43 research outputs found
EFISIENSI PENGGUNAAN AIR DENGAN IRIGASI TETES UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA
Irigasi Tetes Sederhana adalah penyiraman tanaman otomatis dan murah. Irigasi Tetes Sederhana merupakan teknik penyiraman tanaman yang menggunakan sebuah tandon air atau tempat penampungan air bisa berupa botol bekas yang diberi saluran untuk menetesi media tanam sedikit demi sedikit secara konstan, sehingga media tanam tetap tercukupi kebutuhan airnya, tanpa menjadi tergenang dan ketersediaan air tercukupi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efisiensi air dengan irigasi tetes terhadap pertumbuhan tanaman selada. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 3 perlakuan yaitu 3 kali ulangan sehingga diperoleh 12 unit percobaan pertama P1= pemberian air 300ml, kedua P2= pemberian air 200ml, dan P3= pemberian air 100ml dan dianalisis menggunakan analisis keragaman (Anova) pada taraf nyata 5% dan apabila terdapat perlakuan yang berpengaruh secara nyata maka dilakukan uji dengan menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian irigasi tetes tidak berpengaruh nyata pada parameter ketinggian tanaman, berat berangkas kering, diameter batang, tekstur tanah tetapi berbeda nyata pada berat berangkas basah dan untuk Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan P2 dimana menghasilkan berat berangkasan basah tertinggi sebesar 93 gr
TEKNIK PENGELOLAAN GREENHOUSE DI KELURAHAN JEMPONG BARU
Kelurahan Jempong Baru Kecamatan Sekarbela merupakan memiliki luas lahan sebesar 580 Ha. Dari luas tersebut 67,83% (393,46 Ha) merupakan lahan pertanian produktif. Namun pemanfaatannya belum optimal. Dari total penduduk sebesar 17.034 orang di Jempong Baru 25,34 % (4.318 Orang) tidak memiliki pekerjaan. Tingginya jumlah penduduk bekerja di sektor non pertanian mempengaruhi kesempatan untuk mengerjakan lahan pertanian yang dimiliki. Sehingga banyak lahan pertanian yang tidak tergarap maksimal. Pembangunan greenhouse sederhana dilahan pekarangan memungkinkan dilakukan, mengingat tidak membutuhkan biaya banyak dan waktu yang singkat. Tetapi tidak semua penduduk mengetahui cara pengelolaan greenhouse yang baik. Pengabdian pada masyarakat yang dilakukan di Kelurahan Jempong Baru melatih dan mendampingi cara mengelola greenhouse secara efektif dan efisien. Usaha intensifikasi greenhouse dapat dilakukan dengan memanfaatkan setiap jengkal ruangan yang tersedia untuk kegiatan produktif dengan produk untuk membantu memenuhi gizi dan menjaga kesehatan. Adapun usaha yang dilakukan dengan cara bercocok tanam sayuran dan menanam tanaman obat keluarga (TOGA). Abstract: Jempong Baru Village, Sekarbela District is a land area of 580 ha. Of this area 67.83% (393.46 ha) is productive agricultural land. But the utilization is not optimal. Of the total population of 17,034 people in Jempong Baru, 25.34% (4,318 people) do not have jobs The high number of residents working in the non-agricultural sector influences the opportunity to work on agricultural land owned. So that a lot of agricultural land is not maximized. The construction of a simple greenhouse in the yard area is possible, considering that it does not require a lot of money and a short time. But not all residents know how to manage a good greenhouse. Community service done in Jempong Baru Village trains and accompanies how to manage greenhouses effectively and efficiently. Efforts to intensify greenhouses can be done by utilizing every inch of space available for productive activities with products to help meet nutrition and maintain health. The business is done by planting vegetables and Growing Family Medicinal Plants (GFMP)
EVALUASI SISTEM IRIGASI TERSIER PADA DAERAH IRIGASI MENINTING DI DESA JATISELA KECAMATAN GUNUNG SARI KABUPATEN LOMBOK BARAT
Penelitian yang berjudul “Evaluasi Sistem Irigasi Tersier pada Daerah Irigasi Meninting Di Desa Jatisela Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat” bertujuan untuk mengetahui dampak teknis, ekonomi, dan sosial dari jaringan irigasi serta mengetahui kondisi jaringan irigasi tersier di Desa Jatisela Kecamatan Gunung Sari Kabupaten Lombok Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif dengan metode survey dengan melakukan pengamatan langsung. Penelitian dilaksankan pada bulan Agustus - Nopember 2015. Penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif ini dilakukan di lapangan dengan mengamati secara langsung proses Evaluasi Sistem irigasi dan drainase pada daerah irigasi meninting yang selanjutnya hasilnya dianalisis secara tabulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan Secara teknis dilokasi penelitian tidak ada bangunan pembagi air irigasi, debit air sangat rendah sebesar 0,101m/s, dan terdapat sistem distirbusi air yang dilakukan oleh P3A. Hasil lain, dampak ekonomi sebesar 57% responden mengakui memperoleh keuntungan dengan keberadaan irigasi. Keuntungan yang di peroleh mencapai 11 juta dalam setiap panen. Selanjutnya secara sosial terdapat peran petani dalam memelihara saluran, kelembagaan petani sangat kuat, dan tingkat partisipasi meningkat. Akhirnya, ditemukan distribusi air yang tidak merata disebabkan karena adanya jaringan irigasi yang rusak dan pemeliharaan yang kurang baik
PERANAN FITOREMEDIASI PADA LAHAN BEKAS TAMBANG EMAS DI KECAMATAN JONGGAT KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan Amonium thiosulfat dan Sodium thiosulfat sebagai bahan pengkhelat pada proses Fitoremediasi dengan menggunakan tanaman Paspalum conjugatum (Rumput Paitan). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang dilakukan di lapangan pada bulan Mei sampai Juli 2017. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan variasi perlakuan: PAT1 = pemberian Amonium thiosulfat sebanyak 1 gr, PAT2 = pemberian Amonium thiosulfat sebanyak 2 gr, PST1 = pemberian Sodium thiosulfat sebanyak 1 gr, PST2 = pemberia Sodium thiosulfat sebanyak 2 gr. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 12 unit percobaan. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi konsentrasi Hg pada tanaman, berat berangkasan, dan tinggi tanaman. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan standar deviasi mean. Bahan pengkhelat Amonium thiosulfat lebih tinggi mengikat Hg di bandingkan dengan Sodium thiosulfat. Konsentrasi kadar total Hg tertinggi terdapat pada perlakuan Amonium thiosulfat dosis 2 gr/15 liter sebesar 1137,87 ppm. Semakin tinggi konsentrasi Hg pada tanah mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat.Abstract: Ammonium thiosulfate and Sodium thiosulfate as chelating material in the Phytoremediation process using Paspalum conjugatum (Paitan Grass). The method used in this study is an experimental method conducted in the field from May to July 2017. The study was designed using Randomized Block Design (RBD) with a variety of treatments: PAT1 = giving 1 gr Ammonium thiosulfate, PAT2 = giving 2 gr Ammonium thiosulfate giving, PST1 = giving 1 gr Sodium thiosulfate, PST2 = giving 2 grams of Sodium thiosulfate. Each treatment was repeated three times to obtain 12 experimental units. The parameters observed in this study include the concentration of Hg in plants, the weight of stature, and plant height. Observation data were analyzed using the standard deviation of the mean. The chelating agent Ammonium thiosulfate is higher in binding to Hg compared to Sodium thiosulfate. The highest concentration of total Hg was found in Ammonium thiosulfate treatment with a dose of 2 gr / 15 liters of 1137.87 ppm. The higher the concentration of Hg on the soil resulted in stunted plant growth
PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK DI LINGKUNGAN BEBIDAS
Sampah merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik/pemakai sebelumnya, namun dalam kondisi dan pengolahan tertentu sampah masih dapat digunakan. Contohnya adalah sampah organik, sampah organik adalah sampah yang bisa mengalami pelapukan (dekomposisi) dan terurai menjadi bahan yang lebih kecil dan tidak berbau (kompos). Sampah organik biasanya berasal dari makhluk hidup, baik manusia, hewan maupun tumbuhan, sampah organik sendiri dibagi menjadi dua, yaitu : Sampah organik basah dimana sampah mempunyai kandungan air yang cukup tinggi dan Sampah organik kering, biasanya sampah ini dari bahan yang kandungan airnya kecil. Sampah organik memiliki banyak manfaat salah satunya adalah sebagai penyubur tanah dan pupuk organik. Namun masih banyak masyarakat dan petani yang tidak tahu manfaat dari sampah organic dan cara mengolah sampah organik, padahal pengetahuan tentang teknik pengolahan sampah organik sangat diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui dan mempraktikkan secara langsung teknik pengolahan sampah yang baik dan benar, oleh karena itu melalui pengabdian ini diharapkan masyarakat dan petani dapat memiliki tambahan pengetahuan tentang bagaimana cara memisahkan sampah berdasarkan jenisnya dan teknik mengolah sampah organik menjadi pupuk organik
ANALISIS SUSUT HASIL PADI PADA LAHAN KERING DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEREKONOMIAN DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Abstrak: Penanganan pascapanen padi merupakan upaya sangat strategis dalam rangka mendukung peningkatan produksi padi. Masalah utama yang dihadapi dalam penanganan pascapanen padi adalah tingginya susut (losses) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji besaran susut hasil panen padi tahap (perontokkan, pengeringan, penggilingan) dan mengetahui dampak ekonomi susut hasil panen padi di Kabupaten Lombok Tengah. Untuk itu telah dilakukan penelitian di Kecamatan Janapria, Kecamatan Praya, dan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah pada bulan Januari – Februari 2018. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan analisis faktor untuk menganalisis variabel yang berpengaruh terhadap susut hasil padi dab melihat pendapatan petani dalam melihat dampak ekonomi yang diakibatkan oleh susut hasil padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata besaran susut hasil padi di Kabupaten Lombok Tengah pada tahap perontokkan 0.24 persen, tahap pengeringan 0.07 persen, dan tahap penggilingan 0.60 persen. Berdasarkan hasil analisis faktor dapat disimpulkan bahwa variabel pendapatan dan variabel luas lahan yang berpengaruh terhadap susut hasil padi di Kabupaten Lombok Tengah. Selanjutnya rata-rata kehilangan uang petani di Kabupaten Lombok Tengah sebesar Rp. 126.782 yang berarti bahwa setiap luasan hektar lahan usahatani, rumahtangga tani akan mengalami kerugian fisik berupa kehilangan pendapatan. Kata Kunci: susut hasil; produksi padi; lahan kering; analisis faktor; dampak ekonom
PENDAMPINGAN PARTISIPATIF PENGELOLAAN KEGIATAN PEMBIBITAN DAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK BAGI KELOMPOK WANITA TANI KOTA MATARAM
Program Kelompok Wanita Tani (KWT) memastikan hasil tanaman organik, potensi yang dihasilkan sekaligus sebagai langkah pemerintah dalam pengendalian inflasi. Dengan program ini warga tidak lagi di pusingkan dengan adanya kenaikan harga komoditi pertanian seperti harga cabai naik, tapi mereka bisa panen setiap hari dengan cabai yang ditanam sendiri termasuk sayur mayur. Saat ini KWT di Kota Mataram merupakan salah satu program yang dapat diandalkan di wilayah perkotaan sebab dengan keterbatasan lahan masyarakat dapat tetap menanam hortikultura dengan memanfaatkan pekarangan lebih produktif. Tema pengabdian “Pendampingan Partisipatif Pengelolaan Kegiatan Pembibitan dan Pembuatan Pupuk Organik bagi Kelompok Wanita Tani Kota Mataram”. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota KWT dan keberlanjutan sektor pertanian di Kota Mataram. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan dengan mempresentasikan dan mendemonstrasikan pentingnya pengelolaan pekarangan hingga proses pembibitan tanaman hortikultura dan pembuatan pupuk organik. Hasil pelatihan pembibitan tanaman hortikultura menunjukkan bahwa terdapat antusias anggota KWT Kenanga dari mulai sosialisasi, demonstrasi, sampai tahap pelatihan. Tidak ditemukan kesulitan dalam pelatihan dan anggota mudah menyerap materi yang disampaikan. Sedangkan untuk pembuatan pupuk organik terdapat permasalahan terkait dengan tempat pengolahan pupuk dalam kapasitas besar, dikarenakan area yang dimiliki oleh KWT sangat terbata
Semi Automatic Tobacco Fertilizer Design and Anthropometry
The fertilization process which is carried out by lifting the bucket, then the fertilizer solution is distributed to the roots of the plant by bending and then standing again if the availability of water has run out. If this is done continuously, then many workers complain about work risks such as back pain, arm pain, and so on. This study aims to determine the work risk, anthropometry of manual tobacco fertilizing workers, and to design a semi-automatic tobacco fertilizing device. The method used in this study is an experimental method by designing tools and testing the performance of the designed tools. Parameters observed were: level of worker complaints, worker anthropometry, dimensions and components of emitter discharge fertilization equipment and uniformity of water distribution. The results showed that the most common complaints were on body parts such as the waist, arms and shoulders, which ranged from 78% -94%. Anthropometry to design a tobacco fertilizer using the 50th percentile (P50). Measurement points such as standing height 157 cm, shoulder height standing 127 cm, waist standing 91 cm, hand length 70 cm, and hand width 10 cm. The tobacco fertilizer has components such as frames, container jerry cans, wheels, distribution hoses, panel boxes, stick sprayers. The results of testing the water discharge are by doing 4 repetitions with each discharge having 44 ml/second. The uniformity of water distribution from this tool reaches 100%
EFISIENSI PENGGUNAAN AIR UNTUK TANAMAN BAYAM DI KABUPATEN LOMBOK BARAT
Air merupakan faktor vital bagi pertumbuhan tanaman dimana air menempati 70-90% dari berat tanaman. Kabupaten Lombok Barat sebagian besar wilayahnya merupakan daerah yang mampu menyediakan air secara optimal untuk budidaya tanaman pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi air pada tanaman Bayam di Kabupaten Lombok Barat. Metode penelitian menggunakan eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis keragaman (Analisis of Variance) pada taraf nyata 5%. Apabila terdapat perbedaan nyata maka diuji lanjut menggunakan Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf nyata 5%. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – September 2018 di Green House SMKPP Negeri Mataram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penggunaan air optimal untuk tanaman bayam terdapat pada pemberian air 2 liter atau perlakuan B3. Selanjutnya, kadar lengas cenderung meningkat setiap perlakuan pemberian air, kadar lengas tertinggi terdapat pada perlakuan B1 dan kadar lengas terendah terdapat pada perlakuan B3. Hasil lain, pertumbuhan terbaik terjadi pada perlakuan B3 pemberian air 2 liter dengan tinggi tanaman 73cm dan B1 pemberian air 6 liter pertumbuhan bayam melamban di bandingkan dengan B3 dan B2
TEKNOLOGI PENINGKATAN PRODUKSI UTAMA DAN BRANGKASAN JAGUNG DENGAN PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL DAN KOMPOS PADA LAHAN KERING DI NUSA TENGGARA BARAT
Abstrak: Provinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai keunggulan komperatif berupa wilayah lahan kering yang cukup luas dan berpeluang besar untuk dikembangkan. Kanwil BPN Provinsi NTB (2001) dalam Bappeda (2003) menunjukkan dari wilayah Provinsi NTB seluas 2.015.315 hektar, sebagian besar berupa lahan kering 1.673.476,307 hektar atau 83,04%. Penelitian ini bertujuan untuk; mengkaji besaran susut hasil panen padi tahap perontokkan, pengeringan, dan penggilingan, serta mengetahui dampak ekonomi susut hasil panen padi di Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data dengan penelusuran pustaka dan mengambil data-data sekunder dari instansi terkait, buku-buku, laporan dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan perpaduan teknologi pengembangan jagung yang benar dan tepat lahan kering dapat meningkatkan produksi utama serta brangkasan jagung; selanjutnya penggunaan varietas unggul baik hibrida maupun bersari bebas merupakan komponen penting dalam teknologi produksi jagung di lahan kering, karena berpotensi hasil utama untuk kebutuhan pangan dan bahan baku industri makanan serta pakan ternak dan potensi penyediaan limbah (daun dan berangkasan) tinggi yang berkualitas untuk pakan hijauan ternak, berumur pendek (genjah), tahan terhadap tekanan biotik dan abiotik, dapat menggunakan pupuk sebaik mungkin serta tahan terhadap hama penyakit; kemudian penggunaan kompos sebagai pupuk organik pada saat budidaya jagung cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia misalnya hasil panen lebih berat, lebih tahan disimpan, lebih segar dan tentunya lebih sehat karena lebih bebas dari residu kimia sekaligus dapat memperbaiki ekosistem di lingkungan sekitarnya; hasil lain penelitian ini yakni penggunaan varietas unggul disertai aplikasi pemanfaatan pupuk organik (kompos) diperkirakan akan dapat memberikan hasil utama produksi utama (biji) dan penyedian limbah (daun dan berangkasan) lebih tinggi sekaligus berkualitas, menyehatkan dan menjaga keberlanjutan kesehatan lingkungan disekitarnya.Kata Kunci : Teknologi; brangkasan; varietas; kompos; lahan kerin
