64 research outputs found

    pengaruh natural aging terhadap kekerasan pada Al-Si-Mg

    No full text
    ABSTRAK Harianto, Joni. 2017. Pengaruh Natural Aging terhadap Kekerasan pada Paduan Al-Si-Mg. Skripsi, Jurusan Tenik Mesin, Fakultas Tenik, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Drs. Wahono, S.ST, M.Pd., (II) Prof. Dr. Waras, M.Pd. Kata Kunci : perlakuan panas, natrual aging, kekerasan, paduan Al-Si-Mg Aplikasi paduan Al-Si-Mg sangat beragam diantaranya digunakan untuk sparepart kendaraan bermotor dan digunakan untuk paku keling pada pesawat. Perlakuan panas adalah salah satu proses untuk merubah struktur logam dengan cara memanaskan spesimen pada tungku pada suhu tertentu kemudian didingikan.Natural aging adalah proses penuaan yang dilakuan pada paduan aluminium pada keadaan dingin atau mengunakan suhu kamar.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh natural aging terhadap tingkat kekerasan paduan Al-Si-Mg. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen menggunakan analisis statistik korelasi komparatif. Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka penelitian ini berusaha untuk menemukan ada tidaknya pengaruh perlakuan panas natural aging terhadap kekerasan pada paduan Al-Si-Mg. Hasil penelitian nilai kekerasan mengunakan alat uji kekerasan Brinell pada spesimen paduan Al-Si-Mg seri 6061 tanpa perlakuan panas memiliki nilai rata-rata kekerasan sebesar 71,0251 HBN. Spesimen yang telah melalui proses perlakuan panas dengan suhu 550 ºC kemudian diquenhing dengan media air es dengan suhu -10 ºC memiliki rata-rata nilai kekerasan sebesar 37,6709 HBN. Spesimen yang telah melalui proses perlakuan panasnatural aging selama 2 hari memiliki rata-rata nilai kekerasan sebesar 43,36363 HBN.Spesimen yang telah melalui proses perlakuan panas natural aging selama 4 hari memiliki rata-rata nilai kekerasan sebesar 63,6049 HBN.Spesimen yang telah melalui proses perlakuan panasnatural aging selama 6 hari memiliki rata-rata nilai kekerasan sebesar 85,1314 HBN. Dari hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa terdapat perbedaan nilai kekerasan pada permukaan paduan Al-Si-Mg antara sebelum dan setelah melalui proses perlakuan panas dengan variasi waktu natural aging. Sehingga dapat disimpulkan bahwa natural aging berpengaruh terhadap kekerasan pada paduan Al-Si-Mg.

    Evaluasi Jarak Pandang pada Alinemen Vertikal dan Horizontal pada Tikungan Jalan Luar Kota (Studi Kasus Sei Rampah-Tebing Tinggi)

    No full text
    Ruas Sei Rampah-Tebing Tinggi merupakan sistem jaringan jalan yang penting, yang menghubungkan suatu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Untuk itu perencanaan geometrik yang baik meliputi jarak pandang yang aman bagi pengemudi agar dapat dengan aman dan cepat melakukan perjalanan sangat diperlukan guna menghemat biaya operasional kendaraan, waktu perjalanan, dan mengurangi tingkat kecelakaan pada jalan luar kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelayakan jarak padang pada ruas tersebut untuk dijadikan dasar menentukan kelayakan geometrik jalan luar kota. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan pada daerah yang rawan kecelakaan dengan menggunakan theodolite sebagai alat bantu untuk pemetaan kondisi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alinemen vertikal pada seluruh lokasi yang ditinjau di Desa Firdaus Km 56 Kecamatan Sei Rampah dan Kecamatan Sei Bamban Km 71 tidak memenuhi syarat perencanaan geometrik sedangkan pada Alinemen Horizontal untuk lokasi Desa Pon Km 65 Kecamatan Sei Rampah dan Kecamatan Sei Bamban Km 71 pada tikungan pertama memenuhi syarat perencanaan geometrik. Untuk tikungan kedua pada Kecamatan Sei Bamban Km 71 tidak memenuhi syarat perencanaan. Untuk mengantisipasi perencanaan yang kurang baik yang dapat menyebabkan kecelakaan di ruas Sei Rampah-Tebing Tinggi tersebut perlu dibuat rambu pengurangan kecepatan dan untuk dikemudian hari perlu adanya evaluasi perencanaan geometrik untuk mendapatkan kondisi geometrik yang baik dan benar.87 HalamanSkripsi Sarjan

    Studi Pengaruh Perlintasan Sebidang Jalan dengan Rel Kereta Api terhadap Karakteristik Lalu Lintas (Studi Kasus : Perlintasan Sebidang Jalan Sekip dengan Rel Kereta Api)

    No full text
    Perlintasan sebidang jalan dengan rel kereta api merupakan titik potensi terjadinya tundaan lalulintas. Perlintasan kereta api ini berpengaruh pada pemakai jalan seperti polusi udara, kebisingan, kenaikan biaya operasional kendaraan dan waktu perjalanan yang semakin besar. Pada penelitian ini akan mengevaluasi karakteristik lalulintas dan tundaan dan antrian yang terjadi pada saat pintu perlintasan ditutup. Lokasi penelitian adalah perlintasan kereta api jalan Sekip. Jalan Sekip merupakan jalan tipe 4/2 D dengan lebar 4 x 3 m. Jalan rel ini adalah single track dengan dilengkapi pintu pengaman.Pengambilan data dilakukan pada Senin jam 07.00-19.00 WIB dengan interval waktu 15 menit dan kendaraan dikelompokkan menjadi 3 tipe yaitu kendaraan ringan, kendaraan berat dan sepeda motor dan menggunakan nilai ekivalen mobil penumpang berdasarkan MKJI 1997. Hubungan antara volume, kecepatan dan kerapatan didekati dengan tiga model yaitu Greenshields, Greenberg dan Underwood kemudian dipilih yang terbaik sebagai input untuk analisis antrian dan tundaan dengan metode gelombang kejut. Dari ketiga model tersebut diperoleh model terbaik yang lebih mendekati pada kondisi lapangan yakni model Greenshields. Nilai Kecepatan arus bebas, nilai kerapatan macet dan volume maksimum berturut-turut adalah pada lokasi pengamatan 1 arah Jalan Gereja Ūf =19.7260 km/jam, Dj= 319.1909 smp/km dan Vm = 1574.090 smp/jam, untuk arah Jalan Gatot Subroto pada lokasi pengamatan 1 Ūf =23.4578 km/jam, Dj= 612.4752 smp/km dan Vm = 3591.830 smp/jam. Pada lokasi pengamatan 2 arah Jalan Gereja Ūf =14.1956 km/jam, Dj= 657.2037 smp/km dan Vm = 2332.350 smp/jam. Untuk arah Jalan Gatot Subroto lokasi pengamatan 2 Ūf = 20.4114 km/jam, Dj= 381.5215 smp/km dan Vm = 1946.847 smp/jam. Dari perhitungan antrian dan tundaan dengan metode gelombang kejut diperoleh untuk arah kejalan Gereja pada periode penutupan 09.31.25-09.32.24 WIB diperoleh panjang antrian maksimum = 27 m, jumlah kendaraan antri N= 17 smp serta rata-rata tundaan sebesar 37 detik. Dan untuk kejalan Gatot subroto untuk periode penutupan 07.39.12-07.40.10 WIB diperoleh panjang antrian maksimum =105 m, jumlah kendaraan antri N = 33 smp, serta rata-rata tundaan sebesar 48 detik.106 HalamanSkripsi Sarjan

    Pengaruh Gerak U-Turn pada Bukaan Median terhadap Karkteristik Arus Lalu Lintas di Ruas Jalan Kota (Studi Kasus : Jl.Sisingamangaraja Medan).

    No full text
    Bukaan median dengan fasilitas u-turn tidak secara keseluruhan mengatasi masalah konflik, sebab gerak u-turn itu sendiri akan menimbulkan masalah konflik tersendiri dalam bentuk hambatan terhadap arus lalu lintas searah dan juga arus lalu lintas yang berlawanan arah. Salah satu pengaruh ketika melakukan gerak u-turn yaitu terhadap kecepatan kendaraan di mana kendaraan akan melambat atau berhenti. Perlambatan ini akan mempengaruhi arus lalu lintas pada arah yang sama. Pada kendaraan tertentu, untuk melakukan gerak u-turn tidak bisa secara langsung melakukan perputaran dikarenakan kondisi kendaraan yang tidak memiliki radius perputaran yang cukup, sehingga akan menyebabkan kendaraan lain akan terganggu bahkan berhenti. Untuk itulah dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh gerak u-turn pada bukaan median terhadap perubahan kecepatan kendaraan dan tundaan rata-rata lalu lintas. Metode penelitian ini mempelajari tundaan kendaraan searah bagi kendaraan yang tidak akan melakukan u-turn akibat kendaraan yang melakukan u-turn di bukaan median. Lokasi yang diamati pada ruas jalan 6/2 D, yaitu bukaan median Jln. Sisingamangaraja, Kota Medan. Hasil perhitungan waktu tempuh rata-rata kendaraan yang akan melakukan UTurn sangat dipengaruhi oleh jumlah lajur dan arah serta bukaan median, memiliki 6 lajur 2 arah dengan lebar bukaan median lebih dari 8.00 m, untuk kendaraan 12.76 detik dan untuk sepeda motor 8.38 detik.111 HalamanSkripsi Sarjan

    Studi Pengaruh Penyempitan Jalan terhadap Karakteristik Lalu Lintas dengan Membandingkan Model Linier Greenshield, Logaritmik Greenberg dan Eksponensial Underwood (Studi Kasus : Ruas Jalan Letda Sudjono Km 14)

    No full text
    Pertumbuhan lalu lintas di masa yang akan datang tentu akan memerlukan perencanaan dan pengendalian arus lalu lintas pada jaringan jalan sehingga diharapkan mampu melayani arus lalu lintas yang lewat. Salah satu kendala lalu lintas yang terdapat pada ruas jalan adalah penyempitan jalan (bottleneck). Penyempitan jalan adalah suatu bagian jalan dengan kondisi kapasitas lalu lintas sesudahnya lebih kecil dari bagian masuk (sebelumnya). Penyempitan ruas jalan akan menimbulkan hambatan dalam lalulintas, yaitu terjadinya penurunan kecepatan, peningkatan kerapatan dan timbulnya antrian kenderaan. Akan tetapi pengaruh penyempitan jalan tidak berarti sama sekali apabila arus lalu-lintas (demand) lebih kecil dari pada daya tampung atau kapasitas jalan (supply) pada daerah penyempitan sehingga arus lalu lintas dapat terlewatkan dengan mudah tanpa ada hambatan. Dalam menentukan hubungan karakteristik lalu lintas yaitu volume, kecepatan dan kerapatan digunakan tiga model pendekatan yaitu linier Greenshield, logaritmik Greenberg, eksponensial Underwood. Pada kondisi arus lalu lintas dengan kecepatan yang bervariasi, ketiga model tersebut menghasilkan nilai yang cukup baik, akan tetapi pada pengujian statistik dengan menggunakan cara regresi terlihat bahwa model Greenshield memenuhi kriteria yang lebih baik diantara kedua model lainnya. Dari hasil perhitungan diperoleh terdapat perbedaan mendasar antara kecepatan dan kerapatan pada kondisi jalan yang berbeda. Kecepatan kenderaan pada kondisi jalan normal, lebih besar dibandingkan dengan kondisi jalan menyempit. Sebaliknya kerapatan pada kondisi jalan normal lebih kecil daripada kondisi jalan menyempit. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik geometrik jalan, dari kondisi jalan 2 lajur menjadi 1 lajur.70 HalamanSkripsi Sarjan

    Penentuan Prioritas Penanganan Ruas Jalan Nasional Panton Labu/Simpang – Langsa – Batas Sumut

    No full text
    Road as one of the transport infrastructure is basically an important element in the development of business life. The road section of Panton Labu/Simpang - Langsa - Batas SUMUT is one of national roads across the eastern province of Aceh with a segment length are 179 km consisting of 8 segments and included in the category of primary arterial road and is one of the traffic lanes populous and important role for economy. This demanded the organizers to perform optimally handling. The problem is the limited ability of the government in handling the road. The purpose of this study was to analyze the prioritization in handling national road Panton Labu/Intersection – Langsa – SUMUT Border by using AHP (Analytical Hierarchy Process) method. The technical criteria are used as the differentiating factor is the condition of roads, the current traffic of road and handling costs. Where the results of analysis with AHP method compared to the results of Bina Marga’s method. The results of the analysis with AHP to the questionnaire at 6 respondents who are stakeholders including representatives of program planners, representatives of executive and vice-user indicates that the criteria for road conditions is the criterion of the most considered in determine priority road handling that is equal to 56.38 %, the criteria of cost handling 31.55 % and current traffic criteria of roads by 12.03 %. The results of the analysis with AHP method also generates eight order of precedence handling where the road A.M.Ibrahim (Langsa) is the first priority. The result of the comparison with the Bina Marga’s method showed differences priority order of the two methods. Where the roads are the first priority with the method of Bina Marga is a segment Peureulak (km 392) – Batas Kota Langsa. It also shows that the roads are in a position of equal rank or 12.5 % of the total of eight roads ie roads Batas Kota Langsa – Batas Provinsi SUMUT. Ranked seven other roads or 87.5 % of total eight road got random position. From the ranking list building by Analytical Hierarchy Process (AHP) method, there are four roads suffered downgrades and there are three roads has increased after compared with the results of the rankings prioritization by Bina Marga’s method.195 HalamanSkripsi Sarjan

    Studi Pengaruh Penyempitan Jalan terhadap Karakteristik Lalu Lintas dengan Membandingkan Model Linier Greenshield, Logaritmik Greenberg dan Eksponensial Underwood (Studi Kasus : Ruas Jalan Letda Sudjono Km 14)

    No full text
    Pertumbuhan lalu lintas di masa yang akan datang tentu akan memerlukan perencanaan dan pengendalian arus lalu lintas pada jaringan jalan sehingga diharapkan mampu melayani arus lalu lintas yang lewat. Salah satu kendala lalu lintas yang terdapat pada ruas jalan adalah penyempitan jalan (bottleneck). Penyempitan jalan adalah suatu bagian jalan dengan kondisi kapasitas lalu lintas sesudahnya lebih kecil dari bagian masuk (sebelumnya). Penyempitan ruas jalan akan menimbulkan hambatan dalam lalulintas, yaitu terjadinya penurunan kecepatan, peningkatan kerapatan dan timbulnya antrian kenderaan. Akan tetapi pengaruh penyempitan jalan tidak berarti sama sekali apabila arus lalu-lintas (demand) lebih kecil dari pada daya tampung atau kapasitas jalan (supply) pada daerah penyempitan sehingga arus lalu lintas dapat terlewatkan dengan mudah tanpa ada hambatan. Dalam menentukan hubungan karakteristik lalu lintas yaitu volume, kecepatan dan kerapatan digunakan tiga model pendekatan yaitu linier Greenshield, logaritmik Greenberg, eksponensial Underwood. Pada kondisi arus lalu lintas dengan kecepatan yang bervariasi, ketiga model tersebut menghasilkan nilai yang cukup baik, akan tetapi pada pengujian statistik dengan menggunakan cara regresi terlihat bahwa model Greenshield memenuhi kriteria yang lebih baik diantara kedua model lainnya. Dari hasil perhitungan diperoleh terdapat perbedaan mendasar antara kecepatan dan kerapatan pada kondisi jalan yang berbeda. Kecepatan kenderaan pada kondisi jalan normal, lebih besar dibandingkan dengan kondisi jalan menyempit. Sebaliknya kerapatan pada kondisi jalan normal lebih kecil daripada kondisi jalan menyempit. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik geometrik jalan, dari kondisi jalan 2 lajur menjadi 1 lajur.70 HalamanSkripsi Sarjan

    Evaluasi Alinemen Horizontal pada Ruas Jalan Sembahe – Sibolangit

    No full text
    Jalan raya adalah salah satu sarana transportasi yanag paling banyak dipergunakan untuk menunjang perekonomian maupun kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari. Jalan raya berfungsi untuk melewatkan lalu lintas diatasnya dengan cepat, aman dan nyaman. Transportasi darat merupakan sistem trasportasi yang terbesar dan yang paling mendapat perhatian. Hal ini terutama disebabkan oleh aktivitas manusia pada umumnya dilakukan di darat, dimana sistem transportasi darat ini memerlukan prasarana jalan sebagai jalur penghubung sebagai penunjang perekonomian, perkembangan wilayah, perkembangan sosial dan perkembangan kebudayaan. Kemajuan dalam bidang transportasi menyebabkan jarak antara satu daerah dengan daerah lainnya dirasakan menjadi lebih dekat. Selain itu arus barang dari suatu tempat ke tempat lainnya menjadi lebih lancar dan dapat menyebar lebih luas sehingga menunjang pemerataan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Ditinjau dari segi manfaatnya tersebut maka jalan raya sangat memerlukan pengembangan dan pengelolaan yang sungguh-sungguh agar selalu dapat melayani kebutuhan lalu lintas bagi masyarakat yang semakin meningkat.196 HalamanSkripsi Sarjan

    Analisis Kinerja Persimpangan Bersinyal Akibat Perubahan Fase ( Studi Kasus : Jln. Brigjend. Katamso – Jln. Jend. Ah Nasution )

    No full text
    Sejalan dengan pesatnya perkembangan kota serta meningkatnya aktifitas masyarakat di segala bidang merupakan salah satu penyebab tingginya kemacetan pada jalan khususnya pada persimpangan. Kinerja persimpangan menjadi kebutuhan mendesak dalam kaitannya dengan menejemen lalu lintas yang diterapkan. Untuk mengetahui kinerja persimpangan, penulis melakukan evaluasi terhadap pengaturan fase pada persimpangan bersinyal dan melihat penyebabpenyebab terjadinya kemacetan pada persimpangan. Adapun data-data yang didapatkan dari hasil survey di lapangan dievaluasi dengan menggunakan Metode Kapasitas Jalan Indonesia 1997. Hasil dari evaluasi hasil perhitungan dan analisa data menunjukkan persimpangan Jl. Brigjen.Katamso - Jl. Jend. A.H Nasution menghasilkan derajat kejenuhan yang tinggi mencapai 1,25( DS > 0,75 ), dan tingginya tingkat antrian dan tundaan. Setelah didapat hasil dari evaluasi data di lapangan, maka dilakukan analisa lanjut yaitu dengan merubah fase persimpangan Jl.Brigjen.Katamso – Jl.Jend.A.H.Nasution yang menggunakan 4 fase menjadi 2 fase dan 3 fase. 2 Fase ini memberikan derajat kejenuhan yang stabil ( DS < 0,75 ), antrian serta tundaan yang lebih rendah. Untuk persimpangan Jalan Brigjend. Katamso dan Jalan AH. Nasution fase yang lebih baik digunakan adalah dengan menggunakan sistim 2 fase dimana nilai derajat kejenuhannya masih di bawah 0,75 yaitu 0,74 yang nantinya dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di persimpangan. Untuk mengurangi kemacetan, panjang antrian dan tundaan yang terjadi pada persimpangan jalan Brigjend.Katamso – jalan AH. Nasution perlu adanya perubahan dari median jalan dan melakukan pelebaran jalan.103 HalamanSkripsi Sarjan

    Analisis Kinerja Persimpangan Bersinyal Akibat Perubahan Fase ( Studi Kasus : Jln. Brigjend. Katamso – Jln. Jend. Ah Nasution )

    No full text
    Sejalan dengan pesatnya perkembangan kota serta meningkatnya aktifitas masyarakat di segala bidang merupakan salah satu penyebab tingginya kemacetan pada jalan khususnya pada persimpangan. Kinerja persimpangan menjadi kebutuhan mendesak dalam kaitannya dengan menejemen lalu lintas yang diterapkan. Untuk mengetahui kinerja persimpangan, penulis melakukan evaluasi terhadap pengaturan fase pada persimpangan bersinyal dan melihat penyebabpenyebab terjadinya kemacetan pada persimpangan. Adapun data-data yang didapatkan dari hasil survey di lapangan dievaluasi dengan menggunakan Metode Kapasitas Jalan Indonesia 1997. Hasil dari evaluasi hasil perhitungan dan analisa data menunjukkan persimpangan Jl. Brigjen.Katamso - Jl. Jend. A.H Nasution menghasilkan derajat kejenuhan yang tinggi mencapai 1,25( DS > 0,75 ), dan tingginya tingkat antrian dan tundaan. Setelah didapat hasil dari evaluasi data di lapangan, maka dilakukan analisa lanjut yaitu dengan merubah fase persimpangan Jl.Brigjen.Katamso – Jl.Jend.A.H.Nasution yang menggunakan 4 fase menjadi 2 fase dan 3 fase. 2 Fase ini memberikan derajat kejenuhan yang stabil ( DS < 0,75 ), antrian serta tundaan yang lebih rendah. Untuk persimpangan Jalan Brigjend. Katamso dan Jalan AH. Nasution fase yang lebih baik digunakan adalah dengan menggunakan sistim 2 fase dimana nilai derajat kejenuhannya masih di bawah 0,75 yaitu 0,74 yang nantinya dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di persimpangan. Untuk mengurangi kemacetan, panjang antrian dan tundaan yang terjadi pada persimpangan jalan Brigjend.Katamso – jalan AH. Nasution perlu adanya perubahan dari median jalan dan melakukan pelebaran jalan.103 HalamanSkripsi Sarjan
    corecore