41 research outputs found

    STRATEGI MATA PENCAHARIAN RUMAH TANGGA NELAYAN AKIBAT PERUBAHAN

    No full text
    Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia yang memiliki jutaan masyarakat yang hidup di wilayah pesisir dan menggantungkan hidupnya dari sumberdaya pesisir. Kesejahteraan jutaan masyarakat pesisir sangat dipengaruhi oleh kelestarian ekosistem pesisir yang rentan terhadap berbagai ancaman, salah satunya adalah perubahan iklim. Dampak perubahan iklim yaitu muncul gejala alam global El Nino, kerusakan terumbu karang seperti coral bleaching, kenaikan permukaan air laut, penghangatan suhu di laut mengakibatkan penurunan tangkapan produksi ikan, sebab ikan akan bermigrasi atau sebaliknya. Rumah tangga nelayan dalam menghadapi perubahan iklim akan melakukan strategi mata pencaharian untuk kelangsungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi rumah tangga nelayan akibat perubahan iklim, dampak perubahan iklim terhadap pendapatan rumah tangga nelayan, dan strategi mata pencaharian rumah tangga nelayan akibat perubahan iklim. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja yaitu di Kecamatan Muncar Kabupeten Banyuwangi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan analitik. Metode pengambilan sampel secara Disproporsionate Stratified Random Sampling. Alat analisis data yang digunakan deskriptif kualitatf, uji-t sampel berpasangan dan konsep sustainable livelihood. Hasil dari penelitian menunjukkan: (1) Kondisi rumah tangga nelayan juragan dan pandhiga akibat perubahan iklim berdampak pada ekonomi dan sosial, (2) Terdapat perbedaan pendapatan rumah tangga nelayan juragan dan pandhiga sebelum dan sesudah perubahan iklim pada musim puncak dan musim peceklik secara signifikan, (3) Strategi mata pencaharian yang dilakukan oleh rumah tangga nelayan juragan dan pandhiga akibat perubahan iklim adalah diversifikasi pekerjaan baik dibidang perikanan maupun non perikanan

    Analisis Pendapatan dan Kontribusi Usaha Ternak Ayam Buras Terhadap Pendapatan Keluarga

    No full text
    Industri perunggasan selalu menjadi penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa. Usaha ayam buras selain memiliki peran strategis sebagai penyedia bahan pangan hewani juga sebagai penyumbang pendapatan bagi keluarga, namun usaha ini masih digunakan sebagai usaha sampingan. Sifat pengusahaan ternak ini juga akan mempengaruhi pendapatan yang diterima oleh peternak ayam buras. Desa Tegalrejo merupakan salah satu desa dengan jumlah populasi ayam buras tertinggi di Kecamatan Tegalsari. Pendapatan yang diterima oleh peternak meskipun tidak begitu besar, namun peternak ayam buras tetap melakukan budidaya karena usaha ternak ayam buras merupakan bagian dari budaya yang ada pada wilayah tersebut. Penelitiaan mengenai usaha ternak ayam buras ini menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 43 diketahui dengan menggunakan rumus Slovin. Hasil analisis menunjukkan bahwa : (1) rata-rata pendapatan yang diterima oleh peternak ayam buras adalah sebesar Rp. 71.734/periode dan rata – rata nilai R/C ratio adalah 1,15 menyimpulkan bahwa penggunaan biaya yang dikeluarkan dalam melakukan usaha ternak ayam buras adalah efisien nilai R/C ratio lebih besar dari 1. Nilai BEP usaha terletak pada 44 ekor/periode, (2) Kontribusi yang diberikan dari usaha ternak ayam buras adalah sebesar 1,88%, kurangdari 33%. Nilai kontribusi ini termasuk dalam kategori kecil karena jenis dari usaha ternak ayam buras hanya dijadikan sebagai usaha sampingan dengan teknik budidaya yang masih tradisional, (3) Usaha ternak ayam buras berada pada grey area, yaitu bidang kuat terancam. Posisi ini menjelaskan bahwa usaha ternak ayam buras cukup kuat dan memiliki kompetensi untuk mengerjakannya, namun memiliki peluang pasar yang sangat menganca

    KAJIAN PRODUKTIVITAS DAN KONTRIBUSI PENDAPATAN TENAGA KERJA WANITA

    No full text
    Peningkatan produktivitas tenaga kerja merupakan sasaran yang strategis karena peningkatan produktivitas sangat tergantung pada kemampuan tenaga manusia yang memanfaatkannya. Faktor yang mempengaruhi produktivitas karyawan perusahaan dapat digolongkan pada tiga kelompok yaitu menyangkut kualitas dan kemampuan fisik karyawan, sarana pendukung, dan supra sarana Salah satu indikator untuk mengetahui usaha di bidang pertanian dan non pertanian mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga adalah dengan melihat kontribusinya terhadap pendapatan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) tingkat motivasi kerja tenaga kerja wanita (2) produktivitas tenaga kerja (3) hubungan antara motivasi dengan produktivitas tenaga kerja wanita (4) kontribusi pendapatan tenaga kerja terhadap pendapatan rumah tangga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, metode analitik, dan metode korelasional. Metode pengambilan contoh dilakukan metode Proportionate Stratified Random Sampling. Alat analisis yang digunakan adalah (1) metode skoring, (2) produktivitas tenaga kerja, (3) uji-t pada produktivitas menggunakan strata umur tua dan umur muda, (4) korelasi rank spearman (5) analisis presentase kontribusi pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) hasil perhitungan motivasi tenaga kerja menggunakan metode skoring adalah tinggi (2) produktivitas tenaga kerja menggunakan perbandingan UMK (Upah Minimum Kabupaten) adalah rendah (3) produktivitas berdasarkan strata umur antara umur muda dan umur tua secara uji statistik tidak berbeda nyata (4) hubungan motivasi dan produktivitas tenaga kerja secara uji statistik berhubungan secara nyata (5) kontribusi pendapatan tenaga kerja wanita termasuk dalam kategori sedang

    ANALISIS PERILAKU KONSUMEN PRODUK BERAS CERDAS CV. AN-NAHLAH

    No full text
    Konsep ketahanan pangan yang dianut Indonesia dapat dilihat dari Undang-Undang (UU) No.18 Tahun 2012 tentang pangan yang menyebutkan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya. Kondisi ketahanan pangan dapat dicapai dengan beberapa upaya. Upaya yang dilakukan pemerintah terkait dengan ketahanan pangan yaitu penganekaragaman pangan atau diversifikasi pangan.Di Kabupaten Jember berkembang sebuah produk yang berasal dari tepung MOCAF (Modified Cassava Flour). Produk tersebut dinamakan Beras Cerdas. Beras Cerdas yang merupakan produk rekayasa pangan olahan berbasis pangan lokal. Produk Beras Cerdas merupakan produk yang baru dikembangkan. Pengetahuan masyarakat pada produk Beras Cerdas masih minim. Produsen perlu pengetahuan yang baik pada apa yang dikehendaki oleh masyarakat yang merupakan sasaran untuk menjadi konsumen Beras Cerdas. Pada penelitian ini akan dikaji tentang : (1) karakteristik konsumen, (2) proses keputusan pembelian konsumen, (3) faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive Method) di Kabupaten Jember. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif dan metode analitis. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) karakteristik umum konsumen berpendidikan tinggi (60%), berstatus sebagi istri (73%), kategori nuclear family (70%), memiliki pekerjaan sebagai PNS (40%), memiliki pendapatan bulanan tinggi (80%), lokasi tinggal di wilayah kota (90%), dan memiliki motivasi memperoleh kesehatan (57%). (2) Proses keputusan pembelian Beras Cerdas melalui lima tahapan yaitu pada pengenalan masalah konsumen memiliki alasan mengonsumsi Beras Cerdas untuk kesehatan serta penting dikonsumsi. Pada tahap pencarian informasi konsumen memperoleh informasi pertama dari teman/kerabat. Pada tahap evaluasi alternatif, konsumen memperhatikan bentuk, rasa, kandungan, kualitas. Pada tahap keputusan membeli, konsumen membeli Beras Cerdas secara tibatiba/ tergantung situasi dengan membeli lebih dari 1 kg/ bulan, dan membeli kurang dari 4 kali/bulannya. Pada tahap perilaku pasca pembelian, konsumen puas setelah membeli Beras Cerdas walau mengalami kenaikan harga, konsumen tetap membeli Beras Cerdas. (3) Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen Beras Cerdas secara signifikan adalah pendapatan, usia, motivasi dan harga. Faktor lain seperti sumber informasi, menu alternatif, kemasan, serta ketersediaan produk tidak berpengaruh secara signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen Beras Cerdas

    HUBUNGAN PENGUASAAN LAHAN TERHADAP PENDAPATAN

    No full text
    Di Desa Kemiri terjadi fenomena ketimpangan struktur Agraria yang ditunjukkan perubahan secara berlanjut yakni semakin menyempitnya skala usaha tani perkebunan rakyat dan meningkatnya buruh pertanian. Terjadi ketimpangan pemilikan dan penguasaan tanah, dimana para investor memfasilitasi pemilik modal serta menyebabkan kondisi tidak meratanya tanah yang dapat diakses oleh petani untuk berproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pola penguasaan lahan petani kopi di Desa Kemiri Kecamatan Panti, (2) hubungan status penguasaan lahan petani terhadap pendapatan usaha tani kopi di Desa Kemiri Kecamatan Panti, (3) ekonomi politik petani kopi terkait dengan status penguasaan lahan di Desa Kemiri Kecamatan Panti. Pada penelitian yang dilakukan menggunakan sudut pandang kualitatif dalam melihat realitas sosial. Strategi metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Tipe studi kasus yang digunakan adalah studi kasus tunggal terpancang (embeded). yang menempatkan sebuah kasus sebagai fokus dari penelitian dan memiliki unit analisis lebih dari satu. Hasil analisis menunjukkan bahwa : (1) Pola penguasaan lahan yang berada di Desa Kemiri yaitu terdapat dua kelompok pola penguasaan yaitu pola penguasaan lahan milik, dan pola penguasaan lahan bagi hasil (2) Pendapatan petani kopi dengan status penguasaan lahan milik dan status penguasaan bagi hasil sama-sama memiliki hubungan yang positif terhadap pendapatan dimana keduanya dalam keadaan menguntungkan, tetapi rata-rata pendapatan petani penguasaan lahan bagi hasil lebih tinggi dibandingkan dengan petani penguasaan lahan milik (Rp.12.512.422/Ha > Rp.5.501.397/Ha) hal tersebut dikarenakan perbedaan perlakuan penanganan budidaya hingga panen, (3) Pandangan ekonomi politik petani kopi di Desa Kemiri belum sepenuhnya petani kopi di Desa Kemiri berfikir rasional, masih terdapat beberapa petani penguasaan lahan milik yang belum berani terbuka dengan tekhnologi baru dan tetap bertahan dengan cara lama

    Kontestasi, Konflik dan Mekanisme Akses Atas Sumber Daya Agraria (Studi Kasus Reklaiming Hutan Lindung pada Komunitas Petani Kopi Rakyat di Kabupaten Jember)

    No full text
    This study aims to examine mechanism of the parties involved on reclaiming in acquiring, controlling and maintaining the flow of benefits from protected forest protection and its distribution. The method of research was qualitative approach using case study strategy and multi method. Reclaiming of protected forest by community of coffee growers in Sidomulyo has ideological purpose that is related to the reasons of morality, justice, normative and history. It also has a practical purpose that is related to the economic and ecological value of forests. The main actors in the conflict for agrarian resource (protected forests) are community of coffee growers and Perhutani. In addition there are also other actors are indirectly involved. They are private sector (traders, owners of capital and exporters) and government (village and region). The actors have their own interests to protected forest as conflicted resource. Mechanism of the parties in acquiring, controlling and maintaining the flow of benefits from protected forest and its distribution is influenced by the ability to access the technology, capital, markets, knowledge, authority, social identity and social relations.Keywords: Contestastion, Conflict, Access mechanism, and Agrarian resource

    TENURIAL REFORM AS ALTERNATIVE CONFLICT MANAGEMENT AND TO ALLEVIATE POVERTY OF COFFEE SMALLHOLDERS PLANTATION IN RURAL COMMUNITY

    No full text
    International Conference on Agribusiness Marketing (ICAM) Jember, Indonesia, June 25-26, 2012Tenurial reform concerns the terms on which the operational holding is held and worked, and seeks to eliminate those aspects of the tenurial relationship, or the form of operational holdings, that are held to dull incentives, reduce the wherewithal to invest and impede efficiency, and so prevent the emergence of an efficient, dynamic and growing agriculture. This study aims to analyze the dynamics of protected forest management by surrounding community. Overlapping on forest management by Perhutani as the state enterprise for conservation function and by village community as a community Sidomulyo for coffee plantations until now does not cause conflict. This condition is due to the access mechanism and the distribution of benefits among the parties. It can be seen as tenure reform, which was to serve as an alternative conflict management while increasing household incomes and alleviating rural poverty

    Hubungan Kapasitas Produksi dengan Kinerja Usaha Penggilingan Padi di Kabupaten Jember

    No full text
    lndonesia sebagai salah satu negara agraris banyak menyandarkan kebutuhan hidupnya dari hasil di bidang pertanian. Oleh karena itu, pembangunan pertanian merupakan syarat mutlak dalam pembangunan ekonomi nasional. Pengembangan agroindustri sebagai langkah industrialisasi pertanian merupakan pilihan strategi yang tepat. Salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam meningkatkan produksi pangan dan mengembalikan swasembada beras adalah penerapan teknologi alat dan mesin pertanian. Satu dari keputusan-keputusan penting dalam menghadapi pemrosesan beras adalah memilih sistem penggilingan yang sesuai dengan teknologi, ekonomi, dan kondisi fisik dari pasarnya. Sebab besarnya biaya dan SDM tergantung pada keputusan ini. Perhatian ini akan digunakan untuk memastikan bahwa pilihan akhir dari peralatan yang digunakan adalah optimal. Faktor utama dari kelangsungan ekonomi untuk semua usaha penggilingan padi adalah derajat kapasitas penggunaan. Ketika penggilingan padi berkapasitas besar beroperasi dan tingkat output secara signifikan di bawah rata-rata dari kapasitas potensialnya, maka biaya total rata-rata per unit output adalah tinggi. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Jember karena merupakan daerah yang memiliki jumlah usaha penggilingan padi relatif banyak dan juga sebagai salah satu daerah penghasil padi yang cukup besar. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif dan korelasional. Metode yang digunakan untuk menentukan sampel adalah metode "Proportionate Stratified Random Sampling" yaitu sebanyak 30 responden. Untuk mengetahui kapasitas aktual penggilingan padi pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Jember digunakan analisis diskriptif tabulasi yang dinyatakan dalam ton. Penelitian ini juga menggunakan analisis produktivitas untuk mengetahui produktivitas usaha dan tenaga kerja. Selanjutnya untuk melihat perbedaan produktivitas antar strata digunakan uji t-student. Selain itu, dipergunakan analisis SWOT untuk mengetahui faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi kinerja usaha penggilingan padi. Kemudian untuk melihat strategi yang diterapkan usaha penggilingan padi digunakan matrik internal eksternal

    TENURIAL REFORM AS ALTERNATIVE CONFLICT MANAGEMENT AND TO ALLEVIATE POVERTY OF COFFEE SMALLHOLDERS PLANTATION IN RURAL COMMUNITY

    No full text
    Proceedings ICAM (International Conference on Agribusiness Marketing) Jember, Indonesia, June 25-26, 2012Tenurial reform concerns the terms on which the operational holding is held and worked, and seeks to eliminate those aspects of the tenurial relationship, or the form of operational holdings, that are held to dull incentives, reduce the wherewithal to invest and impede efficiency, and so prevent the emergence of an efficient, dynamic and growing agriculture. This study aims to analyze the dynamics of protected forest management by surrounding community. Overlapping on forest management by Perhutani as the state enterprise for conservation function and by village community as a community Sidomulyo for coffee plantations until now does not cause conflict. This condition is due to the access mechanism and the distribution of benefits among the parties. It can be seen as tenure reform, which was to serve as an alternative conflict management while increasing household incomes and alleviating rural poverty

    Stakeholder Response to the Development Strategy of Sugarcane Dry Land Agriculture in East Java

    No full text
    Agriculture and Agricultural Science Procedia 9 ( 2016 ) 469 – 474East Java is one of the centers sugarcane in Indonesia. But, the development of sugarcane plantation area and sugarcane productivity in Java has fluctuated. While, the demand of sugarcane by Sugar Factory was continues to rise. To overcome these problems it is necessary to the development of sugarcane acreage in dry land. East Java is one Province developing it in dryland. In order to the availability of sugarcane in East Java continues and continuous, it is necessary to research involving stakeholders associated with sugarcane. The aim of this research is to analyze the response of stakeholders on the strategy sugarcane agribusiness development in dry land. This research was conducted in three districts of East Java, such as Lamongan District, Bojonegoro District, and Tuban District. There were 14 respondents as key informant from Agricultural Agency, Sugar Cane Farmers Cooperation (KPTR), Sugar Factory (PG) and society at each district. The data collection used techniques such as interviews, observation, and Focus Group Discussion (FGD). Research methods used were descriptive and analytic. The analytical tool used was the stakeholder analysis. The result of research showed that all Agricultural Agency of Regency have a high impact but low interest; Sugar Factory is stakeholder who have an interest and a high impact; all Cane Farmer Cooperatives (KPTR) are stakeholders who have high interest, but the effect is low; Community is a stakeholder who has both little interest and influence on the development of sugar cane farming in dry land
    corecore