26 research outputs found
Naturalisasi Perbudakan Sebagai Suatu Keadilan
Suatu perdebatan yang berpusat pada sampai di mana kaum eliteitu mampu memaksakan pandangan mereka sendiri tentang suatutatanan sosial yang adil, tidak hanya terhad ap perilaku kaum yang bukanelite, tetapi juga terhadap kesadaran mereka, oleh James C. Scott mencobamembuktikannya dalam karyanya yang berjud ul Senjatanya Ornng-orangyang Kalah. Scott mengatakan bahwa adanya suatu kelompok tertentuyang diperas, dan selanjutnya pemerasan itu terjadi dalam hubungandi mana kekuatan menindas yang digunakan kaum elite dan/atau netaraitu menjadikan satu-satunya perilaku yang dapat diamati dari kelompokyang diperas itu ialah sikap menerima tanpa dapat menyatakan ras tidakpuas secara terbuka. Sikap menerima saja dari kelompok yangdieksploitasi itu, karena adanya suatu ideologi keagamaan atau sosialyang bersifat hegemonik, dalam kenyatan menerima situasinya itusebagai bagian yang wajar dan bahkan dibenarkan dalam tatanan sosialitu. Penjelasan kepasifan ini sekurang-kurangnya mengasumsikanditerimanya secara fatalistik tatanan sosial itu dan mungkin pula bahkanikut secara aktif baik dalam apa yang dikatakan kaum Marxis"mistifikasi" atau "kesadaran palsu". Secara khas hal ini didasarkanpada asumsi bahwa kaum elite mendominasi tidak hanya alat produksifisik, akan tetapi juga alat produksi simbolik, dan bahwa hegemonisimbolis ini memberi kesempatan kepada kaum elite untukmengendalikan standar-standar yang akan digunakan untuk menilaipemerintahan mereka
Filsafat Kritik Atas Sejarah
Perbedaan penjelasan kaum positivisme dan kaum relativisme dalam menilai obyektivitas atau tidaknyasuatu pewnelitian sejarah harus dipandang sebagai pernyataan yang benar dan saling melengkapi sepanjangmengkonstruksi pernyataan-pernyataan yang bena
Simbolisme Menurut Mircea Eliade
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita memiliki simbol yaituPancasila; sedangkan dalam kehidupan beragama kita memiliki simbolyaitu Wahyu atau Kitab Suci. Pancasila dan Kitab Suci sebagai simbolmemberi dasar dinamika dan vitalitas dalam kehidupan berbangsa, bemegara,dan beragama; berfungsi sebagai ungkapan dan jawaban yang berdiridi tengah-tengah antara manusia Indonesia dengan Yang Kudus; tidakhanya mengundang untuk berpikir atau menjadi dasar berpikir tetapijuga mendorong dalam tindakan dan pengambilan keputusan; bahkanPancasila dan Kitab Suci sebagai simbol bagi masyarakat Indonesiayang religius menuntut untuk diperiakukan sebagai partner dialog dalammembangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Sebagai partner dialogyang selalu hadir di samping manusia Indonesia yang religius; ia mengajar,menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran
Siklus Identitas Sosial Sebagai Adaptasi Identitas Diri Dari Peran Yang Dipandang Sebagai Penyimpangan
Keberhasilan pencapaian identitas diri yang dilebel sebagai penyimpanganternyata melibatkan beberapa tahap dan beberapa faktor. Menurut teori siklusidentitas sosial ada beberapa tahap dan setiap tahap mengandung beberap faktoryang terlibat dalam menentukan pencapaian identitas diri. Tahap prasosialisasiterdapat faktor self deprecation dan self confidence. Tahap penemuan atau diskoverimengandung faktor evaluasi, komitmen implisit atau eksplisit, kontak denganorang lain yang memiliki identitas peran sama, memiliki konsep peran yangdimainkan. Tahap konstruksi mengandung faktor tahap pertandingan,pengetahuan dan penggunaan produk arau barang kepemilikan yang mendukungperan yang dimainkan. Tahap latensi terdapat faktor penghentian akrivitas. Tahapdisposisi atau penyusunan mengandung faktor nostalgia, atau kenangan lama, rasamalu, kesedihan, pengunduran diri, penyesalan, frustrasi, memandang identitastersebut sebagai tidak realistik. Tahap pemantapan (maintenance) terdapatfaktor akumulasi keterampilan dan kepemilikan yang sesuai dengan identitas
Filsafat Ketuhanan Menurut Plato
Plato adalah filsuf pertama yang menulis secara filosofis dan secara sistematik teologis mengenai konsep Ketuhanan sehingga dapatlah dikatakan bahwa ia adalah peletqk dasar bagi ilmu teologia dan memberikan pengaruh besar bagi perkembanganfilsafat Barat khususnya tentangkonsep Ketuhanan. Pemikiran Plato tentang Ketuhanan adalah upayanya untuk mereformasi konsep Ketuhanan yang terdapat pada masyarakat Yunani kuno. Tulisan ini berupaya menganalisis dan memahami Ketuhanan menurut Plato agar pembaca masa kini dapat mengerti lebih dalam lagi tentong konsep Ketuhanan yang dipahami masyarakat Yunani kuno dan khususnya menurut Plato, dan juga dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagifilsafat Ketuhanan pada masa kini. Filsafat Ketuhanan menurut Plato ini penulis jelaskan dengan memperhatikandimensi metafisika, epistemologi, dan etika
Pengembangan Kurikulum Sebagai Solusi Atas Tidak Adanya Korelasi Antara IPK Dengan Kesadaran Panggilan Dan Pelayanan Pada Mahasiswa Sekolah Theologia
Proses pembelajaran tidak selalu efektif dan efisien dan hasil proses belajar mengajar tidak selaluoptimal karena ada sejumlah hambatan. Oleh karena itu, guru dalam memberikan materi pelajaran hanya yangberguna dan bermanfat bagi para siswa. Materi tersebut disesuaikan dengankebutuhan mereka akan pelajarantersebut. Belajar seperti ini akan lebih mengutamakan penguasaan ilmu dan diyakinkan akan memberi peluang pada siswa untuk lebih kreatif dan guru lebih professional. Dengan demikian pembelajaran akan lebih bermakna di mana guru mampu menciptakan kondisi belajar yang dapat membangun kreativitas siswa untuk menguasai ilmu pengetahuan
Analisis Faktor Mekanisme Kontrol Terhadap Pelecehan Rohani Dalam Gereja
Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis sejauh mana faktor mekanisme kontrol terhadap pelecehan rohani terdapat dalam gereja-gereja masa kini. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh signifikan faktor mekanisme kontrol terhadap pelecehan rohani dalam gereja. Gereja-gereja yang di dalamnya terkandung pelecehan rohani secara potensial menumbuhkan bentuk ketergantungan yang tidak sehat, secara rohani dan jasmani, dengan berfokus pada tema-tema penundukan dan ketaatan kepada mereka yang memiliki otoritas
Analisis Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dosen Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar
Penelitian bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh antara gayakepemimpinan dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa Sekolah Tinggi TheologiaJaffray Makassar.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 50 responden dari 391mahasiswa. Teknik pengumpulan data ialah melalui angket. Metode analisis datayang digunakan adalah analisis regresi linier berganda.Adapun hasil penelitian ini ialah Pada tingkat kematangan mahasiswa yangmampu dan mau (M4), tidak ada hubungan yang signifikan antara gayakepemimpinan delegasi (G4) dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa. Padatingkat kematangan mahasiswa yang mampu tetapi tidak mau (M3), terdapathubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan partisipasi (G3) dosen terhadapmotivasi belajar mahasiswa. Pada tingkat kematangan mahasiswa (M2) yang tidakmampu tetapi mau, tidak ada hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinankonsultasi (G2) dosen terhadap motivasi belajar mahasiswa. Pada tingkatkematangan mahasiswa yang tidak mampu dan tidak mau (M1), terdapat hubunganyang signifikan antara gaya kepemimpinan instruksi (G1) dosen terhadap motivasibelajar mahasiswa
Filsafat Kritik Atas Sejarah
Perbedaan penjelasan kaum positivisme dan kaum relativisme dalam menilai obyektivitas atau tidaknyasuatu pewnelitian sejarah harus dipandang sebagai pernyataan yang benar dan saling melengkapi sepanjangmengkonstruksi pernyataan-pernyataan yang bena
Simbolisme Menurut Mircea Eliade
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita memiliki simbol yaituPancasila; sedangkan dalam kehidupan beragama kita memiliki simbolyaitu Wahyu atau Kitab Suci. Pancasila dan Kitab Suci sebagai simbolmemberi dasar dinamika dan vitalitas dalam kehidupan berbangsa, bemegara,dan beragama; berfungsi sebagai ungkapan dan jawaban yang berdiridi tengah-tengah antara manusia Indonesia dengan Yang Kudus; tidakhanya mengundang untuk berpikir atau menjadi dasar berpikir tetapijuga mendorong dalam tindakan dan pengambilan keputusan; bahkanPancasila dan Kitab Suci sebagai simbol bagi masyarakat Indonesiayang religius menuntut untuk diperiakukan sebagai partner dialog dalammembangun manusia Indonesia yang seutuhnya. Sebagai partner dialogyang selalu hadir di samping manusia Indonesia yang religius; ia mengajar,menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik dalam kebenaran
