1,016 research outputs found

    ANALISIS PERFORMANSI TEKNOLOGI XG-PON MENGGUNAKAN SPLITTER

    No full text
    Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kecepatan data maka teknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network) saat ini yang berbasiskan kabel fiber optik sedang dikembangkan menjadi lebih baik, salah satu teknologi yang berkembang saat ini adalah teknologi XG-PON. XG-PON (10-Gigabit-capable Passive Optical Network) merupakan perkembangan teknologi dari GPON. XG-PON diharapkan mampu menyalurkan data transmisi secara lebih efektif dan optimal. XG-PON merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh ITU-T (International Telecommunication Union). XG-PON diharapkan mampu mengakomodasi layanan broadband yang semakin meledak di masa depan untuk melayani kebutuhan pelanggan yang meningkat baik di layanan data , voice , dan television. Pada penelitian ini berbeda dengan peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh research group Institute Teknologi Bandung yang membahas mengenai analisis performansi XGPON menggunakan splitter 1:64. Dalam penelitian ini penulis ingin mengembangkan penelitian dengan cara menganalisa performansi teknologi XG-PON (10-Gigabit-capable Passive Optical Network) pada berbagai jenis rasio splitter optik. Penelitian yang dilakukan di simulasikan menggunakan software simulasi optik untuk mempermudah dalam proses analisa data. Hasil dari penelitian ini menunjukan performansi XG-PON menggunakan splitter 1:2 sampai 1:64 menunjukan jaringan yang layak diimplementasikan untuk transmisi upstream jarak 20 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, splitter 1:2 sampai 1:16 jarak 40 km menggunakan daya sebesar 2 dBm dan daya 4 dBm untuk splitter 1:32. Kemudian jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:4 data upstream jarak 60 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, daya 4 dBm untuk splitter 1:8 dan daya 6 dBm untuk splitter 1:16. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 data upstream pada jarak 80 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, daya 4 dBm untuk splitter 1:4 dan daya 7 dBm untuk splitter 1:8. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk transmisi downstream splitter 1:4 sampai 1:64 dapat menggunakan daya 4 dBm. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:16 downstream jarak 40 km dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm, 5 dBm untuk splitter 1:32 dan 6 dBm 1:64 jarak 40 km. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 sampai 1:8 downstream dapat menggunakan daya sebesar 2 dBm jarak 60 km. Jaringan yang layak diimplementasikan untuk splitter 1:2 downstream menggunakan daya sebesar 4 dBm jarak 80 km. Kata kunci: XG-PON (10-Gigabit-capable Passive Optical Network), splitter, software simulasi optik

    ANALISIS KINERJA TRANSMITTER OPTIK LASER PADA TEKNOLOGI XG-PON

    No full text
    Dengan pesatnya perkembangan kebutuhan masyarakat akan kecepatan data, maka diperlukan kapasitas yang besar juga untuk dapat melayani kebutuhan tersebut maka teknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network) saat ini yang berbasiskan kabel fiber optik sedang dikembangkan menjadi lebih baik, salah satu teknologi yang berkembang saat ini adalah teknologi XG-PON. XG-PON (10-Gigabit-Capable Passive Optical Network) merupakan perkembangan teknologi dari GPON. XG-PON diharapkan mampu menyalurkan data transmisi secara lebih efektif dan optimal. XG-PON merupakan salah satu teknologi yang dikembangkan oleh ITU-T (International Telecommunication Union). Pada sistem komunikasi serat optik sumber cahaya adalah alat yang berfungsi sebagai pengirim (transmiter) sinyal informasi. Jenis transmiter pada sistem komunikasi serat optik ada dua yaitu laser dan LED. Pada penelitian ini membahas mengenai analisis performansi transmitter laser pada teknologi 10-Gigabit-capable Passive Optical Network (XG-PON) dengan menggunakan dua receiver yaitu APD dan PIN. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini antara lain link power budget (LPB), rise time budget (RTB) dan bit error rate (BER) berdasarkan hasil simulasi. Dalam penelitian ini dilakukan dengan disimulasikan menggunakan software simulasi optik untuk mempermudah dalam proses analisis data. Hasil dari penelitian ini adalah daya terima downstream dan upstream mempunyai level daya terima diatas sensitivitas photodetector APD dan PIN. Nilai BER pada upstream dan downstream yang didapat pada photodetector APD dan PIN dengan jarak terjauh 60 km tidak ada nilai BER yang memenuhi batasan nilai yang diinginkan. Dari total 66 pengambilan data pada downstream dan upstream, dapat disimpulkan bahwa APD lebih bagus dari pada PIN. Kata kunci: XG-PON (10-Gigabit-capable Passive Optical Network), transmitter, software simulasi optik

    ANALISIS PERANCANGAN SISTEM (WAVELENGTH DIVISION MULTIPLEXING) WDM-PON PADA TEKNOLOGI XG-PON DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE OPTISYSTEM

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perancangan dari sistem WDM-PON pada teknologi XG-PON dengan menggunakan software optisystem. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Telkom Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta pada bulan Agustus 2016 – Januari 2017 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode rekayasa teknik yaitu merancang dan menganalisis sistem WDM-PON pada teknologi XG-PON dengan menggunakan software optisystem. Teknologi XG-PON merupakan pengembangan dari teknologi G-PON. Perbedaan XG-PON dengan G-PON adalah bitrate nya. Pada XG-PON mencapai 10 Gbps pada sisi downstream dan 2,5 Gbps pada sisi upstream. Pada perancangan penelitian ini memiliki beberapa parameter data yang diambil, antara lain Q factor , Bit Error Rate dan Power Budget. Rancang jaringan WDM-PON pada teknologi XG-PON menggunakan aplikasi optisystem ini sudah melalui tahap simulasi dengan cara mengubah jarak 10 – 50 Km dan mengubah nilai PTX sebesar 2-8 dBm pada aplikasi optisystem. Pada penelitian ini didapatkan hasil perhitungan dan simulasi dari rancangan WDM-PON pada Teknologi XG-PON. Hasil yang didapatkan dari rancangan WDM-PON pada teknologi XG- PON adalah layak dengan memenuhi standard jaringan yang ada dengan Power Link Budget sebesar -27.54dBm. Serta mendapatkan hasil dari penelitian Bit Erorr Rate terhadap jarak dimana semakin dekat jarak maka Bit Erorr Rate akan semakin bagus dan bila semakin jauh jarak maka Bit Erorr Rate akan semakin buruk. This study aims to analyze the design of the WDM-PON system on XG-PON technology using optisystem software. This research was conducted in Telkom Laboratory of Electrical Engineering Faculty of Engineering, State University of Jakarta in August 2016 - January 2017 The method used in this research is engineering method that is designing and analyzing WDM- PON system on XG-PON technology using optisystem software. XG-PON technology is a development of G-PON technology. The difference of XG-PON with G-PON is its bitrate. At XG-PON reach 10 Gbps on the downstream side and 2.5 Gbps on the upstream side. In designing this research has some parameter data taken, among others Q factor, Bit Error Rate and Power Budget. Design the WDM-PON network on XG-PON technology using this optisystem application has gone through the simulation phase by changing the distance of 10 - 50 Km and changing the PTX value of 2-8 dBm in the optisystem application. In this study obtained the calculation and simulation of the design of WDM-PON on XG-PON Technology. The results obtained from WDM-PON design on XG-PON technology are feasible by meeting existing network standards with Power Link Budget of -27.54dBm. And get the results of research Bit Erorr Rate to the distance where the closer the distance then Bit Erorr Rate will be better and if the further distance then Bit Erorr Rate will get worse

    Usulan Perbaikan Kualitas Menggunakan Metode Six Sigma pada Produk Blackstone XG 73 White di PT. Aerrostar Indonesia

    No full text
    PT Aerrostar Indonesia merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi sepatu di Indonesia. Salah satu produk yang sering diproduksi adalah Blackstone XG 73 White. Berdasarkan data historis bulan September hingga November 2021, diperoleh rata-rata persentase cacat perbulan sebesar 8,2% yang melewati batas toleransi perusahaan sebesar 5% sehingga dilakukan usulan perbaikan pada Blackstone XG 73 White. Perbaikan kualitas diperlukan untuk meningkatkan kualitas produk sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Perbaikan kualitas Blackstone XG 73 White menerapkan metode Six Sigma dengan metodologi DMAIC. Tahap define menggunakan SIPOC dan CTQ untuk mengidentifikasi proses dan cacat yang terjadi. Tahap measure dilakukan perhitungan peta c, nilai DPMO sebesar 26135,11 dan tingkat sigma sebesar 3,440 yang berarti berpotensi ditingkatkan mencapai six sigma. Tahap analyze menggunakan Failure Mode Effect Analysis untuk menentukan penyebab terjadinya kegagalan yang potensial berdasarkan RPN, nilai RPN tertinggi pertama sebesar 200 pada jenis kecacatan wrinkle dengan penyebab proses lasting tidak benar. Selanjutnya Fault Tree Analysis untuk mengidentifikasi akar penyebab kegagalan. Diperoleh probabilitas basic event tertinggi sebesar 0,2333 dengan akar penyebab gagalan yaitu tidak ada SOP pemeriksaan. Usulan perbaikan yang dilakukan adalah membuat SOP pemeriksaan proses penjahitan dan training operator. Penelitian ini diharapkan dapat mengurangi persentase produk cacat dan meningkatkan kualitas produk Blackstone XG 73 White

    PENERAPAN METODE SNOWBALL THROWING DALAM MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BERPIKIR SEJARAH SISWA : Suatu studi penelitian tindakan kelas di XG SMAN 14 Bandung

    No full text
    Penelitian ini merupakan studi penelitian tindakan kelas yang difokuskan untuk mengembangkan kemampuan berpikir sejarah siswa. Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini diantaranya adalah kemampuan berpikir siswa yang masih rendah sehingga diperlukan pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir sejarah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mendeskripsikan bagaimana merencanakan penerapan metode Snowball Throwing dalam pembelajaran sejarah dalam upaya mengembangkan pengetahuan siswa di SMAN 14 Bandung kelas XG 2). Memaparkan bagaimana melaksanakan penerapan metode Snowball Thr/owing dalam pembelajaran sejarah dalam upaya mengembangkan pengetahuan siswa di SMAN 14 Bandung kelas XG 3). Mengevaluasi bagaimana siswa dapat mengembangkan pengetahuannya melalui metode Snowball Throwing dalam upaya meningkatkan pengetahuan berpikir sejarah siswa di SMAN 14 Bandung kelas XG 4). Mengkaji bagaimana kendala-kendala yang dihadapi pada saat penerapan metode Snowball Throwing di SMAN 14 Bandung kelas XG. Penelitian ini menggunakan desain Kemmis dan Taggart yang berupa siklus. Siklus yang telah dijalani adalah enam siklus. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan berpikir sejarah siswa. Siklus pertama siswa hanya sampai pada perkembangan berpikir kedua yaitu Historical comprehension., Pada siklus kedua siswa sudah mampu sampai pada berpikir analisis secara merata di semua kelompok. Siklus ketiga menunjukkan perkembangan berpikir sampai pada mampu memformulasikan pertanyaan diluar metode yang digunakan. Adanya kontribusi siswa dalam kegiatan tanya jawab. Siklus keempat siswa mampu mengembangkan kemampuan berpikir sejarah secara sempurna dari kemampuan berpikir kronologis sampai pengambilan keputusan sederhana. Siklus kelima siswa sudah terbiasa dengan metode yang digunakan dan berhasil mencapai kembali semua tahapan kemampuan berpikir sejarah. Siklus keenam siswa berada pada titik jenuh yang menunjukkan tidak adanya perkembangan yang signifikan. Hasil penelitian dan analisa data dapat disimpulkan bahwa siswa mampu mengembangkan kemampuan berpikir sejarahnya dengan menggunakan metode Snowball Throwing. Hal tersebut terlihat dari perkembangan kemampuan bekerjasama siswa yang mempengaruhi kemampuan berpikir dimulai dari yang sederhana menuju pemikiran yang lebih kompleks

    A study of chemical structure in "barkinite" using time-of-flight secondary ion mass spectrometry

    No full text
    The Late Permian coals from south China are unique in their high content of "barkinite" and elemental hydrogen, and typically produce high yields of tar. "Barkinite" has often been identified as suberinite for a long time, but now many Chinese workers have concluded that "barkinite'" is not suberinite, rather it is a distinct maceral. The term "barkinite" was formally certified and named by the State Bureau of Technical Supervision of the People's Republic of China in 1991, 1995 and 1999; however, it has not been recognized as a scientific term by international coal geologists and ICCP, and TSOP have not recognized the term, either. The petrographic characteristics of "barkinite" and suberinite show that the biggest difference between them is in the cell fillings. Therefore, in the paper, a new in situ microprobe mass chemical analytical method, time-of-flight secondary ion mass spectrometry (TOF-SIMS) was first used to study the chemical structure of cell walls and cell fillings of "barkinite". The results indicate that the chemical structures of cell fillings and cell walls are similar to each other, They are all mostly composed of aliphatic compounds (such as alkane and alkene), and followed by aromatic compounds and alkyl aromatics, in addition to minor amounts of heteroatomic compounds (such as alkoxyl and alkylamine). Based on these, we can deduce that the cell cavities of "barkinite" were mainly filled by original lipid, which were derived from cell secretion of "barkinite" itself, But suberinite is defined only as suberinized cell walls in cork tissue, and cell cavities were usually filled by secondary gelification materials (such as corpocollinite), these characteristics are quite different from those of "barkinite". The chemical characteristics of "barkinite" shown in SIMS spectra coincide with those inferred from its petrographic characteristics. The high content of hydrogen. the high tar yields and the high hydrocarbon generation potential of Late Permian coals from south China are attributed to the high aliphatic content of "barkinite". (C) 2001 Elsevier Science BN. All rights reserved.Energy & FuelsGeosciences, MultidisciplinarySCI(E)EI15ARTICLE11-84

    CP asymmetry in (B)over-bar(0) -> K-pi(+) from supersymmetric flavor changing interactions

    No full text
    Recently BABAR and Belle Collaborations have measured direct CP asymmetry A(CP) = -0.114 +/- 0.020 in (B) over bar (0) -> K- pi(+). The experimental value is substantially different from the QCD factorization prediction. We show that supersymmetry flavor changing neutral current interaction via gluonic dipole can explain the difference. CP asymmetries in other B -> K pi decays are predicted to be sizable. Taking this asymmetry as a constraint, we find that the allowed supersymmetry parameter space is considerably reduced compared with constraint from B -> X-s gamma alone. We also find the allowed time-dependent CP asymmetries S-f in (B) over bar (0) -> (K) over bar (0)gamma -> pi K-0(S)gamma and (B) over bar (0) -> phi K-S to be large. These predictions are quite different than those predicted in the standard model and can be tested in the near future.Astronomy & AstrophysicsPhysics, Particles & FieldsSCI(E)0ARTICLE5null7

    Ada-XG-CatBoost: A Combined Forecasting Model for Gross Ecosystem Product (GEP) Prediction

    No full text
    The degradation of the ecosystem and the loss of natural capital have seriously threatened the sustainable development of human society and economy. Currently, most research on Gross Ecosystem Product (GEP) is based on statistical modeling methods, which face challenges such as high modeling difficulty, high costs, and inaccurate quantitative methods. However, machine learning models are characterized by high efficiency, fewer parameters, and higher accuracy. Despite these advantages, their application in GEP research is not widespread, particularly in the area of combined machine learning models. This paper includes both a GEP combination model and an explanatory analysis model. This paper is the first to propose a combined GEP prediction model called Ada-XGBoost-CatBoost (Ada-XG-CatBoost), which integrates the Extreme Gradient Boosting (XGBoost), Categorical Boosting (CatBoost) algorithms, and SHapley Additive exPlanations (SHAP) model. This approach overcomes the limitations of single-model evaluations and aims to address the current issues of inaccurate and incomplete GEP assessments. It provides new guidance and methods for enhancing the value of ecosystem services and achieving regional sustainable development. Based on the actual ecological data of a national city, data preprocessing and feature correlation analysis are carried out using XGBoost and CatBoost algorithms, AdaGrad optimization algorithm, and the Bayesian hyperparameter optimization method. By selecting the 11 factors that predominantly influence GEP, training the model using these selected feature datasets, and optimizing the Bayesian parameters, the error gradient is then updated to adjust the weights, achieving a combination model that minimizes errors. This approach reduces the risk of overfitting in individual models and enhances the predictive accuracy and interpretability of the model. The results indicate that the mean squared error (MSE) of the Ada-XG-CatBoost model is reduced by 65% and 70% compared to the XGBoost and CatBoost, respectively. Additionally, the mean absolute error (MAE) is reduced by 4.1% and 42.6%, respectively. Overall, the Ada-XG-CatBoost combination model has a more accurate and stable predictive performance, providing a more accurate, efficient, and reliable reference for the sustainable development of the ecological industry

    Effects of scopolamine and physostigmine on acquisition of morphine-treated rats in Morris water maze performance

    No full text
    AIM: To investigate effects of morphine on acquisition process of rats a nd interactions of opioid and cholinergic systems by Morris water maze performance.METHODS: Morris water maze was used to measure the latency of rats with drug s treatment to find the covert platform.RESULTS: Chronic morphine administration (10 mg/kg) impaired the acquisition process of rats in Morris water maze task. Appreciable difference was identified with morphine 10 mg/k g group compared with morphine 3 mg/kg group. Co-administration of morphine (10 mg/kg) and scopolamine (3 mg/kg) aggravated acquisition impairment induced by morphine 1 0 mg/kg or scopolamine alone, though scopolamine itself induced no salient changes in acquisition capabilities of rats. In addition, physostigmine (0.1 mg/kg) could appreciably attenuate morphine-induced acquisition impairment.CONCLUSION: Morphine 10 mg/kg evidently impaired acquisition process of rats. There was a close relationship between the acquisition capabilities of morphine-treated rats and the functions of cholinergic system.AIM: To investigate effects of morphine on acquisition process of rats and interactions of opioid and cholinergic systems by Morris water maze performance. METHODS: Morris water maze was used to measure the latency of ruts With drugs treatment to find the covert platform. RESULTS: Chronic morphine administration (10 mg/kg) impaired the acquisition process of rats in Morris water maze task. Appreciable difference was identified With morphine 10 mg/kg group compared with morphine 3 mg/kg group. Co-administration of morphine ( 10 mg/kg) and scopolamine (3 mg/kg) aggravated acquisition impairment induced by morphine 10 mg/kg or scopolamine alone, though scopolamine itself induced no salient changes in acquisition capabilities of rats. In addition, physostigmine (0.1 mg/kg) could appreciably attenuate morphine-induced acquisition impairment. CONCLUSION: Morphine 10 mg/kg evidently impaired acquisition process of rats. There was a close relationship between the acquisition capabilities of morphine-treated rats and the functions of cholinergic system
    corecore