1,720,970 research outputs found
Magic box; wadah penyimpanan pada pematangan buatan (artificial ripening) buah pepaya untuk mengurangi kerusakan selama distribusi hasil pascapanen
Buah-buah tropika merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki propek usaha yang sangat bagus di Indonesia. Hal tersebut menjadi peluang besar bagi petani untuk mengembangkan usaha buah-buah tropika salah satunya adalah buah pepaya. Salah satu daerah produksi buah-buah tropika adalah kota bogor. Kota Bogor yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi, suhu yang relatif rendah, dan kelembapan yang tinggi, sangat berpotensial dalam budidaya buah-buahan tropika namun kondisi tersebut menyebabkan wadah yang dipakai pedagang buah selama ini tidak cukup berhasil melindungi buah dari masuknya kotoran, benturan, goresan, kontak sinar matahari secara langsung, fluktuasi suhu, dan sebagainya. Sehingga menyebabkan kerusakan atau pembusukan pada buah. Padahal untuk menghasilkan buah-buahan dengan kualitas yang baik, ditentukan juga oleh faktor penanganan pasca panen salah satunya adalah penyimpanan dan pengangkutan. Melihat pentingnya wadah pengangkutan dan penyimpanan buah tersebut maka model wadah yang dikembangkan memperhatikan desain wadah yang mampu menahan panas, tersedianya sirkulasi udara, menjaga kelembapan dalam wadah, kekuatan dan ketahanan wadah, serta kemudahan dalam penggunaannya. Penyempurnaan desain Magic Box dilakukan dengan menambahkan beberapa bahan tambahan dalam pembuatan papan partikel sekam yakni zeolit sebagai penyerap air yang dihasilkan pada saat respirasi, chitosan yang berfungsi sebagai anti mikroba, serbuk gergaji dan KMnO4 dalam bentuk bungkusan di dalam wadah penyimpanan. Berdasarkan hasil demonstrasi alat yang dilakukan di Laboratorium Pasca Panen IPB menunjukkan bahwa magic box dapat menghambat pematangan pada pepaya lebih lama menjadi rata-rata 10-13 hari. Adapun modifikasi Magic Box yang dihasilkan berupa rak magic, refilll magic, mutiguna magic. Rak magic dibuat untuk penyimpanan dalam skala besar sehingga lebih praktis.Dikt
Pengelolaan Pemangkasan Produksi Apel (Malus sylvestris Mill.) Di Agrowisata Krisna, Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur
Kegiatan magang bertujuan untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman tentang aspek produksi, teknis, dan pengelolaan perkebunan apel pada kondisi yang sebenarnya, serta mempelajari pengelolaan usaha perkebunan apel dengan aspek khusus pengelolaan pemangkasan produksi. Magang dilakukan 16 Februari-16 Juni 2010 di Agrowisata Krisna, Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur. Kegiatan magang yang dilakukan selama empat bulan meliputi pekerjaan langsung di lapangan sebagai karyawan lapangan selama satu bulan dan sebagai asisten manajer selama tiga bulan. Kegiatan yang dikerjakan di lapangan sebagai karyawan lapangan meliputi penyulaman tanaman, perompesan, pemangkasan, pelengkungan cabang, pengendalian OPT, pemanenan, dan pengelolaan pasca panen. Kegiatan yang dilakukan sebagai asisten manajer yaitu mengawasi kegiatan karyawan lapangan, mengorganisasikan karyawan, serta membuat laporan kebutuhan fisik dan biaya operasional. Kegiatan lain yang dilakukan antara lain studi banding ke kebun apel di sekitar perusahaan. Pengamatan pengelolaan pemangkasan produksi dilakukan terhadap tanaman contoh yang dipilih secara acak pada satu blok dengan jumlah tanaman sebanyak 800 tanaman. Jumlah tanaman contoh yang dipilih sebanyak 10 tanaman apel kultivar Rome Beauty dan 10 tanaman apel kultivar Manalagi. Lima tanaman dari masing-masing kultivar dipangkas dengan selisih waktu satu minggu, yaitu pada 14 dan dan 21 hari setelah panen. Pengamatan difokuskan pada peubah pembungaan dan pembentukan buah yang meliputi jumlah tunas campuran per cabang, jumlah tunas vegetatif per cabang, waktu pembungaan, jumlah bunga per cabang, tingkat kerontokan bunga, jumlah buah per tanaman, dan pertumbuhan buah. Pengamatan-pengamatan tersebut dilakukan pada tiga cabang per tanaman contoh yang telah dipilih. Pemangkasan produksi yang dilaksanakan di Agrowisata Krisna sudah dilakukan dengan baik secara teknis, dilihat dari persentase pecah tunas campuran yang lebih banyak dibanding persentase pecah tunas vegetatif baik pada Rome Beauty maupun Manalagi. Persentase pecah tunas campuran pada kultivar Rome Beauty mencapai 75.53 % pada tanaman yang dipangkas 14 hari setelah panen dan 82.24 % pada tanaman yang dipangkas 21 hari setelah panen. Persentase pecah tunas campuran pada kultivar Manalagi mencapai 55.81% pada tanaman yang dipangkas 14 hari setelah panen dan 44.10 % pada tanaman yang dipangkas 21 hari setelah panen. Waktu pemangkasan produksi yang tidak serempak menyebabkan adanya tingkat perkembangan yang berbeda antara tanaman yang satu dengan yang lain dalam satu blok, antara lain pada peubah pertambahan jumlah tunas vegetatif dan pertambahan tunas campuran pada Rome Beauty dan Manalagi, serta jumlah buah pada Rome Beauty. Pemangkasan pada 14 hari setelah panen memberikan hasil lebih baik daripada pemangkasan pada 21 hari setelah panen dilihat dari jumlah tunas campuran per cabang, jumlah bunga, serta pertumbuhan buah
Optimasi Waktu Panen Pisang Cavendish berdasarkan Akumulasi Satuan Panas.
Buah pisang sangat disukai oleh masyarakat karena memiliki nilai gizi
yang baik dengan harga yang relatif terjangkau dan tidak bermusim. Buah pisang
merupakan buah klimakterik dengan daya simpan yang pendek. Tujuan penelitian
ini adalah mempelajari karakter kematangan pascapanen buah pisang Cavendish
dari beberapa umur petik dan menentukan saat panen terbaik dengan akumulasi
satuan panas. Percobaan dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juli 2017 di
Kebun Parakansalak PT. Perkebunan Nusantara VIII, Sukabumi dan
Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut
Pertanian Bogor. Percobaan ini menggunakan rancangan kelompok lengkap
teracak (RKLT) dengan 4 umur petik yaitu 80, 85, 90, dan 95 hari setelah antesis
(HSA), 6 ulangan sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Hasil penelitian
menunjukkan umur petik terbaik untuk pisang Cavendish adalah 80-85 hari
setelah antesis (HSA) dengan masa simpan yaitu 17-18 hari serta satuan panas
sebesar 1.355,92-1.431,42 °C hari. Semakin cepat umur petik buah maka semakin
lama masa simpannya sedangkan semakin lama umur petik buah semakin cepat
masa simpannya. Umur panen tidak mempengaruhi bobot per buah, kelunakan
kulit buah, edible part, dan kualitas kimia buah. Umur panen mempengaruhi
bobot awal per 6 buah, kelunakan daging buah dan susut bobot buah dengan pola
yang tidak beraturan
Evaluasi Kematangan Pascapanen Pisang Barangan untuk Menentukan Waktu Panen Terbaik Berdasarkan Akumulasi Satuan Panas.
Buah pisang termasuk buah klimakterik dengan umur simpan pendek. Penanganan pascapanen buah pisang bertujuan untuk mempertahankan kualitas dan umur simpan buah. Tingkat kematangan buah ketika dipanen dapat mempengaruhi kualitas buah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbedaan umur petik terhadap kriteria kematangan pascapanen dan menentukan umur petik terbaik pisang Barangan berdasarkan akumulasi satuan panas. Percobaan dilaksanakan di PT. Perkebunan NusantaraVIII Kebun Parakan Salak, Sukabumi, Jawa Barat dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Percobaan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak dengan 5 perlakuan umur petik: 68, 73, 78, 83, dan 88 hari setelah antesis (HSA). Setiap perlakuan diterapkan pada 5 tandan sebagai ulangan. Buah pisang Barangan dapat dipanen pada umur petik 78 HSA dengan akumulasi satuan panas sebesar 1.200-1.250 0C hari dan umur simpan mencapai 13-14 hari setelah panen (HSP). Buah pisang Barangan dengan umur petik lebih tua lebih cepat mencapai kematangan pascapanen dibandingkan buah dengan umur petik muda. Perlakuan umur petik 68-88 HSA mempengaruhi bobot buah, susut bobot, kekerasan kulit buah, kandungan vitamin C, padatan terlarut total (PTT), asam terlarut total (ATT), dan rasio PTT/ATT, namun tidak mempengaruhi kekerasan daging buah dan edible part
Studi Penggunaan Oksidan Etilen dalam Penyimpanan Pascapanen Buah Pisang Raja Bulu (Musa sp. AAB Group).
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas jumlah kemasan oksidator etilen untuk memperpanjang umur simpan. Oksidan etilen yang digunakan adalah campuran kalium permanganat (KMnO4) dan tanah liat. Penelitian dilaksanakan dalam percobaan yang berlangsung dari bulan April 2012 sampai dengan Mei 2012 di Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak (RKLT) faktor tunggal dengan lima perlakuan dan lima ulangan. Pengamatan yang dilakukan berupa pengamatan destruktif dan non destruktif. Pengamatan non destruktif meliputi pengukuran indeks skala warna kulit buah dan susut bobot buah pada 3, 6, 9, 12, 15, dan 16 hari setelah perlakuan (HSP). Pengamatan destruktif dilakukan pada 3, 6, 12, 15, dan 16 HSP untuk mengukur kekerasan kulit buah, edible part, padatan terlarut total (PTT), asam tertitrasi total (ATT), dan vitamin C. Daya simpan buah terpanjang (15 hari penyimpanan) dan daya simpan terpendek yaitu 13 hari penyimpanan. Perlakuan pembungkus bahan oksidan etilen (tanah liat + KMnO4) dapat menurunkan susut bobot buah pisang. Perlakuan pembungkus bahan oksidan etilen tidak mempengaruhi indeks skala warna kulit buah, bagian buah yang dapat dimakan (edible part), PTT, vitamin C kecuali pada 12 HSP, kekerasan kulit buah kecuali pada 16 HSP, susut bobot buah kecuali pada 6, 9, 12 HSP, ATT dan rasio PTT dengan ATT. Perlakuan oksidan etilen dengan pembagian pembungkus dapat meningkatkan daya simpan buah tiga hari lebih lama dibandingkan kontrol. Dengan demikian pembagian pembungkus yang terbagi dalam satu bungkus dengan dosis 30 g bahan oksidan etilen dapat direkomendasikan untuk digunakan dalam penyimpanan buah pisang Raja Bulu
Aplikasi Padobutrazol Untuk Meningkatkan Penampilan Tanaman Cabai (Capsicum sp) Sebagai Tanaman Hias dalam Pot
Penelitian ini diIakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pacIobutrazoI terbadap penampilan genotipe cabai sebagai tanaman hias dalam pot. Penelitian dilakukan di Rumah Kaca Leuwikopo dan pengamatan jumlah stomata diIakukan di Laboratorium Ekofisiologi, Departemen Agronomi dan Hortikultura, lnstitut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan daIam percobaan petak terpisah dengan rancangan acak kelompok (RAK) terdiri atas dua faktor perlakuan yaitu genotipe sebagai petak utama dan pacIobutrazoI sebagai anak petak. Enam genotipe cabai yang digunakan yaitu Genotipe 9 ( G1), Genotipe 12 ( G2), Genotipe 20 (G3), Genotipe 21 (0G4), Genotipe 26 ( G5) dan Genotipe 27 ( G6). Genotipe 9, 20, 26 dan 27 merupakan spesies dari Capsicum annuum sedangkan Genotipe 21 lermasuk spesies dari Capsicum frutescens ( Gultom, 2006 dan Rosyadi, 2007). PacIobutrazoI diaplikasikan daIam empal taraf konsentrasi yaitu 0 ppm, 15 ppm, 30 ppm, dan 45 ppm
Pengaruh konsentrasi nitrogen dan sukrosa terhadap produksi umbi mikro kentang kultivar granola
The problem of potato production in Indonesia is the production of high quality virus free propagules. The virus free potato propagules is derived from microtuber through tissue culture methods. The experiments was conducted in two steps : the first steps was the production of shoot on semisolid medium and the second steps was the addition of liquid medium. The first and the second medium has the same treatment combination of nitrogen and sucrose. The experiment was arranged in Completely Randomized Design consist of two factor. The first factor was nitrogen concentration (30, 60, 90 and 120 mM) and the second factor was sucrose concentration (30, 45, 60, 75 and 90 g/l). The result showed there was an optimum concentration of sucrose and combination between nitrogen and sucrose on the number of shoots, number of tubers and percentage of tuber dry weight. The treatment of 60 mM nitrogen and 60 g/l sucrose produced the highest numbers of qualified microtubers.Salah satu masalah dalam budidaya kentang di Indonesia adalah penyediaan bibit melalui pengembangan propagul kentang bermutu. Usaha untuk mendapatkan bibit kentang yang berkualitas baik dapat dilakukan melalui teknik kultur jaringan berupa umbi mikro. Komposisi media merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi umbi mikro. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi nitrogen yang optimum untuk pertumbuhan stek dan pengumbian mikro kentang, mengetahui konsentrasi sukrosa yang optimum untuk pertumbuhan stek dan pengumbian mikro kentang dan mengetahui kombinasi antara konsentrasi nitrogen dan sukrosa yang optimum untuk pertumbuhan stek dan pengumbian mikro kentang. Penelitian ini terdiri dari dua tahap percobaan: pertama pengaruh konsentrasi nitrogen dan sukrosa pada pertumbuhan stek mikro kentang dan kedua pengaruh konsentrasi nitrogen dan sukrosa pada pengumbian mikro kentang. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi nitrogen dengan 4 taraf ( 30, 60, 90 dan 120 mM). Faktor kedua adalah konsentrasi sukrosa dengan 5 taraf ( 30, 45, 60, 75 dan 90 g/l). Data diuji dengan Sidik ragam (uji F), uji beda nilai tengah menggunakan DMRT dan uji Polinomial Orthogonal
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
