1,721,081 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Sintesis Mono-Diasilgliserol (MDAG) Dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) Dengan Metode Gliserolisis Skala Pilot Plant
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang banyak dihasilkan Indonesia, dengan produk olahan utama berupa Crude Palm Oil (CPO). Salah satu produk turunan yang dapat dihasilkan adalah emulsifier mono-diasilgliserol (MDAG). Emulsifier merupakan bahan tambahan pangan untuk membantu terbentuknya campuran yang homogen dari dua atau lebih fase yang tidak tercampur. Proses refining, bleaching, dan deodorization merupakan pengolahan awal yang dilakukan terhadap CPO menjadi Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan baku emulsifier MDAG. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan parameter suhu dan waktu pada proses produksi emulsifier MDAG skala pilot plant dengan metode gliserolisis, serta mengetahui karakteristik produk emulsifier MDAG yang dihasilkan. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini diawali dengan karakterisasi bahan baku RBDPO, produksi emulsifier MDAG skala laboratorium, produksi emulsifier MDAG skala pilot plant dan karakterisasi produk emulsifier MDAG. Proses produksi emulsifier MDAG skala pilot plant menggunakan perbandingan mol RBDPO dan gliserol sebesar 1:2.3 dengan penambahan katalis NaOH 18 N 0.5%, yang dipanaskan selama 180 menit pada suhu 180 oC, menghasilkan produk yang memiliki nilai MAG sebesar 46.02%, nilai DAG sebesar 27.60% dan nilai TAG sebesar 5.83%. Produk samping yang dihasilkan berupa asam lemak bebas sebesar 2.09% dan gliserol bebas 2.23%. Pada suhu reaksi yang lebih tinggi, waktu reaksi untuk mencapai nilai fraksi asilgliserol pada kisaran 46-53% menjadi lebih singkat. Dengan peningkatan suhu reaksi menjadi 190 oC, maka waktu reaksi tidak lebih dari 90 menit, dimana pembentukan MAG telah mencapai nilai maksimum. Penambahan waktu reaksi setelahnya menyebabkan terjadinya reaksi balik dari produk sehingga nilainya menjadi lebih rendah. Fraksi asilgliserol produk emulsifier pada skala pilot plant pada suhu 190 oC tersebut sebesar 52.86% untuk MAG, 20.54% untuk DAG dan 3.59% untuk TAG. Peningkatan suhu tersebut menyebabkan perubahan nilai asam lemak dan gliserol bebas meskipun masih memenuhi standar yang ditetapkan
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
Kapasitas Antioksidan, Anti Lipase, dan Anti Kolesterol Esterase dari Bubuk Sari Buah Citrus maxima kultivar Nambangan
Pamelo (Citrus maxima) kultivar Nambangan dibudidayakan di daerah Magetan, Jawa Timur. Kandungan flavonoid utama pada pamelo adalah neohesperidin, hesperidin, flavon, dan narirutin. Dikarenakan kandungan polifenol, flavonoid, dan vitamin C, maka pamelo memiliki nutrisi dan kaya akan zat antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa intervensi dengan sari buah pamelo menurunkan kadar LDL, trigliserida, dan kolesterol tikus hiperkolesterolemia. Meskipun memiliki kandungan fitokimia tinggi dan bermanfaat bagi kesehatan, konsumsi pamelo masih tergolong rendah karena rasanya yang pahit dan asam. Pamelo memiliki kandungan air yang tinggi dan buah musiman dengan masa simpan pendek pada suhu ruang. Produk berbentuk bubuk dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tersebut, sehingga mikroenkapsulasi dengan pengeringan semprot dapat menjadi alternatif proses yang digunakan.
Bubuk buah lebih praktis dan lebih stabil untuk ditawarkan ke konsumen. Namun, proses yang digunakan untuk mendapatkan bubuk harus memperhatikan kandungan bioaktif pada buah dan menghasilkan karakteristik fisikokimia yang baik. Bubuk sari buah pamelo (C.maxima) kultivar Nambangan diperoleh dari pengeringan semprot dengan penambahan bahan penyalut (maltodekstrin/MD DE12 dan gum arab/GA) dari empat perlakuan (10:0, 9:1, 8:2, dan 7:3 MD/GA) sebesar 15% w/v bahan penyalut/sari buah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi bahan penyalut maltodekstrin dan gum arab yang mampu menghasilkan bubuk sari buah C.maxima kultivar Nambangan dengan karakteristik fisikokimiawi yang baik, menguji kapasitas antioksidan, total fenolik, flavonoid, dan vitamin C bubuk dan menguji potensi hipolipidemik secara in vitro melalui pengukuran kapasitas inhibisi lipase pankreatik dan inhibisi kolesterol esterase pankreatik dari bubuk sari buah yang dihasilkan. .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi GA yang ditambahkan, rendemen menurun. Penampakan morfologi dari hasil uji SEM menunjukkan bahwa keempat perlakuan mampu mengenkapsulasi material aktif. Bubuk yang dihasilkan dari keempat perlakuan berukuran nanometer. Ekstrak metanol air dari bubuk 7:3 MD/GA memiliki kapasitas antioksidan, kandungan total fenolik, total flavonoid dan vitamin C tertinggi dibandingkan bubuk perlakuan lainnya. Nilai IC50 ekstrak bubuk sari buah jeruk pamelo berkisar antara IC50 211.42 – 308.40 μg/mL terhadap lipase pankreatik dan 934.19 – 1352.05 μg/mL terhadap kolesterol esterase dimana IC50 terendah dihasilkan oleh ekstrak sari buah jeruk pamelo dari bubuk 7:3 MD/GA. Ekstrak metanol air (80:20) dari bubuk sari buah jeruk pamelo memiliki kemampuan lebih tinggi dalam menghambat lipase pankreatik dibanding menghambat kolesterol esterase
Pemenuhan Persyaratan Label Produk Pangan yang Dijual Secara Online Terhadap Peraturan Label Pangan
Produk pangan olahan yang dikemas saat ini tidak hanya dipasarkan secara konvensional tetapi juga secara online. Kemudahan untuk menjual dan membeli produk dengan cara online mengakibatkan makin beragamnya jenis produk pangan yang dijual. Seperti halnya produk pangan yang dijual secara konvensional, produk pangan yang dijual secara online harus memenuhi persyaratan pelabelan pangan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemenuhan label produk pangan olahan dalam kemasan yang dijual secara online, memberikan rekomendasi peraturan kepada pemerintah dan e-commerce serta mengetahui tingkat kepedulian konsumen yang sering membeli produk pangan secara online.
Evaluasi terhadap label kemasan produk pangan kering P-IRT yang dijual di Tokopedia (n=412) menunjukkan bahwa 23% telah teregistrasi P-IRT. Pada saat dikelompokkan menurut kategori pangan sesuai dengan Peraturan Kepala BPOM RI Nomor 21 Tahun 2016, sebanyak 48% masuk dalam kategori makanan ringan (kategori 15.0). Hasil evaluasi terhadap kesesuaian label terhadap ketentuan dalam UU No. 18 Tahun 2012 menunjukkan bahwa mayoritas produk kering telah memenuhi unsur label. Pemenuhan tertinggi adalah pada pencantuman nama produk (57%) dan yang terendah adalah pada kode produksi (10%). Hasil evaluasi kesesuaian label sampel produk pangan kering berdasarkan Peraturan Kepala BPOM RI Nomor 12 Tahun 2016 dan No. HK 03.1.23.04.12.2205 tahun 2012, menunjukkan bahwa kesesuaiannya masih rendah. Kesesuaian yang paling tinggi dipenuhi pada nama produk (41%), sedangkan hasil terendah adalah pada kesesuaian pencantuman nama dan alamat produsen (8%).
Hasil survei terhadap 56 responden menunjukkan bahwa responden lebih memperhatikan deskripsi produk di dalam laman Tokopedia, dan bukan memperhatian label kemasan. Konsumen juga selalu (54%) dan kadang-kadang (41%) membaca label. Hanya terdapat 5% responden yang tidak pernah membaca label, karena sudah merasa yakin terhadap mutu dan keamanan produk yang dibelinya. Responden yang merasa perlu membaca label, ingin mendapatkan informasi apakah produk tersebut tidak mengandung bahan berbahaya dan bahan yang dilarang (62%). Dibandingkan kriteria lainnya, informasi yang paling banyak diperhatikan responden adalah keterangan halal. Rekomendasi peraturan diajukan bagi pemerintah dan e-commerce dengan melakukan menerapkan penyaringan kesesuaian label dan kategori pangan sesuai dengan regulasi. Selanjutnya adalah melakukan pembinaan P-IRT meliputi dukungan dari pihak terkait dan pemerintah dalam melakukan pembinaan, edukasi dan monitoring terhadap P-IRT
- …
