901 research outputs found

    Potensi Polisakarida Teripang Holothuria nobilis sebagai Antihiperkolesterolemia

    No full text
    Hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan peningkatan salah satu atau lebih profil lipid atau lipoprotein (kolesterol total, low density lipoprotein/LDL, trigliserida) dan penurunan high density lipoprotein/HDL dalam darah. Penggunaan obat-obatan dalam menurunkan kadar profil lipid telah diketahui memiliki banyak efek samping, sehingga perlu dicarikan alternatif obat alami yang dapat dimanfaatkan sebagai antihiperkolesterolemia. Perkembangan beberapa tahun terakhir, polisakarida dari teripang banyak diminati oleh peneliti karena memiliki sifat antihiperkolesterolemik. Teripang hitam (Holothuria nobilis) adalah hewan air yang banyak ditemukan di Indonesia, tetapi minimnya informasi tentang manfaat yang dimiliki oleh H. nobilis membuat banyak masyarakat tidak memanfaatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis aktivitas antioksidan polisakarida H. nobilis, menganalisis daya hambat HMG KoA reduktase, mengukur jumlah konsumsi pakan dan berat badan tikus, menguji kemampuan polisakarida H. nobilis pada tikus sebagai pencegahan maupun pengobatan hiperkolesterolemia, mengukur profil kolesterol pada tikus model hiperkolesterolemia, mengukur kadar MDA dan aktivitas SOD pada jaringan hati tikus model hiperkolesterolemia, dan menganalisis kandungan antioksidan Cu, Zn-SOD pada jaringan hati tikus model hiperkolesterolemia melalui studi immunohistokimia. Penelitian menggunakan tikus jantan Rattus norvegicus galur Sprague Dawley yang dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok pencegahan dan pengobatan. Kelompok pencegahan terdiri atas kelompok kontrol negatif/ non-hiperkolesterolemia (K-), kelompok kontrol positif/ hiperkolesterolemia (K+), dan kelompok pencegahan hiperkolesterolemia yang diberi pakan kolesterol 1% dan polisakarida H. nobilis dosis 400 mg/kg BB polisakarida H. nobilis secara bersamaan (PCh). Perlakuan pada semua kelompok pencegahan diberikan selama 28 hari. Kelompok pengobatan terdiri atas kelompok kontrol hiperkolesterolemia, yang diberi pakan 1% kolesterol selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pakan standar (Ch), dan kelompok hiperkolesterolemia yang diberi pakan kolesterol 1% selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pemberian polisakarida H. nobilis 400 mg/kg BB (ChP). Perlakuan semua kelompok pengobatan diberikan selama 56 hari. Penimbangan konsumsi pakan dilakukan setiap hari dan penimbangan berat badan dilakukan setiap 7 hari sebelum pemberian perlakuan. Pengukuran kadar profil lipid dilakukan pada hari ke-0, 28 dan 56. Pada akhir perlakuan, tikus dibius dengan menggunakan ketamine (70mg/kgBB) dan xylazine (10mg/kgBB), selanjutnya diambil organ hati untuk dianalisis kadar MDA dan aktivitas SOD serta kandungan antioksidan Cu, Zn-SOD melalui studi immunohistokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polisakarida H. nobilis memiliki aktivitas antioksidan yang lemah, sedangkan daya hambat polisakarida H. nobilis terhadap HMG KoA reduktase tinggi. Kelompok PCh memiliki jumlah konsumsi pakan yang sama (P>0.05) dengan kelompok K- dan K+, tetapi dengan pemberian polisakarida H. nobilis secara bersamaan dapat menekan peningkatan berat badan. Pemberian polisakarida H. nobilis pada kelompok ChP dapat menekan jumlah konsumsi pakan (P0.05) kelompok K-, sedangkan pada kelompok ChP lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan kelompok Ch. Imunoreaktivitas Cu,Zn-SOD terhadap hepatosit dan sitoplasma yang bereaksi dengan antibody pada kelompok PCh lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan kelompok K- dan K+ sedangkan kelompok ChP lebih tinggi (P<0.05) dibandingkan Ch. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian polisakarida teripang H. nobilis dapat diaplikasikan pada kelompok pencegahan dan pengobatan hiperkolesterolemia. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa, polisakarida H. nobilis memiliki aktivitas antioksidan yang lemah, tetapi memiliki daya hambat yang tinggi terhadap HMG KoA reduktase. Pemberian polisakarida H. nobilis dapat menekan konsumsi pakan, menstabilkan berat badan, menurunkan kadar profil lipid (kolesterol total, trigliserida, LDL) dan kadar MDA, serta meningkatkan HDL, aktivitas SOD, kandungan antioksidan Cu,Zn-SOD pada jaringan hati tikus baik pada kelompok pencegahan maupun pengobatan

    Gambaran histologis sel spermatogenik pada tikus setelah pemberian ekstrak pegagan (Centella asiatica)

    No full text
    Pegagan (Centella asiatica) is a medicinal plant that is widely used as a brain tonic but not yet known its effects on the male reproductive organs. The purpose of this study was to determine the histological appereance of spermatogenesis stages that found in testes and density of spermatozoa in the epididymis after giving a pegagan extract. This study using 16 rats that were divide into 4 treatment groups. Each treatment is given pegagan extract in different dose (0 mg/kg body weight (bw) as a control, 100 mg/kg bw, 300 mg/kg bw, and 600 mg/kg bw) orally for 8 weeks. The results showed that each pegagan extract treatment generally decreased spermatogenic cell number and density of spermatozoa in the epididymis. The percentage number of spermatogenic cells reduction in parallel to the increasing level of extract doses. The number of spermatogenic cells and density of spermatozoa in the epididymis can be reduced by giving of pegagan extract

    Staphylococcus aureus dalam Daging Ayam Suwir Bubur Ayam yang Dijual di Lingkar Kampus IPB Dramaga Bogor.

    No full text
    Kasus keracunan pangan yang disebabkan oleh toksin dari Staphylococcus aureus cukup banyak di Indonesia. Bubur ayam merupakan salah satu pangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat untuk sarapan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi cemaran S. aureus dalam daging ayam suwir bubur ayam yang dijual di Lingkar Kampus IPB Dramaga Bogor. Penelitian ini menggunakan sebanyak 15 sampel daging ayam suwir yang diperoleh dari 15 pedagang bubur ayam. Pengujian jumlah S. aureus dilakukan menggunakan metode hitungan cawan. Penghitungan jumlah S. aureus sesuai dengan aturan American Public Health Association (APHA). Hasil nenunjukkan rata-rata jumlah S. aureus adalah 720,857 CFU/g ± 2,716,447.41 CFU/g. Jumlah S. aureus dalam daging ayam suwir yang telah disuwir dari rumah pedagang lebih rendah (78,387.5 ± 53,826.84 CFU/g) dibandingkan dengan yang disuwir di tempat berjualan (954,482 ± 3,067,378.633 CFU/g). Jumlah cemaran S. aureus yang tinggi mengindikasikan bahwa pedagang bubur ayam di Lingkar Kampus IPB Dramaga masih belum menerapkan higiene personal yang baik

    Pemanfaatan pentingnya kartu perpustakaan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Klaten

    No full text
    ABSTRAK Quinta Nusara Adi Winarto. D1813065. 2016. Pemanfaatan pentingnya kartu perpustakaan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Klaten. Tugas Akhir: Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Negeri Surakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memberitaukan Mahasiswa tentang apa itu kartu perpustakaan, kegunaannya, dan pentingnya kartu perpustakaan Hasil kegiatan pemanfaatan pentingnya kartu perpustakaan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Klaten adalah mahasiswa dapat mengetahui pentingnya kartu perpustakaan, dan menghasilkan aturan baru perpustakaan tentang kartu perpustakaan. Kesimpulan dalam kegiatan ini adalah mengajarkan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Klaten untuk dapat merawat kartu perpustakaan dengan baik dan tidak mudah meminjamkannya kepada orang yang tidak bertanggung jawab. Kata Kunci : Sirkulasi, Kartu Perpustakaa

    Jumlah Mikrob dan Koliform pada Pisau saat Proses Penanganan Karkas di Rumah Potong Hewan Ruminansia Bubulak Kota Bogor.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi jumlah mikrob dan koliform pada pisau saat proses penanganan karkas di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPHR) Bubulak Kota Bogor. Sampel adalah usapan swab pada pisau penanganan karkas yaitu pisau pengulitan, pisau pemotong karkas, dan kapak. Sebanyak 12 sampel diambil untuk pengujian jumlah mikrob dan jumlah koliform untuk masingmasing pisau penanganan. Pengambilan sampel menggunakan teknik swab. Pengujian sampel dilakukan dengan metode hitungan cawan untuk pemeriksaan jumlah mikrob dan koliform. Data dianalisis secara deskriptif dan menentukan standar deviasi untuk mengidentifikasi perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan jumlah mikrob pada pisau pengulitan, pisau pemotong karkas, dan kapak berturut-turut yaitu 1.0 x 105 cfu/cm2, 1.7 x 104 cfu/cm2, dan 2.4 x 104 cfu/cm2, sedangkan rataan jumlah koliform pisau pengulitan, pisau pemotong karkas, dan kapak berturut-turut yaitu 3.2 x 103 cfu/cm2, 1.8 x 103 cfu/cm2, dan 3.2 x 103 cfu/cm2. Tingginya jumlah mikrob dan jumlah koliform dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat sanitasi dan higiene peralatan, serta kontak dengan lingkungan dan karkas. Jumlah mikrob dan koliform yang memiliki nilai paling tinggi berdasarkan 3 jenis sampel yang digunakan adalah pisau pengulitan

    Gambaran Histologis Bursa Fabricius dan Limpa Ayam Broiler yang Diberi Ekstrak Temulawak Plus (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)

    No full text
    This research was conducted to determine the histomorphological changes of bursa of fabricius and spleen after giving curcuma extract plus. Thirty six of broiler chicken were divided into 4 treatment groups, namely P0 (control), P1 (1 ppm extract of curcuma plus), P2 (3 ppm extract of curcuma plus), and P3 (5 ppm extract of curcuma plus). The observation of the evaluated tissues were done for 3 consecutive weeks. Each treatment group was taken randomly to get its bursa of fabricius and spleen. Both of organ samples then were processed for the histological and observation using a light microscope. The parameters of observation were number of bursa of fabricius follicle, diameter of bursa of fabricius follicle and number of white pulp in spleen. The results indicated that the all of parameters decrease in 3 weeks after giving 3 treatments. The three doses indicate the best result than control. It was concluded that the morphological appearance of bursa of fabricius and spleen could be influenced by using curcuma extract plus at a various dose at the period of 3 wee

    Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Biji Mahoni (Swietenia mahagoni Jacq.) Terhadap Profil Sel β Pankreas pada Tikus Diabetes Mellitus.

    No full text
    The aim of this research was to analyze the effect of ethanol mahogany seeds extract on body weight, total feed consumtion, blood glucose level, the number of beta cells and the islets of Langerhans in the pancreatic tissue of diabetic rats.This study used 25 male rats (Sprague Dawley). The rats were divided into 5 groups: (i) negative control group (K-), (ii) positive control group/diabetes mellitus (DM) (K+), (iii) DM group that was treated with 500 mg/kgBW of the ethanol mahagony seeds extract (EM), (iv) DM group that was treated with acarbose (KO), and (v) non DM group that was treated with 500 mg/kgBW of the ethanol mahagony seed extract (KE). DM condition was obtained by alloxan induction (110 mg/kgBW). The treatments were done for 28 days. Body weight, total feed intake, and blood glucose level were measured during the treatments. At the end of treatments, the pancreas tissues were then obtained and analyzed for the number of beta cells. This study showed that ethanol Swietenia mahagony seeds extract increased body weight, decrease blood glucose level and inhibit the rate of pancreatic β cells damage in the experimental diabetic rats

    Perubahan Histomorfologis Testis dan Ginjal Tikus Model Diabetes Pascapencegahan dengan Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata).

    No full text
    Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perubahan gambaran histomorofologis testis dan ginjal tikus model diabetes pascapencegahan dengan ekstrak sambiloto infusum dan sokhletasi. Tikus model terdiri atas empat kelompok. Kelompok pertama adalah tikus kontrol, yaitu tidak diberikan perlakuan apapun. Kelompok kedua adalah tikus model diabetes, yaitu dengan injeksi streptozotosin (STZ) sebagai pemicu tejadinya hiperglikemik. Kelompok ketiga adalah tikus yang diberi pencegahan dengan ekstrak sambiloto infusum dan kelompok keempat adalah tikus yang diberi pencegahan ekstrak sambiloto sokhletasi. Penelitian ini dilakukan selama 14 hari, lalu dilakukan nekropsi dengan mengambil organ testis dan ginjal yang diawetkan untuk pewarnaan Haematoxilin-Eosin. Hasil menunjukan penggunaan ekstrak sambiloto infusum dan sokhlet mengalami penurunan kadar glukosa darah,terutama pada ekstrak sambiloto infusum yang dapat menurunkan kadar glukosa hingga angka normal. Pencegahan ekstrak sambiloto infusum dan sokhletasi mampu mempertahankan keadaan sel-sel spermatogenik pada testis dan berkurangnya kejadian degenerasi, nekrosa serta endapan protein pada jaringan di korpuskulus renalis. Ekstrak sambiloto infusum lebih berpotensi dalam mencegah kasus diabetes mellitus dibandingkan dengan ekstrak sambiloto sokhletasi

    Bioakumulasi dan Sebaran Logam Berat Pb pada Ikan Kurisi (Nemipterus sp.) di Teluk Banten

    No full text
    Teluk Banten merupakan kawasan utama dari kegiatan nelayan Kabupaten Serang Provinsi Banten. Kawasan sekitar perairan Teluk Banten mulai berkembang dengan adanya kegiatan industri maupun pelabuhan perikanan. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian masyarakat namun dilain pihak membawa dampak negatif terhadap lingkungan terutama pada air teluk. Dampak negatif yang diberikan dari kegiatan tersebut diantarnya buangan limbah,industry tekstil dan aktivitas pengecatan di galangan kapal. Adanya timbal (Pb) yang masuk ke dalam ekosistem mempengaruhi biota perairan seperti mematikan ikan terutama pada fase juvenil karena tingkat toksisitasnya yang tinggi. Salah satu jenis ikan hasil tangkapan yang ditemukan di Teluk Banten adalah ikan kurisi (Nemipteru sp.). Ikan kurisi digolongkan dalam ikan demersal yang memiliki aktivitas gerak relatif rendah dengan kebiasaan ruaya yang tidak terlalu jauh. Keadaan demikian memposisikan ikan kurisi cocok digunakan sebagai objek dalam penelitian bioakumulasi logam. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengetahui kelayakan lingkungan perairan Teluk Banten bagi kehidupan biota terkait keberadaan cemaran logam Pb, (2) Menganalisis akumulasi logam berat Pb pada ikan kurisi (kulit,otot, insang) dan sebarannya secara histomorfologis pada insang, hati, ginjal, otot. Pengambilan sample dilakukan pada lima stasiun yang ditetapkan yaitu stasiun 1 (kawasan pelabuhan perikanan), stasiun 2 (kawasan industri Bojanegara), stasiun 3 (daerah transisi sebelum memasuki wilayah Pulau Panjang), stasiun 4 (bagian depan Pulau Panjang yang beratasan dengan teluk Banten), stasiun 5 (bagian belakang Pulau Panjang yang berbatasan dengan laut lepas). Penentuan konsentrasi logam Pb baik di lingkungan (air dan sedimen) maupun di jaringan ikan (otot, kulit dan insang) dilakukan dengan metode AAS (Atomic Absorption Spectrofotometric). Pengamatan sebaran logam Pb pada insang, otot, hati, dan ginjal dilakukan dengan metode histoteknik menggunakan pewarnaan logam haematoxylin, Pb akan tervisualisasi dengan warna biru dan pewarnaan rhodizonate yang akan memvisualisasikan Pb dengan warna merah kecoklatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan pada baku mutu, serta analisis uji F menggunakan ANOVA satu arah. Berdasarkan hasil analisis AAS, diketahui bahwa konsentrasi logam berat Pb baik di air maupun sedimen telah melibihi baku mutu yang diperbolehkan. Konsentrasi logam Pb di air secara berturut-turut di masing masing stasiun yakni 0,018 mg/L, 0,02 mg/L, 0,023 mg/L, 0,024 mg/L dan 0,024 mg/L, sedangkan untuk baku mutu yang diperbolehkan dari KMNLH no.51 tahun 2004 adalah sebesar 0,008 mg/L. Demikian pula konsentrasi logam Pb pada sedimen yang sangat tinggi secara berturut-turut pada masing-masing stasiun yakni 83,41 mg/Kg, 107,61 mg/Kg, 60,76 mg/Kg, 92,93 mg/Kg, dan 98,17 mg/Kg, sedangkan baku mutu yang diperbolehkan dari CCME (Canadian Council of Ministers for the Environment) (2002) adalah 30,2 mg/Kg untuk ISQG (Interim Sediment Quality Guidelines) dan 112 mgKg untuk PEL (Probable Effect Levels). Pada ikan, hasil menunjukan konsentrasi Pb baik pada kulit, otot, maupun insang telah melewati baku mutu yang ditetapkan. Insang ikan kurisi (Nemipterus sp) merupakan organ akumulator logam terbanyak pada penelitian ini dengan rata-rata sebesar 43,544 mg/Kg±21,58451 diikuti kulit dengan konsentrasi 33,256 mg/Kg±16,25153 dan otot sebesar 19,098 mg/Kg±7,949058. Analisis histologi juga menunjukan sebaran logam Pb pada, otot, ginjal, hati dan insang tersebar secara merata. Pada gambaran histomorfologi, otot merupakan organ yang mengakumulasi logam paling sedikit dibandingkan dengan ginjal, hati dan insang. Akumulasi logam pada otot yang dianalisis menggunakan AAS, tidak berasal dari serabut otot melainkan dari jaringan ikat dan pembuluh darah. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa konsentrasi logam Pb di air pada semua stasiun pengambilan sampel menunjukan nilai yang tinggi melebihi ambang baku mutu yang ditetapkan. Tinggi konsentrasi logam Pb di air memberikan pengaruh terhadap konsentrasi logam Pb pada biota yang hidup di lokasi setempat. Konsentrasi logam Pb di insang, kulit, dan otot ikan kurisi menunjukan nilai yang tinggi melebihi baku mutu. Pola sebaran akumulasi logam Pb pada insang, hati dan ginjal dapat berupa bintik yang tersebar merata maupun bergerombol

    Perkembangan Morfologi Paru-Paru Fetus Kambing Kacang dari Induk yang Diinduksi Hormon PMSG sebelum Pengawinan

    No full text
    PMSG merupakan hormon reproduksi yang berperan merangsang pertumbuhan folikel dan korpus luteum yang selanjutnya akan menghasilkan hormon kebuntingan (estrogen dan progesteron) sehingga merangsang pertumbuhan dan perkembangan uterus untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan embrio dan fetus selama periode kebuntingan. Fakta menunjukkan bahwa hormon PMSG mampu memperbaiki kondisi hormonal induk selama periode kebuntingan karena dapat meningkatkan jumlah folikel dan korpus luteum setelah penyuntikan. Informasi mengenai pengaruh pemberian hormon Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) kepada induk pada peningkatan kualitas keturunan secara umum masih kurang dan khususnya pengaruh pada perkembangan paru-paru fetus yang dikandungnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan morfologi paru-paru fetus kambing kacang dari induk yang diinduksi hormon PMSG. Evaluasi jaringan paru-paru dilakukan pada tiga paru- paru fetus dari induk yang tidak diinduksi hormon PMSG (IN), induk yang diinduksi hormon PMSG dosis 7,5 IU/kg BB (IP7,5), dan induk yang diinduksi hormon PMSG dosis 15 IU/kg BB (IP15). Sampel jaringan paru-paru selanjutnya diproses dengan teknik histologi dan pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) yang kemudian diukur menggunakan t-test pada Microsoft excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara anatomis paru-paru telah berkembang sempurna yang ditun jukkan dengan pembentukan lobus yang telah lengkap. Gambaran histologis juga menunjukkan perkembangan sistem respirasi duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveol fetus IP telah berkembang lebih besar dibandingkan dengan fetus IN. Penelitian ini dapat disimpulkan, penyuntikan hormon PMSG pada induk kambing dapat mempercepat waktu perkembangan bagian-bagian dari paru-paru yang dapat dilihat pada bagian bronkus sudah terbentuk ujung kelenjar serta perkembangan histologi paru-paru fetus IP tumbuh lebih besar dibandingkan dengan fetus IN
    corecore