1,722,357 research outputs found
Analisis Putusan Nomor 1618/PID/2009/PN.TNG Atas Putusan Bebas Terhadap Terdakwa Pemilik Narkotika / oleh Anton Wijanarko NG
abstrak (A) Nama : Anton Wijanarko NG (B) NIM : 205090196 (C) Judul Skripsi: Analisis Putusan Nomor 1618/PID/2009/PN.TNG Atas Putusan Bebas Terhadap Terdakwa Pemilik Narkotika (D) Halaman:vii+89+ Lampiran, 2013 (E) Kata Kunci: Putusan Bebas, Terdakwa, Pemilik Narkotika (F) Isi : Pada putusan Nomor: 1618/PID/2009/PN.TNG, terdakwa Ridwan Rosadi telah mengakui memiliki barang bukti berupa ganja 1 (satu) bungkus kertas koran daun ganja, 1 (satu) linting daun ganja dan 1 (satu) bungkus kertas Papier dan didakwa bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak dan melawan hukum memiliki Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman sebagaimana diatur Pasal 78 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika Jo Pasal 55 Ayat (1) ke 1 KUHP. Dalam amar putusannya, Hakim menyatakan bahwa terdakwa tidak terbukti bersalah dan membebaskan terdakwa dari segala tuntutan. Permasalahannya adalah apakah putusan majelis hakim pengadilan tangerang yang membebaskan terdakwa sesuai dengan fakta-fakta persidangan. Metode penelitian yang digunakan untuk meneliti permasalahan tersebut adalah metode penelitian normatif yang bersifat deskriptif. Metode penelitian normatif yaitu penelitian hukum kepustakaan yang merupakan cara untuk mendapatkan data yang berasal dari bahan pustaka atau data sekunder. Dari penelitian diketahui bahwa pemberian putusan bebas terhadap Ridwan Rosadi dengan dasar pertimbangan tidak terpenuhinya salah satu unsur yaitu unsur tanpa hak melawan hukum menguasai Narkotika Golongan I adalah tepat, karena sesuai dengan fakta-fakta persidangan dan para saksi membenarkan bahwa Ridwan Rosadi dijebak oleh oknum aparat kepolisian, terdakwa menyangkal keterangan pada Berita Acara Pemeriksaan karena saat penyidikan terjadi penganiayaan kepada terdakwa serta saksi Sofyan Nur. Sebaiknya Hakim harus lebih mengedepankan rasa keadilan serta menjamin kepastian hukum berdasarkan ketentuan suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga putusan yang diberikan kepada terdakwa mempunyai kewibawaan dan diterima secara lapang dada oleh para pihak. (G) Acuan: 22 (1973-2010) (H) Pembimbing : Yuwono Prianto, SH., MH. (I) Penulis: Anton Wijanarko N
PROSES KREATIF WIJANARKO DALAM PENCIPTAAN KARYA TARI EKSOTIKA KEMUKUS
Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan elemen Tari Eksotika Kemukus dan proses kreatif Wijanarko dalam Tari Eksotika Kemukus. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan koreografi. Hasil dari penelitian ini menyajikan deskripsi Tari Eksotika Kemukus yang diciptakan oleh Wijanarko pada tahun 2022 berdurasi 15 menit. Judul tari terinspirasi dari keindahan yang ada di Kemukus. Tema Tari Eksotika Kemukus adalah mengungkapkan suasana kerakyatan kegotongroyongan. Tari Eksotika Kemukus ditarikan oleh 20 penari dengan menggunakan properti diantaranya penjor, umbul-umbul, alat puja pinandhita (bokor), lonceng ganta, tintir, keranjang, pecut, caping, tenggok, garu/garbu, tampah, dan jala. Rias dan kostum yang digunakan berbeda-beda sesuai dengan peran penari. Ruang yang digunakan adalah berbentuk pendopo. Proses kreatif Wijanarko dipengaruhi oleh kepribadian Wijanarko yang tekun dan kreatif. Proses diawali dengan riset mengenai Kemukus, eksplorasi gerak untuk menyampaikan nilai dan makna , eksplorasi properti untuk menggambarkan profesi masyarakat Kemukus, eksplorasi musik untuk mendukung suasana, penggabungan gerak dan musik, dan menghasilkan produk Tari Eksotika Kemukus.
Kata kunci : Eksotika Kemukus, Elemen-elemen, dan Proses Kreati
PROSES KREATIF WIJANARKO DALAM TARI JANUR KUNING DI KABUPATEN SRAGEN
PROSES KREATIF WIJANARKO DALAM TARI JANUR KUNING DI KABUPATEN SRAGEN (Syah Fitri Ken Rahmawati, 2022) Skripsi Program S-1, Jurusan Seni Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Tari Janur Kuning adalah sebuah karya tari yang diciptakan oleh Wijanarko pada tahun 2021 di Kabupaten Sragen. Tari Janur Kuning merupakan tari kreasi baru kelompok kerakyatan yang terinspirasi dari cerita nyata Pangeran pada jaman dahulu. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis serta mendeskripsikan bagaimana proses kreatif dan bentuk sajian yang dilakukan Wijanarko sebagai koreografer dalam menciptakan karya tari Janur Kuning. Metode yang dipakai adalah deskriptif analitik yang bersifat data kualitatif. Permasalahan tersebut dibahas menggunakan landasan teori pemikiran Rhodes dalam kutipan Utami Munandar, serta landasan bentuk menurut Y Sumandiyo Hadi yang didalamnya terdapat beberapa elemen – elemen diantaranya (1) Judul tari; (2) tema tari; (3) gerak tari; (4) ruang tari; (5) rias dan kostum; (6) Properti tari; (7) mode atau cara penyajian (8) musik tari; (9) tipe atau jenis tari; (10) penari; (11) lighting atau tata cahaya. Hasil penelitian dari bentuk sajian menunjukkan bahwa tarian ini dapat ditarikan oleh semua kalangan dan tidak terpatok pada jumlah penari serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan panggung. Tetapi untuk aransementnya sudah dipatenkan oleh koreografer. Karakter yang ditunjukkan dalam tari Janur Kuning adalah seorang prajurit gagah berani yang akan maju ke medan perang. Karya ini divisualisasikan melalui gerak tradisi yang dipadukan dengan gerak kontemporer dengan menggunakan busana keprajuritan, musik tari menggunakan gamelan Jawa dan vocal atau tembang sebagai penguat suasana yang ada dalam tari Janur Kuning
TARI BAJUL MAHAMBARA KARYA WIJANARKO DI KABUPATEN SRAGEN
The research entitled "Tari Bajul Mahambara Karya Wijanarko di Kabupaten Sragen" is a new creation composed by Wijanarko which focuses on choreographic analysis and working on Bajul Mahambara Dance. This research aims to describe choreography and work on Bajul Mahambara dance. Basically assumption that Bajul Dance The Mahambara is composed by Wijanarko based on the dance style of Surakarta style that is packed through the process of development.
The problems that are studied in this research are how to choreograph Bajul Mahambara Dance by Wijanarko in Sragen Regency; & How to work and the formation of Wijanarko's motion in composing Bajul Mahambara Dance. To answer these problems, this researcher uses several analytical blades such as the concept of choreography according to Y. Sumandiyo Hadi there are elements of choreography that is; 1) dance title, 2) dance theme, 3) dance description, 4) dance moves, 5) dance room, 6) dance music, 7) dance type, 8) fashion or way of presentation, 9) dancer, and 10 ) dressing and costumes (2003: 60-74) and Rahayu Supanggah about the concept of work that includes; (1) Garage material, (2) Cultivator, (3) Facility, (4) Determination or determination, (5) Consideration Garap.
The method used qualitative, observation, study library. The results showed that choreographed Mahajara bajul dance entered in Surakarta style gagah dance which is formed from choreographic motion elements and work on Bajul Mahambara dance and use a crocodile and crocodile dress that uses crocodile-like rhythms as well as vocal dominance and pattern in the cultivation gendhing. The conclusion of this research Bajul Mahambara Dance using motion motion which is the development of traditional dance motif style Surakarta in included with the development of motion in Bajul Mahambara Dance
KREATIVITAS WIJANARKO DALAM TARI RONGGENG KRATON ING ALAGA DI KABUPATEN SRAGEN
Penelitian dengan judul “Kreativitas Wijanarko dalam Tari Ronggeng Kraton Ing Alaga di Kabupaten Sragen” merupakan karya baru yang disusun oleh Wijanarko yang memfokuskan pada kreativitas Wijanarko dan bentuk pada Tari Ronggeng Kraton Ing Alaga di Kabupaten Sragen. Untuk mendapat jawaban dari permasalahan tersebut, peneliti menggunakan beberapa pisau analisis seperti konsep kreativitas menurut Munandar dalam bukunya yang berjudul “Kreativitas dan Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat” yaitu kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang telah ada sebelumnya, yaitu semua pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh seseorang selama hidupnya, dan konsep koreografi menurut Sumandyo Hadi dalam buku berjudul “Aspek-aspek dalam Koreografi Kelompok”. Nilai-nilai kreativitas dalam tari Ronggeng Kraton Ing Alaga dianalisis dengan melihat elemen pribadi, faktor pendorong, proses, dan hasil. Selanjutnya bentuk tari Ronggeng Kraton Ing Alaga dianalisis dengan melihat elemen koreografi yang meliputi tema tari, judul tari, penari, gerak tari, musik tari, rias dan busana, properti tari dan pola lantai. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif.
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa, kreativitas dapat dilihat dari kemampuan Wijanarko mengaktualisasikan ide gagasan dan mengimplementasikan pengalamannya dalam karya Tari Ronggeng Kraton Ing Alaga. Muatan kreatif dalam tari Ronggeng Kratan Ing Alaga, terlihat pada garap mediumnya, yaitu: meng-elaborasi, mengkombinasi, mengadopsi dari materi yang sudah ada dan modifikasi pada garap medium lainnya, seperti rias, busana, properti dan pola lantai
Hubungan antara mutasi pegawai dengan prestasi kerja pegawai Hendro Wijanarko
Setiap perusahaan yang didirikan besar maupun kecil tidak terlepas dari tujuan untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Untuk mencapai tujuan diperlukan adanya koordinasi antara fungsi-fungsi yang ada, tidak terkecuali bidang personalia. Untuk meningkatkan prestasi kerja dapat dilakukan melalui pendidikan dan latihan, promosi, dan perpindaha
Nilai-nilai Edukatif dalam Wayang Purwa Lakon “Rabine Bambang Wijanarko”
. Puppet show becomes alast option for teenagers when they get some alternative shows. This is a verypathetic phenomenon as the generation has no longer been interested to theirown asset. Thus, people who love and care about puupet should find a way tomake puppet show live because in the story we can get great life values andmoral teaching. A nation is strong when it has good and firm characters. Thisarticle talks about some educative values which have relations to values ofpoliteness and firm and strong will of the main characters of the puppet showentitled “Rabine Bambang Wijanarko”. The educative values are traced andanalized from dialogues of the main characters with the supporting character
- …
