1,724,499 research outputs found
Oh Zubaidah
Karya ini bertujuan untuk pengembangan kreativitas ide-ide dan gagasan yang dituangkan melalui gerak-gerak yang menjadi suatu karya tentang fenomena alam dan kehidupan yang bisa dinikmati dan dipelajari, Menciptakan karya tari tari sebagai wadah menuangkan ide gagasan serta mengekspresikan imajinasi kedalam tari dan merangsang para pelaku seni untuk meningkatkan kreatifitas dalam berkesenian. Karya “Oh Zubaidah” ini merupakan sebuah ekspresi diri penata dengan bentuk yang diwujudkan kedalam tiga alur bagian, digarap berdasarkan dari kisah Zubaidah yang ada di daerah Riau. Yang mana Zubaidah merupakan penari kerajaan yang diperintah oleh Raja Datuk Laksamana Perkasa Alim pada masa pembuatan kapal lancang kuning. Karya ini digarap berdasarkan dari kisah percintaan, haru, sedih sampai dengan kematian zubaidah yang dijadikan tumbal dalam peluncuran kapal lancang kuning, dengan mengembangkan beberapa gerak tari melayu yang ada di Riau. Dalam Karya tari “Oh Zubaidah” secara keseluruhan menggambarkan aktivitas didalam maupun diluar Kerajaan yang diawali dengan suatu dengan Zubaidah menjadi penari Kerajaan sampai dengan dendam kematian Zubaidah. Di garapan ini penata memakai gerak-gerak yang mempunyai makna atau arti serta gerak murni yang sudah didistilirisasikan dengan teknik gerak yang disesuaikan dengan tema sehingga berbentuk desain-desain gerak yang memiliki kekuatan-kekuatan yang dapat dijadikan sebagai titik tolak dalam penggarapan, yang paling diutamakan dalam garapan ini adalah estetika gerak, gerak sepenuh jiwa dan artistik
Analisis Struktural Cerita dalam Syair Siti Zubaidah
This research aims to delineate characterizations of main character, setting, plot, mandate, and the theme of the story in the poem Siti Zubaidah. The method used is descriptive method qualitative approach to structural shape. Based on the analysis of data, it can be concluded as follows: 1) The character of the main character in the story in the poem Siti Zubaidah has 11 characters. 2) Background on the story in the poem where Siti Zubaidah there are 17 places. Setting time on the story in verse 10 Siti Zubaidah no time depicted. Social background on the story in the poem Siti Zubaidah is related to the customs, traditions, way of being, and ways of thinking. 3) The flow of the story in the poem is Siti Zubadiah plot forward. 4) Mandate the story in verse 4 Siti Zubaidah no mandate depicted. 5) on the theme in the poem Siti Zubaidah story is romance and struggle
The Effect of Shift Work on Sleep Patterns of Paramedics in Saudi Arabia [Letter]
Tien Zubaidah Health Department, Poltekkes Kemenkes, Banjarmasin, IndonesiaCorrespondence: Tien Zubaidah, Department of Health, Poltekkes Kemenkes, Jl. H. Mistar Cokrokusumo No. 1A Kelurahan Sei Besar Banjarbaru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia, Email [email protected]
Implikatur Percakapan Dalam Naskah Drama Siti Zubaidah
Skripsi ini berjudul “Implikatur Percakapan Dalam Naskah Drama Siti Zubaidah” adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah jenis jenis implikatur percakapan yang terdapat pada naskah drama Siti Zubaidah dan wujud implikatur yang terdapat pada naskah drama Siti Zubaidah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis-jenis implikatur percakapan yang terdapat pada naskah drama Siti Zubaidah dan wujud implikatur yang terdapat pada naskah drama Siti Zubaidah.Teori yang digunakan adalah teori Implikatur, jenis-jenis implikatur, yang dikemukakan oleh Yule (2006) ciri-ciri implikatur, dan wujud implikatur yang dikemukakan oleh Putrayasa (2006).Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif.Data dalam penelitian ini berupa percakapan atau tuturan-tuturan yang mengandung implikatur yang terdapat di dalam naskah drama Siti Zubaidah.Setelah data terkumpul kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis-jenis implikatur dan wujud implikatur dalam bentuk kalimatnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implikatur yang terdapat pada percakapan dalam naskah drama Siti Zubaidah yaitu: implikatur percakapan umum, implikatur percakapan berskala, implikatur percakapan khusus, implikatur konvensional dan wujud implikatur dalam bentuk kalimat pernyataan, kalimat pertanyaan dan kalimat seru dan perintah. Berupa informasi, melaporkan, mengeluh, perintah, meminta, menegaskan, melarang , menyetujui, penolakan, dan sindiran.80 halamanSkripsi Sarjan
Simile sebagai kesantunan berbahasa dalam Syair Siti Zubaidah
Masyarakat Melayu terkenal dengan budaya ketimuran. Masyarakat ini menyampaikan sesuatu makna dengan cara berkias bersesuaian dengan kesantunan mereka dalam berbahasa. Antara cara masyarakat ini menyampaikan makna adalah dengan menggunakan gaya bahasa simile. Oleh itu, kajian ini menggunakan pendekatan semiotik untuk menganalisis gaya bahasa simile dalam Syair Siti Zubaidah. Analisis mendapati bahawa gaya bahasa simile dalam Syair Siti Zubaidah menggunakan perkataan dan tanda yang mempunyai hubungan dengan persekitaran masyarakat ini. Selain itu, ungkapan yang mengandungi gaya bahasa simile dalam Syair Siti Zubaidah merupakan contoh kesantunan dalam berbahasa kerana pemilihan kata yang bersesuaian dengan makna dan keadaan
Syair Siti Zubaidah perang China
Sebagai sebuah syair yang ceritanya ramai diketahui umum terutama kalangan Melayu,adalah juga menjadi harapan kita seniua agar cerita Siti Zubaidah ini tidak akan luput dari ingatan generasi yang akan datang
Analisis ungkapan perbandingan dalam Diwan Abi Tammam dan Syair Siti Zubaidah
Kajian ini dijalankan untuk meneliti ungkapan perbandingan yang digunakan dalam Diwan Abi Tammam dan Syair Siti Zubaidah. Kajian ini turut menganalisis persamaan dan perbezaan ungkapan perbandingan yang terdapat dalam Diwan Abi Tammam dan Syair Siti Zubaidah. Ungkapan perbandingan dalam kajian ini merujuk kepada penggunaan bahasa secara bandingan dengan membandingkan antara dua perkara yang berbeza pada hakikatnya, tetapi mempunyai persamaan yang tertentu. Pendekatan kepustakaan digunakan untuk mendapatkan maklumat berkaitan dengan kajian daripada pelbagai sumber. Pendekatan perbandingan pula digunakan untuk menganalisis persamaan dan perbezaan ungkapan perbandingan yang terdapat dalam Diwan Abi Tammamdan Syair Siti Zubaidah. Terdapat persamaan fungsi antara ungkapan perbandingan dalam Diwan Abi Tammam dengan Syair Siti Zubaidah, tetapi istilah yang digunakan berbeza. Selain itu, pembahagian ungkapan perbandingan dalam Diwan Abi Tammam adalah pelbagai. Walau bagaimanapun, ungkapan perbandingan dalam Syair Siti Zubaidah adalah sebaliknya
EVALUASI PROGRAM PRAKTEK KERJA INDUSTRI PADA KOMPETENSI KEAHLIAN PEMASARAN DI SMK PGRI2 BANDAR LAMPUNG
EVALUASI PROGRAM PRAKTEK KERJA INDUSTRI PADA KOMPETENSI KEAHLIAN PEMASARAN DI SMK PGRI2 BANDAR LAMPUNG
Tesis
Zubaidah
NPM.1786131035
Manajemen Pendidikan Islam
Pps
Universitas Islam Negeri
Raden Intan Lampun
Poster Model Pencemaran Sungai
This poster is a part of Tien Zubaidah Doctoral Dissertation</p
Siti Zubaidah
Audio 7.11: Audio Example 11 in Chapter 7 of book: Margaret Kartomi, ‘Musical Journeys in Sumatra’, Champaign-Urbana: University of Illinois Press, 2012.The “Siti Zubaidah” tale from “One Thousand and One Nights” serves as the basis for one of the plays in the “Abdul (Dul) Muluk” repertoire. “Dul Muluk”, a theatre genre with a Muslim, Middle-Eastern flavour, has spoken dialogue alternating with musical items. All performers are male; and when playing female roles, their voices remain unchanged rather than assuming a higher pitch. Songs are usually accompanied by an all-male “Abdul (Dul) Muluk” ensemble comprising three violins (“biola”), a bass drum (“jidur”), two double-headed drums (“gandang”) and a small gong (“ketawa”). Four excerpts have been extracted here from the many songs that are part of the “Siti Zubaidah” performance. The first is very lively with a Middle-Eastern feel and is the source for the short interludes that are played between changes of mood and scene; the second has a striking resemblance to “Battle Hymn of the Republic” and includes vocals by a soloist then chorus; the third also includes a solo vocalist and has a joyous quality; the fourth is slower and more pensive in mood with the vocal soloist negotiating repeated interjections by other performers. The show was presented by the Sinar Harapan Sandiwara troupe of which Bp Nawani was the leader, and recorded in December 1971.Duration: 4 min. 06 sec. [Excerpt 1: 1 min. 20 sec; Excerpt 2: 0 min. 35 sec; Excerpt 3: 0 min. 50 sec; Excerpt 4: 1 min. 15 sec.
- …
