10 research outputs found

    MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KESIAPSIAGAAN MASYARAKAT DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR MELALUI EDUKASI DAN SIMULASI MENGGUNAKAN TABLETOP DISASSTER EXERCISE

    Get PDF
    Abstrak: Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terhadap bencana banjir yang sangat berisiko mengakibatkan kerugian materi hingga korban jiwa. Berdasarkan pengamatan selama ini, kita lebih banyak melakukan kegiatan pasca bencana (post event) berupa emergency response dan recovery daripada kegiatan sebelum bencana berupa disaster reduction atau mitigasi dan disaster preparedness. Padahal, apabila kita memiliki sedikit perhatian terhadap kegiatan-kegiatan sebelum bencana, kita dapat mereduksi potensi bahaya/kerugian (damages) yang mungkin timbul ketika terjadi bencana banjir. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir melalui edukasi dan simulasi menggunakan Tabletop Disaster Exercise (TDE). Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Batua Makassar dengan jumlah peserta 30 masyarakat di RW 10, Kel Batua, Kec Manggala Makassar. Kegiatan yang dilakukan yaitu edukasi berupa penyuluan kesehatan tentang bencana banjir dan simulasi bencana banjir menggunakan table top disaster. Untuk mengevaluasi keberhasilan kegiatan ini, maka tim membagikan angket untuk menilai kesiapsiagaan perserta terhadap bencana banjir. Kegiatan ini terlaksana dengan baik dan lancar serta telah terjadi peningkatan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat yaitu 30 (100%) peserta berada dalam kategori baik dalam menghadapi bencana banjir sehingga diharapkan masyarakat dapat meminimalisir dampak dan kerugian yang ditimbulkan oleh bencana banjir.Abstract: Indonesia is one of the countries that are prone to flood disasters that are very risky to cause material losses to fatalities. Based on observations so far, we do more post-disaster activities (post events) in the form of emergency response and recovery than activities before disasters in the form of disaster reduction or mitigation and disaster preparedness. In fact, if we have more attention to activities before the disaster, we can reduce the potential danger / loss (damages) that may arise when a flood disaster occurs. The purpose of this activity is to increase knowledge and preparedness in the face of flood disasters through education and simulation using Tabletop Disaster Exercise (TDE). This activity was held in the working area of the “Puskesmas” Batua Makassar with a total of 30 participants in RW 10, District Manggala, Makassar City. The activities carried out are education in the form of health counseling about flood disasters and simulation of flood disasters using table top disasters. To evaluate the success of this activity, the team distributed questionnaires to assess the preparedness of participants for flood disasters. This activity is carried out well and smoothly and there has been an increase in public knowledge and preparedness, namely 30 (100%) participants are in the good category in dealing with flood disasters so that it is hoped that the community can minimize the impact and losses caused by flood disasters

    Penerapan Sistem Penyiraman Otomatis Berbasis IoT pada Budidaya Jamur Tiram

    Get PDF
    Prospek pasar jamur tiram memiliki peluang yang cukup  besar menjadi penghasilan masyarakat. Salah satunya UKM Rezeki Berkah Jamur Tiram memanfaatkan peluang tersebut dengan membudidayakan jamur tiram. Namun mitra masih melakukan proses penyiraman jamur tiram secara manual melalui selang sehingga produksi jamur tiram tidak optimal. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah inovasi teknologi untuk meningkatkan produksi jamur tiram mitra. Tujuan dari kegiatan ini adalah menerapkan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) pada budidaya jamur tiram di dusun Tanadidi. Kegiatan telah dilaksanakan dengan menerapkan sistem penyiraman berbasis IoT, menggunakan masukan sensor DHT22 untuk membaca nilai suhu dan kelembapan udara pada kumbung jamur. Selain itu, sistem ini juga telah berhasil memonitor dan mengendalikan suhu dan kelembapan udara melalui android dengan menghidupkan penggerak berupa pompa untuk menyemburkan uar air melalui nozzle ketika kelembapan berada di atas atau dibawah ambang batas. Kegiatan ini juga berhasil meningkatkan rata-rata jumlah produksi jamur tiram mitra yang berdampak pada peningkatan penghasilan mitra. Oleh sebab itu, kegiatan ini penting untuk terus dilakukan pada petani-petani jamur tiram laiinya agar memudahhkan dan mengefisiensikan proses penyiraman jamur tiram pada kumbung jamur yang berdampak pada peningkatan produksi jamur petani

    Edukasi dan Pelatihan Pertolongan Pertama pada Korban Tenggelam (Drowning) di SMKN 9 Makassar

    Get PDF
    Indonesia merupakan negara maritim dengan garis pantai yang panjang dan memiliki laut yang sangat luas yang membuat Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata pantai dan banyaknya masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai nelayan. Hal tersebut membuat tingginya risiko kecelakaan akibat kegiatan wisata pantai dan nelayan seperti kejadian tenggelam (drowning). Namun kenyataannya masyarakat masih memiliki pengetahuan dan keterampilan yang minim dalam memberikan pertolongan pertama pada korban tenggelam. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat khususnya siswa siswi di SMKN 9 Makassar tentang pertolongan pertama pada korban tenggelam. Kegiatan ini telah dilaksanakan di SMKN 9 Makassar dengan jumlah peserta sebanyak 36 siswa siswi. Kegiatan yang dilakukan yaitu edukasi menggunakan metode ceramah tentang pertolongan pertama pada korban tenggelam dirangkaikan dengan pelatihan melalui simulasi Resusitasi Jantung Paru (RJP) menggunakan manekin sebagai salah satu bentuk pertolongan pertama dan upaya untuk menyelamatkan nyawa korban yang tenggelam. Untuk mengevaluasi keberhasilan dari kegiatan ini, maka tim  membagikan angket/kuesioner pengetahuan dan sikap RJP dan juga menilai keterampilan melakukan RJP menggunakan 5 indikator kualitas RJP. Kegiatan ini dinilai berhasil dibuktikan dengan Sebagian besar (88,9%) peserta telah memiliki pengetahuan dan sikap RJP kategori baik, dan 91,6% peserta telah terampil melakukan RJP. Oleh sebab itu, kegiatan ini diharapkan dapat terus dilaksanakan untuk memberikan edukasi dan keterampilan kepada masyarakat agar dapat memberikan pertolongan pertama pada korban tenggelam

    MENINGKATKAN POTENSI PETANI LONTAR MELALUI INOVASI PEMBUATAN HAND SANITIZER BERBAHAN DASAR NIRA LONTAR

    Get PDF
    Abstrak: Sejak pandemi COVID-19, kebutuhan hand sanitizer semakin meningkat. Peluang tersebut harus segera dimanfaatkan oleh kelompok petani lontar di Dusun Popoloe melaui nira lontar yang dihasilkan oleh petani. Karena kurangnya pengetahuan, sehingga selama ini, petani hanya memanfaatkan air nira tersebut menjadi minuman tradisional beralkohol (ballo). Padahal air nira melalui proses penyulingan akan menjadi ethanol/alkohol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar produksi hand sanitizer. Oleh sebab itu tujuan kegiatan ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani lontar dalam melakukan penyulingan nira lontar menjadi alkohol sebagai bahan dasar pembuatan produk hand sanitizer. Kegiatan ini dilakukan melalui metode pelatihan yaitu edukasi dan simulasi kepada petani lontar di dusun popoloe yang berjumlah 12 petani. Evaluasi yang dilakukan menggunakan kuesioner dengan hasil dari 2 (16%) peserta yang memiliki pengetahuan baik, menjadi 12 (100%) peserta telah memiliki pengetahuan yang baik dalam melakukan penyulingan. Hal tersebut berarti perlunya pelatihan-pelatihan dilaksanakan secara simultan untuk meningkatkan potensi petani lontar.Abstract: Since the COVID-19 pandemic, the need for hand sanitizers has increased. This opportunity must be immediately taken advantage of by the lontar farmer group in Popoloe Hamlet through the lontar sap produced by farmers. Due to lack of knowledge, so far, farmers only use the sap water into traditional alcoholic drinks (ballo). Even though sap water through the distillation process will become ethanol/alcohol which can be used as a basic material for the production of hand sanitizers. Therefore, the purpose of this activity is to provide training to farmers to distill palm sap into alcohol that can be produced as the basic material for hand sanitizer products. This activity was carried out through training methods, namely education and simulation to lontar farmers in Popoloe hamlet, totaling 12 farmers. The evaluation was conducted using a questionnaire with the results of 2 (16%) participants who had good knowledge, to 12 (100%) participants who had good knowledge in distilling. This means the need for trainings to be carried out simultaneously to increase the potential of palm oil farmers

    Efektivitas Acceptance and Commitment Therapy Terhadap Resiliensi Korban Bencana Alam yang Mengalami Kecacatan Fisik

    Get PDF
    Being physically disabled due to a natural disaster is a traumatic experience in a person's life that can make a person feel slumped and helpless in his life. It takes a psychotherapeutic intervention such as Acceptance and Commitment Therapy (ACT) to foster resilience of victims of natural disasters who have physical disabilities in order to be able to bounce back, be productive, and be able to play their role again in society. The purpose of this study was to analyze the effect of ACT therapy on increasing the resilience of victims of natural disasters in Sigi who experienced physical disabilities. The research method used is quasy experiment with a one group pre-post test approach. The number of samples in this study was 22 respondents collected using purposive sampling techniques. This research was conducted in August-September 2022 in Sigi Regency, Central Sulawesi Province. The statistical test used is the Wilcoxon test. The results of this study showed that there was an effect of ACT therapy on increasing respondents' resilience (p=0000). In addition, this study showed that after being given ACT therapy, most respondents' resilience was in the high category (59%). This study indicates that a person who experiences a traumatic event such as a physical disability due to a natural disaster will face a difficult time in life, psychological vulnerability and the ability to cultivate low resilience. Therefore, it is important for health providers to pay attention to psychological aspects, as well as provide psychotherapeutic interventions such as ACT to victims of natural disasters, especially those who experience physical disabilities in the rehabilitative phase so that they can accept themselves, be committed, productive, and return to play their role in societyMenjadi cacat fisik akibat bencana alam merupakan pengalaman traumatis dalam hidup seseorang yang dapat membuat seseorang merasa terpuruk dan tidak berdaya dalam hidupnya. Dibutuhkan sebuah intervensi psikoterapi seperti Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk menumbuhkan resiliensi korban bencana alam yang mengalami kecacatan fisik agar dapat bangkit kembali, produktif, dan mampu memainkan kembali perannya di masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh terapi ACT terhadap peningkatan resiliensi korban bencana alam di Sigi yang mengalami kecacatan fisik. Metode penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan pendekatan one group pre-post-test. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 22 responden yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Agustus-September 2022 di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Uji statistik yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terapi ACT terhadap peningkatkan resiliensi responden (p=0000). Selain itu, penelitian ini menunjukkan setelah diberikan terapi ACT, sebagian besar resiliensi responden berada pada kategori tinggi (59%). Penelitian ini mengindikasikan bahwa seseorang yang mengalami kejadian traumatis seperti cacat fisik akibat bencana alam akan menghadapi masa sulit dalam hidup, kerentanan psikologis dan kemampuan menumbuhkan resiliensi yang rendah. Oleh sebab itu, penting bagi tenaga kesehatan untuk memberikan intervensi ACT kepada korban bencana alam terutama mereka yang mengalami kecacatan fisik, sebagai bentuk upaya pemulihan, penguatan dan rehabilitasi psikologi agar mereka dapat menerima dirinya, berkomitmen, produktif, dan kembali memainkan perannya di masyarakat

    EDUKASI KESEHATAN PERILAKU SLEEP HYGIENE DAN KADAR HEMOGLOBIN PADA ANAK REMAJA

    Get PDF
    Abstrak: Aktivitas remaja sebelum tidur sehingga tidak dapat mendapatkan kualitas tidur yang baik yang dapat mempengaruhi terjadinya anemia pada remaja.Tujuan pengabdian untuk memberikan edukasi tentang perilaku sleep hygiene dan kadar hemoglobin pada remaja. Kegiatan ini dilaksanakan di SMP Khatolik Rajawali Kota Makassar dengan jumlah peserta sebanyak 50 anak usia remaja yang berasal dari kelas XI sejumlah 104 remaja. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan edukasi penyuluhan tentang sleep hygiene dan tentang anemia pada anak remaja. Untuk mengevaluasi keberhasilan kegiatan ini, maka tim membagian kuesioner untuk menilai skala kualitas tidur pada anak remaja menggunakan kuesioner ASHS (Adolesecent Sleep Hygiene Scale) versi bahasa Indonesia dan melakukan pemeriksaan kadar hemoglobin pada remaja menggunakan rapid test hemoglobin Kegiatan ini terlaksana dengan baik dan lancar dan terdeteksi perilaku sleep hygiene yaitu dari 50 remaja didapatkan 32 (64%) memiliki perilaku sleep hygiene yang baik dan terdeteksinya remaja yang yang memiliki dengan kadar hemoglobin rendah dibawah 13.2 gr/dl sebanyak 10 (20%) sehingga dapat disimpulkan bahwa remaja di SMP Katolik Rajawali memiliki perilaku sleep hygiene yang baik sehingga diharapkan remaja mampu mempertahankan kualitas tidur yang baik untuk mencegah terjadinya anemia pada anak remaja agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di sekolah.Abstract: There are many adolescent activities before going to bed so that they cannot get good quality sleep which can affect the occurrence of anemia in adolescents. The purpose of the service is to provide education about sleep hygiene behavior and hemoglobin levels in adolescents. This activity was carried out at Khatolik Rajawali Junior High School, Makassar City with a total of 50 adolescent children from class XI with a total of 104 teenagers. The activities carried out are providing counseling education about sleep hygiene and about anemia in adolescents. To evaluate the success of this activity, the team distributed a questionnaire to assess the sleep quality scale in adolescents using the Indonesian version of the ASHS (Adolesecent Sleep Hygiene Scale) questionnaire and conducted a hemoglobin level examination in adolescents using a hemoglobin rapid test in adolescents who had sleep problems. Detected sleep hygiene behavior, namely from 50 adolescents, 32 (64%) had good sleep hygiene behavior and detected adolescents who had low hemoglobin levels below 13.2 gr / dl as much as 10 (20%) so that it can be concluded that adolescents at Rajawali Catholic Junior High School have good sleep hygiene behavior so that it is hoped that adolescents will be able to maintain good sleep quality to prevent anemia in adolescents so as not to interfere with teaching and learning activities in schools.

    The relationship between knowledge, self-efficacy and nursing spiritual care behaviors in school-age children in pediatric room

    Get PDF
    Introduction: Spiritual care for children is important in the care provided by nurses so that children do not feel guilty when being treated in the hospital. It is important for nurses to understand that the process of providing nursing care is bio-psycho-social and spiritual based. This study aimed to find out the relationship between knowledge, self-efficacy, and nurse behavior in the provision of spiritual care for school-age children in hospitals. Methods: This study used a cross-sectional approach with a purposive sampling technique followed by 102 nurses who cared for school-age children in a pediatric nursing room. Knowledge was measured using the Spiritual Care-Giving Scale, Self-Efficacy was measured by Burkhart Spiritual Care Inventory (BCI), and Nurse Spiritual Care Therapeutic Scale (NSCTS) to measure behavior. The data were analyzed using the Kolmogorov-Smirnov test, and Spearman correlation test. Results: There was no significant correlation between knowledge and behavior (p = 0.181; r = 0.133);  however, there was  a significant correlation of nurse behavior with self-efficacy (p = 0.027; r = 0.219), age (p = 0.015; r = 0.240), length of work (p = 0.021; r = 0.228), and spiritual care training (p = 0.001). Conclusion: Knowledge does not have a significant relationship with behavior. However self-efficacy, age, length of work, and spiritual care training significantly affects the nurse's behavior in providing spiritual care to school-age children in the hospital

    Comparison of self-efficacy in cardiopulmonary resuscitation position by a single rescue: over-the-head or lateral position?

    Get PDF
    Self-efficacy can speed up and improve quality of cardiopulmonary resuscitation (CPR), but it will be difficult to achieve if using a bag-valve-mask (BVM) by a single rescue. This study aimed to compare the differences of self-efficacy when performing CPR in the lateral and over-the-head (OTH) positions using a BVM device in a single rescue. A quasi-experimental with a post-test-only group design approach. This study involved 100 respondents divided into two groups, namely 50 respondents in the lateral position and 50 in the OTH position. Respondents' self-efficacy was assessed using the resuscitation self-efficacy scale (RSES). The statistical test used was Mann-Whitney. The results of this study showed that the OTH group had a higher level of self-efficacy, 46 (92%), than the lateral group, 40 (80%). In addition, the results of the Mann-Whitney statistical test also obtained p-value=0.000 (α=0.05) and mean rank value (OTH=63.30, lateral=37.70), indicating that there was a difference in self-efficacy between the OTH and lateral positions, with the OTH group having higher self-efficacy compared to the lateral group. Therefore, if CPR is performed by a single rescue with a BVM device, it can be performed with the OTH position

    Sosialisasi Daring Persiapan Perawat Indonesia Bekerja ke Jepang di Program G To G

    Get PDF
    Jepang mengalami kekurangan tenaga produktif dikarenakan peningkatan jumlah lansia, maka membuka pasar kerja bagi perawat Indonesia. Sehingga untuk memenuhi tuntutan pasar kerja di Jepang perlu meningkatkan kualitas SDM perawat sesuai standar diperlukan untuk bekerja ke Jepang. Mekanisme kerja luar negri untuk perawat yang paling aman melalui penempatan kerja G to G yang di prakarsai oleh pemerintah di bawah kerjasama Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Saat ini masih banyak perawat yang belum memahami mengenai persiapan bekerja ke Jepang di mekanisme G to G. Oleh karena itu, sosialisasi daring pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk menjawab permasalahan tersebut. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini untuk memberikan pengetahuan kepada perawat di persiapkan secara internal dan ekternal untuk bekerja di Jepang melalui mekanisme penempatan G to G. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diberikan dengan metode ceramah menggunakan power point melalui ruang zoom secara daring kepada perawat di Indonesia sebanyak 271 orang dari berbagai provinsi. Hasil kegiatan ini menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan dengan peningkatan rata-rata skor pre-test ke post-test sebesar 23,42. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan perawat professional Indonesia menjadi SDM yang unggul siap bekerja di Jepang

    Volume 1 No. 1, 2022 Karya Kesehatan Siwalima

    No full text
    Issue pada bulan Maret-Agustus 2022 terdiri dari beberapa kontributor institusi yaitu Poltekkes Kemenkes Kendari, STIKes Widya Nusantara Palu, Universitas Kristen Satya Wacana, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar, Universitas Sebelas April Sumedang, Puskesmas Cikajang Jawa Barat, STIKes Tengku Maharatu, Universitas Bumigora, dan Universitas Kristen Indonesia Maluku. Terbitan pada Volume 1, Nomor 1 ini dengan tema mengabdi untuk kesehatan masyarakat. Pengabdian yang telah dilakukan oleh berbagai kontributor di bidang kesehatan menitikberatkan pada intervensi edukasi melalui penyuluhan secara langsung atau melalui media online, dan pelaksanaan deteksi dini untuk meninjau kesehatan masyarakat. Pengabdian yang telah dilakukan memberi dampak positif bagi peningkatan pengetahuan, perilaku masyarakat untuk lebih sadar akan kesehatan. Artikel dengan judul edukasi dan deteksi dini sindrom metabolik di Desa Waai dengan metode ceramah, pengukuran tekanan darah, pemeriksaan glukosa dan trigliserida mengungkapkan terdapat 58% yang mengalami sindrom metabolik. Pengabdian lainnya terkait edukasi dan deteksi dini krisis hipertensi di Makassar menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan dan pemahaman warga terkait krisis hipertensi dan ditemukan 43% warga yang memiliki risiko mengalami hipertensi. Selain itu, edukasi PHBS di Yayasan Jage Kestare juga menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi PHBS kepada anak usia sekolah dasar. Hal ini ditunjukkan melalui hasil pre-test 11,72 meningkat menjadi 20,22 saat hasil post-test. Pengabdian yang digambarkan mempunyai harapan bagi pemerintah melalui dinas kesehatan, tenaga kesehatan setempat untuk aktif melakukan edukasi sebagai bagian dari promosi kesehatan, mengaktifkan kader kesehatan di desa masing-masing untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat agar kesadaran untuk memeriksa kesehatan, serta aktifkan Unit Kesehatan Sekolah sebagai bagian yang penting dalam mengedukasi anak sekolah. Pengabdian secara langsung dengan menekankan protokol kesehatan dapat dilakukan, namun intervensi melalui media sosial juga menjadi inovasi di saat pandemi Covid-19. Hal ini tergambar dalam artikel video animasi untuk promosi kesehatan jiwa di media sosial. Pelatihan membuat video animasi agar mahasiswa mampu membuat video animasi yang menarik untuk dinonton dan diharapkan berdampak pada peningkatan pengetahuan masyarakat pengguna media sosial. Pelatihan yang dilakukan menggunakan media zoom meeting dan whatsApp group untuk penyampaian materi, simulasi dan pendampingan. Kegiatan ini mendapat tanggapan positif dari masyarakat, hal ini dapat dievaluasi melalui kolom komentar dan like dari pengguna media sosial facebook serta instagram. Kegiatan lainnya yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan pencegahan perilaku seksual berisiko di kalangan siswa SMP yaitu intervensi Solution Focused Brief Counseling (SFBC). Intervensi psikologi ini menekankan penemuan solusi positif yang dialami individu. Pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan juga kesadaran remaja akan pentingnya kesehatan seksual dan perilaku seksual berisiko. Namun hal ini tidak dapat berjalan sendiri perlu adanya pembinaan berkala dari orang tua, guru di sekolah, dukungan teman sebaya, pemahaman nilai agama dan budaya serta media sosial digunakan dengan bijak. Editor sangat berterima kasih kepada kontributor, reviewer yang telah menjadi bagian dalam peningkatan kualitas melalui proses submit, revisi yang dilakukan tepat waktu dan sesuai dengan saran ataupun dilakukan klarifikasi naskah. Harapan kami, semoga jurnal ini dapat menjadi media aktif dalam penyelenggaraan pengabdian yang telah dilakukan oleh pegiat kesehatan di mana saja berada
    corecore