11,369 research outputs found

    Modelling and AC losses of BSCCO conductors with anisotropic and position-dependent Jc

    No full text
    This paper presents results from numerical modelling of BSCCO conductors performed with finite element method software. The AC losses are calculated and compared for conductors of different geometry and aspect ratio––an elliptical tape with anisotropic Jc(B) and a round wire with isotropic Jc(B), in external magnetic field of various angles. The difference in the losses of the wire and the tape is found to be significant and depends on the applied field's magnitude and orientation. Also studied is the effect of the lateral Jc distribution along the width of a 37-filamentary tape. The AC losses in each filament are calculated and compared. Simulations with transport current only, as well as with applied AC perpendicular or parallel fields have been made for a model with constant Jc and models with increasing and decreasing Jc towards the edges of the tape

    Harmonic maps, SU (N) skyrme models and yang-mills theories

    Full text link
    This thesis examines the construction of static solutions of (3+l)-dimensional SU{N) Skyrme models, usual and alternative, and pure massive SU(N) Yang-Mills theories. In particular, the application of harmonic maps from S(^2) into the subspace of fields configuration space M. Here, the harmonic maps are used as an ansatz to factoring out the angular dependence part of the solutions from the field equations. In this thesis, we consider the harmonic maps S(^2) → Gr(n, N), where Gr(n, N) is the Grassmann manifold of n-dimensional planes passing through the origin in C(^N). Using the harmonic map ansatz of S(^2) → Gr(2, N) to study the usual SU(N) Skyrme models, we have found that our approximate solutions have marginally higher energies in comparison to the corresponding results previously obtained using CP(^N-1) as target space M. For exact spherically symmetric solutions, we present arguments which suggest that the only solutions obtained this way are embeddings. For the alternative SU(N) Skyrme models, using the harmonic map ansatz of S(^2) → CP(^N-1), we have found that our results for the energies of the exact spherically symmetric solutions are higher than in the usual models. When considering the pure massive SU(N) Yang-Mills theories, we have shown that by choosing the gauge potential to be of almost pure gauge form, the theories reduce to the usual SU(N) Skyrme models. This observation has suggested to us to consider the harmonic map ansatz of S(^2) → CP(^N-1) previously applied to monopole theories. Using this ansatz, we have constructed some bounded spherically symmetric solutions of the theories having finite energies

    Pembungaan Jeruk Kalamondin Hasil Perbanyakan melalui Somatik Embriogenesis yang Disambung pada Batang Bawah JC

    Full text link
    Fase vegetatif mencakup fase juvenil yang ditandai dengan munculnya percabangan, pertumbuhan duri, serta belum berkembangnya bunga. Karakter ini ditemukan pada periode vegetatif asal biji dan hasil perbanyakan somatik embriogenesis (SE). Tujuan penelitian ialah mengetahui kemampuan berbunga dan berbuah tanaman jeruk Kalamondin hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC setelah 1 tahun ditanam di lapangan. Penelitian pembungaan pada tanaman hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC dilakukan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, pada Bulan Februari 2011-Maret 2012. Tanaman jeruk Kalamondin berasal dari hasil sambungan ex vitro, yaitu batang atas berasal dari embrio kotiledonari dan planlet disambungkan pada batang bawah JC dengan tiga perlakuan, yaitu planlet JC hasil perbanyakan SE yang berumur 4 dan 8 bulan setelah aklimatisasi serta semaian biji umur 8 bulan. Tanaman jeruk Kalamondin hasil sambungan berumur 1 tahun, ditanam di lapangan dan disusun secara RAK dengan tiga ulangan dengan unit percobaaan tiga tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan umur 7 bulan di lapangan, tanaman masih pada fase vegetatif, dengan pertumbuhan tertinggi pada perlakuan KPS yaitu tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada semaian JC. Namun, pada bulan kedelapan setelah tanam, pertanaman menunjukkan fase generatif yang ditandai dengan munculnya organ bunga. Jumlah bunga dan buah tertinggi terdapat pada perlakuan tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada batang bawah JC hasil aklimatisasi. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa hasil perbanyakan jeruk melalui SE, berupa embrio kotiledonari maupun planlet dapat dimanfaatkan sebagai batang atas yang tumbuh dan berkembang dengan normal di lapangan apabila didukung oleh kondisi lingkungan yang optimal

    Pembungaan Jeruk Kalamondin Hasil Perbanyakan Melalui Somatik Embriogenesis yang Disambung pada Batang Bawah JC

    Full text link
    Fase vegetatif mencakup fase juvenil yang ditandai dengan munculnya percabangan, pertumbuhan duri, serta belum berkembangnya bunga. Karakter ini ditemukan pada periode vegetatif asal biji dan hasil perbanyakan somatik embriogenesis (SE). Tujuan penelitian ialah mengetahui kemampuan berbunga dan berbuah tanaman jeruk Kalamondin hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC setelah 1 tahun ditanam di lapangan. Penelitian pembungaan pada tanaman hasil perbanyakan SE yang disambung dengan batang bawah JC dilakukan di Kebun Percobaan Tlekung, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, pada Bulan Februari 2011-Maret 2012. Tanaman jeruk Kalamondin berasal dari hasil sambungan ex vitro, yaitu batang atas berasal dari embrio kotiledonari dan planlet disambungkan pada batang bawah JC dengan tiga perlakuan, yaitu planlet JC hasil perbanyakan SE yang berumur 4 dan 8 bulan setelah aklimatisasi serta semaian biji umur 8 bulan. Tanaman jeruk Kalamondin hasil sambungan berumur 1 tahun, ditanam di lapangan dan disusun secara RAK dengan tiga ulangan dengan unit percobaaan tiga tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampai dengan umur 7 bulan di lapangan, tanaman masih pada fase vegetatif, dengan pertumbuhan tertinggi pada perlakuan KPS yaitu tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada semaian JC. Namun, pada bulan kedelapan setelah tanam, pertanaman menunjukkan fase generatif yang ditandai dengan munculnya organ bunga. Jumlah bunga dan buah tertinggi terdapat pada perlakuan tanaman yang berasal dari planlet Kalamondin yang disambungkan pada batang bawah JC hasil aklimatisasi. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa hasil perbanyakan jeruk melalui SE, berupa embrio kotiledonari maupun planlet dapat dimanfaatkan sebagai batang atas yang tumbuh dan berkembang dengan normal di lapangan apabila didukung oleh kondisi lingkungan yang optimal

    Perancangan Sistem Informasi Pengelola Barang/Inventaris Di Jc Komp

    Full text link
    Inventory information system is a system used to enter inventory data into the database, so that there are no errors in input, output data, and reporting based on the desired data. based on surveys and interviews with jc comp personnel, information was obtained that the existing system in the jc comp warehouse section is still manual. therefore, the system that will be created by the author is the result of a replication of the existing system in the jc comp warehouse section. in addition to the process of input and output of goods, this information system is also equipped with features for creating data reports, input and output of goods, and searching for goods data by item name. with the inventory information system is expected to be useful for the warehouse parts jc comp. By implementing this system in the jc comp warehouse, it is hoped that it can reduce errors that may occur. this system is also expected to further speed up the process of input, output, and report generation, which in turn will help the jc comp warehouseSistem Informasi Persediaan Barang adalah sebuah sistem yang digunakan untuk memasukkan data-data persediaan barang ke dalam database, sehinggga tidak terjadi kesalahan dalam input, output data, dan pembuatan laporan berdasarkan data yang diinginkan. Berdasarkan survey dan wawancara dengan bagian personalia Jc Komp, didapatkan informasi bahwa sistem yang ada dibagian gudang Jc Komp masih manual. Oleh karena itu, sistem yang akan dibuat oleh penulis adalah hasil replikasi dari sistem yang telah ada dibagian gudang Jc Comp. Selain proses input dan output barang, pada sistem informasi ini juga dilengkapi fitur pembuatan laporan data, input, dan output barang, dan pencarian data barang berdasarkan nama barang. Dengan adanya Sistem Informasi persediaan barang ini diharapkan dapat bermanfaat bagi bagian gudang Jc Komp. Dengan diterapkannya sistem ini pada bagian gudang Jc Comp, maka diharapkan dapat mengurangi kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Sistem ini juga diharapkan dapat lebih mempercepat proses input, output, dan pembuatan laporan yang pada akhirnya dapat membantu bagian gudang Jc Komp

    Kedudukan Justice Collabolator (JC) Dalam Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji posisi dan peran Justice Collaborator (JC) dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. JC adalah penjahat yang bekerja sama dengan penegak hukum dalam menyelesaikan suatu kasus. Dalam sejarahnya, JC pertama kali dikenal di Italia, ketika seorang anggota mafia bernama Joseph Valachi bersaksi atas kejahatan yang dilakukan kelompoknya. Negara selanjutnya yang mengikuti implementasi JC adalah Amerika dan Australia. Di Indonesia sendiri, penggunaan JC sudah diatur dalam hukum positif. Mengenai peran dan kedudukan JC ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang dalam perkembangannya telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Kemudian, JC juga diatur dalam Surat Edaran MA Nomor 4 Tahun 2011, Peraturan Bersama Menteri Hukum dan HAM, Jaksa Agung, Kapolri, KPK, dan LPSK tentang Perlindungan Pelapor , Saksi Pelapor, dan Saksi Kolaborasi. Namun, semua undang-undang positif tersebut belum mampu memberikan kejelasan dan kepastian mengenai kedudukan dan peran KU dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Padahal, JC memiliki peran yang sangat penting dalam penyelesaian suatu kasus pidana, salah satu kasus yang saat ini menjadi perhatian di Indonesia yaitu pembunuhan terhadap brigadir yang dilakukan oleh seorang Perwira Tinggi dengan dibantu beberapa anggota Polri lainnya adalah contohnya. peran JC yang sangat besar dalam membuka tabir kegelapan suatu kasus yang bahkan dibarengi dengan terhalangnya keadilan dari para penegak hukum itu sendiri. Dalam penelitian ini akan ditelaah kedudukan dan peranan JC dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Hasil kajian ini akan memberikan beberapa rekomendasi mengenai penguatan posisi dan peran JC dalam sistem peradilan pidana di Indonesi

    Microstructure evolution and theological responses of hard sphere suspensions

    No full text
    In the present study, the microstructural transitions of concentrated 'hard-sphere' suspensions under a simple shear flow were investigated by measuring the shear viscosity and flow-induced dichroism. Monodisperse silica particles of two different sizes, 260 and 545 nm in diameter, were prepared by the so-called modified Stober method. The monodisperse particles were coated with 3-(trimethoxysilyl)propyl methacrylate (MPTS) to enhance the dispersion stability at high particle volume fractions (phi) up to phi = 0.55. The particles were dispersed in a refractive-index matching solvent, tetrahydrofurfuryl alcohol, in which the van der Waals dispersion forces were diminished. The smaller particle suspension exhibited a smooth shear thinning up to phi = 0.55 within our shear rate window, independently of the surface modification with the silane coupling agent MPTS. Meanwhile, for the larger silica particle suspension, the viscosity shear thinned at low shear rates and shear thickened at high shear rates when phi exceeded about 0.5. The surface modification enhanced its dispersion stability and slightly decreased the sheer viscosity. Finally, the flow-induced dichroism from light passed in the flow-gradient direction probed the order-disorder transition effectively for the larger particle suspensions, such as disappearance of hexagonally ordered layered structure and formation of particle clustering. (C) 2001 Published by Elsevier Science Ltd.The authors wish to acknowledge support by KOSEF under Grant No. 1999-1-307-004-3. This work was also supported partly by the Brain Korea 21 project
    corecore