12 research outputs found

    Representasi Nilai-nilai Karakter dalam Buku Teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Terbitan Erlangga

    No full text
    ABSTRAK:Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana buku teks Bahasa Indonesia kelas VII Terbitan Erlangga merepresentasikan nilai karakter sesuai Kurikulum 2013 yaitu: (1)religius (2)jujur (3)disiplin (4)tanggungjawab (5)santun (6)peduli (7)percayadiri. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ialah teks di dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII Terbitan Erlangga cetakan ke-17. Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil penelitian berupa (1) nilai religius di dalam buku direpresentasikan melalui pemilihan tema, pengajaran Kompetensi Dasar, kolom pengembangan karakter, dan bahasa dalam teks (2) nilai jujur di dalam buku direpresentasikan melalui pengajaran Kompetensi Dasar, penugasan/aktivitas, kolom pengembangan karakter, dan bahasa dalam teks (3) nilai jujur dalam buku direpresentasikan melalui pemilihan tema, pengajaran Kompetensi Dasar, penugasan/aktivitas, kolom pengembangan karakter, dan bahasa dalam teks (4) nilai tanggung jawab dalam buku direpresentasikan melalui pengajaran Kompetensi Dasar, kolom pengembangan karakter, dan bahasa dalam teks (5) nilai peduli dalam buku direpresentasikan melalui pemilihan tema, pengajaran kompetensi, penugasan/aktivitas, kolom pengembangan karakter, dan bahasa dalam teks (6) nilai santun dalam buku direpresentasikan melalui pengajaran Kompetensi Dasar, penugasan/aktivitas, kolom pengembangan karakter, dan bahasa dalam teks, dan (7) nilai percaya diri di dalam buku direpresentasikan melalui pengajaran kompetensi dasar, penugasan/aktivitas, kolom pengembangan karakter, dan bahasa dalam teks

    Promotion Strategy for the Film Gatotkaca by Hanung Bramantyo Using the AISAS Approach

    Get PDF
    Superhero-themed films are currently prevalent in the international film market. Satria Dewa Studio released Gatotkaca as the opening film for its franchise universe. This type of research is descriptive qualitative, with observations to analyze the promotional strategy for the Gatotkaca film using the attention, interest, search, action, and share (AISAS) marketing model. The results of this research are that promotional strategies carried out using the AISAS approach model can increase public awareness of Gatotkaca figures. The film Gatotkaca was promoted in conjunction with the branding process to complement each other and increase ticket sales for the film Gatotkaca. The branding process was carried out using the identity of the Gatotkaca character, namely the star symbol and gold color applied to the film title logo and also the costume design of the Gatotkaca character; it could increase public awareness, ticket sales and Gatotkaca film merchandise

    INTEGRASI NILAI-NILAI TOLERANSI DALAM PENANAMAN LITERASI DIGITAL DI LINGKUNGAN KELUARGA UNTUK MEWUJUDKAN KEAMANAN NASIONAL

    Get PDF
    Perubahan gaya hidup masyarakat memasuki era digital memerlukan peningkatan kemampuan literasi digital, salah satunya melalui Gerakan Literasi Nasional. Ranah keluarga menjadi strategis di dalam hal ini karena nilai-nilai karakter yang positif mudah dan harus diajarkan sejak dini kepada anak-anak di lingkungan keluarga, khususnya literasi dan toleransi. Tulisan ini hendak menganalisis pelaksanaan penanaman literasi digital di keluarga, menganalisis representasi toleransi di dalam literasi digital, dan menganalisis integrasi nilai-nilai toleransi dalam penanaman literasi digital di lingkungan keluarga untuk mewujudkan keamanan nasional. Kajian dilakukan dengan metode kualitatif studi kasus dan menggunakan wawancara, dokumentasi, dan observasi untuk mengumpulkan data. Ditemukan bahwa (1)pelaksanaan penanaman literasi digital di lingkungan keluarga oleh Badan Bahasa masih belum maksimal (2)ditemukan representasi nilai-nilai toleransi di dalam dasar-dasar pendidikan literasi digital (3)orang tua memiliki peran penting dalam penanaman literasi dan toleransi, namun potensi ini belum dimanfaatkan. Peran orang tua sebagai fasilitator penting dalam integrasi nilai-nilai toleransi dalam literasi digital di lingkungan keluarga mulai tingkat paling sederhana untuk membantu mewujudkan keamanan nasional. Untuk itu, Badan Bahasa perlu mengadakan kolaborasi dan koordinasi dengan pihak lain secara lebih baik untuk meningkatkan mutu penanaman literasi digital; para peneliti perlu lebih meneliti mengenai pemanfaatan literasi dan literasi digital dalam mengajarkan nilai-nilai pendidikan perdamaian dalam mewujudkan keamanan nasional; dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan perlu lebih menggalakkan upaya-upaya dalam mendidik orang tua untuk meningkatkan kualitas pendampingan terhadap anak-anaknya di era digital

    ANALISIS REPRESENTASI BUDAYA JEPANG ERA PERANG DUNIA HINGGA PASCA-PERANG DALAM WORLDBUILDING GHIBLI

    Get PDF
    ABSTRAK Animasi merupakan salah satu media yang cocok untuk dijadikan tempat untuk melestarikan objek kebudayaan dan studio Ghibli sering melakukan hal tersebut dalam setiap filmnya. Oleh karena itu, penulis mencari tahu mengenai unsur-unsur apa saja yang diambil dari dunia nyata, serta contoh objek dan asal-usulnya.  Penulis mengambil tiga animasi Ghibli periode 80-an yang dijadikan objek analisis kali ini yaitu, My Neighbor Totoro dan Grave of Fireflies. Dengan metode kualitatif yang bersifat deskriptif serta pengumpulan data melalui teknik observasi komparatif, hasil dari penelitian ini banyak menyertakan perbandingan gambar mengenai objek di film, dengan objek referensi di dunia nyata. Setelah analisa dilakukan, dapat diketahui bahwa dalam proses pembuatan worldbuilding, unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari masa dan periode tertentu dapat dijadikan sumber referensi agar dunia fiksi dapat terasa lebih nyata.ABSTRACT Animation is one of the media that is suitable to be used as a place to preserve cultural objects and Ghibli Studio often does this in each of their movies. Therefore, the author seeks to find out what elements are taken from the real world, as well as examples of objects and their origins. The author takes three Ghibli animations from the 80s as the objects of analysis this time, namely, My Neighbour Totoro and Grave of Fireflies. By using descriptive qualitative method and data collection through comparative observation techniques, the result of this study includes many comparisons of object’s images in the movie, with reference objects in the real world. After the analysis was carried out in the process of creating worldbuilding, cultural elements originating from certain times and periods can be used as sources of reference so that the fictional world can feel more real

    Legal Dynamics in the Juvenile Criminal Justice System in Indonesia

    Get PDF
    Abstract. The purpose of this study is to examine and analyze legal policies in the juvenile criminal justice system in Indonesia. In this writing, the author uses a normative legal method with research specifications in the form of descriptive analysis. The concrete form of the Government in providing protection to everyone, especially children as regulated in Article 28D paragraph (1) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, namely "Everyone has the right to recognition, guarantee, protection, and certainty of fair law and equal treatment before the law" and Article 28B paragraph (2) of the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia, namely "Every child has the right to survival, growth, and development and has the right to protection from violence and discrimination". Criminalization of children at a very young age, because the legal position of children when dealing with the law is not yet optimal, and their legal position does not support, for example the age limit for criminal responsibility of children (the age of crime responsibility) So that the Constitutional Court (MK) held a judicial review hearing on Law Number 3 of 1997 concerning Juvenile Courts. Before the birth of Law Number 3 of 1997 concerning Juvenile Courts, the rules regarding the trial process for children were still regulated in several separate regulations from the Supreme Court. Some of these regulations require special trials for children that are closed to the public, this is stated in SEMA Number 3 of 1959
    corecore