu, pendidikan sebagai wahana dalam proses perubahan tingkah laku individu tentunya
harus mempunyai tujuan, dimana tujuan merupakan suatu arah yang ingin dicapai
Konsep Tujuan Pendidikan Islam
Berbicara tentang tujuan pendidikan, tentunya tidak terlepas dari hakikat pendidikan
itu sendiri. Seperti yang telah disinggung pada makalah sebelumnya, secara filosofis,
pendidikan islam diartikan sebagai pendidikan yang berparadigma kesemestaan yaitu
terciptanya nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman secara integratif dalam rangka
humanisasi dan liberalisasi manusia agar dapat menjalankan tugas dan fungsinya sebagai
khalifah di bumi sebagai bentuk pengabdiannya kepada Allah dan sesama manusia. Oleh
sebab itu, pendidikan sebagai wahana dalam proses perubahan tingkah laku individu tentunya
harus mempunyai tujuan, dimana tujuan merupakan suatu arah yang ingin dicapai
