1,720,967 research outputs found

    INTERNALISASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: INTERNALISASI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    Full text link
    Abstrak: Korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah sudah tidak asing lagi dimata masyarakat. masalah korupsi ini merupakan masalah yang krusial yang terjadi di Indonesia dan bahkan bisa dikatan sudah darurat. Terjadinya OTT oleh KPP sudah sangat fulgar diberitakan di Televisi dan media sosial. Korupsi berkembang dengan sangat pesat dan meluas di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tentu diperlukan upaya yang efektif dalam menyelesaikan korupsi di Indonesia. Upaya pengenalan tentang budaya antikorupsi haruslah dilakukan sejak dini. Salah satunya melalui dunia pendidikan, baik sekolah dasar maupun sekolah menengah atas. Upaya pendidikan antikorupsi tentu akan menjadi solusi yang efektif dalam meminimalkan tindak pidana korupsi. Pendidikan anti korupsi harus dikenalkan dari anak belajar tentang kehidupan, artinya sejak awal anak dikenalkan oleh nilai-nilai anti korupsi. Penanaman dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, akan menumbuhkan sikap kepribadian anak. Pada dasarnya sebuah kepribadian seseorang tidak muncul secara instan namun melalui sebuah proses. Pendidikan anti korupsi bisa dilaksanakan baik secara formal maupun informal. Ditingkat formal, unsur-unsur pendidikan anti korupsi dapat dimasukkan kedalam kurikulum diintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Konsep anti korupsi dengan membiasakan hidup anti korupsi, melalui pengenalan gaya hidup anti korupsi, akibat korupsi, dan penanaman nilai-nilai ajaran agama ke dalam diri peserta didik. Implikasi pendidikan anti korupsi dalam pendidikan agama Islam yaitu kurikulum harus mengaitkan seluruh mata pelajaran pada nilai-nilai anti korupsi, pembelajaran dengan pembiasaan dan keteladanan dan guru harus mampu menjadi teladan, memberikan informasi tentang bahaya korupsi, dan membiasakan siswa untuk anti korupsi

    Shalat Ditinjau dari Sudut Pandang Pendidikan, Sosial dan Politik

    Full text link
    Abstrak: Shalat apabila dijelaskan dari sudut pandang vertikal yaitu nilai esoteris (teks suci) dipahami sebagai media komunikasi antara “hamba” dengan “Khaliq”. Tujuannya adalah sebagai bukti ketaatan hamba dengan perintah sakral Tuhan, karena salah satu tugas seorang muslim sejati adalah menghambakan diri kepada Sanag Maha Kuasa sebagaimana yang telah ditetapkan dalam syari’at. Disatu sisi shalat apabila dijelaskan dari sudut pandang pendidikan, sosial dan politik (eksoteris) memiliki banyak nilai-nilai yang terkadung di dalamnya yang nantinya sebagai acuan untuk mencari jawaban atas problematika kehidupan yang sudah mulai bergeser kearah disintegrasi moral (dekadensi moral). Sikap dan gerakan dalam shalat dilakukan dengan tertib namun di luar shalat ternyata masih tidak tertib.  Shalat ternyata tidak hanya mengajarkan tentang kepatuhan kepada Sang Pencipta, tapi di aspek lain mengajarkan kepatuhan kepada sesama manusia dan kerja sama yang baik. Salah satu nilai sosial dan politik dalam shalat dilihat dari aspek pendidikannya adalah antara imam dan makmun terjadi kerja sama yang sangat teratur, adil, disiplin, jujur dan toleransi. &nbsp

    LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM MULTIKULTURAL

    Full text link
    Abstrak:  Pendidikan salah satu alat paling efektif untuk meneruskan, melanggengkan, mengawetkan, mengonservasi tradisi dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dari abad yang satu ke abad yang lain. Maka, lembaga pendidikan Islam harus mampu mengcounter semua tradisi karena mengingat siswa-siswi terdiri dari multi-budaya (multikultural). Maka, pendidikan tidak akan punya arti apabila manusia tidak ada di dalamnya. Hal ini disebabkan, karena manusia merupakan subjek dan objek pendidikan. Artinya, manusia tidak akan bisa berkembang dan mengembangkan kebudayaannya secara sempurna apabila tidak ada pendidikan. Untuk itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa eksistensi pendidikan merupakan salah satu syarat yang mendasar untuk meneruskan dan mengekalkan kebudayaan manusia. Di sini, fungsi pendidikan berupaya menyesusaikan atau mengharmonisasikan kebudayaan lama dengan kebudayaan baru secara proporsional dan dinamis. Pada tataran inilah menjadi fokus kajian dalam tulisan ini. Di mana lembaga pendidikan Islam perspektif budaya harus berjalan sesuai dengan konteks dan kebutuhan sosial. Karena perkembangan dunia yang dibaluti dengan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan dinamis menuntut lembaga pendidikan Islam ikut serta menyesuaikan diri di dalamnya agar tidak dimakan oleh zaman.  Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam harus menyesuaikan diri dengan budaya di mana dia harus beroperasi. Karena lembaga pendidikan Islam pada dasarnya adalah sebagai wadah untuk mentransformasikan nilai-nilai Islam di dalamnya kepada peserta didik supaya bisa bertahan ditengah budaya yang selalu dinamis dan terus berubah sesuai dengan konteks. Di sinilah salah satu esensi ajaran Islam yang selalu relevan dengan konteks zamannya yang dikenal dengan istilah “rahmatan lil ‘alamin”. Mengandung pengertian bahwa Islam untuk semua manusia yang memiliki budaya yang beragam

    EXPLORING QUALITATIVE RESEARCH: A COMPREHENSIVE GUIDE TO CASE STUDY METHODOLOGY: Menjelajahi Penelitian Kualitatif: Panduan Komprehensif untuk Metodologi Studi Kasus

    No full text
    Exploring Qualitative Research: A Comprehensive Guide to Case Study Methodology is an article that thoroughly discusses qualitative research methodology with a focus on case studies. The background of the article reflects the need for in-depth guidance in exploring a profound understanding of complex phenomena. Involving a comprehensive literature review, this article integrates various theories and approaches that have shaped the foundation of qualitative research. The described research method includes a holistic case study approach, emphasizing crucial steps in the research process. Data collection techniques involve in-depth interviews, participatory observation, and document analysis to gain a rich and deep perspective on the research context. The data analysis process is explained using a thematic approach, enabling the identification of patterns and meanings emerging from the collected data. The research results highlight the added value provided by case study methods in the context of qualitative research, offering deep and contextual insights into the studied phenomena. The article's conclusion affirms the success of the holistic approach in embracing the complexity of qualitative research, while research implications contribute to the development of research methodology. Thus, this article serves as a valuable guide for researchers interested in exploring qualitative research through the lens of case studies.Exploring Qualitative Research: A Comprehensive Guide to Case Study Methodology adalah sebuah artikel yang mengulas secara menyeluruh tentang metodologi penelitian kualitatif dengan fokus pada studi kasus. Latar belakang artikel mencerminkan kebutuhan akan panduan yang mendalam dalam menggali pemahaman mendalam terhadap fenomena kompleks. Melibatkan telaah literatur yang komprehensif, artikel ini mengintegrasikan berbagai teori dan pendekatan yang telah membentuk landasan penelitian kualitatif. Metode penelitian yang dijelaskan mencakup pendekatan studi kasus yang holistik, menekankan langkah-langkah penting dalam proses penelitian. Teknik pengumpulan data melibatkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen untuk mendapatkan perspektif yang kaya dan mendalam terhadap konteks penelitian. Proses analisis data dijelaskan dengan menggunakan pendekatan tematik, memungkinkan identifikasi pola dan makna yang muncul dari data yang terkumpul. Hasil penelitian menyoroti nilai tambah yang diberikan oleh metode studi kasus dalam konteks penelitian kualitatif, memberikan wawasan mendalam dan kontekstual terhadap fenomena yang dipelajari. Kesimpulan artikel menegaskan keberhasilan pendekatan holistik dalam merangkul kompleksitas penelitian kualitatif, sementara implikasi penelitian menawarkan kontribusi bagi perkembangan metodologi penelitian. Dengan demikian, artikel ini menjadi panduan yang berharga bagi peneliti yang tertarik untuk menjelajahi penelitian kualitatif melalui lensa studi kasus

    Konvergensi Pemikiran Yusuf al-Qardhawi dan Fazlur Rahman dalam Hukum Ekonomi Syariah dan Pendidikan Islam: Sebuah Kajian Komparatif

    Full text link
    This research aims to examine the convergence of thought between two prominent figures in the Islamic world, namely Yusuf al-Qardhawi and Fazlur Rahman, in the context of Sharia economics and Islamic education. This study is comparative in nature, focusing on the analysis of their thoughts related to the principles of Sharia economics and their approaches to shaping Islamic education relevant to contemporary times. The research method employed in this study is a literature review, which includes the analysis of the works of Yusuf al-Qardhawi and Fazlur Rahman, as well as relevant literature studies. The findings of the research indicate that despite their different intellectual backgrounds, there is convergence in their views on Sharia economic principles, such as economic justice, ownership, and the prohibition of usury. Furthermore, both emphasize the importance of inclusive, contextual, and contemporary-relevant Islamic education. This research contributes to understanding the convergence of thought between Yusuf al-Qardhawi and Fazlur Rahman in the context of Sharia economics and Islamic education. These findings can serve as a source of inspiration for the development of more inclusive and relevant Sharia economic thought, as well as Islamic education that aligns with the demands of contemporary times.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konvergensi pemikiran dua tokoh besar dalam dunia Islam, yaitu Yusuf al-Qardhawi dan Fazlur Rahman, dalam konteks hukum ekonomi syariah dan pendidikan Islam. Studi ini bersifat komparatif, berfokus pada analisis pemikiran keduanya terkait dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah, serta pendekatan mereka dalam membentuk pendidikan Islam yang relevan dengan zaman kontemporer. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, yang mencakup analisis teks-teks karya Yusuf al-Qardhawi dan Fazlur Rahman, serta kajian literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun keduanya memiliki latar belakang pemikiran yang berbeda, terdapat konvergensi dalam pandangan mereka terhadap prinsip-prinsip ekonomi syariah, seperti keadilan ekonomi, kepemilikan, dan larangan riba. Selain itu, keduanya juga menekankan pentingnya pendidikan Islam yang inklusif, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami konvergensi pemikiran antara Yusuf al-Qardhawi dan Fazlur Rahman dalam konteks hukum ekonomi syariah dan pendidikan Islam. Temuan ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan pemikiran ekonomi syariah yang lebih inklusif dan relevan, serta pendidikan Islam yang sesuai dengan tuntutan zaman kontemporer

    Rethinking Konsep Poligami: Menggagas Teologi Sosial dalam Konteks Hukum Keluarga Islam dan Pendidikan Islam

    Full text link
    This research aims to reconsider the concept of polygamy in Islam, with a focus on the development of social theology within the context of Islamic family law and Islamic education. In traditional perspectives, polygamy is often narrowly interpreted, without considering the potential social, economic, and educational impacts. In an effort to redefine the concept of polygamy, this research analyzes various written works and views of prominent scholars in Islam. The research attempts to embrace a broader and more holistic perspective on polygamy, involving social theology as a key analytical tool. This approach allows us to examine the social implications of polygamous practices, including issues such as gender equality, women's rights, and their influence on the education of children within polygamous families. The research method employed is qualitative library research. The results of this study will provide fresh insights into how polygamy can be understood within the context of Islamic family law and Islamic education, while highlighting the importance of considering the social aspects associated with this practice. This research is expected to provide a stronger foundation for discussions about polygamy in modern Muslim society and promote a deeper understanding of its implications within the social and educational context.Penelitian ini bertujuan untuk merenungkan ulang konsep poligami dalam Islam dengan fokus pada pengembangan teologi sosial dalam konteks hukum keluarga Islam dan pendidikan Islam. Dalam pandangan tradisional, poligami seringkali diinterpretasikan secara sempit, tanpa mempertimbangkan dampak sosial, ekonomi, dan pendidikan yang mungkin timbul. Dalam upaya untuk memahami ulang konsep poligami, penelitian ini menganalisis sejumlah karya tulis dan pandangan ulama terkemuka dalam Islam. Penelitian ini mencoba merangkul perspektif yang lebih luas dan holistik terhadap poligami, dengan melibatkan teologi sosial sebagai alat analisis kunci. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk memeriksa dampak sosial dari praktik poligami, termasuk masalah seperti kesetaraan gender, hak-hak perempuan, dan pengaruhnya pada pendidikan anak-anak dalam keluarga poligami. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif jenis libarary research. Hasil penelitian ini akan memberikan wawasan baru tentang bagaimana poligami dapat dipahami dalam konteks hukum keluarga Islam dan pendidikan Islam, sambil menyoroti pentingnya mempertimbangkan aspek-aspek sosial yang berkaitan dengan praktik ini. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar yang lebih kuat dalam perdebatan mengenai poligami dalam masyarakat Muslim modern dan mempromosikan pemahaman yang lebih mendalam tentang implikasinya dalam konteks sosial dan pendidikan

    Salafi Islamic Education: Teaching Methods, Traditions and Ideologies in Lombok Boarding Schools: (Case study at Dar al-Qur'an and al-Hadith al-Majidiyyah al-Syafi'iyyah Institute in Nahdlatul Wathan Lombok)

    Full text link
    This research highlights the urgency of investigating teaching methods and curricula in Salafi educational institutions, specifically Ma'had Dar al-Qur'an and al-Hadith al-Majidiyyah al-Syafi'iyyah Nahdlatul Wathan Lombok. Despite the rapid development of modern curriculum and teaching methods, this institution maintains a traditional approach with seated learning and a classical curriculum. This study is a qualitative research focusing on literature and sources related to conventional Salafi education. The findings are as follows: Firstly, the institution's traditions persist, maintaining the study of classical Islamic texts through talaqqy or halaqah, teacher reverence, knowledge transmission, moral behavioral norms, and haflah. Secondly, the fundamental ideology is rooted in Islam, ahl al-Sunnah wa al-jama'ah, influenced by the theological thoughts of Imam Abu al-Hasan al-Asya'ri and Abu Mansur al-Maturidi in Aqeedah and the philosophical thoughts of Imam al-Ghazali and Imam Junaid al-Baghdadi in Sufism. Thirdly, the Institute's vision is to produce knowledgeable Islamic cadres proficient in the Quran, Hadith, and Salafusshalih texts. This research provides valuable insights into Salafi Islamic education in Lombok and its broader implications for education and society, enriching our understanding of the dynamics of Salafi Islamic education in a specific local context

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Paradigma Diferensiasi dalam Implementasi Kurikulum Merdeka: Konteks Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan Madrasah

    Full text link
    Islamic Religious Education (Indonesian: Pendidikan Agama Islam or PAI) has a crucial role in shaping the character and moral values of students, especially in the midst of the complexity of social and cultural diversity. This study comprehensively explores the implementation of Merdeka Curriculum in PAI learning in schools and madrasahs with a differentiation paradigm. The research is motivated by the need to improve the quality of PAI learning that is responsive to the diversity of students. Using qualitative research methods and a thematic approach, data were collected through literature study and participatory observation. The results show that the implementation of Merdeka Curriculum provides greater flexibility in the preparation of PAI curriculum, enabling the implementation of learning strategies that are more responsive to the needs of diverse learners. The implications of this study provide a strong basis for the development of educational policies that are adaptive and supportive of diverse learning approaches in schools and madrasahs. Abstrak: Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan nilai moral peserta didik, terutama di tengah kompleksitas keberagaman sosial dan budaya. Penelitian ini secara komprehensif mengeksplorasi implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dan madrasah dengan paradigma diferensiasi. Penelitian dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PAI yang responsif terhadap keberagaman peserta didik. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan tematik, data dikumpulkan melalui studi literatur dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam penyusunan kurikulum PAI, memungkinkan penerapan strategi pembelajaran yang lebih responsif terhadap kebutuhan peserta didik yang beragam. Implikasi dari penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan kebijakan pendidikan yang adaptif dan mendukung pendekatan pembelajaran yang beragam di sekolah dan madrasah
    corecore