1,720,990 research outputs found

    APLIKASI KHITOSAN SEBAGAI PENGAWET ALAMI TERHADAP KUALITAS IKAN ASIN MANYUNG (Arius SP) SECARA ORGANOLEPTIK DAN MIKROBIOLOGI

    Get PDF
    Ikan asin sebagai salah satu produk perikanan cukup digemari oleh masyarakat Indonesia. Khitosan sebagai alternative bahan pengawet alami juga diketahui dapat menghindari adanya belatung dan lalat pada ikan asin Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Khitosan terhadap daya awet dan kualitas ikan asin Manyung (Arius sp) secara organoleptik dan mikrobiologi. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratories. Rancangan percobaan pada penelitian adalah RAL untuk mengetahui pengaruh konsentrasi kitosan. Uji lanjut BNJ dilakukan apabila ANOVA pada perlakuan berpengaruh nyata. Data uji sensorik (organoleptik) dianalisis dengan uji statistika non parametrik Kruskal Wallis. Nilai uji organoleptik ikan Manyung 8,10, menurut SNI ikan Manyung segar tersebut masih layak dikonsumsi. Dari hasil pengujian organoleptik ikan asin Manyung tanpa khitosan (K0) 8,03 sedangkan K1 (50%), K2 (100%) dan K3 (200%) masing masing 8,0, 8,13, 7,85. Nilai rata-rata uji hedonic scale dengan pengenceran 50% (K1) adalah 7,21; pengenceran 100% (K2) nilai rata-rata uji hedonic scale adalah 7,12 dan pada pengenceran 200% mempunyai nilai rata-rata 7,15. Nilai TPC menunjukkan jumlah bakteri dari ke empat perlakuan masih layak dikonsumsi karena kurang dari 1x 105 yaitu pada K0 rata-rata jumlah bakteri 1,6x102, K1 dengan jumlah bakteri rata-rata 2,1x102. Rata-rata jumlah bakteri untuk perlakuan K2 adalah 2,06x102 dan perlakuan K3 adalah 2,6x102. Pada akhir penyimpanan (2 bulan), nilai rata-rata organoleptik K0 yaitu 7,73 sedangkan K1, K2 dan K3 masing masing mempunyai nilai rata-rata organoleptik 7,88; 7,70; 7,92. Nilai rata-rata uji hedonic scale ikan asin tanpa khitosan (K0) 6,61 sedangkan K1, K2 dan K3 masing-masing 6,45; 6,33; 6,29. Dari hasi pengujian keragaman setelah penyimpanan selama 2 bulan, uji hedonic scale ikan asin tanpa kitosan dan dengan penambahan kitosan tidak berbeda nyata (P>0,05). Nilai TPC setelah penyimpanan 2 bulan menunjukkan jumlah bakteri dari ke empat perlakuan masih layak dikonsumsi yaitu pada K0 rata-rata jumlah bakteri 350, K1 dengan jumlah bakteri rata-rata 183. Rata-rata jumlah bakteri untuk perlakuan K2 adalah 283 dan perlakuan K3 adalah 267. Penambahan kitosan pada ikan asin Manyung tidak berpengaruh nyata terhadap nilai oragnoleptik dan hedonik pada awal dan akhir penyimpanan, namun berpengaruh nyata terhadap jumlah bakteri pada akhir penyimpanan (2 bulan). Daya hambat bakteri terbaik ditunjukkan pada perlakuan penambahan larutan kitosan dengan pengenceran 50% (K1). Kata kunci : ikan asin manyung (Arius sp), kitosan, organoleptik, hedonik, TP

    Buku Ajar Dasar-Dasar Teknologi Pengolahan Ikan

    Get PDF
    Kemajuan teknologi pengolahan hasil perikanan meningkat dengan pesat dewasa ini, meskipun demikian referensi-referensi tentang pengolahan hasil perikanan masih sangat sedikit. Buku ini mencoba menyajikan pengetahuan teori tentang dasar-dasar teknolohi pengolahan hasil perikanan mulai dari ruang lingkup bidang perikanan, potensi perikanan di indonesia, cara-cara pengolahan sampai alat-alat yang digunakan dalam pengolahan hasil perikanan. Disamping itu juga disajikan hasil-hasil penelitian yang dapat dijadikan acuan bagi para mahasiswa, ilmuwan dan masyarakat umum yang berminat mempelajari dasar-dasar teknologi pengolahan ikan

    Pengaruh Penambahan Komponen Fenolik Teroksidasi terhadap Karakteristik Gel Surimi Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)

    Get PDF
    Penambahan komponen fenolik teroksidasi pada surimi telah dikaji pada beberapa spesies ikan laut, namun demikian penggunaannya pada ikan air tawar belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan memperoleh teknologi pembuatan surimi dari ikan lele dengan penambahan komponen fenol teroksidasi yang berbeda untuk peningkatan kekuatan gel. Penambahan komponen fenolik asam tanat dan ekstrak teh teroksidasi dengan konsentrasi yang berbeda (0-0,5%) berdasar kandungan protein berpengaruh nyata terhadap karakteristik gel surimi lele dumbo. Gel surimi dengan penambahan asam tanat teroksidasi 0,5% (K0,5) dan ekstrak teh 0,4% (T0,4) meningkatkan deformasi masing-masing 41,5% dan 48,88%. Kekuatan gel meningkat 62% setelah ditambah asam tanat teroksidasi 0,5%. Penambahan ekstrak teh 0,4% meningkatkan kekuatan gel 70,17%. Nilai expressible moisture content menurun 34,55% dan 44,85% masing-masing setelah ditambah asam tanat teroksidasi 0,5% dan ekstrak teh teroksidasi 0,4%. Derajat putih menurun seiring dengan bertambahnya konsentrasi komponen fenolik teroksidasi. Hasil uji sensori menunjukkan bahwa penambahan komponen fenolik teroksidasi berpengaruh positif terhadap uji lipat dan uji gigit namun demikian tidak berpengaruh terhadap uji kesukaan. Gel dengan penambahan komponen fenolik teroksidasi seluruhnya menunjukkan struktur dengan serat yang halus dan kompak dibanding kontrol. Konsentrasi optimum yang dapat digunakan untuk meningkatkan karakteristik gel surimi lele adalah 0,5% pada asam tanat dan 0,4% pada ekstrak teh Kata kunci : ikan lele, karakteristik gel, komponen fenolik teroksidasi, surim

    Pemanfaatan Bahan Tambahan Alami Berbasis Hasil Perikanan dalam Peningkatan mutu dan Produksi Tahu

    Get PDF
    Sebagai sumber protein nabati, tahu mempunyai nutrisi yang cukup baik. Tahu yang baik mempunyai tekstur yang lembut, kenyal dan tidak mudah hancur, Sebagian pr:dusen tahu masih menggunakan bahan tambahan berbahaya untuk menambah kekenyalan produk, Produsen tahu memerlukan alternatif bahan alami untuk pengenyal tahu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan alami terhadap kualitas tahu. Penelitian dilakukan secara eksperimen di Laboratorium dengan rancangan percobaan faktorial dengan 2 faktor yaitu faktor jenis bahan alami (karagenan, alginat dan chitosan) dan konsentrasi (0,5%; 1% dan 1,5%). Parameter yang diamati adalah nilai kekerasan (hardness), Proksimat (protein, air, lemak, abu dan karbohidrat) dan organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi dan jenis berpengaruh nyata terhadap nilai kekerasan tahu. Nilai kekerasan terbaik yaitu 305,23 gf pada tahu dengan kitosan 1,5%. Kitosan 1 5% mampu meningkatkan nilai hardness tahu kontrol hingga 41 % lnteraksi jenis dan konsentrasi bahan alami hanya berpengaruh nyata pada nilai kadar lemak, namun pada kadar protein, air, abu dan karbohidrat menunjukkan masing-masing faktor berpengaruh nyata. Nilai Organoleptik tahu dengan bahan tambahan alami masing-masing dibandingkan dengan kontrol menunjukkan karagenan dan alginat berpengaruh nyata pada spesifikasi kekompakan dan rasa asam, sedangkan spesifikasi kelunakan, warna dan rasa langu tidak berbeda. Nilai organoleptik tahu kontrol dengan tambahan karagenan dan alginat menunjukkan pr rlakuan kontrol lebih baik dengan tekstur kompak dan rasa tidak asam. Pada tahu dengan tambahan kitosan menunjukkan semua spesifikasi tidak berbeda nyata bila dibandingkan dengan kontrol. Tahu dengar penambahan kitosan 1,5% merupakan perlakuan terbaik dengan nilai hardness tertinggi dan organoleptik menunjukkan spesifikasi kompak, agak lunak, putih, tidak langu dan agak tidak asam. Kata kunci: tahu, bahan tambahan alami, pengganti borak dan formali

    BUKU AJAR GIZI IKANI

    Get PDF
    ikan telah banyak dikenal sebagai bahan pangan yang bergizi tinggi. Daging ikan mengandun senyawa-senyawa kimia yang sangat berguna bagi manusia, yaitu protein, lemak, sedikit karbohidrat, vitamin dan garam-garam mineral. Kandungan air terdapat dalam jumlah yang besar kemudian diikuti oleh protein. Oleh karena ikan mengandung kadar protein yang tinggi, maka ikan merupakan sumber protein hewani yang sangat potensial. Dari protein yang ada pada ikan diperoleh berbagai asam amino esensial dan asam amino non-esensial. Dibandingkan dengan nilai gizi daging hewan darat, misalnya daging sapi, kedudukan ikan bisa dikatakan jauh lebih tinggi, sedangkan dibandingkan dengan telur kedudukan ikan sebagai bahan pangan juga tidak jauh berbeda. Ikan juga mempunyai nilai biologis yang tinggi karena daging ikan mudah dicerna.Mata kuliah Gizi Ikani diberikan sebagai mata kuliah wajb agar mahasiswa mempunyai kemampuan untuk menjelaskan kandungan dan nilai gizi pada ikan dan hasil perikanan lainnya serta parameter yang mempengaruhinya dan membekali mahasiswa agar terampil dalam melakukan analisis komposisi kimia hasil perikanan, mendemonstrasikan cara analisis gizi yang terdiri dari kadar protein, lemak, air, mineral dan vitamin pada ikan

    KARAKTERISASI ENZIM KATEPSIN DARI IKAN PATIN (Pangasius sp)

    Get PDF
    Enzim katepsin merupakan enzim penting yang berperan dalam prases pelunakan daging ikan selama prases kemunduran mutu. Aktivitas enzim ini sangat berpengaruh terhadap proses kemunduran mutu ikan . Oleh karena itu, perlu diketahui karakteristik enzim tersebut dalam proses kemunduran mutu sehingga dapat mengambil langkah yang tepat dalam penanganan dan pengolahan ikan. Tuiuan penelitian ini adalah mengekstrak enzim katepsin dari ikan patin dan menentukan karakter enzim katepsin yang berasal dari ikan patin. Penelitian ini dilakukan dua tahap yaitu ekstraksi enzim kasar dan pengendapan dengan amoniusulfat. Hasil penelitian ekstrak kasar (crude ekstrak) enzim katepsin menunjukkan aktivitas spesifik 0,457 U/mg, enzim tersebut dapat diendapkan dengan menggunakan ammonium sulfat 60%. Pengendapan dengan renggunakan ammanium sulfat menghasilkan aktivitas spesifik 0,23 kali. Enzim katepsin mempunyai suhu aptimum 50 ºC dan pH optimum 6, kansentrasi substrat optimum 6% dengan nilai aktivitas 0,8167 U/ml. Berat enzim katepsin kasar hasil SDS-PAGE 12,97-55,49 kDA dan berat malekul enzim diduga mempunyai aktivitas proteolitik pada analisis zymogram adalah 28,88 kDa Kata kunci: enzim, katepsin, karakteristik, ikan pati

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore