1,720,991 research outputs found
WIRDA HANIM:DARI PENGRAJIN BORDIR MENJADI PENGUSAHA BATIK TAHUN 1994-2018
Penulisan biografi ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana latar belakang keluarga Wirda Hanim, mengapa Wirda Hanim berusaha mengembangkan Batiak Tanah Liek, dan bagaimana kiprah Wirda Hanim sebagai seorang pengrajin hingga menjadi pengusaha batik. Manfaat penulisan biografi ini untuk mengetahui latar belakang keluarga Wirda Hanim, menganalisis usaha Wirda Hanim dalam mengembangkan Batiak Tanah Liek dan menguraikan proses Wirda Hanim dari seorang pengrajin menjadi pengusaha Batiak Tanah Liek. Batasan awal penulisan ini adalah tahun 1994 karena pada tahun ini Wirda Hanim memulai karir sebagai pengrajin batik. Batasan akhir penulisan ini adalah tahun 2018 karena perusahan batik Wirda Hanim masih terus berdiri dan berkembang.
Penelitian ini termasuk kedalam penulisan biografi tematis, yaitu bentuk penulisan biografi yang ditekankan pada tema-tema tertentu dengan mengkaji perjalanan Wirda Hanim dari seorang pembordir menjadi pengusaha batik. Penelitian ini mengguanakan menggunakan metode sejarah yang meliputi teoristik (pengumpulan sumber), kritik (kritik ekstern dan kritik intern), interpretasi (penafsiran sumber), dan histiografi (penulisan hasil penelitian). Pengumpulan sumber dilakukan dengan dua cara, penelitian pustakan dan wawancara. Penelitian pustaka bertujuan untuak mendapatkan sumber primer dan sumber sekunder. Wawancara bertujuan untuk mendukung penulisan skripsi ini.
Biografi ini menggambarkan tentang bagaimana Wirda Hanim memulai, mengembangkan dan memperkenalkan Batiak Tanah Liek kepada masyarakat. Wirda Hanim adalah putri asli Minangkabau yang memiliki jasa dalam pengembangan seni tradisional Minangkabau yaitu Batiak Tanah Liek. Proses Batiak Tanah Liek dilakukan di daerah Sawahan di Kota Padang. Wirda Hanim memulai karirnya berawal menjadi seorang pembordir pada tahun 1985. usaha bordir ini lebih kurang 7 tahun, dan pada tahun 1994 Wirda Hanim mengenal Batiak Tanah Liek. Tahun 1995 produksi pertama Batiak Tanah Liek Wirda Hanim resmi diproduksi, namun masih menggunakan pewarna kimia. Tahun 2005 produksi Batiak Tanah Liek dengan bahan pewarna alami resmi diproduksi oleh Wirda Hanim. Berkat usaha Wirda Hanim dalam dunia kesenian ia pun mendapatkan beberapa penghargaan yang pernah diterima dari Pemerintah
Analisis Halal Value Chain Tekstil Sebagai Upaya Untuk Menjadikan Produk Tekstil Sebagai Produk Halal (Studi Kasus : Batik Tanah Liek Hj Wirda Hanim)
Seiring dengan perkembangan zaman, sertifikasi halal sudah merupakan suatu kewajiban, tidak hanya pada industri makanan, akan tetapi pada industri tekstil juga wajib memiliki sertifikasi halal. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2014 pada pasal 4 menyatakan bahwa setiap produk yang masuk dan beredar di Indonesia wajib memiliki sertifikasi halal. Produk tersebut diantaranya termasuk tekstil sebagai barang gunaan yang dipakai yang wajib memiliki sertifikasi halal. Hal ini juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2019 pasal 1 ayat 2, mengenai produk yang termasuk kedalam produk yang wajib halal adalah barang gunaan. Penahapan sertifikasi halal barang gunaan ini dimulai dari 17 Oktober 2021 sampai dengan 17 Oktober 2026. Sertifikasi tekstil halal juga diwajibkan untuk tekstil batik, salah satunya adalah tekstil batik tanah liek. Batik Tanah Liek Hj Wirda Hanim merupakan tempat dilakukan penelitian ini untuk menerapkan halal value chain agar menghasilkan produk tekstil halal. Perlunya Batik Tanah Liek Hj Wirda Hanim untuk memiliki sertifikasi halal dikarenakan batik ini sudah memiliki website perusahaan, sehingga tidak menutup kemungkinan pembeli batik berasal dari pedagang yang negaranya mewajibkan produk yang beredar dinegaranya wajib memiliki sertifikasi halal, selain itu juga dapat dijadikan sebagai oleh-oleh halal bagi wisatawan yang mengunjungi Sumatera Barat, mengingat Sumatera Barat akan dijadikan sebagai provinsi destinasi halal. Penerapan halal value chain pada penelitian ini menggunakan metode Halal Critical Control Point (HCCP) untuk melakukan identifikasi unsur haram pada aktivitas utama agar diberikan saran perbaikan. Berdasarkan hasil pengumpulan data dan pengolahan data yang telah dilakukan, didapatkan sebanyak 13 titik kritis keharaman produk, yang berasal dari proses, fasilitas, serta alat dan bahan yang digunakan selama proses produksi Batik Tanah Liek Hj Wirda Hanim. Potensi bahan haram yang ditemukan berupa lemak babi, najis, gelatin babi, dan minyak babi. Perancangan rencana HCCP dilakukan pada penelitian ini untuk mencegah adanya bahan haram dan najis yang terkontaminasi pada produk. Perancangan rencana HCCP dilakukan pada 13 titik kritis keharaman. Perancangan catatan/dokumentasi juga dilakukan dalam mengendalikan titik kritis keharaman ini. Perancangan catatan/dokumentasi yang dilakukan berupa perancangan formulir penerimaan bahan baku, formulir kebersihan fasilitas, formulir pengiriman produk jadi, formulir status kehalalan alat, catatan titik kritis keharaman, instruksi kerja proses penjemuran kain, instruksi kerja proses menggambar pola, dan instruksi kerja proses melukis pola. Penelitian ini juga menghasilkan framework, yang dapat digunakan oleh industri tekstil lainnya dalam melakukan analisis rantai nilai halal
Analisis konduktivitas termal batuan permukaan pada lapangan panas bumi Jaboi Sabang
xi+47hlm.;29c
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
