1,721,860 research outputs found

    With and Without ‘General’: The Representation of Wiranto in The Sydney Morning Herald during Indonesia’s 2004 General Election

    Get PDF
    This paper reports an analysis on the naming and title-giving practices of The Sydney Morning Herald toward General Wiranto in the news about Indonesia’s 2004 General Election when he contested as a presidential candidate but failed. In the news data he was mostly related to the allegations of his responsibility as the Commander of Indonesia’s armed forces for a number of atrocities committed by the Indonesian military and Jakarta-backed militias in East Timor. Honorification is one standard referencing in news. Its presence is believed to indicate respects, and its absence can be interpreted as either showing solidarity or less respect. However, Wiranto was negatively represented both when he was referred to with and without his military title. Such a representation suggests the newspaper’s perception and stereotype it has had about Wiranto

    Penerapan Subteks kepada Karakter Protagonis Wiranto pada Film Pendek The Roots of Grief

    No full text
    Subteks pada film berfungsi sebagai informasi tambahan yang tidak tersampaikan secara eksplisit pada dialog, namun bisa melalui perilaku, gestur tubuh, atau percakapan. Sutradara memberikan subteks sebagai upaya membantu penonton untuk lebih mengerti karakter. Karakter protagonis merupakan karakter utama yang menggerakkan cerita. Protagonis memiliki keinginan dan halangan, sehingga membuatnya menjadi karakter utama pada film. Film The Roots Of Grief bercerita tentang karakter protagonis Wiranto yang kehilangan istrinya. Wiranto adalah karakter yang keras dan emosional, dirinya kurang akrab dengan anaknya Aldo. Penulisan ini akan membahas tentang subteks pada karakter protagonis Wiranto

    Analisis Semiotik Terhadap Iklan Kampanye Partai Politik Wiranto Dan Hary Tanoesoedibjo Di Televisi Khususnya Di Rcti

    No full text
    Fenomena iklan politik pada era modern saat ini memang variatif. Bahkan saat ini juga telah ada istilah iklan politik. Seperti iklan kampanye partai politik Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo apalagi latar belakang agama mereka berbeda. Permasalahan yang muncul mampukah Hary Tanoe menjadi pemimpin berdasarkan perspektif Islam walaupun dia menganut agama kristen di Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam. Dalam penelitian ini peneliti mengajukan rumusan masalah sebagai berikut. Simbol-simbol apa saja yang menunjukan sosok pemimpin dalam iklan Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo? Dan sosok pemimpin sepertiapa yang disampaikan padaiklan tersebut? Pada tayangan iklan ?Apa Itu Pemimpin??yang mempunyai sembilan scene Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo berupaya menjelaskan kondisi rakyat saat ini. Dengan memberikan kesempatan kepada rakyatkecil untuk mengeluarkan gagasannya. Harapan-harapan rakyat kecil ini modal utama perjuangan partai Hanura untuk menata Indonesia yang lebih baik. Sedangkan metodologi penelitian ini menggunakan kualitatif dengan cara penulisan berusaha melakukan analisis terhadap Iklan Kampanye Politik Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo,denganmelakukanpengumpulan data-data dari berbagai literatur seperti kepustakaan, teori, dokumen, serta data lain yang berhubungan dengan semiotika iklan kampanye tersebut. Adapun teori yang digunakan adalah menurut Charles S. Peirce, semiotika berangkat dari tiga elemen utama. Atau yang biasa disebut teori segitiga makna yaitu ikon, indeks dan simbol. Semiotika dari iklan kampanye Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo sangat berperan dalam menentukan makna dari pesan tayangan iklan. Kekuatan iklan tersebut terletak pada suara asli yang ditimbulkan oleh objek iklan yang bermacam-macam bahasa dari bahasa Sunda, bahasa Indonesia sampai bahasa Jawa. Sedangkan kelemahan iklan tersebut terletak pada durasi yang begitu singkat. Pada iklan tersebut berusaha menampilkan sosokpemimpin yang mendengarkan semua keinginan rakyat terhadap pemimpin yang akandatang. Wiranto dan Hary Tanoesoedibjo juga menampilkan sosok mereka sebagai pemimpin yang bersih peduli dan tegas

    Penusukan Menko Polhukam Wiranto Ditinjau dari Teori Actus Humanus, Realitas Kejahatan dan Tatanan Moral Objektif

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk fokus terhadap kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto yang ditinjau dari teori Actus Humanus, Realitas Kejahatan, dan Tatanan Moral Objektif. Actus Humanus merupakan tindakan yang mengungkapkan kebebasan dan manusialah yang menjadi subjek dari tindakan tersebut. Realitas kejahatan adalah kejahatan moral yang berkaitan dengan fisik manusia yang bukan hanya sekedar efek/akibat buruk dari tindakan-tindakan manusia saja. Tatanan Moral Objektif adalah tatanan moral yang dinilai secara hukum. Terjadinya kasus penusukan Menko Polhukam Wiranto ini hanya dipicu oleh satu faktor saja, yaitu faktor ketakutan yang ada dalam diri Abu Rara, maka Abu Rara wajib menerima hukuman sesuai dengan UU yang sudah ditetepka

    The Stabbing of Wiranto : Growing Trend of Knife Attacks

    No full text
    The stabbing of Indonesia’s Coordinating Minister for Political, Law, and Security Wiranto highlights that top Indonesian government officials, especially those in charge of security matters, have long been targeted by the groups that support Islamic State (IS). The incident highlights the continuation of the knife attack trend among terrorists and the militant threat arising from Indonesian pro-IS family units

    Opini Warganet Terhadap Penusukan Wiranto

    No full text
    Jurnal ini membahas tentang kasus penusukan Wiranto. Yang di anggap settingan oleh warganet, tetapi tidak semua warganet menanggap penusukan itu adalah settingan. Dari semua komentar yang di dunia maya tidak sedikit yang menghujat dan juga tidak pula yang mendoakan kesembuhan beliau. Dalam dunia maya banyak sekali kalimat-kalimat yang jahat dan tidak pantas untuk di baca dan di dengar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnoragfi virtual. Dari hasil penelitian ini peneliti mengemukakan bahwa sebenarnya orang awam masih belom tahu bagaimana cara berinteraksi di dunia maya dengan benar, bagaimana cara membedakan hoax atau bukan. Kesimpulannya adalah mereka harus paham bahwa informasi yang mereka terima tidak boleh langsung di share, harus ada crosscheck dulu tentang kebenaran dan sumber berita yang mereka peroleh, andai kata boleh di share pun harus melihat dulu grup dan teman sekitarnya, apakah perlu dan apakah ada dampak sosial didalamnya. Pada akhirnya mereka akan paham dampak dari informasi yang mereka sebarkan dan menghindari dari maraknya salah informasi selama ini
    corecore