1,720,961 research outputs found
PENGARUH AIR LAUT SEBAGAI KOAGULAN AIR SUMUR GALI DALAM PENURUNAN KEKERUHAN, WARNA, TDS
Sumur gali merupakan sarana air bersih yang banyak digunakan masyarakat, Akan tetapi sumur gali mempunyai resiko pencemaran yang sangat tinggi berupa pengolahan air dilakukan secara konvensional yaitu dengan proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi (Suriawiria, 2005). Koagulan memegang peranan cukup penting dalam pengolahan air bersih yaitu dalam hal menurunkan kekeruhan, total dissoloved solid (TDS) dan total suspended solid (TSS) (Khasanah, 2017). Selain koagulan kimia, koagulan alami yang ada dilingkungan sekitar dapat dijadikan sebagai koagulan, salah satunya adalah air laut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penurunan kekeruhan, warna, dan TDS dengan menggunakan air laut sebagai koagulan pada proses koagulasi-flokulasi air sumur gali dengan variasi dosis 1%, 2%, 3%, dan 4% dari volume air sumur gali” (Khasanah, 2017). Penelitian ini dilakukan di Workshop Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Bengkulu, kemudian sampel hasil penelitian dikirim ke laboraturium BLH Kota Bengkulu untuk dilakukan pemeriksaan kadar kekeruhan, warna dan TDS. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen murni (True Experimental) dengan desain Pretest-Posttest Design. Sampel pada penelitian ini adalah air sumur gali masyarakat Rawa Makmur kota Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar kekeruhan, TDS dan warna mengalami penurunan sebesar air sumur gali sebelum perlakuan dosis koagulan air laut adalah sebesar 1,09 NTU; 45,25 mg/l dan 2,20 PtCo. Kesimpulan Ada perbedaan dosis koagulan 1 %, 2 %, 3 % dan 4% terhadap penurunan kadar Kekeruhan, TDS dan Warna air sumur gali dengan p-value 0,002; 0,003; dan 0,014, Saran bagi masyarakat dapat menggunakan koagulan air laut sebagai koagulan alternatif dalam pengelolaan air bersih secara koagulasi-flokulasi untuk menurunkan parameter kekeruhan, TDS dan Warna air sumur gali
EFEKTIFITAS PUPUK ORGANIK CAIR (POC) CAMPURAN SAMPAH ORGANIK DOMESTIK DAN URIN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG (IPOMOEA AQUATICA FORSK) SISTEM HIDROPONIK RUMAH TANGGA
Upaya mengurangi sampah dapat dilakukan di sumber timbulan.Sebagian sampah non organik dapat dilakukan upaya 3R.Sebagian sampah organik dapat dimanfaatkan kembali menjadi pupuk organik, baik pupuk kompos (pupuk organik padat) dan atau pupuk organik cair.Survey pendahuluan dilakukan pada tanggal 10 Februari 2020 untuk menentukan kriteria sampah domestik dan urine sapi yang akan dijadikan sampel pada penelitian ini. Survey bertujuan untuk mendapatkan sumber timbulan sampah domestik (pasar) dan peternakan sapi yang memungkinkan didapat urinenya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tanaman kangkung memanfaatkan pupuk cair kimia dan pupuk cair organik serta untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan tanaman kangkung yang memanfaatkan pupuk organik cair dan pupuk cair kimia.Jenis penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap faktorial dengan dua perlakuan yaitu mengetahui pengaruh perlakuan kedua faktor (pupuk cair) terhadap pertumbuhan tanaman kangkung.Hasil penelitian diperoleh perlakuan pupuk cair kimia menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman kangkung 7, 21 hari dan saat panen yaitu berturut - turut: 1,04 kali; 5,8 kali dan 9,9 kali, dan penambahan jumlah daun berturut - turut: 0,7 kali; 1,9 kali dan 3,8 kali. Perlakuan pupuk cair organik menghasilkan pertumbuhan tinggi tanaman kangkung 7, 21 hari dan tinggi tanaman saat panen yaitu berturut - turut: 0,4 kali; 3,9 kali dan 6,6 kali, dan penambahan jumlah daun berturut - turut: 0,7 kali; 1,7 kali dan 3,3 kali.. Perlakuan oleh pupuk cair kimia memberikan penambahan lebih tinggi dan penambahan jumlah daun lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan oleh pupuk organik cair
Gambaran Kondisi Fisik Rumah Dan Hubungannya Dengan Resiko Penularan Tbc (Tuberkulosis) Di Kelurahan Kandang Mas Kota Bengkulu Tahun 2024
Introduction: Tuberculosis (TB) is a contagious disease that remains a public health problem in Indonesia, especially in densely populated areas with substandard environmental health conditions.Research Objective: This study aims to describe the physical condition of the homes of TB patients in Kandang Mas Subdistrict, Bengkulu City, in 2024.Materials and Methods: This research uses a descriptive-analytic method with an epidemiological survey approach. Data were collected through direct observation of 28 homes of TB patients, with observed variables including ventilation rate, lighting, humidity, and room temperatureResearch Results: The results showed that the majority of homes did not meet the requirements in terms of ventilation rate (57.1%) and temperature (75%), while lighting (67.9%) and humidity (78.6%) generally met the standards.Conclusion: These findings indicate that inadequate air ventilation and non-ideal room temperature may contribute to an increased risk of TB transmission. Therefore, improving the physical condition of homes is an important step in the effort to prevent and control TB at the household level.
Keywords: Tuberculosis; physical condition of the house; ventilation; temperature; lighting; humidityPendahuluan: Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah padat penduduk dengan kondisi lingkungan yang kurang memenuhi standar kesehatan. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi fisik rumah dengan kejadian Tuberkulosis (TBC) di Kelurahan Kandang Mas Kota Bengkulu tahun 2024.Bahan dan Metode: Data dikumpulkan melalui observasi langsung terhadap 28 rumah penderita TBC menggunakan lembar observasi terstandar. Pengukuran pencahayaan dilakukan dengan lux meter yang telah dikalibrasi, sedangkan suhu dan kelembapan diukur menggunakan thermohygrometer. Variabel yang diamati meliputi laju ventilasi udara, pencahayaan alami, kelembapan, dan suhu ruangan.Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas rumah tidak memenuhi syarat pada aspek laju ventilasi (57,1%) dan suhu (75%), sementara pencahayaan (67,9%) dan kelembapan (78,6%) umumnya memenuhi standar. Kesimpulan: Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh rumah penderita TBC memiliki ventilasi yang tidak memenuhi syarat (57,1%) dan suhu ruangan yang melebihi batas ideal (75%), yang keduanya berpotensi meningkatkan risiko penularan TBC di dalam rumah tangga. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya intervensi kesehatan lingkungan, seperti penambahan luas ventilasi minimal 10% dari luas lantai ruangan, pemanfaatan ventilasi silang alami, serta pengaturan suhu ruangan melalui sirkulasi udara dan pencahayaan alami. Upaya ini dapat diintegrasikan dalam program pemberdayaan masyarakat dan pembinaan rumah sehat oleh Puskesmas Kandang Mas untuk menekan risiko transmisi TBC di tingkat komunita
KARAKTER AIR TANAH DALAM (DEEP WELL) BERDASARKAN SIFAT FISIK DAN KIMIA UNTUK PENDUGAAN SEBARAN INTRUSI AIR LAUT DI KECAMATAN MUARA BANGKAHULU KOTA BENGKULU
Pendahuluan: Sebahagian wilayah pesisir barat (pantai) Kota Bengkulu sebagian terdiri dari lahan rawa yang bergambut dan kondisi airnya berwarna, berbau, berasa dan sebahagian payau. Air payau tersebut tidak memenuhi syarat kualitas digunakan sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari – hari maupun industri. Sehingga, pengamatan kondisi hidrogeologi perlu dilakukan untuk mengendalikan penggunaan air tanah untuk mencegah intrusi air laut dan kelayakan penggunaan deep well (air tanah dalam). Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain studi crossectional. Penelitian dengan pengamatan konduktifitas, pH dan Total Dissolved Solid air tanah dalam menggunakan instrumen untuk menduga intrusi air laut dan zat organik di permukiman Kecamatan Muara Bangkahulu. Sampel air tanah dalam yang diambil sebagai penunjang data intrusi air laut menggunakan air sumur bor milik warga di wilayah penelitian. Hasil dan Pembahasan: Air tanah dalam di lokasi penelitian mengandung nilai pH tertinggi 6.82 dan terendah 5,8 (asam). Nilai TDS tertinggi 650 mg/L dan terendah 277 mg/L. TDS tinggi dan pH. TDS air tanah dalam di wilayah Kecamatan Muara Bangkahulu adalah 506 ppm, melewati standar baku mutu yang diperbolehkan Konduktifitas rata – rata air tanah dalam di wilayah Kecamatan Muara Bangkahulu adalah 136 µmhos/cm. Kesimpulan: Rata – rata pH untuk seluruh wilayah adalah 6.11. TDS rata – rata air tanah dalam di wilayah Kecamatan Muara Bangkahulu adalah 506 ppm dan Konduktifitas rata – rata air tanah dalam di wilayah Kecamatan Muara Bangkahulu adalah 136 µmhos/cm. Hampir semua wilayah layak menjadi lokasi sumur bor, tetapi air yang dihasilkan harus diolah terlebih dahulu untuk menetralkan pH dan menurunkan Total Disolved Solid agar layak dikonsumsi
Efektivitas Karang Jahe (Coral Chip) Dalam Penurunan Amoniak, Suhu, Dan pH Pada Limbah Cair Domestik Dengan Metode Biofilter Anaerob-Aerob dengan Media Karang Jahe
Liquid waste that is not treated before being discharged into water bodies poses a risk to health, to the community and disrupts the environmental ecosystem. In general, domestic liquid waste is divided into two categories: black water and gray water. This study aims to determine the decrease in ammonia levels, temperature, and pH in domestic liquid waste after treatment with the anaerobic-aerobic biofilter method. This type of research is a pure experimental study (True Experiment) with a pretest-posttest design with a control group (pretest-posttest with control group). The pretest was carried out on both experimental groups, and after some time, the post-test was carried out, and the results were known as the effect of the treatment. Using the paired sample T-Test statistical test. The results of the measurements of ammonia, temperature, and pH of domestic liquid waste that have been carried out are then compared with the applicable standards based on the Regulation of the Minister of Environment and Forestry Number 68 of 2016 concerning Domestic Wastewater Quality Standards. The results of the study after treatment with the anaerobic-aerobic biofilter method of coral chip media in domestic liquid waste experienced a decrease in ammonia levels of 92.84% with an average of 0.07 mg / L, p = 0.000. While at a temperature level of 21.7% with an average of 29.9oC, p = 0.020 and at a pH level of 7.8% with an average of 8.3, p = 0.003. From the results of the study it can be concluded that there is a significant difference in the decrease in ammonia levels with a p-value (0.000) <0.005, There is a significant difference in the decrease in pH levels with a p-value (0.003) <0.005, there is no significant difference in the decrease in temperature levels because the p-value (0.020)> 0.005, this is because the temperature value at the time of the pre-test and post-test has an average of 30.30C which means it has met the ammonia level limit requirements. The conclusion of the study is that ginger coral (Coral Chip) in domestic liquid waste can reduce ammonia, temperature and pH levels. The research suggestion is that the results of the study can be used as a reference for further researchers
Keyword : Domestic liquid waste; anaerobic-aerobic biofilter; ammonia; temperature; pHLimbah cair yang tidak diolah sebelum dibuang pada badan air menimbulkan risiko bagi kesehatan, bagi masyarakat dan terganggunnya ekosistem lingkungan. Secara umum limbah cair domestik dibagi menjadi dua kategori : yaitu black water dan grey water. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuinya penurunan kadar amoniak, suhu, dan pH pada limbah cair domestik setelah perlakuan dengan metode biofilter anaerob-aerob. Jenis penelitian ini merupakan penelitian experiment murrni (True Experiment) dengan desain pretest-posttes dengan kelompok kontrol (pretest-posttest with control group). Pretest dilakukan pada kedua kelompok eksperimen, dan setelah beberapa waktu, post-test dilakukkan, dan hasilnya dikenal sebagai pengaruh perlakuan. Dengan menggunakan uji statisctik uji paired sampel T-Tes. Hasil pengukuran amoniak, suhu, dan pH limbah cair domestik yang telah dilakukan selanjutnya dibandingkan dengan standar yang berlaku berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Adapun hasil penelitian setelah perlakuan dengan metode biofilter anaerob-aerob media karang jahe (coral chip) pada limbah cair domestik mengalami penurunan pada kadar amoniak sebesar 92,84% dengan rata-rata 0,07 mg/L, p = 0,000. Sedangkan pada kadar suhu sebesar 21,7% dengan rata-rata 29,9oC, p = 0,020 dan pada kadar pH sebesar 7,8% dengan rata-rata 8,3, p = 0,003. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan penurunan yang signifikan pada kadar amoniak dengan nilai p-value (0,000) < 0,005, Ada perbedaan penurunan yang signifikan pada kadar pH dengan nilai p-value (0,003) < 0,005, tidak ada perbedaan penurunan yang signifikan pada kadar suhu karena nilai p-value (0,020) > 0,005, hal ini dikarenakan nilai suhu pada saat pre-test dan post-test memiliki rata-rata 30,30C yang artinya sudah memenuhi syarat batas kadar amoniak. Kesimpulan penelitian bahwa karang jahe (Coral Chip) pada limbah cair domestic dapat menurunkan kadar amoniak, suhu dan pH. Saran penelitian yaitu hasil penelitian dapat dijadikan bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.
Kata Kunci : Limbah Cair Domestik; biofilter anaerob-aerob; amoniak; suhu; p
ANALISIS KANDUNGAN BAHAN MAKANAN TAMBAHAN BERBAHAYA PADA IKAN ASIN DI KOTA BENGKULU DAN ENGGANO
Ikan asin merupakan produksi bahan ikan segar yang pengelolaannya ditambahkan Bahan Tambahan Makanan (BTM). Kandungan garam pada proses pengawetan ikan asin 15-20%. Kondisi saat ini dengan keterbatasan produk garam maka proses pengolahan ikan asin dengan cara tradisional ditambahkan BTM kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi adanya kandungan BTM berbahaya dan jumlah kadarnya pada proses pengolahan ikan asin yang dijual di Kota Bengkulu dan Pulau Enggano. Jenis penelitian ini diskriptif yaitu melihat kandungan dan kadar bahan makanan tambahan yang digunakan sebagai pengawet pada proses pengolahan ikan asin. Hasil uji kulitatif bahwa ikan asin yang diperdagangkan di Kota Bengkulu dan Pulau Enggano sebanyak 28 jenis ikan asin semua positif formalin. Hasil uji kuantitatif kadar formalin berkisar antara 0,04% - 0,41%. Salah satu alternatif yang bisa digunakan sebagai pengganti formalin berupa penambahan bumbu-bumbu. Dalam bumbu-bumbu tersebut terkandung senyawa bioaktif yang bersifat antibakteri dan antioksidan. Selain memberi rasa yang lebih enak, bumbu-bumbu tersebut juga akan berpengaruh terhadap warna, bau, tekstur, aroma dan daya awet yang dapat memperbaiki ikan asin yang dihasilkan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
