1,720,966 research outputs found

    KEPEMIMPINAN DAN OPTIMALISASI FUNGSI MASJID

    No full text
    kepemimpinan sebagai pengikat sosial. dan juga karena kemampuan pembina atau pemimpin masjid menghubungkan kondisi Masjid merupakan salah satu institusi keagamaan yang potensial dikembangkan umat Islam di seluruh pelosok tanah air. Masjid memiliki posisi yang sangat penting dalam upaya membentuk, membina mengembangkan nilai-nilai kepribadian islami kepada individu dan umat Untuk difungsikan secara optimal sosial dan kebutuhan masyarakat dengan berbagai kegiatan masjid dan Fungsi masjid yang demikian komplek berbagai kebutuhan umat baik dalam aspek ibadah maupun pembinaan dan pengembangan potensi umat. Semua itu tentu akan dapat dirasakan dan dinikmati sebagaimana diharapkan jika dikelola denga baik. Mengelola masjid berarti mengupayakan optimalisasi fungsi masjid, untuk itu diperlukan adanya pengelola atau pemimpin masjid yang memiliki kemampuan dalam memimpin dan menggerakkan orang untuk menjalankan berbagai aktivitas masji

    IMPLEMENTASI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PADA KEGIATAN DAKWAH

    Full text link
    The essence of national development is to build Indonesian people as a whole and the development of the entire Indonesian community. National development in various aspects of animal life is only the responsibility of the government, but demands the participation of various layers of society based on profession and expertise. Whole human development is carried out synergically both physically and mentally. The development of religious aspects as an integral part of national development is the practice of the precepts of the One Godhead. Thus, religion becomes a moral foundation and ethics in society, nation and state. Understanding and practicing religion correctly are expected to support the realization of Indonesian people who are religious, democratic, independent, physically and spiritually qualified, and fulfilled material-spiritual needs. Development basically involves at least three components, namely development communicators, government or community officials, development messages that contain ideas or development programs, and development communicants, namely the wider community, both at the urban and rural levels. In the missionary activities the da'wah interpreter acts as a development communicator to convey development messages, dynamists, motivators, facilitators through oral preaching, writing, and deeds

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    Karakteristik Ekologi Ekosistem Mangrove di Perairan Estuari Sei Carang Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

    Full text link
    Kawasan Perairan Estuari Sei Carang memiliki ekosistem mangrove yang merupakan habitat penting bagi biota yang ada didalamnya serta memiliki peranan sebagai pelindung kawasan pesisir dari hempasan angin, arus dan ombak dari laut, serta berperan juga sebagai benteng dari pengaruh banjir dari daratan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ekologi ekosistem mangrove di Perairan Estuari Sei Carang Kota Tanjungpinang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2021 yang berlokasi di Perairan Estuari Sei Carang. Lokasi pengamatan ditentukan menggunakan metode survey dengan pemilihan titik sampling menggunakan purposive sampling. Karakteristik ekologi ekosistem mangrove yang diamati yaitu sebaran jenis, kerapatan, persentase tutupan serta parameter perairan meliputi suhu, pH, salinitas, DO, substrat, dan tipe pasang surut. Beberapa jenis mangrove yang dijumpai pada Perairan Estuari Sei Carang diantaranya Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora lamarckii, Bruguiera gymnorrihiza, Bruguiera sexangula, Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, Ceriops tagal, Lumnitzera littorea dan  Avicennia marina Rata-rata kerapatan  serta persentase tutupan  mangrove di Perairan Sei Carang berada pada kategori padat yang menunjukkan bahwa kerapatan  serta persentase tutupan masuk ke dalam kriteria sedang dan hal ini menunjukkan kondisi mangrove masih dalam keadaan baik. Berdasarkan hasil analisis data kerapatan dan persentase tutupan mangrove stasiun 1 memiliki nilai yang paling tinggi dengan nilai kerapatan 4467 ind/Ha dan persentase tutupan sebesar 82,8%.Kawasan Perairan Estuari Sei Carang memiliki ekosistem mangrove yang merupakan habitat penting bagi biota yang ada didalamnya serta memiliki peranan sebagai pelindung kawasan pesisir dari hempasan angin, arus dan ombak dari laut, serta berperan juga sebagai benteng dari pengaruh banjir dari daratan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik ekologi ekosistem mangrove di Perairan Estuari Sei Carang Kota Tanjungpinang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2021 yang berlokasi di Perairan Estuari Sei Carang. Lokasi pengamatan ditentukan menggunakan metode survey dengan pemilihan titik sampling menggunakan purposive sampling. Karakteristik ekologi ekosistem mangrove yang diamati yaitu sebaran jenis, kerapatan, persentase tutupan serta parameter perairan meliputi suhu, pH, salinitas, DO, substrat, dan tipe pasang surut. Beberapa jenis mangrove yang dijumpai pada Perairan Estuari Sei Carang diantaranya Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora lamarckii, Bruguiera gymnorrihiza, Bruguiera sexangula, Sonneratia alba, Xylocarpus granatum, Ceriops tagal, Lumnitzera littorea dan  Avicennia marina Rata-rata kerapatan  serta persentase tutupan  mangrove di Perairan Sei Carang berada pada kategori padat yang menunjukkan bahwa kerapatan  serta persentase tutupan masuk ke dalam kriteria sedang dan hal ini menunjukkan kondisi mangrove masih dalam keadaan baik. Berdasarkan hasil analisis data kerapatan dan persentase tutupan mangrove stasiun 1 memiliki nilai yang paling tinggi dengan nilai kerapatan 4467 ind/Ha dan persentase tutupan sebesar 82,8%

    EKSPLORASI PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN MELALUI KOPERASI AISYIYAH

    Full text link
    Pemberdayaan  ekonomi perempuan melalui koperasi Aisyiyah potensial untuk dikembangkan. Pemberdayaan ekonomi perempuan melalui koperasi menjadi salah satu alternatif usaha yang dapat dilakukan perempuan untuk berperan aktif mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, banyaknya kredit macet menghambat tumbuh dan berkembangnya koperasi perempuan. Akhirnya uang koperasi yang tersisa hanya disimpan dan tidak dimanfaatkan. Selain itu, keterbatasan sumberdaya manusia yang mampu mengelola koperasi juga faktor penyebab tidak aktifnya koperasi. Pendekatan pemberdayaan dapat dilakukan melalui penguatan dengan  memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki masyarakat dalam pemecahan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Menyikapi hal itu, dilaksanakan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui koperasi dengan meningkatan pengetahuan dan ketarampilan penengelola koperasi. Pelatihan pengelolaan koperasi menghasilkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengelola koperasi yang dibekali dengan tata acara pemilihan pengurus, persyaratan untuk dapat dipilih menjadi pengurus, tugas dan wewenang  pengurus, serta pembukuan praktis. Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anggota dalam berkoperasi  mereka telah memiliki pemahaman tentang kewajban dan haknya sebagai anggota
    corecore