1,720,962 research outputs found
Cultural Relativism Ethics and Traditional Idiomatic Of Java
Harry J. Gensler divide ethics lines into several types and one of these types are cultural relativism. This ethics line has similarities in Java ethics genarally. Both of these lines of ethics has the advantages and weaknesses. The advantages are able to tolerate for developing harmonious condition which is reflected into idiomatic, like titi, tata, tentrem.
Whereas the weaknesses are developed appearance (lamis). It means that people accept the difference from other, but not outwardly and by heart. In the social and state life, the harmonious condition must be ideal form of society, but in the assesing something must be done openly and good manners, so will result harmonious condition which is not appearance
TEMA SUPERNATURAL DAN PENGARUHNYA PADA FAKTA CERITA DALAM NOVEL JAWA SERAH KARYA AY. SUHARYONO
WANITA DAN PERSELINGKUHAN DALAM WAYANG KULIT JAWA: KAJIAN PSIKOLOGI WANITA
Penelitian ini hendak menyoroti tentang: (1) bagaimana wujud kepribadian tokoh wanita dalam hubungannya dengan cerita perselingkuhan dalam wayang kulit Jawa, (2) bagaimana sikap batin pengarang terhadap kepribadian wanita yang tercermin dalam cerita perselingkuhan dalam wayang kulit Jawa, (3) aspek psikologis wanita seperti apa yang dapat diteladani bagi kehidupan berkeluarga di era sekarang Penelitian ini merupakan penelitian literer murni dengan subjek penelitian karya-karya sastra wayang purwa. Dalam penelitian ini didapatkan sumber cerita: (1) Lakon Ranjapan, (2) Kisah dewi gangga, dan (3) Cupu Manik Asthagina. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra. Hasil penelitian antara lain ialah bahwa perselingkuhan dalam cerita wayang tidak terlepas dari kepribadian wanita, yang berupa (1) pribadi wanita patuh pada nasib atau takdir, (2) pribadi wanita berpura-pura yang hendak menuruti hawa nafsu, dan mengelabuhi orang lain. FBS, 2008 (PEND. BHS DAERAH
PENINGKATAN PEMBELAJARAN SASTRA ANAK MELALUI MODEL PLAY-LEARNING DAN PERFORMANCE-ART LEARNING
Pelatihan pembelajaran melalui model play-learning dan performance art learning, bertujuan untuk membekali guru SD, khususnya di Kecamatan Pengasih Kulon Progo, agar dalam mengajar materi sastra anak menggunakan metode yang yang lebih efektif, sehingga pembelajar lebih dapat menikmati dan memetik hasil. Pelatihan ini dilaksanakan melalui ceramah teoritis dan praktik micro-teaching, serta contoh pembelajaran di kelas oleh guru yang ditunjuk. Hasil pelatihan ini dapat disimpulkan bahwa peserta pelatihan mengikuti proses pelatihan dengan baik, dengan antusias, dan dapat praktik micro-teaching dengan baik. Guru yang ditunjuk sebagai saampel model di kelas pun berhasil dengan baik. Hal ini ditengarai dengan evaluasi materi dan evaluasi kemanfaatannya. Hal yang menjadi penghambat adalah rasa enggan sebagian guru untuk praktik bermain karena merasa sudah tua, namun pada akhirnya juga dapat mencapai hasil seperti yang diancangkan. Disarankan agar pelatihan ini dapat disebar luaskan di tempat lain
ETIKA NORMATIF DALAM LAKON ANOMAN OBONG SAJIAN KI NARTASABDA
Wayang merupakan tontonan, tatanan dan tuntunan yang hingga saat ini masih
relevan diterapkan pada masyarakat. Lakon Anoman Obong sajian Ki Nartasabda,
merupakan lakon yang secara masif berisi nilai-nilai moral, di sisi yang lain lakon tersebut
disajikan oleh seorang dalang yang sudah diakui kepiawaiannya sebagai dalang yang
sangat berkompeten menyampaikan tontonan, tatanan dan tuntunan. Berdasarkan hal
tersebut lakon Anoman Obong sajian Ki Nartasabda sangat perlu diteliti, terutama dari
perspektif etika, oleh karena itu permasalahan yang ditelitii adalah (1) hakikat struktur
dramatik lakon Anoman Obong sajian Ki Nartasabda, dan (b) etika normatif dalam lakon
Anoman Obong sajian Ki Nartasabda.
Bahan penelitian ini berupa teks semua narasi dalang, dan dialog tokoh-tokoh
dalam lakon. Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah: 1) pengumpulan data,
berupa identifikasi data, reduksi data, display data dalam tabel, 2) klasifikasi data sesuai
dengan permasalahan yang diangkat, 3) analisa data dengan menggunakan metode
hermeneutik dan hereustik, dan 4) menarik simpulan.
Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) struktur dramatic lakon Anoman
Obong sajian Ki Nartasabda adalah : (a) alur dramatic mengikuti tokoh utama Anoman,
mulai dari ditugasi sebagai duta kemudia mendapat banyak rintangan, hingga
keberhasilannya menemui Sinta dan membakar kerajaan Alengka, (b) latar pendukungnya,
yakni berlatar tempat di Gunung Maleawan, di perjalanan Anoman, dan di Negara
Alengka; latar waktu di sekitar waktu Anoman sebagai duta, tidak pernah disebutkan
secara riil, dan latar suasana di sekitar persiapan Anoman sebagai duta yang relative netral,
Anoman mendapat berbagai rintangan dengan suasana sedih dan perang, suasana Sinta
yang bersedih karena disekap Rahwana, dan suasana Alengka yang terbakar, (c)
Penokahannya, sesuai dengan lakon dan tradisinya, tokoh utama yang menonjol adalah
tokoh Anoman. 2) Etika normative yang ditemukan adalah keberanian, tanggung jawab,
persaudaraan, persahabatan, rela dengan kebaikan, tolong-menolong, ketuhanan, tanggap
pada panggilan tugas, menghormati leluhur, hati-hati, serta kasih sayang. Sebagai etika
normative, seyogyanya setiap manusia memiliki tabiat seperti poin-poin tersebut
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
