41 research outputs found
THE SPATIAL PATTERNSOF SETTLEMENTPLATEAU OFTHE AMMATOA KAJANG: REFLECTIONOF LOCAL WISDOM
Wiwik WahidahOsman, Shirly Wunas, Mimi Arifin, Ria Wikantar
Kota humanis : intergrasi guna lahan dan trasportasi di wilayah suburban
xvi, 112p. : il.; 21 c
Kota Humanis Integrasi Guna Lahan & Transportasi di Wilayah Suburban
Di dalam buku ini disebutkan bahwa sebagian besar guna lahan perkotaan berfungsi sebagai perumahan permukiman, memberikan pengaruh kuat terhadap bangkitan dan tarikan lalulintas. Membutuhkan teori dan konsep perencanaan kota dan wilayah, untuk mengatasi permasalahan tata ruang dan transportasi, agar dapat mencapai kota humanis. Berbagai bidang ilmu terkait dalam penataan kota humanis, antara lain bidang ilmu Perencanaan Ruang Kota dan Wilayah, khususnya dalam bidang ilmu Perumahan Permukiman dan bidang ilmu terkait seperti Perencanaan Transportasi dan Ilmu lingkungan
Kota humanis: Integrasi guna lahan dan transportasi di wilayah suburban
xvi, 112 hal; 14x21 c
PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN LOKASI PERUMAHAN PRODUKTIF DAN INDUSTRI PENGOLAHAN RUMPUT LAUT BERBASIS KOMUNITAS
Perkembangan rumput laut semakin pesat di Indonesia, termasuk wilayah Sulawesi Selatan. Permasalahan yang timbul, proses pengeringan yang dilakukan di sepanjang pantai, para para/ wadah pengeringan dibangun di sepanjang pantai (kasus Bantaeng, sepanjang 32 km), ??14 km dalam wilayah pusat Kota Bantaeng, rawan kecelakaan lalu lintas dan rawan gelombang dan angin laut. Tujuan pembahasan ini adalah 1)Menganalisis kondisi tapak ditinjau terhadap kesesuaian topografi, geografi dan vegetasi untuk pengembangan perumahan produktif dan industri pengolahan rumput laut di tepian air,\ud
2)Menganalisis kebutuhan prasarana (ditinjau terhadap transportasi, sanitasi dan utilitas ) pada lokasi pengembangan perumahan produktif dan industri pengolahan rumput laut, 3) Menganalisis sistem sosial dan kelembagaan dari komunitas petani nelayan rumput laut terhadap kegiatan produksi, pengolahan dan distribusi, 4)Mengkategorikan prinsip-prinsip pengembangan lokasi perumahan produktif dan industri pengolahan rumput laut di tepian air. Data penelitian ini berasal dari survey, pengamatan langsung di lapangan dan wawancara dengan Petani Nelayan rumput laut dengan teknis sampling acak. Analisis secara deskriptif-kualitatif, dan komparatif terhadap standard dan kebijakan yang terkait. Hasil penelitian ini adalah 1) Lokasi untuk pengembangan perumahan produktif dan industri pengolahan rumput laut di tepian air adalah ruang/lahan datar, tersedia lahan kosong untuk pengembangan secara kelompok dan mempunyai akses langsung ke laut dengan kedalaman air >150cm; 2) Prasarana pendukung adalah akses transportasi darat untuk pengangkutan hasil produksi dan transportasi laut untuk pembenihan, air bersih untuk perumahan dan pencucian rumput laut, drainase untuk jaringan pembuangan air cucian rumput laut dan rumah tangga; 3) Sistem sosial dari komunitas petani nelayan rumput laut adalah berdasarkan kelompok kerja dengan ikatan kekerabatan yang sangat dekat; 4) Prinsip-prinsip Penetapan Lokasi Pengembangan Perumahan produktif dan Industri pengolahan rumput laut di Tepian air adalah dikembangkan secara kelompok, dengan pola perkembangan secara linear ataupun konsentris, Orientasi ventilasi bangunan sesuai arah angin dan orientasi sarana pengikatan benih menghindari matahari langsung dan aliran angin yang kuat, kemudahan akses ke laut, dilengkapi dengan air bersih dan saluran pembuangan air cucian, kegiatan pengolahan rumput laut perlu dilengkapi dengan teknologi energi surya, dikembangkan berdasarkan kelompok kerja yang mempunyai ikatan kekerabatan sangat kuat. Prinsip tersebut dapat diaplikasikan pada dua DAS yaitu Panaikang dan Calendu. Untuk itu disarankan penelitian lanjutan tentang Prototipe Rumah Produktif dan Konstruksi Industri Pengolahan Rumput Laut di tepian air untuk anggaran tahun 2015
Housing and transportation system alignment-based on green concept
Land use and transportation system are the main components of the city space structure formation. Settlements as the biggest land allocation in the region play an important role in the availability of human resources and the largest generation of the city. Various problems arise along with the development of urban residential settlements, generally, occur in middle-scale cities to the larger cities i.e. development of middle-class house to elite-class that formed into gate. That fact was one of the causes of transport system problems, non-integrated in the transport system in housing area cannot be avoided. Therefore, this paper explains: 1) current condition of the house built by the developer (gated house) and the self-help house, 2) transportation systems that support the residential area, and 3) concept which supports housing and transportation system alignment in the context of green concept
SEPEDA SEBAGAI MODA TRANSPORTASI ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN (STUDI KASUS: CBD PANAKUKANG KOTA MAKASSAR)
Salah satu komponen terbesar dari sustainable urban transport dalam Transportation Demand Management (TDM) terfokus kepada promosi dan penggunaan moda-moda transportasi yang ramah lingkungan, seperti transportasi massal, berjalan dan bersepeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek penggunaan sepeda sebagai moda transportasi alternatif ramah lingkungan oleh masyarakat (pegawai/pekerja/karyawan) dan menentukan konsep rencana bersepeda (Bike Plan) di Kawasan Pusat Bisnis (CBD) Panakukang Kota Makassar. Penelitian dilakukan di Kecamatan Rappocini dan Kecamatan Panakukang Kota Makassar. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan kuisioner. Responden yang diambil adalah pegawai/pekerja/karyawan yang dipilih secara acak dan dianalisis dengan menggunakan metode Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prospek penggunaan sepeda sebagai moda transportasi ramah lingkungan oleh masyarakat (pegawai/pekerja/karyawan) di Kawasan Pusat Bisnis (CBD) Panakukang Kota Makassar secara umum sangat baik dan berpotensi untuk dilaksanakan melalui konsep rencana bersepeda (bike plan)
INTEGRATED SPATIAL PLANNING DAN TRASNPORTATION SYSTEM TO REDUCE MOBILITY IN SUBURBAN AREA
Makassar suburban areas have become increasingly widespread and sporadic (urban sprawl), causes automobile dependence, increased traffic on the main road. The discussion purposes: 1)spatial planning with vertical building to the problems of transportation 2)Suburban Society's perception of transportation problems, 3)the concept of integrated spatial planning and friendly transportation. Using field observation data, interviews with 80 respondents who live in suburban vertical housings (Rusun), quantitative analysis of land use generation, descriptive analysis of the public perception data, and spatial analysis to develop the concept of planning. The results show that vertically housings in suburban areas has led the rise of traffic generate on the main road of suburban-urban areas, both on the Eastern or Southern area of Makassar. Because >90% of the population still works and do social/economic activities in urban areas; >60% of the population uses private vehicles. People's perceptions are the expensive transportation cost, traffic congestion, and long travel time. The concept of smart growth which to reduce mobility from suburban area, can be grouped into two characters of planning: 1)transit cluster closer distance to social/economic/industrial and recreation services, preferably at the central node of Daya commercial area, industrial area of Makassar and the surrounding housing, 2)cluster that gave priority to the transit system on the main road corridors (Road of Perintis Kemerdekaan and Sultan Alauddin), namely the concept of park and ride, kiss and bye, especially on the cluster education-housing, or housing-commercial or office-residential function
