137 research outputs found

    DUNIA MAGIS DALAM CERPEN LEAK PEMOROAN KARYA I WAYAN SADHA

    Full text link
    of the occult not only lived in the past but penetrated freely until Era 4.0. Although the development of the world has advanced in such a way as with the sophistication of its technology, the belief in supernatural and magical things cannot be erased. The magical world has its own charms and problems in the lives of Balinese people. Undeniably, the attractiveness often invites the attention of the author in welcoming and recording the phenomenon into literary works. In this paper examines modern Balinese literary works in the form of short stories. The short stories studied were taken from a collection of Leak Pemoroan stories written by I Wayan Sadha. This study examines three short stories in a collection of Pemoroan Leak short stories entitled Jeg Pragat Ka Balian, Pemoroan Leak and Walik Sumpah. The focus of the discussion in this paper is to raise the magical aspects contained in the three short stories that have been mentioned. The magical aspects to be discussed are the Pangiwa aspect and the Panengen aspect contained in the short story.Keywords: Magic, Pangiwa, Panengen, Short Story, modern Balinese literatur

    Potensi Pemangsaan dan Perkembangan Cheilomenes sexmaculata Fabricius (Coleoptera: Coccinellidae) pada Kutudaun

    No full text
    Cheilomenes sexmaculata merupakan predator yang memiliki kisaran mangsa yang luas. Predator ini dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan kutudaun. Kutudaun yang ditemui pada tanaman cabai adalah Aphis gossypii sedangkan pada tanaman bawang daun adalah Neotoxoptera formosana. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi pemangsaan C. sexmaculata terhadap mangsa A. gossypii dan N. formosana, serta perkembangan predator C. sexmaculata pada mangsa A. gossypii. Kerapatan mangsa A. gossypii dan N. formosana yang dipaparkan adalah 5, 10, 20, 30, 40, dan 50 ekor. Pemaparan dilakukan selama 24 jam dengan beberapa periode pengamatan yaitu 0-3 jam, 3-6 jam, 6-12 jam, dan 12-24 jam. Pengamatan perkembangan dilakukan dengan mengamati 50 individu C. sexmaculata dari stadia telur sampai stadia imago. Pengamatan kebutuhan mangsa dilakukan dengan mengamati 30 individu C. sexmaculata, mulai instar I sampai instar IV. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan memangsa larva C. sexmaculata dengan jenis mangsa A. gossypii dan N. formosana berbeda nyata. Predator C. sexmaculata lebih menyukai A. gossypii dibandingkan dengan N. formosana. Larva instar I, II, III, dan IV masing-masing membutuhkan A. gossypii rata-rata 20.60 ekor, 67.34 ekor, 90.21 ekor, dan 263.77 ekor selama hidupnya. Keberhasilan larva C. sexmaculata yang menjadi imago cukup tinggi dengan pemberian mangsa A. gossypii, persentase peluang hidupnya mencapai 72%. Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai kefektifan predator C. sexmaculata dalam memangsa A. gossypii dan N. formosana. Selain itu, dapat diketahui kesesuaian dan jumlah mangsa A. gossypii yang dibutuhkan untuk perkembangan C. sexmaculata sehingga mampu memberi kontribusi dalam penerapan budi daya tanaman organik atau sistem pengendalian hama terpadu di lapangan

    Kelimpahan Hama Dan Musuh Alami Pada Pertanaman Padi Varietas Pandanwangi Di Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur

    No full text
    Pandanwangi merupakan salah satu varietas padi lokal aromatik yang berasal dari Kabupaten Cianjur. Padi Pandanwangi rentan terhadap serangan hama. Hal tersebut merupakan salah satu faktor pembatas produksi padi Pandanwangi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kelimpahan hama dan musuh alami serta perkembangan populasinya pada tanaman padi Pandanwangi di Desa Bunikasih, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode pengamatan langsung, lubang perangkap (pitfall trap), dan jaring serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hama yang banyak ditemukan pada pertanaman padi Pandanwangi fase vegetatif awal adalah trips. Kepinding tanah, wereng batang cokelat dan wereng hijau ditemukan pada fase vegetatif dan generatif. Walang sangit dan kepik hijau ditemukan pada fase generatif. Musuh alami yang banyak ditemukan adalah laba-laba predator yaitu Tetragnathidae, Lycosidae, Oxyopidae, Araneidae, dan serangga predator Formicidae, Carabidae, Coccinellidae dan Staphylinidae

    Pengaruh Perlakuan Insektisida terhadap Kelimpahan Hama pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.).

    No full text
    Jagung merupakan komoditas pangan utama sebagai sumber karbohidrat kedua setelah padi. Salah satu kendala dalam budidaya tanaman jagung adalah serangan hama. Upaya pengendalian hama dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi insektisida terhadap kelimpahan hama pada pertanaman jagung (Zea mays L.). Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Pengamatan dilakukan dari umur tanaman 17 hari setelah tanam (HST) hingga 73 HST dengan metode pengamatan langsung. Jenis insektisida yang digunakan yaitu insektisida kimiawi berbahan aktif lamda sihalotrin, insektisida nabati serai wangi dan insektisida berbahan aktif bakteri entomopatogen Bacillus thuringiensis. Hasil penelitian menunjukkan hama-hama yang ditemukan pada pertanaman jagung yaitu belalang Oxya sp., hama putih palsu Cnaphalocrosis medinalis, kutudaun Rhopalosiphum maidis, penggerek batang Ostrinia furnacalis, dan penggerek tongkol Helicoverpa armigera. Lamda sihalotrin yang disemprotkan seminggu sekali efektif terhadap penurunan tingkat kerusakan daun oleh C. medinalis, dan penurunan persentase batang terserang O. furnacalis. Perlakuan B. thuringiensis efektif terhadap penurunan persentase tongkol terserang H. armigera. Sementara itu, serai wangi efektif dalam menekan populasi R. maidis

    Kelimpahan Artropoda Predator Permukaan Tanah pada Tiga Ekosistem Pertanaman

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan artropoda predator permukaan tanah pada ekosistem pertanaman jagung, ubi jalar dan cabai di Kelurahan Situgede Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Lubang perangkap yang dipergunakan untuk mengambil artropoda predator permukaan tanah terbuat dari gelas plastik bekas air mineral bervolume 240 ml. Dalam satu buah lubang perangkap dimasukkan formalin 2% sebanyak 30 ml. Jumlah lubang perangkap pada masing-masing pertanaman 20 buah yang dipasang menyebar secara sistematis dengan jarak 5 m antar lubang perangkap. Perangkap dipasang selama 3 x 24 jam dengan interval satu minggu selama delapan minggu. Artropoda predator permukaan tanah yang berhasil ditangkap dihitung jumlahnya dan diidentifikasi di laboratorium serta diawetkan ke dalam botol film yang berisi alkohol 90%. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Kelimpahan total artropoda predator permukaan tanah pada pertanaman jagung berjumlah 1196 individu, sedangkan pada pertanaman ubi jalar dan cabai masing-masing berjumlah 532 dan 421 individu. Artropoda predator permukaan tanah yang dominan pada tiga ekosistem pertanaman adalah semut (Formicidae), kumbang tanah (Carabidae) dan laba-laba serigala (Lycosidae). Proporsi ketiga artropoda predator tersebut pada pertanaman jagung adalah 54.52%, 25.42%, dan 16.97%, sedangkan pada pertanaman ubi jalar masing-masing sebesar 66.92%, 19.36%, dan 13.16%, serta pada pertanaman cabai masing-masing sebesar 45.13%, 44.89% dan 6.89%. Perkembangan kelimpahan artropoda predator pada tiga ekosistem pertanaman dipengaruhi oleh serasah, sedangkan curah hujan dan Collembola tidak tampak jelas pengaruhnya. Berdasarkan data yang telah dianalisis secara statistik menunjukkan bahwa rata-rata kelimpahan total artropoda predator permukaan tanah pada pertanaman jagung tertinggi dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan pertanaman ubi jalar dan cabai

    Aphis craccivora Koch (Hemiptera: Aphididae) and their control in yardlong bean field

    No full text
    Kacang panjang merupakan tanaman sayuran yang berperan sebagai sumber protein, vitamin, dan mineral. Salah satu hama penting tanaman kacang panjang adalah kutu daun Aphis craccivora. Pengendalian yang umum dilakukan petani terhadap hama ini adalah penggunaan insektisida sintetik. Studi pustaka ini bertujuan memberikan informasi tentang bioekologi kutu daun A. craccivora dan cara pengendaliannya pada pertanaman kacang panjang sebagai dasar penyusunan strategi pengendalian secara terpadu. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan metode studi pustaka. Tahapan penulisan terdiri dari perumusan masalah, pengumpulan data, analisis, dan simpulan. Berdasarkan studi pustaka, kutu daun mulai ditemukan di pertanaman kacang panjang pada fase bibit, pertumbuhan vegetatif sampai fase generatif. Perkembangan populasinya secara alami dipengaruhi oleh faktor makanan, musuh alami dan faktor lingkungan seperti curah hujan. Pengendalian kutu daun secara terpadu dapat dilakukan dengan budidaya tanaman yang baik, pemanfaatan musuh alami hama, bioinsektisida, insektisida nabati, dan insektisida sintetik sebagai alternatif terakhir. Musuh alami kutu daun antara lain Menochilus sexmaculatus, Ischiodon scutellaris, Aphidius sp., dan Lysiphlebus fabarum. Bioinsektisida Lecanicillium lecanii dan Beauveria bassiana serta insektisida nabati ekstrak daun sirsak, gulma siam, dan daun pepaya berpotensi sebagai sarana pengendalian alternatif yang aman dan ramah lingkungan.Yardlong bean is a vegetable plant that contains high protein, vitamins, and minerals. One of the important pests of the yardlong bean plant is the Aphis craccivora Koch. Farmers often control this pest by using synthetic insecticides. This literature research aims to provide information about the bioecology of A. craccivora and methods to control them in yardlong bean cultivation as the basis for developing an integrated control strategy. Data and information collection were carried out using the literature study method. The writing stages consist of problem formulation, data collection, analysis, and making conclusions. Based on literature studies, aphids appeared to become destructive in yardlong bean plantations on seedling, vegetative growth to generative phase. Aphids population development is often influenced by food factors natural enemies, and environmental factors such as rainfall. Integrated control of aphids can be carried out by good cultivation of plants, utilization of natural enemies of pests, bioinsecticides, botanical insecticides, and synthetic insecticides as a last resort. Natural enemies of aphids include Menochilus sexmaculatus, Ischiodon scutellaris, Aphidius sp., and Lysiphlebus fabarum. Bioinsecticides Lecanicillium lecanii and Beauveria bassiana as well as vegetable insecticides soursop leaf extract, siamese weeds, and papaya leaves have the potential as a means of controlling safe and environmentally friendly alternatives

    Pengaruh Perlakuan Insektisida terhadap Kelimpahan Artropoda Permukaan Tanah pada Pertanaman Jagung di Situgede.

    No full text
    Jagung merupakan tanaman potensial bagi Indonesia dan dapat diandalkan untuk mendukung keberhasilan dan diversifikasi pangan. Pengendalian hama pada tanaman jagung dengan menggunakan insektisida yang kurang tepat dapat memengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman artropoda permukaan tanah. Artropoda sebagai fauna tanah terbesar berperan dalam menjaga kesuburan tanah, dekomposisi dan humirasi bahan organik, serta pengendali hama dan penyakit tanaman. Tujuan penelitian ini adalah melihat pengaruh berbagai perlakuan aplikasi insektisida terhadap kelimpahan artropoda permukaan tanah. Penelitian dilakukan di lahan pertanaman jagung di Kelurahan Situgede, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu insektisida dengan bahan aktif lamda sihalotrin yang disemprotkan setiap minggu, setiap dua minggu satu kali, pada fase vegetatif (42 HST) dan fase generatif (56 HST), insektisida dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis yang disemprotkan setiap minggu, insektisida dengan bahan aktif serai wangi yang disemprotkan setiap minggu, dan kontrol tanpa perlakuan insektisida. Pengamatan artropoda permukaan tanah dilakukan dengan menggunakan pitfall trap. Artropoda permukaan tanah yang ditemukan didominasi oleh famili Entomobryidae dan Isotomidae (Collembola), Pheropsophus occipitalis (Carabidae), Pardosa pseudoannulata (Lycosidae), dan Formicidae. Pengaruh perlakuan insektisida tidak berbeda nyata terhadap kelimpahan artropoda permukaan tanah

    Perkembangan Populasi Tiga Hama Utama pada Tanaman Jagung (Zea mays L.)

    No full text
    Corn is an important cereal crops as a carbohydrate source for millions people in the world. That also a biggest part of people menu in developing countries. The main pests of the often problem in the cultivation corn are Rhopalosiphum maidis Fitch (Hemiptera: Aphididae), Ostrinia furnacalis Guenee (Lepidoptera: Pyralidae) and Helicoverpa armigera Hubner (Lepidoptera: Noctuidae). The aims of this study is to determine population growth and attack of aphids R. maidis, O. furnacalis, H. armigera on corn plantation. Observation of three types pests implemented on 10 plots of planting corn, each plot measuring 4 m x 5 m. Observations were made on vegetative and generative plant of maize. The observations result indicate that the population density of aphids R. maidis peaked at the age of 49 days after planting, while the natural enemies of the family Coccinellidae reach peak population at the age of plants 65 days after planting. Larvae O. furnacalis and H. armigera start found on corn cobs at age 59 days after planting. The both of pest attack symptoms can be distinguished, O. furnacalis make holes on the ends of cob and elongate, while H. armigera borer on tip of the corn cob and eat the kernel on the ends of the corn cob. The intensity of damage result by O. furnacalis and H. armigera on corn cobs is low and didn't give real effect to production. Production of corn, from the stem were attacked by O. furnacalis is not significantly different with the production of healthy stems

    Survei Hama, Musuh Alami dan Penyakit Tanaman Padi Sawah Program Upsus di Kabupaten Karawang Provinsi Jawa Barat.

    No full text
    Program Upsus (Upaya Khusus) adalah program pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padi sawah guna mencapai percepatan swasembada pangan. Sasaran Upsus adalah peningkatan indeks pertanaman (IP) sebesar 0,5 dan peningkatan produktivitas sebesar 0,3 ton/ha/GKP. Sasaran belum tercapai karena serangan hama dan penyakit. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui jumlah/jenis hama dan musuh alami dominan, intensitas serangan hama dan tingkat keparahan penyakit, pengetahuan, sikap dan tindakan petani Upsus dalam mengendalikan hama dan penyakit, melakukan kegiatan budidaya padi sawah dan implementasi pelaksanaan Upsus di tingkat petani. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Tirtajaya Kabupaten Karawang pada bulan Oktober 2018 – April 2019. Penelitian terdiri dari pengamatan langsung dan pemberian kuisioner. Pengamatan langsung dilakukan dengan menggunakan metode diagonal pada empat stadia pertumbuhan tanaman padi yaitu pada fase persemaian, fase bibit, fase vegetatif dan fase generatif. Hama dominan yang ditemukan adalah Nilaparvata lugens, Leptocorisa oratorius, Scirpophaga incertulas, Scotinophara lurida, Cnaphalocrosis medinalis, Mythimna separata dan Rattus argentiventer. Kerapatan populasi dan intensitas serangan hama relatif rendah dan berada dibawah ambang ekonomi kecuali intensitas serangan S. incertulas pada fase bibit. Hal ini disebabkan oleh keberadaan musuh alami dan aplikasi pestisida yang dilakukan secara terjadwal. Kerapatan populasi musuh alami yang ditemukan masih relatif rendah. Jenis musuh alami dominan yang ditemukan adalah Paederus sp. Penyakit dominan yang ditemukan adalah hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae), blas (Pyricularia oryzae) dan bercak coklat sempit (Cercospora oryzae) dengan tingkat keparahan penyakit yang relatif rendah. Penentuan responden kuisioner menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden yang diwawancarai sebanyak 60 orang. Sikap dan tindakan petani Upsus dalam mengendalikan hama dan penyakit masih belum mengacu pada konsep pengendalian hama terpadu yang dianjurkan Upsus

    Pengaruh samping aplikasi deltametrin terhadap Artropoda predator penghuni permukaan tanah di pertanaman kedelai

    No full text
    Side Effects of Deltamethrin Application to The Ground Surface Dwelling Predatory Arthropods on Soybean Field. Side effects of deltamethrin to the ground surface dwelling predatory arthropods were studied on soybean field in Cianjur during July to October 1998. Insecticide was applied 1-4 times. Predator abundance was observed by setting pitfall traps. The results showed that application of deltamethrin reduced the abundance of ground-surface predatory arthropods, especially lycosid and linyphiid spiders, carabid beetle and formicid. Reductions of predator abundance on the plots treated with deltamethrin were around 35% to 41%. There was no significant difference on the predator abundance among the plots treated with the insecticide at difference frequencies. Observations after application showed that predator abundance on the treated plots recovered one week after application. Deltamethrin application to the soybean with dense crown (38 and 52 days after planting) did not reduce predator abundance, especially within three day range after application. However, negative effects of deltamethrin application at early vegetative growth stage (10 days after planting) on the reduction of predator abundance continued by harvesting. The abundance of detritivorous arthropods was not affected by deltamethrin application.</p
    corecore