1,720,969 research outputs found
Korelasi derajad lesi dermatitis atopik terhadap koloni Staphylococcus aureus dan Asosiasi derajad lesi dermatitis atopik terhadap Staphylococcus aureus enterotoxin-B"
Staphylococcus aureus is one of the triggers that can affect the extent of Atopic Dermatitis (AD) both in the colony form and its toxin. The toxins produced by S.aureus are Staphylococcus enterotoxin-A (SE-A), SE-B, SE-C, SE-D, SE-E and TSST-1, and SE-B to the most influential toxin toward the stage of AD's lesion.
The aim of this study is to reveal the correlation between the stage of lesion in AD toward S.aureus and the association of the stage of lesion in AD toward Staphylococcus enterotoxin-B (SE-B). The study was conducted employing cross-sectional methode in the time span of 4.5 months on 14 AD patients coming to the Dermatology and Venerology outpatients clinic in Dr.Kariadi General Hospital in Semarang. The assessment of AD was with Hanifin & Rajka, the stage of the lesion with the ADSI index and the colony with culture in blood agar media. Sample was obtained from AD'lesion with 1cm in diameter using sterile cotton, followed by making a culture in a blood agar media to obtain the quantity of the colony. One colony of S.aureus was treated to SE-B toxin examination using immunodifusion (Ouchterlony) methode.
Out of the 14 AD patients were revealed no correlation found between the stage of lesion with quantity of S.aureus colony and no association found between the stage of lesion in AD with SE-B toxin
S.arueus merupakan salah satu pencetus yang dapat mempengaruhi derajad lesi Dermatitis Atopi (DA) baik dalam bentuk koloni maupun toksinnya. Toksin yang dihasilkan oleh S.aureus adalah Staphylococcus enterotoxin-A (SE-A), SE-B, SE-C, SE-D, SE-E dan TSST-1, dimana SE-B merupakan toksin yang paling berpengaruh terhadap derajad lesi DA.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi derajad lesi dermatitis atopik terhadap jumlah koloni S.aureus dan asosiasi derajad lesi dermatitis atopik terhadap titer Staphylococcus enterotoxin-B (SE-B). Penelitian dilakukan dengan metode cross sectional selama 5 bulan pada 14 penderita DA di Poliklinik PO Kulit dan Kelamin RSVP Dr Kariadi Semarang dan Puskesmas di Kodya Semarang. Penilaian DA dengan Hanifin & Rajka, derajad lesi dengan indeks ADSI dan koloni dengan kultur pada media agar darah. Sampel diambil dari lesi DA selnas diameter 1cm2 dengan menggunakan kapas steril kemudian dilakukan kultur pada media agar darah untuk mendapatkan jumlah koloni. Satu koloni dari S aureus diambil untuk pemeriksaan toksin SE-B dengan metode imunodifusi (Ouchterlony).
Basil penelitian pada 14 penderita DA didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara derajad lesi DA dengan jumlah koloni S.aureus. Tidak ada hubungan antara derajad lesi DA dengan titer toksin SE-B
PENGARUH KEBERSIHAN KULIT WAJAH TERHADAP KEJADIAN ACNE VULGARIS
Latar Belakang. Akne vulgaris adalah penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan menahun folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodul, dan kista pada tempat predileksinya. Insiden terbanyak di Indonesia, jerawat mempengaruhi 85-100% orang. Derajat akne dibagi menjadi Minyak, kotoran atau debu, dan keringat yang menempel di wajah dapat menutup dan menyumbat pori – pori sehingga mempermudah terbentuknya akne, dan tentunya memperparah akne yang telah ada. Maka dapatlah dipahami, menjaga kebersihan wajah menjadi salah satu jalan untuk membersihkan minyak yang berlebih di wajah. Membersihkan wajah secara teratur dan benar dengan pembersih yang tepat sangatlah penting, apalagi yang memiliki problem kulit berminyak dan berjerawat, sehingga diadakan penelitian lebih lanjut.
Tujuan. Mengetahui pengaruh kebersihan kulit wajah ( kebiasaan membersihkan wajah, frekuensi membersihkan wajah, jenis pembersih yang digunakan ) terhadap kejadian Akne vulgaris.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional pada populasi penelitian mahasiswa laki – laki Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Pemilihan sampel dengan menggunakan metode cluster random sampling didapatkan 68 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dengan rentang usia 18 – 23 tahun. Data yang ditetapkan adalah data primer dari kuesioner. Uji analisis yang digunakan adalah chi square.
Hasil. Berdasarkan uji chi square tidak didapatkannya pengaruh yang signifikan kebiasaan membersihkan wajah terhadap kejadian akne vulgaris derajat ringan dan sedang ( p = 0,199 ). Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara frekuensi membersihkan wajah terhadap kejadian akne vulgaris derajat ringan dan sedang ( p = 0,403 ). Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara jenis pembersih yang digunakan terhadap kejadian akne vulgaris derajat ringan dan sedang ( p = 1,000 ). Jenis pembersih yang banyak digunakan yaitu sabun khusus wajah ( 82,3% ), hanya menggunakan air ( 16,2% ), sabun mandi ( 1,5% ).
Kesimpulan. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara kebiasaan membersihkan wajah, frekuensi membersihkan wajah, jenis pembersih yang digunakan terhadap kejadian akne vulgaris.
Kata kunci. Akne vulgaris, kebersihan kulit waja
PENGARUH PENYULUHAN TERHADAP PENGETAHUAN MENGENAI PENCEGAHAN SKABIES PADA ANAK BINAAN SOS CHILDREN’S VILLAGE SEMARANG
Latar Belakang : Di Indonesia, angka kejadian skabies mencapai 5,6-12,95%. Panti asuhan sebagai tempat pemukiman padat dan dengan pengetahuan yang minim terkait skabies, tentu menjadi tempat yang sesuai untuk penularan penyakit skabies.
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan pencegahan skabies pada anak-anak binaan di SOS Children’s Village Semarang.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian intervensional dengan rancangan quasi experimental non equivalent control group design. Subjek penelitian adalah 30 anak binaan yang memenuhi criteria inklusi dan eksklusi di SOS Children’s Village Semarang. Pengumpulan data menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.
Hasil : Dengan uji Wilcoxon didapatkan nilai p sebesar 0,001 (p < 0,05) maka secara statistic terdapat peningkatan kenaikan yang signifikan pada tingkat pengetahuan antara sebelum penyuluhan dengan setelah penyuluhan.
Kesimpulan : Didapatkannya peningkatan tingkat pengetahuan yang signifikan setelah dilakukannya penyuluhan mengenai pencegahan skabies pada anak-anak binaan SOS Children’s Village Semarang.
Kata kunci : skabies, penyuluhan, pengetahua
EFEKTIVITAS MACADAMIA OIL 10% DALAM PELEMBAB PADA KULIT KERING
Latar Belakang. Setiap hari jutaan orang menderita kekeringan kulit, gatal, bersisik dan kemerahan karena berbagai macam penyebab. Kulit kering atau xerosis cutis didefinisikan sebagai gambaran hilangnya atau berkurangnya kadar kelembaban stratum corneum. Xerosis cutis merupakan kelainan kulit dimana kulit menjadi kasar, bersisik, berkeriput dan kurang elastis dibandingkan kulit normal
dan kering pada perabaan. Pelembab secara umum digunakan untuk meringankan kulit kering. Pelembab dapat mengurangi transepidermal water loss (TEWL) dengan meningkatkan perbaikan barrier, menciptakan barrier buatan sementara,
dan mengembalikan kelembutan kulit. Macadamia oil adalah minyak botani yang tinggi asam lemak tak jenuh tunggal dan cocok dengan komposisi asam lemak pada kulit. Dewasa ini banyak pelembab yang mengandung bahan herbal di dalamnya,
Macadamia oil dijadikan pilihan karena kandunganya yang baik untuk kesehatan kulit.
Tujuan. Mengetahui efektivitas Macadamia oil 10% dalam pelembab pada kulit
kering.
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pretest post-test control group design dengan populasi penelitian mahasiswi Universitas Diponegoro. Didapatkan 56 responden yang memenuhi kriteria inklusi
dengan rentang usia 18-22 tahun. Data yang didapatkan adalah data primer. Uji analisis yang digunakan adalah uji Saphiro Wilk, uji Wilcoxon dan uji Mann- Whitney.
Hasil. Didapatkan penurunan bermakna skor ODS pada kulit yang menggunakan pelembab dengan Macadamia oil 10% setelah intervensi (p=0,0000) dan terdapat perbedaan bermakna antara skor ODS setelah pemakaian produk pelembab dengan dan tanpa Macadamia oil 10% (p=0,003).
Kesimpulan. Terdapat efektivitas Macadamia oil 10% dalam pelembab pada kulit mahasiswi Universitas Diponegoro berusia 18-22 tahun yang memiliki jenis kulit kering.
Kata Kunci. Kulit Kering, Pelembab, Macadamia oil 10
EFEKTIVITAS CAMPURAN EKSTRAK ALOE VERADAN TEA TREE OILDALAM FORMULASI PELEMBAB PADA KEKERINGAN KULIT
Background :Xerosis is a result of decreased water content of the stratum corneum,
which leads to abnormal desquamation of corneocytes. Treatment with using
moisturizer has a function to keep the water content of the skin between 10% until
30%. Most of the moisturizers use synthetic adhesives which based on literally it
adduce side effect. There is extensive need to replace toxic synthetic agent from base
using component of herbal to decrease the side effect of moisturizing. This research
product examine the active component of Aloe vera and Tea tree oil in moisturizing
formulation.
Purpose :To know the effectiveness of Aloe vera extract and tea tree oil mixtures in
formulating moisturizer for dry skin.
Metodh :This research is experimental with one group pre test post test design which
use 35 respondents. Respondents who had negative patch test, filled the
questionnaire on pre test according to Visual Skin Score. Respondents used the
research product on their foot twice a day for 21 days. Finally, respondents filled
questionnaire on post test. Data was examined by Wilcoxon text with the standart of
significance p < 0,05
Result : There are 26 respondents (74,3%) have increased their level of skin
moisturizing, 9 respondents (25,7%) have not changed, and no one has decreased the
level of the skin moisturizing. The result of Wilcoxon text is obtained p <0,05
Conclusion :Aloe vera extract and tea tree oil mixtures in formulating moisturizer is
effective for dry skin.
Keywords : Xerosis, Aloe vera extract, Tea tree oil, moisturizer
The Effect of Topical 0.1% Pomegranate Extract (Punica Granatum) on Trans Epidermal Water Loss (Tewl) and Skin Ph Levels in Patients with a History of Atopic Dermatitis
Repairing the skin barrier with moisturizers is one of the five main pillars of treating atopic dermatitis. Petrolatum is considered the gold standard, but its consistency is too thick and oily making it less comfortable to use. Moisturizers containing pomegranate extract (Punica granatum) can be an alternative choice that is more comfortable to use. The effectiveness of this pomegranate extract can be eval__uated using TEWL and pH examinations which are considered accurate indicators for changes in skin barrier conditions. Effectiveness of topical administration of 0.1% pomegranate extract in reducing TEWL and skin pH in sufferers with a history of AD.Single blind randomized clinical trial with two parallel group pre and post design. 34 sufferers with a history of AD were randomly divided into treatment groups (topical 0.1% pomegranate extract, 17 subjects) and control group (topical 100% petrolatum, 17 subjects). Moisturizer was applied twice daily to the volar area of the forearm for 4 weeks. Both groups showed a significant decrease in TEWL after 4 weeks with a TEWL delta of -5.2±2.31g/m2/hour (p<0.001) in the pomegranate extract group and-7.0±7.95g/m2/hour(p=0.003) in the petrolatum group. There was no significant difference in TEWL reduction between the two study groups.The pomegranate extract group showed a significant decrease in pH after 4 weeks with a pH delta of -0.5±0.10(p<0.001), while the petrolatum group actually showed a slight increase with a pH delta of0.0±0.59 (p=0.6). The pomegranate extract group showed a significantly greater decrease in pH (p<0.001).Topical 0.1% pomegranate extract is as effective as 100% petrolatum in reducing TEWL, but more effective in lowering skin pH
TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE + ZINC PADA ACNE VULGARIS
Latar Belakang: Pengobatan antibiotik topical untuk menangani akne vulgaris sudah sering digunakan, salah satunya adalah Clindamycin 1 %. Namun demikian, penggunaan antibiotic ini secara luas diperkirakan memunculkan strain P. Acnes yang resistan terhadap clindamycin. Kombinasi niacinamide dan zinc berfungsi sebagai anti inflamasi, menurunkan produksi sebum, dan mencegah timbulnya bekas luka jerawat. Niacinamide + zinc dapat mengatasi jerawat tanpa menimbulkan resistansi bakteri P. Acnes.
Tujuan: Mengetahui perbedaan efektivitas clindamycin dan niacinamide+zinc dalam mengurangi jumlah jerawat.
Metode: Jenis penelitian ini adalah experimental dengan rancangan randomized control trial – double blind. Sampel adalah penderita akne derajat mild – moderate yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran UNDIP dengan rentang usia 18 – 25 tahun. Empat puluh orang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak untuk mendapat pengobatan clindamycin atau niacinamide + zinc, digunakan 2 kali sehari selama 2 minggu. Evaluasi pengobatan dengan menghitung rata - rata penurunan jumlah lesi pada tiap kelompok. Data pada masing – masing kelompok terapi dianalisis dengan one sample t – test sedangkan untuk mengetahui perbandingan efektivitas antara dua kelompok menggunakan analisis independent t - test.
Hasil: Jumlah lesi pada kelompok terapi clindamycin (p= 0,00) dan niacinamide+zinc (p= 0,008) mengalami penurunan yang sangat bermakna (p 0,05).
Simpulan: Clindamycin topical dan niacinamide+zinc topical sama – sama efektif menurunkan jumlah lesi jerawat.
Kata Kunci : Clindamycin Topikal, Niacinamide + Zinc Topical, Akne Vulgari
EFEKTIVITAS EKSTRAK SHEA BUTTER 5% TERHADAP KELEMBAPAN KULIT
Background : Skin moisture responds to environmental changes, skin conditions, age, or disease. In addition to the exogenous and endogenous risk factors, deficiency of natural moisture regulator substance or Natural Moisturizing Factor (NMF) and lipids contribute to the reduction of skin moisture. Moisturizers are used to retain skin moisture because they contain humectants, occlusive and emollient. However, if used in the long term synthetic ingredients in moisturizers can cause side effects that need to be replaced with natural ingredients such as 5% shea butter extract.
Aim : Knowing the efectiveness of shea butter extract 5% to increase skin moisture.
Method : An experimental study with pre-test and post-test control group design. 27 samples were using a moisturizer as a control in the left forearm and a moisturizer containing 5% shea butter extract in the right forearm for 28 days. Skin moisture was assessed by ODS before and after the application of moisturizer. Wilcoxon test and Mann-Whitney test were used to analyze the results.
Result : 7 subjects (25.9%) experienced a decrease in ODS score, 18 patients (66.7%) remained, and 2 patients (7.4%) experienced an increase after using moisturizer as control with p = 0.096 (p> 0.05 ). 14 subjects (51.8%) experienced in decrease in ODS score and 13 subjects (48.2%) remained after using a moisturizer containing 5% shea butter extract with p <0.0001 (p <0.05). The difference in change ODS scores between the two groups is significant with p = 0.024 (p <0.05).
Conclusion : 5% shea butter extract is effective to increase skin moisture.
Keyword : Skin moisture, NMF, moisturizers, humectants, occlusive, emollient, 5% shea butter extract, ODS
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
- …
