1,721,009 research outputs found
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PADA PASIEN GASTRITIS RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MANADO
ABSTRACTGastritis is an inflammatory process in the gastric mucosa and submucosa or health problems caused by irritation and infection factors. Treatment therapy used in gastritis is the proton pump inhibitor (PPI), H2 receptor antagonists, and antacids. Giving treatment therapy used by patients has an impact on the amount of medical expenses. The purpose of this study was to determine a more cost effective therapy between the use of omeprazole and lansoprazole in hospitalized gastrtitis patients at Bhayangkara Hospital, Manado. The method used in this study is Cost Effectiveness Analysis with a retrospective data collection on the period of January - December 2018. The sample in this study was 44 patients, consisting of 25 patients using with omeprazole therapy and 19 patients with lansoprazole therapy. The results showed that the most cost-effective PPI was omeprazole with an ACER value of IDR 643,210.37 and ICER value of IDR 631,023.17/ day for each increase in effectiveness if there is a transfer from lansoprazole to omeprazole Keywords: Cost Effectiveness Analysis, Gastritis, Omeprazole, Lansoprazol. ABSTRAKGastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa lambung atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh faktor iritasi dan infeksi. Terapi pengobatan yang digunakan pada penyakit gastritis yaitu proton pump inhibitor (PPI), antagonis reseptor H2, serta antasida. Pemberian terapi pengobatan yang digunakan oleh pasien berdampak pada besarnya biaya pengobatan. Tujuan penelitian ini untuk menentukan terapi yang lebih cost effective antara penggunaan omeprazol dan lansoprazol pada pasien gastrtitis rawat inap di RS Bhayangkaara Manado. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Cost-Effectiveness Analysis dengan rancangan pengambilan data secara retrospektif pada periode Januari – Desember 2018. Sampel pada penelitian ini sebanyak 44 pasien, terdiri dari 25 pasien pengguna terapi omeprazol dan 19 pasien pengguna terapi lansoprazol. Hasil penelitian menunjukkan terapi PPI yang lebih cost-effective adalah omeprazol dengan nilai ACER sebesar Rp. 643.210,37 dan nilai ICER sebesar Rp. 631.023,17/hari untuk setiap peningkatan efektivitas jika akan dilakukan perpindahan dari lansoprazol ke omeprazol. Kata Kunci   : Analisis Efektivitas Biaya, Gastritis, Omeprazol, Lansoprazol
AKTIVITAS PENANGKAL RADIKAL BEBAS DARI FRAKSI KULIT KAYU SAGU BARUK (Arenga microcarpha Beccari)
ABSTRACTThis study aims to determine the antioxidant activity and free radical antidote from fraction of bark sago baruk (Arenga microcarpha Beccari). This study initiated by extracting the powder of bark sago baruk using the maceration method for 3 days with ethanol 80%. The extract then partitioned using a series of solvent such as petroleum ether, ethyl acetate, buthanol, aquadest. The results showed that the ethyl acetate fraction had the highest free radical antidote content followed by the aquadest fraction, buthanol fraction, petroleum ether fraction. The content of free radical antidote respectively was 86,25%; 66,30%; 65,32%; 43,43%. Based on this study, the ethyl acetate fraction was the best fraction can act as an antidote to free radicals better than other fractions. Keywords: Bark sago baruk, fraction, free radical antidote ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan Aktivitas penangkal radikal bebas dari fraksi kulit kayu sagu baruk (Arenga microcarpha beccari). Penelitian ini dimulai dengan mengekstraksi serbuk kulit kayu sagu baruk menggunakan cara maserasi selama 3 hari dengan pelarut etanol 80%. Ekstrak kemudian dipartisi menggunakan pelarut petroleum eter, etil asetat, butanol, dan aquades. kemudian ditentukan aktivitas antioksidan dan penangkal radikal bebas. Hasilnya menunujukan bahwa fraksi etil asetat memiliki kandungan penangkal radikal bebas tertinggi diikuti fraksi aquades, fraksi butanol, dan fraksi petroleum eter. Kandungan penangkal radikal bebas berturut-turut adalah 86,25%; 66,30%; 65,32%; 43,43%. Berdasarkan penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa fraksi etil asetat dapat berperan sebagai penangkal radikal bebas lebih baik dibandingkan dengan fraksi lainnya. Kata Kunci: Kulit Kayu Sagu Baruk, Fraksi, Penangkal Radikal Beba
POTENSI EKSTRAK DAN FRAKSI SPONS Phyllospongia lamellosa YANG DIPEROLEH DARI PERAIRAN PULAU MANADO TUA TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli
Spons Phyllospongia lamellosa mampu menghasilkan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur aktivitas ekstrak dan fraksi spons Phyllospongia lamellosa terhadap pertumbuhan bakteri Gram positif Staphylococcus aureus dan Gram negatif Escherichia coli di perairan Pulau Manado Tua. Sampel di ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 95% dan selanjutnya difraksinasi menggunakan pelarut yaitu n-heksan, kloroform dan methanol dengan metode fraksinasi cair-cair. Uji aktivitas menggunakan metode disk diffusion Kirby dan Bauer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengukuran rata - rata diameter zona hambat ekstrak dan fraksi spons Phyllospongia lamellosa terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang paling besar dihasilkan oleh fraksi kloroform dengan nilai rata – rata 15,96 mm ± 0,98 dan Escherichia coli oleh fraksi kloroform dengan nilai rata – rata 17,48 mm ± 4,80 sehingga keduanya dikategorikan kuat
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI KARANG LUNAK Sinularia SP. DI TELUK MANADO
ABSTRACT Soft Coral Sinularia sp.has been shown to have antibacterial activity. This research aims to determine the antibacterial activity of marine organisms obtained from Manado bay. The method in this study is the diffusion method with positive control chloramphenicol and negative control of methanol in Escerichia coli and Sthaphylococcus aureus. The result showed that extracts, chloroform fraction and methanol-water fraction were obtained inhibiting category of Sthapylococcus aureus bacteria, but in the chloroform fraction and ethanol extract can inhibit Escerichia coli bacteria categorized as strong. With it can be conlueded that the extract and fraction of soft Sinularia sp. have bioactive compounds with a broth spectrum of antibacterial activity.Keywords: Sinularia sp., Chloramphenicol, Escerichia coli, Sthaphylococcus aureus, and antibacterial. ABSTRAK Karang lunak Sinularia sp. telah terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri pada organisme biota laut yang diperoleh dari teluk Manado. Metode dalam penelitian ini adalah metode difusi agar dengan kontrol positif kloramfenikol dan kontrol negatit metanol pada Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak, fraksi kloroform, dan fraksi metanol-air dapat menghambat bakteri Staphylococcus aereus dikategorikan sedang, namun pada fraksi kloroform dan ekstrak etanol dapat menghambat bakteri Escerichia coli dikategorikan kuat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ekstrak dan fraksi karang lunak Sinularia sp.memiliki senyawa bioaktif dengan spektrum yang luas terhadap aktivitas antibakteri.Kata kunci: Sinularia sp, Kloramfenikol, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan antibakter
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
PENETAPAN KADAR AKRILAMIDA PADA KENTANG GORENG YANG BEREDAR DI RESTORAN CEPAT SAJI DI KOTA MANADO DENGAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
ABSTRACTAcrylamide has been classified as a cancer causing compound or potentially carcinogenic in humans. Acrylamide is produced from foods that contain high carbohydrates with temperatures over 1200C in processing. One of foods that are popular and potentially produce acrylamide compounds was fried potato. This study aims to determine the levels of acrylamide contained in french fries using UV-Vis Spectrophotometry method. Samples were obtained from 3 fast food restaurants in the City of Manado. In this study the analysis of acrylamide compounds from 3 samples were carried out at 267 nm wavelength using an aquadest blank with 2 repetitions. The estimated result of three samples are K samples of 0.69 µg/g, M of 0.58 µg/g, and T samples of 0.67 µg/g. The three samples did not contain acrylamide because the levels obtained were still below the detection limit (LOD) of 1.54 µg/g. Keywords: Acrylamide, French Fries, UV-Vis Spectrophotometry, Fast Food Restaurants in Manado. ABSTRAKAkrilamida telah diklasifikasikan sebagai senyawa yang menyebabkan kanker atau berpotensi sebagai karsinogenik pada manusia. Akrilamida dihasilkan dari makanan yang mengandung karbohidrat tinggi dengan suhu lebih dari 1200C pada pengolahannya. Makanan yang banyak digemari serta berpotensi menghasilkan senyawa akrilamida salah satunya adalah kentang goreng. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar akrilamida yang terkandung dalam kentang goreng dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis. Sampel diperoleh dari 3 restoran cepat saji di Kota Manado. Pada penelitian ini analisis senyawa akrilamida dari 3 sampel dilakukan pada panjang gelombang 267 nm menggunakan blanko aquadest dengan 2 kali pengulangan. Hasil perhitungan dari ketiga sampel adalah sampel K sebesar 0,69 µg/g, M sebesar 0,58 µg/g, dan sampel T sebesar 0,67 µg/g. Ketiga sampel tidak mengandung akrilamida karena kadar yang didapat masih berada di bawah batas deteksi (LOD) yang didapat yaitu 1,54 µg/g. Kata Kunci:  Akrilamida, Kentang Goreng, Spektrofotometri UV-Vis, Restoran cepat saji di Manad
EFEKTIFITAS PENYEMBUHAN LUKA BAKAR SALEP EKSTRAK ETANOL DAUN SOYOGIK (Sauraia Bracteosa DC) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus Norvegicus)
ABSTRACTSoyogik leaves (Sauraia Bracteosa DC) contain flavonoids, phenolic, saponin and tannin. The contents in Soyogik Leaves is able to provide an effect to heal skin tissue damaged by burns. This study aims to formulate ethanol extract soyogik leaves ointment with concentration 20%, 25% and 30% to be tested for it’s effectiveness in healing burns. The method used is experimental laboratory. The wounds observation on the white rats back is done for 7 days by applying ointments 3 times a day. The results of the study showed that ethanol extract soyogik leaves with concentration 20%, 25%, and 30% have a healing effect on burns characterized by the decreasing burns diameter of white rats and the ointment with the fastest healing effect is the ointments with a 30% concentration.Keywords: Soyogik (Sauraia bracteosa DC), ointment, burns, white rats (Rattus norvegicus)ABSTRAKDaun Soyogik (Sauraia Bracteosa DC) mengandung flavonoid, fenolik, saponin dan tanin. Kandungan yang terdapat dalam daun Soyogik mampu memberikan efek untuk menyembuhkan kulit yang mengalami kerusakan jaringan akibat luka bakar. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi sediaan salep ekstrak daun Soyogik dengan konsentrasi 20%, 25% dan 30% untuk diuji efektifitasnya terhadap penyembuhan luka bakar. Metode yang digunakan ialah eksperimental laboratorium. Pengamatan luka bakar pada punggung tikus putih dilakukan selama 7 hari dengan mengoleskan salep sebanyak 3 kali sehari. Hasil penelitian menunjukan salep ekstrak etanol dun Soyogik dengan konsentrasi 20%, 25% dan 30% memiliki efek penyembuhan luka bakar diatandai dengan mengecilnya diameter luka bakar pada tikus dan efek penyembuhan yang paling cepat pada salep dengan konsentrasi 30% . Kata kunci: Soyogik (Sauraia bracteosa DC), salep, luka bakar, tikus putih (Rattus norvegicus
Uji Potensi Antibakteri Ekstrak Spons Stylissa carteri dari Perairan Poopoh Minahasa Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.: Antibacterial Potential Test Of Stylissa Carteri Sponge Extract From Poopoh Minahasa Waters Against Staphylococcus aureus And Pseudomonas aeruginosa Bacteria.
Kejadian resistensi antibiotik berdampak pada kegagalan pengobatan penyakit infeksi yang dapat berujung pada kematian. Dengan adanya kegagalan pada pengobatan infeksi maka pemilihan terapi akan terbatas, sehingga diperlukan penelusuran terhadap senyawa baru yang berpotensi sebagai antibakteri. Indonesia memiliki biota laut yang sangat melimpah salah satunya spons yang kaya akan senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan dalam bidang pengobatan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji potensi antibakteri dari ekstrak spons Stylissa carteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Proses maserasi menggunakan etanol 95% sebagai pelarut. Hasil maserat selanjutnya di evaporasi menggunakan suhu 40°C. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi agar (Disc Diffusion Kirby Bauer Method). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengukuran rata-rata diameter zona hambat dari ekstrak spons Stylissa carteri pada bakteri Staphylococcus aureus adalah 7,75 mm dan pada bakteri Pseudomonas aeruginosa dengan nilai sebesar 7,25 mm. Dari hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak spons Stylissa carteri menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dengan kategori sedang terhadap bakteri uji.
Kata Kunci : Spons Stylissa carteri, Antibakteri, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI ASCIDIAN (Lissoclinum badium) DARI PERAIRAN PULAU MANTEHAGE
ABSTRACTLissoclinum badium is a type of ascidian that contains bioactive compounds. This study aims to determine of presence of antibacterial activity from extracts and fractions of Lissoclinum badium collected from Mantehage Island Manado against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. Samples were extracted by maceration method using 95% ethanol solvent and fractionated using solvents of chloroform, n-hexane and methanol. Antibacterial activity was carried out by the disk diffusion agar method. The results showed that the ethanol extracts an methanol fraction had activity to inhibit the growth of Escherichia coli bacteria with strong category. Meanwhile, against the Staphylococcus aureus the ethanol extracts, chloroform and n-hexane fractions had ability to inhibit the growth of bacteria with weak category.. Keywords: Antibacterial activity, Lissoclinum badium, Escherichia coli, Staphylococcus aureus.  ABSTRAKLissoclinum badium merupakan salah satu jenis tunikata yang memiliki kandungan senyawa bioaktif yang dapat digunakan untuk pengobatan berbagai penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri dari ekstrak dan fraksi Lissoclinum badium yang diperoleh dari Pulau Mantehage Manado terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95% dan fraksinasi menggunakan pelarut metanol, kloroform, dan n-heksan. Aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar cakram kertas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol dan fraksi metanol memiliki aktivitas untuk menghambat bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan daya hambat kuat. Sedangkan untuk fraksi kloroform dan fraksi n-heksan memiliki aktivitas untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus saja dengan daya hambat sedang. Kata kunci: Aktivitas antibakteri, Lissoclinum badium, Escherichia coli, Staphylococcus aureus
- …
