1,720,976 research outputs found
Optimalisasi Peran Sains dan Teknologi untuk Mewujudkan Smart City
Smart city (kota cerdas) adalah kota yang masyarakatnya mampu mengelola sumber daya dengan efisien, dalam arti “mampu memaksimalkan investasi sumberdaya manusia, transportasi, dan infrastruktur teknologi informasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kenyamanan hidup” (Caragliu, Del, & Nijkamp, 2009). Smart city memiliki enam karakteristik, yaitu smart economy, smart mobility, smart environment, smart people, smart living, dan smart governance (Albino, Berardi, and Dangelico, 2015). Smart economy adalah pengembangan ekonomi kota yang berorientasi pada upaya untuk menyejahterakan masyarakat melalui upaya meningkatkan kegiatan-kegiatan kewirausahaan, membangun dan meningkatkan semangat produktifitas, melakukan dan meningkatkan upaya-upaya promosi produk-produk lokal, dan melakukan inovasi budaya terkait dengan e-commerce dan e-bussinesss. Smart mobility terkait dengan upaya perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur, yang lebih menekankan pada aspek aksesibilitas transportasi berbasis telekomunikasi dan informatika sebagai faktor utama untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing sebuah kota. Smart living terkait dengan paradigma yang mengacu pada efisiensi, efektvitas, dan kepraktisan dalam gaya hidup. Smart people adalah infrastruktur sosial yang terdiri atas modal intelektual dan modal sosial yang sangat diperlukan smart city karena mereka memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat, bersikap plural secara sosial dan etnis, fleksibel, kreatif, berfikiran terbuka, dan selalu terlibat dan berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan (Nam and Pardo, 2011). Smart governance atau tata kelola pemerintahan yang cerdas merupakan komponen smart city yang sangat penting karena merupakan muara inisiatif kebijakan pengembagan smart city. Aspek-aspek esensial dalam smart govenance antara lain adalah keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan dan transparansi pemerintahan serta ketersediaan layanan publik (Ministry of Environment, Sustainable, Development, and Disaster, and Beach Management, 2015). Menurut Prihadi (2016) Optimalisasi Peran Sains dan Teknologi untuk Mewujudkan Smart City 3 standar smart city yang sedang dikembangkan di Indonesia mengacu pada standar internasional tersebut
Ujian Online Sebagai Salah Satu Upaya Untuk Mempercepat Proses Penyelesaian Studi Mahasiswa Universitas Terbuka
Universitas Terbuka (UT) sebagai institusi Pendidikan Tinggi Jarak Jauh telah melakukan berbagai upaya pembenahan sistem ujian. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan Sistem Ujian Online (SUO). Pengembangan SUO untuk memberikan alternatif sistem ujian yang lebih fleksibel dan kemudahan dalam pengaturan waktu pelaksanaan ujian bagi mahasiswa. Tulisan ini bertujuan mengetahui manfaat ujian online dalam proses mempercepat penyelesaian studi mahasiswa. SUO dapat dimanfaatkan mahasiswa dalam mengatur strategi penyelesaian studi. Mahasiswa mempunyai kesempatan untuk mengikuti ujian lebih dari satu kali dalam satu semester. Selain itu, mahasiswa juga mempunyai kesempatan untuk mengikuti mata kuliah yang jam ujiannya bentrok. Sistem ujian yang ada sekarang ini belum dapat mengakomodasi mata kuliah yang diujikan pada jam ujian bentrok dalam satu semester, tetapi dengan SUO masalah tersebut dapat diatasi. Dengan demikian, mahasiswa untuk menempuh mata kuliah yang jam ujian bentrok tidak perlu menunggu pada semester berikutnya. Jadi, SUO dapat dijadikan sebagai salah satu upaya untuk mempercepat proses penyelesaian studi bagi mahasiswa UT
Peran Mikroba sebagai Biomonitoring Kualitas Perairan Tawar pada Beberapa Situ
Salah satu dampak dari peledakan jumlah penduduk dan perkembangan teknologi adalah pencemaran terhadap lingkungan. Pada batas-batas tertentu lingkungan sekitar kita masih mampu membersihkan dirinya dari segala macam zat pencemar. Namun, bila jumlahnya sudah melebihi kemampuan lingkungan, maka perlu keterlibatan manusia untuk mengatasinya. Salah satu cara untuk mengatasi pencemaran adalah dengan menggunakan mikroba. Saat ini mikroba banyak dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan karena dapat memperbaiki kualitas lingkungan perairan. Selain itu, karena mikroba mampu merespon perubahan fisika atau kimia dalam suatu lingkungan sehingga dapat digunakan sebagai indikator alami terhadap perubahan lingkungan akibat dari pencemaran air
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI PATOGEN PADA BENIH PADI DAN KEDELAI
Healthy seedlings is required in the cultivation of crops. Bad seeds can reduce the quality and quantity of crop yields. This research aim was to find a group of pathogenic bacteria rice and soybean seed from Seed Technology Experimental Garden IPB-Darmaga. The research was conducted in 2004 at the Microbiology Laboratory of the Department of Biology Faculty, Bogor Agricultural University. This research began with the isolation, followed by morphological and physiological characterization based on Bergey's Manual of Determinative Bacteriology. Morphological characterization includes the observation of the shape and colour of colonies,Gram stain test, and motility test. Physiological examination were catalase test, oxidase test, xanthomonadin test, and test poly hydroxy butyrate. Those characterizations of rice and soybean seeds samples suspected one group of pathogenic bacteria. The stydy showed that the morphology and physiology characters of colony were shape round, convex, white-yellow, Gram negative, motile, rod-shaped cells, catalase positive, oxidase negative, negative xanthomonadin, and PHB negative. Both bacterial pathogens of rice and soybean seeds showed characteristics similar to those Pseudomonas sp., so it is strongly suspected that these two bacteria are grouped into the genus of Pseudomonas sp.
Benih yang sehat diperlukan dalam budidaya tanaman. Benih tidak sehat dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan beberapa kelompok bakteri patogen benih padi dan kedelai yang berasal dari kebun percobaan jurusan Teknologi Benih IPB-Darmaga. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2004 di Laboratorium Mikrobiologi Departemen Biologi FMIPA, Institut Pertanian Bogor. Penelitian diawali dengan kegiatan isolasi, dilanjutkan dengan karakterisasi morfologi dan fisiologi berdasarkan Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology. Karakterisasi morfologi meliputi pengamatan terhadap: bentuk dan warna koloni, uji pewarnaan Gram, dan uji motilitas. Karakterisasi fisiologi meliputi uji katalase, uji oksidase, uji xanthomonadin, dan uji poly hidroksi butirat. Hasil isolasi pada masing-masing sampel benih padi dan kedelai ditemukan satu jenis bakteri patogen, yang selanjutnya dikarakterisasi secara morfologi dan fisiologi. Hasil uji morfologi dan fisiologi menunjukkan bahwa bentuk koloni bulat, cembung, warna putih-kuning, Gram negatif, bersifat motil, sel berbentuk batang, katalase positif, oksidase negatif, xanthomonadin negatif, dan PHB negatif. Kedua bakteri patogen benih padi dan kedelai memperlihatkan ciri yang sama dengan kelompok Pseudomonas sp., sehingga diduga kuat kedua bakteri tersebut dikelompokkan ke dalam genus Pseudomonas sp
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Penyempurnaan Penyajian Materi Pengukuran Plankton pada BMP Hidrobiologi (BIOL 4214) (Kasus: Keragaman Planton di Taman Wisata Alam Telaga Warna, Kecamatan Cisarua, Bogor)
Pengaruh formulasi media tanam dengan bahan dasar serbuk gergaji terhadap produksi jamur tiram putih (pleuratus ostreatus)
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi media tanam jamur tiram yang menunjukkan produksi paling tinggi. Dengan diperolehnya informasi ini diharapkan dapat memberi masukan kepada petani/pekebun tentang formulasi media tanam jamur tiram putih yang berproduksi paling tinggi. Penelitian ini dilakukan selama 6 (enam) bulan. Mulai bulan November 2000 sampai dengan bulan April 2001 , di kebun budidaya jamur tiram putih, desa Lengkong Barang, Boger. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap. dengan 5 {lima) perlakuan berupa formulasi media tanam jamur tiram yang berbeda-beda. Setiap satu formula media tanam merupakan campuran antara serbuk gergaji sebagai bahan dasar, d bekatul, gips, kapur sebagai bahan tambahan. Pengalmatan dilakukan terhadap baglog yang mengalami kontaminasi dan yang dapat membentuk z ri rdium. Selain itu, bobot segar dan bobot kering pada panen pertama serta frekuensi panen pada tiap-tiap perlakuan juga dihitung Hasil yang djperoleh menunjukkan bahwa dari 60 baglog. yang diamati, yang mengalami kontaminasi sebanyak l6 baglog dan yang tidak dapat membentuk primordium 4 baglog, jadi rata-rata keberhasilan tumbuh jamur tiram putih dalam penelitian ini adalah 67%. Hasil uji stasistik menggunakan anova dengan tingkat kepercayaan 5% menunjukkan perbedaan antar perlakuan yang ditunjukkan dengan Fhit = 13 .877 dan F1~h = 2.65 (untuk bobot basah) dan Fhit == 5.046 dan Ftah = 2.64 (untuk bobot kering). Hasil uji lanjut untuk membedakan dua perlakuan menunjukkan bahwa setiap dua pedakuan yang diuji terdapat perbedaan secara nyata antar perlakuan. Perlakuan B menunjukkan bobot tertinggi baik untuk tubuh buah basah maupun kering, kemudian diikuti oleh perlakuan E dan C. Sedang hasil terendah bobot tubuh buah segar ditunJukkan oleh perlakuan A. Bobot segar posisi keempat diduduki oleh perlakuan D dan untuk bobot kering posisi keempat diduduki oleh perlakuan A baru diikuti D. Rata-rata frekuensi panen pada semua perlakuan berkisar 2-4 kali, dan setiap kali panen rata-rara bobot tubuh buah segar mengalami penurunan. Pada penelitian ini waktu tercepat untuk melakukan panen pertama yaitu perlakuan B yang diikuti dengan perlakuan E. dengan rata-rata panen 41.25 hari dan 41.63 harl setelah i nokulasi. Sedang panen terlama dilakukan oleh perlakuan C dan A, yaitu 48.75 hari dan 48 13 hariI
- …
